oleh: terbanglah lebih tinggi
A friend whose currently pursuing his advanced degree on Petroleum Engineering aboard discussing an interesting topic on my company group-wide un-official mailing list (I served as one of its moderators). The discussion was kicked-off by another friend whose has forwarded an graphic anecdot about business attitude, titled “camel”. It was a good anecdot though, and could be interpreted in such several way; that we were interactively indulging ourselves in the following online discussion.
“..Kalau kita bekerja dan ditempatkan di posisi yang tidak sesuai keinginan, minat dan bakat kita... itu bukan karena kita mempunyai negative thinking... Karena seharusnya untuk mendapatkan hasil yang optimal, orang yang punya minat dan keahlian di bidang tertentu ditempatkan di posisi yang tepat agar bisa memberikan keuntungan yang maksimal bagi perusahaan... Berbeda dengan mencari opportunity di perusahaan lain, karena ini bukan masalah suka atau tidak suka dengan posisi lama, tapi .. ada orientasi lain dibalik itu (Better Income, Gain New Experience etc).. hehe..”
Memang hal tersebut bukan disebabkan oleh faktor internal kita, tapi lebih kepada kebijakan penempatan (dan pengembangan) manajemen sumber daya manusia yang dilakukan pihak perusahaan. Dengan kata lain, faktor eksternal. And there's nothing we can do about it.
Tapi yang gue maksud sebenarnya bukan itu. Melainkan tentang siapapun di antara kita yang mungkin (merasa) ditempatkan pada posisi yang salah; lantas yang bersangkutan kemudian menjadi ngambek, mandeg, atau bahkan apatis. Menjadi beban suatu organisasi maupun sekitarnya. Sedangkan alangkah bagusnya bila kita bisa "making the most of it" pada posisi maupun tanggung jawab apapun yang dibebankan kepada kita. Atau, yang dipercayakan kepada kita. Apapun itu bentuknya.
Happiness is just a mind set! There it goes with anything we do – as a matter of fact; everything. It’s just all about your own private mind set, and nothing in the whole world can change it but you. You and you only who can make the most of it. Think in a more positive way, whatever dark your situation might be. I believe that there’s silver lightning behind every dark cloud. You should believe it, too. You only have to take a deep breath, and change your approach to the problem; your previous way of thinking.
Be a professional! Love your job... Sepanjang kita masih mau dan/atau mampu bertahan di posisi itu; then do your best, and nothing less. Lain soal bila kita memang sudah nggak mau lagi dengan alasan apapun; entah ketidaksanggupan atau kurangnya minat. Solusinya tentu hanyalah dengan cara meminta dipindahkan, atau bahkan lebih ekstrim lagi, "memindahkan" diri sendiri alias cabs, hehe..
“…I'll do my best and nothing less
so come on baby make your request..”
BVSMP
“Anytime”
Jakarta 12870 Pancoran
Rabu, 28 Feb 2007 – 13.22 wib
Photo was taken on board,
in the middle of South China Sea
On Christmast Day, 2005
 | if you don't love "it" or cannot make yourself loving "it", leave "it". i think everybody shouldn't stop searching what they love doing -- most stop searching too early. |
 | yup ,,i am agree with DO UR BEST but ur best will going to change from moment to moment,it will be different when u are healthy as opposed to sick.Well simply do ur best, and u will avoid self judgment, self abuse, and regret |
 | if you don't love "it" or cannot make yourself loving "it", leave "it". i think everybody shouldn't stop searching what they love doing -- most stop searching too early.  Sometimes we do need some time alone to find out what we love, or some other time we dont mean a thing with it, but simply love it. Yes, you'll never know unless you try .... |
 | yess....yess...yess....yang penting usaha terus, pantang mundur...:-) |
 | idealistic sekali :) mas jadi motivational speaker dech *he3* |
 | i love my job, will my job love me? heheheh..
