Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: art performance

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag art performance
Photo AlbumSayang, Aku HIV, Kamu Ngapain Aja? (11 photos)May 31, '08 6:34 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Banyak hal yang benar2 tampil di luar dugaan dari pentas ini. Yang paling sial, dan karenanya layak disebutkan pertama adalah; sebenarnya gue bawa 2 (dua) baterai lithium buat kamera gue, dan dua2 nya langsung tewas hanya setelah beberapa jepretan pertama. Oh, crap! Padahal sebelum berangkat udah bad feeling buat nge-charge dulu, dan sempat di kampus seharian, tapi kenapa gue nggak peduli pada intuisi itu ya? Damn.

Kekecewaan gara2 camera-less ternyata, tanpa terduga, menjadi sangat terobati karena justru pada adegan puncak di penghujung acara, gue nggak mendengar satu pun suara shutter kamera dari para mat kodak lain; entah karena saking terkesima nya pada penampilan bagus teater ini (ini bukan pujian colongan, suer!), ketidaksiapan untuk mengambil gambar (ah, too bad!), atau … sama2 kehabisan baterai juga! Bwhahaha..

Anyway, seharusnya Rieke nggak perlu sepanik itu menanti pisau bedah komentar kami (*grin), secara penampilan panggung rekan2nya itu bener2 oke banget kok. Bahkan jauh lebih bagus daripada beberapa acara lain yang udah cukup beruntung lolos audisi buat manggung di tempat se-prestisius TIM. Pementasan ini sendiri merupakan karya I Yudhi Soenarto yang dipentaskan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dengan anggota kelompok yang rupanya terdiri dari para mahasiswa FIB (d/h Fak Sastra) Universitas Indonesia. Walau ada anggota non FIB dan bahkan non mahasiswa, cukup jelas bahwa kelompok teater ini sejatinya memang ditujukan sebagai wadah kreasi anak2 FIB UI.

Pementasan tersebut menceritakan kondisi tak terduga yang harus dihadapi 3 (tiga) pasangan berbeda, yang diupayakan untuk dapat menampilkan stereotype masyarakat kita. Kondisi berupa kehamilan yang tak diharapkan, ditambah dengan vonis HIV yang diderita. Bagaimana reaksi para suami menghadapi kenyataan (yang mempermalukan) tsb? Siapakah yang harus bertanggungjawab? Apakah solusinya HARUS dengan aborsi belaka? Adapun pasangan2 tersebut adalah:

(1) tipikal anak band/ clubbers dengan pergaulan bebas dan konsumsi narkobanya; mereka hidup bersama tanpa nikah, walau mungkin lebih setia daripada pasangan sah lainnya. Walau dulu nya masing2 mengakui kebebasannya secata implicit. Kalau di Friendster, mungkin yang begini ini layak disebut sebagai open relationship, hehe.

(2) Keluarga Kopasus (?) dengan istri ibu rumah tangga biasa. Peran Kopasus ini terlihat jelas dari corak seragam yang digunakan DAN lokasi penugasan di yang di Timika (= Papua, dekat lokasi PT Freeport Indonesia). Agak membingungkan juga kenapa harus ditendensikan sejelas itu, kecuali kenyataan bahwa salah satu ucapan terima kasih yang termuat pada booklet ditujukan pada seorang Letnan Kolonel Kopasus.

(3) Yang ketiga mungkin merupakan keluarga dambaan; istri sholihah dan suami yang ustadz sekaligus pendakwah keliling. Bila pada 2 (dua) keluarga lain, adegan KDRT (= saling menampar) ditampilkan secara gamblang, pada keluarga ini sang suami tidak mau (atau tidak berani) menampar balik istrinya. Walau mungkin ini disebabkan tingkat kebohongannya yang memang istimewa, haha.

Dari ketiga aliran tersebut, bangun cerita pun disusun dan dikembangkan. Bosan? Ah tidak. Malahan sungguh cerita yang menarik, dengan sudut pandang yang tak biasa, serta penyampain pesan (layanan masyarakat) yang sudah selayaknya. Hanya saja sepertinya itu semua ditampilkan dengan bangun cerita yang kurang menggigit. Bukan salah para pemain tentu, yang sudah membuktikan stamina dan kemampuan; tapi apakah sutradara yang kurang jeli menggali titik2 kuat dan memperbaiki titik2 lemah, ataukah penulis yang cenderung bertele2 dan terjebak pada hal2 detil yang sebenarnya tidak perlu?

Seperti sudah disebutkan di atas, secara umum penampilan mereka sangat baik; terutama mengingat panjangnya acara – hingga 3 (tiga) jam! Dibandingkan biasanya pementasan2 lain yang hanya 2 (dua) jam. Sungguh satu siksaan maut bagi saya yang kelaparan dan telah memeras otak seharian dari pagi di kampus. Posisi duduk di depan panggung pun ternyata terasa kurang nyaman dibandingkan posisi balkon. Selain potensi mengganggu penonton lain dengan pergerakan kamera yang saya lakukan. Dan banyak nyamuk! Apa mungkin karena saya langsung dari kampus ya? Haha.. Ohya, tuan putri sempat menegur soal kamera ini, dan saya pun menuruti beliau (ahem!).

