| |
terbanglah's posts with tag: culture
Belakangan, semakin banyak rekan dan pelintas yang mempermasalahkan soal makin maraknya pemakaian keffiyeh (maafkan kesalahan tulisan) dalam dunia mode. Yang berkomentar negatif beranggapan bahwa keffiyeh, atau secarik kain rumbai2 yg bercorak kotak2 putih merah atau apapun dan dililitkan di leher sbg penahan dingin, seharusnya merupakan simbol perjuangan Palestina. Sebagian mencoba merunut sejarah pemakainya yang merupakan warisan tradisional bangsa Palestina.Seharusnya? Pokoknya? Semestinya?Bukannya, dalam tulisan terkait, diakui bhw "kain" itu hanyalah sekedar simbol tradisional? Kalau semisalnya sekarang kain itu berkembang menjadi simbol perjuangan Palestina (ah, mungkin lebih tepat bila disebutkan sbg simbol kapitalisme dan korupsi rezim Yasser Arafat yang oportunis & kolaboratoris, heuhehe), dan seterusnya menjadi simbol dunia mode dan selebritas; adakah sebuah maha otoritas di dunia ini (atau di luar sana) yang berhak mengatur pemakaiannya maupun kode etik penguasaan atas simbol tsb?Bukankah simbol merp sebuah produk budaya? Berkembangnya suatu budaya merp bukti perkembangan manusia sbg khalifatullah, makhluk Tuhan yang paling mulia di muka bumi. Ataukah budaya itu memang harus suatu eksklusivitas semata? Suatu ikon "pokoknya". Suatu yang "kami", dan bukan "mereka"? Dan karena bukan "kami" lantas harus dilawan, dengan rezim "pokoknya"?Jakarta, Sat, March 1, 2008 - 06.55 amSting; singer, song writer, respected environmentalistPhoto was taken from the internet
| Start: | Jan 27, '08 07:30a | | Location: | Escompto Bank, Sunda Kelapa, dan sekitarnya -- Jakarta |
SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren:
PLESIRAN TEMPO DOELOE PORTRET-PORTRET DI KOTA TUA Koelilingin bilangan Djakarta Tempo Doeloe, tjari tahoe locatie preciesnja Soenda Kalapa, Djajakarta dan Batavia dengen berdjalan kaki Sembari portret-portret pake toestel manual atawa digitaal, jang penting hatsilnja jahoed poenja, poela aken ada Pak Alwi Shahab jang demen noelis perkara riwajat ini kota, diaorang djoega djago bertjeloteh perihal keadahaan sedari doeloe sampe sekarang. Poen toean en njonja bole rasahken makan onbijt (sarapan) dengen Nasi Oelam Misjaya jang tersohor hingga ka pendjoeroe negeri.
ESCOMPTO BANK - CHARTERED BANK - KALI BESAR - JEMBATAN KOTA INTAN - GARIS PANTAI SOENDA KALAPA tahun 1522 - DJAJAKARTA - PRINSENSTRAAT - DASAAD MUSIN CONCERN BUILDING - STADHUISPLEIN (Lapangan Balaikota), dsk (Jl.Bank - Jl.Kali Besar Barat - Jl.Nelayan Timur - Jl.Cengkeh - Taman Fatahillah - Jl.Pintu Besar Utara) Minggu, 27 Januari jam 07.30 pagi Rp.30.000/orang (tiga puluh ribu) kalo pada mau ngedaftar, hub: adep@cbn.net.id atau 0818 94 96 82 yuk mari, mari...
|  | Once I saw this sign, I hate it already!
Why do we have to make this sign? Is it really necessary? What is the real reason behind this? I claim and feel ashamed for those who shouted about the women power, emancipation, equality, and so on and so forth.... But yet, still use these facilities.
Is it because the ladies who wear the high heels or the stiletto shoes are too lazy to walk? Just cut your feet babe! You with your Cinderella's brain and the superficiality life around you!
Ah, Jakarta.....
Thought narrated by : http://daniellebelle.blogspot.com Idea and picture by : http://terbanglahlbhtinggi.multiply.com
Location : Senayan Arcadia, Jakarta Date : Thu, Jan 10, 2008, +/- 02.00 am
|
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah |
Prof. DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai HAMKA menuliskan "Di Bawah Lindungan Ka’bah" yang bercerita tentang kisah cinta tak sampai antara kedua tokoh protagonis, Hamid dan Zainab. Inilah sebuah kisah mengenai “Long Distance Relationship (LDR)” yang takkan pernah lekang oleh waktu. Cinta yang berjarak antara Sumatera ke Mekah. Kepedihan yang berlandaskan pada rasa berserah diri pada Yang Maha Kuasa.
Ketidaksanggupan masing-masing mempelai untuk menjembatani jarak yang ada; baik ruang maupun waktu, adat, agama, maupun atas nama kepatuhan pada orang tua, membuat mereka tenggelam dalam deritanya masing-masing. Akan cinta yang merindu-dendam, menanti tak tentu. Setting kisah ini adalah pada awal abad ke-20 dengan teknologi perjalanan maupun komunikasi yang masih jauh tertinggal dibandingkan sekarang.
