Terbanglah Lebih Tinggi

Blog EntryDokter Bukan TuhanFeb 27, '08 11:25 PM
for everyone


Hei mas dan mbak, seperti yang tadi aku bilang di telepon, sepertinya si Prof Dr sialan itu udah melakukan malpraktek deh. Bukan jaminan lho, kalau udah jadi guru besar di FKUI sekalipun dia nggak akan mungkin melakukan malpraktek.

Dokter itu bukan Tuhan! Apalagi kalau cuma bisa berlindung dibalik nama baik sebagai seorang guru besar dari, arguably, kampus terbaik negeri ini. Lha, giliran didatangi lagi buat minta pertanggungjawaban, kok bisanya cuma cuci tangan nggak mau ngerawat yang bener sambil beralasan sibuk dengan pasien lain.

Soal “kehebatan” guru besar, jangan lupa, waktu zaman Paman Gober dulu kan, guru besar itu (hanya dianugerahkan kepada) mereka yang loyal pada sang Paman. Jadi bukan karena keilmuan apalagi kompetensi (walau tentunya tidak semua seperti ini).
 

Malpraktek

Biar lebih jelas, barusan dapat beberapa artikel ini tentang malpraktek:

  1. Detik News, klik di sini
  2. Tempo Interaktif, klik di sini
  3. atau coba search aja di google

 

Stevens-Johnson syndrome

Si guru besar bilang kalau mas kena Stevens-Johnson syndrome yah? Aku baru dengar tuh, tapi barusan aku coba cari2, ini dapat beberapa artikel terkait:

  1. Dari Wikipedia
  2. atau kasus Hanif di Bandung

Aku belum sempat baca semua sih, lagi sibuk nyiapin bahan2 buat rapat besok pagi di luar kota, mbak. Tapi intinya, saat terjadi sesuatu yang nggak diharapkan, misal (yang di Detik News di atas) badan jadi biru2 kaya' yang dialami Mas; harusnya --minimal-- kita bisa complaint ke dokter ybs. Apalagi bila ternyata sedari awal tuh dokter nggak memperingatkan soal kemungkinan kulit bakal jadi biru2 gitu atau bahkan mengkonfirmasi kemungkinan "alergi obat".

 
Lebih jauh tentang malpraktek

(1) Konfirmasi alergi

Harusnya sih, sebelum ngasih obat apapun, dokternya musti nanya dulu, kita punya alergi obat apa nggak. Dan pastinya dia harus tanggung jawab dong, atas hasil pengobatan itu. Minimal ngasih tahu yang jelas kenapa jadi bereaksi seperti itu. Pasien itu bukan kambing, kita berhak tahu. Lha kita yang ngasih makan dokter kok.

(2) Antisipasi reaksi

Atau, dalam kasus Mas yang jadi ngebolos 3 (tiga) hari, dokter itu harus ngasih surat bed rest sebagai salah satu langkah pengobatan yang dibutuhkan. Kalau dia nggak ngasih surat bed rest itu (pas waktu ngasih obat dulu), artinya bahkan dia sendiri nggak paham bakal ada reaksi seperti yang dialamin Mas. Ini satu poin lagi yang krusial sebagai bukti terjadinya malpraktek.


Menurut ku sih dari dua poin ini udah cukup buat menuduh adanya kemungkinan malpraktek, mbak. Atau coba konfirmasi aja dulu ke YLKI. No telp nya nggak punya, tapi coba tanya ke "108"

Jangan lupa buat datang lagi ke dokternya, tapi bukan untuk berobat; cuma untuk menyampaikan 2 (dua) poin di atas itu sambil bilang bahwa sebagai pasien, kita akan minta 2nd opinion ke dokter lain (jangan lupa saat ketemu dengan dokter ke-2, kasih ybs semua copy resep dsb dari dokter pertama). Dan bilang juga ke dokter pertama ini bahwa kita udah nggak percaya lagi sama dia, dan bakal nulis soal masalah ini di Tempo, Kompas dan ke YLKI. Meanwhile, buruan ke dokter lain! Jangan ditunda!



Jakarta, Thu, Feb 28, 2008 - 9:53 AM
Pusing menjelang rapat dg BPMIGAS besok di luar
kota
Mau nengokin, tapi bingung ngatur waktunya ..


