oleh: terbanglah lebih tinggi
Beberapa hari lalu blogwalking mengantarkan gue pada seorang teman yang bercerita tentang kehidupannya di IGB (baca: Institut Ganesha Bandung); dan seni hubungan sosial di sana. Berhubung (ternyata) kampusnya tetanggaan (gue kan di UNDIP = universitas dipati ukur), ternyata masalahnya nyaris senasib ya!
Pernah tuh, kelas Teori Ekonomi; sekelas ada 120 mahasiswa. Hanya 1 orang yang cukup beruntung dpt B, plus 10 orang lainnya C. Sisanya? Dibagi rata antara D dan E. Gue sih, masih cukup "beruntung" bisa dapat D. Paling nggak, keliatan masih ada usahanya dehh.. Huehuhehe.. Ohiya, dosennya cuma datang 2x; pertama untuk kasih silabus di awal semester, kemudian di akhir semester cuma untuk memberikan daftar nilai ujian. Mantabbb...!! :p
Satu peristiwa lain yang lebih tragis; Matematika Lanjutan, dengan 100 mahasiswa. Entah mengapa, ada salah satu mahasiswa abadi (baca: terancam DO) yang protes langsung ke dosen yang bersangkutan. Ribut2, akhirnya (nggak tahu gimana) si mahasiswa geblek itu sukses merebut hasil ujian seluruh kelas - dan MEMBAKARNYA sampe habis. Alhasil, ke-99 orang lainnya menerima sakratul maut; dapet nilai E - pukul rata. Gemblung pisann,, euyyy... !!
Ada juga kuliah Ilmu Budaya Dasar dan Kewiraan; yang kalau di luar negeri mungkin bisa masuk golongan ilmu-ilmu filsafat kali yaa.. Terutama karena bahasannya bener2 filosofis banget. Misalnya IBD yang saat ujian akhir mencamtumkan pertanyaan tentang bagaimana kita mendefinisikan cinta atau Kewiraan yang nggak jauh dari soal bela negara etc. Dan hasilnya? Dari 120 mahasiswa, gue-lah satu2nya yang berhasil memperoleh nilai sempurna, alias A..!! Can you see what I see? *grin
Cukup sekian untuk dosen gila.. gue sendiri pun nggak bisa digolongkan sebagai mahasiswa waras, kaya nya... hihi
Pernah gue duduk bareng teman akrab gue saat menit2 terakhir menjelang ujian akhir semester (UAS), dan kami berdua sama2 grogi + tegang; masih sibuk membuka2 ulang berkas2 latihan soal dan ngebolak-balik text book yang segede bantal yang dipastikan cukup berat untuk membuat tikus2 dapur kapok buat pecicilan lagi.
Saat sudah duduk di dalam ruang ujian, dan melihat rekan2 sekeliling yang langsung pada sibuk masing2; ketakutan pun berbuah menjadi nyata -- jangankan bisa menjawab, bahkan mengerti soalnya pun gue nggak..heueuhe.. Malah rasanya seperti kembali ke tingkat SD saat masih sibuk belajar membaca. Ugh! Akhirnya dengan sedikit kewarasan yang tersisa, gue sodok kaki sohib di sebelah.
+ "Gimana lo? Bisa nggak?"
- "Enggak. Lo sendiri?"
+ "Sama parahnya nih"
- "Pasrah deh gue, kaya nya ngulang deh"
+ "Ya udah. Cabut aja yuk? Udah pasti bakal ngulang ini.."
Dan jadilah kami, 2 mahasiswa kucel kurang tidur karena belajar kebut semalam, diduga lupa mandi karena bangun kesiangan; saat ujian masih berlangsung 5 menit, menyerahkan kertas jawaban kepada dosen pengawas yang terkejut; dan tanpa tengak-tengok lagi langsung ngabur meninggalkan seisi kelas yang terkesima. Bwhahahaa...
Jakarta 14130 Cilincing
Sunday, May 13, 2007 – 02.21 am
PS:
Artikel ini terinspirasi dari: sini