Ndilalah, si bos tahu2 maen ke meja gue dan mbaca guntingan Kompas yang lagi tergeletak di samping laptop gue; soal perlu-tidak nya Pre-Marital Medical Check Up (PM-MCU). Dia terkesima, dan lantas bertaburanlah "nasihat pernikahan" dari nya hueheh. Singkat kata, ada beberapa poin kontra yang beliau sampaikan, dengan itikad baik tentunya, yaitu;- tes semacam ini dipandang sebagai upaya menelanjangi riwayat kesehatan keluarga calon besan dan anak cucu nya. Penistaan, yang dapat berujung pada pembatalan acara.
- bila hasil tes pasangannya jelek, orang Indonesia cenderung tidak bisa menerima; dan akan berakibat pada goyahnya ikatan, atau bahkan batal/berakhirnya nya pernikahan. Pertanyaan: tes kesehatan sebagai upaya tindakan preventif dini, ataukah sebagai Judgment Day? Atau bahkan sekedar excuse untuk berpaling pada cinta yang lain?
- atau bila ternyata diketahui bahwa sang perempuan sudah nggak perawan, walau mungkin ternyata akibat jatuh dari sepeda atau semacamnya, akan menyebabkan timbulnya kecurigaan sang pria. Atau minimal rasa tidak enak. Pertanyaan: seberapa jauh pria menghargai keperawanan? Sebelum kita memulai debat klasik ttg topik ini, mari kita samakan dahulu definisi keperawanan tsb, 'kay?
- pertanyaan yang paling utama; soal kesuburan. Jangan2 hasil tes menyatakan bahwa salah satu pasangan nggak subur, dan pasangannya (yang kepengen punya anak) nggak bisa terima. Pertanyaan: apakah menikah HANYA untuk memperoleh anak? Begitu sadar bahwa pasangan bukan marmut, atau sekedar nggak bisa punya anak lelaki, lantas dicampakkan begitu saja?
Terhadap semua pertanyaan nya, gue hanya tersenyum2 saja. RALAT: bukan pertanyaan beliau semata, melainkan apa yang sudah diakui sebagai kebenaran mayoritas. Tetapi gue (dan pacar) sudah membicarakan ini jauh2 hari, bersama sepakat atas nya, dan bahkan sudah sempat sibuk mencocokkan jadwal (DAN budget! Ouch!). Yang ternyata nggak dapat2 sampe mepet banget menjelang acara kaya gini. Terakhir ngomongin, tampak nya kami akan memanfaatkan waktu libur Lebaran yang tersisa beberapa hari ke depan. Walau masih belum yakin tes apa aja yang akan kami ambil -- terutama karena tes lengkap utk perempuan rata2 IDR 1,4 juta. Untuk itu, kami berencana akan konsultasi dulu ke dokter. Halo, Dokter Boyke! Hihihi..Tapi mengapa kami berdua begitu keukeuh kepengen melakukan hal ini? Pun tentangan bukan hanya dari si bos aja, tapi udah ada beberapa orang. Tentu kami punya beberapa argumentasi, antara lain: - Well, rupanya kami berdua, ndilalah, sedari awal (baca: sejak kecil!) udah bercita2 bahwa masing2 dari kami akan melakukan hal ini, dan akan mengajak pasangan kami nantinya utk ikutan cek juga.
- Itung2 sebagai persiapan mbersih2 diri (dan jiwa) menjelang acara.. anggap aja bagian dari upacara "siraman" gaya modern dan ilmiah, wakakaka.. Jangan sampe nanti ada penyakit apa gitu yang nggak ketahuan; trus bikin kita pengsan di lokasi. Kan nggak lucu tuh. I mean, mubazir ntar makanannyaa.. (lirik si pacar yg High Maintenance dalam hal makanan, hihihi)
- Yang terutama, karena Pre-Marital MCU emang perlu banget, tauuukkk...!! Bukannya utk mem-vonis satu sama lain, apalagi sampe ngebatalin janji yang kadung terucap. Tapi justru lebih sebagai langkah preventif. Jadi semisal ada sesuatu yang salah, justru bisa langsung dilakukan tindakan seperlunya.
