| |
Baru 2 (dua) kali ini gue nyobain Urban Kitchen; kali ini di Pacific Place. Buat yang belum tahu, sebenarnya sih UK itu “cuma” food court biasa. Tapi yang membuatnya tidak biasa adalah pilihan gerai yang tersedia, (juga tentunya) variasi makanan yang ditawarkan, atmosfir yang berbeda, kemewahan yang mengawang di udara, serta (sayangnya) price list yang juga “lebih”.
Tentu itu semua menjadi satu paket atas alternatif yang (coba) ditawarkan bukan? Paling tidak, sejauh ini mereka cukup berhasil memposisikan diri nya sebagai tujuan wisata kuliner secara sadar, dibandingkan dengan para kompetitor yang (merasa) cukup hanya sebagai “tempat” mengisi perut.
Kata temen gue yang punya PP (berasa okem banget sih!:p) yang di PP emang baru buka kira2 sebulan, dan yang bikin seru; sampe awal Mei depan ada diskon 50% buat pembayaran pake kartu kredit HSBC. Wuihh, mantabb tenann.. Ohyawh, ternyata ujung2nya gue dibayarin pula sama temen! Sering2 aja yak! :p
Pantesan, mengutip pengakuan staff2 UKPP yang berhasil gue interview; tempat mereka emang rame banget buat makan siang (sekalian untuk plirak-plirik, kata temen gue.:p), sementara kembaran mereka di Senayan City justru malah ngebludak kalo malam. Ya iyalah, target pasar nya jelas2 beda. PP, walaupun judulnya mall, tapi lebih cenderung sebagai kawasan bisnis. Sementara SC emang ketahuan tempat nongkrong dan mencari jati diri yang banyak berceceran di sana (terlepas dengan tanda kutip maupun tidak, hihi). Lagian buat teman2 yang seharian udah kerja di PP, ngapain juga sampe malam masih berkeliaran di sana? Pasti pengen refreshing ke tempat lain lah.
Di lain pihak, itu menjadi keunggulan komparatif bagi UKPP untuk menjaring orang2 udik kaya gue yang kantornya mayan jauh dari peradaban (dan bosen liat cewek2 di kantor yang bergaya dan berpakaian gaya anak kuliahan, hehe). Daripada maen ke SC yang jaraknya lebih jauh, pengunjungnya lebih penuh, plus lebih banyak yang datang untuk “melihat”; mendingan cari tempat yang rada lenggang seperti PP. Lain soal bila kau datang juga untuk “dilihat”.. *grin
Perbedaan tersebut lebih jauh dapat dilihat pada desain interior yang ada. Pada SC bernuansa lebih gelap, cozy, romantis, dan ademm. Sementara cabang di PP ini berkesan bersih, segar, high-spirited, namun tetap elegan. Meja2 di SC dibuat lebih memanjang, atau bahkan lebih memojok dengan di antaranya bertebaran sofa2 sudut yang empuk. Sementara pada PP dibuat lebih efisien, bahkan hingga terkesan memaksa. Kami sempat memperhatikan bahwa meja yang dekat jendela yang seharusnya berkapasitas 4-5 kursi, ternyata disesaki hingga 6-7 kursi.
Sebelumnya gue udah nyoba yang di SC bareng teman2 milis Selingan, ba’da nonton Horton (film kartun nggak nggeunah tentang gajah2 something gitu dehh). Ternyata katanya masih ada 1 (satu) cabang lain di Plaza Indonesia ya? Secara jarak sih, nggak segitu jauhnya dari kantor gue di Pancoran, tapi entah kenapa, kalo ke daerah situ (dan Sarinah, dan Menteng) bawaannya males aja. Jadi kemungkinan percobaan ke-3 ke PI kaya nya bisa dicoret dari daftar!
