Terbanglah Lebih Tinggi

Rekam Rana, Jendela Jiwa

Photo AlbumGirls, do We Really Wanna be Equal?Jan 23, '08 12:22 AM
for everyone

Once I saw this sign, I hate it already!

Why do we have to make this sign? Is it really necessary? What is the real reason behind this? I claim and feel ashamed for those who shouted about the women power, emancipation, equality, and so on and so forth.... But yet, still use these facilities.

Is it because the ladies who wear the high heels or the stiletto shoes are too lazy to walk? Just cut your feet babe! You with your Cinderella's brain and the superficiality life around you!

Ah, Jakarta.....


Thought narrated by : http://daniellebelle.blogspot.com
Idea and picture by : http://terbanglahlbhtinggi.multiply.com

Location : Senayan Arcadia, Jakarta
Date : Thu, Jan 10, 2008, +/- 02.00 am


Down with Special Parking Spot for Ladies..!!
 3 Comments 


76 CommentsChronological   Reverse   Threaded
icalsensei wrote on Jan 23
gw malah lebih suka memperhatkan cewe gy megang
huakakaka

btw di moll mana neh
keknya udah banyak ya sign itu...
hmmm
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23, edited on Jan 23
RS -- Tuesday, Jan 22, 2008 - 22:10 wib

Aduh... hal gini aja kok diperhatikan sampai segitu nya ya.... hehehe.... Relax... Allah SWT itu memang menciptakan perempuan dan laki-laki berbeda karena masing-masing memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi.

secara fisik perempuan memang tidak sekuat laki-laki, tapi perempuan punya kelebihan kemampuan emosional dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. jadi memang, at the end, tidak akan pernah ada yg namanya equality, in term of physical equality yah.

IMHO, yang perlu dikejar itu functional equality, salah satu nya ya dengan memandang diri kita sebagai sama-sama manusia yang diberi kelebihan dan kekurangan oleh Tuhan dan diberikan anugrah kebebasan ekspresi. Jangan melihat hanya gender-nya. Apa gara2 merasa pendukung emansipasi, trus sebagai perempuan ngotot musti equal dengan laki-laki sampai ke hal-hal yang kecil-kecil aja diributkan... di sisi lain, juga jangan karena laki-laki trus merasa menang dari perempuan dan jadi semena-mena... :P

gue paling males kalo ada yg bikin slogan2 feminisme, emansipasi dll... misalnya, apa mentang2 perempuan trus gue musti milih Megawati? gak lah yauuuuu.... gue milih orang yg gue percaya emang mampu, gak peduli laki-laki atau perempuan. titik. kecuali ada perempuan yang lebih mampu tapi kalah dengan laki2 karena BENAR2 masalah gender... nah baru lah di situ butuh usaha "meluruskan"...

selama ini gue bisa bekerja dengan baik dan sangat di-appreciated sama bos2 gue, ya karena gue pegang prinsip: gue ini manusia yg punya kemampuan. gak ada tuh feeling krn gue perempuan trus musti bisa buktiin gue sama kuatnya dengan laki-laki trus jd ngotot2an... males banget dehhhhh..... hehehe... (gue agak workaholic ya karena gue suka kerjaan nya, gak ada hubungan dgn pembuktian diri sebagai perempuan). gue mau dan gue yakin gue dikasih kepercayaan besar karena kemampuan gue, titik. tapi kalo gue gak mampu ya gue jujur aja bilang gak bisa. atau kalo gue emang ada halangan karena ke-perempuan gue, ya jujur aja.... memang Tuhan sudah menciptakan begitu kok, apa trus mau diubah-ubah.... :)

Tapi yah ini sih pendapat pribadi gue... Bu psikolog endah, what d u think? hehehe....


--------------------------------
TLT -- Wednesday, Jan 23, 2008 - 10:30 AM

Whohooo... Tanggapan yang sangat menarik! Anyway, secara singkat, dapat disimpulkan di sini bahwa elo sependapat dengan teman gue itu dong; nggak suka liat plang2 (baca: slogan) yang norak seperti yang ada di foto itu? Kekkekeke..

Ehm, feminisme di Indonesia memang cenderung disalahmengertikan dan simply dipersempit sebagai "anti laki2". Makanya biar kita boleh menepuk dada karena pernah punya Presiden perempuan (dan presiden buta) alias lebih hebat daripada negara kampiun demokrasi spt US, terbukti bahwa semua itu terbatas hanya soal sloganistis. Penerapannya masih teramat sangat minimal. Yep, Indonesia adalah bangsa slogan! Bangsa yang terobsesi pada bahasa simbol. Form over substance, kalo bahasa audit nya, hehe..

Btw, thanks Retno.. Jadi pengen tahu apa jadinya ya, kalo elo sampe punya blog dan meng-update nya secara reguler? Hehe.
perempuandititiknol wrote on Jan 23
akhh..
aku sebagai perempuan juga ngerasa intimidated dgn sign ini.. (padahal feminis-oportunis, haha)
tapi kesannya kok malah, perempuan jadi berkesan 'lemah dan tak berdaya' ya..
apa mungkin dipikir berbahaya bagi perempuan kalau parkir jauh-jauh dari pintu masuk gituh? knapa, takut diperkosa? atau ditodong?
lah laki-laki juga bisa aja diperlakukan serupa, jangan salah.
dan apakah perermpuan dianggap tidak mampu untuk fight back klo ada apa2 terjadi, gitu?
blah.

lain hal kalo sign tsb ditujukan kepada para orang-orang yang mempunyai 'keistimewaan' (baca : keterbatasan fisik).

itulah... negara kita masih jauh dari kesetaraan gender, bung.

