Gara2 hari Senin hampir seminggu sebelumnya ada rapat with the government people yang diselingi makan siang di restoran ini, gue jadi kepikiran buat datang lagi.
If you do know me well, then you realized that it’s somewhat weird. Why? Because I hate seafood. Bukan alergi sih, seperti tuduhan banyak orang atas penolakan gue untuk setiap ajakan makan seafood, but simply because I just don’t like its taste. Emang susah kalo punya lidah yang terlalu peka; beda rasa dikit aja (atau dalam beberapa hal, beda tehnik pengolahan) udah bikin kerongkongan gue ngambek. Terkunci rapat, kagak mau kemasukan ntu makanan. Hiks. Gue bahkan sampe bisa ngebeda’in mana air aqua yang produksi Panda’an, mana yang asli Bogor, dan mana yang ngaku2nya Bogor, padahal produksi kota Bekasi… yikes! Bayangin aja, sumur di tengah2 daerah industri, gitu lhoo (for the record, I visited some of their factories for official inspections).
Cuman entah kenapa, salah satu kelemahan terbesar gue adalah; setiap kali gue (beruntung) berkesempatan nyoba makanan yang super duper enak atau unik, maka gue pasti akan menikmati makanan itu dengan rasa nggak enak hati. Bukan apa2, tapi karena mesti langsung kepikiran orang rumah. Bokap terutama, dan (dulu) nyokap (sebelum beliau wafat), juga mbak dan adik gue. Kebayang aja, mereka pasti bakal seneng deh, kalau bisa ikutan nyicip makanan ini juga. Sukur2 kalo makanannya “bungkus-able”, karena biasanya dengan nggak tahu malu nya, gue akan ikut berebutan dengan ibu2 kantor, huehehe. Dan mereka dengan baik hati nya malah bela2in menyisihkan buat gue; apalagi setelah mereka nyadar bahwa makanan itu gue bawa buat orang tua dan mbak dan adik gue. *smiling
Dan ya, hari Minggu lalu, setelah akhirnya bisa (di-)bangun(-kan) dengan sukses setelah begadang di Upper Room, gue dan keluarga langsung jalan ke Pondok Sedap Malam, di Jl Batu Tulis, Pecenongan, Jakarta. Rada bingung nyari jalannya. Rute tergampang, elo ke prapatan Harmoni aja dulu; di belakang nya Istana Merdeka. Dari situ trus ambil Jl Veteran yang mengarah ke Pasar Baru, dan langsung belok kiri pada belokan ke-2, alias Jl Pecenongan. Ikutin jalan aja, mayan lebar kok. Trus sampe pertigaan langsung belok kiri. Lokasinya ada di sebelah kanan jalan, bangunan yang baru direnovasi dengan gaya minimalis, bertingkat dua. Yang bawah bebas rokok, atas nya buat ngebul.
Bagian depan bangunan tsb berbentuk huruf “U”. Dari posisi kita masuk, sayap sebelah kanan adalah dapur baru bernuansa canggih (dengan jumlah koki dan asisten yang sepertinya agak terlalu banyak – banyak yang nggak jelas lagi ngapain, maksudna), sedangkan bagian kiri dipenuhi berbagai aquarium dengan beragam makhluk laut yang lucu2 dan bersemangat tinggi. Maksudnya bersemangat tuh, mereka pada hobi lulumpatan, gitu lho. Apalagi kalo liat ada orang yang kaya’nya takut2 mau milih2, hehe. Biarin lah! Belum tahu aja mereka kalo sebentar lagi akan bertamasya ke perut pengunjung yang ketakutan tadi. *grin
For those of you the regular patronages of seafood Mecca anywhere else, beware, this restaurant’s new building offers some culture shock by its new minimalism style. It is so hip, trendy, and very urban. Yet also with some ambiguity of the little plastic greeneries put right in the middle of the lower level, and surrounded on one side with some concrete bamboo walls. All those black, orange, and fake green, along with a party-look blue-ish lighted fake waterfalls; no matter how classy it looks, seems disconnected us with the historic experience our parents or grandparents might ever had on the old, very modest place, just across the street.