Seorang teman bertanya, dengan mengetahui juga betapa dalam perasaan si anak mengenai hal tersebut, apakah seorang ibu sebaiknya mencegah anaknya melakukannya demi melindunginya, ataukah membiarkan si anak mengambil resiko dan membuka peluang bahwa ia akan bahagia karena pilihan (yang akan diambilnya itu?)
That's what we called as parental complex syndrome; saat orang tua selalu merasa lebih tahu daripada anaknya. Bahwa mereka lebih berpengalaman, lebih berhak (dan karenanya wajib) untuk didengar, serta lebih bisa menentukan apakah makna kebahagiaan sesungguhnya. Dan seringkali kebahagiaan yang dimaksudkan itu lebih berdasarkan pada definisinya sendiri. Misal menjodohkan sang anak dengan putra-putri teman/sanak yang kaya raya/ terhormat/ etc. You named it.
Dalam dunia nyata, bahkan hingga saat ini, hal ini memang selalu terjadi. Sudah menjadi sifat dasar manusia, mungkin. Manusia manakah yang tiada berkehendak untuk menjadi lebih baik; entah dengan perbuatan sendiri, maupun dengan cara instant mendompleng pada orang lain?
Ini novel yang bagus, tapi ya; menyebalkan sekali betapa tokoh protagonisnya tak mampu berbuat apa-apa, kecuali menangis terguguk di depan Ka'bah. Dan melarikan diri dari kenyataan. Damn! Itu mengapa gue nggak pernah suka dengan novel ini; walau cukup terkesima melihat kemampuan HAMKA untuk menuliskan semuanya hanya dalam jumlah halaman yang sesingkat itu. Inilah mungkin ke-74 halaman yang sangat, atau bahkan paling, sulit dibaca dari sebuah karya sastra berbahasa Indonesia.
Sebaliknya dari sudut pandang lain, hal ini justru bisa dilihat sebagai tonggak kehebatan novel ini. Termasuk kekaguman atas bagaimana HAMKA dapat melekatkan kaitan relevansi antara masa lalu dengan masa kini. Inilah yang membuat novel ini menjadi sangat legendaris dan layak dikenang serta dibaca ulang. Pun hingga saat ini.
© terbanglahlbhtinggi Jakarta, Sep 13, 2007 - 2:37 wib dinihari
Photo Caption : Prof Dr Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias HAMKA. Foto diakses dari internet, Senin, 31 Des 2007, 18.04 wib

Some of my most sophisticated, successful female acquaintances, the ones I considered as progressive and high achievers, surprisingly, still believe that women should be valued lesser than men do. That they should never be going too far more than it is supposed to be. Those men should be the best in their family, or in the middle of the society, or on building and/or maintaining a relationship. It was quite a shocking statement for those female friends that consider themselves as independent women. Frankly, I can hardly imagine that you could have such a, err... conservative thought like this. Why that ambiguity, anyway? They defend themselves by judging that males would be intimidated with such high profile status, and would then shoo them away from their (potential) romantic life. Maybe yes, maybe not. Nevertheless, let us see it from a different perspective, that men like those don’t even deserve the chance to be around those great women. Don’t you think so? Stand up, girls! Be proud of yourself. Moreover, I believe that such argumentation is just a manifesto of a social perception that should not be obeyed furthermore. Because it won’t led you anywhere but here, dear.. Not all what people said should be followed, and not all men are jerks *grin To be independent, is to have your own dreams, to believe in your own ideals, and to go through every thing to seize them - no matter what. Of course as long as you are not breaking the law and not bothering anybody else. Some would call this as emancipation. It is a term used to describe various efforts to obtain political rights or equality, often for a specifically disenfranchised group, or more generally in discussion of such matters. Well, in Indonesia, despite its very big Islamic stronghold, emancipation tends to be singularly articulated as treating the men as the enemies.. Thus, all women should fight them back, and liberate themselves by winning fights. Those who firmly believe that marriage constitutes slavery for women and that freedom for women cannot be won without the abolition of marriage. Those “establishment feminists" are against the majority of women, who love men in the most natural, simplest way. Although such radicals beliefs as Male Chauvinism (i.e. the beliefs that males are superior to females) does exist, and perhaps unconsciously applied, such thing doesn’t AND couldn’t justify the unholy war between the two sexes. Not to meet their peer demands, not even to counter their own relationship issues. The phenomenon is further be emphasized by the oppressing facts of strong cultural and social (mis)perceptions concerning the working female class. The ever grown number of young, educated, independent, high-achievers women; that often find themselves lost in the translation. Putting one hold to the family (and traditional) values, whilst setting themselves free to the open world with another step; they could easily collide with the arrogant walls of patriarchy, religions, conservatism, or merely simply, uh, stupidity. Some will fall, some will try (or at least they ACT as they are) to fight(-ing) back, few will survive and find their own way. Those that take the safer path and those who succeed then find the better way to fit themselves in the society. The most of those who deals with the problems, often finding themselves exhausted halfway. Then started to inquiry what they really want. Especially if they cannot define it clearly, how to get it properly, and at the moment when the surrounding started to become more concerned about their tickling biological clock. As a result, this group then slowly faded away, and calmly changes their skins over-nite, as if nothing happened. Suddenly marriage is not become the detention anymore, but nicely transform itself as the gate of freedom. The new status acknowledgement. They become, in that instance, what they hated the most, with or without they knowing why or realizing it how. Sadly, as far as I know, many of them helplessly fall into this category. The self-identification proudly previously pronounced seen only as a self-actualization between their peers. To be considered as modern and sophisticated by the crowd. To have their approvals and to be considered as the inner groups. To have their own self-justification against those curious or concerned mind, as well as questions regarding their relationship status. However, guess that’s all just a playful, meaningless, idealized lip-sync. I do not want to judge it here, especially since from what I've been seen, I think the bulk of the Indonesian young urban professional females think merely the same. Yet I would like to underline that I consider it differently; to demonized the men and criticized the sacred marriage body is just a mahzhab (i.e. branch) of the greater movement. I strongly believe that it is not about winning or lose. It is not about suspiciously looking to each other, or even hating each other. It is about working together, and sharing ideas, knowledge, and experience. Like days and nights, everything got its own place to create harmony and integration -- not to face each other. Monday, Dec 24, 2007 Jakarta at 9:58 AM © terbanglah lebih tinggi
Anyway, just wanna share you this, hope it could help. 1. Karena Wanita ingin Dimengerti* 2. Sebilah Pisau bernama Poligami 3. Melajang: Gugatan atas Nasib Perempuan 4. Peran Perempuan 5. Wanita yang Telanjang* 6. Further readings: Women Issues
More knowledgeable and/or scientific readings concerning the issue could be found over the internet. Or do you rather have your own opinion? Please. Photo courtesy of TLT, nov 12, 2006 "It's only on your Imagination, dude!"