++knapa gue jadi misuh-misuh gini ya di blog orang,,
*emosi jiwa*
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
gw malah lebih suka memperhatkan cewe gy megang
Hahaha, dasar..!!
She's my jazzy experience mentor, tuh. Mau gue kenalin? :p
Lokasinya di Senayan Arcadia, habis dari Black Cat.

stefanihid wrote on Jan 23
weird. We definetely dont need that. what for...
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
BW -- Wednesday, Jan 23, 2008 - 10:16 AM

Persamaan Pejabat, Wanita dan Penyandang Cacat

Di kantor pemerintahan, tempat parkir terbaik diperuntukan bagi para pejabat. Pejabat yang penting-penting itu tidak boleh berjalan terlalu jauh dari tempat parkir. Tetapi apakah memang pejabat itu perlu tempat parkir yang dekat dengan kantor, karena mereka tidak mengendarai kendaraannya sendiri dan supir mereka mengantarkan mereka hingga ke lobby gedung?

Di Wal-Mart, tempat parkir terbaik yang lega dan dekat dengan pintu masuk diperuntukan bagi mereka yang sudah lansia dan penyandang cacat atau siapa saja yang pelat nomor mobilnya memiliki simbol bergambar kursi roda. Alasan yang masuk akal. Akan tetapi di Indonesia lansia dan penyandang cacat tidak membawa mobil sendiri.

Di Mall Pondok Indah (dan juga Town Square Cilandak pada hari Selasa dan Rabu), tempat parkir terbaik diperuntukan bagi wanita. Konon karena mitos bahwa wanita adalah pemarkir yang lebih buruk dari pria. Tapi rasanya itu hanyalah taktik dagang supaya lebih banyak wanita datang berbelanja setelah halangan mencari parkir dihilangkan.


-----------------------------------
RA -- Wednesday, Jan 23, 2008 - 10:30 AM
Untuk yg terakhir, gue yakin 100% itu taktik dagang. Gue gak setuju dengan mitos itu... Lagian mitos bukan kenyataan, ya gak?


-----------------------------------
TLT -- Wednesday, Jan 23, 2008 - 10:40 AM

Idem, nggak setuju dengan mitos itu. Faktanya memang kemampuan spasial perempuan relatif tidak setinggi pria (meaning: kemampuan mereka untuk mengindera jarak dan bentuk agak kurang -- hal2 yg perlu buat parkir etc). Tapi itu kan cuma hasil penelitian secara umum, yang pasti nya ada anomali.

Kalo menurut gue sih, dan berdasarkan kecenderungan sosialite yang ada pun kebiasaan2 orang Indonesia, hal2 kaya gitu mah cuma sekedar ngikutin tren yang sedang naik daun. Seringnya malah dengan tanpa paham sepenuhnya apa yang ada di balik itu, atau bahkan kegagalan melihat adanya masalah yang lebih besar.

Contoh gampang:

AIDS day yang selalu dirayakan gegap gempita. Padahal belum tentu tiap hari ada org mati gara2 AIDS. Bandingkan dengan misalnya kenyataan soal carut marutnya kondisi lalu lintas di Jakarta yang tidak memihak pada harkat hidup orang banyak atau bahkan rakyat miskin. Jalan tol dan fly over dibangun terus di sana sini, tapi angkutan massal seperti subway, monorail atau bahkan bis2 reguler dinafikan keberadaannya. Proyek busway pun terhenti sekedar "mengadakan", membuat menjadi ada. Tanpa memperhatikan, boro2 pengembangan, bahkan evaluasi pun tidak.

Ohya, jangan lupa kenyataan bahwa tiap hari ada 100 orang meregang nyawa akibat kecelakaan lalu lintas. Belum termasuk yang luka2, atau sekedar mengalami LTI - Lost Time Incident. Dan orang masih ribut soal AIDS atau bahkan sekedar parkir khusus wanita **ketok2 meja
rinita wrote on Jan 23
DI PIM I juga ada sign ini.....kalo' kemaren sih kita cuman ngomong....coba elo yang bawa ya ..kata suamiku....
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
apa mungkin dipikir berbahaya bagi perempuan kalau parkir jauh-jauh dari pintu masuk gituh? knapa, takut diperkosa? atau ditodong?
lah laki-laki juga bisa aja diperlakukan serupa, jangan salah.
Laen kali gue kalo parkir sendirian malem2 gelap2an jauh2an dari gedung musti tengak tengok kanan kiri dulu kali yaa.. takut diperkosa, atau minimal dilecehkan secara seksual, hahaha.. **kidding.com But I gotta admit that you got your point here. True, men could be victimized as well. Been there (curhat colongan)

Soal emosi jiwa, ehm, gue udah tahu kok soal itu. Bukannya emang tiap hari yah?
*kabur! :p
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
weird. We definetely dont need that. what for...
Ya, setuju dengan pendapat elo. Aslinya gue juga komentar gitu sih.

