Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: academic

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag academic
Blog EntryKok Malah Galakan Dia, yha? ;pJul 5, '08 6:03 AM
for everyone

Jumat malam, saat harusnya sudah menjelang ninggalin kantor, tapi telepon masih dalam genggaman; sebuah email masuk ke dalam inbox. Dan seketika membuat gue tertawa terbahak2. Sekaligus geleng2 kepala. Pusing!

Isinya sederhana saja; permintaan tolong seorang sahabat untuk membantunya mengerjakan tugas tambahan sebagai penggenap ketidakhadirannya pada kelas2 kuliah “…..…” yang baru saja berakhir. Dan beliau pun berbaik hati untuk mengirimkan email lengkap dengan attachement kasus yang akan dibahas.

RALAT:
file yang harus gue kerjakan buat dia.
Plus embel2 kapan file tsb diharapkan untuk selesai.

Ohya, nggak lupa masih ada ucapan permintaan tolong serta terima kasih sih. Jadi dari segi courtesy masih oke lahh..haha


Anyway, about that request; yeah, dude, pada kondisi normal mungkin gue akan dengan sangat senang hati ngebantu.. Masalanya, gue sendiri lagi banyak masalah, hehe.. Nggak dhing. Paper2 gue aja banyak yang masih nggak jelas nasibnya, belum ngitung kerjaan kantor, dan waktu buat nya.

I’m allowed to have my own priorities, no?
……

Well, after some talk with my princess, I don’t think that those rejection would looked nice on email; especially that after all these years I learned a lot about the misunderstanding tendency in written communication forms. See this blog for instance, heuhe.. So I just shared them with my princess, and decided to verbally deliver it to that friend.

Uhm, ternyata kok malah galak-an dia yang saya share yha? Hhahaha..
Breath baby, don’t forget to breath! Hihi..



Blog Entryenemba perjuanganJun 16, '08 1:35 AM
for everyone

 

Menghargai dengan hormat, atas telah terbentuknya sebuah kecabangan baru dari Kelas ENEMBA pada program Pascasarjana Sampoerna ITB; yaitu sebuah "fraternities" bernama "enemba perjuangan", atau biasa dikenal sebagai "ENEMBA-P".

Enemba Perjuangan itu sendiri merupakan upaya sekelompok mahasiswa/i, yang seluruhnya dijamin merupakan anggota aktif Kelas ENEMBA, dalam melakukan pendalaman materi serta demi memenuhi rasa ingin tahu yang agak berlebihan, walau tetap sehat, atas beberapa subyek kuliah tertentu. Di anaara nya adalah untuk subyek "Financial & Mgmt Accounting" atau yang biasa disingkat sebagai FMA. Demi memenuhi asas kerahasiaan maupun praduga tak bersalah, daftar lengkap enemba perjuangan dengan sangat menyesal terpaksa tidak dapat kami beberkan.


Pendirian pakta rahasia tersebut ditandai dengan telah diikutinya ujian mid-term pertama kelas "Financial & Mgmt Accounting" yang diadakan secara marathon setelah mengikuti kuliah sehari penuh pada hari Minggu kemarin (dan utk tiap hari Minggu sebelumnya dan yang akan datang).

Ujian yang, indah sekali!, diadakan pada jam terakhir kelas, yang bisa ditebak disengaja oleh pihak fakultas biar kandidat peserta nggak pada langsung kabur, dan terbukti telah dengan sukses menyiksa daya tahan fisik dan mental para kandidat hingga batas2 yang nyaris tak tertahankan oleh manusia normal.

Untuk dicatat, seluruh kandidat enemba perjuangan juga tetap wajib menghadiri kelas regular Sabtu yang juga berlangsung sehari penuh (pk 08 pagi s/d 06 sore). Sehingga seluruh kandidat enemba perjuangan, secara efektif, tidak akan pernah dapat menikmati keindahan akhir pekan bersama yang terkasih. Padahal ada yang baru jadian tuuww… Kasian deh, lu! *grin*

Tersiar kabar, bahwa salah seorang kandidat diduga nyaris semaput, dan lantas melarikan diri dari kenyataan dengan cara kabur dari kelas dan menumpang tidur di dalam WC selama ½ jam -- pada saat kelas sedang berlangsung. Konfirmasi atas kebenaran berita ini masih dalam penelusuran. Akan sangat dihargai bila kandidat ybs bersedia mengakui perbuatan nya secara jantan! :p

Dari jagat enemba pada umumnya, mohon ucapan selamat atas pendirian kecabangan baru ini, sekaligus doa restu nya; agar tujuan2 kandidat yang pada umumnya mulia (reff: pendalaman materi FMA, etc) dapat tercapai dengan baik, lancar, dan selamat. Amen!


TLT
saksi mata dan subyek pelapor


photo courtesy of TLT, taken on ITB campus

Bandung, saturday, Jun 7, 2008


PS:

In the USA, the term "fraternities", often colloquially shortened to "frats", generally refers to all-male or mixed-sex organizations. The female-only equivalent is usually called a "sorority", a word first used in 1874 at Gamma Phi Beta at Syracuse University— before this, societies for either sex were called "fraternities." To this day, some women's organizations prefer to be called "women's fraternities". Outside North America, they are also referred to as "student corporations", "academic corporations", or simply "corporations" [from wikipedia] 

Enemba Perjuangan adalah kutipan bebas dari "PDI Perjuangan"; sebuah partai bentukan mantan Presiden Megawati sebagai akibat kekisruhan ex Peristiwa 27 Juli 1996, saat kantor pusat PDI di Jl Surabaya, Jakarta, diserbu, dihancurkan, dan diambilalih.


Eventthe 32nd IPA Convention, 2008May 28, '08 4:56 AM
for everyone
Start:     May 27, '08
End:     May 29, '08
Location:     the Jakarta Convention Center, Senayan
IPA, or Indonesian Petroleum Association, probably one of the most sought after event of the year. Especially after the government launched the new version of PSC (Profit Sharing Contract); which regarded as would give more burden to the investor.

Sure, such new method, that put more emphasis on the POD (Plan Of Development) perceived as another obstacles; in contrast to the country's need to boost up its daily lifting a.k.a. daily oil production.

For more understanding and calculation, see this posting:
mengapa subsidi bbm HARUS dihapuskan

Blog Entrymengapa subsidi bbm HARUS dihapuskanMay 16, '08 4:23 AM
for everyone

Uh, tiba2 kepikiran orang2 Senayan yang kemarin rame diberitakan pada sok2an ngehemat BBM dengan cara nggak mau ngantor pake mobil, tapi malah pake ojeg rame2 sama pengawal2nya.