Disclaimer: photo was meant as an illustration only

Tabuik is the local manifestation of the Shi'a Muslim. Remembrance of Muharram among the Minangkabau people in the coastal regions of West Sumatra, Indonesia, particularly in the city of Pariaman. The festival includes reenactments of the Battle of Karbala, and the playing of tassa and dhol drums. Nowadays most inhabitants of Pariaman and other area's where similar Tabuik-festivals are held, are mainly Sunni Muslims.*
Sebenarnya yang gue maksudkan pada saat membaca artikel bagus tentang Tabuik ini adalah tentang kenyataan bahwa TERNYATA masyarakat Indonesia itu sangat pluralis ya (rethorical question). Bahkan perayaan Tabuik yang notabene berada di lingkup Syiah (untuk memperingati Pertempuran Karbala di Irak) itu sekarang dirayakan oleh mereka yang mayoritas Sunni, sungguh suatu kenyataan yang hebat. Dari situ gue jadi berpikir, yang katanya kita (Indonesia) cuma Sunni ternyata ada tuh yang Syiah juga. Jadi kepikiran soal berbagai kasus penerapan agama (mostly Islam) yang katanya sesat, dan melenceng - bahkan hingga diklaim sebagai sebuah penistaan agama. Can you give an example or two? Mereka yang dituduh sesat itu diperlakukan sedemikian, hingga hak-hak mereka untuk hidup, dan dengan mengutip Konstitusi negeri ini, "..bahwa tiap-tiap orang dijamin hak dan kebebasannya untuk beragama dan menjalankan ibadah menurut agama nya masing-masing.." tersebut, dilanggar dan diperkosa begitu saja. Tempat ibadah mereka dirusak, perkumpulan mereka diserbu, komunitasnya diteror dan diganggu, dan para penggiatnya dikirim ke terali besi. Ironis bukan? Maksud gue, sejak kapan kenyakinan bisa diadili? Dan bahkan sang pengadil pun hanyalah sesama manusia biasa yang tak luput dari khilaf, salah, maupun dosa. Apakah kebenaran yang dicoba ditegakkan dengan hukum manusia itu benar2 merupakan hukum Tuhan, atau hanya lah sebentuk ketakutan kolektif akan sesuatu yang lain, berbeda, dan merangsang? Sesuatu yang, mungkin, dikuatirkan akan menggerogoti kekuasaan politik para Imam dan masyarakat yang merasa berhak untuk melabeli mereka yang lain sebagai "sesat"? Jakarta 12870 Pancoran Friday, Nov 16, 2007 - 16:48 wib © terbanglah lebih tinggi
PS:* Infos and photo were accessed on wikipedia on 071211-1638.** part of this article was originally submitted to a culture-lovers mailing list*** judul terinpirasi sebuah buku karya Soe Hok Gie, “Orang-orang yang Berada di Persimpangan Kiri Jalan”. Sebuah karya ilmiah yang mencoba memahami dengan empati atas ideologi mereka yang memilih untuk menjadi “berbeda”..PS.PS: Tulisan menarik dari seorang sahabat dapat dibaca di sini: Jemaat Ahmadiyah, mereka Saudaraku!
Selasa malam, pulang ujian dalam kondisi lelah dan bete gara2 Kamisnya bakal ada ujian lagi, ternyata ada hiburan manis dan menyenangkan yang menyambut gue lewat siaran TV di rumah (Metro TV).
Inul Daratista, penyanyi dangdut yang dulu sempat terkenal dengan goyang ngebornya sedang diadili oleh X (anggota DPR) dan Y (juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia).
Ini soal patung diri Inul yang dia pasang di depan rumah nya sendiri, di daerah super elit Pondok Indah, selatan Jakarta. Memang beberap hari terakhir ini silang pendapat soal ini sedang seru-seru nya di berbagai media; virtual maupun offline.
