| |
Kenapa Sabtu harus ngampus seharian dari jam 8 pagi sampe maghrib, sih? Kenapa jam terakhir malah dipake buat Mid-Test, euy? Dan terutama, kenapa dosen kali ini harus inspiratif dan terlalu sayang untuk dilewatkan? Serta kenapa2 lainnya, yang akhirnya membuat gue bener2 nggak tahan untuk duduk tenang saat ujian.
Mid-Test "Organization Behavior" berupa analisis jatuh-bangun nya CEO the Cocacola Company yang seharusnya berjatah 90 menit langsung gue terabas nggak nyampe sejam; bikin teman2 sekelas terperangah. Ya iyalah, secara gue inisiator "Klub Tercela" di angkatan kami, mbolosan, dan pagi nya pun terlambat ngampus 1.5 jam dengan tampang yang asli impor langsung dari tempat tidur. Heuhehe.
Sempat bingung mau nunggu di mana sampe waktu janjian yang masih sejam-an, plus sopir penjemput yang kagak bisa ditelepon; akhirnya mampir ke "Kompleks WTC" seberang Cassablanca buat ngopi2 sambil baca buku. Namanya juga nebeng. Terpaksa pasrah nunggu yang bakal nyopirin (yang ternyata ketiduran!) dan musti rela dijemput secara nyeleneh; diangkut dari halte bis depan "Le Meridien", diikuti berpuluh pasang mata yang ingin tahu. Padahal gue nyetop mobilnya nggak sambil mengayun2kan senter lho.. suer..!! Benar2 pembunuhan karakter tuhh! Tapi nggak apa2 deh; yang penting bisa duduk tenang naik mobil baru nya sang sopir. Tahu beres, pokoknya musti nyampe; secara gue gaptek daerah Selatan. Hahaha..
Lagi mau nonton acara tahunannya FEUI nih; Acoustic Across 2008, lokasinya di Upper Room. Ini tuh semacam acara lomba nge-band. Dengan peserta awal sebanyak (katanya) 75 band, pada malam final ini hanya akan ada 3 finalis yang tampil. Biar seru, diselingi dengan hiburan2 lain oleh band2 nge-top ibukota (haiyyaaa..) dan yang niscaya digandrungi kelas elit di dunia mahasiswa Indonesia; anak2 FEUI. Maksudnya "kelas elit"? Yah, paling nggak, elit buat gue dehh.. Secara gue sampe 2x nyoba ujian masuk sana, dan dua2nya gagal. Huaaa...huaaa.. *njambak2 rambut
"d’Cinnamons" emang selalu gue suka, "Maliq" juga (walau makin ke sini berasanya kok makin malu aja ngaku2 doyan Maliq, hehe); tapi yang utama adalah gue pengen tahu "Sore" -- yang setahu gue ngetop tapi sama sekali belum pernah gue dengar dan lihat wewujudan-nya seperti apa. Makanya giliran ketemu para fanatikus Sore, sempat rada minder juga; secara gue ngeblank abis sementara mereka bela2in datang dari jauh. Agak2 nggak nyambung liat militansi nya mereka; walaupun musik Sore nggak bisa dibilang 'easy listening', tapi yang jelas mereka bukan sebangsa 'Linkin Park'. Thus, what the heck are you doing, guys? Jaka Sembung bawa golok..hehe. Ohiya, salut terutama untuk pianis Sore, yang ternyata punya suara emas; sayang beliau pelit memperdengarkan suaranya.
Kembali ke kontes yang digelar; finalis yang menjadi pemenang (lupa nama band nya) emang punya penampilan yang oke. Salah satu lead vocal mereka bergaya dan punya corak suara mirip kaya Jamiroquai. Walau menjadi agak blunder saat Jamiroquai-wanna-be ini mengganti kupluk nya dengan bendera Brasil. Yo, reggae, youw!:p Apa perlu untuk acara semalam ganti baju sampe 3x? Satu2nya cacat mereka adalah ancurnya lagu pertama; diduga keras karena kelewat grogi liat massa yang membludak. Maunya motret2 mereka sih, sayang wajah2nya agak nggak, uh, photogenic, hihi..
