Terbanglah Lebih Tinggi

Rekam Rana, Jendela Jiwa

Photo AlbumTubuh TerbelahMar 16, '08 2:24 PM
for everyone

Maksud hati menonton Teater Gandrik dengan Sidang Susila nya yang juga bakal menampilkan Butet dan Ayu, terpaksa gagal total. Karena di luar dugaan, serbuan antusiasme nyaris melantakkan tempat penjualan tiket. Yang, dengan absurditas arogannya, mengumumkan bahwa pada 2 (dua) jam sebelum pertunjukkan dimulai, hanya tersisa 40 (empat puluh) buah tiket. Itupun musti duduk di tangga – apapula artinya itu – dan harus rela duduk berdua2. Selamat menikmati, untuk kalian yang datang bertiga!

Dengan mudah saya memperoleh 2 (dua) tiket; jumlah maksimal yang bisa dibeli oleh 1 (satu) orang pengantri. Tetapi bahkan sebelum saya sempat memutar kembali ke antrian paling belakang, ke-40 sisa tiket tersebut telah ludes terjual. Persis kaya' pisang goreng di musim hujan yang mengigit. Walau harus diingat rupanya di negeri ini mobil mewah juga sama laku nya kaya' gorengan, sedangkan minyak goreng curah berharga selangit memilih untuk malu2 muncul di pasar2 becek.

Sementara ke-3 angels jelita yang dinanti masih dalam perjalanan entah di mana itu menggantungkan nasib perolehan tiket malam ini kepada saya, menjadikannya tidak mungkin untuk enak2 duduk berpangku tangan merutuki nasib. Dan jadilah saya seorang calo dadakan (hey, rupanya bukan hanya ujian masuk universitas yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi calo, heuhehe); amatiran, dan dengan tanpa niat mencari keuntungan, kecuali 2 (dua) lembar tiket lainnya. Syukur2 bisa segaris dengan tiket2 yang telah saya punya, kalau mungkin jangan pula terlalu mahal.

Tapi hingga mereka, akhirnya, tiba dengan selamat di hadapan; bahkan harapan tiket tambahan hanya lah tinggal sebuah seruan utopis tak bermakna. Maka segera praktek per-calo-an dijalankan kembali, kini dengan membalik peran menjadi penjual. Dan dalam hitungan detik, semuanya selesai. Rupanya saya menyimpan bakat terpendam. Dan sepertinya, menarik juga bila calo-isme ini dijadikan profesi full time. Buat jualan minyak bersubsidi ke negeri jiran, misalnya. Atau ngasih nama calon Gubernur Bank Indonesia, mungkin? *grin

Kaki pun melangkah ke gedung sebelah, sebuah gedung teater ultra modern yang terkesan mewah dan hingga saat itu saya kira masih sebuah proses konstruksi. Sebuah atraksi yang tak kalah menariknya, walau jelas2 kurang promosi, telah menanti. Molotov Cocktail, dengan lampiran selembar gazette yang menunjukkan ketidakmengertian fatal atas arti yang dituju. Sebuah frasa yang terintegrasi sebagai sebuah kata benda bernama yang terabadikan dalam insiden musim semi Praha yang berdarah, dengan sembrono diterjemahkan menjadi 2 (dua) hal yang berbeda. Untuk lantas diproklamasikan sebagai sebuah kelahiran idiom baru. Dan mereka bangga karenanya.

Pertunjukan tersebut bagi saya lebih merupakan sebuah penjelajahan atas bunyi, gerak, bentuk, dan warna. Adapun tentang isinya, sejujurnya tidak sepenuhnya dapat saya mengerti. Dan ini cukup menyedihkan mengingat ke-3 angels di sekitar saya berhasil sepenuhnya larut dalam suasana, dan dapat mengaksentuasikan kekaguman mereka secara niscaya. Sementara saya tertinggal dalam upaya untuk sekedar menebak maupun memaksa otak yang lelah sehabis kuliah sehari penuh. Setelah sesaat menjadi bosan dengan kegagalan sinkronisasi pendengaran dengan otak maupun hati, lantas memilih untuk mencoba mengoptimalkan indera penglihatan melalui rekam rana jendela jiwa. Semoga dapat menggambarkan kenikmatan bertamasya malam itu.

Satu hal yang cukup mengejutkan; aksi gitar Toto Tewel yang fantastik ternyata dilokalisasikan di sudut kanan panggung. Artinya, sebuah diskriminasi terang2an atas pilihan tempat duduk kami, di balkon sebelah kanan. Mengapa pula mereka menjual tiket pada bagian ini, bila mereka ingin melakukan setting pertunjukan seperti itu? Pada saat ini tiada lain kecuali bergantung pada kemampuan lensa Canon dengan Live View feature nya.

Selepas acara, jangan lupa mencoba nasi goreng pinggir jalan di depan gerbang TIM. Tapi awas, kesabaran Anda akan diuji menghadapi serbuan gerombolan pengamen dari berbagai tingkat kualitas, frekuensi kemunculan, maupun gaya pemaksaan. :p


Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta
Sabtu, 23 Feb 2008 – 22.15 wib


the Angels of the night
  
eh, ada si mbak..
  
Lho, masa ikutan antri, Pak?
 2 Comments 
the great brand new art performance building
  
Mistisisme eksploitasivitasi
  
Oppie, pangling euy!
  
Manhattan story 01
  
Manhattan story 02
  
Perkumpulan Selimut 01
  
Perkumpulan Selimut 02
  
Perkumpulan Selimut 03
 1 Comment 
Perkumpulan Selimut 04
 4 Comments 
Memang tiada dua nya
  
Rockin' you up, yeah!
  