PS:
  1. "mas" = kakak ipar gue yang lagi sakit, sekujur tubuhnya melepuh dan penuh dengan benjolan kemerahan, seperti bisul, dengan berbagai ukuran. Sudah terjadi selama 3 (tiga) hari, setelah berobat ke seorang Prof Dok spesialis demi mengobati daya serap usus nya.
  2. Kunjungan ke-2 (setelah gejala di atas) telah dilakukan ke dokter tsb, yang hanya dilayani selama 3 (tiga) menit secara sambil lalu sembari menyebutkan soal Stevens-Johnson syndrome, dan bahwa tidak ada yang perlu dilakukan.
  3. Atas nama kerahasiaan pasien, foto2 sengaja tidak dimuat di sini, tetapi tersedia untuk analisis medis dengan permintaan.

23 CommentsChronological   Reverse   Threaded
nien wrote on Feb 27
second opinion?
bettersingle wrote on Feb 27
second opinion?
coba ke international hospital aja, ke specialist,jgn ke dokter umum.trus pastiin nama and tittle dr dokter2 tersebut, kalo ternyata si dokter ini malpraktek laporin langsung ke IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Hindari RS.MMC,Medistra,JKT,TEBET/RS2 Komersil.

PS:gue gak percaya dgn RS.JKT krn pernah didiagnosa Tumor Payudara.Untung gue punya uncle dokter and di rekomendasiin ke RS lain.

Oiya, FYI, kalo mau ke bagian Onkologi (Tumor&Kanker) atopun rontgen2 an, ke RS.Dharma Nugraha aja, dgn Dr. Didid Tjandrabumi (Anaknya Guru Besar Oncologist se Indonesia).

semoga bermanfaat...
aniq30maret wrote on Feb 27
turut prihatin dan semoga "mas"nya lekas sembuh. Jadi ngeriii.. aku juga gi treatment masalah digest niy...
merlyna wrote on Feb 28
koq bisa langsung tahu Stevens-Johnson syndrome dalam waktu 3 menit. lalu kalau misalnya bener SJS, kan juga harus ditreatment, harus diidentifikasi apa precipitating agent nya dan kemudia cari cara untuk menghilangkan agent tsb kalau mungkin. ngga bisa cuci tangan. hayo dikorankan saja itu prof dr!

m, turut prihatin dgn kejadian ini.
ipe2luv wrote on Feb 28
Wadaaaw, baru mo ke dokter niiiyh!! :D
isloved wrote on Feb 28
duch hope ur bro-in-law gets better soon.
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 28
nien said
second opinion?
Sure. If only my bro-in-law would lower his ego. Tsk
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 28
Whalah, informasi yg sangat lengkap. Thanks..!
(pengalaman pribadi kah?)
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 28
turut prihatin dan semoga "mas"nya lekas sembuh. Jadi ngeriii.. aku juga gi treatment masalah digest niy...
Yaa.. hati2 itu tetap perlu, tapi jangan lantas jadi bikin kita takut dan malah nggak mau melakukan 'treatment' yah.. Intinya sih, berusaha dan berdoa (dan salah ngasih obat bukan hanya masalah pencernaan)
debluelover wrote on Feb 28
papiku paling parno kalo udah disuruh ke dokter, sekalipun itu hanya untuk check up.. soalnya dah suka kejadian yang kayak gini sih
merlyna wrote on Feb 28, edited on Feb 28
Thanks..!
(pengalaman pribadi kah?)
you're welcome. ngga sih.... gue ngga pernah kenalan sama si Steven-Johnson... kalau Steven2 lainnya sih pernah ;)
tapi karena gue percaya bahwa sebagian dari pengetahuan medis itu bisa dipelajari orang awam, gue sering baca2 soal macam2 penyakit...
nitnouz wrote on Feb 28
trus..kalo ke dokter aja udah salah, mesti gimana??
uhhhh..bingung nihh...

*loh, kok jd bingung juga?*
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 28
papiku paling parno kalo udah disuruh ke dokter, sekalipun itu hanya untuk check up.. soalnya dah suka kejadian yang kayak gini sih
Jangan sampe parno dongg..