Tapi coba baca komentar menarik dari temen gue, RS, yg udah gue upload di bawah. She got another point of view; not quite different, but somewhat intriguing. Any comment about that, mbak?
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
rinita said
DI PIM I juga ada sign ini.....kalo' kemaren sih kita cuman ngomong....coba elo yang bawa ya ..kata suamiku....
Hahaha, gue tahu maksud suami lo; kalo elo yg bawa mobil kan kita bisa ngeklaim parkir khusus itu -- secara perparkiran di PIM teramat sangat menyebalkan, bahkan semenjak sebelum krismon dulu! :p
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
RS -- Wednesday, Jan 23, 2008 - 11:10 AM

Hehehe salah mas... jujur aja, gue sih ga terlalu peduli dgn slogan2 dan plang2 gitu. ada boleh, gak ada jg ok2 aja tuh... toh itu jg paling2 taktik dagang seperti kata barkah. Gue ga setuju dgn komentar temen mas bahwa seakan2 plang itu "disgraceful" buat kaum feminis... Kayaknya hal2 spt ini terlalu "kecil" untuk bisa diartikan seperti itu... :) msh ada banyak hal lain yg lebih penting buat dipikirin... Bottom line nyah, gue bukan feminis, tp humanis... :p
nrhapsari wrote on Jan 23
i'm sorry, but by using the phrase "Is it because the ladies who wear the high heels or the stiletto shoes are too lazy to walk? Just cut your feet babe! You with your Cinderella's brain and the superficiality life around you! ", aren't you also in your own way demeaning women? hehehehheheeee... maybe you haven't met the super businesswomen/working mom who can run a marathon with her jimmy choos..

gue rasa plang itu dipasang (and tempat itu disediakan) demi kenyamanan pengemudi wanita, mungkin selama tempat itu didirikan sudah sering ada problematika wanita susah cari parkir atau whatever, i don't really know.. perhaps it is better to find the reason before disagreeing..

hidup wanita dan emansipasi!
(tapi jangan ngeluh kalau para lelaki tidak menahan pintu untukmu)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
aren't you also in your own way demeaning women? hehehehheheeee... maybe you haven't met the super businesswomen/working mom who can run a marathon with her jimmy choos..

gue rasa plang itu dipasang (and tempat itu disediakan) demi kenyamanan pengemudi wanita, mungkin selama tempat itu didirikan sudah sering ada problematika wanita susah cari parkir atau whatever, i don't really know.. perhaps it is better to find the reason before disagreeing..

hidup wanita dan emansipasi!
(tapi jangan ngeluh kalau para lelaki tidak menahan pintu untukmu)
To respond to your comment (thanks!) allow me to quote one of my previous journal as follow:

Indonesia, despite its very big Islamic stronghold, emancipation tends to be singularly articulated as treating the men as the enemies.. Thus, all women should fight them back, and liberate themselves by winning fights. Those who firmly believe that marriage constitutes slavery for women and that freedom for women cannot be won without the abolition of marriage. Those “establishment feminists" are against the majority of women, who love men in the most natural, simplest way.

Although such radicals beliefs as Male Chauvinism (i.e. the beliefs that males are superior to females) does exist, and perhaps unconsciously applied, such thing doesn’t AND couldn’t justify the unholy war between the two sexes. Not to meet their peer demands, not even to counter their own relationship issues.

Complete Article could be read & argued further here: the Urban Legend : Women against Men
taufikandina wrote on Jan 23, edited on Jan 23
The thing is, I never think that equality issues should be centred around gender.. despite whatever research has proven, capabilities and competence still play a bigger part in terms of being able to do things. I have a female friend whom I believed is a far better driver (thus her skill in parking even in most difficult places is still unrivalled) than most men I knew, and another male friend whose sewing skill match those of professional seamstressess, even better..

There are a lot more subject to centre equalities on rather than just gender.. to me it's a bygone agenda, even way before race and ethnicity... :)
littlethinker wrote on Jan 23
knp memangnya dng tanda itu? as long as it give me benefit, then i dont mind hihihi *wanita yg tdk gemar ber-emansipasi dan cenderung kapitalis oportunis*

Rather than see the sign above as the sign which cease the 'so-called women emancipation', why don’t see it in other way around, as the sign from men who do appreciate women, more :)
nrhapsari wrote on Jan 23, edited on Jan 23
okay..

women who treat men as the enemies to articulate their believe of emancipation? fighting injustice with anger doesn't resolve anything.. (setidaknya begitulah menurut Gandhi)

sekali lagi kalau topik utamanya memang 'plang' yang ada di foto, itu sih bukan penghinaan terhadap wanita dan prinsip emansipasi.
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
i'm sorry, but by using the phrase "Is it because the ladies who wear the high heels or the stiletto shoes are too lazy to walk? Just cut your feet babe! You with your Cinderella's brain and the superficiality life around you! ", aren't you also in your own way demeaning women? hehehehheheeee... maybe you haven't met the super businesswomen/working mom who can run a marathon with her jimmy choos..
To: nirmala r hapsari
Berikut komentar dari penulis blog tsb sekaligus sang model photo
(she sent the comment to me on a sms and asked to upload it here)

Daripada beli Jimmy Choo atau Manolo Blahnik yang harganya $ 800 mending buat beli susu atau bayar premi asuransi pendidikan. The think is, are we wise enough to live our role in the world. Hehhehe.

nrhapsari wrote on Jan 23, edited on Jan 23
hahahahahhaa...

sederhana aja, kalau itu gue, kaki gue dibalut jimmy choos, gue punya keluarga dan anak, pastinya kalau gue mampu jimmy choos, susu dan premi asuransi pendidikan untuk menjamin anak gue udah pasti dibayar dong...

jangan salah mengartikan dong...