Learn how to Love your Job, Love Your Life and Kick Butt at Work "Forget All About Salary, Titles, Perks, and Status" =>oh really..?? :P |
 | **VP** [email] Wednesday, May 09, 2007 - 7:57 AM Pagi bro...artikel yg menarik. Mengingatkan gue soal update-an terbaru; fyi gw udah jadian sama cowok itu, last Saturday :)
TLT replied Wednesday, May 09, 2007 - 8:01 AM Astaganaga.... Saya menuntut penjelasan yang selengkap2nya..hueuehehe.. Lagian basi banget nih beritanya, udah telat seminggu..!! Anyway, congrats! I'm happy for you.. Akhirnya musim semi kembali datang di hati mu, ya? :p
|
 | **NB** [email] Wednesday, May 09, 2007 - 6:58 AM Duh.. jadi terharu.. Terutama karena gue lagi dalam posisi seperti itu..
TLT replied Wednesday, May 09, 2007 - 7:56 AM Wah, wah,.. ini kaya nya menunjang session sore hari di starbucks Plaza Semanggi nih. How about today? Lagian kita juga udah lama bgt ndak ketemu, kan? :p
|
 | **TYH** Wednesday, May 09, 2007 - 10:00 AM Deep….. hehehe…thx bro… may b im d’one who shud make a move…haha
TLT replied Wednesday, May 09, 2007 - 10:23 AM Buset dah, ada yg udah mau cabut lagi, rupanya? Hueuhehehe. Btw, kok lo nggak masuk lawfirm sih? Males kalo pulangnya saingan sama ronda ya?
|
 | **CPP** [email] Wednesday, May 09, 2007 - 7:02 AM
Then what happen kalau udah minta dipindahin tapi ternyata hanya janji2 untuk unlimited time? Setidaknya ada harapan ya =)
Sebenarnya bukan masalah keep doing your best, yang harus dipertimbangkan juga masalah waktu. Buat apa kita bertahan untuk berusaha mencintai pekerjaan yang kita tidak suka? Toh ga akan ada manfaatnya dalam mencapai tujuan akhir, bukan begitu? We will end up spending time for nothing sementara seharusnya kita bisa memanfaatkan waktu sebaik2nya untuk mendapatkan ilmu yang kita cari. Dari sisi perusahaan juga pasti rugi, karena si pekerja jadi bekerja tidak optimal. Setuju? =)
TLT replied Wednesday, May 09, 2007 - 10:20 AM
Adyuhh, emang dikau mau dijanjiin kemana? Jadi direktris? Heuheuhee… Atau jangan2 malah mau dipindahin ke xxxxx di xxxxx, yah? Whuaduh, agak2 susah tuh jadinya; I'm gonna miss you deh, a lot! :p
Btw, tentunya ada batasan2 yang harus kita tentukan sedari awal ya. Salah satunya, spt yg kamu bilang, "waktu". Buat orang lain akan berbeda, pastinya. Ada yg masalah lokasi, ada yg soal benefit, ada yg ttg posisi/dept. Itu semua nggak ada yg salah sih, karena tiap orang pasti beda. Itu hanyalah variabel. Dan, batasannya, yaa hanya kamu sendiri yg bisa menentukan. The sky is not the limit
Optimalisasi pegawai bagi persh tentunya akan mengarah ke 2 hal; apakah persh akan menggali potensi ybs lebih jauh, dan dapat memanfaatkannya dg sebaik2nya (again; to make the most of it), atau apakah lebih baik bila ybs dipindahkan ke fungsi lain yg lebih sesuai dg bakat atau minat nya. Atau, yaa..itu dia, mencari kesempatan lain. Kerugian bagi persh tentunya. Tapi dunia tidak semata hitam putih; baik kehilangan maupun mempertahankan pekerja, semua ada plus-minus nya bagi persh. Contoh ekstrim; buat apa mempertahankan pekerja yg hanya akan menjadi beban operasional? Setuju? :-)
Suka atau tidak suka; ah, apa iya? Mungkin nggak itu hanya masalah zona nyaman, atau kebiasaan? Atau mungkin teman2 dan lingkungan? Atau bisa jadi waktu luang yg tersisa? Atau malah soal fasilitas dan hubungan kerja? Banyak faktor. Suka atau tidak suka hanyalah gejala, bukan penyebab. Dan, seringkali gejala itu menutupi hal yg sebenarnya kita rasakan. Atau pikirkan.
