Terbanglah Lebih Tinggi

Blog Entrymengapa subsidi bbm HARUS dihapuskanMay 16, '08 4:23 AM
for everyone

Uh, tiba2 kepikiran orang2 Senayan yang kemarin rame diberitakan pada sok2an ngehemat BBM dengan cara nggak mau ngantor pake mobil, tapi malah pake ojeg rame2 sama pengawal2nya.

Helloooo…!! Ojeg bukannya pake bensin juga ya, boss? Atau jangan2 udah pada pake bahan bakar air beneran? Tinggal buka keran doing? Wakakaka.. Ngehemat bensin mahh, naek sepeda, kaleee.. Atau jalan kaki aja sekalian. Masa kalah sama suster ngesot? Dodol! *grin

Sekedar trivia, daripada kejebak sama omongan nggak nggeunah idola masing2 dari Senayan, Kebagusan, Menteng, whatever;


Indonesia
sekarang

Produksi        :   +/- 1,000,000 BOPD (barrels oil per day)
Cost Recovery: (+/-    300,000) BOPD
Konsumsi       : (+/- 1,500,000) BOPD

MUSTI Impor  :     +/- 800,000 BOPD


1 Barrel Oil     = 158.9873 litres oil
Musti Impor    = 800,000 BOPD x 158.9873 liter
                   = 127.189.840 liter oil

Musti impor 127  JUTA liter minyak PER HARI


Asumsikan jumlah itu semuanya BBM Premium yang bersubsidi rakyat itu, seharga IDR 4,500.- Asumsikan harga Premium SEHARUSNYA nggak beda jauh sama Pertamax, taruhlah IDR 9,000.- Selisih kurang: IDR 4,500 per liter (= 9,000 - 4,500)

Jadi Pemerintah, baca: bukan Pemerintah dheng, tapi RAKYAT.. Petani, Pemulung, Nelayan, Tukang Gorengan yang notabene nggak punya mobil apalagi Thunder 250 GSX, hehe, gue juga termasuk kok, yang mbeli minyak tanah aja ngantri dan nyari minyak goreng aja harus berjibaku, musti nanggung selisih sebesar IDR 4,500 x 127.189.840 liter.

Kalo dijumlah, TOTAL IDR 572,354,280,000 atau 572 MILYAR rupiah sehari; cuma untuk mlaku2 keliling kota nambah2in polusi dan perbanyak gas CO2 yang menambah potensi resiko Gombal Warning.

Bayangkan berapa sekolah atau Rumah Sakit yang bisa dibangun dengan dana 572 milyar perak, tiap hari? Daripada bagi2 bantuan langsung tunai alias BLT yang 100 ribu perak doang itu; udahlah mau beli apa dengan uang segitu.. Jangan2 malah duit nya dipotong sana-sini, atau malah nyasar ke kantong tetangga. :p

Jadi sebagai negara, yang ngakunya, produsen minyak dan kaya raya gemah ripah loh jinawi, dari hitung2an sederhana aja di atas udah keliatan bhw negeri ini bukannya untung, tapi malahan buntung.

Dan siapa yang menderita? Bukan mereka yang bermobil atau bermotor, kawan! (apalagi pake SUV mewah yang boros bensin tapi nggak tahu malu ngisi Premium bersubsidi, oops!:p). Tetapi justru lapisan terendah yang jangankan menyicipi kue pembangunan, bahkan kecipratan** bau nya aja kagak. Gimana mereka yang bermobil dan bermotor itu? Lha, kalau pada pake Premium bersubsidi (atau minyak tanah daripada gas) malahan masing2 pada dapat duit negara sebesar IDR 4,500 per liter, dikali sekian liter yang dibeli. Asyik kan? Hehhehe..

Jangan lupakan hitung2an yang disederhanakan ini tiap saat elo ngisi bensin berupa Premium bersubsidi. Jangan lupakan bahwa untuk setiap liter bensin Premium, terdapat HAK rakyat sebesar IDR 4,500. Bila seminggu biasa ngisi Premium 30 liter, artinya terdapat jatah rakyat yang dipakai sebesar IDR 135,000.- Itu baru seorang dalam seminggu. Gimana kalo setahun? Gimana kalo semua orang?

Pertanyaan berikutnya: kalopun kita kekeuh nggak mau make premium bersubsidi, atau mendukung naiknya harga bensin; lantas apa pengaruh tindakan satu orang terhadap kebocoran anggaran Negara, melawan parpol2 yang ngambil kesempatan njelek2in pemerintah dengan cara menentang naiknya harga BBM dengan alasan rakyat? (rakyat 'ndas mu, oi! Hehe)

Maka ajukan sebuah pertanyaan balik; kenapa harus bertanya apa yang orang lain lakukan? Tanya apa yang bisa KAU lakukan untuk mereka yang menderita; dimulai dari diri sendiri.

Karena kezaliman harus ditentang; nyatakan dengan tindakan mu. Bila tidak sanggup, nyatakan dengan lisan mu. Dan bila itupun masih dirasakan berat, sangkal dengan hati mu. Dan yang terakhir adalah selemah2nya iman. Amit2!

Hanya orang2 Senayan yang lebih peduli pada form over substance dan bukan sebaliknya. Alangkah baiknya bila kita tidak mengikuti teladan negatif mereka.

The country is bleeding! We gotta stop it now! Raise the oil prices! Hapuskan subsidi BBM! Hentikan nina-bobo rakyat gaya orde baru dengan Trilogi Pembangunan nya yang mementingkan stabilitas politik daripada pemerataan dan pembangunan ekonomi!

Kekkekee.. 


Note:
** merujuk pada trickle-down-effect yang diusung Mafia Berkeley yang mengatur jalannya pemerintahan Indonesia era 70-an. Mafia Berkeley sendiri adalah sekelompok ilmuwan FEUI, murid2 Prof Dr Sumitro, yang dididik di pascasarjana Univ of California, Berkeley.


Disclaimer:

  1. Tulisan di atas disampaikan dalam kapasitas pribadi untuk keperluan diskusi. Tulisan tersebut tidak mewakili pandangan kampus, kantor, maupun lembaga2 lain yang terkait.
  2. Ini sekedar hitung2an kasar untuk ilustrasi; karena buat tujuan diskusi dan penyadaran. Tapi angkanya mendekati, dan dijamin benar. FYI, usia data: satu minggu yang lalu. 
  3. Tapi silahkan kalau ada yang mau menambah/ menyanggah. Kita saling bebagi serta saling belajar  :-)


86 CommentsChronological   Reverse   Threaded
gharonk wrote on May 16
koreksi dikit pak Cahyo, yang 800 ribu itu ga semuanya jadi premium... sebagian jadi bahan bakar yang ga disubsidi... tapi memang terlalu mahal ongkos subsidi...
terbanglahlbhtinggi wrote on May 16
gharonk said
yang 800 ribu itu ga semuanya jadi premium... sebagian jadi bahan bakar yang ga disubsidi... tapi memang terlalu mahal ongkos subsidi...
Thank you, mas gharonk..