Tapi tanpa dinyana, justru Sang Diva lah yang berhasil mendaratkan beberapa tamparan telak ke wajah para patriakis yang hanya tinggal tergagap-gagap; lupa segala ijazah mentereng pun jabatan bergengsi; bertekuk lutut di hadapan seorang perempuan ndeso.
Ada beberapa kalimat yang membuat gue tertawa ngakak, berpikir serius, atau terpancing untuk berdiskusi dengan bokap yang pensiunan AL dan adik gue yang jadi staff ahli di DPR. Tapi kalimat favorit gue adalah jawaban sekaligus tantangan Inul atas kekuasaan yang dipertontonkon X dan Y (ditulis ulang dengan kata-kata sendiri):
“..bilamana penampilan di atas panggung dianggap sebagai pembangkit syahwat, lantas apa dan bagaimana batasannya untuk menentukan mana yang dianggap melanggar, dan mana yang masih diperbolehkan? Apakah lantas nanti akan diukur tiap saat pinggul saya (Inul) bergerak ke kanan berapa inchi, dan bergerak ke kiri berapa inchi?..”
Dan X dan Y pun bertindak bagai orang tenggelam yang nggak bisa berenang; ngawur serta gelagapan!
Untuk dicatat, sang pembawa acara yang sekaligus bertindak sebagai moderator, walau sudah berusaha untuk bersikap profesional, masih terlihat tendensi pembelaannya terhadap Inul. Nggak bisa dibilang salah sih, karena dalam hidup kita memang harus bersikap. Akan tetapi mengingat kapasitas nya saat itu, sikap ini patut disayangkan.
Acara tersebut juga lama kelamaan jadi cukup membosankan karena jagoan pembela susila rakyat itu ternyata terjebak sendiri dengan pernyataan-pernyataan yang mereka keluarkan, dan nggak berhasil menggiring Inul untuk menunduk takluk. Di sini kapabilitas sang pembawa acara (siapa ya? Lupa) musti sekali lagi dipertanyakan.
Bagaimana dengan elo sendiri?
Jakarta, Tuesday Nov 20, 2007 – 21.00 wib
PS: Total nilai yang gue berikan untuk acara ini cukup 4 (empat) bintang saja.
Baca Juga:
1. Bolehkah Ketelanjangan Wanita menjadi Justifikasi Pemerkosaan atau Pelecehan?, Feb 23, 2006
2. Mengapa RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi) Pantas Ditolak, Feb 23, 2006
Beberapa Artikel di Media:
1. Patung Inul Pantas Dipajang di Kamar Mandi, Kompas Cyber Media, Senin, Nov 12, 2007
2. FBR akan bongkar patung ngebor, Banjarmasin Post, Selasa, Nov 13, 2007
3. Patung Inul Daratista Diturunkan, Nov 13, 2007
"..You never really understand a person until you consider things from his point of view... Until you climb inside of his skin and walk around in it.." [To Kill a Mockingird, Harper Lee, 1960]
Gue yakin, semua juga sudah paham bahwa musuh kita yang terbesar bukanlah mereka yang ada di sekitar kita, melainkan justru diri kita sendiri. Ini udah sering diingatkan, hingga seolah telah menjadi bahasa sehari-hari yang meluncur begitu saja dari bibir kita; mungkin tanpa pernah benar-benar kita bisa pahami. Atau jangan-jangan malah sudah lupa? Dalam Islam (mohon maaf kepada rekan lain), paling tidak adagium tersebut memperoleh wahana pembuktiannya saat kita diharuskan menunaikan ibadah Puasa Ramadhan; sebulan penuh. Lupakan perjuangan menahan haus dan lapar, yang ditenggarai masih menjadi tujuan utama mayoritas umat dalam berpuasa, tetapi cobalah berpuasa karena kau ingin melawan dan, tentunya, mengalahkan diri lo sendiri. Bagaimana caranya? Nggak ngegosipin orang, nggak berprasangka, nggak (gampang) marah, nggak menyakiti hati orang lain, dsb. Menarik sekali bukan? Karena itu semua sejatinya merupakan fitrah manusia. Tentu itu hanya beberapa di antaranya. Dan tenang aja, lo nggak perlu ribet hafalkan semua kok. Sebagai gantinya, secara sederhana, jalankan saja prinsip :
bahwa kau tidak akan melakukan hal apapun yang kau tidak ingin orang lain lakukan terhadap diri elo. Siapa sih yang pengen digosipin? Atau disakiti hatinya? Pasti nggak ada. Jadi, kenapa lo mau lakukan itu terhadap orang lain? As simple as that, dude. Sayang seribu sayang, banyak di antara kita yang, sadar atau tidak sadar, terjebak pada bahasa-bahasa simbol; menjadikan agama sebagai sekedar suatu kewajiban yang berdiri terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Sekularisme. Begitu datang Lebaran, begitu selesai pula kebaikan hati. Menguap begitu saja entah kemana. Kenapa bisa begitu? Ya itu tadi, karena soal bahasa simbol tadi. Sehingga seolah agama direduksi maknanya hingga hanya tinggal penghias seremonial belaka. Perginya Lebaran cenderung berbarengan dengan menguapnya sifat-sifat baik yang dicoba ditanamkan oleh jerih payah berpuasa sebulan lamanya. Bila sudah begitu maka, ekstrimnya, buat apa berpuasa kecuali hanya lapar dan haus? Mengutip iklan, tanya