Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: books

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag books
EventPesta Buku JakartaJun 24, '08 4:39 AM
for everyone
Start:     Jun 24, '08
End:     Jul 6, '08
Location:     Istora Senayan, Jakarta, princess
Haaaa.. another Jakarta Book Fair is ready to be started. Pintar sekali penjadwalannya, pas kira2 orang2 baru pada gajian, ahahaha..

Sayang saya sudah memutuskan untuk ngerem abis2an belanja2 buku seperti ini, kecuali yang buat keperluan kampus, kerjaan, atau bener2 yakin bakal dibaca. Semalam di TGA Bookstore Senayan City niat itu udah sempat teruji; hampir aja ngebeli buku Golf berharga (cuku) mahal. Tapi di depan nya, saya sempat bertanya separuh ke diri sendiri separuh kepadanya; apakah buku ini nantinya akan terbaca? Our answer was merely the same; nope! (esp considering my hectic schedule).

Caranya menekan napsu shopping buku sebenernya gampang; saya akan menghindari tempat2 semacam ini. Which is kinda difficult actually, because those are my most favorite places to be around on Planet Earth! *sigh*

PS:
Numpang datang masih boleh kali yaa.. itung2 sebagai alternatif nge-date, hahaha..

ReviewReviewReviewReviewReviewSoulmate -- Belahan JiwaMay 12, '08 11:54 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Romance
Author:Stefani Hid

Pada awalnya adalah kata. Ulasan terlampir merupakan versi terpotong dari versi asli yang dimuat pada blog lama gue, yang sudah tidak aktif lagi. Versi asli ulasan tersebut merupakan perbandingan antara buku Stefani Hid dengan Jessica Huwae tentang topik serupa yang terbit hampir bersamaan; “soulmate”. Dua buku yang, boleh dibilang, sebagai pendobrak kebuntuan dunia penerbitan di tanah air. Dua buku yang membuka kotak Pandora genre baru industri buku.

The review was originally concepted & composed at Starbucks Coffee, Plaza Semanggi, Jakarta, pada hari Senin, 10 Apr 2006, 17.34.16 wib. Just right after watching the intriguing movie "Prime". Film tersebut menceritakan tentang upaya perjodohan yang dipaksakan, dengan dialog2 nya yang cerdas, lucu, dan menghibur.
*****

Gue inget kira2 setahun yang lalu (note: 2005), at QB World Book, Plaza Semanggi, gue pernah beli buku berjudul serupa (tapi tak sama); “Soulmate – Belahan Jiwa”, oleh Stefani Hid, 165 hal, diterbitkan KataKita, Nov 2004.

Halaman pembuka sudah langsung menohok (calon) pembaca dengan kutipan dari Injil, dan secara keseluruhan, novel tersebut memang penuh dengan nafas Kristen. Bercerita tentang kisah cinta (standar, lah – topik paling laku di dunia), kematian dan maut (nah, ini yang menarik), gejala psikopatisme (topik tabu di masyarakat kita yang sok suci dan ngakunya bermoral), tentang tokoh utama berkebangsaan Myanmar bernama Latt, yang kemudian melanjuntukan kuliah di Jakarta. Bertemu, melalui suatu kesempatan yang tersedia – bukan diciptakan, dengan Marla, untuk kemudian menjalin kasih. Dan akhirnya cerita tentang ketakutan manusia atas kematian.. Sungguh manusiawi.

“..aku hanya takut jika aku mati sebelum
aku melakukan sesuatu yang berarti..”


Ini sebuah buku yang amat tidak biasa; sangat gelap, sangat keras, dan sangatlah kelam. Mencoba memotret kegelisahan seorang muda, with bundles of past experiences, terpapar gegar budaya pada sebuah negeri jauh (i.e. Jakarta, Indonesia), sendirian dan merasa sunyi dalam gempitanya kehidupan metropolitan yang tak ramah dan individualis. Mengejutkan bahwa untuk novel semacam ini (yahh, apapun genrenya; chick-lit, metropop, whatever it is called), sekilas menyebut2 tentang sebuah novel kontroversial, “the Catcher in the Rye”, yang sering diklaim terkait dengan para pembunuh/kriminal paling ‘terkemuka’ di dunia, misalnya Chapman (penembak vokalis the Beatles, John Lennon), dan John Hinckley (penembak Presiden USA saat itu, Ronald Reagan).

Salah satu kekuatan utama yang mengalir sepanjang buku, dan membuat gue (berusaha) untuk tetap bertahan di samping kegelapan temanya adalah dialog yang ditampilkan. Satu potret sederhana tapi mengena dan cerdas atas makna kehidupan sepasang manusia; yang awalnya tidak saling mengenal, mengalami ketertarikan bersama, ragu, tak yakin, atau bahkan takut akan kedekatan yang terjadi, saling berupaya mengukur dalamnya cinta satu dengan yang lain, serta yang berbeda pandang atas makna kesempatan; antara yang berusaha meraihnya, dan yang berusaha menciptakannya. Tapi mereka sama berjuang, demi cinta yang didamba.. Dialog berikut (p.52), menurut gue, sangat jelas menangkap dan menceritakan semangat itu;

(+): “Apa? Ayolah, sejak kemarin aku menunggu ceritamu”
(-): “Nanti saja, Latt. Aku tak mau membebanimu dengan segala keruwetanku. Kita berkenalan untuk mendapatkan hal2 yang menyenangkan, bukan?”

(+): “Aku siap mendengar apapun. Hidup juga tak melulu kesenangan, kan?“
(-): “Nanti saja. Nanti kau akan tahu sendiri, Latt. Itu jika kau tidak pergi dari ku”

(+): “Aku tak akan pergi dari mu. Kau selalu menunda segala sesuatu?”
(-): “Aku tak menunda. Aku hanya membiarkan semuanya terjadi tanpa sengaja dimulai”

To grow up together in love.. Betapa indah, betapa sederhananya keinginan itu. Tetapi juga betapa rapuhnya ia akan datangnya kesempatan. Akan jalannya sang waktu. Bahwa Marla yang ternyata seorang penari telanjang, dan pelacur.. tapi Latt mencintainya dan menyakininya sebagai seorang wanita seutuhnya – wanita yang layak dilindungi dan mendapatkan cinta sepenuhnya, no matter`what.

