Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: actual event

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag actual event
ReviewReviewReviewReviewReviewtentang Sophan SophiaanMay 18, '08 7:16 AM
for everyone
Category:Other

Sabtu pagi kemarin, seorang baik telah berpulang mendahului kita semua. Sophan Sophiaan, meninggal di atas motor Harley-Davidson kesayangannya, karena mengalami kecelakaan di Ngawi saat sedang mengemban tugas Negara; mengawal kirab dalam rangka peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Detil peristiwa itu tentu semua sudah tahu. Tapi mengapa kebesaran nama nya begitu menjulang, mungkin banyak yang belum paham. Dan karenanya bertanya2 untuk apa semua penghormatan dan kehebohan yang terjadi kemarin.

Terlahir 64 tahun lalu, menikah dengan sesama artis 70-an, Widyawati, dia adalah salah satu putra dedengkot PNI. Partai Nasional Indonesia, Manai Sophiaan (salah seorang tokoh pergerakan yang pernah dibuang Belanda ke Boven Digul, Papua). Keturunan keluarga nasionalis tulen, dengan pendidikan baik dan kesadaran berbangsa, yang mudah2an diturunkan kepada generasi selanjutnya.

Sophan mulai mengukir nama, merasuki kenangan pribadi saya, lebih dari “sekedar” bintang film, ketika dia turut memimpin demonstrasi besar pertama pada tahun2 terakhir perjalanan Soeharto. Demonstrasi yang kemudian berujung pada “Peristiwa 27 Juli 1996”, penyerbuan dan pengambilalihan berdarah atas markas besar PDI di Jl Surabaya, Menteng, Jakarta. Hari kelabu yang membuat semua orang yang berteriak, di Medan Merdeka bersama Sophan dan kawan, maupun di kampus2 Indonesia yang mulai beriak, tersungkur atau tiarap, menghilang atau menghindar. Hari saat tank2 menggelinding di jalanan kota, dan pasukan berderap mendekati kampus2 negeri.

Pada akhirnya Sophan memilih untuk keluar dari sistem; tahun 2002 dia mengundurkan diri dari DPR, tidak jadi “di-duta-besar-kan”, kemudian, secara fenomenal, pada 2005 lantas memunggungi PDI-Perjuangan, partai yang turut diperjuangkannya selama tahun2 represi Orde Baru. Saya yang tidak pernah tertarik pada platform PDI-P, tetapi masih menyisakan sedikit simpati untuk idealisme beberapa pentolannya seperti alm Sophan, pada saat itu hanya bisa bergumam, habislah sudah semua, harapan untuk PDI-P yang lebih baik.

Sophan, seperti alm Soe Hok Gie (inisiator pergerakan mahasiswa 1966) adalah seorang yang sangat lurus, membentur segalanya, dan kurang dapat berkompromi. Segala benturan itu rupanya berpengaruh pada kesehatannya belakangan, meninggalkan bekas yang tak dapat ditutupi. Yang mungkin turut berpengaruh pada kekurangpiawaian nya dalam menghadapi hambatan lubang jalanan; baik dalam politik, maupun yang telah membuatnya tersungkur di Ngawi, sabtu kemarin.

Dalam diam di hadapan jenazah, kupanjatkan doa setulus hati baginya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga Allah SwT menerima semua amal dan ibadah mu. Selamat jalan!


Photo courtesy of TLT
Saturday, May 17, 2008, 17.24 wib


Related links:
(1) Koran Tempo
(2) Kompas



Blog EntryBear Stearns Rhapsody Apr 2, '08 10:57 PM
for everyone

 

Barusan dapat dari teman; buat selingan saja. Coba simak lyric dari Bear Stearns Rhapsody di bawah ini dan nyanyikan persis seperti lagu nya supergroup Queen, Bohemian Rhapsody. Intriguing! *grin

Supaya bisa ngakak atas joke ini, musti tahu dulu soal krisis yg lagi terjadi di Amrik. Berikut beberapa hints:

  1. Bear Stearns adalah sebuah bank investasi Wall Street yang terkena krisis yang gawat yang sedang dicoba diselamatkan oleh The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral AS).
  2. Bernanke (Ben Shalom Bernanke) adalah Gubernur The Fed, pengganti Alan Greenspan.
  3. Peloton, gue kurang jelas, tapi mungkin adalah Peloton Partners LLP, sebuah Fund Manager yang berbasis di London (atau mungkin edisi Perancis film perang ngetop; Platoon, hehehe...).

My fave line: 
"...Bernanke! Bernanke!
Can you save the whole market?"


Mantabbbbsss...!! Huhahhaha.. Emang rada meragukan nih, sosok Gubernur BI yg satu ini. Oops! I mean, head of the Fed, dheng! Hihi..


PS:

  1. Fortune Magz' cover scanned by me, as of Apr 4, 2008
  2. Queen's Picture taken from Wikipedia, as of Apr 3, 2008



Bear Stearns Rhapsody
(a.k.a. Queen’s Bohemian Rhapsody)

 Is this the real price?
Is this just fantasy?
Financial landslide
No escape from reality

Open your eyes
And look at your buys and see.
I'm now a poor boy (poor boy)
High-yielding casualty
Because I bought it high, watched it blow
Rating high, value low
Any way the Fed goes
Doesn't really matter to me, to me

Mama - just killed my fund
Quoted CDO's instead
Pulled the trigger, now it's dead
Mama - I had just begun
These CDO's have blown it all away
Mama - oooh-hoo-ooo
I still wanna buy
I sometimes wish I'd never left Goldman at all.

(guitar solo)
~~~

I see a little silhouette of a Fed
Bernanke! Bernanke! Can you save the whole market?
Monolines and munis - very very frightening me!
Super senior, super senior
Super senior CDO - magnifico

I'm long of subprime, nobody loves me
He's long of subprime CDO fantasy
Spare the margin call you monstrous PB!
Easy come easy go, will you let me go?
Peloton! No - we will not let you go - let him go
Peloton! We will not let you go
(let him go !)
Peloton! We will not let you go - let me go
Will not let you go
let me go (never) Never let you go - let me go Never let me go - ooo
No, no, no, no, No, NO, NO ! -
Oh mama mia, mama mia, mama mia let me go
S&P had the devil put aside
for me
For me, for me, for me

~~~
So you think you can fund me and spit in my eye?
And then margin call me and leave me to die Oh PB - can't do this to me
Just gotta get out - just gotta get right outta here

Ooh yeah, ooh yeah
No price really matters
No liquidity
Nothing really matters - no price really matters to me
Any way the Fed goes.....

 


Blog EntryFirst Thing FirstApr 1, '08 6:56 AM
for everyone

Agak lucu membaca artikel ini (lihat lampiran di bawah) yang berkesan membela sang menteri, secara menteri yang bersangkutan sendiri ternyata langsung …xxx.. dan malah menarik buku nya (edisi berbahasa inggris) dari peredaran (reff: koran2 edisi beberapa hari terakhir, udah baca kan?).

Apalagi pada artikel di bawah yang bersangkutan mengaku bahwa dia tidak menanggapi kegerahan tersebut. Jadi siapa yang gerah di sini; apakah WHO dan Pemerintah AS, atau malahan sang menteri sendiri? Lagipula, kalau memang buku tsb perlu direvisi dan dihilangkan dari peredaran, kenapa hanya yang berbahasa Inggris? (baca: yang relatif bisa langsung dikritisi oleh pihak-pihak yang berkepentingan di luar negeri, atau oleh mereka yang punya alternatif sumber berita/informasi).