kenapa. Catatan: Artikel ini merupakan renungan gue tadi pagi sesaat sebuah kecelakaan menimpa diri dalam perjalanan menuju kantor, di perempatan Cawang arah Semanggi; sebuah mobil Toyota Kijang Innova putih menabrak motor Thunder 250 gue dalam posisi serong dari kiri belakang, dan menjepitnya ke mobil boks yang ada di depan. Sebenarnya gue langsung mengalah dengan cara mengerem, sekaligus untuk menghidari kerusakan lebih parah. Tapi entah kenapa, Innova sialan itu bukannya ngerem, malah tetap berusaha maju (sopir maupun penumpang nya berwajah marah dan melotot ke gue). Ya, memang dalam kecepatan lambat sih. Akibatnya bukan hanya ngerem, gue malah terpaksa berhenti dan memiringkan motor ke sebelah kanan, hanya agar Innova itu dapat memperbaiki posisinya – harapan gue agar dia mundur. Ternyata dia malah tetap maju, melindas ban depan gue dengan sukses, dan membuat gue berjuang menahan Thunder gue yang udah nyaris rebah ke sebelah kanan. Pikiran pertama yang terlintas, hancur dah velg dan ban depan gue. Jangan2 lampu depan dan lampu sein juga rusak nih. Pikiran kedua, sotoy bener tuh Innova, gue baret juga lo pake stang gue. Atau gue hajar tuh kaca spion. Jadi sama-sama rugi kan? But then I reminded myself to positively analyze the situation; hey, it’s just an accident! Who does want to get involved by intention? And I started to consider things from his point of view. Maybe he just didn’t see me, maybe he wanted to avoid some obstacles on his left. Maybe he hurried himself for not getting late, or just want to save a parking lot on his office building. Maybe he just playing evil, but so what? Satu-satu nya yang tergores dari peristiwa itu adalah “ego” gue. Tapi tentu saja itu nggak penting, toh harga diri gue masih utuh. And the most important is, my Thunder seems to be okay (that’s the plus to buy a CBU not a CKD, haha). Beside, those damn motorcycles behind me has already screamed to go through. Ohiya, gue hafal no polisi mobil itu, tapi ya sudahlah.. Seperti gue bilang di atas, the only thing that hurt was just my ego, not myself nor my bike. So what? Jakarta, Thursday Nov 22, 2007 – 07.45 am Baca Juga:
1. Indonesia: a Symbollic-Obsessed-Nation 2. the Jakarta Jive : the Fasting Festive 3. Just Another Near Death Experience 4. See No Evil : the Jakartans Behaviour Keterangan:CBU : Completely Built Up (impor asli, coy!) CKD : apa ya singkatannya? Pokoke ini rakitan dalam negeri, biasanya lebih murah.
Di Jakarta, atau mungkin juga di Indonesia, saban kali menjelang Ramadhan, kewajiban berpuasa sebulan penuh bagi Muslim, mesti ada kebiasaan yang sudah mendarah daging, yaitu: Makan bareng; 3 hari terakhir menjelang puasa sepertinya semua jalan menjadi macet total, deh! Gue sendiri, buat 3 hari itu, udah ter-booking abis, hehhe.. Senin makan di dapsun (= dapur sunda, Pancoran), hari Selasa di Sari Kuring sebelah BEJ, eh.enggak dhing, on last minute dispute Cecille and I managed to solve our difference and relocated it to Spageddies, Senayan City. Trus hari Rabu nya ada acara dengan yang lain dan masih agak2 bingung apakah mau ke la Marche di Melia, Ritz Carlton, Hanamasa Mahakam, atau nasi padang biasa? Ehh.. akhirnya malah ke Kafe Pisa Mahakam; lumayan, itung2 lagi diskon 50% for all items selama Ramadhan. Hmmm.. Kadang agak bingung juga sih, kenapa yaa, semua orang makin lama makin mengganggap penting budaya makan bareng sebelum puasa ini? Segitunya, bahkan seolah-olah ini udah jadi semi wajib; so liable, that everybody seems to frantically and obliguely try to find an empty spot and moment to celebrate it. Gila, sepanjang jalan Wolter Monginsidi bukan hanya macet total, tapi bahkan sudah berubah menjadi lapangan parkir raksasa! (berlebihan deh gue, hehe..) Yang lucu, semua tempat makan penuh sesak; bahkan termasuk mereka yang pada hari2 biasa itu dilirik saja enggak. Whalah, inilah salah satu berkah (menjelang) Ramadhan, rupanya. *grin Soal makan bersama itu mengarah pada kebiasaan sebelum berpuasa No.2, yaitu saling memaafkan sebelum puasa. Iya sih, itu buat silaturahmi, dan syukur2 kalau masing-masing dari kita bisa saling memaafkan sebelum Ramadhan. Jadi kita bisa memulai ibadah puasa dengan hati bersih dan pikiran jernih; bebas dari semua kesalahan, kemarahan, dan ketidakpuasan – insya 4JJI. Ini sebenarnya kencederungan baru yang sangat menggairahkan, jadi bisa memulai puasa dari titik 0 km, dalam kondisi fitrah – bersih dari segala kesalahan. Di lain pihak, ada budaya salah kaprah berupa bermaaf’an pada Hari Raya Idul