pada dasarnya, if you can afford all the nice things in life, pasti nggak nolak.. dikasih suatu privilege, memudahkan seorang ibu yang membutuhkan kemudahan dari orang kebanyakan, itu sih bukan suatu bentuk penghinaan...
suarahujan wrote on Jan 23
*wanita yg tidak gemar ber-emansipasi dan cenderung kapitalis oportunis*
hehehe saya jg..apalagi hrs nyetir dg dua anak yg sibuk menjerit2 dan jambak2an sambil berebut tempat duduk..didepan, dibelakang, didepan lagi.
Seatbelt? Wa'alaikumsalam aja deh.
Dan iya, otak saya jg otak cinderella dalam arti sbnrnya. Which mean hrs pagi2 bangun, 'kerja bakti' dan lari2 lagi nyari tambahan duit belanja.
Gk pake stiletto sayangnya, gk kebeli krn uangnya cuma cukup buat bayar les enggres spy gedenya ntar bisa ngomel2 dlm bhs enggres kyk neng belle.
Seandainya saja ada prince charming yg dateng dan ngebayarin skul anak2 saya smp kuliah ke luar negeri.
Sayangnya yg saya dapat, hanya parkir khusus wanita, itu dgn ancaman kalau kaki saya yg kecapekan nguber2 anak2 seharian bakal dipotong. Iya, saya memang pemalas berotak cinderella ternyata.
Mgkn besok saya akan menyetel otak saya jd otak Alice (from Alice in Wonderland) supaya bisa males2an seharian dan tidur2an dibawah pohon sambil mimpiin bisa beli stiletto.
Sapa tau ntar bangun2 saya udah jadi Gwen Stefani
aniq30maret wrote on Jan 23
wow... cool..
littlethinker wrote on Jan 23
Gk pake stiletto sayangnya, gk kebeli krn uangnya cuma cukup buat bayar les enggres spy gedenya ntar bisa ngomel2 dlm bhs enggres kyk neng belle.
dear suarahujan, neng belle, kayanya saya juga kenal (virtually), iyah hebat bhs inggrisnya neng belle hehehe..

soal nyetir dengan 2 anak sibuk jerit-jerit di bangku belakang, unfortunately (or it should be 'fortunately'?? hihihi) i havent experienced that things yet... tp nyetir smbil pk maskara, eye shadow n jepit bulu mata selagi email2 berbanjiran masuk ke blackberry menteror hidup kita juga sama depresifnya lhooo.. hihi

no prince charming cos we aint live in fairy tale as cinderella lives, kita cuma punya our responsible husband (if u get lucky) and his or our (in case we are both employeed) fixed income, that we must wisely spread between family needs, children needs, and sometimes (i mean really2 sometimes) our personal needs like buying beautiful stileto in jimmy choo or recently, in aldo (geez i hope my salary will be increased this year *crossed fingers*)

can we have our parking space please? we do come in peace *dengan gaya hiro di heroes* please? please? please??? just 1 free parking space to harmless woman, it cant kill anyone rite? ;)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 23
hahahahahhaa...
No comment ya, secara gue cuma tukang pos
:p :p
alifahsari wrote on Jan 23
apa alasannya ya? hmmm....udah pernah liat gerbong kereta khusus wanita?
audrey wrote on Jan 23
Interesting.. ehehhehe

Yg pasti this time we're on different opinion. :) I dont feel ashamed being an independent woman aiming for equality and so forth and use these facilities. Why? well.. There's valid reason for the sign and the spot provided for sure. Kalo ngga ngapain those malls buang uang buat signage segala. well.. few of those reason yah.. safety, yah easy access.. (maklum ketauan banget kalo pengunjung pengemudi wanita udah pasti kesono belanja.. so borong .. dsb. Emansipasi kek.. mo apa kek.. kekuatan fisik kita kan beda ama cowo yg bisa nenteng belanjaan.. ahahah sorry off topic yah).

Trus cewe kan sering tuh di cap worse driver. nah with the easy spot kita jadi gampang parkir toh.. ngga buat macet.. gitchuuu.. en safe.. kalo ada yg mo copet.. tinggal teriak satpamnya dekat :-)

Its nothing to do with the stilettos.. is all im trying to say. As a women we have many privillage ... yah termasuk gerbong khusus wanita.. (di jepang) dsb.. soalnya yah bukan salah kita para wanita juga sih... abisnya kalo semuanya mo di equalin.. yah bisa aja tapi emang dasar pria yg tidak bisa menahan diri (yah copet.. yah pelecehan.. yah perkosa.. ato apapun itu) haha jadilah kita kecipratan privillage ini. gitu loh mas!!!

kalo mo bener bener equal.. i think its fair to say that we, woman has done our fair share loh to the max of perubahan global. Kita, cewe udah di didik selayaknya cowo (compare to zaman kartini), kita udah bisa cari nafkah sendiri (jaman sitinurbaya.. cewe di kawinkan demi kelanggengan hidup), posisi manager udah makin banyak di kuasain cewe.. nah..loh :P

PS: ngga sedikit loh cowo yg tebel muka en parkir di parkiran khusus pengemudi cewek.. hayo .. gimana tuh??
wangitanahbasah wrote on Jan 23
iuwww.. what a big no-no sign!! yikes. :)
*blebaayyy*
hihihi..
mindri wrote on Jan 23
ketika ego dan kemanjaan wanita dimenangkan.. :)))
(ini sign board dibuat untuk pelipur hati wanita yang terpaksa harus menerima kondisi poligami.. :)))
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
There are a lot more subject to centre equalities on rather than just gender.. to me it's a bygone agenda, even way before race and ethnicity... :)
Yeah, like those Marketing Gurus, let's K.I.S.S. - Keep It Simple and S... *grin Meritocracy should be the main focus, indeed. Sure along with its own consequences. But that's only the price we should pay, no?
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
Rather than see the sign above as the sign which cease the 'so-called women emancipation', why don’t see it in other way around, as the sign from men who do appreciate women, more :)
Sure (male) appreciation could come in many forms - no matter what.