Tahun ini sih, katanya yang datang sampe 2,000 orang, berbanding tahun lalu yang hanya 500-an penonton. Tentunya banyak yang lucu2 lahh.. Jangan2 emang jadi tujuan lain buat datang ke acara ini, heuhe. Sayangnya dandanan mayoritas mereka tampak serupa. Boleh dibilang nggak ada yang berani tampil secara independen dengan gaya masing2. Too bad. Selain itu, banyak juga yang datang dengan mini skirt plus stilletto. Aduhh.. kok malah nyusahin diri sendiri gitu yah.
Penampil terakhir adalah Maliq. Masih nggak ada matinya, euy! Selalu bisa tampil dengan warna baru, atau kadang mencuri perhatian dengan format yang berbeda. Misalnya OST film Claudia/Jasmine yang lembut, enak didengar, dan mudah disenandungkan itu. Atau ada lagu lain yang nggak gue kira produksi mereka. Dulu gue pernah pasang salah satu lagu mereka ("Heaven") buat jadi ring tone HP sekaligus nada tunggu NSP telkomsel. Tapi sekarang mah, rada2 malu juga; berhubung makin banyak yang maniak sama mereka. Kok kesannya jadi pasaran begitu. Belum lagi bosen liat gaya panggung mereka yang sebenarnya atraktif, tapi malah jadi terlalu edgy untuk diulang2 saban kali manggung. Itu lho, gerakan bungkuk2 separuh badan dengan gaya serempak.. Duhh..
Untuk jalannya acara, kerja panitia yang notabene adalah anak2 tingkat 1 dan 2 di FEUI tsb patut diacungi jempol. Walau keliatan banget banyak model panitia level setor muka yang seperti biasa nggak ikut kerja dan malah paling over-acting, dan keliatan jelas cuma ikutan biar bisa numpang nonton. Masa belum apa2 udah maen geledah aja dengan gaya nepok2 badan; padahal tehnik tepokannya aja salah total. Itupun tanpa minta izin udah maen pegang aja. Belum lagi urusan bongkar2 tas. Yang polis beneran aja langsung ngerti itu tas kamera, jadi ndak ngerasa perlu ngebongkar. Lha ini kok malah bener2 ngebuka semuanya.
Di lain pihak, ada keuntungan juga sih kami datang dengan wajah (sangat) senior dibandingkan mayoritas peserta (dan panitia). Jadi nggak ada yang berani ngusir saat dengan jumawa nya kami menduduki meja dan bangku panitia yang nggak terpakai; buat numpang makan, ahaha.. Padahal sebetulnya sih, kami siap dan rela2 aja kalau ada yang minta pergi. Masalahnya jangankan minta, bahkan panitianya aja nggak ada yang berani lewat di depan kami. Apa tampang gue segitu keliatannya pengen nabok mereka gitu ya? *grin Ah, enggak kok. Enggak salah! Hahaha..
Kejadian unik lain adalah saat kami memesan Hot Shot cheese burger buat dimakan sambil nunggu acara dimulai. Kami agak ragu dengan kecepatan pemesanan, jangan2 keburu mulai nih. Tapi ternyata beneran cepat, lho! Kekaguman yang segera menguap, begitu kami menyadari bahwa burger tsb sudah dibuat seabad lalu, dan bahkan panitia nggak ngerasa perlu buat memanaskannya dulu, melainkan langsung menyerahkannya kepada kami. Teganya!
Jadi jangan salahkan kami bila selepas acara kami lantas memutar mobil ke arah Djakarta theater, dan memamah beberapa potong Burger King yang besar tapi nggak begitu enak. Dijamin bukan lapar mata, tapi emang lapar beneran! Hehehe..
Ohyawh, ruangannya bagus sekali. Terlihat jelas dirancang khusus secara akustik dengan bahan2 terpilih dan khusus untuk ruangan sejenis. Katanya sih bisa buat acara kawinan; tapi kaya nya enggak banget deh.