- Terutama terkait dengan niat kami untuk menunda (dg beberapa alasan). Jangan sampe pasangan, atau bahkan anak, nantinya malah ketularan penyakit macam2, ta iye?
Oke, terlepas dari setuju mau tes atau enggak, emang apa aja sih, cakupan pemeriksaannya? Kalau baca artikel Kompas yang menyertai foto terlampir, pemeriksaan tsb dapat meliputi (buat para dokter, please share us your scientific explanation):- hematologi dan analisis hemoglobin (utk darah)
- urine lengkap (fungsi ginjal/ saluran kemih)
- golongan darah & rhesus (utk calon janin)
- gula darah (diabetes mellitus)
- HbsAG (peradangan hati)
- TORC (toksoplasma -- khusus perempuan)
- VDLR/RPR (siphyllis)
- sperma (khusus lelaki, pastinyaa)
- tes HIV --> yaiayy! :p
- etc
Salah satu yang bikin mahal tuh, justru yang paling penting buat perempuan; pemeriksaan toksoplasma. Gue udah cek beberapa tempat; kalo misalnya ini dibuang, rata2 harga MCU bisa dapat di rentang 300-600 ribu perak saja. Begitu tambah tokso, langsung deh melonjak sampe hampir 1,5 juta. Dudududuwww.. Tapi masa sih elo sanggup beli HP smartphone atau bahkan Blackberry, tapi nggak punya rasa tanggung jawab untuk (calon) suami/istri, atau bahkan bakal bayi elo sendiri? Kawin bukan akhir perjuangan, kawan! Bukan saran pelampiasan nafsu syahwat semata, tanpa peduli pada manusia lain yang akan berbagi tempat tidur dengan mu. Jadi, jangan lupa Pre Marital Medical Check Up!Ehm, kalo ada yg bisa kasih info soal lokasi dan harga, syukur2 nawarin diskon (heuhe); monggo banget lhoo.. Jumat, 26 Sep 2008Jakarta 12780 - 15.46 wib Photo as published by Kompas  | a3ku wrote on Sep 30, '08 I think its quite common now to ask our partner to do Pre Marital Medical Check Up, Its good for both of us. Jadi mas, klo udh dapet info, tolong di share lagi ya...sukur2 klo yg ada diskon itu ;) makasih sebelumnya |
| gue senenggggg banget sama pasangan moderen macam kalian... ;)) gue juga punya niat untuk melakukan hal yang sama nantinya... semata-mata bukan judgment day... kan di awal pacaran udah terbuka satu sama lain dulu... hihihih..
doakan saya dapat pasangan yang juga moderen ya, hahahha |
 | I think that PM-MCU is a must nowadays. It's just about prevention and being prepared. Most of my friends and relatives did it too before their wedding days.
And I also think the same about pre-nuptial agreement too. |
 | ahemmm pertanyaan saya gak ada hubungannnya sama isi postingan.. simple saja dan hanya satu kalimat..
jadi kapann? *bikin penasaran ajaa nehh! |
 | nien wrote on Sep 30, '08 wah iya, gue juga setuju dengan cek pre-marital ini. bukan buat alasan jadi penggoyah keputusan kawin/enggak, tapi buat precatious action kalo memang ada sesuatu yang harus ditindak-lanjuti, apalagi kalau sudah menyangkut anak. Karena toh biar belagak tutup mata, kalau memang ada 'penyakit', masalah itu tetep stay bahkan setelah nikah. And then what?
Kenapa enggak memulai sesuatu yang besar dengan sesuatu yang fresh juga? :) |
 | omg... wow wow wow... you are very thoughtful indeed :D |
 | iyaaaa, it worth the money and the trouble (buat diambil darahnya buat yg ga suka jarum suntik ) kalo di Pr*dia emang 1,4 ya thn lalu, tp kl di Pr*mita 1,1jt lumayan kan bedanya... |
 | aih yang di Pramita aing tau yang Bandung doang, mahap yeah. kalo dikau ambil hasil lab selain hari sabtu, setauku ada dokter spesialis yang jaga. Gitu siy. Sama aja kan kayak prodia? tapi dulu aku juga bawa hasilnya ke ginekolog-ku siy (kesannya keren ya punya ginekolog sendiri, bukan, maksudnya ginekolog rekomendasi yang daku punya gituh) |
| |