And depends on our own point of view, experiences, circumstances, preference, and so on; we could judge it as helpful, useful, meaningful -- or simply as the other way around.. *wink2! :p
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
okay..

women who treat men as the enemies to articulate their believe of emancipation? fighting injustice with anger doesn't resolve anything.. (setidaknya begitulah menurut Gandhi)

sekali lagi kalau topik utamanya memang 'plang' yang ada di foto, itu sih bukan penghinaan terhadap wanita dan prinsip emansipasi.
Now I regretted the most why I didnt reply to you sooner, since you deleted all your original reply on this, and replaced it with this one, heheh..

I still remember what you did say on the first place, ie you questioned the relationship between your first comment vs the way I replied you, ie by redirected you to my previous post on The Urban Legend : Women Against Men . Well, kindly be informed, that the previous post is already spoke for itself rather than to be rewritten here. Please see it again as suggested (but I see that your current comment has shown us that you did get its essence, so be it.. :p -- me just practising my rights to answer your previous-now-deleted-comment, hehe)

Whilst commenting on your newer-edited comment as reposted above, stated your disbelief on the real intention of the sign, well dear, as I said previously, I believe that (male) appreciation could come in many forms - no matter what. Yet its form shall depends on our own point of view, experiences, circumstances, preference, and so on; we could judge it as helpful, useful, meaningful -- or simply as the other way around.. (if you know what I'm talking about, hehe)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
wow... cool..
Gheezz.. thanks! :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
can we have our parking space please? we do come in peace *dengan gaya hiro di heroes* please? please? please??? just 1 free parking space to harmless woman, it cant kill anyone rite? ;)
Oalahhh.. malah curhat colongan, ternyata..ahahhaa..

Oks, one special parking lot granted.
...Next..!!! :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
*wanita yg tidak gemar ber-emansipasi dan cenderung kapitalis oportunis*
hehehe saya jg..apalagi hrs nyetir dg dua anak yg sibuk menjerit2 dan jambak2an sambil berebut tempat duduk..didepan, dibelakang, didepan lagi.
Seatbelt? Wa'alaikumsalam aja deh.
Dan iya, otak saya jg otak cinderella dalam arti sbnrnya. Which mean hrs pagi2 bangun, 'kerja bakti' dan lari2 lagi nyari tambahan duit belanja.
Gk pake stiletto sayangnya, gk kebeli krn uangnya cuma cukup buat bayar les enggres spy gedenya ntar bisa ngomel2 dlm bhs enggres kyk neng belle.
Seandainya saja ada prince charming yg dateng dan ngebayarin skul anak2 saya smp kuliah ke luar negeri.
Sayangnya yg saya dapat, hanya parkir khusus wanita, itu dgn ancaman kalau kaki saya yg kecapekan nguber2 anak2 seharian bakal dipotong. Iya, saya memang pemalas berotak cinderella ternyata.
Mgkn besok saya akan menyetel otak saya jd otak Alice (from Alice in Wonderland) supaya bisa males2an seharian dan tidur2an dibawah pohon sambil mimpiin bisa beli stiletto.
Sapa tau ntar bangun2 saya udah jadi Gwen Stefani
Lha, diri mu ternyata bisa esmosi juga, mbak? Hahaha.. welcome on board, then!

Emang sekali2 kita perlu pelampiasan, supaya nggak meledak. I'm glad that I could be one of those whose lucky enough to witness one of your very rare emotional blast. *grin (nepuk2 punggung nya si mbak biar sabaarrrrr.....!!) Yeah, you're such a superwoman like they say
suarahujan wrote on Jan 24
Padahal itu puisi lhoh :-(
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
apa alasannya ya? hmmm....udah pernah liat gerbong kereta khusus wanita?
Ugh, nggak ngerti maksudnya euyy.. sori..

Gerbong khusus wanita? Di Jepang kah? Kalau nggak salah tujuannya demi menghindarkan pelecehan seksual terhadap wanita ya? Tapi siapa bilang wanita nggak bisa berlaku sebaliknya, dan menjadikan pria sebagai korban (pelecehan seksual) nya?

Faktanya, gue pernah jadi korban semacam itu. Dan gue bener2 ngerasa terhina (daripada terangsang) .. Believe it or not :-)

terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
Padahal itu puisi lhoh :-(
Oops, my mistake. My apologize.. :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
audrey said
Yg pasti this time we're on different opinion. :)
Akhirnya kita bersimpang jalan yang berbeda, kamerad!

A very thought provoking and intriguing ideas of you, not to mention that it was well written and arguably spoken. Many thanks for that. *smiling

Yeah, I can see the logic from your point of view; you're independent, you didnt ask for that special treatment, instead they gave you -- better, it's come free! So what? Being a true capitalist, we should claim those rights, no? *wink2! :p Not to mention about that naturally different strength possessed. It doesnt matter.

Soal ketebalan muka, I can assure you lady, that I'm definetely not one of them. As a matter of fact, I'd be th e first one who shall protest if such things would be happened right in front of my very eyes.. :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
iuwww.. what a big no-no sign!! yikes. :)
*blebaayyy*
hihihi..
Hadduuhhhh..
apapula itu "blebaayyy*

(asli copy paste, berhubung gue kagak ngarti, hehe)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
mindri said
ketika ego dan kemanjaan wanita dimenangkan.. :)))
(ini sign board dibuat untuk pelipur hati wanita yang terpaksa harus menerima kondisi poligami.. :)))
Lha, kenapa jadi poligami? Aku jadi rada2 bingung nih, mbak.
Would you mind telling us some more, there?