Fitri (atau disebut juga ”Lebaran” dalam bahasa Jawa), yang sebenarnya bukanlah bagian dari agama, melainkan hanya budaya yang hanya ada di rumpun bangsa Melayu. Secara hukum, tidak ada hal yang semacam itu. Lagipula, apa gunanya juga ya? Kebiasaan berikut, yang juga menjadi bahan canda di antara kami, para pekerja yang secara hukum beruntung karena diperbolehkan pulang pk 15.30 tetapi karena beratnya beban pekerjaan selalu tidak pernah bisa memenuhi jadwal tersebut, adalah kesempatan untuk mempraktekan apa yang kami sebut sebagai Latihan Puasa; alias beramay-ramay pulang jam 4 sore, hahahaha... Pulang tenggo, alias begitu ”teng” langsung ”go” *grin Dan puasa menjadi justifikasi yang selalu sukses. Tapi sayangnya puasa kali ini berbeda; karena bahkan pada jam segitu aja Jakarta udah macet banget! Terutama karena adanya pembangunan busway tepat di depan kantor gue di Pancoran. Menurut berita dari berbagai media, kemacetan tersebut bahkan mengular hingga sejauh Grogol dan Warung Buncit. Damn. Seperti gue sebutkan sebelumnya pada "See No Evil : the Jakartans Behaviour"; metode busway itu memang suatu kesalahan perencanaan tata kota yang sangat fatal; dari seorang gubernur yang gagal, bahkan terhadap menjaga janji2nya sendiri soal Jakarta yang tidak akan banjir lagi. Sekarang dengan gubernur baru yang notabene adalah penerusnya, mari kita berdoa agar beliau adalah yang terbaik bagi Jakarta. Sigh. Kebiasaan lain yang agak berbeda kali ini, oopss..mudah-mudahan tidak menjadi kebiasaan, heheh.. adalah; gempaaa...!! Wah salah, ini mah bukan kebiasaan, tapi bonus awal puasa tahun ini, hehehe.. Katanya hingga 8.2 SR dan berpusat di Bengkulu; nggak kebayang kalau letaknya lebih dekat lagi. Pk 20.02 wib, dan aduh, gempa nya belum berhenti.. pusing gue ngetik artikel ini..hehe.. Lampu sudah dimatikan semua plus pintu-pintu akses dikunci juga, buat jaga2.. Setelah evakuasi dan sekitar 30 menit berdiri di pinggir jalan Gatot Subroto, gue memaksa masuk karena masih napsu mau kerja..hehehe.. Kuat juga gempa kali ini, gue aja di lt 4, semua pintu dan jendela berbunyi bergemeretakan. Gimana dengan merka yang di lt 32 kaya radio U FM yah? :p Nggak kebayang gimana tahun 2008 nanti, saat kantor gue telah pindah ke the Energy, gedung baru di belakang Graha Niaga dan di sebelah Bengkel Club, kompleks SCBD Sudirman. Katanya sih, gue bakal kebagian lantai 44. Duhh, alamat bakal copot nih dengkul kalau terpaksa harus evakuasi manual, ahhaha.. Anyway, kebiasaan lainnya, kalau udah menjelang puasa Ramadhan, dari dulu yang sering menjadi pertanyaan para teman adalah tentang hal-hal yang membatalkan** puasa. Dan kebanyakan teman menjadi terjebak hanya kepada sekedar menahan tidak makan dan tidak minum, tetapi melupakan hal2 lain yang nggak kalah pentingnya; yaitu ibadah horisontal – kepada sesama manusia. Harap dicatat; ibadah di sini tentunya bukan berarti kita menyembah manusia lain, tetapi lebih kepada menjaga hubungan sosial. Misalnya menahan emosi/kemarahan, tidak berbohong, apalagi korupsi, tidak bergosip, dsb. Pasti di sini banyak yang lebih tahu-lah. Sayang, padahal puasa bukan cuma ’nahan lapar atau nunggang-nungging sembahyang; tanpa paham arti kecuali sekedar stempel di KTP. Maksudnya? Yaa, itu, hanya sekedar verifikasi formal-yuridis tentang agama apa yang elo anut. Eh, lo bukannya muslim; kok nggak pernah ikut pengajian sih? Atau, kaya nya saya nggak pernah liat mbak ke gereja deh, kalau hari Minggu. Seolah agama yang direduksi maknanya hingga hanya sebagai penghias seremonial belaka. Mengutip hasil survey dosen di kelas ”Business Ethics” gue di Sampoerna-ITB; ternyata bahwa negara-negara terkorup di dunia adalah negara yang juga dikenal sangat agamis (atau berada di bawah pemerintahan totaliter). Dan ini tentunya, berdasarkan Corruption Perceptions Index, yang termasuk juga dihuni oleh Indonesia. Kembali ke soal survey dosen gue tadi (yang langsung memancing debat kusir dari para mahasiswa kelompok kanan); bukan soal agamanya yang salah pastinya, tetapi apakah kita dapat telah dan sanggup untuk mengamalkannya dengan baik, ataukah agama hanya sekedar tinggal ritual kosong belaka? Sekedar supaya nggak diomongin tetangga karena ketahuan nggak pernah shalat atau nggak pernah ke gereja? Bahwa kita, walaupun beragama, ternyata hanyalah bentuk lain dari adagium homo homini lupus? Dan puasa adalah kesempatan kita untuk berkaca dan merefleksikan diri untuk tahun yang telah lewat, my fellow humans! Semoga Tuhan menerima semua amal dan ibadah kita, insya 4JJI!