Soal tuduhan menteri terhadap WHO dan Pemerintah AS itu sendiri sebenarnya adalah hak yang bersangkutan, sepanjang didukung dengan argumentasi maupun bukti-bukti ilmiah. Pertanyaannya sekarang, adakah (bukti-bukti) itu dituliskan dalam bukunya, tentunya dengan mengikuti kaidah-kaidah keilmuan yang sesuai, dan bukan main tuding?

Gue sendiri belum baca buku ini dan nggak tertarik pulak, terutama dengan melihat pada judulnya PLUS ngeliat ..xx.. Sang Menteri selama ini. Jadi gue nggak akan berkomentar soal pro atau kontra. Tapi alhamdulillah banget kalau ada yang berminat menyumbangkan 1 (satu) eksemplar! Hehe.

Pastinya gue akan mencoba untuk mencermati pemberitaan yang berimbang dan nggak berat sebelah.. Kita juga harus terlebih dahulu menyamakan persepsi, definisi, atau bahkan konotasi. Misalnya, apakah telah ada kesepahaman pun saling sepakat atas “kompensasi”, “konspirasi”, dan sebagainya.

Serta, yang terpenting, tidak akan terjebak hanya pada sentiment chauvinisme (baca: nasionalisme sempit) dan anti (lembaga2) asing yang ditenggarai coba ditiupkan melalui blow-up kasus ini sedemikian rupa. Atau bahkan sebagai pengalih perhatian dari hal-hal lain yang lebih realistis dan tentu lebih mendesak untuk ditindaklanjuti; sesuai job-desk Sang Menteri. Seperti misalnya kasus kontaminasi susu Formula oleh bakteri Enterobacter Sakazakii yang sedang ramai dan meresahkan itu.*grin


Juga, jangan sampai demi segala keributan yang nggak perlu ini ternyata malah menjadi kontra-produktif atas upaya untuk mengembangkan vaksin anti virus Flu Burung. Terutama mengingat telah ada 100 orang korban tewas di Indonesia akibat penyakit tersebut, yang mendudukan Indonesia pada peringkat tertinggi sebuah Negara dengan jumlah korban tewas (akibat Flu Burung).

First Thing First, shall we?


Feb 28, 2008

20.33 wib


PS:

  1. Frasa “First Thing First” dikutip secara bebas dari judul buku laris karya Covey.
  2. Menteri Kesehatan RI, dan penangan flu burung; foto diambil dari internet.
  3. Artikel di atas merupakan komentar/tanggapan pribadi terhadap lalu lintas diskusi di beberapa mailing list maupun email beberapa rekan. Untuk informasi lebih jauh, lihat link terlampir.


Menteri Kesehatan bikin gerah WHO dan Pemerintah Amerika Serikat.

Menteri berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk
Indonesia. Menteri menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.


"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Menteri kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2). Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Menteri dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.

Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.

….
Menteri enggan berkomentar tentang permintaan Presiden yang memintanya menarik buku dari peredaran.

"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.


Majalah The Economist London menempatkan Menteri sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
"Menteri Kesehatan
Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Economist.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Menteri. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Menteri merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

 

ReviewReviewReviewReviewReviewKematian Paman GoberJan 15, '08 4:39 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Seno Gumira Ajidarma

Kematian Paman Gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "Oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah memberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hampir selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hampir selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Paman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?

"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.
"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.
"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek.
Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari
depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Paman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun mausoleum (ket: kompleks kuburan megah) di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetangga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."
"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."
"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."
"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."
"Tapi Paman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya
Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan.
Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.
" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"
"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.


Jakarta, 16 Agustus 1994
oleh: Seno Gumira Ajidarma


Baca juga:
Apakah Kasus Hukum Seseorang Perlu Diteruskan atau Tidak


Catatan

Seno Gumira Ajidarma adalah penulis Indonesia favorit gue. Dia satu di antara sedikit orang yang karya nya hampir selalu gue jadikan koleksi; nyaris tanpa kritisi, no matter what. Gue suka cara dan gaya penulisan dia, selain terutama keliaran imajinasi sekaligus juga kelihaian nya dalam bermetafora. Salah satu contoh terbaik adalah soal Paman Gober ini.

Dikutip dari Art Culture, beliau dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Pendidikan tingkat Sarjana (S1) ditempuh di Fakultas Film & Televisi, IKJ, kemudian tingkat Magister (S2) Ilmu Filsafat, di Universitas Indonesia, untuk kemudian tingkat Doktoral bidang Ilmu Sastra pada universitas yang sama.

Karya-karya penulis cerita pendek yang sejak 1985 bekerja di majalah “Jakarta-Jakarta” ini antara lain: Mati Mati Mati (1978), Bayi Mati (1978), Catatan Mira Sato (1978), Manusia Kamar (1978), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994; kumpulan cerita pendek terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), dan sebagainya. Cerpen-cerpennya hampir setiap tahun terpilih masuk dalam antologi cerpen terbaik surat kabar itu. Pada 1995 ia memperoleh penghargaan SEA Write Award.

Yang menjadi kenangan sepanjang masa sekaligus buku pertama dia yang gue baca adalah Sepotong Senja untuk Pacarku. Buku ini menggetarkan pun tak terlupakan. Menjadi salah satu judul buku yang gue sebutkan sebagai paling favorit dalam profil Friendster gue..*grin

Adapun yang paling mengesankan buat gue adalah Jazz, Parfum, dan Insiden (1992) – yang banyak disebut-sebut sebagai catatan non jurnalistik (baca: “tidak-layak-muat” di media) atas kejadian di Timor-Timur saat propinsi tersebut masih bergabung dengan Indonesia. “Seri Timor-Timur” ini dituangkan dalam bentuk trilogi Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).

Trilogi buku yang terakhir ini seringkali menjadi topik pembahasan kelompok diskusi gue semasa kuliah di Bandung, dan terutama saat, kalau boleh mengutip jurnal Soe Hok Gie, hari-hari menjelang taufan di dunia mahasiswa.

Lebih jauh tentang Seno maupun karya-karya nya yang lain, silahkan lihat ke : Seno Gumira Ajidarma. Foto terlampir maupun artikel di atas diambil dari website tersebut.




Apakah kasus hukum seseorang, siapapun dia dengan tanpa merujuk pada satu orang tertentu, perlu diteruskan? Terlepas dari kondisi sakit atau tidaknya, berjasa atau malah bersalah, terkemuka atau tercela; akhir-akhir ini banyak rekan, kolega, maupun media massa yang melontarkan pertanyaan abadi tersebut.

Macam-macam alasannya. Yang belas kasihan lah. Yang mengingatkan soal jasa-jasa yang telah lalu lah. Yang sebagai ucapan terima kasih lah. Yang mengajukan usul soal “win-win solution” lah (ie. “win-win solution” berarti bila telah disetujui kedua belah pihak, kutipan bebas dari sebuah wawancara M*tr* TV, Jan 12, 2008, tengah hari). Yang menunjuk hidung orang lain lah, dan masih banyak lagi. Pun juga yang berpendapat persis sebaliknya.