Tamasya visual & bunyi 01
  
Tamasya visual & bunyi 02
  
Ekspresi sang Amien 01
 2 Comments 
Ekspresi sang Amien 02
  
Ekspresi sang Amien 03
  
Ekspresi sang Amien 04
  
Lukisanisasi puisi *grin
  
All casts stand up!
  


27 CommentsChronological   Reverse   Threaded
novietatourisia wrote on Mar 16
A ha!
Akhirnya di-posting!
Thanks for the better ones, Mas.
I'll grab some of them, ya?
perempuandititiknol wrote on Mar 16
Goenawan Muhammad kah?
perempuandititiknol wrote on Mar 16
Selepas acara, jangan lupa mencoba nasi goreng pinggir jalan di depan gerbang TIM. Tapi awas, kesabaran Anda akan diuji menghadapi serbuan gerombolan pengamen dari berbagai tingkat kualitas, frekuensi kemunculan, maupun gaya pemaksaan
emang edan tuh pengamen2..
dari yang mulai pakaian islami dan melafalkan ayat-ayat suci, sampe anak2 berpakaian punk yang sedang mabok berat.
duhhh... setiap satu sendok, satu pengamen dateng.
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
I'll grab some of them, ya?
Lho, yang bilang boleh diambil tuh, siapa? Huehehhe..
Btw, kapan lagi niihhh...
mistymind wrote on Mar 17
Mas, cobain makan nasi bebek yg lbh banyak nasinya drpd bebeknya deh di dpn situ. lumayan enak utk ukuran harga amat sangat murah :p. trus mpek2nya juga enak. model mpek2 dpn SD gitu, 5000 bisa buat makan berdua *serius*. es buahnya juga enak yg disitu. ah, banyak makanan enak2 disitu emang... T_T *menangis terharu*
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
Goenawan Muhammad kah?
the One and Only, indeed..
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
duhhh... setiap satu sendok, satu pengamen dateng.
Maksud lo; saban kali elo sukses ngembat satu sendok lagi dari persediaan ibu warung yg meleng, pasti ada satu pengamen yg masuk dan meminta sedekah? Ho-hooo.. :p
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
bisa buat makan berdua
Makan berdua; maksudnya ada ajakan traktiran nih? Huehehe... Pake terharu segala! :p

Nasi bebek yah? Itu bukannya yg berkuah hitam itu? Jadi bebek nya kaya disemur gitu, bukan digoreng? Kaya nya udah pernah nyoba sih, tapi di tempat lain (yg sbnrnya kurang cocok jadinya). Tapi oks deh, ntar aku cobain. Jejerannya nasgor2 itu kan? Thanks yaa..
foolsbanquet wrote on Mar 17
molotov cocktail ini drama teatrikal juga? abstrak sekali ya sepertinya..
tapi ada live performance iwan falsnya juga ya?
klo ngeliat rentetan foto2nya, sepertinya membingungkan..^_^
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
klo ngeliat rentetan foto2nya, sepertinya membingungkan..^_^
Yak, anda benar!
* heran, masih ada teman senasib rupanya, hihi
foolsbanquet wrote on Mar 17
heran, masih ada teman senasib rupanya, hihi
hehehehe...kalo ngeliat foto2 yang ada tarian2 'tidak biasa' dengan kostum teatrikal, pasti masih banyak kok yang senasib...
level gue juga paling2 masih sampe teater gandrik, koma, dan sejenis :D
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
level gue juga paling2 masih sampe teater gandrik, koma, dan sejenis :D
Emang aslinya mau nonton teater Gandrik di sebelahnya persis, tapi kan di atas udah dibilang kalo keabisan tiket.. :-)
rsaraswati wrote on Mar 17
wah, akhirnya diposting, mas. bagus-bagus deh fotonya. btw, judulnya kurang lengkap: tamsil tubuh terbelah, hehe. :)
darmasdt wrote on Mar 17
wah... para penikmat teater dan sastra.. hehehe
darmasdt wrote on Mar 17
foto-fotonya bagus-bagus, mas. :)
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
wah, akhirnya diposting, mas. bagus-bagus deh fotonya. btw, judulnya kurang lengkap: tamsil tubuh terbelah, hehe. :)
Hehhehe.. protesss... iya iya, nanti ta ganti :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
wah... para penikmat teater dan sastra.. hehehe
Perlu bikin klub tersendiri, barangkali? Wanna join? :p
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 17
foto-fotonya bagus-bagus, mas. :)
Kamsia.. banyak yg noise nya terlalu gede sih. Maklum cuma pake kamera kelas prosumer dan tanpa tripod. Belum lagi jarak ke panggung nya yg mayan jauh
jackoagun wrote on Mar 29
gaya menulisnya essay banget!
lebih dahsyat ketimbang foto-foto teaterikalnya.
keren abis!
jackoagun wrote on Mar 29
suka yang ini!
terbanglahlbhtinggi wrote on Mar 30
gaya menulisnya essay banget!
lebih dahsyat ketimbang foto-foto teaterikalnya.
keren abis!
Trims.. :-) Padhaal sbrnya aseli nggak ngerti apa yg disajikan di atas panggung, huehe
cameliasiagian wrote on Apr 25
Yg ini bagus...
terbanglahlbhtinggi wrote on Apr 25
Yg ini bagus...
Lainnya jelek.. *gubraks! :p
nugs13 wrote on May 12
keren banget....asliii....
nugs13 wrote on May 12
artistik banget...kerennn.....
terbanglahlbhtinggi wrote on May 12
nugs13 said
keren banget....asliii....
I strongly intended so, thanks! :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on May 12
nugs13 said
artistik banget...kerennn.....
Yaa, emang dasar nya si bang Amin ini aja yang emang udah sangat meleburkan segenap jiwa..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help