Terbanglah Lebih Tinggi

Blog EntrySee No Evil : the Jakartans BehaviourSep 28, '07 9:58 PM
for everyone

 

 

Macet lagi, euyyy.. Udah biasa kan, di Jakarta? Apalagi gara2 Sutiyoso memaksakan diri untuk selesaikan proyek2 busway di seantero Jakarta sebelum tahun ini berakhir, dan sebelum masa jabatannya selesai. Menghabiskan anggaran, kasarnya. Nggak salah juga sih, karena secara Akuntansi Pemerintahan memang begitu prosedur yang berlaku. Tapi secara etika dan kepatutan, tentu lain lagi soalnya. Belum lagi persepsi publik.

 

Tapi kenapa musti sekarang ya, saat gue lagi telat habis2an, saat gue kelelahan akibat beban kuliah semalam dan tekanan kerja akhir2 ini. Dduhh., Well, untungnya udah minta izin ke bos2 lewat sms, sih. Tapi kan tetap aja jadi deg2an; soalnya kalau udah begini (= macet yang di luar perkiraan, a force majeure) kan nggak bakal bisa diprediksi lagi kapan bakal nyampenya. Padahal banyak banget kerjaan menanti dan melambai2 gue, hehe..

 

Ternyata kemacetan ini terjadi gara2 adanya penumpukan di kawasan bottle neck di perempatan Cempaka Putih (atau ITC Cempaka Mas, buat yang hobi belanja, hehe). Dari jauh udah bisa dipastikan sih, apa penyebabnya; asap yang tebal membumbung ke angkasa – pasti lagi ada kebakaran. Tapi makin mendekat ke lokasi, makin kaget aja; nggak nyangka kalo tuh api nya ternyata sebesar itu, dan bahkan dilihat dari jarak sejauh itu. Inna lillahi.. Itu lokasi gubuk2 liar para pemulung di pinggir Danau Ria-Rio, danau buatan yang berfungsi sebagai buffer perumahan mewah Pulomas. Dibakar? Heaven knows..

 

Yang bikin sebal, kemacetan itu terjadi karena banyaknya pengguna jalan yang, walaupun (mungkin) sedang terburu2 seperti gue, ternyata nggak mau melewatkan kesempatan untuk menikmati indahnya tontonan gratis. Dengan semena-mena mereka langsung berhenti begitu saja di pinggir jalan. Atau saat tempat yang tersedia di bahu jalan semakin penuh, perhentian mereka malah semakin memakan badan jalan. Gue termasuk satu dari sangat sedikit orang Indonesia yang nggak hobi menekan klakson tiap saat jalanan terhalang, tapi kemarin dengan beringasnya gue gebrak tuh klakson berkali-kali. *grin To no avail, of course.

 

 

Dan ya, mereka dengan keukeuh-nya tetap nggak mau beranjak dari lokasi paling strategis untuk itu; di atas fly-over Cempaka Putih. Belum lagi yang melihat dari perempatan di bawahnya, di Jl Raya By-Pass Tg.Priok-Cililitan*. Tanpa rasa bersalah atas kepentingan publik yang tengah mereka perkosa secara kolektif. Huh!

 

Itu selalu pertanyaan yang timbul dalam kepala gue. Entah kenapa, we Indonesian, setiap kali ada musibah, kecelakaan, atau entah apa lah; pasti langsung ramai itu tempat kejadian perkara. Langsung berubah bagai arena Jakarta Fair saat malam minggu. Apa yang mereka lakukan? Nothing! Do they help the victims? Nope, but just to watch, and to retroactively comment to each other. Lengkap dengan segala analisis maupun usulan atau sekedar makian kepada petugas yang sedang sibuk di lokasi.