Helloooo…!! Ojeg bukannya pake bensin juga ya, boss? Atau jangan2 udah pada pake bahan bakar air beneran? Tinggal buka keran doing? Wakakaka.. Ngehemat bensin mahh, naek sepeda, kaleee.. Atau jalan kaki aja sekalian. Masa kalah sama suster ngesot? Dodol! *grin

Sekedar trivia, daripada kejebak sama omongan nggak nggeunah idola masing2 dari Senayan, Kebagusan, Menteng, whatever;


Indonesia
sekarang

Produksi        :   +/- 1,000,000 BOPD (barrels oil per day)
Cost Recovery: (+/-    300,000) BOPD
Konsumsi       : (+/- 1,500,000) BOPD

MUSTI Impor  :     +/- 800,000 BOPD


1 Barrel Oil     = 158.9873 litres oil
Musti Impor    = 800,000 BOPD x 158.9873 liter
                   = 127.189.840 liter oil

Musti impor 127  JUTA liter minyak PER HARI


Asumsikan jumlah itu semuanya BBM Premium yang bersubsidi rakyat itu, seharga IDR 4,500.- Asumsikan harga Premium SEHARUSNYA nggak beda jauh sama Pertamax, taruhlah IDR 9,000.- Selisih kurang: IDR 4,500 per liter (= 9,000 - 4,500)

Jadi Pemerintah, baca: bukan Pemerintah dheng, tapi RAKYAT.. Petani, Pemulung, Nelayan, Tukang Gorengan yang notabene nggak punya mobil apalagi Thunder 250 GSX, hehe, gue juga termasuk kok, yang mbeli minyak tanah aja ngantri dan nyari minyak goreng aja harus berjibaku, musti nanggung selisih sebesar IDR 4,500 x 127.189.840 liter.

Kalo dijumlah, TOTAL IDR 572,354,280,000 atau 572 MILYAR rupiah sehari; cuma untuk mlaku2 keliling kota nambah2in polusi dan perbanyak gas CO2 yang menambah potensi resiko Gombal Warning.

Bayangkan berapa sekolah atau Rumah Sakit yang bisa dibangun dengan dana 572 milyar perak, tiap hari? Daripada bagi2 bantuan langsung tunai alias BLT yang 100 ribu perak doang itu; udahlah mau beli apa dengan uang segitu.. Jangan2 malah duit nya dipotong sana-sini, atau malah nyasar ke kantong tetangga. :p

Jadi sebagai negara, yang ngakunya, produsen minyak dan kaya raya gemah ripah loh jinawi, dari hitung2an sederhana aja di atas udah keliatan bhw negeri ini bukannya untung, tapi malahan buntung.

Dan siapa yang menderita? Bukan mereka yang bermobil atau bermotor, kawan! (apalagi pake SUV mewah yang boros bensin tapi nggak tahu malu ngisi Premium bersubsidi, oops!:p). Tetapi justru lapisan terendah yang jangankan menyicipi kue pembangunan, bahkan kecipratan** bau nya aja kagak. Gimana mereka yang bermobil dan bermotor itu? Lha, kalau pada pake Premium bersubsidi (atau minyak tanah daripada gas) malahan masing2 pada dapat duit negara sebesar IDR 4,500 per liter, dikali sekian liter yang dibeli. Asyik kan? Hehhehe..

Jangan lupakan hitung2an yang disederhanakan ini tiap saat elo ngisi bensin berupa Premium bersubsidi. Jangan lupakan bahwa untuk setiap liter bensin Premium, terdapat HAK rakyat sebesar IDR 4,500. Bila seminggu biasa ngisi Premium 30 liter, artinya terdapat jatah rakyat yang dipakai sebesar IDR 135,000.- Itu baru seorang dalam seminggu. Gimana kalo setahun? Gimana kalo semua orang?

Pertanyaan berikutnya: kalopun kita kekeuh nggak mau make premium bersubsidi, atau mendukung naiknya harga bensin; lantas apa pengaruh tindakan satu orang terhadap kebocoran anggaran Negara, melawan parpol2 yang ngambil kesempatan njelek2in pemerintah dengan cara menentang naiknya harga BBM dengan alasan rakyat? (rakyat 'ndas mu, oi! Hehe)

Maka ajukan sebuah pertanyaan balik; kenapa harus bertanya apa yang orang lain lakukan? Tanya apa yang bisa KAU lakukan untuk mereka yang menderita; dimulai dari diri sendiri.

Karena kezaliman harus ditentang; nyatakan dengan tindakan mu. Bila tidak sanggup, nyatakan dengan lisan mu. Dan bila itupun masih dirasakan berat, sangkal dengan hati mu. Dan yang terakhir adalah selemah2nya iman. Amit2!

Hanya orang2 Senayan yang lebih peduli pada form over substance dan bukan sebaliknya. Alangkah baiknya bila kita tidak mengikuti teladan negatif mereka.

The country is bleeding! We gotta stop it now! Raise the oil prices! Hapuskan subsidi BBM! Hentikan nina-bobo rakyat gaya orde baru dengan Trilogi Pembangunan nya yang mementingkan stabilitas politik daripada pemerataan dan pembangunan ekonomi!

Kekkekee.. 


Note:
** merujuk pada trickle-down-effect yang diusung Mafia Berkeley yang mengatur jalannya pemerintahan Indonesia era 70-an. Mafia Berkeley sendiri adalah sekelompok ilmuwan FEUI, murid2 Prof Dr Sumitro, yang dididik di pascasarjana Univ of California, Berkeley.


Disclaimer:

  1. Tulisan di atas disampaikan dalam kapasitas pribadi untuk keperluan diskusi. Tulisan tersebut tidak mewakili pandangan kampus, kantor, maupun lembaga2 lain yang terkait.
  2. Ini sekedar hitung2an kasar untuk ilustrasi; karena buat tujuan diskusi dan penyadaran. Tapi angkanya mendekati, dan dijamin benar. FYI, usia data: satu minggu yang lalu. 
  3. Tapi silahkan kalau ada yang mau menambah/ menyanggah. Kita saling bebagi serta saling belajar  :-)


Blog EntryNewcomer (dan Cost Recovery)Apr 11, '08 8:26 PM
for everyone


Karena teman2 sekelas pada rame ngegosipin soal siapa bakal calon Kepala BPMIGAS terbaru (yang info nya ternyata 100% akurat, hehe) plus isu2 lanjutan tentang pergeseran beberapa pos penting di negeri ini – termasuk Menteri ESDM, Gubernur BI, Dirjen Migas, Kepala DEN, dan Menko EKUIN; obrolan pun menyentuh soal cost recovery, yang diduga banyak orang menyebabkan terpentalnya pejabat lama. Yahh, tentunya di luar isu2 lain yang lebih politis sifatnya, dan tentunya nggak bisa gue share di sini ya? Hehe..