Walau untuk itu mungkin ia harus mengorbankan dirinya sendiri..
Sedangkan hidup terlalu singkat untuk sebuah ketakutan.

Nevertheless, congratulations goes to Stefani Hid; walau bukunya cukup memusingkan untuk dibaca, berat, suram, dan menekan. Tentu bukan buku yang cocok bagi kalangan pembaca muda seperti pasar yang menjadi sasaran. Tapi ada beberapa nilai yang jelas tak dapat tertangkap oleh Jessica, yang mengalirkan ceritanya dengan lancar, seolah hidup yang tiada beban..

But my most fave lines was definitely this one**

“…seharusnya orang yang elo cintai bisa membuat elo bebas merdeka mengekspresikan diri. Bukan dengan sembunyi2. Saat elo susah, galau, gembira, bahagia, dia orang pertama yang harus hadir dalam hidup elo; bukan orang lain..”

Karena, apa sih soulmate itu – atau siapa yang dapat mengartikannya dengan tepat? Siapa yang dapat mengklaim bahwa dia telah menemukan soulmate yang didamba?

Menurut gue, soulmate adalah kecocokan antara 2 (dua) jiwa yang bersatu, demi meraih tujuan bersama. Kecocokan itu sendiri merupakan perjalanan sang waktu, dan gabungan dari beragam pengalaman sebelumnya, yang membentuk ke-2 pribadi tersebut menjadi manusia seutuhnya sebagaimana mereka sekarang.

Kesempatan untuk merasakan kekayaan pengalaman, perjuangan masing2 dari mereka untuk dapat melaluinya dengan selamat, kemampuan untuk menengok ke belakang dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa – baik maupun buruk, guna memperkaya khazanah batin mereka, momentum saat ke-2 nya dipertemukan melalui kekuasaan dan kerahasiaan 4JJI, kemauan mereka untuk saling mencocokkan, untuk saling menerima dan/atau mengkompromikan perbedaan, untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan, untuk menatap masa depan bersama. Untuk berjalan bersama. Untuk suatu momentum kebersamaan saat ini, dan yang akan datang.

Soulmate. Diperjuangkan, bukan ditakdirkan.

Karena Allah SwT tidak akan pernah merubah nasib seseorang/ suatu kaum, apabila orang/ kaum itu sendiri tidak mau merubahnya.


Catatan:

* blog penulis, Stefani Hid: http://stefanihid.multiply.com/
** lantas dikirimkan sebagai sebuah sms kepada SZ, 10 Apr 2006, 12.00 wib

Pada awalnya adalah kata. The original review as posted above was initially dedicated for, and sent as an extended email to, my ex at that time, SZ, the lawyer one; who praised me much for the review. What about you, then?



Photo AlbumZOE Books & Cafe, Margonda (7 photos)May 3, '08 10:22 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Have you ever heard of the place? The, uh, quite unusual name was actually the acronym of its original spirits; ZOE – Zone Of Education and entertainment, pronounced as "z-o-e". Getting widely covered by mainstream medias for the last few years since it was opened for public in June 2006, the distance location from the main hemisphere of Jakarta seems made it only known for a number of university students of Margonda.

The place boasted its vast collection of comics, a handful on Indonesian’s most popular books and novels, some magazines (either new or old), quite satisfying number on sociology and political subjects, and of course as already mentioned, the comics. And the library. Some friends stated that even they offered some DVD and movies related and/or attached to the comics, but not yet available in the regular markets, i.e. the powerful 21 Cineplex connection.

The bookshop is not just interesting in its interior design and layout, but most of all, because it provides huge discount for the books. No wonder, because by having this kind of bookshop, it could save the cost expended by regular bookshop chains either in electricity, building rental, prime location fee, management fee, etc. We witnessed some of the books were sold with 40% discount, and they’re still in a very good condition. Sure it made me yelled in frustration; because I just bought some of them on normal price. Hhhhh..

On weekend, they provided live music played on Top 40 and some oldies. As usual on everywhere else, people could come up with their own requests, or even singing their own songs. And don’t forget to take notes on the attractive violinist, who was able to share his enthusiasm and passion to his audience. Luckily the place not having any liquor, for at least a middle age man had gone nearly mad in joyfully responding to the music, to the embarrassment of his wife. It was quite an entertainment itself! Hehe.

Don’t have the ears for the tunes? Don’t worry. Most of the patronages were spotted just need an indulgence where they can happily surf the net (broadband lines provided pro-bono), being close to friends and relatives (some full family were came there, too), or just be there by their own in such a nice and cozy environment with various great position to sit, a wonderful tropical garden to be enjoyed (although it got a humidity problems at nights), a gorgeous Guest Relation Officer (which kinda aloof to her customers, hehe), and an army of nice and helpful waitress.

But the place was not all about books and movies and music, it also well prepared in serving its guest with a great length of food and style. I wonder how hard it’s gonna be to work as their chef, have to practice all those meals and beverages. Luckily I have the privilege just to sit down and have my food prepared!*grin. The meals were amazingly served with clever appearance and yet on such amazing budget price! No wonder the place was a huge success among students, and yet could also attracted family and spouses seemingly from all ages, background, and groups.

I have to bitterly mentioned though, that the taste were not that good, but the Iced Mocha Frapuccino (picture as shown below). Some should be more than mediocre, like the Zouppa Soup; if only we could add some salt and pepper on it. Another things delivered to us were simply below that level. For instance, “the Chicken Cordon Bleu” I used to order anywhere else just to judge the café. No matter how great the cook might had been, the chicken on my plate tasted like it has been buried and forgotten in the refrigerator since the Ice Age. It was, uh, disastrous.

Another worth to be mentioned was the portion of the meals. Beware! It was soo small, even whilst looking at the menus on arrival, we already knew that we have to ordered 2 (two) different kind each, to enable us to satisfy our appetite after a long day at the University of Indonesia nearby.

Sure they have something more to offer. Besides, what do you expect from a budget café located just next to some of the biggest educational institutions of the city? Well, learn and (try to) live with that, and you’d be surprised to find out that you started to fall in love with the place. And the memories printed in the shadows.

In fact, I did.