Satu catatan khusus perlu diberikan pada pencitraan yang dilekatkan pada keluarga ustadz. Terlihat jelas keberpihakan penulis (dan sutradara?) pada gerakan anti poligami, yang ujung2nya tentu akan menyegarkan ingatan kita pada peristiwa A’a Gym dahulu (bagi yang ingin tahu, pendapat saya dapat dibaca di sini: Sebilah Pisau bernama Poligami). Terlepas dari kebebasan berpendapat yang dijamin dengan UU, pemberian porsi dan penekanan makna pada hal ini terasa kehilangan fokus, sangat berlebihan, dan terkesan tendensius. Tetapi mungkin saja pilihan titik berat anti poligami ini hanyalah sebuah kemasan marketing yang dipilih secara sadar, terutama bila kita menilik pada reaksi penonton yang, ternyata, rela untuk bersorak atas perilaku ustadz kita tersebut. Mungkin sebuah kekecewaan terpendam atas A’a Gym?

Kembali ke soal adegan puncak tadi, rupanya tak hendak sutradara dan/atau penulis mengagetkan penonton benar2. Bagi mereka yang jeli, tentu sudah memperkirakan aksi apa yang akan terjadi; saat salah satu tokoh utama (nicknamed: “Andi”) melampiaskan getir di hati dengan melantunkan satu lagu (suaranya bagus!) DAN lantas menghantamkan gitar akustiknya hingga berkeping ke lantai panggung!

Bagaimana memperkirakan adegan tsb? Dengan melihat personifikasi KISS, band hard rock terkenal era 70-80’an pada diri Andi; yang sayang nya; kurang halus. Yaitu dengan cat wajah “iblis” (=demon, sebagaimana vokalis KISS dahulu) dan, yang lebih kentara lagi, dengan mengenakan kaos oblong hitam bertuliskan “KISS” besar2. Tindakan ini sepertinya perlu dilakukan sebagai catatan kaki; mengingat adanya gap generasi antara sutradara dan/atau penulis versus mayoritas penonton, atau bahkan dengan para pemain sendiri.

Juga patut diduga sebagai sebuah upaya “disclaimer” bahwa mereka tidak bermaksud melakukan tindakan plagiat. Ironisnya, tuduhan plagiat itu sendiri sempat dimasukkan sebagai sebuah “sub-text” dalam salah satu dialog Andi, dan tanpa diduga berhasil memancing tawa penonton. Walau terus terang saya sangat curiga bahwa para penonton tertawa lebih pada “text” yang ditampilkan, yaitu soal serapah Rina (pasangan kumpul kebo Andi) yang menyontek makian Andi, “..taik kucing..” Tambahan; saya selalu kangen mendengar makian a’la Surabaya seperti ini, jadi, terima kasih! Hehe..

Pada akhirnya, salut untuk upaya menjelaskan, secara menarik, bahwa HIV bukan hanya akibat pergaulan bebas, tapi dapat pula melalui jarum suntik narkoba maupun transfusi darah. Mudah2an akan dapat makin meperluas pemahaman atas HIV, penyakit keren ini. Penyakit yang terlihat keren, yang kampanye nya sering dikemas secara gaul, padahal sebenarnya hanya membunuh sedikit orang; terutama bila dibandingkan dengan sakit jantung, kanker, dan tabrakan lalu lintas! Kondisi2 yang pastinya membutuhkan tindak lanjut yang lebih segera, atau bahkan kampanye kesadaran yang lebih besar.


Quote of the Night:
“… jangan terlalu sering berbohong (mas), ..sakit!..”

dengan adegan yang mengharukan saat Ratna berbisik kepada Bayu sang Kopasus, mempertanyakan kesungguhan cinta, yang tak sanggup dijawab.


Trivia:
(1) kalau tidak salah, komposisi musik banyak diwarnai oleh elemen2 musik KISS
(2) lagu penutup dibawakan dengan sangat berdedikasi lewat permainan gitar listrik scr live
(3) perpindahan adegan ditandai dengan pembekuan gerak pemain, bukti stamina yg hebat
(4) si Kopasus bertampang gahar TERNYATA menggunakan HP imut warna putih, haha


Moral of the story:
Periksa apakah kau bebas HIV atau tidak selagi dini Oops! :p

Saya sendiri? Tentu sudah periksa, dan hasilnya negatif, hehe
Bagaimana dengan Anda? *grin


EventSayang Aku HIV, Kamu Ngapain Aja?May 30, '08 4:29 AM
for everyone
Start:     May 31, '08 7:00p
Location:     Teater Kecil TIM
Teater Sastra UI
(taken from Rieke's agenda)

What will be the reaction of a husband when his wife says that she is pregnant and all at once HIV positive? Happy, angry, confused, frustrated, blaming other persons, or looking at the mirror and questioning himself?

Three husbands, three wives, one disease.

Six characters with different personalities and backgrounds are facing one and the same problem: HIV.

The Teater Sastra UI (the theatre group of the faculty of humanity of University of Indonesia) will put on stage that story with its own characteristic style. For the audience, the play maybe entertaining as well as providing a chance for contemplating.

Sutradara: I. Yudhi Soenarto.
Manajer Panggung: Azis Setiawan.
Tata Musik: Ariana Anggraeni Sarah, Avrila Bayu Santoso, Rachman C. Muckhlas.
Tata Panggung: Randy Wijaya - Tata Lampu : Jonathan.
Tata Rias & Busana: Utami Dyah.
Pemain: Nosa Normanda, Herlin Putri, Mulyadi Iskandar, Wanodya B. Pertiwi, Rahadian Adetya, Anissa Putri Ayudya.