Karenanya mudah sekali ditarik kesimpulan lanjutan bahwa, dengan naiknya pejabat baru, maka skema cost recovery tsb akan makin diperketat. Apalagi dengan makin ributnya anggota Parlemen atas besarnya beban yang musti ditanggung Pemerintah (dan rakyat ini) terutama berbanding lurus dengan (malah) semakin menurun nya tingkat produksi oil & gas di negeri ini.

Cost Recovery itu sendiri (CMIIW) secara singkat dapat diartikan sebagai biaya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan oil & gas dalam mengembangkan suatu proyek hingga berhasil mencapai tahap produksi (baca: minyaknya ngalir, coy!), yang kemudian akan diganti Pemerintah. Skema cost recovery mencakup Capex alias belanja modal serta Opex yang mencakup biaya operasi; termasuk gaji pegawai oil & gas company, privilege yang diterima, anggaran comdev, dsb.

Pendapat yang banyak beredar lantas adalah justru pengetatan cost recovery dilihat sebagai upaya pemangkasan privilege yang diterima, atas nama asas keadilan. Wong Negara lagi susah kok, ini malah ada orang2 oil & gas company yang berleha-leha mewah2an; pake uang rakyat pulak!

Mungkin. But there's always two sides of the story.

Memang kalau dilihat secara simple, jadinya akan berkesan bahwa dengan privillege yang dimilikinya, betapa negara (dan rakyat) negara ini akan sangat dirugikan oleh ketentuan semacam itu.

But sure we have to see it on an apple to apple comparison, no?

Privilege tersebut 'kan diberikan dalam konteks dan beberapa pertimbangan tertentu, yang lantas menjadikannya bukan hanya pantas; tetapi juga bahkan legal -- tentunya sepanjang masih mengikuti koridor yang berlaku. Yeah, di sini lah peran  Government Audit nyata terlihat.

Kalau kita ngeliat secara sederhana, seolah yang diributkan hanyalah soal fasilitas natura (baca: "kenikmatan tambahan") yang diperuntukkan bagi pegawai2 oil & gas. Akan tetapi secara agregat, hal tersebut juga mencakup berbagai bentuk lain, yang sebenarnya dan pada akhirnya malahan menjadi pendukung dan bagian dan tak terpisahkan dari operasi oil & gas. Yaitu "community development". 

Sementara Comdev sendiri kalau dilihat secara gampang pasti akan menimbulkan pertanyaan; uangnya pemerintah juga kok, ngapain sih musti disalurkan melalui oil & gas company, untuk lantas mereka yang dapat nama? Hhehe..

Padahal kan nggak juga. Oil & gas company di sini cuma menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk menjamin going concern nya proyek yang, milik pemerintah juga. Beberapa contoh ekstrim misalnya terjadiya pemblokiran atas kompleks sebuah oil & gas company di bilangan Dumai, Riau. Atau cerita dari beberapa teman tentang penerobosan oleh anggota GAM pada proyek lain di bilangan Aceh; bahkan hingga berwujud penculikan salah satu direksi nya. Atau ancaman pemutusan pipa minyak yang dialami sebuah perusahaan lain di daerah Sumatra Selatan. Dan masih banyak lagi.

Boleh dibilang comdev ini merupakan semacam collateral lah untuk itu. Jangan sampe misalnya, terjadi kecemburuan2 sosial melihat kemajuan yang merambah ke tengah hutan (emang susah punya proyek on shore, hiks) yang lantas menyedot kekayaan bumi setempat, untuk kemudian membawanya keluar. Pasti mereka akan berpikir akan perlunya semacam kompensasi. Terlepas dari fakta  pantas atau tidak pantas, berhak atau tidak berhak  (misal: menyandera truk2  oil & gas company agar mau memenuhi tuntutan mereka supaya bisa diterima bekerja; padahal kompetensi maupun kapabilitasnya aseli nggak sesuai. Duhh

Dan yah, biasanya juga mintanya nggak akan aneh2 kok. Kalaupun ada yang aneh, biasanya yang minta begitu tuh malah bos2 nya, alias para kepala daerah yang mendapat euforia baru bernama; otonomi daerah. Atau pernah tuh, ada pasangannya Presiden berkuasa saat itu, yang dengan entengnya, bahkan tanpa perintah tertulis, apalagi persetujuan Parlemen; memaksa oil & gas company untuk ikutan menanggung biaya pelaksanaan PON (Pekan Olahraga Nasional) setempat. Ya pantas ribut lah semua orang, gue juga ghedek banget ngeliatnya; pengen gue toyor deh! Hhehe..

Sama satu lagi yang bikin sebal; orang2 tertentu yang memanfaatkan proyek2 comdev demi kepentingan dan/atau keuntungan pribadi. Apa pant*t nya nggak berasa panas ya, atau perutnya terasa kembung; makan uang yang harusnya dialokasikan untuk rakyat? Atau bahkan untuk sumbangan bencana alam, seperti tsunami, misalnya? Oh, Indonesia.. *geleng2 kepala.

Itupun semua hal yang diributkan di atas baru mencakup masalah Opex, sementara jangan lupa; masih ada masalah Capex yang merupakan komponen yang cukup besar di dalam cost recovery. Capex di sini mencakup belanja barang yang akan digunakan dalam operasi oil & gas.

Sehingga kalaupun pemerintah dan Parlemen yang mengatasnamakan rakyat (ah, masa iya demi rakyat?*grin) mau memperketat skema cost recovery, sebaiknya mereka tidak melupakan momok yang lebih besar; yaitu soal perencanaan/ planning dan budgeting. Buruknya perencanaan sepertinya sudah menjadi wabah yang akut pada semua orang di negeri ini. Padahal kita semua tahu bahwa perencanaan yang baik akan menentukan tujuan yang pasti, menjamin pelaksanaan yang handal, dan terutama, penggunaan anggaran yang efisien. Atau barangkali ada yang tidak setuju?

  
Jakarta, Apr 12, 2008
Lagi belajar buat final test pagi ini
at 06.26 am


PS:
Photo courtesy TLT, Mar 25, 2008;
was taken blurred on purpose

 
Disclaimer:
Tulisan di atas semata merupakan pandangan pribadi penulis yang dibuat untuk kepentingan diskusi pada sebuah mailing list, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi tempat penulis bekerja maupun bersekolah.



EventNawaz Syarief's momentMar 12, '08 5:36 AM
for everyone
Start:     Mar 13, '08 6:00p
End:     Mar 13, '08 9:00p
Location:     Sampoerna SBM ITB Campus, Amphitheatre C, SSS North Tower, 23rd FL, Jakarta

Dear Valued Students,
We would like to invite you to attend a discussion on:

Topic : Technological Innovation Management
Speaker : Prof Dr Nawaz Syarief (Visiting Professor from University of Maryland, USA)
Date/Day : Thursday, 13 March 2008
Time : 18.00-21.00 wib

Venue :
Sampoerna SBM ITB Campus, Amphitheatre C,
Sampoerna Strategic Square, North Tower, 23rd floor,
Jl. Jend. Sudirman Kav 45 - Jakarta Pusat

R.S.V.P.