Di lain pihak, masalah hukum sebenarnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) hal, yaitu Pidana dan Perdata. Maafkan saya yang awam ini, tetapi sejauh yang saya tahu, Pidana, berbeda dengan Perdata, tidak perlu melalui dan/atau memenuhi unsur pelaporan. Sementara bicara soal pertanggungjawaban, Pidana hanya terbatas pada unsur pelaku nya sendiri. Misal:

#         maling ayam yang digebuki ya malingnya bukan anaknya, apalagi ayam nya :p

#         pemberontakan yang dihukum ya yang berontak bukan keponakannya,

Sementara Perdata dapat diperluas hingga ke lingkungan (misal koruptor di Cina dihukum gantung lengkap dengan anak istrinya yang notabene ikut menikmati kekayaan tersebut).

Lantas bagaimana?

Yah, bila memang kita mengaku sebagai seorang Pancasilais dan pembela Konstitusi, mari masing-masing dari kita melepaskan tutup mata, tutup telinga, dan tutup mulut kita; kembali kepada hukum tertinggi negara ini, yaitu UUD 1945.

Reff:
"..UUD 1945, Pasal 27, (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. (2) ..."

"fiat justitia et pereat mundus"
sampai langit runtuh pun keadilan tetap harus ditegakkan
* dari Fika Fawzia, thanks!


Jakarta, Sabtu, 12 Jan 2008
12.36 wib



Baca juga:
Kematian Paman Gober,
oleh Seno Gumira Ajidarma


 




 
Tadi malam, sementara bokap dan adik gue sibuk nonton siaran langsung sepak bola, gue dan mbak gue berebut penguasaan atas channel di TV set lain. Gue sedang ingin mengejar ketertinggalan gue dalam dunia perfilman (baca: menikmati koleksi DVD gue, hehe), sementara si mbak kepengen banget liat hasil akhir pertempuran antar para idols tingkat Asia yang dinanti.

Memang RCTI hebat; demikian banyak yang berkata, nggak cuma bisa menikmati keuntungan dari rating tinggi dan pendapatan iklan yang selalu No.1, tetapi ternyata juga bisa membela nama bangsa dan Negara dengan ajang seperti itu. Heee?? Membela nama bangsa dan Negara, katanya? Gue cuma bisa mengerutkan alis dan segera menyingkir dengan sebuah buku di genggaman. 

Hasil akhir pertarungan itu sudah digelar. Dan ya, hari ini hampir seluruh dunia memaki atas kemenangan negara tetangga pada Asian Idols semalam. Kalaupun tidak sampai memaki, minimal mereka mengeluhkan hasilnya. Hanya tahu bahwa “pokoknya”…titik, tanpa peduli apapun no matter what. Hanya ada beberapa yang menjadi pengecualian (and I salute you!)

Kesimpulan yang menarik dari seorang rekan, bahwa mungkin dia menang karena penduduk negeri nya lebih peduli pada acara ini. Atau diduga keras bukan soal kepedulian, tetapi karena mereka lebih memiliki “disposable income” untuk mengirimkan sms lebih banyak, pikir gue dalam hati. Sedangkan siapa pun tahu; pemenang acara ini ditentulan oleh favoritisme pemirsa yang dibuktikan dengan jumlah sms yang diterima atas nama idols pilihannya.

Waitaminute! Jadi lomba nyanyi ditentukan oleh sentimen pemirsa, dan bukan penilaian professional para juri? Jadi juri2 itu ngapain aja ngejogrok makan gaji buta di depan kamera sambil pringas-pringis begitu dan ngasih komentar2 yang (sebagian) nggak jelas?

Ini bener2 ngingetin gue pada pemenang Idol2an pertama, si Delon siapa tuh; yang terpilih "cuma" gara2 kehidupannya pribadi nya sebelum ikutan lomba ini yang, uhm, kurang memadai. Dan justru dia jadi tambah ngetop, dan sekaligus salah satu hal utama yang bikin gue tambah ilfil pada acara2 sejenis adalah, karena kehidupannya itu malah lantas justru di-eksploitasi demi menggugah simpati pemirsa. Ini sama aja seperti salah satu peserta yang kebetulan tuna netra dalam acara serupa “Mama Mia" nya Indosiar; begitu kemungkinan kalah membesar, dia nangis2 bombay, dan malah di-shoot kamera. Hasilnya? Nggak jadi tereliminasi dunks! (Kenapa nggak pake istilah terminasi, sih, biar kaya’ Terminator? Hehe..) Lagian, masa sih lo nggak kasihan sama kandidat yang buta itu? Demikian beberapa pernah membela diri.

Seolah pemirsa dipaksa menjadi bodoh untuk memilih sang pemenang Lomba Nyanyi semata karena faktor kasihan, atau, makin kesini, karena faktor primordialisme alias kesamaan daerah/suku/agama; dan bukan karena hal yang semestinya dinilai pada sebuah Lomba Nyanyi (correct me if I’m wrong):

  • suara yang bagus,
  • performa panggung nan memukau, dan
  • kemampuan teknis olah vokal yang mumpuni.
  • syukur ditunjang penampilan menawan

Kategorisasi yang kejam? Mungkin. Tapi itu fakta. Dan yaa, semua juga bisa bersikap defensif atas komentar di atas dengan beralasan chauvinist: ..dan Indonesia memilih.. Tapi mbok ya kasihan sama para juara idol2an itu.. Dengan semangat percaya diri yang melimpah sebagai alumnus Idols yang (pikirnya) dipuja2 seantero negeri yang sakit, mereka akan segera menemui kenyataan pahit saat mulai melempar album dan/atau singles mereka. Penolakan pasar.

Okelah, mungkin pada awalnya mereka akan didukung oleh groupies maupun penggemar fanatik mereka; yang bersedia memamah-biak tanpa pikir atas apapun yang mereka umpankan ke pasar. Di sini eksplotasi atas prinsip andalan mayoritas bangsa ini, prinsip pokoknya. Misal: “..pokoknya si A”, atau “..pokoknya suku B..” akan dengan sangat tepat mendapatkan pembuktian dan justifikasinya.

Tapi cepat atau lambat mereka pun akan tahu di mana tempat mereka yang sebenarnya dalam industri musik yang kejam dan tanpa ampun. Dan kejatuhan dari ketinggian seperti itu, tentunya akan terasa jauh lebih sakit. Terutama karena para fanatikus tersebut akan segera melupakan mereka, untuk kemudian beralih pada bintang2 baru berikutnya; tanpa beban, tanpa rasa bersalah. Dan mereka pun tenggelam di dalam lembah kehancuran yang digali oleh penggemar mereka sendiri.

Dan tanggung jawab itu pun terhenti hanya pada sekian sms yang pernah terkirim.

Dalam hal ini, mungkin justru Joi (idols pertama yang memilih mencopot gelar daripada terjebak di dalam ikatan kontrak) lah satu2nya yang dapat melihat ke depan dengan jernih. And for that courageous action, I salute her. 
 

Jakarta, Monday,
Dec 17, 2007 - 15.30 wib
© terbanglah lebih tinggi


PS:
Gue kok jadi lupa ya, kapan terakhir kali gue nonton TV.. heheh. Dont have that much time to be wasted on it. I almost hate that magical box anyway.. :p
 


ReviewAjakan Mengukir Sejarah Bagi Alumni Muda ITBNov 14, '07 10:41 PM
for everyone
Category:Other

Deklarasi, mengingatkan gue pada Sumpah Pemuda, hahaha. Ternyata ujung2nya "cuma" sekedar pernyataan dukungan - mirip kampanye parpol. Yah, secara Pemilu Nasional memang sudah membayangi pula.. dan biasanya IA-ITB termasuk yang paling aktif di sana :p

Dan walaupun ujungnya forward email di bawah telah diembelembeli disclaimer bahwa pernyataan ini terbuka untuk semua BUKAN hanya mantan aktipis (pake “P”), ex KM, ex Ketua Himp, dan sejenisnya; tetap tendensi, setting, dan euforia telah dibangun untuk mengarahkan persepsi calon customer (baca: menjaring calon partisan) bahwa pilihan ini adalah tindakan yang paling sesuai akal sehat yang cerdas maupun dengan semangat reformasi yang dulu pernah digulirkan di Kampus Ganesha. Coba lihat pada deretan nama2 para pendukung yang semuanya merupakan professional muda yang masa depan nya menjanjikan. Atau lembaga2 tempat mereka bernaung (hints: lihat pada tanda tangan pengirim email asli).