HTM: Rp. 40.000,-
Reservasi: 08567370979

Photo AlbumTubuh Terbelah (22 photos)Mar 16, '08 2:24 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Maksud hati menonton Teater Gandrik dengan Sidang Susila nya yang juga bakal menampilkan Butet dan Ayu, terpaksa gagal total. Karena di luar dugaan, serbuan antusiasme nyaris melantakkan tempat penjualan tiket. Yang, dengan absurditas arogannya, mengumumkan bahwa pada 2 (dua) jam sebelum pertunjukkan dimulai, hanya tersisa 40 (empat puluh) buah tiket. Itupun musti duduk di tangga – apapula artinya itu – dan harus rela duduk berdua2. Selamat menikmati, untuk kalian yang datang bertiga!

Dengan mudah saya memperoleh 2 (dua) tiket; jumlah maksimal yang bisa dibeli oleh 1 (satu) orang pengantri. Tetapi bahkan sebelum saya sempat memutar kembali ke antrian paling belakang, ke-40 sisa tiket tersebut telah ludes terjual. Persis kaya' pisang goreng di musim hujan yang mengigit. Walau harus diingat rupanya di negeri ini mobil mewah juga sama laku nya kaya' gorengan, sedangkan minyak goreng curah berharga selangit memilih untuk malu2 muncul di pasar2 becek.

Sementara ke-3 angels jelita yang dinanti masih dalam perjalanan entah di mana itu menggantungkan nasib perolehan tiket malam ini kepada saya, menjadikannya tidak mungkin untuk enak2 duduk berpangku tangan merutuki nasib. Dan jadilah saya seorang calo dadakan (hey, rupanya bukan hanya ujian masuk universitas yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi calo, heuhehe); amatiran, dan dengan tanpa niat mencari keuntungan, kecuali 2 (dua) lembar tiket lainnya. Syukur2 bisa segaris dengan tiket2 yang telah saya punya, kalau mungkin jangan pula terlalu mahal.

Tapi hingga mereka, akhirnya, tiba dengan selamat di hadapan; bahkan harapan tiket tambahan hanya lah tinggal sebuah seruan utopis tak bermakna. Maka segera praktek per-calo-an dijalankan kembali, kini dengan membalik peran menjadi penjual. Dan dalam hitungan detik, semuanya selesai. Rupanya saya menyimpan bakat terpendam. Dan sepertinya, menarik juga bila calo-isme ini dijadikan profesi full time. Buat jualan minyak bersubsidi ke negeri jiran, misalnya. Atau ngasih nama calon Gubernur Bank Indonesia, mungkin? *grin

Kaki pun melangkah ke gedung sebelah, sebuah gedung teater ultra modern yang terkesan mewah dan hingga saat itu saya kira masih sebuah proses konstruksi. Sebuah atraksi yang tak kalah menariknya, walau jelas2 kurang promosi, telah menanti. Molotov Cocktail, dengan lampiran selembar gazette yang menunjukkan ketidakmengertian fatal atas arti yang dituju. Sebuah frasa yang terintegrasi sebagai sebuah kata benda bernama yang terabadikan dalam insiden musim semi Praha yang berdarah, dengan sembrono diterjemahkan menjadi 2 (dua) hal yang berbeda. Untuk lantas diproklamasikan sebagai sebuah kelahiran idiom baru. Dan mereka bangga karenanya.

Pertunjukan tersebut bagi saya lebih merupakan sebuah penjelajahan atas bunyi, gerak, bentuk, dan warna. Adapun tentang isinya, sejujurnya tidak sepenuhnya dapat saya mengerti. Dan ini cukup menyedihkan mengingat ke-3 angels di sekitar saya berhasil sepenuhnya larut dalam suasana, dan dapat mengaksentuasikan kekaguman mereka secara niscaya. Sementara saya tertinggal dalam upaya untuk sekedar menebak maupun memaksa otak yang lelah sehabis kuliah sehari penuh. Setelah sesaat menjadi bosan dengan kegagalan sinkronisasi pendengaran dengan otak maupun hati, lantas memilih untuk mencoba mengoptimalkan indera penglihatan melalui rekam rana jendela jiwa. Semoga dapat menggambarkan kenikmatan bertamasya malam itu.

Satu hal yang cukup mengejutkan; aksi gitar Toto Tewel yang fantastik ternyata dilokalisasikan di sudut kanan panggung. Artinya, sebuah diskriminasi terang2an atas pilihan tempat duduk kami, di balkon sebelah kanan. Mengapa pula mereka menjual tiket pada bagian ini, bila mereka ingin melakukan setting pertunjukan seperti itu? Pada saat ini tiada lain kecuali bergantung pada kemampuan lensa Canon dengan Live View feature nya.