Gue sih percaya bahwa sakit itu sugestif sifatnya . Jadi kalo seseorang itu yakin dia bisa sembuh seperti sedia kala, maka insya 4JJI dia akan bisa sembuh. Secepatnya malah. Dan sebaliknya, orang yg bertipikal pasrah dan menyerahkan diri pada 'keajaiban' para dokter biasanya juga akan malah bertambah sakit, atau bahkan (lebih cepat) meninggal.

The power of mind.
And happiness (and healthiness) is JUST a mind set.
Kita sendiri yang (akan) bisa menentukan hidup (yang) kita (mau).

Well, at least I got proof. My late mother had survived much longer than what her doctors thought. They predicted her to die in 1-2 year, 5 top. But in fact she managed to survive for 16 ys. And when she died, I believe it was the death of her best friend who mostly caused the her mind to, finally, give up, and then her life...
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 28
merlyna said
kalau Steven2 lainnya sih pernah ;)
Heuhehhee... sempat2nya curhat colongan di sini!
* kabur.. :p

Anyway, sptnya itu satu lagi kesamaan kita yah; hobi baca2 soal medis. Kalo gue sih tambah psikologi dan kadang psikiatri -- kalo nggak terlalu pusing mencernanya..huehehe.. Bt, thanks again.
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 28
nitnouz said
trus..kalo ke dokter aja udah salah, mesti gimana??
uhhhh..bingung nihh...
Kan masih ada dukun?? :p
merlyna wrote on Feb 28, edited on Feb 28
Heuhehhee... sempat2nya curhat colongan di sini!
ngga curhat, apalagi nyolong jelas lah banyak Steven atau Stephen di mana2. di kantor, di tv, tetangga, dll...

sometimes you have to read as it is.... :D
perempuandititiknol wrote on Feb 28
percaya pengobatan alternatif? (bukan dukun)
gue iya soalnya. gue suka gak percaya dokter, soalnya, hehe.
krn seperti lo bilang, klo sakit itu sifatnya sugestif.
nah sugesti gue besar di pengobatan alternatif instead of sama dokter ;P

smoga mas-nya cepet sembuh.
sapiterdepan wrote on Feb 28
Semoga mas-mu lekas sembuh ya.... amiinnn..

fiuhh para dokter2 itu memangg... ck..ck..ck...
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 29
merlyna said
sometimes you have to read as it is.... :D
ah, ini kan sekedar klarfikasi, daripada ngomong di belakang :-)
alifahsari wrote on Mar 1
seringnya sih dokter selalu tanya2 pasien nya dulu klo mo ngeresepin obat, apa si pasien alergi dengan obat2an tertentu ( biasanya klo alip berobat ke puskesmas sih selalu di tanya gitu sama dokternya), tapi terkadang si pasien sendiri juga ga tau apa dia punya alergi or not (kasusnya alip sendiri sih, hihihiihi...ga tau punya alergi apa ngga) setau alip sih, orang2 yang lulus dari sekolah kedokteran tuh di ajarin kok untuk bertanya2 tentang apa yang di rasakan sama pasiennya, ada prosedurnya lah ( kecuali dokter hewan kali yee...)
ah intinya sih semoga cepat sembuh aja deh untuk mas nya yang gi sakit....(.^_^.)
l1d1anti wrote on Mar 3, edited on Mar 3
sometime it's just accident oh.. dokter juga manusia, but make it as a good leasson, kalau mau omongin salah or enggak memang dilema disisi lain masih banyak standar prosedur yang belum baik, tapi si sisi lain juga hal ini menyangkut dapur hidup orang banyak..so mangkanya lebih baik ke dr yang ini aja hehehe, just kidding lo.. bilang sama mbakmu as long as nggak bertambah insya allah akan baik2 aja ok pak ??? :>
revinaoctavianitadr wrote on Mar 14
uugggghhh!
jackoagun wrote on Apr 1, edited on Apr 1
kalo mau di perkarakan, boleh juga, tuh!
Yang penting kronologis dan jenis resep jangan sampe ilang.
Kalo gak salah, kasus seperti ini bisa di advokasi oleh LBH Kesehatan.
(hanya ada satu kata; LAWAN)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help