Singkatnya tag line yang coba dijual adalah, anak ITB gitu lhoo.. Dan meminjam romantisme Angkatan'28, Angkatan'45, Angkatan'66, Angkatan'74, serta Angkatan'78 yang menggelora serta pernah mengharu biru perjalanan bangsa -- inilah dia wajah baru Angkatan'98, yang secara sadar maupun tidak sadar telah menceburkan diri ke dalam dunia profesional yang menantang dan "menghasilkan". *grin

Terlepas dari dukung mendukung (gue nggak mendukung siapa2), pertanyaan nya yang mengganjal sekarang adalah: etiskah tindakan ini?. I am afraid NOT.

-- updated: Nov 15, 2007 - 12.42 wib
----------------------------------------------------------------

Terhadap tanggapan menarik dari salah satu penggagasnya (lihat pada kolom "reply" di bagian bawah),

Setuju bahwa terlepas dari masa lalu, apapun bentuknya, kepada kita sebagai individu khalifatullah dan komponen bangsa maupun almamater (merujuk pada adagium, "..demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater..") dituntut untuk tetap harus melakukan sesuatu. Baik sebagai sekedar demonstrasi konsistensi dulu, kini, dan esok, maupun, syukur2 perbaikan ke arah yang lebih baik.

Dan untuk dicatat, sumbangsih bukan hanya kepada mereka yang mungkin tak terjangkau bagi sebagian besar dari kita. Akan tetapi dapat dirunut mulai dari organisme terkecil yaitu diri kita sendiri, keluarga kita, orang tua kita, rekan2 sejawat, kantor, organisasi, asosiasi profesi, dst.

Hanya mohon maaf, email di bawah tetap terasa sebagai ganjalan. Terutama dengan inkonsistensi antara klaim nya sebagai cetusan suara individual yang bebas, akan tetapi malahan dibuka dengan klaim sejarah. Mengapa kepada nama2 tsb tidak dapat dibiarkan hanya sekedar sebuah nama yg anonim, apa adanya?

Maksud anonim di sini adalah bukan "tanpa nama" dalam arti sesungguhnya, tetapi lebih kepada upaya secara sadar untuk melepaskan keterkaitan (sejarah) antara nama ybs versus gelar2 yang melekat padanya. Sebagai contoh nama yang anonim

John Doe
ex mahasiswa [jurusan] angkatan 199x
ex Ketua Himp
ex leboy, oops! HHehhehe

Jadi intinya adalah cara penulisan pernyataan tsb. Soalnya dengan merujuk pada deklarasi asli, maka dugaan atau bisa jadi tuduhan bahwa ada "klaim" atas organisasi mahasiswa tertentu adalah benar adanya.

Btw, "disclaimer" itu kan pernyataan yah, semacam lingkup tanggung jawab yang dibebankan kepada ybs plus pernyataan perlepasan tanggung jawab bilamana batas lingkup tsb telah dilampaui. Dengannya lah berlaku tepat sebaliknya, yaitu "claimer" -- yg dari tadi gue jelaskan sbg "klaim" (dalam bahasa Indonesia).

Lokasi berkiprah sekarang tentu dapat dituliskan, tetapi dengan pernyataan disclaimer yang sesuai pula. Fakta jurusan saat itu juga demikian halnya; perlu disclaimer. Karena bila tidak, maka sangkaan sebaliknya alias "claimer" pun dapat dengan mudah diterapkan pada kasus ini. Dan tiada yang dapat membantahnya.

Dan siapa yang bisa membantah klaim itu? Karena sejarah, my friends, adalah milik para pemenang.


NIM. 29107xxx
terbanglah lebih tinggi
Masih Kuliah, Belum Jadi Alumni

PS:
* Catatan: dalam konteks marketing, tindakan (baca: email) tsb tidak salah
* Terlepas dari itu semua, Betty jelas terlihat sebagai calon yang paling siap. Tapi apakah dia merp calon yang paling tepat? Well, kita lihat saja nanti. Waktu yang akan membuktikan *smirk!



-------------------
From: Agung Wicaksono
Date: Nov 14, 2007 7:51 PM
Ajakan Mengukir Sejarah Bagi Alumni Muda ITB

Salam Ganesha teman-teman alumni ITB di Jakarta dan sekitarnya,

Inginkah Anda mengukir sejarah untuk pertama kalinya menghasilkan Ikatan Alumni ITB yang tidak dipimpin birokrat dan lebih bermanfaat bagi alumni? Siapa yang harus Anda pilih?

Banyak dari kita mungkin merasa kurang mendapatkan manfaat dari IA-ITB hingga kini, sehingga kurang tertarik untuk memilih. Informasi berikut ini akan berguna sebelum memilih, untuk mengakhiri IA-ITB yang selalu sarat kepentingan politik sehingga kurang bermakna bagi anggota.

Hanya kita? Alumni muda ITB ? sendirilah yang bisa mengubah IA-ITB untuk menjadi bermanfaat bagi kita dengan cara MEMBERIKAN HAK SUARA KITA?


Deklarasi Dukungan
Alumni Profesional Muda ITB Eksponen 98

Kita adalah alumni muda ITB yang pada tahun 1998:

* aktif dalam gerakan moral mahasiswa ITB untuk reformasi tanpa menjadi bagian dari salah satu kelompok politik (non-partisan) kampus maupun ekstra-kampus
* berasal dari himpunan mahasiswa jurusan yang berbasis keprofesian dan merupakan akar aktivitas mahasiswa ITB, dan sebagian diantaranya tergabung dalam forum ketua himpunan jurusan (FKHJ)
* berani dan tergerak menggulirkan perubahan ke arah yang lebih baik, demi ITB dan Indonesia yang lebih siap menghadapi keniscayaan globalisasi

Se-dasawarsa pasca meninggalkan kampus Ganesha, kita sekarang adalah Alumni:

* PROFESIONAL MUDA, yang mendambakan Ikatan-Alumni ITB yang dikelola secara profesional oleh profesional berpengalaman
* BERWAWASAN GLOBAL, yang bekerja di berbagai perusahaan, lembaga akademik, dan organisasi masyarakat di seluruh penjuru nusantara dan dunia
* BERCITA-CITA PERBAIKAN, termasuk di dalam Ikatan Alumni ITB sendiri untuk menjadi organisasi yang benar-benar bermakna bagi anggotanya

Untuk itu, diyakini bahwa pilihan yang terbaik bagi alumni ITB adalah dengan mendukung kandidat Ketua Ikatan Alumni ITB periode 2007-2011 yang berlatar belakang Profesional, berwawasan dan pengalaman Global, serta mengedepankan alumni Muda untuk membawa Perubahan bagi IA-ITB:

Betti Alisjahbana (AR 79)
Presiden Direktur IBM Indonesia

Bagaimanapun IA ITB adalah milik para alumni ITB. Sudah seyogyanya alumni turut serta aktif dalam IA-ITB dimulai dengan menyalurkan suaranya demi perubahan. Oleh karena itu kami mengajak rekan rekan alumni ITB untuk memberikan hak suaranya pada kongres IA-ITB tanggal 17 November 2007 di tempat pemilihan di berbagai kota. Mari kita dukung perubahan. Jangan biarkan kesempatan itu terlewatkan begitu saja. Perubahan dapat dimulai dari suara yang anda titipkan.