Selepas acara, jangan lupa mencoba nasi goreng pinggir jalan di depan gerbang TIM. Tapi awas, kesabaran Anda akan diuji menghadapi serbuan gerombolan pengamen dari berbagai tingkat kualitas, frekuensi kemunculan, maupun gaya pemaksaan. :p


Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta
Sabtu, 23 Feb 2008 – 22.15 wib


Start:     Feb 23, '08 8:00p
Location:     Graha Bakti Budaya, TIM

Feb 23, 2008,
20.00 wib onward
at Graha Bakti Budaya TIM

Teater Gandrik dan Butet. Sepertinya oke. Tapi penulis nya Ayu Utami? Pasti soal RUU APP *grin

But dont get me wrong, I did against that unwiseful RUU. Have you read my old article on my other deactivated blog under the title of, "Mengapa RUU APP Pantas Ditolak? FYI, it was posted on Feb 23, 2006

Anyway, berhubung Jumat malam ada kuliah tambahan, gue ambil yg sabtu deh. Itupun bakal langsung dari kampus (setelah kuliah seharian dari jam 8 pagi sampe lewat maghrib, pk 18.30-an) --> weekend kok malah berpusing2 ria, hiks. Ada presentasi pulak!

Setibanya di rumah, hari Minggu pagi nya masih ada tenaga buat mountain biking ke Sentul nggak yaa... Udah kangen berat ngegoes sampe jatuh bangun jungkir balik nihh..!!



Photo AlbumSapardi dan Puisi-puisi Cinta nya (13 photos)Feb 18, '08 7:19 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Pembacaan dan musikalisasi puisi dari sosok penyair (Indonesia) favorit gue, Prof Dr Sapardi Djoko Damono. Sudah sering gue mendengar soal “musikalisasi something”, baru kali ini berkesempatan untuk mencicipinya. Ternyata menarik juga.

Sapardi adalah penyair yang juga pernah menjadi Dekan Fak Sastra Universitas Indonesia (sekarang berubah nama menjadi FIB-UI), yang lantunan kata2 dalam karya nya sanggup menyentuh sanubari, menggetarkan hati, merangsang kenangan, dan membangkitkan asa.

Banyak dari hanya sedikit puisi yang pernah gue buat; entah untuk konsumsi sendiri atau demi seseorang, yang terinspirasi dari lantunan irama nya. Karenanya adalah suatu kehormatan untuk dapat menyaksikan pementasannya secara langsung (walaupun sehabis itu badan serasa remuk akumulasi kecapekan seminggu, heuhe).

Tanpa diduga, ternyata saat di dalam kami duduk persis bersebelahan dengan sang Maestro dan adiknya (Niniek L Karim), yang rupanya sengaja duduk secara incognito. Dan kami pun sempat saling bertukar sapa dan senyum. Atau mungkin seharusnya gue berfoto bersama seperti selayaknya seorang pengagum kepada idola nya, ya? *grin

Jangan lupa mencoba beberapa CD rekaman yang ditawarkan. Beberapa yang gue beli ditampilkan foto nya di halaman ini. If you’re a big fans of him, then you should have it!

Sayang sekali pertunjukkan, terutama menjelang akhir, agak dirusak dengan teriakan2 tidak senonoh yang diperdengarkan oleh beberapa penonton yang duduk 2 (dua) baris di belakang kami. Mereka melampiaskan ketidaksenangan mereka pada gaya mbeling sang MC. Apapun sebabnya, yang kalian lakukan itu sungguh perbuatan yang tidak berbudaya, kawan. Sangat mengganggu penonton lain yang ingin menikmati pertunjukkan. Dan di mana rasa hormat mu pada sang penyair, yang tentunya mendengar jelas semua ocehan mu? Kalian toh tahu, di mana pintu keluar. Ataukah kaliah memang hanya ingin kehadiran kalian di sana sebagai peneguh tanda popularitas gengsi di antara sesama; dengan tanpa mengerti apa yang ditampilkan -- apapun itu? Sebuah unjuk superfisilialitas tanpa henti sembari mengangkangi pertunjukkan seni sebagai obyek penderita?


Jumat, 15 Feb 2008
Taman Ismail Marzuki
Grha Bhakti Budaya


PS:
Sebenarnya koleksi foto ini dimaksudkan untuk koleksi pribadi, tapi Rieke memintanya untuk dimuat, sebagai pengganti ketidakhadirannya. Here you go, Ke, as you wish. Betapa beruntungnya elo karena bisa setiap hari berpapasan dengan Sapardi di kampus.



EventSapardi Djoko Damono - Puisi-puisi CintaFeb 12, '08 6:16 AM
for everyone
Start:     Feb 15, '08 8:00p
Location:     Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta

Pembacaan dan musikalisasi puisi dari sosok penyair (Indonesia) favorit gue.

Mantan dekan Fak Sastra UI (skrg berubah nama mjd FIB-UI), yang lantunan kata2 dalam karya nya sanggup menyentuh sanubari, menggetarkan hati, merangsang kenangan, dan membangkitkan asa.

Banyak dari hanya sedikit puisi yang pernah gue buat; entah untuk konsumsi sendiri atau demi seseorang, yang terinspirasi dari lantunan irama nya. Karenanya adalah suatu kehormatan untuk dapat menyaksikan pementasannya secara langsung.

PS:
Gimana cara ngedapetin tiketnya yah? Gue pengen nonton yg hari Jumat nih; butuh 2 tiket. Udah coba hubungi ke no telp nya TIM yg banyak beredar di iklan2 ttg pementasan Sapardi ini kok ndilalah ndak bisa dihubungi. Anyone? Please..

Start:     Jan 24, '08 7:00p
End:     Jan 24, '08 11:00p
Location:     Nine Muses Club, Jln Wijaya I/25, Kebayoran Baru, Jakarta

Penyanyi dan pianis jazz Didi Mudigdo akan berduet akrab bersama Markoes (double bass), bersama Nanda (guitar), bersama Ade Hamzah (bass guitar) dan bersama Devian Zikry (saxophone), membawakan jazz standard dan orisinal di Nine Muses Club Jakarta, Jln Wijaya I/25 Kebayoran Baru, +6221 7221188.