Memang data nya terlalu kasar untuk bisa dibilang memenuhi standar diskusi ilmiah, dari tadi teman2 lain (posting by email) juga banyak yang complaint. Tapi, seperti udah disampaikan di atas dan pada "disclaimer", tujuan utama nya adalah untuk populasi yang lebih, ehm, luas, dan sekedar bahan 'pembuka mata'.
simandoux wrote on May 16
truly agreed.
terbanglahlbhtinggi wrote on May 16
truly agreed.
Thank you. :-)
deenita wrote on May 16
Welcome to Gombal Warning Zone...
Tfs
rinita wrote on May 16
tapi kalau semua naik..toko owe bisa sepi nih....(egois mode on....)
nitnouz wrote on May 16
justru lapisan terendah yang jangankan menyicipi kue pembangunan, bahkan kecipratan** bau nya aja kagak
kecipratan kok..
kecipratan asap knalpot yg kandungannya bisa beresiko membunuh..
huhuhu..
sedih yaaa..
estimiguelariel wrote on May 16
Gosh .. does everybody know about this ?
When you start using numbers you really put things in perspective, I'm wondering whats gonna happen next ... increasing the gasoline price is not gonna solve everything, all prices will be skyrocketing high for sure .. the rich will get richer and the poor will have nowhere to go ;o(
terbanglahlbhtinggi wrote on May 16
Gosh .. does everybody know about this ?
When you start using numbers you really put things in perspective
yeah, that what I meant to when I wrote this down, and distributed it amongts friends and uploaded it here. Sure those calcs were minimized thus it wont satisfied those whose already inderstood. But I aimed this post to the greater, "casual" audiences, with such targeted persepective to be emphasized.

Hope that people will started to realize that all this time they are being fooled by those opportunistic politicians. Amen.
terbanglahlbhtinggi wrote on May 16
deenita said
Welcome to Gombal Warning Zone...
hahahha.. seperti kalimat pembuka twillight zone yah! Thanks juga, kita emang musti saling berbagi :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on May 16
rinita said
tapi kalau semua naik..toko owe bisa sepi nih....(egois mode on....)
lho, kan konsep biaya itu pake sistem "historical cost".

Jadi kalo harga2 (sekarang) pada naik, sedangkan elo beli dengan harga zaman dulu, bayangkan betapa besarnya keuntungan yang bakal elo dapet? Dengan asumsi, sehabis dapat keuntungan besar kaya gitu, you have to go out of the business -- and enjoy it whilst still can. Soalnya kalo elo tetap dagang lagi, dan mbeli barang2 baru dengan harga yang juga baru, diduga bukan hanya laba elo yang bakal tersedot dengan cepat, tapi jangan2 malah nombokkk.. hahahwhahah...

Demikian kuliah economics 101, saudara2.. *grin

terbanglahlbhtinggi wrote on May 16
nitnouz said
kecipratan kok..
kecipratan asap knalpot yg kandungannya bisa beresiko membunuh..
huhuhu..
sedih yaaa..
tapi kan di posisi baru ntar gajinya bakal naekkkk... *gubrakksss.. !! :p
lovelysillyshilda wrote on May 16
ironis bgt ya...... negara penghasil minyak miskin kaya gini!!
its called by miracle!
terbanglahlbhtinggi wrote on May 16
ironis bgt ya...... negara penghasil minyak miskin kaya gini!!
its called by miracle!
errr... karena mismanagement sekaligus nina bobo?
Yang lalu biarlah berlalu, yang penting skrg naikkan harga BBM ;p
livingyourdream wrote on May 17
maknyos..

*masih ngitung pake calculator dan pusing ngeliat angka..*

ehehehehehe.. jadi sebaiknya saya pake sepeda aja kali ya kemana-mana..ngikutin gaya hidup orang2 belanda pada umumnya..
lifawall wrote on May 17
Go cycling!!!!
terbanglahlbhtinggi wrote on May 18
ehehehehehe.. jadi sebaiknya saya pake sepeda aja kali ya kemana-mana..ngikutin gaya hidup orang2 belanda pada umumnya..
I wish it could be applied here too. Sejujurnya sih, di sini masih rada2 susah buat ngelakuin hal begitu secara rutin. Selain karena jarak yang lumayan jauh (misal: gue), jam kantor yang terlalu pagi (apalagi gue, haha), juga karena perilaku pengguna jalan lain pun fasilitas yang ada nggak mendukung. Yang ini malah terlalu banyak kalau mau dirinci.

But one got to try it sometime, no? At least to find out its feasibility concerning with one's own. (mmm.. jadi kepikiran sendiri nih, hehe)
terbanglahlbhtinggi wrote on May 18
Go cycling!!!!
Yeaaahhhhhhh.....!!!! *grin
foolsbanquet wrote on May 18
rada gak ngerti sama hitungan teknisnya sih..but anyway..kemaren waktu isi bensin di salah satu pom bensin di radin inten jakarta timur, bokap dapet quota pembelian terbanyak sebesar Rp. 75.000. so, pembatasan pembelian bersubsidi? it works. but, does it matter??

trickle-down-effect. hehe..do you know the opposite principle? the famous one by Pak Sri Edi Swasono yang (katanya) menganut ekonomi kerakyatan (tapi tiap ngajar sibuk pamer sound sistem dirumahnya yang katanya 5000 watt.. pianonya yang petrof.. dll dll..hahahah)..
terbanglahlbhtinggi wrote on May 18
rada gak ngerti sama hitungan teknisnya sih..
Hitungannya sebenarnya simple banget kok.. sengaja dibikin garis besar, biar ketangkep esensinya. Let me retype it once again for you here:

Yang diproduksi: 1 juta
dikurangi biaya ngebor: 0,3 juta

Sisa untuk dipake: 0,7 juta
Yang dipake: 1,5 juta -------> ternyata nggak cukup, musti ngimpor

Yang harus diimpor: 0,8 juta TIAP hari

asumsi:
(1) semuanya premium bersubsidi
(2) harga tanpa subsidi Rp 9,000,- per liter

Harga sekarang Rp 4,500.- per liter
Pemerintah musti nombok Rp 4,500 per liter

Ya udah, kekurangan yang musti diimpor 0,8 juta liter tiap hari itu lantas dikalikan dengan tombokan pemerintah (dengan asumsi di atas) yang Rp 4,500.- itu. Hasilnya adalah.. 572 milyar perak SEHARI.

Sori nih, kata "asumsi" terpaksa ditebalkan, soalnya ada bbrp teman yang ngaku2 cerdas, ternyata nggak paham bahwa posting ini menggunakan asumsi, padahal udah ditulis pada posting di atas lhoo.. Entah nggak baca, atau nggak mudheng..hahhaa..

terbanglahlbhtinggi wrote on May 18
anyway..kemaren waktu isi bensin di salah satu pom bensin di radin inten jakarta timur, bokap dapet quota pembelian terbanyak sebesar Rp. 75.000. so, pembatasan pembelian bersubsidi? it works. but, does it matter??
"TIDAK"
No, it doesnt matter.

It's another st***d act, only worth in delaying the catastrophe, and NOT dealing with it face to face.
terbanglahlbhtinggi wrote on May 18
the famous one by Pak Sri Edi Swasono yang (katanya) menganut ekonomi kerakyatan (tapi tiap ngajar sibuk pamer sound sistem dirumahnya yang katanya 5000 watt.. pianonya yang petrof.. dll dll..hahahah)..
I never met Prof Edi in person, and never heard about this gossip.

Tapi gue sih ngerasa itu bukan kesombongan, tapi lebih ke arah "excitement" tentang hobi yang dia punya. Kalau ternyata piano nya petrof, yaa itu kebetulan aja. Apa iya Prof Edi nggak boleh menikmati hidup nya sendiri?

Kalau sampai kita merasa ter-offense, pastinya karena kita nggak (pernah) punya piano kaya gitu kan? Sebagai contoh, misalnya gue yang sebel banget sama anak2 bike to work yang pada sibuk saling pamer sepeda mahal (di atas Rp 10 juta mereka). Gue sih cuma tanya ke diri gue sendiri; kenapa gue harus sebal? Toh itu sepeda mereka; mau pamer atau nggak, yaa itu hak mereka doongg.. Jangan2 gue cuma iri dan dengki saja, nggak sanggup beli sepeda mahal? Kalaupun gue nggak suka dengerin omongan mereka, yaa..