ZOE -Library-Shop-Café-
Jl. Margonda Raya No. 27, Depok
+6221 777 5473,
+6221 7721 3738

Cuisine: Asian, Western, Coffee, Indonesian, Italian, Chinese


Category:Books
Genre: Business & Investing
Author:Joseph Michelli, McGraw-Hill (2006)


Dengan menjamurnya berbagai kedai kopi, café, club, maupun restorasi kelas menengah ke atas lainnya; maka tuduhan “atas tuntutan pergaulan” pun akan teramat sangat mudah untuk ditabalkan kepada siapapun yang, mungkin, kebetulan lewat di depan kita, dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang fanatikus sejati atas berbagai kenyamanan semacam itu.

Tapi kalau kegemaran itu semata dinyatakan sebagai virus, gue kurang sepakat. Karena, untuk kasus kedai kopi berlambang putrid duyung menggoda ini, gue (pilih) ke sana karena emang bener-bener suka sama kopinya. Dan eh, siapa bilang Starbucks = eksekutif muda?*grin I’m young alrite, but not an executive (yet).

I mean, there's a bunch of another coffee shops out there, ranging from one to another; all you got to do is just matching it with your taste (and wallet, of course, hehe), and choose. For instance, I hate Coffee Bean at PS for the way its crowd behaved, and so on.

But why I go to Starbucks? Because I love its taste, the cozy atmosphere offered, the friendly and helpful staffs, and especially the whole experience I got with just a cup of nice bold iced moccachino triple grande no sugar. D’ohh, did I mention it right?

Sejujurnya, pada awalnya adalah hubungan pertemanan. Gue masih ingat dengan jelas saat mereka pertama kali membuka gerai nya di Setiabudi Building, persis di depan kantor lama gue di PricewaterhouseCoopers. Segera kami, para konsultan kurang tidur yang maniak kopi terlibat ke dalam perdebatan sengit soal perlunya injeksi kafein versus gaya hidup yang semakin merasuk.

Pada awalnya, gue termasuk ke mereka yang menghindari tempat-tempat seperti ini Sederhana saja; karena gue pikir snobbish banget! Udah masuk dengan cara jalan yang sangat bergaya, trus pulang sambil nenteng-nenteng gelas starbucks. Hints: merek nya dipegang di bagian depan, biar keliatan/kebaca sama orang lain. Hehhe..

But started from last 2004, I had a lot of quality time with several dearly friends, and I love it to death. Memang harus diakui bahwa Jakarta yang mengaku kosmopolitan ini dan Gubernur nya yang mengaku ahli teramat sangat kekurangan tempat-tempat publik di mana ide-ide bisa bersemai bebas, dan gagasan saling dipertukarkan. Pun interaksi keluarga dan handai tolan bisa diaspirasikan dengan terjangkau. Ketiadaan yang lantas menghasilkan cerukan yang terisi oleh Starbucks dan sejenisnya.

Tapi makin ke sini ternyata gue jadi makin cinta sama tuh tempat; selain faktor rasa (yang lain ke laut ajaaa...), feel at home there (gue pernah ngobrol berdua dengan seorang sahabat dari jam 11 siang sampe jelang midnite di starbucks PIM – 12 jam lebih!), juga karena di mana lagi kita bisa berbagi rasa dan asa bersama berbagi hati, kecuali di sana? Dengan tempat yang nyaman cuma seharga secangkir kopi, kalo di tempat lain yang ada elo udah diusir, kalee.. :-)

Starbucks menrut gue malah nggak overpriced, karena rasa, kualitas, kenyamanan -- alias value, yang diberikan dalam bentuk kenyamanan etc, sebagaimana yang dijelaskan secara panjang lebar di dalam buku ini, sudah teramat sangat sesuai dengan harganya.

Bandingkan dengan harga yang sama, misal untuk secangkir kopi Starbucks seharga IDR 30,000, dibandingkan dengan membeli paket makanan sejumlah sama di berbagai fast food. Apa bisa bersantai2 semalam suntuk? Atau ngobaruol dalam dari hati ke hati? Atau sekedar melewatkan hari yang indah dengan musik yang mengalun? Jawabnya hanya satu: pasti tidak! :p

Salah satu prinsip utama yang dijalankan Starbucks dan dijelaskan di dalam buku ini adalah untuk menjadikan nya sebagai, boleh dibilang, rumah ke-3, bagi para pelanggannya (selain rumah dan kantor mereka, tentunya). Tempat di mana mereka bisa bersantai, menjadi diri mereka sendiri, dikenali sebagai bagian dari keluarga, dan karenanya memperoleh perlakuan yang mencerminkan hal itu. Kita bisa minta sambungan listrik gratis, terkadang ada WiFi, dan terutama, rangkaian tokonya memberlakukan kebijakan anti rokok yang ketat (dengan alasan yang masuk akal; supaya aroma kopi nggak tercemar).

Dan satu lagi, coba perhatikan, kapan staff Starbucks pernah tidak tersenyum, selelah apapun mereka, sebego apapun pesanan kita? Perasaan nyaman seperti itulah yang lantas membuat kita datang lagi dan lagi.

Memang, kenyamanan itu mahal, Jenderal!


Sampoerna Strategic Square, Tower B, 9th Fl.
Saturday, Oct 06, 2007 – 16.13 wib
Daydreaming at campus


Photo courtesy of TLT, with a dearly friend
Starbucks Senayan City Lower Level, Jakarta,
Saturday, Nov 11, 2006 – 21.03 wib


Product Details

* the Starbucks Experience: 5 Principles for Turning Ordinary Into Extraordinary
* Joseph Michelli, 208 pages, McGraw-Hill;
* 1st edition (September 14, 2006)
* ISBN-10: 0071477845
* ISBN-13: 978-0071477840
* Product Dimensions: 8.4 x 5.2 x 0.9 inches



Blog EntryGood ReadsFeb 16, '08 10:57 PM
for everyone


I always boasted myself to be an avid reader, and I mean not just loving it like that, but really-really into it.

I always see books (and magz, and papers, and other readable materials; in this case) passionately and eagerly, longing to explore it further. Even once in a while I managed to have some time between hectic schedule to read whenever I could, e.g. on the bus, whilst waiting on something (or someone *wink!),  

But there were some times that you, admit ably, can hardly face it anymore, and all you can do is just sit there, looking at the bulge of the (un)read(able) materials -- helplessly. Especially after having had a hard day-long sitting in class, discussed the way through few syndicated groups, presenting the papers and argued over it, firing some tough questions and got some even tougher retaliations (hehe), and endless things like those.