 

Persis sama kaya kelakuan para penikmat tontonan sepakbola kita. Atau olahraga2 lainnya. Bisanya cuma komentar terusss.. Berasa yang paling jago sedunia. Komentator olahraga sekarang menjadi satu profesi yang cukup menjanjikan. lho. Belum lagi penampilannya kalau lagi ada acara nonton bareng di kafe2, duhh..!! Serasa pindah lokasi deh tuh, kostum2 yang berkibaran di tengah lapangan menjadi ke tengah kafe. Padahal kalau disuruh main sendiri; jangankan jagoan, megang bola aja mungkin malah paling nggak becus! Atau bahkan seumur2 belum pernah duduk di belakang bangku mobil balap F1, tapi lagaknya kalau lagi nyetir di jalan umum udah serasa raja diraja tanpa tanding tanpa lawan. Nggak peduli orang lain sampe jatuh bangun gara2 dia, sigh. Udah gitu kalau disalahin atau diklakson, malah galakan dia.. halahh…!! :p

 

Kelakuannya ngerasa paling benar sendiri dan nggak mau dikritik ini sepertinya sudah mendarahdaging, bahkan hingga menjalar ke para pelaku lembaga paling terhormat di negeri ini; termasuk Parlemen dan Pemerintahan. Adalah suatu dagelan yang teramat sangat nggak lucu sama sekali, saat suatu lembaga tinggi yang dibentuk Negara guna mendukung perjuangan anti korupsi, ternyata malah kebobolan di dapurnya sendiri.

 

Atau bagaimana bila sebuah keputusan yang telah disahkan oleh Lembaga Arbitrase Internasional, yang bersifat final and binding, ternyata dapat dimentahkan dengan semena-mena oleh Pengadilan Jakarta Pusat. Dan lebih jauh, keputusan tersebut dapat tidak ditaati semata dengan alasan yang sangat kekanak2-an dan menggelikan: rasa cinta kepada tanah air, alias jargon semu yang bernama Nasionalisme. Bahkan penolakan tersebut dengan dasar perintah tertinggi. *wink2!:p

 

Apapun alasannya maupun versi pembelaan diri yang beredar; tendensi kita untuk “asal tidak/ asal me-nidak-an”, atau “yang penting gue, bodo amat dengan orang lain”, maupun keengganan kita untuk disiplin mengantri (baca: mengikuti prosedur yang benar demi keunggulan jangka panjang), tentunya akan mempreteli kesatuan kita sebagai Negara yang berdaulat maupun ketahanan kita sebagai suatu bangsa yang solid. Keselamatan untuk diri pribadi maupun anak cucu dengan mengorbankan kepentingan orang lain? Oh, no.

 

Selamat datang di tengah masyarakat yang lebih menghargai apa yang elo punya dibandingkan semua (baca: dengan cara apapun!) daripada apa yang telah elo lakukan untuk semua.


To appreciate your money more than what you positively done for the sake of society, no matter what.

 

Dan bila sudah begini, maka cita-cita akan Indonesia yang maju dan disegani dunia pun hanya akan tinggal sebagai bagian dari impian kesiangan jangka panjang, yang akan dengan mudah terhapus bagai jejak pasir setelah hantaman gelombang semangat kemerdekaan. Atau mungkin pukulan Krisis Moneter 1997, untuk memberikan contoh yang lebih realistis. Impian di siang bolong dengan fundamental yang mengawang. 

 

Romantisasi Nasionalisme yang kosong.  

 

 

Jakarta, perempatan ByPass, Cempaka Putih

Jumat, 29 September 200709.00 am

© terbanglah lebih tinggi

 

 

Note:

  • Photo courtesy of TLT, taken on the spot.
  • Jalan raya ini dibangun dengan menggunakan dana pampasan perang kemerdekaan, hibah dari Jepang, thn 1960-an. Nilai strategisnya adalah untuk menghubungkan dan mempermudah pergerakan antara pelabuhan paling sibuk di Indonesia, Tg.Priok, di utara Jakarta, dengan lapangan terbang Halim Perdana Kusumah, di Cililitan, selatan Jakarta. Kedua terminal tersebut (pada 1960-an) juga sekaligus merangkap sebagai pangkalan militer terkuat dan juga paling disegani di Asia Tenggara. Terutama untuk menghadapi dua perang lokal; Konfrontasi dengan Malaysia di perbatasan utara (Borneo) serta Pembebasan Irian Barat di perbatasan timur.  