Ugh, jadi nggak sabar nungguin the Energy selesai dibangun, dan kantor gue pindah ke situ. Bisa2 kerjaannya nongkrongin PP dan Urban Kitchen nya mulu nih! *smirk
PS: Obrolan antara teman nya berlangsung seru dari beragam topik; mulai soal2 sepele sehari2, sampe kenapa Indonesia sebagai Negara produsen minyak tidak dapat meraih keuntungan atas harga minyak dunia yang sedang melonjak, dan kenapa subsidi BBM itu perlu dicabut; siapapun Presidennya. Had a nice nite, guys. Many thanks!
Bimbim bambam apa gitu; enyaakk..!! 4 Comments
Es Campur Medan..hmm 8 Comments
Scala, akhirnya nyoba juga 4 Comments
Sushi Groove, tumben enak 4 Comments
Nggak tahu, pokoknya enaakk.. 6 Comments
A bit fondue to be shared 4 Comments
jadi inget vivid interactive, :p
|
Comment deleted at the request of the author.
 | *frowning*
What is wrong with MP .. I had 2 exact replies here a second ago, delete one of 'em then both are GONE !!!
Anyway, do you mean BIBIMBAP ? the yummy healthy Korean Food. I enjoy all your photos in this album, nice composition ;o) *Successfully drooling over strawberry dipped in coco*
|
 | yang ini pasti ga ada daging merah nya :P |
 | MAUUUUUUU
pak kapan traktir saya makan sepuasnya di urban kitchen????????????? |
 | is that steak pizza? I loveed Hickory steak Pizza |
 | Awww,,, it's looked weird (for me) |
 | Saya kira adalah hak setiap orang untuk mencari jati diri atawa ke food court cuma pengen melihat lihat...
sama halnya mungkin (ini cuma probable) orang-orang yang ke SC dan PS melihat orang orang yang ke pacific place (PP) adalah orang orang yang butuh diakui sebagai executive muda
hehehehehehe.... no offense.. buat saya makan dimana saja asal menyenangkan itu sudah lebih dari cukup... btw, good photographs  pertama
Sekali lagi kita bermain dengan persepsi, memang bahasa tulisan telah terbukti sering menyesatkan diskursus antara kita berdua nih, mas gharonk? *grin. Cukup membosankan rasanya.
Bahwa mall adalah lokasi (yang dapat memancing) konsumerisme, ahh, siapa pula yang dapat membantah? Pemilik mall nya mungkin? :p
FYI (dan sekaligus sebagai disclaimer bagi rekan2 lain), pernyataan yg dipermasalahkan gharonk tsb di atas tidak pernah dimaksudkan sebagai judgement, tetapi justru diletakkan dalam kerangka dasar pemikiran mengapa fenomena tsb terjadi di SC, dan mengapa hal lainnya yang justru terjadi di PP (atau PS, atau PI, atau seantero mall2 lainnya di Jakarta). Untuk mencoba mengerti dan memahami (dalam proses konstruksi), tentu kita harus mempelajari latar belakang dan/atau penyebabnya, bukan?
Percayalah, untuk saat ini, dahulu, maupun kapanpun; pasti akan dibutuhkan (semacam) background untuk proses keberangkatan pikiran pun hasil observasi mengapa begini dan atau kenapa begitu. Bahwa itu lantas diklaim sebagai proses pelabelan, judgement, ataukah pengkotak2an -- itu hanyalah sebuah persepsi defensif atas ketidaksamaan dasar pemikiran dan/atau suatu ketidakmengertian atas pilihan sikap.
kedua Asumsi berupa persepsi pengunjung PS dan SC atas pengunjung PP cukup menarik.
(a) Tapi berhubung gue bukan anggota komunitas PS dan SC, hal ini merp hal yg baru gue dengar. Thanks for sharing.
(b) Tambahan, gue juga bukan anggota komunitas PP, jadi emang gue pikirin? Huehhee..