(1) nggak usah dengerin
(2) nggak usah deket2 mereka
(3) kentut aja, hahaha..

Btw, setahu gue sih, sound system 5,000 watt zaman sekarang sih, udah biasa banget.. Biasa kan, barang elektronik makin ke sin malah makin murah.
darmasdt wrote on May 18
bagus tulisannya mas.lugas.thx.
terbanglahlbhtinggi wrote on May 18
bagus tulisannya mas.lugas.thx.
Trims.. mudah2an bisa sedikit urun sumbangsih dalam upaya membuka mata kita semua.
er51an wrote on May 18
Betul mas, aku setuju banget tuh sama pernyataan... "kenapa harus bertanya apa yang orang lain lakukan? Tanya apa yang bisa KAU lakukan untuk mereka yang menderita; dimulai dari diri sendiri "..... ndak usah kebanyakan kritik ke org lain... just look into urself and do what u can do... yah pokoke gitu deh.... ^_^
terbanglahlbhtinggi wrote on May 18
er51an said
just look into urself and do what u can do... yah pokoke gitu deh.... ^_^
Hahhaha.. seperti pernah disampaikan, bahwa Tuhan tidak akan pernah merubah nasib seseorang, bilamana orang itu sendiri tidak mau (berjuang) untuk merubahnya..

* dikutip dari Al Qur'an
foolsbanquet wrote on May 18
never heard about this gossip.
not a gossip thou.
er51an wrote on May 19
yah... dia ketawa...... HUA!!!!
foolsbanquet wrote on May 19
well, iya sih..itu hak dia untuk punya hobi yang kaya gitu..
my point is: topik yang diajarkan (ekonomi kerakyatan) sama sekali tidak tercermin dari nature doi..lah, gimana dia mau ngajarin kita kerakyatan sedangkan apa yang dia ajarkan 180 derajat berbeda sama apa yang dia lakukan? hehehe...
kalo dia mau cerita hobby nya yang wah itu sih gak masalah..cuma timingnya aja gak pas ^_~
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
er51an said
yah... dia ketawa...... HUA!!!!
Hehhehee.. maapppppppp.... Nggak maksud ngetawain sebenernya, tapi tadi lucu aja ada komentar tambahan dari elo yang berbunyi, "..yah pokoke gitu deh.... ^_^" hehehe.. (oops! kok malah ketawa lagi? :p)
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
not a gossip thou.
well, I dont know for you. But for me, it is a gossip; since I didnt find it out by myself (but from you, here and now) and talked about it behind the respective person, without him having a fair chance to give his clarification of the story from his side.

..Gossip is news about people, sometimes slanderous, spread by word of mouth. The word gossip may also refer to chat; the act of spreading news from person to person, especially rumors or private information..

Taken from Wiktionary, as of May 19, 2008 - 11.19 wib

I'm pretty tired to be a gossip target since early childhood, so I learn to respect other's privacy and dismiss all information passed to me as a gossip; unless it can be scientifically, or at least argumentatively, proven. *smilling
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
kalo dia mau cerita hobby nya yang wah itu sih gak masalah..cuma timingnya aja gak pas ^_~
in another word, it's simply a matter of perception. Your timing vs his timing. Wasnt it? :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
From an email transcript:

SA,
Sent: Monday, May 19, 2008 12:40 PM
Jadi,,,kalo naek pasnya premium di level berapa bozz ?
----------


TLT,
Sent: Monday, May 19, 2008 12:46 PM

kalo hitung2an pastinya nggak tahu, banyak variabel dan rada rumit. Tapi secara gampangnya kita liat aja bbm yang nggak pake subsidi, misalnya pertamax. Nah, harga normal premium harusnya ya segitu itu lah. Plus minus IDR 9,000 an gitu.

Yang seram malah minyak tanah; harga resmi kan IDR 2,000 (kalo belum berubah yah), tapi kalo dihitung2 minyak tanah, sbg bbm paling murni yg bisa dihasilkan dari proses penyulingan minyak mentah, harusnya dijual dengan harga IDR 17,500 sekian.. Meaning, ada tombokan alias kebocoran APBN sebesar IDR 15,500 ++ utk tiap liter minyak tanah buat masak indomie di warung2 pinggir jalan thea.

Be reminded: itung2an kasar yang gue kasih di email di bawah cuman ngitung tombokan subsidi dari premium sebesar IDR 4,500 per liter. Bayangkan kalo ditambah tombokan minyak tanah yg IDR 15,500 per liter tadi. Asyik, kan? Hehhehe
foolsbanquet wrote on May 19
hohoho..oke deh..siap pak! :)
foolsbanquet wrote on May 19
hehe..mungkin..mungkin..
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
[from email transcript]

SA, Sent: Monday, May 19, 2008 12:49 PM

Level 9000 secara politis bahaya. Political costnya terlalu besar buat pemerintah yg berkuasa. Dia akan menjadi makanan empuk buat para oposisi. Menurut gue akan bermain di level 6000-6500 for safety net.
-----------


TLT, Sent: Monday, May 19, 2008 12:56 PM

you bet! :p
they're just trying to buy time for now. Well, at least until the general election next year

presedennya sih, siapapun yang berkuasa memang nggak akan mau menaikkan bbm. Atau nggak berani? Wakakaka... Anyway, dan mereka dengan bangga menepuk dada untuk itu, diikuti koor kesetiaan bergemuruh dari para fanatikus nya yang buta segala.

Kasihan, mereka nggak sadar bahwa pemimpin yang disembah2 itu ternyata malah menggali lubang kuburan untuk mereka sendiri di masa depan. Dan bikin negeri ini makin terpuruk ke dalam kubangan hutang luar negeri (yang juga dibangga2kan bila berhasil diperoleh).. Hehhee
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
hehe..mungkin..mungkin..
apa sih yang nggak mungkin di dunia ini? *grin
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19, edited on May 19
[from email transcript]

SA
Sent: Monday, May 19, 2008 1:00 PM
Bagaimana kalo kita jadi politisi aja ? ketimbang jadi rakyat ?
---------------


TLT,
Sent: Monday, May 19, 2008 1:07 PM

Nggak ah; gue mau jadi orang kaya aja deh, hehhee. Biar nggak musti beli premium dgn rasa berdosa di dada dan nggak usah repot ngantri2, karena bisa nyuruh pembokat. Atau bisa langsung kabur ke luar negeri kalo ada apa2.. :p
er51an wrote on May 19
walah walah... klo minyak tanah segitu harganya.... berapa harga INTERNET di depan STBA yaK ???
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
JH,
Sent: Monday, May 19, 2008 1:42 PM

Makanyaa ngantornyaa jln kaki doong, kyk akuu, hehehee..=D. Mas, aku kmrn baru baca opininya kwik kian gie nih mengenai subsidi bbm ituu.. Nih aku attached, berbanding terbalik sama itung2anmu mas, gmn tuh?
-----------------


TLT,
Sent: Monday, May 19, 2008 2:01 PM

Udah tahu yg kwik kian gie kok, thanks anyway. Tapi data yang dia pake udah ketinggalan banget, dan terutama; analisisnya banyak yg ngawur. Kebetulan banget tadi pagi aku baru diskusi dg bbrp teman yg senasib. Di sini senasib tuh maksudnya prihatin ngeliat kebegoan ex menko ekuin ini, ahahah. Kemungkinan lain, beliau terpengaruh "bisikan" yang keleru dari para pembisiknya.
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
er51an said
walah walah... klo minyak tanah segitu harganya.... berapa harga INTERNET di depan STBA yaK ???
ya, itu dia beban yang musti ditanggung kita semua. Sad and devastating, isnt it?