Mohon maaf atas segala kesalahan yang tidak disengaja. Wednesday, Sep 12, 2007 – Jakarta Kafe Pisa Mahakam at 12.05 wib Jakarta 12870 Pancoran at 20.02 wib © terbanglah lebih tinggi Photo Credits: Courtesy of TLT, Ritz Carlton, Oct 5, 2007 Warung Daun, Oct 8, 2007 PS: Kalau kesalahan yang gue sengaja ngapain minta maaf? Lha wong namanya juga “sengaja”..hehehe.. PS.PS.: Puasa itu adalah disiplin diri untuk menahan hawa nafsu. Berpuasa pada tingkat yang terendah adalah menahan nafsu duniawi; termasuk makan, minum, nggegosip, Making Love dengan suami/istri (apalagi kalau dengan suami/istri orang, haiyya..), etc Kemudian lebih sulit lagi adalah untuk menahan nafsu yang ada dalam pikiran (negative thinking, negative perception, prejudice, etc). Sedangkan tingkat yang tertinggi adalah untuk menahan nafsu di dalam hati, dan hanya para Nabi yang sanggup melakukannya PS.PS.PS: AFAIK dan CMIIW, yang membatalkan puasa secara hukum adalah: § makan & minum § memasukkan sesuatu ke dlm salah satu lubang di tubuh § ML (antara suami-istri, tentunya. Kalo TTM mah mau puasa mau kagak tetap aja ... hehe) Dari situ jelas bhw berenang saat puasa nggak bakal ngebatalin puasa kita. Atau kalau mau gampang, liat niatnya dulu deh; segala hal kan terpulang pada niat. Kalo niatnya olahraga atau demi kesehatan (mis. sakit asthma), kenapa enggak? Tapi kalo niatnya buat ngadem supaya puasanya nggak berasa, nahh...ini baru menjadi makruh. Kalau soal air yang tertelan, please dehh.. siapa juga orangnya yang mau membatalkan puasa dengan cara minum air kobokan, euhh., air kolam renang publik? Heuhehe... Kalo nggak sengaja tertelan, yahh..itu mah resiko. Satu lagi, berenang di tempat umum juga bisa menjadi pemicu hilangnya pahala puasa; secara "pemandangan" nya gitu lhoo.. *wink! :p
From previous journal of a friend, I absorb her indirect respond to one of my old thoughts posted on this blog. Hers read like this, in Italics (hope I translated it right, dear): .. There’s someone believed that fcuking before marriage is a sign that the man does not care about the woman. If we thought like this, then most of the “western” males are simply bast*rds and super a**holes who cannot respect women like those that they deserved. Ironically, on those western countries, doing abuse things, especially sexual abuse, is totally against the law. The abuser definitely would go to jail. There is probably such applicable law on the eastern countries; however, are they enforced properly? Well, who knows? Well, that was a very good argumentation, dear; and totally agree with that. Only I did not refer and intend it to the whole world when I originally wrote that statement. Just a self proclaim and that is all; I will not do it because I respect the girl I am blessed to be romantically with. Alternatively, may we say this as a personal credo only. However, psychologically supporting your argumentation above, human being tends to be seduced by everything's illegal or can hardly be accepted by the society as whole, or even by the applied law and regulations. Nevertheless, when they let it be free, soon it would lost its appeal. Hard to be get, that would add the price of the returns. Or at least would maintain its diminishing rate of returns. Don’t you think so? (uh, I borrowed the line from an economic theory, hehe..) Thus, whether we would like to have a virgin as our bride (or as our girl friends) or not, that will and shall depend on our personal wishes and needs, and sure, it would be one’s personal rights to do so. I am totally leaving that decision to everybody. Speaking of generalizations... It is just that I think we (the male animals) should be fair and of course responsible in practicing that oath. If you want to have a virgin as your bride, than it would only be fair if you can protect your own virginity before marriage, and vice versa. On the other hand, if you want to have sex with your partner, than you should be responsible about the future of the two of you, and not neglecting her just like that. Esp. if they not careful enough and forgot to use protection. Frankly, that is what happened here - in Indonesia. Bear in mind that on the line above I said "to have sex", not "to make love" - I believe "to make love" could only be done after marriage. Agreed, there are many ways to respect each other. If she could easily decide to have sex with another man instead, just because I refused her, than why should I defend that relationship anymore? By then, she simply cheated on me - never mind the reasons. Moreover, as long as I keep my loyalty, then it would only be fair if I expect her to do just the same; and of course vice versa. Fairness and loyalty... I'd rather consider a relationship as a lifetime investment, and not feel to have it just because to have it, or just because others said so. I feel comfortable with my self and my world, and could define my own