Duet bersama Markoes (double bass) - Jan 1, 8, 15, 22, 29
Duet bersama Nanda (guitar) - Jan 2, 16, 30
Duet bersama Ade Hamzah (bass guitar) - Jan 9, 23
Duet bersama Devian Zikry (saxophone) - Jan 24
Acara dimulai 20:30 wib

Lulusan Sydney Conservatorium of Music ini terlahir di Australia dari pasangan Indonesia. Pada tahun 2005, ia meninggalkan Australia rencananya hanya untuk 3 bulan main di House of Blues and Jazz Shanghai. Ternyata, kesuksesannya mengembara telah membawanya melanglang buana sampai tiga tahun kemudian, masih mengadakan tour-tour di Asia, malang melintang diberbagai jazz festival dan club di Australia, Jepang, Hong Kong dan Cina, dan ia juga sempat terpilih sebagai penyanyi jazz nomor 1 di tangga lagu MP3 Australia www.mp3.com.au

Dalam kurun waktu yang sibuk selama 10 tahun terakhir ini, ia telah bermain dengan pemusik kondang dunia, termasuk legendaris Motown Amerika, Bobby Taylor, biduan Valtinho Anastacio dari Brazil, pemusik electronica Australia TJ Eckleberg/TUFA, dan pernah menjadi pemain pendamping artis Indonesia antara lain Katon Bhagaskara, Titi DJ dan Yuni Shara.

Kepiawaian jari-jari Didi Mudigdo dipiano dan gaya vocalnya terinspirasi oleh pemain-pemain jazz yang memiliki jangkauan penghayatan yang dalam dan kemampuan menguasai alat musik yang tinggi seperti pianis Blossom Dearie dan trumpetis Chet Baker. Dia juga pengagum pemain piano jazz era 1950-an seperti Red Garland, Bill Evans dan Wynton Kelly. Perpaduan antara musik lama dan baru, orisinal dan standard jazz adalah bagian dari perbendaharan music Didi Mudigdo yang kaya dan beragam.

Didi Mudigdo
jazz vocals & piano
www.didi.com.au
http://www.facebook.com/profile.php?id=7770182540


Blog EntryJelajah Kemang, JakJazz, dan BandungOct 17, '07 9:19 PM
for everyone

 

 

Akhirnya! Jadi juga gue nonton (baca: beli tiket) JakJazz 2007. Sempat ragu dan maju mundur lamaaa banget, sebelum akhirnya memutuskan buat beli, ahhaha..

 

Gara2 semalam mampir ke Aksara Kemang dalam rangka "program-eksplorasi-seantero-Kemang-dengan-jalan-kaki" dengan guide seorang teman yang tinggal di sekitar situ (hey, thanks yaa!). Seru banget buat orang kaya gue yang hingga setahun lalu BAHKAN masih nggak tahu Kemang itu di sebelah mana nya Jakarta sih. Dulu malah gue pikir udah deket2 Bintaro, hahaha.. Tapi teuteup, pas janjian ketemu di KemChicks, gue bertanya dengan polosnya kepadanya, "KemChicks itu di mana sih? Kenapa nggak langsung ketemu di Kemang aja?" Bayangkan apa reaksi dia, hahaha..

 

Gue beli tiket Passport; alias tiket terusan buat nonton seluruh acara 3 hari termasuk 3x special show. Jatuhnya malah lebih murah, terutama karena gue masih kebagian yang harga "early bird 1st". Makanya kemarin dipaksain beli; walaupun akibatnya gue musti keliling2 dulu buat nyari ATM. Padahal gue buta total daerah Kemang, untung kagak nyasar, or worst; diculik tante2! :p

Sayangnya teman gue itu, yang fanatikus Jazz dan udah berkali2 ngajakin gue gerilya ke berbagai Jazz Lounge atau bahkan pernah menawarkan tiket gratis "Cross Over Jazz" (which was regretly refused thanks to a meeting with those damn demanding government officers, hehe) ternyata sampe detik terakhir masih ragu bakal ikut nonton atau nggak. Terutama karena terganjal dengan aturan pembelian tiket yang musti pake duit CASH. *ketawa ngakak sambil menggoyang2kan jari telunjuk di depan dia, bwahahaha.. .

 

Lagian tuh panitia JakJazz dodol juga. Halah, hari gini; siapa juga sih yang masih hobi bawa segepok duit kecuali (a) konglomerat, (b) mereka yang permohonan kartu kreditnya belum disetujui, hehe..