Terutama karena udah terbiasa dininabobokan kebijakan Trilogi Pembangunan nya orde baru, yang lebih mementingkan stabilitas politik (baca: nggak mau naikin harga bbm supaya nggak rusuh) tapi ternyata malah melubangi kantung pundi2 kekayaan negara yang sejatinya buat anak cucu.

Solusinya pun dilakukan dengan gali lubang tutup lubang; mencari tambahan utang luar negeri, dan berbangga bila berhasil memperoleh keringanan, apalagi hutang baru (seperti komentar Rizal Ramli tuh di sini: http://www.qbheadlines.com/debateroom1.php)

..Rizal Ramli menilai SBY tidak berani melakukan renegosiasi dengan kreditor untuk memperoleh penundaan pembayaran utang..
terbanglahlbhtinggi wrote on May 19
[email transcript]

AI,
Sent: Monday, May 19, 2008 5:07 PM

Dear, mas TLT.
Pertama, bukannya BBM yang dipakai motor memang lebih sedikit ketimbang mobil (untuk menempuh jarak tertentu?) Tapi menurutku,,,,paling jos ya kita ramai-ramai naik angkutan umum saja....Karena nantinya, yang pakai mobil gak boleh lagi beli BBM subsidi. Yang dapat smart card kan cuma motor dan angkot. http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/19/time/152429/idnews/941692/idkanal/4

Kedua, aku masih nggak setuju kalau harga BBM dinaikkan sekarang. Kalau niatnya mengalihkan subsidi yang tidak tepat sasaran ke masyarakat yang menjadi target, harusnya subsidi tertutup (smart card misalnya) dilakukan terlebih dulu. Yang dapat subsidi hanya masyarakat yang jadi target, sementara yang tidak berhak ya tidak dapat. Jadi, saat harga BBM nanti naik, masyarakat yang jadi targetan itu sudah tertopang kebutuhan BBM-nya. Mungkin mirip program konversi--diberi dulu kompor dan tabung gasnya, baru minyak tanah subsdi ditarik (merskipun ada yg tidak berjalan lancar).

Seperti mas bilang, ada tukang gorengan, tukang parkir, tukang sampah, dan tukang2 yang lain yang gak tahu menahu soal produksi minyak, pendapatan negara atau dampak pembangunan. Mereka ini kan bisa dibilang bagian dari bangsa yang gak tau apa2 dan tidak berpengaruh soal penetapan APBN, harga BBM, harga listrik, dll. Mereka cuma bisa terima aja pemerintah mau kasih berapa. Padahal, tidak semua tukang2 ini bisa menjangkau harga BBM yang sekarang. Kalau harga BBM yang sekarang saja tidak terjangkau, apalagi kalau sudah dinaikkan? kalau biasanya cuma bisa beli minyak tanah seliter yang harganya Rp 2.500, nanti dengan uang segitu dapat apa?

Jadi, kalau mas bilang "The country is bleeding! We gotta stop it now! Raise the oil prices! Hapuskan subsidi BBM! Hentikan nina-bobo rakyat gaya orde baru dengan Trilogi Pembangunan nya yang mementingkan stabilitas politik daripada pemerataan dan pembangunan ekonomi!" ...Ini justru kontradiktif dengan pertimbangan2 yang diajukan di awal tulisan mas. Menaikkan harga BBM saat ini hanya solusi sesaat. Tapi sampai batas harga minyak berapa harga BBM yang nanti dinaikkan bisa bertahan?

Kalau subsidi BBM dihapuskan, apa trade off dari pemerintah untuk mengcover akibatnya? Seperti sudah dikatakan, BLT tidak efektif. Memberikan uang tunai secara langsung bukan hanya tidak cukup, tapi justru lebih rawan tidak tepat sasaram. Lalu solusinya apa?

Aku lebih setuju kita berhemat. Aku setuju kita selama ini sudah dimanjakan dengan harga BBM yang murah. Tapi berhemat bukan dengan mematikan. Jangan sampai joke ini kejadian: "Setelah kenaikan harga BBM nanti, konsumsi BBM, pengangguran dan kemiskinan memang akan turun. Karena bakal banyak yang menyerah dan mati,"

Aku rasa, akan lebih terhormat kalau yang tidak layak menerima subsidi tidak menggunakan yang bukan haknya. Dan biarkan yang berhak memanfaatkan haknya sehingga bisa meningkatkan taraf hidupnya. Karena kalau berani punya mobil (ukuran mewah susah juga ya), ya harus berani mengemban biaya operasionalnya dong.

NB: Pendapatku ini belum mempertimbangkan kelakuan pejabat-pejabat dan anggota DPR. Politik itu sesuatu yang absurd buatku untuk dipikirkam. Tidak kelihatan, tapi dampaknya sangat terasa.
------------------


TLT,
Sent: Monday, May 19, 2008 5:30 PM

Dear AI,
Setuju aja dengan pendapat2 mu barusan; karena itu merp langkah selanjutnya yang harus kita ambil. Atau mungkin juga bagaimana selanjutnya agar semua kekisruhan ini nggak akan terjadi lagi. Karena, siapa yang bisa ngebantah, bahwa semua "kemanjaan" ini adalah buah dari kebijakan politik masa lalu, yang sekedar mikir (keuntungan) jangka pendek, tanpa mau tahu kerugian apa yang bakal terjadi di masa depan? Singkatnya, apa yang elo sampaikan tsb merp kebijakan jangka panjang yang mungkin perlu dirumuskan lebih lanjut oleh Bappenas (daripada mereka cuma sekedar jadi tukang stempel rencana kenaikan harga bbm sebentar lagi)

Tapi tentu untuk saat ini ada tindakan jangka pendek yang perlu dilakukan; yg bersifat darurat dan mendesak. Ibaratnya ikan udah megap2 kehabisan air, kalau perlu kan kita terabas semua halangan; yang penting ikan nya selamat dulu. Baru setelah itu kita pikirkan apa mau dikembalikan ke kolam yang berlimpah ruah, atau mau dibatasi dalam akuarium. Nah, tindakan jangka pendek itu berupa pencabutan subsidi bbm, pastinya.

Lagian, kalau nggak dicabut, sementara beban subsidi dalam APBN makin membengkak, lantas uang siapa yang akan dipakai untuk membiayai semua itu? Kecuali bila kita setuju dengan pendapat Rizal Ramli baru2 ini, yang mengkritisi bhw SBY berencana mencabut subsidi bbm karena takut ngambil utang lagi. Strategi ini secara singkat bisa diartikan bahwa seandainya jadi menteri lagi, dia bakal ngutang besar2an demi bisa mbayar subsidi bbm; bodo amat siapa nanti yg bakal bayar utang. Yang penting sekarang, amannnn.... Sama aja gali lubang tutup lubang dong; malah lubangnya (baca: utang luar negeri) makin lama makin besar.

Tentu, sepakat dengan pendapat AI, kita nggak bisa maen cabut begitu aja. Ibaratnya tumor yang sudah berakar terlalu dalam, bangsa ini memang sudah terlalu dimanjakan dengan subsidi turun temurun. Jadi pada nggak paham bahwa harga seharusnya adalah berkali2 lipat daripada yang selama ini mereka bayar. Dan bahwa mereka selama ini sudah, sorry to say, merampok hak mereka yang lebih berhak (dalam bentuk subsidi bbm). Lagipula udah mau Pemilu nih; ongkos politiknya akan terlalu besar.