Silakan tambahkan nama Anda di bawah dan mohon sebarkan di mailing-list jurusan dan angkatan...........

1. Agung Wicaksono (TI95, MTI), Singapura
2. Ahmad Ulya (PN95, KMPN), Jakarta
3. Gema Sakti Raspati (TL95, HMTL), Trondheim, Norwegia
4. Budi Aprianto (IF95, HMIF), Singapura
5. Sony ?Asgar? Herdiana (PL95, HMP Pangripta Loka), Australia
6. Farchad Husein Mahfud (TK95, Himatek), Amsterdam, Belanda
7. Irham Nusaly (MS95, HMM), Jakarta
8. Diko Oesman (MS95, HMS), Jakarta
9. Andhie Wicaksono (AR95, IMA-G), Dubai, United Arab Emirates
10. Bimo H. Purbo (MS94, HMM), Jakarta
11. Enda S. Nasution (SI94, HMS), Jakarta
12. Willy Derbyanto (FI94, Himafi), Bandung
13. Yunandar REP (FT94, HMFT), Jakarta
14. Dhany Haryanto (TA94, HMT), Bandung
15. Suhanto (PN96, KMPN), Jakarta
16. ??????? silakan lanjutkan bagi semua (tidak hanya mantan ketua himpunan jurusan) alumni muda ITB berjiwa profesional dan ingin perubahan

Vote No. 1 (Betti Alisjahbana)
Untuk IA-ITB yang Lebih Profesional, Siap Global dan Peduli yang Muda!
http://betti-alisjahbana.blogspot.com

Agung Wicaksono, Dr. oec HSG (prom. 2008)
Visiting Associate - Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapore
Mobile: +62-818* (Indonesia)


ReviewReviewReviewReviewReviewSurat Terbuka untuk Gubernur Foke, JakartaOct 25, '07 4:08 AM
for everyone
Category:Other

Can hardly write in more complete terms and better language. Do you share the same concern about our new Jakarta governor and, especially, his potential and upcoming effort to make our beloved Jakarta become a better place to be lived in? Please.
---------


Surat Terbuka untuk Gubernur Foke
Tulus Abadi - Sabtu, 20 Oktober 2007
selengkapnya, klik di sini


Eric Penalosa, mantan Wali Kota Bogota, Kolombia, dalam sebuah seminar di Jakarta, melontarkan kritik keras soal kondisi Kota Jakarta. Menurut dia, Jakarta tak ubahnya sebuah kota yang sakit. Kondisi itu bukan karena Jakarta sedang dilanda wabah demam berdarah atau flu burung, melainkan karena Jakarta terlalu banyak dipenuhi mal dan pusat belanja. Sebaliknya, di Jakarta sangat minim tempat yang bisa dijadikan publik untuk berkumpul secara bebas (public space).

Fakta ini sungguh paradoks, karena bagi mantan gubernur Sutiyoso, banyaknya mal dan pusat belanja justru diklaim sebagai sebuah prestasi yang membanggakan dalam membangun Jakarta sebagai kota supermodern. Target Sutiyoso, Jakarta harus memiliki 200 mal dan pusat belanja, sebagaimana di negeri jiran, Singapura.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan Sutiyoso yang berkiblat ke Singapura untuk urusan mal dan pusat belanja. Tapi seharusnya Sutiyoso tidak hanya mengadopsi sisi komersial dari negeri kecil itu. Sebab, selain marak mal dan pusat belanja, Singapura mengembangkan public space secara proporsional. Ini yang tidak diadopsi oleh Sutiyoso.

Relevan dengan situasi tersebut, Fauzi Bowo (Foke), yang baru saja dilantik menjadi orang nomor wahid di Jakarta, menetapkan menyembuhkan penyakit kronis Kota Jakarta sebagai agenda utama. Pasalnya, senapas dengan Eric Penalosa, yang sukses menjadikan Bogota sebagai kota manusiawi (human city) berkat kepemimpinan politik (political leadership) yang kuat, yaitu setelah mengantongi kemenangan 60 persen suara via pemilihan umum langsung. Dengan modal politik inilah Penalosa mendapat kepercayaan dan dukungan publik untuk membongkar ulang tata kotanya. Analog dengan Penalosa, kini modal politik itu juga dimiliki oleh Fauzi Bowo, setelah meraup suara 57,78 persen suara dalam pemilihan kepala daerah yang lalu. Artinya, sebagaimana Penalosa, Foke juga mengantongi kepercayaan publik yang cukup kuat untuk "mendaur ulang" pola manajemen tata Kota Jakarta. Foke tidak perlu gamang menganulir rencana kebijakan Sutiyoso yang tidak sejalan dengan aspirasi publik dan tata pengelolaan kota yang berkelanjutan.

Isu ini harus digelorakan karena, jika hanya mengacu pada janji Foke dalam masa kampanye yang lalu, sepertinya tidak akan ada gebrakan radikal ala Penalosa. Via iklan politik "Solusi Fauzi Bowo untuk Jakarta" (Kompas, Sabtu, 4 Agustus), Foke hanya berfokus pada tiga kasus utama.

Pertama, untuk mengatasi banjir, dia akan mempercepat penyelesaian Kanal Banjir Timur serta normalisasi Kanal Banjir Barat dan kali-kali yang melintasi Jakarta.

Kedua, untuk mengatasi kemacetan, dia akan mempercepat ketersediaan transportasi massal dengan kapasitas yang besar dan kualitas yang prima, antara lain busway dan subway yang mampu mengangkut 60 ribu penumpang per jam.

Dan ketiga, dalam hal pendidikan, dia akan menyiapkan program prioritas untuk penuntasan wajib belajar 12 tahun, peningkatan mutu lulusan sekolah dasar/sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan (standar internasional) serta meningkatkan kompetensi guru (standar Asia).

Jika hanya mendasarkan pada tiga program itu--sebagaimana yang tertuang dalam iklan politik, hakulyakin Foke tidak akan dikenang publik sebagai gubernur yang "menyejarah". Sekalipun busway, monorel, subway, serta percepatan pembangunan Kanal Banjir Barat/Timur sukses, warga Jakarta akan mencatat bahwa itu "karya" Sutiyoso.

Banjir dan kemacetan lalu lintas jelas merupakan "megakasus" yang harus mendapatkan prioritas tertinggi untuk segera dibereskan. Persoalannya, penyakit kronis Kota Jakarta bukan hanya itu: bukan hanya banjir dan macet an sich! Masih ada sederet penyakit kronis lain--yang secara sosio-kultural akan menjadi bom waktu yang tidak kalah mengerikan ketimbang "megabanjir" dan "megamacet". Sebagaimana Jakarta menyontek bus rapid transit ala Transmilenio Bogota, seharusnya Fauzi Bowo juga mengadopsi gerakan radikal ala Penalosa.