PS:
Menarik, kutipan soal ego dan kemanjaan wanita itu,
Such auto critics would always be warmly welcomed! :p
sonofamaria wrote on Jan 24
yah sekali² ga' papa kan.. di 'appreciate' sedemikian rupa..secara wanita tea..memiliki God-like power..heuehue
aniq30maret wrote on Jan 24
Interesting thought and poem :-) Thanks!
your welcome and thanks..
mindri wrote on Jan 24
Lha, kenapa jadi poligami? Aku jadi rada2 bingung nih, mbak.
Would you mind telling us some more, there?

PS:
Menarik, kutipan soal ego dan kemanjaan wanita itu,
Such auto critics would always be warmly welcomed! :p
sesuatu dibuat pasti ada tujuannya.. dan pastinya tidak akan bisa menjawab semua kebutuhan yang berbeda.. ada yg feminist minta disetarakan dengan kaum pria.. yang jumlahnya masih sangat kecil dengan sikap perempuan yang masih ingin diperlalukan sebagai "princess"
banyak wanita yang mungkin dalam hidupnya mengalami kekecewaan karena harus mengalah dengan ego pria.. akan senang sekali melihat sign board ini..
sebaliknya untuk kaum feminist akan "bete" melihat nya..
that,s life... pilihan kita berada kubu yang mana...dan memahami kubu yang berbeda..gitu ..:)
taufikandina wrote on Jan 24, edited on Jan 24
Yeah, like those Marketing Gurus, let's K.I.S.S. - Keep It Simple and S... *grin Meritocracy should be the main focus, indeed. Sure along with its own consequences. But that's only the price we should pay, no?
hmmm.. dont really see the connection between the K.I.S.S concept and meritocracy, let alone equalities.. care to explain more dear? (it's 8 a.m. on a Friday morning, one can only expect so much from one's brain as the latter is busy contemplating plans for the weekend :))
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 24
yah sekali² ga' papa kan.. di 'appreciate' sedemikian rupa..secara wanita tea..memiliki God-like power..heuehue
Hahahhaa.. kebetulan banget (atau tidak?) topik ini semalam jadi bahan diskusi yang menarik di Nine Muses.. :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 25
SLG -- Wed Jan 23, 2008 - 3:48 am
Ah, the article is a bit being judgemental doncha think? What's wrong with a bit fashion?being beauty n a bit manja doesn't really means artificial, right?

TLT -- Wed Jan 23, 2008 - 5:04 pm
Maksud lo, Mo, ujung2nya cuma masalah selera? Hehhe
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 25
AL --
Wed Jan 23, 2008 - 8:09 pm

It's all about being "komersial". Nothing to do with emancipation..besides dikasih kemudahan kok malah complain? Kayak SLG pas jaman kuliah dulu.. "gue ngga butuh pembelaan lu!"..wakakakaka..
----------------------------

DW --
Thu Jan 24, 2008 - 8:15 am

kali ini, setuju dengan laver. persoalannya, sebagian besar barang yang dijual di mall2 adalah untuk kebutuhan perempuan. so, bila manajemen gedung menyisakan banyak ruang parkir untuk perempuan, sederhana saja alasannya, biar lebih banyak perempuan menghabiskan uangnnya di mall2 itu. karena itu, sulit melihat hubungan pelecehan status perempuan dengan ruang parkir istimewa buat perempuan. it's simply about making more money out of sex differentiation, i think.
sonofamaria wrote on Jan 25
jadi jadi hasil diskusinya gmn jeung? ;p
blueberryaddict wrote on Jan 26
keadaan ini suka dimanfaatin sama bokap gw, alesannya biar gw yang nyetir. tapi jujur yah (dan gak mau muna), saat gw harus nyetir sendiri gw sangat seneng dengan adanya fasilitas ini?? salah kah gw?

gak tau yah, tapi kayaknya gak penting juga dipermasalahin.. selama enak buat gw, i will keep my mouth silent.. hehehehe.. gak adil yah??
blueberryaddict wrote on Jan 26
But I gotta admit that you got your point here. True, men could be victimized as well. Been there (curhat colongan)
sungguh kah?? emang diapain?
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 28
IT -- Monday, Jan 28, 2008 - 1:45 PM

Belum baca comment2 nya, tapi opini spontan yang punya priviledge sebagai cewe pengemudi: gua sih seneng2 aja. Coba bayangin Yo, di lapangan parkir ada tulisan "Khusus untuk TLT". Atau di meja ada kue sepotong, "Khusus untuk TLT". Rasanya sih beda ya ama pelecehan emansipasi. Sama seperti kaum laki2 mempersilahkan kaum wanita terlebih dahulu
--------------------------------

TLT -- Monday, Jan 28, 2008 - 3:59 PM

Hey, Komen mu telat bangettss..hehe,

Soal mempersilahkan, mnrt gue sih itu masalah sopan santun aja; yg bisa beda parameternya pada negara, bangsa, suku, daerah, atau bahkan agama yg beda.

Sedangkan soal jatah parkir khusus yg dibicarakan pada posting itu, sepertinya yg berhak adalah mereka yg punya "disabilty" alias orang cacat. Gue nggak tahu pasti sih, tapi mnrt beberapa teman; di luar negeri jatah parkir khusus hanya diperuntukkan bagi disable people. Hanya di Indonesia, sorry to say, ada kesamaan fasilitas (parkir) antara orang cacat, wanita, dan pejabat. Dari situ gue (dan teman gue yg ada di foto itu) berpendapat bahwa ini adalah soal pelecehan. Yah, kalau para pejabat itu rela dilecehkan seperti itu sih, silahkan saja, hehe.