Karena nya perlu dipikirkan langkah kompromi; berupa kenaikan bertahap, atau sekali.. whatever. Yang penting harga baru yang ditetapkan nanti akan lebih dapat mengimbangi beban subsidi APBN. Kemungkinan perlu diambil harga median antara, misalnya, harga premium yang berlaku sekarang berbanding harga pertamax. Jumlah IDR 6,000-6,500/ liter premium rasa2nya cukup memadai; sambil memantau perkembangan harga crude oil di dunia. Bagaimana?
widino wrote on May 19
Aalisa yang baik, jadi pengen ikutan ngasih komentar neh.
Kenaikan BBM mau tidak mau harus dilakukan oleh pemerintah karena subsidi BBM sudah sangat mencekek APBN Negara. Untuk yang satu ini Presiden kita pak SBY harus mengorbankan 'pamor' dirinya di hadapan rakyat. Padahal banyak pihak yang bilang BBM jangan dinaikkan tunggu saja sampai pemilu 2009 nanti agar pamor SBY tidak menurun di mata masyarakat. Tapi sungguh tidak disangka ternyata SBY malah mengatakan ""Kalau itu yang menjadi pertimbangan, salah. Berdosa saya, berarti hanya mementingkan diri sendiri," Artinya demi hal yang satu ini beliau siap tidak populer seperti yang pernah dikatakannya pada tahun 2005 lalu.

BBM emang sangat sesitif mengingat kenaikan untuk harga BBM ini pasti diiringi dengan kenaikan harga yang lainnya dari Sembako hingga angkot.

Yang sangat banyak pihak termasuk saya opribadi sesali adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk Rumah Tangga Miskin (RTM) di Indonesia. Yang lebih memperihatinkan lagi bersaran BLT dan warga yang menerima BLT masih menggunakan data BPS tahun 2005 dan itu sama saja BASI.

Masih ingat kan tahun 2005 lalu ketika BLT disalurkan ternyata banyak sekali kecacatan yang terjadi. Dari mulai penerima BLT yang salah orang karena ada keluarga mampu yang mendapat BLT sementara keluarga miskin harus 'bengong' karena tidak menerima BLT dan namanya tidak tercatat di kartu penerima BLT yang dikeluarkan kantor pos. Sampai ada warga miskin yang harus tewas mengenaskan terinjak2 gara2 ngantri rebutan menerima BLT. Sungguh pemandangan yang memperihatinkan.

Hari gini uang 100.000 rupiah perbulan sangatlah tidak masuk akal. Berdasarkan hitung-hitungan yang saya ambil dari media kurang lebih seperti ini:

BPS (2005) menyebutkan, konsumsi beras warga Indonesia sekitar 7,05 kilogram/bulan/kapita. Jika RTM hanya makan sebanyak 1-2 kali sehari, konsumsi berasnya setara 4,7 kilogram/bulan/kapita. Katakanlah beras yang dimakan mereka berkualitas rendah seharga Rp 3.500 per kilogram, dalam sebulan seorang warga miskin harus mengeluarkan Rp 16.450.

Dengan satu istri dan dua anak, RTM paling kurang membelanjakan Rp 65.800 per bulan! Dengan demikian BLT sebesar Rp 100 ribu, hanya cukup memenuhi kebutuhan beras warga miskin selama 20 hari. Sedangkan dana beli beras untuk sepuluh hari sisanya harus ditanggung sendiri oleh RTM bersangkutan. Itu berarti semakin tinggi kualitas beras yang dimakan warga miskin, dana BLT semakin cepat habis.

Itu hanya untuk beras. Bagaimana jika ditambah kebutuhan lain? Konsumsi gula setara 1,25 kg/bulan, minyak goreng 4 kg/bulan, minyak tanah 3,4 liter/bulan/kapita atau rumah tangga sebesar 1,3 liter/hari. Hitung sendiri berapa duit yang harus dirogoh si miskin, bahkan seandainya pun konsumsi mereka hanya dua pertiga rerata nasional. Sungguh mencekik leher!

MEMANG! SUNGGUH MALANG MENJADI WARGA MISKIN DI NEGARA INI.

Tapi ya sudahlah, memang sepertinnya masalah apapun di negeri ini selalu berujung pada kerancuan.

Yang bisa saya katakan adalah marilah kita semua menghemat energi. Kalau mau kekantor daripada pake mobil yang memakan banyak BBM lebih baik pregunakan sarana angkutan umum yang ada tentunya dengan cara ini selain hemat BBM kita juga turut andil dalam mengurangi polusi udara yang menyebabkan global warming.

Sungguh senangnya saya kalau melihat ada yang mau pergi ke kantor menggunakan sepeda, karena sya juga sering ke kantor menggunakan sepeda.

Save our planet from the damage of global warming
terbanglahlbhtinggi wrote on May 20
widino said
marilah kita semua menghemat energi. Kalau mau kekantor daripada pake mobil yang memakan banyak BBM lebih baik pregunakan sarana angkutan umum yang ada tentunya dengan cara ini selain hemat BBM
Betul sekali, kenapa harus bertanya apa yang orang lain lakukan? Tanya apa yang bisa kita lakukan untuk mereka yang menderita; dimulai dari diri sendiri.

TFS.
terbanglahlbhtinggi wrote on May 20
KS
Sent: Wednesday, May 21, 2008 9:01 AM

Hi kawans,

Saya kira diskusi ini luar biasa, terasa dalam ke jantung persoalan. Saya kira apapun keputusannya, oleh siapapun keputusannya dibuat, dan scenario politik apapun dibelakangnya, fuel subsidy remains a dilema, dan dalam dilema biasanya plus and deltanya akan sangat tergantung objectives yg dipilih dan disepakati. Karena itu, setelah objectives ditetapkan, prioritas ditentukan, roadmap dibuat, ambil keputusan dan eksekusi dijalankan sebaik2nya tgermasuk metigasi dampak2 negatifnya. Yg kita saksikan adalah para tokoh2 dinegeri ini sangat sulit untuk sepakat ttg current goals, our priority, apalagi peta jalan sehingga issue subsidi bbm lebih menjadi issue politik ketimbang issue melindungi masyarakat miskin dari harga minyak dunia yg melambung, lebih dalam setting pemilu 2009 ketimbang solusi jangka panjang masalah energi nasiaonal dalam setting global.

Anyway, dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional ini sangat relevant, saya kira high credit kita sampaikan ke rekan2 yg menaruh concern tingggi atas berbagai issue bangsa ini. Sebagai penutup buat si bungsu Alih, mas Cahyo dan rekan2 seperjuangan (berjuang ngumpulin kisi2 ujian kali ya....), bersama kita bisa seperti puisi jadi2an berikut ini..

Mata2 berkaca merah putih dikibarkan
Terharu Indonesia Raya dikumandangkan
kepal diacung bangsa dilecehkan
rindu tanah air ketika jauh diperantauan
bangga sebagai anak2 negeri

Geram bergetar korupsi melelaraja
renyuh tersayat anak2 negeri terhina
tegar ternista ditengah kemiskinan
tak terisak oleh himpitan petaka
badai pasti berlalu

Jadikan perbedaan sumber kekuatan
satu jiwa dalam kebersamaan tujuan
asa digantungkan lengan disinsingkan
diufuk nusa bangsa dibangkitkan
bersama, tak ada yg kita tak bisa

Cinta hakikat kehidupan
menyemai rindu menyatukan keragaman
pintu2 rachmat dibukakan, sumber ilmu dan hikmah
sujud tersungkur menghiba suci
bangkitlah anak negeri

Ya Robbi,
Jadikanlah hari2 di muka ini penuh kebaikan
hari2 ditengah berlimpah keberuntungan
jadikanlah......,
hari2 ketika menutup mata dalam pelukan kebahagiaan
terbanglahlbhtinggi wrote on May 20
AH
Sent: Wednesday, May 21, 2008 8:36 AM

mungkin perlu diingat, pada zaman dulu BBM disubsidi karena produksi dalam negeri masih lebih besar dibandingkan konsumsi dalam negeri. perlu juga diingat, tanpa trilogi pembangunan yang meninabobokan rakyat tersebut, Indonesia mungkin masih berkutat dengan hyper inflation 650%, seperti di zaman sukarno..