It's all about mindset, it's all about perception. And happiness is JUST a mind set.
But be sure always, either in short term or nevertheless in the longer run, that the best of us would take its toll on things we do our best; on becoming what we are. And it wont be gone unnoticeable by our surroundings. We arent spending up on nothing. We would not. There's must be its effect on us, and our surroundings. If not; well, at least we do it for the sake of ourselves then. And God, insya 4JJI
Like I said: ..just make the most of it!..
People may dont care, but who cares? There is the whole world waiting to be explored. Wish you enough, dear..
PS: I thought you didn’t like my writings and never read them, no?
|
 | Sepanjang kita masih mau dan/atau mampu bertahan di posisi itu; then do your best, and nothing less.  I dit it, and i survive. Tapi, nampaknya gw merasa harus pindah dari titik ini, dan memilih yang ekstrim..cabs! Baru tadi pagi gw interview untuk tempat yang baru, dan diminta memilih divisi yang paling pas. Gw sudah mengatakan pilihan gw. Anehnya..mereka juga tetap 'mencoba' gw untuk divisi lain yang, walaupun mereka bilang 'u have zero experience in this kind of job'. Seems like they're testing the water. Yeah, whatever...Semoga jika gw lolos akan benar-benar ditempatkan di tempat yang gw inginkan, atau kalau tidak..semoga Tuhan menunjukkan yang terbaik buat gw. *kok jadi curhat colongan ya, hehehe btw, nice writing, sampai diriku terpicu untuk curhat colongan di sini :-) |
 | wah...topik yang pas juga buat gue...gue lagi mau cabs juga dari profesi yg dah gue jalanin 4 tahun :P |
Comment deleted at the request of the author.
 | **NB** [email] Wednesday, May 09, 2007 - 13:51 PM
Mulai dari mana ya.. Intinya ya gue di rotasi dan gue merasa tidak suka dengan kerjaan gue sekarang… Tadinya gue di Divisi Pengawasan.. sesuai dunia sebelumnya dong… kaya' auditor gitu.. Tapi sekarang gue di Divisi Operasional... kerjaannya ya operasional… ngerjain kerjaan rutinitas.. ------------
TLT replied Thursday, May 10, 2007 - 15:33 wib
Cucian.. Tapi kan plus minus juga, mbak. Rutin mungkin bosan karena predictable, tp di lain pihak dg sifatnya yg predictable itu kan elo malah bisa ngerencanain cuti ato training atau bahkan sekedar acara mbolos atau ngabur makan siang dg mudah, hehehe.
Take a look at me now; as a risk compliance analyst, I'm dealing much with the government officials, and other internal users as well. People envy my high profile job much; debating with high ranking officials over millions of dollars and the sake of the whole company, without knowing that because of it, last year I burned 15 days (75%) of my 2006 annual leave entitlement; and cant even attend any training at all. Yeah, it's sure not a boring job; but with it comes a price - high pressure! When everybody else misses weekends, for me its exactly the opposite thing; I fear for it to come for still having zillions things to do.
See, it's all JUST a mind set. Love your job, dear..