 


38 CommentsChronological   Reverse   Threaded
mindri wrote on Sep 28, '07
........... menghela nafas panjang............
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 28, '07
Forgive me, that was just my cathalyst..
debluelover wrote on Sep 28, '07
du..duhhh.. kasian yang pagi2 udah harus menghadapi keruwetan kayak gitu.. hehehee.. tapi gue setuju banget sama loe (baca posting ini sambil manggut2).. Paling nyebelin tuh emang umumnya kalo orang sini melihat suatu kejadian udah kayak tontonan aja.. tanpa mungkin berbuat sesuatu yang berarti.. (untuk kasus kejadian di jalan raya mah, ini yang paling nyebelin. ngapain juga nontonin doang... malah jadi ngehambat orang2 yang emang lagi buru2 dalam perjalanan.. kesannya norak banget gitu..*maaf buat istilahnya*).

Jalanan di Jakarta emang tambah parah aja neh gara2 aneka proyek busway, flyover, underpass de el el yang saling tumpang tindih.. warisan bang Yos yang paling nyebelin di antara sekian banyak hal nyebelin lainnya.. (walaupun gak semua siy..).

Warga Jakarta.. selamat berjuang! hehehe
nien wrote on Sep 28, '07
ah, itu dekat rumahkuuuuuuuuuuuuuuuuuu.................
dartz wrote on Sep 28, '07
hhh... g dr bintaro-kemayoran-roxy (client visit), kemarin liat asap itu,
g pikir asap sampah, ternyata kebakaran gede :(. inna illahi wa innailaihi rojiun.
deeadinata wrote on Sep 28, '07
poor you.. pindah sini deh.. enak gak macet..:))
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 28, '07
Paling nyebelin tuh emang umumnya kalo orang sini melihat suatu kejadian udah kayak tontonan aja.. tanpa mungkin berbuat sesuatu yang berarti..
Yep, that's what I mean. Agreed.

Sooo, for those fellow Jakartan commuters, may we say, "God speed"?
:p

terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 28, '07
Lho, emang nya di mana, Nien?
*siap2 mau mampir pas Lebaran-an, hehe
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 28, '07
Masa iya bisa keliatan sampe sejauh itu? Ternyata emang bener2 gede ya, kebakarannya.. Gue sih nggak bakal bisa ngelupain besarnya ukuran lidah api yg menari2 saat itu. Wahh, bener2 deh.
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 28, '07
Mau banget! Mau jadi sponsor utama ku? *wink! :p
waltzingmathilda wrote on Sep 28, '07
hihihihi ada yang marah2 *n marah2nya khas virgo banget hahaaha*

gue juga sebel tuh kelakuan kayak gitu : bantuin enggak tpi komentar paling jago... semoga banyak orang indo yang bisa sadar diri :P

dan jakarta memang tambah nyebelin...macettnyaaaaaa ya ampyuuuunnnnnnnn *joglo gitu lohhh* T_T
kekedea wrote on Sep 29, '07
kok ya sempaaaaat moto2 pas lagi buru2 gitu?
btw naik motor apa mobil?
Kalo motor kan bisa capcus nyempil2
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 29, '07
hihihihi ada yang marah2 *n marah2nya khas virgo banget hahaaha*
Hahahaha... masa' sih? Emang gimana marah2 yg versi Virgo, dan gimana yang enggak? Ngomong2, sesama Virgo dilarang saling mendahului, yha! :p
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 29, '07
Yaaa.. mau nggak mau mesti sempat lah. Lha wong jalannya sampe tersendat banget; udah berasa kaya lagi buka paha*, deh. Mungkin malah lebih parah; soalnya semua orang menengok ke kiri, ke arah lokasi, dan nggak nyadar soal kondisi lalu lintas di sekitarnya. Berapa kali gue nyaris tabrakan gara2 orang yg di depan gue kelewat asyik nonton tabrakan, tapi kagak nolong!; nggak di jalan biasa kek, nggak di jalan tol. Dasar orang Indon..hhhh..