Apa sajakah gerakan radikal Penalosa dalam memanusiawikan Kota Bogota yang semula terkenal barbar? Salah satunya membangun tempat-tempat publik secara meluas. Di Bogota, taman-taman kota terbentang begitu luas. Dengan taman kota itu, warga kota dapat secara leluasa bercengkerama dengan keluarga dan kerabat, berolahraga, serta aktivitas lainnya. Karena itu, tidak ada jalan bagi Fauzi Bowo untuk menganulir "nafsu" Sutiyoso agar Jakarta memiliki 200 mal dan pusat belanja. Caranya?

Pertama, Fauzi Bowo harus berani me-replace dengan memperbanyak pembangunan tempat publik yang nir-komersialisme, seperti tempat bermain, taman kota, dan lapangan untuk berolahraga. Minimnya tempat-tempat publik di Jakarta mengakibatkan warga Jakarta tidak kreatif, bahkan destruktif. Tingginya angka kriminalitas di Jakarta bukan hanya dipicu oleh faktor ekonomi dan kemelaratan, melainkan lebih karena tata ruang kota yang tidak familiar bagi warga Jakarta. Terbukti, ketika Penalosa menata ulang kotanya, angka kriminalitas di Bogota turun secara dramatis, 60 persen!

Saat ini jumlah mal dan pusat belanja di Jakarta yang sudah oversupply bukan hanya berdampak terhadap persaingan yang tidak sehat antarmal, melainkan juga menjadi "mesin pembunuh" bagi eksistensi pasar tradisional dan usaha mikro lainnya. Lebih dari itu, maraknya mal dan pusat belanja juga memicu perilaku konsumtivisme warga Jakarta. Dalam konteks agama (Islam), menjadikan mal dan pusat belanja sebagai center of activity sejatinya merupakan perbuatan yang tidak dianjurkan, bahkan harus dihindari. Rasulullah SAW menegaskan bahwa pasar (baca: mal dan pusat belanja) merupakan pusat segala kemaksiatan, karena di pasarlah terjadi aksi tipu-menipu dan penindasan manusia atas manusia (exploitation de l'home par l'home).

Kedua, mengembalikan fungsi tempat-tempat publik yang sudah ada, tapi direduksi untuk kepentingan komersial dan kepentingan lain yang menyimpang. Contohnya, jalan raya dan trotoar. Kedua wahana untuk aktivitas publik ini kini berubah menjadi "pasar". Menjadikan jalan raya dan trotoar untuk kepentingan komersial, apa pun alasannya, merupakan pengambilalihan hak-hak publik secara nyata. Apalagi luas ruas jalan di Jakarta masih sangat minim, hanya berkisar 8 persen dari total luas wilayah. Bandingkan dengan Singapura, yang luas ruas jalannya mencapai 15 persen dari total luas wilayah.

Ketiga, mengembalikan area ruang terbuka hijau (RTH) yang kini telah disulap menjadi sarana komersial. RTH Jakarta yang kini tinggal 9,7 persen harus dinormalisasi menjadi minimal 27 persen dari total luas wilayah Jakarta. Luas area RTH yang memadai, selain akan menjadi sumber resapan air tanah, akan menjadi "tempat bermain" warga kota, tanpa harus dijejali dengan kepentingan komersial. Tempat-tempat komersial, yang secara telanjang melanggar prinsip-prinsip RTH, harus dihijaukan kembali.

Pada akhirnya, Fauzi Bowo tidak akan mampu menyembuhkan penyakit Kota Jakarta jika hanya berkutat pada persoalan banjir, kemacetan, dan pendidikan. Keberadaan tempat-tempat publik yang proporsional, dari dimensi apa pun--budaya, sosial, psikologi, bahkan agama--merupakan suatu keharusan. Rujuklah tesis cendekiawan muslim kawakan Ibnu Khaldun dalam bukunya, Mukaddimah, bahwa salah satu ciri kota beradab adalah adanya tempat yang luas untuk berkumpul warganya. Ayo, Bang Foke, jangan gadaikan Jakarta hanya untuk kepentingan materialisme. Lakukan terobosan radikal ala Penalosa untuk melakukan face off (operasi total wajah) Jakarta sebagai kota sakit menjadi kota manusiawi bagi warganya. Ayo, Bang Foke, Anda bisa!

Tulus Abadi,
Anggota Pengurus Harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)



Blog EntryJadi Besok atau Lusa?Oct 11, '07 6:08 AM
for everyone

 

 

Seorang teman beberapa hari lalu, dalam pengamatannya sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor, memperhatikan adanya 3 (tiga) spanduk berbeda tentang waktu pelaksanaan Sholat Ied. Ada 1 (satu) buah di Asem Baris Tebet, 1 (satu) lagi di Stasiun Tebet, dan terakhir di Jl Supomo; yang kesemuanya menginformasikan bahwa Sholat Ied akan dilaksanakan pada hari Jumat. Meaning: one day earlier than the Government decree about Indonesia’s official Ied al-Fitr celebration.

 

Teman tersebut lantas bertanya, apakah :

 

1.      Sudah ada pengumuman resmi Pemerintah soal kapan hari Lebaran 2007?

2.      Jika ragu-ragu, apa sebaiknya kita berpuasa hingga Kamis, namun Sholat Ied pada hari Sabtu?

3.     Bagaimana kebijakan internal di kantor guna mengakomodasi mereka yang ingin melaksanakan ibadah Sholat Ied pada hari Jumat, apa perlu mengajukan cuti?

 

Well dude, gue bukan anak BDI (= Badan Dakwah Islam, organisasi penggiat aktivitas rohani ke-Islam-an di lingkungan kantor gue) nih.. hehehe. Tapi berikut tanggapan gue, aseli made in otak. CMIIW, correct me if I’m wrong.

 

Merujuk pada preseden, pengumuman resmi dari Pemerintah seperti biasa akan sangat meffett.. tapi bisa diduga bahwa pemerintah akan mengambil Sabtu, tanggal 13 Oktober, sementara Muhammadiyah, juga seperti biasa, akan lebih awal 1 (satu) hari alias Jumat, tanggal 12 Oktober.

 

Nggak usah bingung; kalau elo nyadar soal sejarah pertarungan politik Indonesia dari zaman demokrasi terpimpin dan mundur lebih jauh lagi hingga sebelum kemerdekaan, pasti elo akan paham bahwa ini semata hanyalah soal gengsi politik Muhammadiyah vs NU, yang masing2 nggak mau tunduk di bawah kaki "lawan"nya. Yah, itu menurut mereka sih. Padahal mengalah itu kan bukan berarti kalah, betul?


 

 

Sunnah Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa bilamana kita ragu, maka lebih baik bila kita tidak mengerjakan. Dengan kata lain, lo kerjakan aja mana yang elo yakini. Kalo mau ikut Muhammadiyah, monggo. Atau lebih cocok sworga manut neraka katut a’la Nadhatul Ulama? Nggak ada yang ngelarang. Atau mau yang cari aman dengan cara ikutan Pemerintah? Lha, itu emang hak sekaligus kewajiban elo sebagai Warga Negara.

 

Lantas akan timbul pertanyaan lanjutan, nanti kalo ternyata salah, gimana? Lho, itu mah udah jadi tanggung jawab mereka yang telah memegang amanah (= kepercayaan) ummat itu dong. Entah itu Muhammadiyah, Nadhatul Ulama, atau bahkan Pemerintah. Masa mereka cuma mau terima enaknya aja alias mengklaim hak nya sebagai pemimpin, tapi ndak mau terima tanggung jawab nya? Ndeso! Hhehehe..