 

Huah, ngantuk euyyy.. Seharian di Kemang dari kemarin siang; menclok ke beberapa tempat di Kemang, dapat kopi gratisan di Starbucks, bengong liat KFC yang lebih mirip cafe daripada Fast Food, ribut sama satpam yang sok2-an menyandera motor gue, nyobain KemChicks (setelah bbrp dekade hidup di Jakarta; akhirnya! Terharu..hiks), sempat disuruh pergi beberapa kali gara2 tempatnya mau tutup, pusing dengerin House Music India yang ada di Casa, ngetawain cewek modis yang bawa laptop cuma buat maen solitaire (yeah, we know that your pocket can afford that lovely iMac, dear, but does your brain, too?:p), saling  ngomporin buat beli buku fave masing2 di QB dan Aksara (saya terjebaakk..menyebalkan!), dapet banyak banget voucher gratisan yang lantas langsung dipake,


etc.etc.. Baru balik pas udah Subuh. Dan 10 menit lagi gue mesti nyetir ke Bandung. Tapi, Bandung, gitu lhoo.. The place  I love the most where I grown up and found my adulthood! *grin

 

 

Jakarta 14130 Cilincing

Thursday, Oct 18 2007, 08.10 am  

 

 


EventJak Jazz Festival 2007 - Paint the Town JazzOct 17, '07 9:03 PM
for everyone
Start:     Nov 23, '07
End:     Nov 25, '07
Location:     Istora Senayan, Jakarta
Akhirnya! Jadi juga gue nonton (baca: beli tiket) JakJazz 2007. Sempat ragu dan maju mundur lamaaa banget, sebelum akhirnya memutuskan buat beli, ahhaha..

Gara2 semalam mampir ke Aksara Kemang dlm rangka "program-eksplorasi-seantero-Kemang-dg-jalan-kaki" dg guide seorang teman yg tinggal di sekitar situ (hey, thanks yaa!). Seru banget buat orang kaya gue yg hingga setahun lalu BAHKAN masih nggak tahu Kemang itu di sebelah mana nya Jakarta sih. Dulu malah gue pikir udah deket2 Bintaro, hahaha.. Tapi teuteup, pas janjian ketemu di KemChicks, gue bertanya dg polosnya kepadanya, "KemChicks itu di mana sih? Knp nggak langsung ketemu di Kemang aja?" Bayangkan apa reaksi dia, hahaha..

Gue beli tiket Passport; alias tiket terusan buat nonton seluruh acara 3 hari termasuk 3x special show. Jatuhnya malah lebih murah, terutama karena gue masih kebagian yg harga "early bird 1st". Makanya kemarin dipaksain beli; walaupun akibatnya gue musti keliling2 dulu buat nyari ATM. Padahal gue buta total daerah Kemang, untung kagak nyasar, or worst; diculik tante2! :p

Sayangnya teman gue itu, yg fanatikus Jazz dan udah berkali2 ngajakin gue gerilya ke berbagai Jazz Lounge atau bahkan pernah menawarkan tiket gratis "Cross Over Jazz" (which was regretly refused thanks to a meeting with the damn demanding gov officers, hehe) ternyata sampe detik terakhir masih ragu bakal ikut nonton atau nggak. Terutama karena terganjal dg aturan pembelian tiket yg musti pake duit CASH. *ketawa ngakak sambil menggoyang2kan jari telunjuk di depan dia, bwahahaha.. .

Lagian tuh panitia JakJazz dodol juga. Halah, hari gini; siapa juga sih yg masih hobi bawa segepok duit kecuali (a) konglomerat, (b) permohonan kartu kreditnya belum disetujui, hehe..

Huah, ngantuk euyyy.. Seharian di Kemang dari kemarin siang, balik pas udah Subuh. Dan 10 menit lagi gue mesti nyetir ke Bandung. Tapi, Bandung, gitu lhoo.. The place where I grown up and found adulthood! *grin

Blog EntryLoosing Your Manhood, bisakah?Jul 21, '07 9:35 PM
for everyone

 

Hanya berbagi sebuah percakapan lama dengan seorang sahabat, a beautiful girl (sorry, no name please), yang tiba-tiba kembali mengusik ketenangan kenangan dan kenyakinan pikiran.

 

+: Hey mas, kemarin kamu telepon ya? Sori aku udah ketiduran

- : Ohiya. Biasalah, gue coba 2x. Pas nggak diangkat, yawess… paling ada yg lagi jadi kebo, hehe..

 

+: Emang nelpon darimana sih? Kok tumben2an jam segitu

- : Gue lagi nongkrong di emperan, lagi makan nasi goreng, habis liat balet di GKJ

 

+: Nelpon pake apa lo? Kok gk ada no. lo, yg ada miscall dr no tak dikenal gitu. Dan gw pun tidur dr jam 6 sore - 8 mlm, ngantuks berat critanya :p Btw kok laki2 nonton balet sih, lo gmn sih bro...??

- : Heyyyy, what's wrong with watching a ballet performance anyway? I wont lost my penis thus my manhood just to see it, don’t you think so? Wanna proof, gorgeous? Hihihi..

 

Jadi bertanya-tanya, apakah senyatanya memang ada korelasi positif antara skala kelelakian seorang pria, versus jenis tontonan apa yang dia pilih? Atau dalam skala yang lebih luas, tindakan apa yang dia (pilih untuk dia) lakukan dalam situasi tertentu?

 

Pembahasan lebih jauh dalam perspektif berbeda bisa dibaca di: Persepsi Sosial

 

 

Jakarta, Wednesday,

Apr 11, 2007 – 21.38 wib

© terbanglah lebih tinggi

 

 

PS:

Artikel terkait dapat dibaca pada link berikut:

§         Persepsi Sosial

§         Panduan Menikmati Teater

 


Start:     Jul 15, '07 01:30a
Location:     Musium Gajah, Merdeka Barat, Jakarta
Barangkali ada yg berminat? Alternatif acara yg menarik di hari Minggu. The newest event from the well known "Sahabat Museum"

Pameran ttg Majapahit di Museum Nasional, harga tiket masuk: IDR 750. No, you're not wrong and your eyes doesnt deceive you - it is IDR 750 only for adult viewers. So why dont you come along and experience something different than the usual decadent hedonis shopping mall, theaters, or even clubs?