PS: Kalau emang segitu ndak suka nya; mungkin dikau bisa coba bicarakan baik2 dg bos utk promosi horisontal. Kalau masih nggak bisa juga, as I wrote, ya cabs aja.. Pindah ke oil company mungkin? Gaji gede (masa siyy..), kerja santai (hhh, I wish!), dan bisa pulang jam 15.30 (boong banget tuh, hihi) ---------------------
**NB** Thursday, May 10, 2007 - 15:39 wib
Ada lowongan nggak ?
|
 | **ABJ** [email] Thursday, May 10, 2007 - 7:59 AM
Pak TLT,
Bekerja pada awalnya memang salah satu upaya memenuhi kebutuhan pribadi melalui mekanisme bekerja. Bekerja itu sendiri dapat dilaksanakan melalui organisasi tertentu atau bahkan bekerja di organisasi yang diciptakan nya sendiri (wira usaha).
Pada tahapan selanjutnya adalah proses aktualisasi diri melalui bekerja dan sekaligus dalam upaya mengaktualisasikan diri tsb akan muncul niatan untuk “menjadi berguna” bagi organisasi dimana seseorang bekerja, lingkungan organisasi ataupun pribadi2 sesama pekerja (rekan kerja, bawahan ataupun atasan) disekitarnya melalui berbagai proses diantara nya adalah proses kolaborasi / kerja team dan sharing.
Seterusnya masalah penugasan yg sesuai dengan potensi, minat seseorang dsb saya rasa bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, minimal dua yaitu dari sudut pandang pekerja itu sendiri dan yg kedua dari sudut pandang perusahaan.
Sudut pandang pekerja : · Proses aktualisasi diri spt tersebut diatas · Kebutuhan pengembangan diri untuk meningkatkan “kapasitas pribadi” yg berupa daya pikir, kemampuan bertindak, bekerja sama / berkolaborasi dan peningkatan kemampuan (kompetensi dan pengalaman) yang pada ujungnya akan berguna dalam pendekatan penyelesaian masalah dan membuat dirinya “kompeten”. · Kebutuhan untuk bersosialisasi di linglkungan kerjanya.
Sudut pandang perusahaan : · perusahaan melihat pekerja berikut pengalaman dan kompetensi nya sebagi bagian dari “asset” perusahaan yang penting dan sangat “strategic”. · Proses rotasi bukan hanya bisa diartikan sebagai menjauhkan pekerja dari bidang yg disukai atau menjadi core dari kekuatannya (dalam hal yang sangat specific mungkin ya, misalnya pekerja tsb memiliki peminatan dan kapasitas yg sangat terbatas / specific), tetapi bisa juga sebagai bagian dari pelatihan dan pengembangan serta bentuk “reward” dari perusahaan bagi para pekerja yang mampu memunculkan “significance milestone” sepanjang karirnya. · Proses “rotasi” adalah “pelatihan dan pengembangan” pekerja dalam konteks meningkatkan pengalaman dan kompetensi nya secara “lateral / horizontal”. · Secara alami, mereka yg masuk dalam kualifikasi ini umumnya adalah tipe “pembelajar” dan “cepat menyesuaikan”, sehingga pada ujung2 nya proses penugasan dan rotasi itu sendiri sama sekali tdk menjadi masalah. · Bilamana proses seleksi dan rekrutmen pekerja berjalan dengan baik dan sesuai dengan proses yg memenuhi “kepantasan” bagi organisasi yg baik kedepan, hampir dapat dipastikan perusahaan / organisasi tersebut akan memperoleh anggota baru organisasi yg memenuhi criteria tsb diatas. · Kelompok pekerja secara luas kadang2 mempersepsikan secara keliru / kurang tepat tentang “proses rotasi” itu sendiri dengan kadang2 meng konotasikannya sebagai “dibuang”. Namun banyak kejadian membuktikan bahwa bagi sementara pekerja yang memang pembelajar, ternyata kondisi dan penugasan yg dikonotasikan sebagai “dibuang” tersebut, masih bisa memunculkan sesuatu yg baru bagi organisasi dan tentu pengembangan bagi dirinya sendiri.
Kesimpulan : ????
