Beberapa hari terakhir terjadi peningkatan lalu lintas perdebatan dalam suatu mailing list diskusi perbukuan yg sangat terkemuka. Sebabnya adalah karena adanya silang pendapat mengenai penggunaan kata “secara” dalam cara kita berbahasa belakangan.
Mereka yg menentang menyatakan berbagai hal negatif ttg penggunaan kata “secara” tsb; mulai dari sekedar mengkritisi secara teknis per-bahasa-an, hingga mengaosiasikannya sbg suatu bentuk bahasa yg “ke-salon2-an” – melambai, katanya. If you know what I’m talking about *grin.
Sebaliknya, mereka mati2an mendukung pun tak kalah hebohnya bersuara; mulai dari mengemukakan alasan (yg sayangnya, terkesan dipaksakan) bhw “itu bahasa gaul.. dan nggak gaul lebih buruk dari mati..” (à ini kesimpulan yg tertangkap), hingga melecehkan mereka2 yg protes sbg kaum yg sudah beranjak tua & tidak mengikuti zaman yg menderap maju.
Tak dapat dipungkiri, kata "secara" maupun berbagai jenis & macam bahasa "gaul" lainnya yg lambat laun akan terserap ke dalam bahasa VERBAL pada percakapan kita sehari2 tentunya hanyalah sebentuk budaya pop & gaya hidup terkini.
Pengrusakan bahasa? Tentunya tidak. Sepanjang tidak meracuni bahasa tertulis kita. Walau harus diakui, kecenderungan yg ada sekarang kebanyakan dari kita saat ini adalah tidak menyadari (atau tidak mengetahui) adanya perbedaan penggunaan bahasa lisan versus tulisan - terutama untuk pemakaian resmi. Itu yg patut disayangkan.
Di lain pihak bila kita, atau dewan bahasa, atau apalah namanya pihak yg berwenang atas penggunaan bahasa Indonesia yg baik & benar; telah dengan jelas & tegas memfatwakan penyerapan atas kata "secara" tsb ke dalam bahasa negara, maka tiada lain yg dapat kita lakukan kecuali menerimanya dg legowo – suka maupun tidak.
Sejujurnya, telinga & otak gue hingga saat ini masih tak dapat menerima pengunaan se-wenang2 kata "secara". Dlm konteks pribadi pun saya sangat menghindarinya. Tetapi bila kah budaya verbal & kecenderungan umum ternyata menerimanya, apa ada yg salah dari hal itu? Apa kita perlu saling menumburkan ego dan emosi masing2, semata2 demi meributkan suatu hal yang tidak sepenting itu?
Biarkan saja kafilah berlalu, tapi tentukan pilihan mu:
apakah akan ikut arus, atau tetap bertahan sendiri.
Bahasa, sebagaimana produk budaya lainnya, merupakan hasil pemikiran umat manusia yg selalu berkembang ke arah lebih baik demi peningkatan kualitas hidup manusia. Manusia bukanlah mesin, atau batu, atau tanaman - yg hanya bisa ajeg, dan pasrah menerima apapun yg dijejalkan pada mereka.
Ijtihad (dan bukannya taqlid buta) adalah fitrah manusia.
Jakarta 12870 Pancoran
Jumat, 10 Nov 2006 – 08.40 AM
© terbanglah lebih tinggi
PS:
* Artikel ini dikirimkan sebagai tanggapan ke mailing list perbukuan dimaksud.
* Kalau tidak salah, Melly Goeslaw telah mempopulerkan penggunaan kata "secara" dlm salah satu lagu yg dibuatnya sbg soundtrack film "Heart" (didistribusikan sekitar Mei 2006). Aneh juga bila skrg kata "secara" tsb baru "dibicarakan"..*grin