You'll never know unless you try!

ReviewReviewReviewReviewReviewPanduan Menikmati Pertunjukan SeniMay 17, '07 5:01 PM
for everyone
Category:Other
Menjelang menonton Miss Kadaluarsa hari Kamis depan di Gedung Kesenian Jakarta, gue menemukan artikel menarik ini. Jadi teringat saat pertama gue (hendak) berinteraksi dengan pertunjukan sejenis; suatu hari di pertengahan tahun 1999 yang lalu.

Saat itu gue bertanya pada mentor gue di Siemens Nixdorf, tentang bagaimana cara maupun etiket yang sesuai untuk menikmati pertunjukan seni, atau biasa dikenal sebagai ”Art Performances”. Apakah kita harus mengenakan jas lengkap seperti di film2 Hollywood? Apakah kita harus bersikap jaim dan sok suci? Apakah harga tiket nya selangit mahalnya?

Jawaban beliau, walau nyaris ngambang, tapi telah berhasil membangkitkan semangat (dan rasa percaya diri!) gue untuk datang. Artikel di bawah ini melengkapinya, tanpa menegasikan apa yang telah gue tahu, pun yang telah disarankan oleh senior gue itu (trims, 'bang!).

Just wanna share it here with you guys; it may interest you a lot, or might be useful as well. The point is; just be yourself, kill your mobile, enjoy the show, and .. see you on the scene!

TLT, Fri, May 18, 2007 – 03.51 AM



---------------------------------
Panduan Menikmati Pertunjukan Seni

Pada awalnya sebuah pertunjukan teater dimulai dari keinginan orang untuk mengerti sesuatu yang bukan manusiawi. Lewat personifikasi hal-hal yang non-manusia, teater bisa memanusiakan roh-roh, binatang, dewa-dewi, sampai fenomena alam sekalian.

Selanjutnya, teater menjadi tempat manusia menilai diri sendiri. Secara umum, kita menilai sifat-sifat kita yang diwakili tokoh-tokoh di atas panggung. Dan secara personal, kita juga bisa mengenali cara kita bereaksi terhadap emosi yang muncul di panggung, jalan cerita, set audio visual panggung, musik, dan atmosfer di sekeliling kita.

Tidak banyak kegiatan yang pengalamannya sama mengesankan seperti nonton teater. Anda harus bisa merasakan detik demi detik yang tak terulangkan. Mulai dari masuk ruangan, duduk dengan kopi dalam paper cup di satu genggaman tangan, buku acara di genggaman satunya lagi, sambil menunggu tirai panggung tersingkap. Sulit bagi kita untuk lanjut menikmati kontras terang gelap panggung, bising sunyi musik dan tarian, maupun ekspresi dialog pemain, tanpa mengosongkan pikiran kita sebelumnya. Memang orang yang naik panggung bukan dukun shaman pemimpin api unggun di tengah hutan. Tapi kalau mau enjoy secara maksimal kita harus sama-sama mengijinkan mereka menghipnotis kita; semampu mereka.

Perhatikan contoh mata hipnotik seorang shaman pada foto disebelah kiri. Mata seorang performer sejati, Dalang Teredan Sujiwo Tejo.

Kemampuan menentukan suksesnya sebuah pementasan. Panggung kemudian berubah menjadi satu benda hidup penuh kesalahan, improvisasi, berikut kegagalan yang dicampuri berbagai emosi intens. Tidak terbatas pada kualitas director, actor ataupun tim teknis saja, entusiasme penonton ikut menentukan kesuksesan sebuah pergelaran teater.

Makanya, penonton pun harus bisa berekspresi sesuai jalan cerita. Tapi tidak semua bunyi itu menambah serunya tontonan. Misalnya bunyi handphone, batuk atau cegukan. Hindari membawa tas plastik ke dalam ruangan teater. Sumber suara paling spontan biasanya datang dari anak kecil dan bayi. Tentunya, mereka tidak harus melewati cobaan yang sama seperti orang dewasa, jadi enggak perlu diajak nonton.

Sebagai tamu di pertunjukan, seharusnya kita bisa memakai pakaian sesuka hati kita. Tapi yang namanya nonton bareng-bareng juga berarti memikirkan reaksi sesama penonton. Mungkin anda mengajak ibunda ke musikal MK dan dia datang memakai konde ukuran sensasional. Dampaknya akan sama sensasionalnya. Jadi, baiknya cara berpakaian tetap loyal sama individualisme kita tanpa berusaha menjadi bintang tamu yang gagal naik panggung teater. Kecuali anda hadir di Gala Premiere. Disitu semua orang wajib tampil, karena red carpet yang digelar sampai tempat parkir juga menjadi bagian dari panggung.

Tampil atau tidak, pastinya anda harus tepat waktu. Boleh hadir lengkap dengan syal bulu warna pink favorit, tapi kalau anda telat masuk, itu namanya kebangetan. Perhitungkanlah waktu perjalanan plus parkir yang dibutuhkan. Kalau ada meeting yang tertunda, ajak rekan meeting anda untuk ikut nonton. Bilang, untuk membuka wawasan dan tidak ketinggalan jaman. Bayarin kalau perlu, sebagai tanda peduli. Kalau pun terlambat, ada baiknya anda tidak heboh mencari tempat duduk gelap-gelap. Lebih baik berdiri di dekat pintu sambil menunggu dituntun panitia, atau waktu istirahat.