Gara2 kuliah ini, terpaksa mengagalkan ajakan untuk, sekali lagi, menonton aksi Bluey (Incognito) di Black Cat, Senayan Arcadia. Sekalian dinner gitu deh. Pas benturan jadwalnya euyy.. padahal ada teman yg kemarin gagal ikutan Java Jazz dan maksa2 gue buat nemenin dia ke Black Cat. Tapiii.. pulang kuliah masih sempat mampir ke sana kali yaa..kekekeke..

Dengan catatan, kalau mau bunuh diri kagak belajar buat Final Test "Energy Modelling" hari Jumatnya.. kyaaa..kyaaa...

Ujian nggak jelas, belajar apaan juga kagak ngerti. Ada bbrp teman yg tulus mau ngedoa'in biar ujian Jumat lusa lancar, tapi gue tolak dengan sukses. Buat apa, lha wong kagak ngerti juga. Nggak ngepek, kaleee.. heuhehe


Blog Entryit is our judgment that matters the mostFeb 23, '08 3:10 AM
for everyone

 

Concluded after we learned 'interesting' (to not to call it as 'savvy') financial management methods in several Harvard business cases. The objective: project valuations and decision making. And only after a long and painful way, cruising through countless syndicated discussions, fighting over our argumentations against another, we come to one naked fact.

At the end, it is our judgment that matters the most.

(and the say that never judge a book from its cover, ha! Tell me about that!)


EnEMBA Sampoerna ITB class,

Saturday, Feb 23, 2008,
12:47 wib


PS:
Right before having our lunch break, the lecture informed us that it's only an introductory case, d'ohh!


PS.PS:
And, oh, btw, that’s the brand new Asus Eee PC that most people talked about. Pretty small and gorgeous, isn’t she? :-)


Photo
was courtesy of TLT, taken earlier today in class on one of that countless discussions between fellow classmate. By the time this blog is uploaded, the class is still in progress (saturday class held between 8 am - 6 pm (10 hs).



Start:     Feb 22, '08 7:00p
End:     Feb 22, '08 11:00p
Location:     Izzi Pizza, Oakwood, Bellagio

[sent to EnEMBA ITB - class of 2007 mailing list]

Dear all,

This is to confirm you that we will have an extra session on Pak Daniel's Financial Management with the following details:

Date: Friday, Feb 22, 2008 (tomorrow)
Time: 19.00-23.00 wib

Location:
Izzi Pizza, Oakwood, Bellagio
Shooping Arcade @ OAKWOOD Premier, 1st Floor, No.1A
Jl. Lingkar Mega Kuningan Blok E4.2, Jakarta
Call: 021 – 255 42422

To go there, please find the road map by clicking this following link: http://www.izzipizza.com/index.php?id=13&modul=branchdetail

The place is reserved on behalf of my name. Find a Ms Nia of Izzi Oakwood for further assistance. Or contact my number.

See you in the Energy Modelling class tonite!


Blog EntryGood ReadsFeb 16, '08 10:57 PM
for everyone


I always boasted myself to be an avid reader, and I mean not just loving it like that, but really-really into it.

I always see books (and magz, and papers, and other readable materials; in this case) passionately and eagerly, longing to explore it further. Even once in a while I managed to have some time between hectic schedule to read whenever I could, e.g. on the bus, whilst waiting on something (or someone *wink!),  

But there were some times that you, admit ably, can hardly face it anymore, and all you can do is just sit there, looking at the bulge of the (un)read(able) materials -- helplessly. Especially after having had a hard day-long sitting in class, discussed the way through few syndicated groups, presenting the papers and argued over it, firing some tough questions and got some even tougher retaliations (hehe), and endless things like those.

The main difference is, usually we got the whole Sunday to be our me-time; though, and of course, shall be individually allocated to our best. But today we have an additional compulsory class. Correction: we are having 5 (five) additional classes in a row, to be exact; in financial management, corporate planning, several real world case studies, and the likes.

And when the lecture first introduced him earlier this morning (at 8 am sharp, that is!) and inquired whether we have done our homework and learned the required pre course readings, none of us had confidently responded it, but few hesitated answers. I mean, Imagine those wives, husbands, children (or Dad, in my case), spouse, friends, etc, that waited at home to no avail, well, mostly, to spend some quality weekend time with my dedicated classmate. Where were they, when we crunched those materials last nite? Neglected, of course.

No wonder there are little enjoyment smelled in the air rite now. *grin


On additional Financial Mgmt class,

Sampoerna Strategic Square, North
Tower, 23rd floor,
Jakarta
, Sunday, Feb 17, 2008

between 08.00-18.00 wib




Link: http://enembasampoerna-itb.blogspot.com/


Articles created, shared, and discussed between fellow Graduate Classmates, Scholars, Faculty, and Visiting Professors on Energy Class of 2007, EnEMBA, Sampoerna ITB School of Business and Management.

Learn more about us on our and see our official website on: http://www.sampoernasbm.itb.ac.id/

Class initiative mailing list could be reach at: [EnEMBA2007@yahoogroups.com] (sorry, not for public)

Blog EntryClass Revolt!Nov 27, '07 6:16 AM
for everyone


Gue dari dulu paling nggak suka ngeliat mahasiswa pintar yang belagu. Mereka selalu ngaku nggak bisa ngerjain soal lah, belum ngerti materi yang diajarkan lah, takut gagal lah tiap saat menjelang ujian, dsb. But you found out that they are the ones who come out from the class as the highest achievers. And
you left behind felt betrayed. Damn.

Untuk informasi, pintar tidak selalu berarti cerdas, tapi biasanya mudah dikenali dari:

  1. frekuensi kehadiran di kelas,
  2. jumlah tugas/ paperwork yang dikumpulkan,
  3. ketepatan waktu kehadiran maupun saat pengumpulan tugas,
  4. kuantitas jam belajar yang didedikasikan,
  5. ada tambahan? Please.

Sebenarnya semua kualitas di atas sebaiknya juga dimiliki oleh semua mahasiswa yang baik dan benar ber-semangat ’45 serta berjiwa Pancasila (mulai berlebihan, hehe); terutama karena apa lagi yang harus dan/atau bisa dilakukan agar tercapai tujuan belajar itu sendiri – penguasaan materi yang (kalau bisa) sempurna?