Kebetulan gue naik motor sih. Tapi nyempil2 di antara kemacetan? Ihh, nggak banget deh. Seperti gue tulis di atas, buat apa gue untung, tapi nggak merhatiin kepentingan org lain yg sama2 kejebak macet? Nyempil2 itu beresiko sangat tinggi buat nyerempet mobil/motor orang lain, soalnya.

Lagian jalanannya bener2 jadi ketutup gara2 orang2 dogol yg cuma nonton doang tapi kagak mau nolongin itu. Bisa diliat pada ilustrasi foto nya kok, coba deh di-klik/ di-download biar lebih keliatan. Then tell me more what you think after that, 'kay?

Note:
* buka paha = bubaran kantor, padat merayap. Istilah yg sering dipake penyiar atau polisi :p
waltzingmathilda wrote on Sep 29, '07
aduh jelasinnya susah...
virgo tua duluan deh :D
caramelfreeze wrote on Sep 29, '07
yoi. berantakan semua.
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 29, '07
umm.. berantakan apa nya yah?
*bingung
terbanglahlbhtinggi wrote on Sep 29, '07
Silahkan yg (merasa dirinya) muda, boleh ambil jatah duluan... ahhaha..
nitnouz wrote on Sep 29, '07
buka paha bukannya = bubaran kantor, tanpa harapan ya?!

hee..

*kok ga penting..yg penting ikutan gini*
kekedea wrote on Sep 29, '07
wah berarti dirimu pengendara motor yang baik, nggak kayak tukang ojek yg sering nganterin gw... nyempil2 diantara bis2...doh untung nggak lecet ^_^
nien wrote on Sep 29, '07
Lho, emang nya di mana, Nien?
*siap2 mau mampir pas Lebaran-an, hehe
Di Cempaka Putih, Bang, pas banget tuh di belakang gedung Gudang Garam ituuuuh
*kangen rumah.*
chadybloke wrote on Sep 29, '07
Jakarta ato Indonesia, kapan majunya sih???? Kayanya sebelum 3 in 1, sebelum BUSWAY, semua lebih lancar deh....
dartz wrote on Sep 29, '07
Masa iya bisa keliatan sampe sejauh itu? Ternyata emang bener2 gede ya, kebakarannya.. Gue sih nggak bakal bisa ngelupain besarnya ukuran lidah api yg menari2 saat itu. Wahh, bener2 deh.
keliatan pas gue di tol yg dari kemayoran ke roxy...
aniq30maret wrote on Sep 29, '07
duh ngeri banget liat asepnya... pemukiman di situ padat dan luas ya arealnya? yang inget cuman pelataran ITC Cempaka mas doang ingetnya...
jeenkuwl wrote on Sep 30, '07
sekarang bener-bener parah ya macet gara2 bangun jalur busway baru? mengerikan..
dan soal cuma melihat tanpa melakukan itu..... hah...
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 1, '07
Yah, paling nggak tukang ojeg masih dapat duit kan? Hhehee
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 1, '07
Busway itu memang suatu kesalahan perencanaan tata kota yang sangat fatal; dari seorang gubernur yang gagal, bahkan terhadap menjaga janji2nya sendiri soal Jakarta tidak akan banjir lagi.

Tetapi tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan, bukan?
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 1, '07
Kangen nih yeee.. emang sengaja mau bikin dikau kangen kok; bwahahah... Enggak dheng.. :p
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 1, '07
dan soal cuma melihat tanpa melakukan itu..... hah...
Nah, itu dia..
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 1, '07
Wah, berita lengkap soal gimana2nya mungkin mendingan baca di koran2 aja yah.. gue nggak punya data yg segitu lengkapnya juga sih.
sapiterdepan wrote on Oct 3, '07
Busway itu memang suatu kesalahan perencanaan tata kota yang sangat fatal; dari seorang gubernur yang gagal, bahkan terhadap menjaga janji2nya sendiri soal Jakarta tidak akan banjir lagi.