Diambil dari sini
, oleh Dmitri.



EventMiss KadaluarsaMay 12, '07 2:37 PM
for everyone
Start:     May 24, '07 7:00p
Location:     Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta
Miss Kadaluarsa, an art performance by EKI Dance Company. Their newest anticipated event after last year hugely successful and widely reported "Freaking Crazy You". EKI is an acronym of Eksotika Karmawibhangga Indonesia. Referring to the previous show I watched, this must be worth to be waited for. *grin

Wil be watching along with some good friends of mine, fellow art performances lovers


EventAllegro AdagioApr 8, '07 2:25 AM
for everyone
Start:     Apr 11, '07 8:00p
Location:     Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta
"Six Dance Pieces by Adella, Aletta & Friends"
11 & 12 April 2007, 8 pm sharp

A ballet performance. Six pieces of all different dance genres by Adella & Aletta Fauzi, with Friends: Siti Ajeng Soelaeman, Jonita Sjah, Davit, Mislam, Henry Jones. Music 'LIVE' by Maya Hasan, Arief Setiadi, Anusirwan's Altajaru Live Ensemble. Lighting by Iskandar D. Loedin

Will watch it with Cecille, Karina, Didit on Apr 11; straight from Bandung (uhh, can I punctually make it?). Thanks man, for reminding me this and for arranging the tickets for the rest of us; appreciate it.

EventJava Jazz FestivalFeb 12, '07 9:32 PM
for everyone
Start:     Mar 2, '07 4:00p
End:     Mar 5, '07 01:15a
Location:     Jakarta Hilton Convention Center
Java Jazz Festival
Jakarta Hilton Convention Center and surrounding, National Stadium Senayan, Jakarta.
a 3-days-&-nights event

Special Show interested-in: all, love them all! Yeahhh...
Ticket bought: all 3-days-&-nights event, plus Jamie Cullum (Sunday, Mar 4)

Never thought that finally managed myself to taste the air there! *grin


Blog EntryWhy this Time It Feels so Quiet..Sep 18, '06 8:01 AM
for everyone

Why this Time It Feels so Quiet..

oleh: terbanglah lebih tinggi

 

 

The same spot, the same location, exactly the place; merely for a four months away. But this time it’s so quiet here, inside the GKJ Lounge Hall, and may also be inside of the man.

 

Different posters, different ambiences; weirdo passing by, folks chatting away, strangers wandering along. It’s all quiet.. in the aisle nor maybe at the parking lot. In the middle of the crowds. Nearly in the nighs of the nighty nite.

 

Reminiscing the ever gone days when everything was not even new; unsure, unsecure and unpredictable. And facing up the facts of that cruel present time when everything is already obsolete, certain, and unquestionable.

 

Maybe sure there’s something hiding, waiting to be found out. Often one could looking at the presence of the darkest, or even the brightest. Or perhaps would only be felt like a stab in the very heart.

 

Of mine.

 

 

Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru

Jamila dan Sang Presiden, by Satu Merah Panggung

Jum’at, 28 Jul 200619:43 wib

 


Blog EntryPerforming ArtsAug 2, '06 10:56 PM
for everyone

Performing Arts

oleh : terbanglah lebih tinggi

 

 

Just this morning I suddenly received an e-newsletter from the EKI Dance Company;  whereas EKI stands for “Eksotika Karmawibhangga (ehh, or is it KarmawiBANGSA? I’m not sure) Indonesia”. For those whose might haven’t heard anything about it, EKI Dance Company is a wellknown Jakarta performance arts group; with spesializing in (ofcourse) modern and contemporer dancing embedded in a play.

 

What a surprise! Eventhough I’ve been expecting the e-newsletter distribution for some time, it’s been quite a long way since I provide them with my business card; on the moment I watched their last show, “Freaking Crazy You”, on Mar 29, 2006, 20.00 wib, in Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru.

 

Hopefully, with this regular e-newsletter from EKI Dance Company, I could be able to ever catching up with any of their upcoming performing arts, and not missed that much again (smilling). Though I still have to figure out of how I could be able to have handy information about another performance arts held throughout Jakarta. Such as the internationally acclaimed winning play of Teater Merah Putih performed on TMII last weekend; which I missed due to lack of information.

 

I also realized that since I watched “Freaking Crazy You” mentioned above, I still have not made my review upon it yet; which is I shall obligue as my personal debt. To thrive the memory left behind.

 

PS:

On the other side, dizzying thought blazing through my heart and my mind; that the EKI’s Freaking Crazy You mentioned above, was the moment whilst I fighted my way to win her heart, at its starting phase. Also the first time I met her younger sister. Surely it was meaning a lot. Yes, there was a time..

 

 

Jakarta 12870 Pancoran

Thu, Aug 03, 200609.52 AM

 


EventJamila & Sang PresidenJul 29, '06 12:38 AM
for everyone
Start:     Jul 28, '06 8:00p
End:     Jul 29, '06
Location:     Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru
Art Performance by Satu Merah Panggung, courtessy of Ms Ratna Sarumpaet

she promissed me to see it together,
well..there was a time..

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help