Segera buku menu pun dikeluarkan, dan foto2 di dalamnya yang sangat mengundang selera serta banyaknya jenis yang ditawarkan membuat kami kebingunan akan memilih. Sedikit saran; mereka sangat membanggakan “Kepiting Lada Hitam” nya yang legendaris, seporsi berisi 2 ekor (jangan lupa untuk memilih “jantan” karena lebih besar). Coba juga “Kangkung Belachan”, hidangan kangkung hot plate dengan bumbu tauco. Selangit! Masakan ikan bakar nya juga sedap; kali ini kami memilih “Ikan Kuweh Bakar”. Jangan lupa “Gurame Goreng”, emang nggak ada matinye! Tapi 2 hal yang langsung membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama adalah “Cumi Goreng Tepung” dan “Toge Goreng Ikan Asin”. Hmmmm… Favorit gue “Iced Lime Squash” tak lupa dipesan. Juga minuman wajib pendamping seafood; “Es Degan Batok”. Mantabbss..!
Special mention should goes to that black-pepper-sauced-crabs. Kepitingnya memang enak, walau sepertinya tidak sesegar itu. Tapi saus lada hitamnya itu lho! Hmm...!! Udahlah rasanya tak terkatakan saking enaknya. Ajaibnya lagi, saus lada hitam mereka bisa melekat di setiap lekukan kepiting, sehingga membuat kami tak malu2 lagi untuk mengikuti setiap lekuknya dengan jilatan lidah kami dan usapan jemari. Dua kepiting besar pun lenyap tak berbekas, tanpa terasa. Hanya kapasitas perut (dan dompet! Hihi..) lah yang sanggup menuntaskan perburuan ini.
Di lain pihak, janganlah kesal bila dari, misal, 10 pelayan, hanya ada 2 orang yang aktif mengambil pesanan lo. Sepertinya mereka punya masalah dengan senioritas dan paternalistik di sini. Mungkin karena itu pula kita harus berhati2 dengan kesalahan pesanan, atau bahkan yang lupa diantarkan, untuk kemudian di-charge sebagai pesanan dobel. Memang kita harus membiasakan diri untuk melakukan double-check. But up here, it seems a mandatory.*smirk!
Untuk berempat, kami menghabiskan IDR 500 ribu lebih sedikit. Tapi gue dan bokap terbiasa untuk hanya makan sedikit dan berhenti sebelum kenyang. Mungkin lebih tepat bila mengukur dari biaya yang kami habiskan saat rapat seminggu sebelumnya, sekitar IDR 1,2 juta untuk 7 orang. Jadi boleh dibilang biaya makan rata2 di sini adalah antara IDR 150–200 ribu per orang. Tentu makanan2 yang eksotis seperti “Lobster” akan menghabiskan biaya lebih besar. Sedangkan 1 porsi berisi 2 ekor Kepiting Lada Hitam itu sendiri sudah seharga hampir IDR 200 ribu. Terhitung murah untuk kelas seafood di restoran, sebenarnya.
But in the end, it’s always about the food. The great food, indeed. All another could be complained later. This is what I thought when I received my additional changes, due to some correction I asked on my bills. WTF.
Notes:
On my both consecutive visit there, we noticed there were lots of WIL’s and PIL’s eat there with each respective partners. It totally reminds me of one particular scene on Dinata’s “Berbagi Suami”. Although how fancy they dressed, how confident they walked; our eyes could still differentiate who is who. But considering such deep roots of china-town neighborhood, we’re taking that for granted.
Hints: Just don’t look in the eye of those WIL’s and PIL’s “owners”, they act like their little toys are going to be stolen away *grin
the U-Shape, modern entrance
the open Kitchen: so many men
Tangga - Lho, ada penampakan!
a little bit Greeneries - all fake
the real deal -- not the plastic, of course
Toge Goreng Ikan Asin, yummy
Ice everywhere. What global warming? Hehe
Kangkung Belachan, a must try 2 Comments
Uhhh, so tasty and sexy ..slurp!