Tetapi tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan, bukan?
yaa,, kalau saya boleh berbicara fatal banget, dengan perencanaan yang amburadul.. akhirnya gak jelas,,, liat aja buncit-mampang deket kantor gwe.. jalanan busway di bongkar ketika busway udah beroperasi.. ngaco.. yang ada studi dulu dong fisik jalanannya bikin yang bisa men-support busway baru jalanin proyeknya..

ini sesudah beroperasi, ditengah jalan busway ambil jalan biasa,, terus masuk lagi ke jalur buswayy.. macetnya.. hmmm jangan ditanya,, dari gedung mitsubishi ampe perempatan republika gak jalan sama sekali........

orang2 juga udah tau ada gali2 dsb pake diliatin.. nengok ke kanan ples rem pelan2 halahh kapan sampee-nyaaaaa.....
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 4, '07
Hahaha.. misuh2 gitu..

Dont worry be happy, gubernur baru kita tahun depan 'kan hasil didikannya Sutiyoso. Jadi kemungkinan kita (masih) akan mengalami masalah yg sama kemungkinan akan cukup besar. Oks, he still deserve his time to learn how to do things out. But sure we'll see, and time definetely will tell.. *grin
sapiterdepan wrote on Oct 4, '07
Hahaha.. misuh2 gitu..
Ini emosi namanya pak, emosi jiwa,, amarah hati huehuehuehe... :D
sekalian curhat seh ,, abis jarak tempuh ke kantor jadi berkali2 lipat gara2 tuh galian..

buat masalah gubernur baru .. weitss eike no comment,, lha wong menangnya ngandelin kumiss kok hahahah :D..

oopss.. piss ah.. :D
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 4, '07
Ya udah, camping aja di samping pos satpam di kantor mu. Itung2 sekalian menggalakkan pamswakarsa dan menghemat sumber daya yg terbuang gara2 macet! Heueuehhe..

Btw, ketahuan dong, kemarin dikau nggak milih Fauzi Bowo.. *grin

blueberryaddict wrote on Oct 5, '07
untung gw gak tinggal di daerah jakarta timur melipir ke jakarta utara.. hehehehe.. pindah rumah aja mas, ke selatan.. lebih deket toh ke kantor (saran yang sangat bagus dari gw dan sangat mudah untuk diwujudkan.. =P)

hmm.. gubernur yang gagal itu sebentar lagi bakal jadi calon presiden.. apa jadinya yah??
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 5, '07
Diduga dalam waktu dekat gue bakal pindah sih, gara2 rumah gue kena gusur perpanjangan proyek JORR jalur Jati Asih - Cikunir - Tg Priok, heheh.. Tapi masih tetap pilih di utara ah; soalnya akses jalan tol nya enak, tinggal modal bensin + uang tol aja. Dan terutama, gue mesti ngelawan arus; jadi jarang2 kena macet yg sampe parah gitu. Kecuali kasus2 force majeure kaya jurnal yg di atas.

Sutiyoso mencalonkan diri mjd Presiden? Jangan2 nanti di Irian bakal ada busway! Heuhehe..
chipitsly wrote on Oct 7, '07, edited on Oct 7, '07
Jadi inget kejadian semalem (lebih tepatnya dini hari tadi)... rancananya mau bakti sosial sembari aksi sahur on the road, gue dan temen2 mampir ke daerah sekitaran roxi yg jadi salah satu korban kebakaran juga. Well what else to say, ternyata sesampainya di tempat tujuan cuman bisa miris, menghela dada karna iba melihat mereka yang cuma bisa tertidur dipinggiran jalan cuman beralaskan terpal seadanya...(gimana kalo ujan ya?!?!), mau sampai berapa lama mereka bertahan seperti ini?? lebih tepatnya mereka dari berbagai kalangan usia termasuk balita dan lansia...