· Organisasi yang baik atau ingin menuju ke tahapan semakin baik, tidak akan pernah “membuang” anggotanya. · Perlu dilakukan penyamaan persepsi diantara organisasi dan pekerja tentang makna dan tujuan penugasan dan proses rotasi bilamana memang diperlukan. · Persepsi yang sama memungkinkan hilangnya keraguan dan konotasi yg kurang benar dan sekaligus memunculkan cara pandang yang lebih pas dari pekerja tentang penugasan bareunya dan apa saja peluang nya kedepan.
Sharing saja, semoga bermanfaat.
|
 | waaahhh klo saya mah sepertinya sedang berusaha belajar mencintai pekerjaan dan perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Secara lirik kanan kiri gak ada yang mau tuh. Yah jadi dinikmati dulu lah mumpung masih ada yang bisa dinikmati, hehehehe. |
 | I dit it, and i survive. Tapi, nampaknya gw merasa harus pindah dari titik ini, dan memilih yang ekstrim..cabs! Baru tadi pagi gw interview untuk tempat yang baru, dan diminta memilih divisi yang paling pas. Gw sudah mengatakan pilihan gw. Anehnya..mereka juga tetap 'mencoba' gw untuk divisi lain yang, walaupun mereka bilang 'u have zero experience in this kind of job'. Seems like they're testing the water. Yeah, whatever...Semoga jika gw lolos akan benar-benar ditempatkan di tempat yang gw inginkan, atau kalau tidak..semoga Tuhan menunjukkan yang terbaik buat gw. *kok jadi curhat colongan ya, hehehe btw, nice writing, sampai diriku terpicu untuk curhat colongan di sini :-)  Life is a matter of choice Take your chances, and be committed to it
Good luck, and thanks for sharing - wish you enough
|
 | **ultra_chilled** [email] Wed May 9, 2007 - 22:31 wib
the first question maybe: why didyou apply for the job? the second question maybe: if you don't like it, then why you stay?
the third question maybe: have you actually communicated it professionally to your boss or do you expect your boss to be a mind reader or fortune teller?
kl jawaban no.1 dan 2 adalah just because of MONEY (which I'm sure it represents majority of the answer).. then, yup..be a professional! you don't have to love it as long as you do your best! remember the first goal should be "do what you love to do" then "love what you have to do". otherwise, lu udah ter-brainwashed oleh buku2 HR dan jargon2 management..
dan untuk pertanyaan nomer 3..sad but true..banyak orang pilih untuk diem di depan bossnya (asal bapak senang? fuck that) tapi berkoar2 di belakang.. talking shits and blaming everything but him/her self. Been there, done that..and finally i realize it's so stupid!!!
you want it, you say it! say it to the right person.. bukan gosip di kantin atau sebar junk mail. if you don't get it, then.. think again why you don't get it, figure out what's wrong, fix it, and shoot it again!
take control of your life. or somebody else will control it. BANZAI!!!!
PS: I'm talking to myself actually..
|
 | **AR** [email] Wed, May 9, 2007 - 12:29 pm
…“Solusinya tentu hanyalah dengan cara meminta dipindahkan, atau bahkan lebih ekstrim lagi, "memindahkan" diri sendiri alias cabs, hehe.."
Solusi tsb diatas [mungkin] akan lebih mudah dilakukan oleh seseorang dengan status yang masih single. So, what I have in mind when the career is stuck is trying to “berpoligaji” [with ethical, ofcourse] since repressing your life need is just saved less than you get higher paid
TLT replied Sun, May 13, 2007 - 13.46 wib I really dont like it when you judge things by using a person's colors rather than his own values, or in this case; one's capabilities. Remember the SWOT analysis terms? Life is a matter of choice, anyway.
|
 | **CK** [email] Monday, May 14, 2007 - 9:07 AM Btw, kalau saya lebih tertarik, tapi belum menganut, prinsip: “is not enough giving the best you can, you must succeed in everything you do” |
| |