Tapi dalam dunia kerja seperti saat ini (asumsi: elo kuliah sambil kerja), apalagi dengan kombinasi mematikan berupa jadwal kerja yang padat dan selalu berubah, hingga seringkali berbenturan dengan hari-hari kelas (yang sayangnya -–ternyata-- bisa berubah juga, sigh..), juga dengan tingginya tekanan maupun beban pekerjaan itu sendiri; sepertinya ciri-ciri kepintaran tradisional seperti di atas tinggallah sebagai sebuah utopia.

Yang terlambat gue sadari adalah, ternyata banyak teman sekelas gue yang termasuk ke dalam golongan high-achievers, dan mereka bangga atas nya. Ya iyalah.. kalau elo bisa ngeliat data-data pribadi mereka, pasti elo akan terkesima dan ngerasa takut kaya gue, hehe.. Misalnya ada yang wartawan senior harian terkemuka, ada yang manajer di satu perusahaan minyak asing, ada yang Vice President salah satu konglomerasi Indonesia, ada yang Senior Geologist, malah ada yang udah jadi CEO di perusahaannya sendiri yang udah buka cabang di Singapura. WOW!

Be noted that I don’t mean to judge anybody here.

Tapi ya, sedikit banyak, merujuk pada definisi subyektif gue di atas, mayoritas dari mereka bisa digolongkan sebagai mahasiswa pintar. Ambisius dan/atau high achievers, itu pasti. Dengannya, otomatis mereka juga adalah para pekerja keras, dan tahu apa yang mereka mau.

“..bahkan seekor cacing pun akan menggeliat bila diinjak..”, demikian pemuda Sukarno konon pernah berkata dalam eksepsi nya yang terkenal, “Indonesia Menggugat”.

Maka tidaklah aneh bila seminggu terakhir ini, teman-teman tercinta itu (Disclaimer: tidak selalu berarti mereka yang gue sebutkan sebagai contoh di atas), melalui media email langsung kepada otoritas kampus dan/atau korps dosen, maupun melalui gerundelan sesuka hati pada mailing list kelas, teman-teman kaum pekerja kantoran berkerah putih yang terhormat yang berkiprah di industri minyak dan gas, pertambangan, jurnalisme, kelistrikan, IT, dan pemerintahan serta penentu kebijakan, tiba-tiba lantas bertransformasi menjadi kaum revolusioner yang keras dan bersemangat. Memperjuangkan hak mereka yang dirampas. Menjadi vokalis kelas. Para eselon 1. *smirk!

Okay, we already paid quite a fortune for the class. As a matter of fact, the school is one of the most expensive programs available in town. Some said ie is the highest, indeed. Perhaps due to the quality offered and of course thanks to the establishments behind it; the Bandung Institute of Technology and the Sampoerna Foundation. Not to mention other not-that-clearly-be-seen institutions and bigger-than-life-personas 1) involved; either directly or indirectly. Moreover, to enable ourselves to be granted on one of the limited seat, we already challenged by the best, and by each other. The admission test itself was one of the toughest I have ever been, for sure 2).

Therefore, the bulk of the class considered it is not just legal, but also our righteous rights to ask for the best in returns. Otherwise, it would be simply insane. Perhaps also be irresponsible and humiliating for the school itself.

Emang, apa aja sih yang diminta? Banyak dan highly demanding. Namanya aja customer, hehe. Eksekutif pula! Tapi untuk kasus ini, lebih kepada tuntutan teman-teman sekelas yang setelah sekian lama mengikuti kelas “Financial and Management Accounting (currently is still on going)”, ternyata kami dihadapkan pada beberapa halangan, yaitu:

  1. We are wayyy.. behind schedule
  2. Banyak yang nggak ngerti alias totally nge-blank
  3. Upaya mayoritas untuk meminta kelas tambahan, sebagai solusi No.1-2.
  4. Hal-hal lain, misalnya tingkat konektivitas Wi-Fi (maaf ya, Belle, chatting tadi pagi putus-nyambung terus), makanan, Air Conditioner, dsb.

Juga ada masalah lain yang berhubungan dengan kelas sebelumnya, “Regulations on Energy Sector in Indonesia”. Kalo ini sih, soal waktu UAS kami yang akan datang. Well, due to some ethical reasons, I can’t tell you much but merely to say that there are, uh.., this dispute between my fellow classmate against the faculties. Intinya terjadi masalah yang sedikit banyak hampir sama, lah.

Sejujurnya, gue bukan tipe mahasiswa yang sangat peduli pada apakah gue akan dapat nilai akhir “A” atau “B” untuk suatu mata kuliah. Yang penting, apakah gue bisa mendapatkan nilai tambah dari apa yang gue pelajari (atau gue lakukan), dan lebih jauh, pandangan seperti ini pun selalu gue terapkan dalam kehidupan gue sehari-hari. Dari situ elo bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa gue bukan lah tergolong dalam para high-achievers tersebut.

Seperti yang gue jelaskan lebih rinci dalam artikel “Pendidikan yang Membebaskan” beberapa waktu yang lalu; sekolah atau kuliah yang seperti apa pun tidak akan pernah ada gunanya kecuali sekedar selembar ijazah. Karena gue percaya bahwa semua itu hanyalah sebuah alat, dan bukanlah tujuan itu sendiri. The most important thing that can be achieved from YOUR education is attitude. Change of things. An open minded.

Sayang sekali masyarakat kita masih teramat sangat menghargai hasil, yang dalam hal ini, salah satunya, dilambangkan dengan sehelai ijazah, daripada proses yang perlu dilakukan untuk pencapaiannya. Digabungkan dengan perilaku high-ahcievers tersebut, maka dengan mudah terjadi pergeseran dalam hal cara memandang mana kah yang cara dan manakah yang tujuan.

Tentunya ini bukan soal salah atau benar, akan tetapi perbedaan sudut pandang ini membuat, uh, ketidaknyamanan pada pihak lain yang bersuara minoritas dan bertendensi sebagai tidak-vokal. Dan yah, sorry to say and no offense, lama kelamaan kok berbagai keluhan seperti ini jadi terdengar manja, childish, selfish, dan terasa berlebihan ya? Padahal apa sih resiko kuliah itu?

Terhadap mereka ini, rekan-rekan yang tercinta, gue hanya dapat mencoba untuk bersikap sopan dan menahan diri. Akan tetapi lama kelamaan tervisualisasikan juga kencederungan keberpihakan gue, hehe..

Guys, we're all mature people with our very own liabilities; work, familiy, organization - you named it! So let everybody face it as their own responsibilities. Start the class at 18.30 sharp for Tuesdays and Thursdays, and 08.00 for Saturdays! Nggak perlu repot memundurkan jadwal hanya karena ada beberapa orang yang terlambat dengan berbagai alasan. Coret saja absensi yang bersangkutan tanpa kecuali. Gitu aja kok repot!

Jangan hanya karena ada beberapa yang terlambat lantas satu kelas harus ikut-ikutan terlambat. Jangan hanya karena ada beberapa yang nggak ngerti materi lantas satu kelas harus ikut kelas tambahan.