Sedangkan saat2 seperti ini menjelang Lebaran dengan THR yang sudah ditangan, sebagian besar dari kita sedang sibuk mencari sale dimana-mana, dari mulai mall2 besar hingga bazar2 yang biasa digelar di gedung perkantoran.
Sorry to say... terkadang kita gak pernah memikirkan berapa banyak yang kita habiskan tuk memborong belanjaan itu - terkadang malah tuk hal2 yg gak penting (ya iyalah... itu kan hasil jerih payah kita kerja juga...), tapi dikala ada seseorang yg menyodorkan amplop tuk mengajak partisipasinya dalam suatu kegiatan amal dan sosial... they only can say "sorry ya cuman bisa ngasih segini...." (Well at least, thanks a lot ya, yang penting ikhlas....)

Hhmmmm, mungkin gue akan lebih mengkritik diri sendiri dibandingkan pemerintahan yang semakin ruwet menata kota. Buat gue apa bedanya makin mengomentari segala keputusan yang telah diambil "para petinggi negara ataupun kota" dengan para penonton kebakaran yang ada diatas jembatan itu?!?! hehehehe - sama aja kan?!?!
So, gue lebih mengambil sikap tuk mengoreksi diri sendiri, setiap perubahan positif yang kita lakukan pasti akan banyak pengaruhnya tuk pihak lain... coba bayangkan kalau masing2 dari kita melakukan perubahan positif itu, pasti semuanya akan menjadi lebih baik kan??? Ayo kita mulai dari diri kita sendiri... hehehehe (dah pantes nyalonin diri jadi gubernur lom?!?!)
terbanglahlbhtinggi wrote on Oct 9, '07
Sorry to say... terkadang kita gak pernah memikirkan berapa banyak yang kita habiskan tuk memborong belanjaan itu - terkadang malah tuk hal2 yg gak penting (ya iyalah... itu kan hasil jerih payah kita kerja juga...), tapi dikala ada seseorang yg menyodorkan amplop tuk mengajak partisipasinya dalam suatu kegiatan amal dan sosial... they only can say "sorry ya cuman bisa ngasih segini...." (Well at least, thanks a lot ya, yang penting ikhlas....)
You are such a good girl.. hmmm.. Not many out there thinks like you, you know?

Setuju dengan prinsip bhw sebelum bisa mengkritik orang lain, lebih baik bila kita berintropeksi dan berkaca pada cermin hati dan pikiran kita sendiri; sudah kah kita melakukan yang terbaik secara benar, atau melakukan hal2 benar secara baik?

Tapi menganalogikan kritikan dg Pemerintahan yang nggak becus dengan kebiasaan buruk masyarakat kita yang hanya gemar menonton musibah tanpa bergerak untuk menolong, menurut gue kurang tepat.

Menonton adalah menonton. Sedangkan mengkritisi tentu adalah hal yang lain lagi sifatnya. Apalagi bila ditambahkan dengan solusi alternatif yang kongkret. Selain itu, masalahnya, gue hanya mencoba memberdayakan otak dan hati gue - yg sudah susah payah diberikan 4JJI untuk gue. Kalo emang otak dan hati gue itu nggak boleh dipake buat mikirin hal2 yg menurut gue penting (misalnya: poligami, atau kemacetan Jakarta), lantas mau buat apa dong? Mending dibikin jadi gule aja 'kalee.. Gule otak dan gule hati made in gue, siapa mau coba? Mumpung udah deket2 lebaran, hehe..

Lagipula, Allah SwT sendiri sudah menugaskan kepada kita agar kita dapat melawan kemungkaran. Lawanlah dengan perbuatanmu, firman Nya. Bila tidak sanggup, maka lawan dengan lisan (atau tulisan -- tambahan dari gue) mu. Dan bila itu pun masih dirasa berat, maka lawanlah dengan hati mu. Dan itu adalah selemah2-nya iman..

Happy fasting!

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help