The main difference is, usually we got the whole Sunday to be our me-time; though, and of course, shall be individually allocated to our best. But today we have an additional compulsory class. Correction: we are having 5 (five) additional classes in a row, to be exact; in financial management, corporate planning, several real world case studies, and the likes.

And when the lecture first introduced him earlier this morning (at 8 am sharp, that is!) and inquired whether we have done our homework and learned the required pre course readings, none of us had confidently responded it, but few hesitated answers. I mean, Imagine those wives, husbands, children (or Dad, in my case), spouse, friends, etc, that waited at home to no avail, well, mostly, to spend some quality weekend time with my dedicated classmate. Where were they, when we crunched those materials last nite? Neglected, of course.

No wonder there are little enjoyment smelled in the air rite now. *grin


On additional Financial Mgmt class,

Sampoerna Strategic Square, North
Tower, 23rd floor,
Jakarta
, Sunday, Feb 17, 2008

between 08.00-18.00 wib




ReviewReviewReviewReviewReviewKematian Paman GoberJan 15, '08 4:39 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Seno Gumira Ajidarma

Kematian Paman Gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "Oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah memberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hampir selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hampir selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Paman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?

"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.
"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.
"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek.
Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari
depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Paman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun mausoleum (ket: kompleks kuburan megah) di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetangga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."
"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."
"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."
"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."
"Tapi Paman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa jadinya
Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan.
Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.
" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"
"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.


Jakarta, 16 Agustus 1994
oleh: Seno Gumira Ajidarma


Baca juga:
Apakah Kasus Hukum Seseorang Perlu Diteruskan atau Tidak


Catatan

Seno Gumira Ajidarma adalah penulis Indonesia favorit gue. Dia satu di antara sedikit orang yang karya nya hampir selalu gue jadikan koleksi; nyaris tanpa kritisi, no matter what. Gue suka cara dan gaya penulisan dia, selain terutama keliaran imajinasi sekaligus juga kelihaian nya dalam bermetafora. Salah satu contoh terbaik adalah soal Paman Gober ini.

Dikutip dari Art Culture, beliau dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Pendidikan tingkat Sarjana (S1) ditempuh di Fakultas Film & Televisi, IKJ, kemudian tingkat Magister (S2) Ilmu Filsafat, di Universitas Indonesia, untuk kemudian tingkat Doktoral bidang Ilmu Sastra pada universitas yang sama.

Karya-karya penulis cerita pendek yang sejak 1985 bekerja di majalah “Jakarta-Jakarta” ini antara lain: Mati Mati Mati (1978), Bayi Mati (1978), Catatan Mira Sato (1978), Manusia Kamar (1978), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994; kumpulan cerita pendek terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), dan sebagainya. Cerpen-cerpennya hampir setiap tahun terpilih masuk dalam antologi cerpen terbaik surat kabar itu. Pada 1995 ia memperoleh penghargaan SEA Write Award.

Yang menjadi kenangan sepanjang masa sekaligus buku pertama dia yang gue baca adalah Sepotong Senja untuk Pacarku. Buku ini menggetarkan pun tak terlupakan. Menjadi salah satu judul buku yang gue sebutkan sebagai paling favorit dalam profil Friendster gue..*grin

Adapun yang paling mengesankan buat gue adalah Jazz, Parfum, dan Insiden (1992) – yang banyak disebut-sebut sebagai catatan non jurnalistik (baca: “tidak-layak-muat” di media) atas kejadian di Timor-Timur saat propinsi tersebut masih bergabung dengan Indonesia. “Seri Timor-Timur” ini dituangkan dalam bentuk trilogi Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).

Trilogi buku yang terakhir ini seringkali menjadi topik pembahasan kelompok diskusi gue semasa kuliah di Bandung, dan terutama saat, kalau boleh mengutip jurnal Soe Hok Gie, hari-hari menjelang taufan di dunia mahasiswa.

Lebih jauh tentang Seno maupun karya-karya nya yang lain, silahkan lihat ke : Seno Gumira Ajidarma. Foto terlampir maupun artikel di atas diambil dari website tersebut.



ReviewReviewReviewReviewReviewDi Bawah Lindungan Ka’bahDec 31, '07 6:05 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Prof. DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai HAMKA menuliskan "Di Bawah Lindungan Ka’bah" yang bercerita tentang kisah cinta tak sampai antara kedua tokoh protagonis, Hamid dan Zainab. Inilah sebuah kisah mengenai “Long Distance Relationship (LDR)” yang takkan pernah lekang oleh waktu. Cinta yang berjarak antara Sumatera ke Mekah. Kepedihan yang berlandaskan pada rasa berserah diri pada Yang Maha Kuasa.

Ketidaksanggupan masing-masing mempelai untuk menjembatani jarak yang ada; baik ruang maupun waktu, adat, agama, maupun atas nama kepatuhan pada orang tua, membuat mereka tenggelam dalam deritanya masing-masing. Akan cinta yang merindu-dendam, menanti tak tentu. Setting kisah ini adalah pada awal abad ke-20 dengan teknologi perjalanan maupun komunikasi yang masih jauh tertinggal dibandingkan sekarang.

Seorang teman bertanya, dengan mengetahui juga betapa dalam perasaan si anak mengenai hal tersebut, apakah seorang ibu sebaiknya mencegah anaknya melakukannya demi melindunginya, ataukah membiarkan si anak mengambil resiko dan membuka peluang bahwa ia akan bahagia karena pilihan (yang akan diambilnya itu?)

That's what we called as parental complex syndrome; saat orang tua selalu merasa lebih tahu daripada anaknya. Bahwa mereka lebih berpengalaman, lebih berhak (dan karenanya wajib) untuk didengar, serta lebih bisa menentukan apakah makna kebahagiaan sesungguhnya. Dan seringkali kebahagiaan yang dimaksudkan itu lebih berdasarkan pada definisinya sendiri. Misal menjodohkan sang anak dengan putra-putri teman/sanak yang kaya raya/ terhormat/ etc. You named it.