FYI, kami (bila boleh mengklaim sbg "kami") nggak pernah bilang bhw itu adalah "pelecehan emansipasi", terutama bila kita menggunakan logika emansipasi yang dipahami oleh kebanyakan orang Indonesia; yaitu bahwa emansipasi direndahkan artinya semata hingga hanya soal "wanita harus mengalahkan pria". Yang kami maksudkan dengan posting tsb adalah, sungguh absurd bilamana mereka yg ribut2 soal kalah atau menang antara wanita vs pria ternyata masih meminta jatah (parkir) khusus.

PS:
Gue punya foto2 lo banyak pas acara PTD kemarin. Mau dikirim ke mana? :p
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 28
IT -- Monday, January 28, 2008 - 4:26 PM

Hahaha.... Baru tergelitik aja untuk komentar karena hari ini gue berpikir hati vs realita kehidupan....

Setuju at same ground jika sopan santu itu berbeda parameter di setiap area, karena menyangkut pada bla...bla...dan bla. Masuk ke dalam area disability, sudahkah kita memperlakukan si cacat dengan baik di tempat kita sekarang? DI lingkup yang lebih tinggi sudahkan pemerintah kita sadar bahwa si cacat ini punya hak yang sama untuk mendapat perlakuan sebagai warga negara? Inget2, buta warna aja ga bisa dapet sim. Tentunya di ranah Indonesia,secara individu kita belum sampai pada pemikiran penyamaan taraf si cacat dan si wanita toh? (emang ada di bus tempat untuk wanita hamil dan cacat?)

jadi boleh dong, gue sebagai wanita merasa senang diperlakukan lebih dengan adanya tempat parkir? Dari sisi komersil, trik ini untuk narik konsumen cewe. Setau gua, ada beberapa tempat yang untuk ladies driver dan itu jadi preference gua karena kemudahan parkir itu.

Tapi, yang gua sebel, malah ama ladies night, emang nya cewe2 itu umpan kapitalis untuk narik cowo2. no...no....no.... (sambil goyang2 telunjuk)
-------------------------

TLT -- Monday, January 28, 2008 - 4:35 PM

Nah, kalau kita sepakat buat pake logika marketing buat narik konsumen potensial, maka gue nggak punya alasan lain untuk nggak setuju. Case closed!*grin

Ohiya, nggak usah complaint soal jatah buat si cacat dehhh.. US yg ngaku sbg kampiun demokrasi aja baru tahun 2008 ini berwacana ttg perlunya Presiden berkulit hitam atau bahkan wanita. Sementara Indonesia? Jangankan wanita, bahkan, no offense, tuna netra pun pernah jadi Presiden kita, hehehe.. Terbukti kan, Indonesia lebih nyaman buat ditinggalin? Hehhee..

Soal ladies nites dan kesadaran menjadi umpan, lho, baru tahu ya? Hihi..

levl wrote on Jan 29
It's all about being "komersial". Nothing to do with emancipation..besides dikasih kemudahan kok malah complain?
iya..apalagi kalo untuk alasan lebih aman (misalnya parkiran di basement sepi banget..) pasti seneng2 aja dapet fasilitas kayak gini
invienzible wrote on Jan 31
saya mah lebih percaya kalo perempuan dan laki-laki punya kodratnya masing-masing.. Allah menciptakan kita untuk saling melengkapi, karena laki-laki jg butuh perempuan dan sebaliknya. tidak mempercayai feminisme yang semata-mata menjunjung penyetaraan peran dan derajat karena terasa naive di logika saya..
katanya sih, fisik laki-laki memang terlihat lebih kuat daripada fisik wanita; tetapi jika laki-laki ditakdirkan untuk melahirkan, fisik dan mental mereka yg sekarang ini tidak sekuat wanita...
terbanglahlbhtinggi wrote on Jan 31
katanya sih, fisik laki-laki memang terlihat lebih kuat daripada fisik wanita; tetapi jika laki-laki ditakdirkan untuk melahirkan, fisik dan mental mereka yg sekarang ini tidak sekuat wanita...
Hahaha.. ini komentar yang sangat menarik!

Setuju soal peran saling melengkapi. Nggak sepakat soal kodrat. Menurut gue sih, itu dua hal yang berbeda dan saling meniadakan. Terutama bila kita melihat ke dasar masing2 argumentasi tsb yang sering digunakan ideologi yang saling berseberangan.

Dengan adanya kodrat, artinya ada pengkotak2an yang sifatnya kaku dan nggak mungkin serta nggak boleh ditembus; apapun alasannya. Sedangkan dengan saling melengkapi, justru akan terjadi integrasi yang saling mendukung... seperti siang dan malam.
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 2
mindri said
sesuatu dibuat pasti ada tujuannya.. dan pastinya tidak akan bisa menjawab semua kebutuhan yang berbeda..
as you said, c'est la vie, dear.. :-)
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 2
hmmm.. dont really see the connection between the K.I.S.S concept and meritocracy, let alone equalities.. care to explain more dear? (it's 8 a.m. on a Friday morning, one can only expect so much from one's brain as the latter is busy contemplating plans for the weekend :))
Got a hard time myself to explain my respond to you on last Friday, and even now, hehe.. My poor brain, d'ohh..!! Anyway, after thinking over it again, it was pretty simple. It actually referred to your own lines previously posted below, that capabilities and competence still play a bigger part in terms of being able to do things. Great comment! Thanks.
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 2
jadi jadi hasil diskusinya gmn jeung? ;p
Kalo mau lengkap, baca aja sendiri dari atas sampe bawah, hehe..

