Maksud hati menonton Teater Gandrik dengan Sidang Susila nya yang juga bakal menampilkan Butet dan Ayu, terpaksa gagal total. Karena di luar dugaan, serbuan antusiasme nyaris melantakkan tempat penjualan tiket. Yang, dengan absurditas arogannya, mengumumkan bahwa pada 2 (dua) jam sebelum pertunjukkan dimulai, hanya tersisa 40 (empat puluh) buah tiket. Itupun musti duduk di tangga – apapula artinya itu – dan harus rela duduk berdua2. Selamat menikmati, untuk kalian yang datang bertiga!
Dengan mudah saya memperoleh 2 (dua) tiket; jumlah maksimal yang bisa dibeli oleh 1 (satu) orang pengantri. Tetapi bahkan sebelum saya sempat memutar kembali ke antrian paling belakang, ke-40 sisa tiket tersebut telah ludes terjual. Persis kaya' pisang goreng di musim hujan yang mengigit. Walau harus diingat rupanya di negeri ini mobil mewah juga sama laku nya kaya' gorengan, sedangkan minyak goreng curah berharga selangit memilih untuk malu2 muncul di pasar2 becek.
Sementara ke-3 angels jelita yang dinanti masih dalam perjalanan entah di mana itu menggantungkan nasib perolehan tiket malam ini kepada saya, menjadikannya tidak mungkin untuk enak2 duduk berpangku tangan merutuki nasib. Dan jadilah saya seorang calo dadakan (hey, rupanya bukan hanya ujian masuk universitas yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi calo, heuhehe); amatiran, dan dengan tanpa niat mencari keuntungan, kecuali 2 (dua) lembar tiket lainnya. Syukur2 bisa segaris dengan tiket2 yang telah saya punya, kalau mungkin jangan pula terlalu mahal.
Tapi hingga mereka, akhirnya, tiba dengan selamat di hadapan; bahkan harapan tiket tambahan hanya lah tinggal sebuah seruan utopis tak bermakna. Maka segera praktek per-calo-an dijalankan kembali, kini dengan membalik peran menjadi penjual. Dan dalam hitungan detik, semuanya selesai. Rupanya saya menyimpan bakat terpendam. Dan sepertinya, menarik juga bila calo-isme ini dijadikan profesi full time. Buat jualan minyak bersubsidi ke negeri jiran, misalnya. Atau ngasih nama calon Gubernur Bank Indonesia, mungkin? *grin
Kaki pun melangkah ke gedung sebelah, sebuah gedung teater ultra modern yang terkesan mewah dan hingga saat itu saya kira masih sebuah proses konstruksi. Sebuah atraksi yang tak kalah menariknya, walau jelas2 kurang promosi, telah menanti. Molotov Cocktail, dengan lampiran selembar gazette yang menunjukkan ketidakmengertian fatal atas arti yang dituju. Sebuah frasa yang terintegrasi sebagai sebuah kata benda bernama yang terabadikan dalam insiden musim semi Praha yang berdarah, dengan sembrono diterjemahkan menjadi 2 (dua) hal yang berbeda. Untuk lantas diproklamasikan sebagai sebuah kelahiran idiom baru. Dan mereka bangga karenanya.
Pertunjukan tersebut bagi saya lebih merupakan sebuah penjelajahan atas bunyi, gerak, bentuk, dan warna. Adapun tentang isinya, sejujurnya tidak sepenuhnya dapat saya mengerti. Dan ini cukup menyedihkan mengingat ke-3 angels di sekitar saya berhasil sepenuhnya larut dalam suasana, dan dapat mengaksentuasikan kekaguman mereka secara niscaya. Sementara saya tertinggal dalam upaya untuk sekedar menebak maupun memaksa otak yang lelah sehabis kuliah sehari penuh. Setelah sesaat menjadi bosan dengan kegagalan sinkronisasi pendengaran dengan otak maupun hati, lantas memilih untuk mencoba mengoptimalkan indera penglihatan melalui rekam rana jendela jiwa. Semoga dapat menggambarkan kenikmatan bertamasya malam itu.
Satu hal yang cukup mengejutkan; aksi gitar Toto Tewel yang fantastik ternyata dilokalisasikan di sudut kanan panggung. Artinya, sebuah diskriminasi terang2an atas pilihan tempat duduk kami, di balkon sebelah kanan. Mengapa pula mereka menjual tiket pada bagian ini, bila mereka ingin melakukan setting pertunjukan seperti itu? Pada saat ini tiada lain kecuali bergantung pada kemampuan lensa Canon dengan Live View feature nya.
Selepas acara, jangan lupa mencoba nasi goreng pinggir jalan di depan gerbang TIM. Tapi awas, kesabaran Anda akan diuji menghadapi serbuan gerombolan pengamen dari berbagai tingkat kualitas, frekuensi kemunculan, maupun gaya pemaksaan. :p
Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Sabtu, 23 Feb 2008 – 22.15 wib
Lho, masa ikutan antri, Pak? 2 Comments
the great brand new art performance building
Mistisisme eksploitasivitasi
Perkumpulan Selimut 03 1 Comment
Perkumpulan Selimut 04 4 Comments
Tamasya visual & bunyi 01
Tamasya visual & bunyi 02
Ekspresi sang Amien 01 2 Comments
|
 | A ha! Akhirnya di-posting! Thanks for the better ones, Mas. I'll grab some of them, ya? |
 | Mas, cobain makan nasi bebek yg lbh banyak nasinya drpd bebeknya deh di dpn situ. lumayan enak utk ukuran harga amat sangat murah :p. trus mpek2nya juga enak. model mpek2 dpn SD gitu, 5000 bisa buat makan berdua *serius*. es buahnya juga enak yg disitu. ah, banyak makanan enak2 disitu emang... T_T *menangis terharu* |
 | molotov cocktail ini drama teatrikal juga? abstrak sekali ya sepertinya.. tapi ada live performance iwan falsnya juga ya? klo ngeliat rentetan foto2nya, sepertinya membingungkan..^_^ |
 | wah, akhirnya diposting, mas. bagus-bagus deh fotonya. btw, judulnya kurang lengkap: tamsil tubuh terbelah, hehe. :) |
 | wah... para penikmat teater dan sastra.. hehehe |
 | foto-fotonya bagus-bagus, mas. :) |
 | gaya menulisnya essay banget! lebih dahsyat ketimbang foto-foto teaterikalnya. keren abis! |
 | keren banget....asliii.... |
 | artistik banget...kerennn..... |
| |