Namanya juga kuliah; kalo lo sampe telat, bolos, atau dapat nilai jelek, ya itu emang udah resiko nya. Kenapa harus panik? Kenapa harus takut? Pilihan telah diambil, dan kita harus bertanggungjawab atasnya; baik kepada diri sendiri, keluarga, kantor (bagi mereka yang memperoleh beasiswa), kampus, masyrakat (dalam bentuk partisipasi aktif) dan, tentu saja, kepada Tuhan.

Life is a matter of choices.
Take your chances,
and be committed to it.

Tapi yah, mo gimana lagi? Gue sih tetap masih pilih “slip gaji” daripada nilai. *grin! And the classmates laugh.
 

Sampoerna Strategic Square, Tower B, 9th Fl.,
Prapatan Sudirman-Cassablanca,
Jakarta
Saturday, Nov 03, 200709.58 am

Related Article:

 
Notes:

1)     Photo courtesy of TLT, Oct 06, 2007. Disclaimer: only served as an illustration.

2) As informed by a close friend, ie her Dad, a prominent business man in Indonesia’s energy industry was standing close by the preparation stage of the program. He even got further by planed to send her younger daughter (also a friend of mine) to enroll for the upcoming class next year. Can hardly wait for that!

3)     Another one hell of a kind were the admission tests of:

  • The place where I am working for now
  • PricewaterhouseCoopers (I got in!)
  • KPMG (because I didn’t come from a certain race *wink2!:p)
  • Philip Morris aka Marlboro (they said that I wasn’t into Sales Area Mgmt)
  • Bank Indonesia, Pertamina, McKinsey… ugh, they didn’t even invite me, heuhehe..

ReviewAjakan Mengukir Sejarah Bagi Alumni Muda ITBNov 14, '07 10:41 PM
for everyone
Category:Other

Deklarasi, mengingatkan gue pada Sumpah Pemuda, hahaha. Ternyata ujung2nya "cuma" sekedar pernyataan dukungan - mirip kampanye parpol. Yah, secara Pemilu Nasional memang sudah membayangi pula.. dan biasanya IA-ITB termasuk yang paling aktif di sana :p

Dan walaupun ujungnya forward email di bawah telah diembelembeli disclaimer bahwa pernyataan ini terbuka untuk semua BUKAN hanya mantan aktipis (pake “P”), ex KM, ex Ketua Himp, dan sejenisnya; tetap tendensi, setting, dan euforia telah dibangun untuk mengarahkan persepsi calon customer (baca: menjaring calon partisan) bahwa pilihan ini adalah tindakan yang paling sesuai akal sehat yang cerdas maupun dengan semangat reformasi yang dulu pernah digulirkan di Kampus Ganesha. Coba lihat pada deretan nama2 para pendukung yang semuanya merupakan professional muda yang masa depan nya menjanjikan. Atau lembaga2 tempat mereka bernaung (hints: lihat pada tanda tangan pengirim email asli).

Singkatnya tag line yang coba dijual adalah, anak ITB gitu lhoo.. Dan meminjam romantisme Angkatan'28, Angkatan'45, Angkatan'66, Angkatan'74, serta Angkatan'78 yang menggelora serta pernah mengharu biru perjalanan bangsa -- inilah dia wajah baru Angkatan'98, yang secara sadar maupun tidak sadar telah menceburkan diri ke dalam dunia profesional yang menantang dan "menghasilkan". *grin

Terlepas dari dukung mendukung (gue nggak mendukung siapa2), pertanyaan nya yang mengganjal sekarang adalah: etiskah tindakan ini?. I am afraid NOT.

-- updated: Nov 15, 2007 - 12.42 wib
----------------------------------------------------------------

Terhadap tanggapan menarik dari salah satu penggagasnya (lihat pada kolom "reply" di bagian bawah),

Setuju bahwa terlepas dari masa lalu, apapun bentuknya, kepada kita sebagai individu khalifatullah dan komponen bangsa maupun almamater (merujuk pada adagium, "..demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater..") dituntut untuk tetap harus melakukan sesuatu. Baik sebagai sekedar demonstrasi konsistensi dulu, kini, dan esok, maupun, syukur2 perbaikan ke arah yang lebih baik.

Dan untuk dicatat, sumbangsih bukan hanya kepada mereka yang mungkin tak terjangkau bagi sebagian besar dari kita. Akan tetapi dapat dirunut mulai dari organisme terkecil yaitu diri kita sendiri, keluarga kita, orang tua kita, rekan2 sejawat, kantor, organisasi, asosiasi profesi, dst.

Hanya mohon maaf, email di bawah tetap terasa sebagai ganjalan. Terutama dengan inkonsistensi antara klaim nya sebagai cetusan suara individual yang bebas, akan tetapi malahan dibuka dengan klaim sejarah. Mengapa kepada nama2 tsb tidak dapat dibiarkan hanya sekedar sebuah nama yg anonim, apa adanya?

Maksud anonim di sini adalah bukan "tanpa nama" dalam arti sesungguhnya, tetapi lebih kepada upaya secara sadar untuk melepaskan keterkaitan (sejarah) antara nama ybs versus gelar2 yang melekat padanya. Sebagai contoh nama yang anonim

John Doe
ex mahasiswa [jurusan] angkatan 199x
ex Ketua Himp
ex leboy, oops! HHehhehe

Jadi intinya adalah cara penulisan pernyataan tsb. Soalnya dengan merujuk pada deklarasi asli, maka dugaan atau bisa jadi tuduhan bahwa ada "klaim" atas organisasi mahasiswa tertentu adalah benar adanya.

Btw, "disclaimer" itu kan pernyataan yah, semacam lingkup tanggung jawab yang dibebankan kepada ybs plus pernyataan perlepasan tanggung jawab bilamana batas lingkup tsb telah dilampaui. Dengannya lah berlaku tepat sebaliknya, yaitu "claimer" -- yg dari tadi gue jelaskan sbg "klaim" (dalam bahasa Indonesia).

Lokasi berkiprah sekarang tentu dapat dituliskan, tetapi dengan pernyataan disclaimer yang sesuai pula. Fakta jurusan saat itu juga demikian halnya; perlu disclaimer. Karena bila tidak, maka sangkaan sebaliknya alias "claimer" pun dapat dengan mudah diterapkan pada kasus ini. Dan tiada yang dapat membantahnya.

Dan siapa yang bisa membantah klaim itu? Karena sejarah, my friends, adalah milik para pemenang.


NIM. 29107xxx
terbanglah lebih tinggi
Masih Kuliah, Belum Jadi Alumni

PS:
* Catatan: dalam konteks marketing, tindakan (baca: email) tsb tidak salah
* Terlepas dari itu semua, Betty jelas terlihat sebagai calon yang paling siap. Tapi apakah dia merp calon yang paling tepat? Well, kita lihat saja nanti. Waktu yang akan membuktikan *smirk!