Intinya sih, parkir khusus wanita rupanya lebih sebagai marketing gimmick. Yang disukai oleh sebagian rekan, tetapi tetap dianggap kebablasan oleh yang lain -- termasuk gue.

Kali ini bolehlah parkir khusus wanita, yg mau nya disamakan dengan (parkir khusus utk) pejabat dan orang cacat. Jangan2 ntar tahun depan bakalan ada parkir khusus pegawai negeri. Atau parkir khusus orang Jawa. Atau parkir khusus yang ber KTP tangerang (misal di Bintaro Plaza, etc).

Mengutip argumentasi kelompok yang pertama, ini jelas bukan rasialisme atau chauvinisme terbalik. Tapi cuma marketing gimmick, kan? *grin
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 2
gak tau yah, tapi kayaknya gak penting juga dipermasalahin.. selama enak buat gw, i will keep my mouth silent.. hehehehe.. gak adil yah??
Gimana kalo tahun depan ada parkir khusus mereka yg ber KTP Tangerang (misal di BSD Plaza) atau bahkan ada parkir khusus bagi orang Jawa? Mungkin contoh yg terlalu ekstrim, tapi dengan alasan menyenangkan customer alias cuma marketing gimmick; kenapa enggak?

The question then would be, will you still keep your mouth shut? *smirk!
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 2
sungguh kah?? emang diapain?
Yaaaa.. long story short; pernah dilecehkan secara seksual oleh wanita. Few times. And I hate it.
blueberryaddict wrote on Feb 3
will you still keep your mouth shut?
kalo gw dapet fasilitas, menyenangkan, halal pula, kenapa gw harus protes??

apapun itu, menuurut gw ini gak ada hubungannya sama emansipasi, kesetaraan gender, ato apa lah itu. suatu saat nanti kalo lo jadi bos suatu perusahaan juga dapet jatah parkir yang ada plat nomer mobil lo dan bahkan gak usah rebutan sama siapa pun (ladies parking aja masih rebutan sama cewek2 lain). itu cuma fasilitas..
terbanglahlbhtinggi wrote on Feb 3
kalo gw dapet fasilitas, menyenangkan, halal pula, kenapa gw harus protes??

apapun itu, menuurut gw ini gak ada hubungannya sama emansipasi, kesetaraan gender, ato apa lah itu. suatu saat nanti kalo lo jadi bos suatu perusahaan juga dapet jatah parkir yang ada plat nomer mobil lo dan bahkan gak usah rebutan sama siapa pun (ladies parking aja masih rebutan sama cewek2 lain). itu cuma fasilitas..
Yaaa.. kalo elo dapat fasilitas, menyenangkan, halal pula, kenapa elo harus protes? Got nothing against that, mbak, since it should be your right (ie your facility or on corporate term, your perks). Lagian kalo ternyata diri mu nggak mau protes dan memilih untuk menikmati, ya, itu emang hak elo. Setuju, kan? :-)

Masalah jatah parkir itu ada hubungannya atau tidak dengan genderisme blah-blah-blah atau tidak, atau malah terkait erat dengan rasisme, chauvinisme, dsb; mungkin memang akan mjd berbeda kalo kita bahkan sudah nggak berangkat dari sudut pandang yg sama. :-)

Dengan kata lain, forwardan email seorang teman di bagian awal komentar2 ini ternyata mjd ada benarnya juga; yaitu dalam konteks jatah parkir khusus di Indonesia, ada saling singgung yang membentuk himpunan persamaan antara jagat raya seorang cacat, seorang pejabat, dan seorang wanita. Yang mnrt teman lain, ternyata, hanya terjadi di Indonesia.

Mungkin link ke artikel menarik di harian the Jakarta Post ini (Jakarta, Indonesia - A Sinking Giant) bisa dipertimbangkan pula, and have a nice weekend.. *smiling
blueberryaddict wrote on Feb 3
hmm.. gimana soal jatah parkir di gedung perkantoran. kayak BEJ misalnya, yang kalo kendaraannya gak punya stiker (alias tamu ato bukan karyawan) gak boleh parkir di gedung itu dan harus parkir jauh banget, walaupun kata satpam disana ada bus yang ke BEJ, tapi kan tetep aja gak bisa diandelin sepenuhnya, jadi mau gak mau musti jalan jauh dari parkiran sampe ke BEJ. gak peduli yang nyupir itu perempuan ato laki. apa gak lebih bahaya karena parkiran tamu itu jauh dari gedung, gak banyak orang disana, akses bus gak setiap saat, blom lagi kalo ujyan, becyek, gak ada ojyek..?? mendingan mana sama ladies parking yang jumlahnya cuma sedikit dibandingin tempat parkir yang bisa dipake sama siapa aja, dan masih satu wilayah sama mall-nya..? lagian yang diistimewaain cuma jatah parkirnya, bukan bayar parkirnya. apa yang kayak gitu bisa dibilang diskriminasi? pasti ada alesannya dibikin aturan begitu. apa parkirnya terbatas, biar karyawannya gak susah cari parkir, ato apa pun. toh gw cuma jadi tamu biasa aja, lagian kepentingan gw cuma beberapa saat aja.

soal ini cuma ada di Indonesia aja, yah tiap negara punya kebiasaan sendiri-sendiri. jangan kan antar negara, kayak kita-kita ini aja punya pemikiran yang beda-beda.

yah mudah-mudah ini bisa jadi pemikiran kalo ada sedikit keistimewaan yang dirasain cuma sama salah satu pihak, bukan melulu persoalan gender, emansipasi, diskriminasi, pelecehan, dll. ada pemikiran yang lain yang mungkin aja blum kepikiran sama kita.

have a nice weekend to you too..