 

IMHO dalam hal ini, Kementerian Agama, sebagai wakil Pemerintah, mempunyai hak dan sekaligus kewajiban (dengan segala tanggung jawabnya) untuk menentukan tanggal Lebaran secara seragam & serentak di seluruh wilayah Indonesia. Sementara kita sebagai umat, berhak bertanya kepada Pemerintah, sekaligus wajib mematuhi keputusan tersebut.

 

Keseragaman itu penting, bukan hanya demi kebersamaan, tetapi juga demi ketertiban umum. Analoginya, coba bayangkan, bilamana keputusan Pemerintah Arab Saudi untuk menetapkan saat wukuf ternyata ditentang oleh sebagian jemaah Haji, yang bahkan dengan degilnya lantas menentukan hari sendiri untuk wukuf. Apa nggak bakal kacau balau tuh, situasi di sana? Apalagi menyangkut 2 (dua) juta jemaah pada satu tempat sekaligus. Chaos, itu pasti. Belum lagi potensi jumlah korban yang akan jatuh akibat berdesakan melaksanakan hal yang berbeda. Naudzu billahi.. Analogi yang lebih sederhana adalah soal lampu pengatur lalu lintas (= traffic lights). Bayangkan apa yang akan terjadi bilamana saban hari kita harus menghadapi  lampu pengatur  yang berada di bawah jurisdiksi yang berbeda; satu dari  Pemerintah, satu dari Partai A, satu dari Organisasi Suku  B,  dsb.  Apa yang akan terjadi? *grin

  

Satu hal yang paling penting: konsistensi. Elo harus yakin dengan apa yang telah elo pilih itu. Bila misalnya elo telah memilih untuk akan merayakan Lebaran pada hari Sabtu sesuai dengan keputusan Pemerintah, maka pada hari Jumat, di saat ummat Muhammadiyah telah merayakan Lebaran, elo harus tetap berpuasa. Dan puasa pada hari Jumat bagi elo itu berstatus hulum: wajib. And vice versa. Sebaliknya yang berlaku bagi ummat Muhammadiyah yang sudah merayakan malam Takbiran mulai sore ini (Takbiran = semalam menjelang Hari Raya Lebaran), maka besok mereka harus tidak berpuasa. As simple as that.

 

Tidak bisa setengah-setengah cari aman seperti yang biasanya dilakukan kebanyakan orang; ber-Lebaran pada hari Sabtu, tetapi hari Jumat sudah nggak mau puasa. Itu namanya mau enaknya sendiri dong! Hehhee.. Dodol benerr.

 

Soal kebijakan kantor, tadi pagi sempat ngobrol dengan beberapa rekan yang mengaku akan merayakan lebaran per tanggal 12 Oktober, dan ternyata mereka dapat izin libur tuh, dari atasannya. Jadi rupanya kembali ke management discretion sih. FYI, gue sempat men-challenge mereka soal bagaimana cara kita membuktikan bahwa kita akan (ikut) lebaran tanggal 12 Oktober, dan mereka menjawab bahwa bos nya masing-masing ternyata menyerahkan kembali kepada kejujuran masing-masing pegawai. Well, iya juga sih, secara lapor minta izin cutinya masih dalam kondisi berpuasa, pula. Jadi kalo sampe ngibul, resiko nya ditanggung pekerja yang bersangkutan, jelas!.. *grin

 

Anyway, hawa nya udah liburan banget yaa.. Banyak yang udah cuti pula, dan hari-hari ke depan masih akan bertambah banyak lagi. Untung kuliah gue sudah diliburkan; secara tiba-tiba gue dapat limpahan kerjaan banyak banget! Coba ya; tolong itu THR nya yang lagi pada asyik cuti juga dilimpahkan ke gue, bisa nggak? *grin

 

Gimanapun, justru saat-saat seperti inilah gue jadi tambah cinta sama Jakarta; bebas polusi, nggak macet, semua orang senyum dan sabaarrrr…!!! Bila ini semua terjadi karena berkah Ramadhan, gue harap sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan..sigh. Feel missing it already, and felt that I’ve done not enough to celebrate the holy month. Forgive me, Lord.

 

Last but not least, Happy eid al-fitr, to all of you.. Taqaballahu minna wa minkum, semoga Allah SwT menerima semua amal dan ibadah kita. Dan semoga kita masih dapat berjumpa dengan kemuliaan bulan Ramadhan tahun depan, insya 4JJI.

 

 

Jakarta 12870 Pancoran

Monday, Oct 08, 200708.04 am

© terbanglah lebih tinggi

 

 

PS:

* Tulisan terkait: Bahtiar: 12 atau 13 Oktober 2007? 

* Photo courtesy of TLT, Grand Mahakam, 061013

 

 


Blog Entrythe Jakarta Jive: the Fasting FestiveOct 10, '07 2:14 AM
for everyone

 

 

Di Jakarta, atau mungkin juga di Indonesia, saban kali menjelang Ramadhan, kewajiban berpuasa sebulan penuh bagi Muslim, mesti ada kebiasaan yang sudah mendarah daging, yaitu:

 

Makan bareng; 3 hari terakhir menjelang puasa sepertinya semua jalan menjadi macet total, deh! Gue sendiri, buat 3 hari itu, udah ter-booking abis, hehhe.. Senin makan di dapsun (= dapur sunda, Pancoran), hari Selasa di Sari Kuring sebelah BEJ, eh.enggak dhing, on last minute dispute Cecille and I managed to solve our difference and relocated it to Spageddies, Senayan City. Trus hari Rabu nya ada acara dengan yang lain dan masih agak2 bingung apakah mau ke la Marche di Melia, Ritz Carlton, Hanamasa Mahakam, atau nasi padang biasa? Ehh.. akhirnya malah ke Kafe Pisa Mahakam; lumayan, itung2 lagi diskon 50% for all items selama Ramadhan. Hmmm..

 

Kadang agak bingung juga sih, kenapa yaa, semua orang makin lama makin mengganggap penting budaya makan bareng sebelum puasa ini? Segitunya, bahkan seolah-olah ini udah jadi semi wajib; so liable, that everybody seems to frantically and obliguely try to find an empty spot and moment to celebrate it. Gila, sepanjang jalan Wolter Monginsidi bukan hanya macet total, tapi bahkan sudah berubah menjadi lapangan parkir raksasa! (berlebihan deh gue, hehe..) Yang lucu, semua tempat makan penuh sesak; bahkan termasuk mereka yang pada hari2 biasa itu dilirik saja enggak. Whalah, inilah salah satu berkah (menjelang) Ramadhan, rupanya. *grin

 

Soal makan bersama itu mengarah pada kebiasaan sebelum berpuasa No.2, yaitu saling memaafkan sebelum puasa. Iya sih, itu buat silaturahmi, dan syukur2 kalau masing-masing dari kita bisa saling memaafkan sebelum Ramadhan. Jadi kita bisa memulai ibadah puasa dengan hati bersih dan pikiran jernih; bebas dari semua kesalahan, kemarahan, dan ketidakpuasan – insya 4JJI. Ini sebenarnya kencederungan baru yang sangat menggairahkan, jadi bisa memulai puasa dari titik 0 km, dalam kondisi fitrah – bersih dari segala kesalahan. Di lain pihak, ada budaya salah kaprah berupa bermaaf’an pada Hari Raya Idul Fitri (atau disebut juga ”Lebaran” dalam bahasa Jawa), yang sebenarnya bukanlah bagian dari agama, melainkan hanya budaya yang hanya ada di rumpun bangsa Melayu. Secara hukum, tidak ada hal yang semacam itu. Lagipula, apa gunanya juga ya?