ngantri minyak goreng bukan cuma sekarang, kok.. tanpa trilogi pembangunan (th 60-an-red) dulu juga orang pada ngantri.. jadi perlu ditanya, sistem atau orangnya yang salah??

gw ga anti dengan penghapusan BBM, bahkan dalam riset2 gw, bahkan selalu gw rekomendasikan energy tax, dan tax ga akan jalan tanpa penghapusan subsidi.. gw juga ga anti siapa2 dan ga pro siapa2.. hanya saja, gw pikir, sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang diberikan rizki mengeyam pendidikan, gw kira kita harus lebih wise dalam berpikir dan mengungkapkan pemikiran. jika aja kita dihadapkan pada kondisi zaman th 70-an dulu, seperti yang dihadapi mafia berkeley dulu, dan harus mengambil kebijakan dlm waktu singkat.. menurut elo kebijakan apa yang musti diambil??? ingat, bahwa pada saat itu, taruhan salah kebijakan adalah negara yang ambruk.. (lo musti tahu juga apakah sampai tahun 1997, ketika negara kita resesi, mafia berkeley masih ikut mengambil kebijakan ekonomi?? atau hanya suharto yang mengambil kebijakan sendiri??) banyak hal yang harus digali tanpa harus menyatakan si a salah atau si b benar.. ekonomi adalah social science, kebenarannya sangat relatif))

(mengutip tulisan lo) Tulisan di atas disampaikan dalam kapasitas pribadi untuk keperluan diskusi. Tulisan tersebut tidak mewakili pandangan kampus, kantor, maupun lembaga2 lain yang terkait.
-------------


TLT
Sent: Wednesday, May 21, 2008 9:02 AM

Haaa......... Akhirnya bisa memancing acie keluar sarang, hehehe.. Apa kabar, bu? :p

Isi tanggapan mu di bawah mayan defensif, ya, but it's okay. Cuman yang bikin gue kaget, kok kaya nya dikau emosi banget soal dosen2 FEUI itu.. Maksud gue, okelah, mungkin kita berbeda pandangan; dan mungkin juga tembakan gue ke mereka terlalu naif. Tapi cara mu membela Mafia Berkeley bener2 bikin gue kaget, frankly speaking. Terdengar teramat sangat geram. *terkesima

Ngomong2 soal kebijakan "crash program", sebenernya dalam diskusi lain dengan teman yang juga menanggapi isi email gue kemarin, gue juga udah menjelaskan bahwa kebijakan hapus subsidi jg sebenarnya merp "cash program"; dengan resiko di pihak lain adalah kebangkrutan negara karena kehabisan nafas mengembangkan cakupan APBN dalam upaya menutup subsidi bbm. FYI, temen gue itu sendiri menentang keras pilihan ini, dan lebih cenderung untuk mengambil pendekatan spasial. Dalam arti terlebih dahulu dilakukan pemetaan kelas masyarakat mana yg emang layak dicabut subsidinya, dan mana yang masih harus didukung negara. Meaning: more time would be needed.

Anyway, that friend of mine should be another story. Yang pengen gue tekankan di sini, sepertinya pada prinsipnya kita memegang mahzhab yang sama; yaitu bahwa negara dalam kondisi darurat, dan perlu diambil tindakan sangat segera, yang mungkin juga berpuluh tahun ke depan akan menjadi sama tidak populer nya seperti para profesor yang sangat kamu hormati itu. Bagaimana?
terbanglahlbhtinggi wrote on May 20
AI
Sent: Monday, May 19, 2008 5:57 PM

Dear mas TLT yang ganteng,

Kenaikan harga BBM (atau bahkan pencabutan subsidi BBM) memang layak, tapi hanya bagi mereka yang bukan jadi target subsidi selama ini. Seperti aku sebutkan sebelumnya, menurutku seharusnya pemerintah menerapkan subsidi tertutup terlebih dulu. Sehingga bisa memangkas subsidi bagi mereka yang tidak berhak selama ini.

Karena ternyata, 70-80% subsidi BBM kita itu salah sasaran. Lihat berita terkait: http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/12/time/150835/idnews/938014/idkanal/4

Jadi, dengan anggaran sebesar Rp 120-140 triliun untuk 2008, sekitar Rp 96-112 triliun nya salah sasaram, bo. Dengan hitungan kasar, kalau pemerintah menerapkan subsidi tertutup, artinya POTENSI PENGHEMATAN yang bisa dicapai adalah Rp 96-112 triliun. -tentu saja dengan pengawasan yang ketat--

Mending mana dibanding kalau pemerintah langsung menaikkan harga BBM sekitar 30%? Misalkan premium jadi Rp 6.000, solar jadi Rp 5.500, minyak tanah jadi Rp 2.800. Hitungan kasar lagi, misalkan subsidi yang tadinya Rp 4.500/liter berkurang jadi Rp 3.000. Potong rata untuk kuota BBM subsidi 2008 yang 35 juta KL. Artinya, subsidi yang masih HARUS dibayar Rp 105 triliun.

Ditambah, keputusan menaikan BBM bukanlah hal yang dipertimbangkan beberapa bulan kemarin saja. Tapi sudah ada sejak tahun lalu. Artinya, sebenarnya ada juga kesempatan bagi pemerintah untuk menerapkan subsidi tertutup dulu. Tapi entah kenapa, subsidi tertutup yang sudah lama didengungkan, tidak juga jalan. Ujug2, harga minyak udah kelewat meroket dan APBN katanya udah jebol.

So, kalau saja subsidi tertutup dilakukan sejak dulu, nggak perlu ada kenaikan BBM. Kenaikan BBM memang menyelamatkan APBN, tapi ada juga sebagian masyarakat yang harus diselamatkan.

Tugas pemerintah bukan sekedar menyelamatkan APBN, tapi juga rakyatnya. Karena mereka dipilih rakyat, bukan alokasi anggaran2 itu. Kalau kata kuliah Business Leadership, the real leader is a total servant.

ya, toh? Piss
-------------


RR
Sent: Wed May 21, 2008 7:20 am

Folks, diskusi yang menarik. Pastinya Saya tidak setuju dengan pendapat Alih dengan model subsidi tertutup.

Subsidi skrg sudah ibarat tumor ganas stadium 4. Setelah ’chemotherapy’ tahun 2005 lalu hanya memberikan efek penyembuhan sedikit saja (dengan rasa sakit yang berlanjut) saat ini tidak ada cara lain selain totally mengangkat tumor ganas ini sebelum menyebar lebih lanjut. Mencabut subsidi totally adalah satu satunya solusi yang terbaik yang Pemerintah harus lakukan.

Saya tidak percaya dengan yang namanya SmartCard or whatever sebagai bentuk subsidi tertutup. SmartCard is only a card; behind it is Smart People (yang jadi Bandar penyelundupan) that can outsmart the whole system and left everybody stupid. Saya tidak percaya dengan BLT yang jelas tahun 2005 juga tidak efektif. Atau pendapat, jalankan SmartCard dan BLT serta awasi bersama. Nah, yang bilang awasi bersama itu tidak lain adalah ‘oknum’ yang sudah tahu bahwa kita terkenal sebagai bangsa yang memiliki segala macam produk hukum dan policy tetapi pelaksanaan selalu memble, gagal total karena lemahnya pengawasan. Jadi, ada peluang untuk oknum-oknum (cukong penyelundup BBM) itu mengambil keuntungan dengan lemahnya pengawasan

Pencabutan subsidi adalah upaya pemerintah untuk menyelamatkan APBN dan itu harus dilakukan. APBN bleeding bagaimana ekonomi bergerak? Ekonomi negara berjalan karena belanja pemerintah bukan karena spending masyarakat (darimana masyarakat bisa spend kalo tidak dapat duit yang berasal ujung-ujungnya dari tempat bekerjanya yang hidup dari proyek pemerintah).