Dalam dunia nyata, bahkan hingga saat ini, hal ini memang selalu terjadi. Sudah menjadi sifat dasar manusia, mungkin. Manusia manakah yang tiada berkehendak untuk menjadi lebih baik; entah dengan perbuatan sendiri, maupun dengan cara instant mendompleng pada orang lain?

Ini novel yang bagus, tapi ya; menyebalkan sekali betapa tokoh protagonisnya tak mampu berbuat apa-apa, kecuali menangis terguguk di depan Ka'bah. Dan melarikan diri dari kenyataan. Damn! Itu mengapa gue nggak pernah suka dengan novel ini; walau cukup terkesima melihat kemampuan HAMKA untuk menuliskan semuanya hanya dalam jumlah halaman yang sesingkat itu. Inilah mungkin ke-74 halaman yang sangat, atau bahkan paling, sulit dibaca dari sebuah karya sastra berbahasa Indonesia.

Sebaliknya dari sudut pandang lain, hal ini justru bisa dilihat sebagai tonggak kehebatan novel ini. Termasuk kekaguman atas bagaimana HAMKA dapat melekatkan kaitan relevansi antara masa lalu dengan masa kini. Inilah yang membuat novel ini menjadi sangat legendaris dan layak dikenang serta dibaca ulang. Pun hingga saat ini.


© terbanglahlbhtinggi
Jakarta, Sep 13, 2007 - 2:37 wib dinihari


Photo Caption :
Prof Dr Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias HAMKA.
Foto diakses dari internet, Senin, 31 Des 2007, 18.04 wib



ReviewReviewReviewReviewReviewthe “unusual” children bookNov 9, '07 6:16 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Parenting & Families
Author:unknown -- anyone? anyone? Please..


Lately I got oh so many emails either sent directly or through various mailing lists intended to share and, sadly most of them, to condemn the book. I replied to every one of them for sure, that could be read as follow:

My personal opinion:

I do not think that there is no wrong in telling (and teaching) the truth to every one - including infants. In addition, I believe that was the true intention of the book writers and/or publisher.

In fact, it is better for the children to find it out from trusted sources like the book for instance, than from another irresponsible ones i.e. their peers, that might be misleading. Moreover, most of the time, when sh*t happens; the kids do not know whom should be contacted. On the other hand, in many other cases, if they would know, they just simply do not have the courage, the time, the willingness to tell and, in turns, to get the help they needed the most.

It is due to the nature of our society here in Indonesia we tend to judge this kind of knowledge as "bad", "totally wrong", "sinful", and therefore against God's will. That the kids like those are the ones who should be blamed for instead those "nice uncles", or even the careless parents. Pity.

That is just my two cents. Hope that one day Indonesians will be more open and could simply differentiate what is right and what is wrong. Insya 4JJI

What do YOU think yourself? Tell me why.






Jakarta 12870 Pancoran,
Thursday, Nov 8, 2007 - 13.02 wib


PS:
1. Maaf baru reply, habis rapat dg Kantor Pusat dan Ditjen Pajak dari tadi pagi. To all of you guys who shared me this; nice fwd, anyway. Thank you.
2. Foto lengkap dapat dilihat di sini



ReviewReviewReviewReviewReviewIt’s Called a Break Up because It’s BrokenSep 16, '07 2:07 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Health, Mind & Body
Author:Greg Behrendt

This book was all an eye-opener, I gave it a full 5-stars right from its first pages without hesitating. It is highly recommended.

The title may suggested that it was intended for girls only, but if you let your mind open, and ready to use that scalpel to bravely cut deep down into your very heart, than you’ll realized that it actually could universally be applied; either to girls or even boys. The ones out there whose keep asking themselves of “why?”, and worn their friends out with their never-ending questions.

Over a year ago, my dearly friend, Cecille, lend me the book when somewhat she got really concerned of me complaining this and that about it. Of my wish and daydreaming sighs had I done something different, would it be that matter? She simply said NO, and virtually of course, slapped me on the face. And said,

You’ve done enough, you know that I know from the very beginning, and I did know that you knew, too. Moreover, bear in mind that you also know that this is the truth: she’s just not that into you. I told you that thousands of time, and you didn’t listening. If she felt that it is okay for her to do things like these, then she’s not that precious for you.

Yeah, when men fall in love, he cannot think of everything else *grin

I know that it is very hard for you to know that your ex had found someone new, especially when it happened that soon. And I know that it is very disturbing that you are not really understand why that happened. Or whether it was happened after you broke up or had been initially before. Well, mind that suspicious thing from your brain, dear friends. Because it would be no use anymore. Yet try to see it from another perspective. Trust me.. When I look back to my past, I am smiling.. :-) Why? B'coz I learn from the past..

It's good that you've already can look back & smile, girl. I envy you, dear. In my case, well, of course she could that easily moved on, and found somebody else, because she was the one who took the step. Ah, never mind. It doesn’t feel that matters anymore.

Behrendt also said that it wouldn't matter, because nothing would stop someone from being with the one’s another half s/he's really into, and if there's a problem, s/he would maturely discuss it in order to stay with her/him, instead of just using lame excuses to leave.

According to the book, it happened because she lost all the romance even long before the judgement day. Thus when the verdict fired (ta’elaaa…!:p), maybe she felt sorry for us, perhaps also a little bit guilty; but the biggest thought that would ever came up to her mind was: “..relieved..”

I have noticed this on her, even right away at the devastating moment. Do you still remember that when those mighty words had been spoken, I instantly asked her to do self-evaluation and made personal review of what had been through, of the relationship? For my better or worse? I shall honour her decision, though. But one cant help when a final last cry wondered through my dizzy mind:

Is it the perfect one or JUST the perfect timing?
…………..

What is there to say when all the love
has slipped away in half a minute.

There is always something we can blame,
but in the end it's just the same -

Suddenly, you find yourself alone.


[Basia - Half a Minute]


Originally composed at
Thursday, Aug 31, 2006 - 8:09 AM
© terbanglah lebih tinggi


Note:
* Parts of the article above was taken from a chat with my dearly friend, Cecille. The one who lend me the book, and dedicated her empathy. Appreciated her much.