Cumi Goreng Tepung, auuuww..
Kerang Ijo yang kagak ijo
Iced Lime Squash, my fave!
We're full. Let's go home, fyuuh
|
 | euw... g kebayang IDR 150-200 ribu per orang! kayanya tu mahluk yg lutju2 terlalu jual mahal..:p sbagian orang mungkin klo laper warteg pun jadi.. :p |
 | 150-200 ribu per-orang? wah.... keterlaluan.... harus disue... hehe.... |
 | Thanks for sharing, mas. Btw, kangkung belachannya beneran must try? |
 | ini one of my fave seafood resto. biasa makan d cabang utama d Muara Karang heheheh kepiting lada hitam-nya nggak kuku.. bikin kalap! x) |
 | 150-200 ribu per-orang? wah.... keterlaluan.... harus disue... hehe....  Begitulah. Gue sebagai penyandang dana juga langsung ber-istighfar, hehe..
Tapi semua orang dan juga keluarga gue, sbg para penggemar seafood, bilang bahwa harga segitu tergolong murah untuk seafood, apalagi yang kelas restoran, terutama yang udah selegendaris itu. Tapi gue udah bilang ke mereka sih, nggak lagi ah, makan ke situ. Laen kali maen ke daerah situ, mendingan makan steak (me love!) di Happy Days di Jl Veteran, hehe..
In fact, on that nite, we almost cancelled our plan to dine at PSM but to go to HD, instead.
|
 | Iya, lobster itu kalo ga salah kisarannya 250-an ke atas. Untuk rasanya yang memang enak banget, tapi kayaknya gua ga rela ngeluarin biaya segitu lagi buat makan lobster. :) |
 | Sedap Malam emang rajanya seafood sih..enak banget!!! cuma harganya itu gak nahan..
oia, ada satu lagi sih yang lumayan lebih murah (tapi porsinya lebih kecil sedikit sih. still, lebih murah). gue makan berlima cuma 300ribuan udah pake kepiting lada hitam :D..
tempatnya di Aroma Laut. Di jalan Cideng.. kalo penggemar seafood..kesana deh..pasti puas!! hohohohoho... |
 | Hai...Hai...Hai.. kali ini daku tidak tergoda... lagi diyeeettt...
|
 | masa ya? kayaknya setau gue yg pertama d Muara Karang? heheh tau deh =P kerang kepa masak tauco-nya juga yahud banget  Wah, ndak tahu juga yah. Tapi setahu gue sih, Muara Karang itu real estate yang relatif baru, bukan? Maksud gue, dibandingkan daerah semisal Batu Tulis, Pecenongan, etc yang mungkin udah ada sejak zaman Batavia nya VOC. Tapi ya sudahlah, tak penting juga, hehe..
Kerang Kepa masak Tauco? Hmmm.. aku ndak suka tauco sih, tapi boleh lah aku kasih tahu yg lain buat reff tambahan. Thanks yah! :-) Btw, selain starbucks, mungkin nggak ini jadi tempat rendez-vouz kita selanjutnya? Hehe |
 | Wah, ndak tahu juga yah. Tapi setahu gue sih, Muara Karang itu real estate yang relatif baru, bukan? Maksud gue, dibandingkan daerah semisal Batu Tulis, Pecenongan, etc yang mungkin udah ada sejak zaman Batavia nya VOC. Tapi ya sudahlah, tak penting juga, hehe..
Kerang Kepa masak Tauco? Hmmm.. aku ndak suka tauco sih, tapi boleh lah aku kasih tahu yg lain buat reff tambahan. Thanks yah! :-) Btw, selain starbucks, mungkin nggak ini jadi tempat rendez-vouz kita selanjutnya? Hehe  real estate lama atau baru bukan penentu lho, kan namanya cabang suka2x hati kapan bukanya hehehhe (teteup dibahas =P)
hahahah kalo seafodd sih, anytime.
btw, mana nih liputan java jazz? |
| |