Yang diharapkan saat ini adalah kebersaaman dalam penderitaan. Hanya sayangnya, sense of togetherness itu tidak ada di kalangan elit. Itu yang membuat rakyat makin miris dan menderita secara moril. Rakyat sudah tidak bisa mempercayai pemimpinnya yang plintat plintut; yang cuma bisa berkoar-koar tidak akan menaikkan BBM whatever it takes, yang berkoar-koar APBN masih aman walaupun harga minyak naik karena masih punya dana cadangan, yang tidak bisa melihat perubahan yang mendasar dan terjadi di seluruh kawasan dunia bahwa there is no more cheap oil.

In my opinion, a true leader is not necessarily a total servant; instead, the one you can count on (accountable) in the good and the bad.
terbanglahlbhtinggi wrote on May 20
MN
Sent: Wednesday, May 21, 2008 9:21 AM

Yg buat harga minyak mahal apa sih? Ujung2nya kan amerika juga yg nikmatin, sebab kalau perusahaan minyaknye untung besar, yg motong pajaknya kan pemerintah US...... jadi ente skrg udah berpihak ke US nihhh udah tidak peduli kepada rakyat kecil?......

Coba bayangkan harga premium & solar 9ribu per liter.... kira2 harga beras berapa, naik jadi 9-10rb? Tentunya ada segmen yg mengurangi pembelian beras atau sudah tidak makan nasi lagi akibat kenaikan bahan pokok...... tentunya akan diikuti peningkatan angka lainnya, seperti meningkatnya angka kematian balita

Buat apa byak bangun sekolah dan rumah sakit kalau rakyat tidak bisa makan? tanpa makanan anak2 sekolah tidak dapat menyerap ilmu walaupun sekolahnya mengkilat.

trickle down effect memang impiannya soeharto atas ide2 dari org2 studi pembangunan feui yg sekolah di us, dan memang rakyat lebih makmur dan sejahtera karena Pak Harto mempercayakan ekonominya kepada tim pak Widjojo..... Coba berapa harga beras saat itu dibandingkan dengan UMR saat itu..... dan bandingkan dengan kondisi saat ini...... bukankah itu salah satu kesuksesan tim ekonomi saat itu, walaupun mereka kuliah di US..... coba bandingkan dengan adik2 kelasnya yg menguasai ekonomi saat ini yg juga kuliah di US...... Apakah bisa dibilang berhasil/sukses seperti pendahulu mereka?
-------------------


TLT
Sent: Wednesday, May 21, 2008 9:50 AM

Haaaaaaaa....akhirnya bisa memancing Mulia keluar sarang, hehee.. Apa kabar, Pak?! Hehhe

Btw, ada apa sih dengan anak2 FEUI, kok dari kemarin banyak banget yg nggak terima gara2 gue mengkritisi Prof2 mereka yang didewa2kan, yang tergabung dalam Mafia Berkeley? Ini bukan soal orang atau lembaga, bos! Right is right, and wrong is wrong. [inti jawaban selanjutnya persis sama dengan jawaban gue buat yg lain; yaitu bahwa perlu ada tindakan darurat demi menyelamatkan APBN yang sudah bleeding habis2an]

PS:
Persh minyak dari Timbuktoo sekalipun bayar pajak nya ke negeri ini, BUKAN ke negara masing2. Plis deh. Hhehe..

PS.PS.
Tuduhan berpihak ke US sepertinya terlalu berat nih. Bisa nggak bos, kalo diskusi kita fokus ke topiknya aja, dan nggak sambil nyerang pribadi orang? Di lain pihak, anggap saja perbedaan cara itu hanyalah hak masing2 untuk berpendapat, dan tidak berpengaruh pada tujuan yang ingin dicapai (i.e. kemahslatan bangsa). Anggap aja kita sama2 pengen ngantor; tapi elo naik mobil, gue pake motor. Apa karena gue pake motor, lantas gue pro US? Sepertinya nggak deh. Hhehee..
belissita wrote on May 20
gue berharap ada subsidi buat beli sepeda lipet. nabung buat beli sepeda ga nyampe nyampe nih.. uhuhuhuhuhu
langithijaubiru wrote on May 20
Solusinya pun dilakukan dengan gali lubang tutup lubang; mencari tambahan utang luar negeri, dan berbangga bila berhasil memperoleh keringanan, apalagi hutang baru (seperti komentar Rizal Ramli tuh di sini: http://www.qbheadlines.com/debateroom1.php)

..Rizal Ramli menilai SBY tidak berani melakukan renegosiasi dengan kreditor untuk memperoleh penundaan pembayaran utang..

memang ada masalah apa kalo cuma debt rescheduling/restructuring? itu kan cuma ngejadwal kembali utang-utang yang harus dibayar dan tidak menutup pula kemungkinan penghapusan sebagian bunga...jadi bukan nambah utang baru...Rizal Ramli gak sedungu itu kali menyarankan pemerintah untuk ngambil utang baru... :D
terbanglahlbhtinggi wrote on May 20
gue berharap ada subsidi buat beli sepeda lipet. nabung buat beli sepeda ga nyampe nyampe nih.. uhuhuhuhuhu
Hahahha.. emang mau beli sepeda yang kaya apa? Kalo mau gampang; ke carefour, hypermart, ace hardware, etc, aja. Biasanya mereka majang sepeda2 siap pakai dari merek2 yg udah ngetop kaya Polygon, United, etc. Kisaran harganya sih (buat dewasa) antara 500rb sampai 5 jutaan. Tapi kalo cuman buat jalan2 dalam kota mah, pake jenis apapun bisa kooo.. Yang penting enak dipake dan juga enak di dompet! :p
terbanglahlbhtinggi wrote on May 20
..jadi bukan nambah utang baru...Rizal Ramli gak sedungu itu kali menyarankan pemerintah untuk ngambil utang baru...
Barusan tadi bbrp teman emosi banget kirim email ke gue, nggak terima kalo para profesor nya yang tergabung dalam Mafia Berkeley dikritisi pada artikel gue di atas. Ehh.., sekarang malah ada lagi yg sibuk ngebela Rizal Ramli. Haduhh.. biyung..biyung.. Kenapa sih bukannya ngebahas topik diskusi malah pada defensif ngebelain jagoannya masing? Hhehe

Spt yang udah gue tulis di atas, terlepas dari siapapun Presiden nya maupun partainya, faktanya subsidi bbm telah menggerogoti APBN kita habis2an. Dan kita perlu langkah segera untuk menghentikan kebocoran tsb, dan mengalihkannya kepada mereka yang (lebih) berhak. Sekarang juga!

