Akhirnya, dalam pembicaraan yang semakin berlarut, beberapa teman menyadari, atau paling tidak mengakui, bahwa dia hanyalah 'an ordinary girl'. Alias cuma manusia biasa. Dia juga manusia, kalo kata "Serious Band". Salah satu buktinya yaa, bahasa Indonesia nya yangg ancur itu. So what gitu lhoo.. Dont sweat the small stuff, my dear friends.
There's always two side of the story, and even a coin has two sides, too. Terkadang bingung aja kenapa kok, banyak sekali teman yang melihatnya hanya dari satu sisi; yaitu sisi yang mereka mau sahaja. Apa bisa dunia hanya ada malam doang? Atau semua penduduk dunia musti jago berbahasa Indonesia? Sepertinya nggak, ya.
Nggak kebayang kalo gue (atau kamu) yang nggak gape bahasa Inggris misalnya, ..atau bahasa Rusia, atau bahkan bahasa Swahili; trus datang ke sana, dan berusaha berbahasa setempat -- dengan terbata2 dan salah2 tentunya, eeuhh.. malah jadi bahan ketawaan di milis2, berbagai blog, dan pada media2 lain. Duh! :-)
Btw, Koran Tempo edisi Minggu 13 Apr 2008 memuat artikel "..sehari bersama..." yang sangat bagus sekaligus lucu; ada komik2nya gitu. Walaupun komik2 tsb menuliskan semua hal yang menjadi bahan tertawaan publik (misal soal kalimat2 saktinya; "hujyan", bechek", dan ojheg"); gue suka artikel itu karena terlihat jelas bahwa, paling tidak Tempo berusaha untuk fair, dan melihat sisi lain dari seorang anak kecil yang, kebetulan, bernama Cinta Laura.