ReviewReviewReviewReviewReviewTest PackAug 2, '07 5:34 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Ninit Yunita

Novel ini berkata; bahwa mungkin saja kita dapat jatuh cinta kepada seseorang hanya karena keadaan sesaat. Karena pada suatu saat tertentu dia itu baik, pintar, kaya, atau berbagai ragam karena2 yang lain. Kemudian, tantangan pun dilontarkan; pernahkah kau pikirkan, bagaimana bila dia dia mendadak menjadi jahat, tidak sepintar dahulu, atau bahkan jatuh miskin?

Akankah kau masih akan mencintai mereka?

Dalam kasus buku ini, setelah menikah selama 7 (tujuh) tahun, dan kau (maupun pasanganmu) masih tak dapat jua memperoleh anak yang diidamkan, karena infertilitas salah satu pihak; masihkah pihak, yang ternyata fertil & secara klinis sanggup “memproduksi” anak, menjadi pihak yang mempunyai hak untuk memutuskan tali cinta dan kasih sayang yang terentang, antara dua anak manusia? Hanya karena faktor ingin mempunyai anak yang didamba?

Akankah fungsi pasangan akan tereduksi dengan sangat, hingga hanya sekedar menjadi pejantan, atau induk untuk menyusui – seperti peternakan sapi? Ya, anak memang sumber cinta orang tua nya; tapi haruskah cinta tersebut lantas mengalahkan cinta pasangan, yang telah bersama dalam menjalani susah dan suka?

Di sini lah komitmen diperlukan – dalam mencinta. Untuk mencinta. Jangan pernah mencintai seseorang hanya karena berbagai atribut keduniawian yang melekat pada diri mereka. Hanya karena siapa atau apa atau kenapa atau bagaimana mereka adanya. Semua itu semu adanya. Dan yakinlah pada saat kau kehilangan beragam atribut itu, maka demikianlah nasib cintamu adanya.

Mencinta-lah seseorang, KARENA kau memang menginginkannya.

Because you want to.
To love unconditionally..

Orang akan berkata bahwa ‘unconditional love’ hanya terdapat dalam hubungan platonis antara orang tua dengan anak, sesama saudara, atau antara sahabat sehati. Di luar itu, dan terutama bila diterapkan pada hubungan romantis pria-wanita, adalah tidak mungkin, dan akan terasa sangat-sangat berat.

Berat memang; tapi bukan berarti nggak bisa, kan? For at least you can try; and if you shall vanish along the way, be sure that you do it unconditionally..

Life is merely a choice; take your chances, and be committed to it.

…Never feel when you have to think,
Never think when you have to feel…



Jakarta, Friday,
Jun 16, 2006, - 21:15 wib


PS:
This is especially dedicated for someone.
You know who you are,




Blog EntryBuku Bagus, Terjemahan BagusJul 20, '07 11:52 PM
for everyone

 

Lewat obrolan pada jurnal ini: What I Think about the Harry Potter series, seorang teman (hey, thanks for your intriguing comments!) memberikan sebuah pernyataan yang sangat menarik,

 

“..dan, buku yang bahasa aslinya bagus kalo diterjemahin tentunya juga lebih bagus..”

 

Sayang sekali gue teramat sangat nggak setuju dengan pernyataan teman tersebut di atas. Mengapa? Okelah, sebuah buku bagus dan dengan tata bahasa asli yang memang juga bagus itu satu faktor yang mendukung. Tapi kan banyak juga variabel ikutan lain; termasuk kemampuan penerjemah, kualitas editor, komitmen penerbit yang bersangkutan (di Indonesia), dan sebagainya. Dan pengaruh itu nggak bisa dibilang kecil lho.

 

Bahkan kemampuan penerjemah ini nggak terbatas hanya pada sekedar kemampuan berbahasa, tetapi juga kemapuan untuk merangkai kalimat yang menarik, kemampuan untuk melakukan reka ulang sesuai dengan kondisi sosial-budaya yang berlaku, hingga yang terpenting; apakah penerjemah yang bersangkutan familiar dan menguasai subyek yang dibicarakan.

 

Satu contoh yang gue sampaikan dengan senang hati (karena gue asli kecewa banget!) adalah Citizen Soldier, Stephen Ambrose, diterbitkan ulang oleh, salah satu penerbit favorit gue, Yayasan Obor Indonesia, 2005. Penerjemahnya dengan bangga memajang nama seorang profesor Universitas Indonesia sebagai Ketua (please deh!) Tim Penerjemahnya. Mungkin maksudnya buat nambahin promosi sekaligus jadi sumber jaminan mutu kali yaa.

 

Tapi apa hasilnya? Hancur lebur. Gue cinta banget sama koleksi buku gue; tapi untuk yang satu itu, langsung gue lempar tuh buku – dalam arti harfiah, hehe. Dan gue langsung login ke amazon buat nyari versi aslinya. Untuk informasi, ternyata bukan hanya gue seorang yang bertindak seperti itu. Beberapa teman juga mengamini dan bahkan bertindak serupa.

 

Jelas bahwa si Prof Dr entah siapa itu (no names, please), terlepas dari kemampuan berbahasa yang gue nggak tahu dan sepertinya nggak bisa gue komentarin karena ketidaktahuan tersebut, teramat sangat tidak menguasai subyek buku itu. Dan kesalahan fatal ini berakibat pada rusaknya kenikmatan membaca. Dan pembaca berhak memilih, bukan?

 

Jakarta, Saturday,

Jul 21, 2007 – 10.45 am

© terbanglah lebih tinggi

 

 

PS:

Keluhan tentang kualitas terjemahan Citizen Soldier pernah gue sampaikan di forum pasar buku.

 


Blog EntryWhat I Think about the Harry Potter series Jul 20, '07 12:51 AM
for everyone

 

 

Years ago, I borrowed all the first 4 books of the Harry Potter series out of a courtesy from a good friend, and read it without ever feel the urgency to watch its movie version. Not just in the theatres, but also on its DVD formats or as aired by the TV networks. I must say that I am not really into it. Dunno why.

 

Perhaps because I strongly think that JK Rowling, the author of the HP series, being raised as a native English, must have been, umm... “very inspired” by another well-known fantasy epics made on her era, i.e. “the Lord of the Ring”, by Prof JRR Tolkien and another one made by Tolkien’s best friend for life, “the Chronicles of Narnia”, by the great Prof CS Lewis; both were long time best friends and taught at the well respected University of Oxford.