Entah ya, apakah Rizal Ramli dungu atau tidak; I've never said that -- YOU DID.
* grin
terbanglahlbhtinggi wrote on May 20
T
Sent: Wednesday, May 21, 2008 10:33 AM
simplenya. Negara produsen lain (arab) justru malah semakin makmur dengan kenaikan minyak dunia. Apapun alasanya dgn di indo, gue gak bisa terima kalo dibilang indo gak mampu atau beda, hehe. Kalo ada sesuatu yang kurang di indo dibandingkan arab, mbok yaa dipenuhin kekurangannya itu lhaa....
------------------------


TLT
Sent: Wednesday, May 21, 2008 10:41 AM
agak sulit ya, secara kekurangan nya adalah produksi minyak Indonesia cuman sepersekiannya Arab (Saudi?) sementara kalo kita ngebaca sejarah perminyakan dunia, atau minimal nonton film "the Kingdom (2008)", kita akan tahu apa dasar kejayaan Arab Saudi ...atau lebih tepat; "siapa"
*wink2!:p
terbanglahlbhtinggi wrote on May 21
RS
Sent: Wednesday, May 21, 2008 11:16 AM

Jawaban simple-nya (B, J, tolong koreksi kalau gue salah):

(1) Hampir semua refinery di Indonesia yang dimiliki oleh Pertamina (Cilacap, Balongan, Balikpapan, Plaju) didesain untuk mengolah minyak mentah arab yang kadar H2S tinggi dan termasuk tipe heavy/sour bukan light/sweet crude. Kenapa didesain seperti ini... well... musti dijawab sama yg pernah ikutan mendesain.... :D
(2) Minyak Indonesia termasuk tipe sweet/light crude, yang harganya lebih tinggi di pasaran dunia dan kebanyakan dipakai sebagai bahan baku petrokimia (produk akhir a.l. plastik).
(3) Industri hilir petrokimia yang menggunakan basis crude oil tidak banyak berkembang di Indonesia (cuma ada Pertamina dan Chandra Asri; TPPI masih jalan setengah2) jadi nilai tambahnya kecil banget banget...

So masalahnya memang kompleks:

(1) produksi minyak bumi Indo makin turun karena faktor cadangan yang emang sudah menipis ( tinggal 18 tahun lagi loh! ) plus investasi di sektor hulu yang lambat (contoh: komersialisasi blok Cepu)
(2) kapasitas refinery Indo tidak bertambah signifikan dalam 10 tahun terakhir , total hanya sekitar 1 juta barrel per hari (itupun kapasitas TERPASANG, bukan tingkat produksi); penambahan kapasitas lewat proyek baru jalannya lambat karena nilai investasi yang SANGAT besar (contoh: project refinery Elnusa/Pertamina di Banten dengan Iran --> kebetulan gue pernah bikin assessmentnya karena Medco juga ditawarin untuk gabung; total investasi bisa sekitar US$ 7 billion! Jadi bukan cuma Rp 2 T yah Za... kalo elo mo liat economic analysis nya gue punya full kok...)
(3) jenis minyak bumi yang diolah di refinery yang ada sudah berubah karakteristiknya sehingga mempengaruhi tingkat efisiensi produksi dan perlu investasi tambahan untuk penyesuaian

(4) akhir kata: INDONESIA MEMANG TIDAK SEMAKMUR JARGON YANG BERKEMBANG DI MASYARAKAT SOAL KETERSEDIAAN MINYAK DAN GAS!

Di luar itu ada juga masalah politik: distribusi produk minyak impor di Indonesia sebenarnya ”dikendalikan” dari Singapur lewat MOPS yang notabene permainan broker dan strorage owner di Sing.

Bisa saja rantai ini diputus dengan mengimpor langsung dari Middle East (sudah pasti harga lebih murah dan lebih mudah dikontrol). Sebenarnya Pertamina punya kapasitas untuk melakukan itu... sayangnya kita tahu sama tahu bisnis distribusi ini juga banyak tangannya... dan ujung2nya ke sekelompok orang lagi.

Kalau menurut gue, BBM tetap harus naik karena memang:
(1) disparity antara harga domestik dengan harga pasar dunia sudah terlalu besar --> bikin penyelundupan tambah marak;
(2) masyarakat Indonesia, terutama perkotaan, cenderung boros energi (mungkin karena sudah terbuai dengan jargon2 di atas) dan kurang mengembangkan energi mandiri terutama di desa2 yang sebenarnya bisa (gue dulu pernah bikin model untuk ini)
(3) TAPI dampaknya ke ekonomi industri (dan ujungnya ke inflasi) harusnya diimbangi sama efisiensi dan eliminasi biaya SILUMAN yang jauh lebih besar dari biaya Energi. Ini yang belum keliatan....

Nah beban ke masyarakat, kalau menurut gue, lebih besar dari biaya SILUMAN itu.... emang sih gak kerasa langsung tapi sebenarnya udah gak ketulungan...

Btw, soal arab itu, mereka pintar, karena mereka juga ngembangin sisi hilir dari pengolahan crude oil... jadi dapetnya doble... dari kenaikan harga minyak plus kenaikan harga produk turunannya... lha kalau Indonesia?
---------------------


TLT
Sent: Wednesday, May 21, 2008 11:23 AM
wah, gila! So far tanggapan paling lengkap dari segi teknis-bisnis yang udah gue terima. Kamsiaaaaaaaa..... Mayan dapat ilmu baru, hehe.
langithijaubiru wrote on May 21

Entah ya, apakah Rizal Ramli dungu atau tidak; I've never said that -- YOU DID.
ahahaha..bukankah itu adalah suatu cara yang implisit untuk mengatakan bahwa orang2 yg menganggap atau setidak-tidaknya menyimpulkan bahwa debt rescheduling/restructuring = penambahan utang baru adalah orang yang dungu....

sama saja menyesatkan orang banyak menyimpulkan bahwa penundaan utang berarti menambah utang baru...begitu... :))
terbanglahlbhtinggi wrote on May 21
sama saja menyesatkan orang banyak menyimpulkan bahwa penundaan utang berarti menambah utang baru...begitu... :))
ya terserahlahh...

Mau nambah ngutang kek, mau molor2 nggak bayar utang kek (bahasa keren nya: debt restructuring, yikes!) tetap aja judulnya mengalihkan beban dan tanggung jawab kita (atau mereka yang tandatangan utang2an itu) kepada generasi yang akan datang.

Itu namanya bukan menghadapi, apalagi menyelesaikan, masalah; tapi cuma memasang bom waktu. Yang daya hancurnya malah akan berlipat ganda. Lihat analogi tumor atau ikan yang digunakan pada bbrp reply di bawah. FYI, banyak teman yg ngasih reply bagus2 di bawah, atau bahkan yg intriguing, ketahuan elo pasti belum baca! Dan cuma pake penilaian "pokoknya" :p.

Bukan soal labelisasi cerdas atau dungu, cuma nggak habis pikir aja; punya banyak utang kok malah bangga, dianggap prestasi pula! Jadi keliatan dong, siapa yang menyesatkan siapa? *geleng2 kepala

Dan TOLONG.. tolong banget; diskusi ttg masalah, bukan menyerang pribadi orang. Kita sama2 orang sekolahan, bukan preman pasar yang biasa maen ancam begitu nggak bisa ngejawab, kan? *mengedipkan mata
anomk wrote on May 21
sama sekali tidak tercermin dari nature doi..
orang tua.. mau menikmati hidup.. masa nggak boleh? masa mentang2 ngajar ekonomi kerakyatan, terus harus miskin spt rakyatnya? dan menilai ajaran seseorang dari tindakannya itu adalah paradigma ordebaru..

ajaran mah ajaran.. tindakan mah tindakan..
gimana kita bisa percaya apa kata pastor ttg pernikahan, bila ia sendiri tak pernah menikah?!
terbanglahlbhtinggi wrote on May 21
anomk said
gimana kita bisa percaya apa kata pastor ttg pernikahan, bila ia sendiri tak pernah menikah?!
wow, analogi ke pastor itu keras juga ya. But I got your point there.

Anyway, setuju soal Prof Edi. Apa iya Prof Edi nggak boleh menikmati hidup nya sendiri? Sepanjang itu bukan duit korupsi kan? Hehe.. Dan, ya, gue sih ngerasa itu bukan kesombongan, tapi lebih ke arah "excitement" tentang hobi yang dia punya. Kalau ternyata piano nya petrof, yaa itu kebetulan aja.

Justru dengan dia ngajak