-------------------
From: Agung Wicaksono
Date: Nov 14, 2007 7:51 PM
Ajakan Mengukir Sejarah Bagi Alumni Muda ITB

Salam Ganesha teman-teman alumni ITB di Jakarta dan sekitarnya,

Inginkah Anda mengukir sejarah untuk pertama kalinya menghasilkan Ikatan Alumni ITB yang tidak dipimpin birokrat dan lebih bermanfaat bagi alumni? Siapa yang harus Anda pilih?

Banyak dari kita mungkin merasa kurang mendapatkan manfaat dari IA-ITB hingga kini, sehingga kurang tertarik untuk memilih. Informasi berikut ini akan berguna sebelum memilih, untuk mengakhiri IA-ITB yang selalu sarat kepentingan politik sehingga kurang bermakna bagi anggota.

Hanya kita? Alumni muda ITB ? sendirilah yang bisa mengubah IA-ITB untuk menjadi bermanfaat bagi kita dengan cara MEMBERIKAN HAK SUARA KITA?


Deklarasi Dukungan
Alumni Profesional Muda ITB Eksponen 98

Kita adalah alumni muda ITB yang pada tahun 1998:

* aktif dalam gerakan moral mahasiswa ITB untuk reformasi tanpa menjadi bagian dari salah satu kelompok politik (non-partisan) kampus maupun ekstra-kampus
* berasal dari himpunan mahasiswa jurusan yang berbasis keprofesian dan merupakan akar aktivitas mahasiswa ITB, dan sebagian diantaranya tergabung dalam forum ketua himpunan jurusan (FKHJ)
* berani dan tergerak menggulirkan perubahan ke arah yang lebih baik, demi ITB dan Indonesia yang lebih siap menghadapi keniscayaan globalisasi

Se-dasawarsa pasca meninggalkan kampus Ganesha, kita sekarang adalah Alumni:

* PROFESIONAL MUDA, yang mendambakan Ikatan-Alumni ITB yang dikelola secara profesional oleh profesional berpengalaman
* BERWAWASAN GLOBAL, yang bekerja di berbagai perusahaan, lembaga akademik, dan organisasi masyarakat di seluruh penjuru nusantara dan dunia
* BERCITA-CITA PERBAIKAN, termasuk di dalam Ikatan Alumni ITB sendiri untuk menjadi organisasi yang benar-benar bermakna bagi anggotanya

Untuk itu, diyakini bahwa pilihan yang terbaik bagi alumni ITB adalah dengan mendukung kandidat Ketua Ikatan Alumni ITB periode 2007-2011 yang berlatar belakang Profesional, berwawasan dan pengalaman Global, serta mengedepankan alumni Muda untuk membawa Perubahan bagi IA-ITB:

Betti Alisjahbana (AR 79)
Presiden Direktur IBM Indonesia

Bagaimanapun IA ITB adalah milik para alumni ITB. Sudah seyogyanya alumni turut serta aktif dalam IA-ITB dimulai dengan menyalurkan suaranya demi perubahan. Oleh karena itu kami mengajak rekan rekan alumni ITB untuk memberikan hak suaranya pada kongres IA-ITB tanggal 17 November 2007 di tempat pemilihan di berbagai kota. Mari kita dukung perubahan. Jangan biarkan kesempatan itu terlewatkan begitu saja. Perubahan dapat dimulai dari suara yang anda titipkan.

Silakan tambahkan nama Anda di bawah dan mohon sebarkan di mailing-list jurusan dan angkatan...........

1. Agung Wicaksono (TI95, MTI), Singapura
2. Ahmad Ulya (PN95, KMPN), Jakarta
3. Gema Sakti Raspati (TL95, HMTL), Trondheim, Norwegia
4. Budi Aprianto (IF95, HMIF), Singapura
5. Sony ?Asgar? Herdiana (PL95, HMP Pangripta Loka), Australia
6. Farchad Husein Mahfud (TK95, Himatek), Amsterdam, Belanda
7. Irham Nusaly (MS95, HMM), Jakarta
8. Diko Oesman (MS95, HMS), Jakarta
9. Andhie Wicaksono (AR95, IMA-G), Dubai, United Arab Emirates
10. Bimo H. Purbo (MS94, HMM), Jakarta
11. Enda S. Nasution (SI94, HMS), Jakarta
12. Willy Derbyanto (FI94, Himafi), Bandung
13. Yunandar REP (FT94, HMFT), Jakarta
14. Dhany Haryanto (TA94, HMT), Bandung
15. Suhanto (PN96, KMPN), Jakarta
16. ??????? silakan lanjutkan bagi semua (tidak hanya mantan ketua himpunan jurusan) alumni muda ITB berjiwa profesional dan ingin perubahan

Vote No. 1 (Betti Alisjahbana)
Untuk IA-ITB yang Lebih Profesional, Siap Global dan Peduli yang Muda!
http://betti-alisjahbana.blogspot.com

Agung Wicaksono, Dr. oec HSG (prom. 2008)
Visiting Associate - Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapore
Mobile: +62-818* (Indonesia)


Blog EntryTennis, Cross Country – what else?Nov 3, '07 4:56 AM
for everyone

 

Kamis kemarin, gue baru saja melakukan hal yang selama ini gue pikir nggak mungkin untuk dilakukan; olahraga (cukup) berat sebelum kuliah (malam).

Jangan bayangkan itu kaya indoor sports kaya di berbagai gym yang fully air conditioned dan diduga lebih menyegarkan mata daripada raga itu (heuehe..), tapi ini olah raga di luar ruangan. Tenis, coy! Akhirnya.. 

Biar kulit bisa bernafas dengan alami, katanya. Atau bisa jadi seperti NANS yang bilang bahwa efek aerobiknya itu jauh banget bedanya. And yeah, I prove it myself, and she was correct for sure! 

Love this sports much, but somehow didn’t do it for quite a long time. Terakhir kali gue mengayunkan raket tuh udah sejak, umm.. (ngitung2 bentar) 20 tahun lalu! Whoa! It’s about time, I guess? 