(c) Kalau pun mau mengkotak2an seorang TLT, maka gue adalah anggota komunitas (mall) Kelapa Gading. Jadi asumsi apa yg akan digunakan? Bahwa gue adalah seorang pengusaha Glodok, Kemayoran, dan sekitarnya? *grin
ketiga kamsia untuk pujian colongannya atas foto2 termuat. Hehehe..
|
 | looking like beef teriyaki... |
 | yang di PP siang tadi ruaaaaame banget, suamiku pesan sop buntut, satu jam saja, shasimi dan tempura ku udah abis..eh belum dateng juga..... |
 | bagusan mana yg d Senci sama PP? gue blom pernah mampir yg d PP soale, emang jarang kesana siy, mal-nya agak 'dingin' dan nggak bersahabat hehehe |
 | Fonduenya cheese or choc? |
 | akhirnya ada Es Shanghai jugaa... Sluuuuurp *nebeng yah! |
 | ah kau juga! untuk apa geleng2 kepala?
fondue-nya itu dari chocalot ya? |
 | ah kau juga! untuk apa geleng2 kepala?  Karena teringat diskursus pada posting ini: Girls, do We Really Wanna be Equal? dan analisis teman gue (yg blog nya dikutip) atas persepsi mu. *mengedipkan mata |
 | maksudnya apa? she stated her opinion, i stated mine. i appreciated what she wrote, i put down my perspective. no means to offend anyone, express my apology to your lady friend if i did offend her in any way.
you sure do like to wink a lot do you? :) |
 | maksudnya apa? she stated her opinion, i stated mine. i appreciated what she wrote, i put down my perspective. no means to offend anyone, express my apology to your lady friend if i did offend her in any way.  Tentu gue (dan dia, gue berani jamin) menghormati hak elo (dan siapapun) untuk berpendapat. Bukankah itu salah satu kegunaan blog (dan interaksi sosial lainnya)? Soal salah atau benar itu relatif pastinya. Dan terkadang ada pengaruh masalah selera, budaya, suku, agama, pengalaman, strata sosial, dsb, yang tentu tak bisa diabaikan begitu saja.
Tapi spt sudah gue jelaskan di atas pada reply-an ke salah satu komentator di postingan ini (yang ikutan elo komentarin juga -- udah baca atau belum?) ada hasil observasi yang lantas didiskusikan dan diperdebatkan. Termasuk soal pencitraan diri; gimana cara kita ingin kita dilihat orang, gimana cara orang lain ngeliat kita, dan pada akhirnya, gimana diri kita yg sebenarnya.
Tentu bukan soal salah atau benar, sekali lagi dapat ditekankan di sini. Tapi pasti ada alasan2 yang melatarbelakangi mengapa begini atau kenapa begitu. Dan dengannya lah, kita, insya Allah, dapat lebih mengerti dan memahami orang lain. Dalam kasus yg gue angkat tadi, katakanlah, analisis atau boleh dibilang pembacaan karakter tsb sudah kami lakukan, dengan merujuk pada pola2 yg terbentuk dari model penulisan, cara berkomentar, maupun reaksi yang ditampilkan.. hehehe
* sbnrnya mau ngedipin mata lagi, tapi takut ada yg protes dan ngelarang :p
|
 | haaaah jadi kapannn kapaaaann?
*siap2 ngosongin perut.. **mana pake kirim via imel segala lageh |
 | OOT neh, lu dah pernah nyoba Raclette gak?
|
 | never heard of, what was that?  Nih hasil nyolong definisi dari Wikipedia: Raclette is both a type of cheese and, informally, a dish featuring the cheese. Traditional Raclette is a semi-firm, salted cheese made from cow's milk. However, varieties exist made with white wine, pepper, herbs, or smoked. The Raclette cheese round is heated, either in front of a fire or by a special machine, then scraped onto diners' plates; the term raclette derives from the French racler, meaning "to scrape". Traditionally, it is accompanied by small firm potatoes (Bintje, Charlotte or Raclette varieties), gherkins, pickled onions, dried meats (such as prosciutto and viande des Grisons), sliced peppers, tomato, onion, mushrooms, pears, and dusted with paprika and fresh-ground black pepper. Ps. Pokoknya SERU kalo ngumpul2 sambil ngeraclette booo ! Just imagine this:
 |
|
|