Catatan tambahan lain: jumlah sponsor yang sangat membludak (senangnya kampus Jakarta, hiks) serta kualitas shooting kamera yang sangat jelek. Padahal pake kamera mahal yang (harusnya) udah bisa ngambil gambar HD. Udah posisi nge-syut nya yang ngeganggu banget buat motret2, pula.
"de"-lighted sponsors 2 Comments
the weird camera 2 Comments
d’Cinnamons, great as always
d’Cinnamons, amazing guitarist
the great vocal of Sore 6 Comments
Masih Sore, belum Malam :p
Maliq lagi, maliq lagi.. 9 Comments
Maliq zonder trumpet? Mediocre 2 Comments
the pretty various crowds,
and another one.. 4 Comments
|
 | aku suka anglenyaaaa...dan DOFnya dapet bgt. diedit lagi kah di potosop? :))
eh btw mas, itu adek2nya si supir pake acara ngomel2 gak krn supirnya telat mengantarkan ke tempat tujuan dan krn brgkt telat jalanan jadi macet? he3, deja-vu beneur kalo kejadiannya kayak gitu :DD. *kabur takut kena timpuk yg punya mobil teri* :pp |
 | sore emang canggih, sayang cuma sedikit lagunya yah |
 | yah ga jadi dateng kemaren.. padahal jumatnya berniat hadir.. |
 | ribut banget sih dijemput di halte, pake curhat colongan segala disini, ckckckck! para pembaca, tadinya dia mau inisiatif melambaikan kolor ijo loh *geleng2 kepala* dan ya, saya supir yang ketiduran itu, habis cape bener siangnya dikaryakan ke tanah abang kan..
kalo gw cuma terganggu sama jeritan abg yang amit2 suaranya memekakkan telinga, huh. eh you didnt mention the "suspected-gay-couple" yang berdiri di deket kita? hahaha
|
 | dari mana anda tahu sore tidak punya kemampuan itu?
apa anda tahu sore banyak dipengaruhi oleh guruh sukarno putra, genesis, p ramlee, bimbo, chris martin, dll yang membuat albumnya sangat kaya warna musik dan senantiasa baru? apa anda juga tahu tiap personel mereka adalah penyanyi utama, yang membuat variasi vokal ga cepat bosenin?. Apa anda juga tahu kalau warna musik album pertama (centralismo) dan album kedua (ports of lima) is completely different?
Saya kira tidak hanya sore, maliq dan lainnya yang bersentuhan dengan "pop" bakalan memiliki kecenderungan untuk bosen... bukan hanya pop mungkin hampir semua lagu ? |
 |  dari mana anda tahu sore tidak punya kemampuan itu?  Darimana? Oh, just my intuition.
Setuju soal kecenderungan bahwa semua musik (pop) punya kecenderungan untuk membosankan. Dan btw, gue bukan fanatikus Maliq lho, selain juga jelas nggak punya militansi atas Sore. Lha wong baru tahu juga. Jadi buat gue nggak masalah mana yg mau nyungsep duluan, dan mana yg mau bertahan. Kalau elo mau mendukung Sore mati2an, monggo.. Atau mau mencela Maliq juga nggak apa2. Got no problem with that.
Secara gue nggak kenal ke-2 band itu, nggak penting juga sih buat gue, hehe.. Tapi kalaupun kenal, kindly be noted, gue nggak pernah menilai seseorang (atau kelompok) berdasarkan tingkat kedekatan mereka secara pribadi dengan gue. Melainkan dengan aturan benar-salah secara universal. Intinya; kalo temen gue salah, yaa gue tegur. Kalo musuh gue benar, yaa gue bela. Pretty simple. :-)
As I said, it's just a matter of different perception and taste between the both of us. And perhaps the way we perceived things.
I'm just a (music) consumen. And I have my right to choose. Aand to spend my precious money on whom. Lagian gaji gue kan nggak segede bos gharonk yang kaya nya hidupnya makmur sekali nihh.. hehe..
PS: Kalimat terakhir bukan iri lhoo.. cuma hasil observasi.. sama aja kaya observasi gue atas Sore vs Maliq pada tulisan ini. :-)
|
|
|