Kenapa tadinya gue kira kagak mungkin? Selama ini gue sangka gue bakal langsung kelenger atau minimal kuliah jadi ndak konsen gara2 kecapekan plus ngos-ngos an. Ternyata oh, ternyata.. yang ada gue malah ngerasa segar bugar sepanjang malam. Bahkan hingga saat kelas berakhir jelang tengah malam pun, kaya nya masih pengen nambah lagi tuh!:p 

And now, can hardly wait for my Cross Country cycling course on next Sunday, and what effect it may cause to my next classes! Hmmm… 

Friday, Nov 02, 200708.22 am
© terbanglah lebih tinggi


PS: Photo courtesy of a friend, Sentul highlands,  071104  pagi2





Blog EntryHalo-halo.. Mentari,Sep 27, '07 6:44 AM
for everyone

 

 

Barusan ada beberapa rekan yang panik dan ribut2 soal fenomena matahari yang menakjubkan, tapi mungkin menakutkan buat sebagian orang. Yaitu adanya cincin cahaya yang berpendar di sekeliling bulatan matahari, yang tampak lebih besar (atau lebih dekat) daripada biasanya. Saking takutnya, mereka bahkan sampai hati untuk menyebarkan ketakutan tersebut lebih jauh, lengkap dengan “bukti” foto2. Tapi adakah demikian adanya?

 

Tenang aja. Itu kejadian biasa kok, dan bukan hanya baru saja terjadi atau baru kali ini terjadi; tapi udah sejak zaman baheula. Namanya "Efek Halo".

 

Dan itu bukan gara2 mataharinya, tapi akibat pembiasan sinar mentari melalui lapisan atmosfer bumi. Akibatnya, matahari SEOLAH2 memiliki cincin cahaya di sekitarnya. Padahal sebenarnya tidak. Ini bisa dibuktikan dengan cara melihat matahari melampaui atmosfer (baca: dari ruang angkasa).

 

Pada zaman dahulu saat ilmu astronomi belum berkembang dan Matahari masih dianggap sebagai perwujudan Yang Maha Kuasa, orang2 sangat takjub melihat fenomena "ajaib" ini (quote-unquote), dan mereka mengkaitkannya dengan sesuatu yang bersifat ke-Ilahi-an; kekuatan, keagungan, dan kesucian. Jejak dari anggapan ini masih bisa dilihat dengan adanya gambar "lingkaran halo" di belakang gambar/lukisan kepala tokoh2 yang dianggap suci.

 

Tapi kalau ternyata sampe ada situs berita yang bilang bahwa ini baru terjadi kali ini, ohh..pleaseeee..., sengaja mau ngetop dengan numpang pada kepanikan orang awam ya? *geleng2 kepala dengan prihatin

 

Ngomong2 soal ketakutan, ahh.. siapa bilang cuma zaman dulu? Buktinya sekarang aja masih banyak yang panik dan buru2 bertobat, hehe.. Mbok ya kalau bertobat tuh nggak usah nunggu kiamat sudah dekat dulu, gitu lhoo.. *grin

  

 

Thursday, Sep 27, 2007 - 13:59 wib

© terbanglah lebih tinggi

JKT 12870 Pancoran

 

 

Note:

Gambar diambil dari internet. Pemotretan dilakukan di BRI Tower, Jalan Asia Afrika, Bandung

 

 


Blog EntryHE-the-astonishingly-uneducatedSep 27, '07 6:43 AM
for everyone

 

 

"Mr. President, you exhibit all the signs of a petty and cruel dictator. You are either brazenly provocative or astonishingly uneducated. I doubt that you will have the intellectual courage to answer these questions.”

 

And this is how Lee Bollinger, the President of Columbia University, arguably one of the best university in US address his honorary invited guest. He opened the event with a 10-minute verbal assault on Ahmadinejad.

--

 

 

“If you have created the fifth generation of atomic bombs and are testing them already, who are you to question other people who just want nuclear power,” President Ahmadinejad said, adding, pointedly: “I think the politicians who are after atomic bombs, politically, they’re backwards. Retarded.”

--

 

“Do you or your government seek the destruction of the state of Israel?” Mr. Coatsworth, a university dean and moderator of the event, asked. …. “I think you can answer that question with a simple yes or no.”

 

“You ask the question and then you want the answer the way you want to hear it,” Ahmadinejad shot back. “I ask you, is the Palestinian issue not a question of international importance? Please tell me yes or no.” And the crowds appreciatively laughed in favor of Ahmadinejad.

--

 

More of the article quoted above could be found here: Facing Scorn, President of Iran Is Defiant to His Critics The New York Times, Sep 24, 2007. After blogwalked and googled around, I found that this one stood out of the crowd with its blunt journalistic honesty and reporting. And above all, it quoted the actual lines of unseen arrows exchanged between the figures mentioned above.

 

 

 

 

Never quite liked President Ahmadinejad myself, and frankly speaking, can hardly find his ideas fit well with me, nor that I’m not that into his rhetoric style.

 

But hell, yeah, I strongly disagree of the way that Bolinger verbally attacked him, the invited guest of honor, in front of so many eyes and ears of the world, on his own honorary speech podium. It is totally insane, extremely rude, and had shown a great disrespect; that at the end of the day should instead reflects the true quality either of Bolinger, Coatsworth, and perhaps the academic atmosphere itself applied there.

 

Then why did they invite him anyway in the first place? Was it because Bolinger wanted to clean his own name after that proceeding event happened? Was it because Bolinger wanted to take his chance on such a big figure like Ahmadinejad? Heaven knows.

 

One thing was clear for me: that’s all for the so called “Academic Freedom”, I guess. Shame on them.

 

 

PS:

1.      Photo taken from the New York Times

2.      HE : His Excellency

 

 

Other Publications:

1.      New York Sun: Columbia Withdraws an Invitation to Ahmadinejad

2.      The Jerusalem Post: Yays and nays after Ahmadinejad's Columbia speech

3.      etc.. try to find it yourself, there are as many items as it can be asccessed to crash one site. Very high the traffic was..

 


Blog EntryCampus Visit, anyone?Aug 7, '07 7:36 AM
for everyone

 

Terlampir jadwal ConocoPhillips Job Opening and Campus Visit utk tahun 2007

** kok nggak ada campus visit ke UNPAD yah? Hiks.:p

 

Jadi inget zaman dulu kalo nyuri2 kesempatan buat ikutan company orientation di Aula Barat ITB, mesti musti dengan mengerahkan segala daya upaya biar bisa lolos dari jebakan tim admin bagian akademik ITB yang berjaga dengan garangnya di pintu masuknya.

 

Minimal harus masuk bareng teman-teman ITB yang akan sibuk mengalihkan perhatian tim admin sementara gue ngumpet-ngumpet di belakang..ehhe, atau kalo lagi apes terpaksa sendirian, yaa.. belagak cuek ajah; pura2 nggak tahu kalo harus ngabsen & nunjukin kartu mahasiswa..hueuehehe..

 

Jakarta, Tuesday,

Aug 07, 200711.26 am

© terbanglah lebih tinggi

 

§         Alumnus Padjadjaran univ, Accounting, S1, 1994

§         Alumnus Siemens YBE-Ekonid, Industrial Mgmt Graduate Program, 1999

§         Class of 2007-2009, Master Program in Energy Management, Sampoerna-ITB School of Buss & Mgmt