Be noted that both stories developed the wide use of witchcraft and wizardry, strange beasts and monsters, and another world not very far away from ours, but yet  as different as it can be. The fact that Ms Rowling initiated the series when she broke and wrote it on a tissue paper was also did not help much. Not to mention if we critize the so many similarity found between the series and the legendary epics; either on the names, the character, the places, the magic spells, and the costumes. Being released long after those first 2 (two) epics, we could easily grow our suspicions toward her.*grin

 

Another thing is, because I always wonder what the heck we are doing here by obeying what Hollywood dictate us to do. To praise the “un-positive” characters all over the world of injustice and inconsistence. We already saw the hip of the legendary imaginative robber Robin Hood, the coolness of the heartless pirates (yet another robber!), the power of the dark side (witches, vampires, etc), and so on. Whilst on another side, we were choked by the immortal fights between good and evil, the black-white difference between the Heroes versus the Villains, and the ultimate power and winnings of thatWorld Cop” (or should we say, “cowboys”?). The happy endings that become the rights of the protagonist casts.

 

I stopped reading the series since the 4th book (HP & the Goblet of Fire), it was my last. And I treated this as my rights to spell my objection. As a (potential) customer, I believe I have my rights to do so. It doesnt matter. It was too dark, has some strong violence scenes, and thus I do not think that this 4th book was suitable enough for kids and children all over the world. Perhaps they should raise its legal age limitations to “teens”. I also realized that some religious organizations banned the series from being read by their students or followers.

 

I know some of my good friends who are in facts also good Christians have their strong objection against the series. They even managed to make a distance between the books and their kids, with some religious reasoning. Few of them mentioned that their own previous schools (either Catholic or Christian foundations) have banned the series from their library shelves. Quite information, I must say. Nevertheless, I (tried to) understand their motive, and can hardly opposed it. For I share almost the same concern myself.

 

Maybe it’s just too much in the sake of the freedom of information, but maybe it would be useful for ages to come. Well, who knows? Whose gonna bear the upcoming price but the children themselves? And their parents and relatives? And the society in a whole? Who’s gonna find out? Not me, of course.

 

It is our choice then whether we would like to take an active action, or just take it for granted, and be a passive absorber of the uniformized global culture and civilizations. Of consumerism. That they made us in need of things that we actually would not need to do or to have it. That we afraid for being left behind by this gigantic commercial mess called as modern and cosmopolitan living. We cannot stand to be called as out of date, ndeso, "katro", anti-social, or any other else labeled to those who’s said no to the main stream. Or as they put it on Harry Potter and the Order of the Phoenix (movie), to freely classify those whose not fall into your category, as Looney.


Well, after all, I watched “Harry Potter and the Order of the Phoenix (movie)” on the theater on last Wednesday. Why? Simply because a friend asked me out to accompany her. In addition, because another one told me to do so because she wants to read my review about it (narcistist.com!:p) Because I had some spare time after attended a meeting with Pertamina at the Oil Center tower, just oppositely situated in front of EX, on the MH Thamrin boulevard. And I planned to see it again with my Dad and my brother because they asked for it.


Therefore, I maybe ended up watching the movie more often than everyone else watches. At least more than what I intended to do. Ha-ha..

 

 

Jakarta, Friday,

070720 – 03.09 am

© terbanglah lebih tinggi

 

 

PS:

Have you read my review about its newest movie?

Read here: Harry Potter and the Order of the Phoenix (movie)

 

  


oleh: terbanglah lebih tinggi

 

 

A friend, whose name better not to be mentioned here due to the information consent; has fun-forwarded me an already well-distributed article through various mailing list and friends over the weeks of the brand new year; and asked me one serious question :

 

-– why don’t you wrote about this?**--

 Tuesday, January 16, 2007 – 13.12 wib

 

 

Kenapa?

§         Karena artikel tersebut tidak menyertakan alamat blog/website sang penulis asli, jadi gue sangat meragukan kebenaran isi nya.  

§         Karena dengan membaca isinya lebih jauh, gue percaya bahwa ini adalah hoax. Setahu gue sih, kalo penerbangan biasanya nggak peduli soal usia pesawat; tapi lebih ke flight hours and cycles..

§         Karena data-data teknis yang dimuat di dalam artikel tersebut sudah dibantah oleh teman-teman yang ahli penerbangan

§         Karena isinya sangat memojokkan Ad*m Air, dengan validitas yang masih dapat dipertanyakan (artikel tersebut mengklaim bahwa penulis asli artikel dimaksud "katanya" adalah seorang bule; tapi perhatikan bahasanya, orang Indonesia banget!)

§         Dan yang paling absurd, karena kalau memang datanya benar, kenapa malah para pembaca yang disuruh untuk melakukan verifikasi sendiri, tetapi tanpa sang penulis menyertakan sumber2 akurat yang bisa di-crosscheck? Catatan: lihat kalimat paling bawah pada potongan artikel yang disertakan – bahkan penulis tersebut SALAH menuliskan kata “memverifikasi” menjadi “memverivikasi”. Mau ketawa sampe mampus! Cukup sekian dengan yang katanya bule dan jago bahasa Inggris, pastinya.

 

Dan terutama karena penyebaran lebih lanjut atas isi artikel di bawah bisa menuai tuntutan hukum perdata dari pihak Ad*m air dengan tuduhan informasi palsu, pencemaran nama baik, penggiringan opini publik - you named it!, hehehe (jadi tolong sampaikan agar berhati-hati pada teman-teman yang sudah menyebarkan berita ini). *grin

 

Ohya satu lagi kenapa -- karena gue lagi sibuk bangetssss buat sekedar curi waktu untuk melakukan updating atas isi blog gue; baik di rumah, apalagi di kantor! Hehhee..

 

Ngomong2, katanya ada peduli banget soal "consent infos"? Bila ya, tentu elo setuju bahwa informasi seperti di bawah teramat sangat tidak layak untuk disebarluaskan untuk menjadi konsumsi publik. *wink2!:p

 

 

Jakarta 12870 Pancoran

Tuesday, Jan 16, 2007 – 13.22 wib

 

 

 

PS:

** For the fun-forwarded article mentioned above, read as follows. Be noted that due to information consent concern, especially since I believe that this fun-forwarded email was a hoax, I don’t insert its full lenghty original version. But I’m sure that you must have read it. No?)