 

Kebiasaan berikut, yang juga menjadi bahan canda di antara kami, para pekerja yang secara hukum beruntung karena diperbolehkan pulang pk 15.30 tetapi karena beratnya beban pekerjaan selalu tidak pernah bisa memenuhi jadwal tersebut, adalah kesempatan untuk mempraktekan apa yang kami sebut sebagai Latihan Puasa; alias beramay-ramay pulang jam 4 sore, hahahaha... Pulang tenggo, alias begitu ”teng” langsung ”go” *grin Dan puasa menjadi justifikasi yang selalu sukses. Tapi sayangnya puasa kali ini berbeda; karena bahkan pada jam segitu aja Jakarta udah macet banget! Terutama karena adanya pembangunan busway tepat di depan kantor gue di Pancoran. Menurut berita dari berbagai media, kemacetan tersebut bahkan mengular hingga sejauh Grogol dan Warung Buncit. Damn.

 

Seperti gue sebutkan sebelumnya pada "See No Evil : the Jakartans Behaviour"; metode busway itu memang suatu kesalahan perencanaan tata kota yang sangat fatal; dari seorang gubernur yang gagal, bahkan terhadap menjaga janji2nya sendiri soal Jakarta yang tidak akan banjir lagi. Sekarang dengan gubernur baru yang notabene adalah penerusnya, mari kita berdoa agar beliau adalah yang terbaik bagi Jakarta. Sigh.

 

Kebiasaan lain yang agak berbeda kali ini, oopss..mudah-mudahan tidak menjadi kebiasaan, heheh.. adalah; gempaaa...!! Wah salah, ini mah bukan kebiasaan, tapi bonus awal puasa tahun ini, hehehe.. Katanya hingga 8.2 SR dan berpusat di Bengkulu; nggak kebayang kalau letaknya lebih dekat lagi.

 

Pk 20.02 wib, dan aduh, gempa nya belum berhenti.. pusing gue ngetik artikel ini..hehe.. Lampu sudah dimatikan semua plus pintu-pintu akses dikunci juga, buat jaga2.. Setelah evakuasi dan sekitar 30 menit berdiri di pinggir jalan Gatot Subroto, gue memaksa masuk karena masih napsu mau kerja..hehehe.. Kuat juga gempa kali ini, gue aja di lt 4, semua pintu dan jendela berbunyi bergemeretakan. Gimana dengan merka yang di lt 32 kaya radio U FM yah? :p Nggak kebayang gimana tahun 2008 nanti, saat kantor gue telah pindah ke the Energy, gedung baru di belakang Graha Niaga dan di sebelah Bengkel Club, kompleks SCBD Sudirman. Katanya sih, gue bakal kebagian lantai 44. Duhh, alamat bakal copot nih dengkul kalau terpaksa harus evakuasi manual, ahhaha..

 

Anyway, kebiasaan lainnya, kalau udah menjelang puasa Ramadhan, dari dulu yang sering menjadi pertanyaan para teman adalah tentang hal-hal yang membatalkan** puasa. Dan kebanyakan teman menjadi terjebak hanya kepada sekedar menahan tidak makan dan tidak minum, tetapi melupakan hal2 lain yang nggak kalah pentingnya; yaitu ibadah horisontal – kepada sesama manusia. Harap dicatat; ibadah di sini tentunya bukan berarti kita menyembah manusia lain, tetapi lebih kepada menjaga hubungan sosial. Misalnya menahan emosi/kemarahan, tidak berbohong, apalagi korupsi, tidak bergosip, dsb. Pasti di sini banyak yang lebih tahu-lah.

 

Sayang, padahal puasa bukan cuma ’nahan lapar atau nunggang-nungging sembahyang; tanpa paham arti kecuali sekedar stempel di KTP. Maksudnya? Yaa, itu, hanya sekedar verifikasi formal-yuridis tentang agama apa yang elo anut. Eh, lo bukannya muslim; kok nggak pernah ikut pengajian sih? Atau, kaya nya saya nggak pernah liat mbak ke gereja deh, kalau hari Minggu.

 

Seolah agama yang direduksi maknanya hingga hanya sebagai penghias seremonial belaka.

 

Mengutip hasil survey dosen di kelas ”Business Ethics” gue di Sampoerna-ITB; ternyata bahwa negara-negara terkorup di dunia adalah negara yang juga dikenal sangat agamis (atau berada di bawah pemerintahan totaliter). Dan ini tentunya, berdasarkan Corruption Perceptions Index, yang termasuk juga dihuni oleh Indonesia.

 

Kembali ke soal survey dosen gue tadi (yang langsung memancing debat kusir dari para  mahasiswa kelompok kanan); bukan soal agamanya yang salah pastinya, tetapi apakah kita dapat telah dan sanggup untuk mengamalkannya dengan baik, ataukah agama hanya sekedar tinggal ritual kosong belaka? Sekedar supaya nggak diomongin tetangga karena ketahuan nggak pernah shalat atau nggak pernah ke gereja? Bahwa kita, walaupun beragama, ternyata hanyalah bentuk lain dari adagium homo homini lupus?

 

Dan puasa adalah kesempatan kita untuk berkaca dan merefleksikan diri untuk tahun yang telah lewat, my fellow humans! Semoga Tuhan menerima semua amal dan ibadah kita, insya 4JJI!


Mohon maaf atas segala kesalahan yang tidak disengaja.

 

 

Wednesday, Sep 12, 2007

Jakarta Kafe Pisa Mahakam at 12.05 wib

Jakarta 12870 Pancoran at 20.02 wib

© terbanglah lebih tinggi

 

 

Photo Credits:

Courtesy of TLT,

Ritz Carlton, Oct 5, 2007

Warung Daun, Oct 8, 2007

 

 

PS:

Kalau kesalahan yang gue sengaja ngapain minta maaf? Lha wong namanya juga “sengaja”..hehehe..

 

PS.PS.:

Puasa itu adalah disiplin diri untuk menahan hawa nafsu. Berpuasa pada tingkat yang  terendah adalah menahan nafsu duniawi; termasuk makan, minum, nggegosip, Making Love dengan suami/istri (apalagi kalau dengan suami/istri orang, haiyya..), etc Kemudian lebih sulit lagi adalah untuk menahan nafsu yang ada dalam pikiran (negative thinking, negative perception, prejudice, etc). Sedangkan tingkat yang tertinggi adalah untuk menahan nafsu di dalam hati, dan hanya para Nabi yang sanggup melakukannya

 

 

PS.PS.PS:

AFAIK dan CMIIW, yang membatalkan puasa secara hukum adalah:

§         makan & minum

§         memasukkan sesuatu ke dlm salah satu lubang di tubuh

§         ML (antara suami-istri, tentunya. Kalo TTM mah mau puasa mau kagak tetap aja ... hehe)

 

Dari situ jelas bhw berenang saat puasa nggak bakal ngebatalin puasa kita.

 

Atau kalau mau gampang, liat niatnya dulu deh; segala hal kan terpulang pada niat. Kalo niatnya olahraga atau demi kesehatan (mis. sakit asthma), kenapa enggak? Tapi kalo niatnya buat ngadem supaya puasanya nggak berasa, nahh...ini baru menjadi makruh.

 

Kalau soal air yang tertelan, please dehh..