 

 

------------

From: Jane

Sent: Monday, May 15, 2006 - 8:00 PM

Subject: Informasi Penerbangan Di Indonesia


Seorang ekspatriat
yang tinggal di Jakarta menulis artikel ini. FYI.

Fear Factor : Flying in Indonesia _ D A N G E R ! ....deleted.....

Terjemahan bebas menurut dokumen aslinya, oleh: MarCom

Silahkan memverivikasi kebenarannya. ....deleted.....

 

 


Blog EntryBerburu atau MembeliJan 25, '07 1:36 PM
for everyone

oleh: terbanglah lebih tinggi

 

 

Mengapa kita harus memburu (baca: memburu, bukan membeli) buku? Seseorang di luar sana (artikel asli baca di sini) berpendapat bahwa hal itu adalah bukti keserakahan. Seseorang lain yang pernah dekat dengan saya dengan tegas meminta agar saya merubah “budaya membeli” menjadi “budaya membaca”. Agar membiasakan untuk membeli buku hanya sejumlah yang dapat kita habiskan.

 

Serakah?

 

Mungkin. Tapi itu persepsi. Dan bisa berbeda dengan berpindahnya isi kepala yang katanya berambut sama hitam (well, I have a natural dark brown hair myself, so I can legally have a different comment, hehe). Dan siapa yang bisa menjamin bahwa persepsi; yang semata dibentuk oleh keadaan, pengalaman, dan lingkungan - yang satu, dapat menjadi lebih baik, lebih benar, atau bahkan menafikan yang lain? Tidak ada, pastinya.

 

Selain itu, jangan lupa bhw kita hidup di Indonesia. Di mana kebanyakan buku tak pernah dicetak hingga melewati "angka keramat" 3,000 eks. Di mana (kebanyakan) buku hanya dicetak 1x; untuk sekedar memenuhi tes pasar belaka. Akibatnya? Bila buku tersebut sudah hilang dari peredaran, ya sudah. Kita bisa memastikan bahwa penjelajahan ke berbagai tempat sekalipun (di Indonesia) tak akan menghasilkan buku tersebut. End of the story. Siap2 kecewa.

 

Sebab personal lain mungkin karena pada dasarnya saya adalah seorang yang lebih mementingkan untuk membeli buku daripada membeli makanan. Dalam konteks yang sangat ekstrim (terjadi saat krisis moneter melanda tahun 97-98 lalu di Bandung), saya benar-benar rela untuk mengorbankan sekian minggu jatah makan siang (atau bahkan plus makan malam) saya hanya agar saya dapat mengumpulkan cukup uang untuk dapat membeli beberapa buku yang saya inginkan dan/atau butuhkan. Banyak yang heran, tentu. Tapi apa bedanya dengan mahasiswa2 lain yang juga sama kesulitan untuk sekedar dapat membeli makanan yang layak, tapi toh ternyata masih sanggup menghisap berbatang2 rokok? Atau sekelompok lain yang mengaku tidak sanggup membeli text book, tapi tiap weekend dapat dengan mudah ditemui keberadaannya di Fame Station?**

 

Be noted that most of my closest friends (ie; they who share me the same feelings & ideas) have also confirmed this. And they’re not merely vegetations, no? They have the rights to think and behave the way they want – including to practise this kind of book buying. Yeah, perhaps I’m taking more than I could chew, but I love it anyway.

 

Berkaitan dengan itu, ada satu paradoks menarik yang saya alami;

 

(1) Dulu hampir tak sanggup membeli buku, tapi punya banyak waktu luang.

(2) Sekarang hampir selalu bisa membeli buku apapun, tapi tak ada waktu luang.

 

Bila dari kedua kondisi itu hanya satu yang bisa dipilih, mana yang akan kau ambil? *grin

 

 

Jakarta 14130 Cilincing

Jum’at, 17 Nov 2006 – 21.00 wib

 

 

PS:

*   Photo courtessy of TLT. Enlarged version could be found here. Be informed that the

     picture shows the books I bought from Jan-Sep 2006 only.

** Fame Station adalah salah satu club paling hip di Bandung saat itu.

 


ReviewReviewReviewReviewReviewthe Lone SamuraiNov 18, '06 6:04 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:William Scott Wilson
the Lone Samurai - Miyamoto Musashi
oleh: terbanglah lebih tinggi


Salah satu biografi terakhir yg gue baca - dan akan sangat gue sarankan; the Lone Samurai - Miyamoto Musashi, karya Wilson. Bahasanya sgt bagus (terjemahannya jg), strukturnya menarik, ulasannya detil, tp nggak kehilangan kejelasan nya maupun juga tdk terjebak mjd bertele2. Buku tsb juga tidak terjebak ke salah satu sisi; tdk memuji2, tetapi juga tidak mencaci-maki. Akan sgt disarankan bila elo terlebih dahulu sudah baca novel nya Eiji Yoshikawa yg segede bantal itu (tapi udah gue baca ulang 20x, hanya dalam waktu 3 tahun, hehe.. My most fave book ever; pertama baca dlm bentuk serial di majalah Hai th 80-an.. Bener nggak sih?).

Tak dapat disangkal betapa besar nya pengaruh Miyamoto Musashi dlm membentuk jiwa bangsa Jepang modern spt saat ini, dan bahkan pengaruhnya pun juga terasa di dunia Barat. Musashi lah, tokoh sejarah satu2nya di seluruh dunia yg seolah tak pernah habis diceritakan dan diceritakan ulang; tentunya semua dg versi masing2 dan mnrt kepentingan sendiri2. Tak jarang masing2 cerita tsb bertabrakan dg seru nya, atau bahkan menggambarkan Musashi scr ngawur - baik dari segi sifat, penggambaran suatu kejadian, maupun lokasi & waktu kejadian. Tetapi dari kesemua versi tsb, tiba2 Yoshikawa Eiji menyodok dg novel Musashi, yg pertama kali diterbikan sbg cerita serial pada sebuah surat kabar Jepang terkemuka.

Semangat Musashi digambarkan dg baik saat nama nya dipilih sbg nama salah satu dari 2 (dua) kapal tempur (battleship) terbesar di Jepang, dan bahkan terbesar di dunia, yg dibangun & diluncurkan menjelang bera