happiness; not as other people may see, nor no matter what they may say. From legal perspective, please be reminded that there are several laws applied here (followed by diff marriage council, for instance; i.e. catatan sipil, pengadilan agama, and so on). I am not really sure whether there are any applicable clause written on our KUHP or KUH Perdata stated that having sex before marriage is illegal (assuming that both parties agreed to do that and without forced acts). Nevertheless, I believe that, and no offense may I say, by ALL and any religious standard, such thing is, in fact, illegal. Hence, we are mature person in front of the law; so I do not want to judge anybody here. As I said, it was only a personal credo of mine. It could be yours, or it could be not; I do not have any problems with that. It is each person's own business... be it with their God or with themselves (or families, or friends, or society - mentioned the names, please). In addition, be reminded, as I already said this repeatedly, and quoting my ex’s academicals research (a sociologist at Australian National Uni, Canberra, and now pursuing her PhD at Sorbonne, Paris) the worst punishment in Indonesia is not the one legally nor religiously examined, but it is social sanctions. Derived from social perceptions. And (almost) no one can hold themselves against that. © terbanglah lebih tinggi Sunday, September 09, 2007 Jakarta 14130 Cilincing 18.52 wib PS: § Read previous related article: o Persepsi Sosial and o Never FCUK before Marriage § The article above was my respond to a friend’s journal: Bercinta § Photo taken from SMH, AU
Terkait artikel sebelumnya (Loosing Your Manhood, bisakah?) yang membahas hubungan antara kejantanan versus tarian balet, ternyata, thanks banget!, banyak mendapat tanggapan yang menarik. Untuk itu berikut gue lampirkan hasil diskursus lebih jauh, yang mestinya lebih berguna bilamana ditampilkan dalam bentuk jurnal tersendiri. Daripada misalnya, menyesatkan kita dalam belantara komentar yang centang perentang. Sebagai langkah awal, untuk menyamakan persepsi; "manhood" di sini sebenarnya nggak melulu berarti secara fisik, tapi lebih ke arah psikis. Maksud gue, kenyataannya banyak banget kan, mereka yang secara fisik sangat lelaki, tetapi ternyata berpenampilan "melambai"? Bahkan mereka yang seperti itu pun banyak juga yang menyesatkan; ternyata masih punya selera dan keinginan yang normal sebagai "cowok". Whatever it does mean*wink2!:p Ngomong2 memang banyak orang yang salah paham menyamaratakan pria gemulai, atau bahkan gay, dengan ketidakmampuan menghasilkan keturunan. Atau tuduhan gay atas diri seseorang dengan sendirinya rontok hanya karena yang bersangkutan menikah (dan punya anak). Jadi dengan sendirinya remaja pria yang berangkat dewasa, sekali lagi berdasarkan pengalaman pribadi, akan sibuk melakukan berbagai kegiatan jantan hanya agar terlihat macho. Misalnya naik kendaraan umum tanpa bayar, ramai-ramai menumpang truk peti kemas yang sedang berjalan, coba-coba nodong anak sekolah lain atau adik kelas, minum sampe mabok, atau berbagi aneka pil narkotik. Jadi inget dulu pas SMP gue pernah dikeroyok gara-gara dicekoki obat entah apa gitu. Untungnya sih tuh pil nggak sampe tertelan, terlempar dengan sukses, persis saat terakhir hampir tertelan. Padahal asli gue udah nggak bisa bergerak, semua anggota badan udah dipegang satu anak. Makanya habis itu gue digebukin semua orang, pil mahal katanya, hehe.. Salah satunya karena pengalaman menyebalkan masa SMP itulah, makanya sampe sekarang gue nggak tertarik minum alkohol, ngerokok, apalagi ngobat. Tiap kali ada yang nawarin, terutama kalo pas lagi acara free-flow gitu, mesti gue langsung inget kejadian itu; yang asli bikin ilfil.. :p Sorry to say yaa... Kembali ke atas, karenanya nggak heran saat beberapa rekan yang belum beruntung dikaruniai anak dari perkawinan bertahun lamanya malah terkena pertanyaan sadis mengenai kadar kejantanan mereka. Jangankan itu, mereka yang sukses beranak-pinak seperti marmut tapi ternyata menghasilkan perempuan semua juga menghadapi “keputusan pengadilan” yang sama. Poor them.. Padahal, siapapun yang cukup punya otak tahu bahwa memiliki anak lebih dipengaruhi soal kesehatan orang tua; termasuk kualitas sel telur maupun sperma yang mereka miliki. Bukan oleh kecenderungan seksual mereka. Atau bahkan oleh kegiatan apa yang mereka miliki di waktu luang. Apakah menonton balet atau mendukung pertandingan Piala Asia Indonesia–Korsel. Ngomong-ngomong, gue emang nggak suka bola sih. Aneh aja ngeliat 1 bola diperebutkan rame-rame..huehehe.. *ngakak guling2an Tapi memang ujung-ujungnya ini lebih mengarah ke soal tentang persepsi (baca artikel terkait di sini: Persepsi Sosial). Jadi inget dulu almarhumah Eyang (dalam bahasa Jawa Tengah berarti “nenek”) gue pernah marah-marah, gara-gara pas ujian praktek PKK (salah satu mata pelajaran) zaman SMP dulu buat ngelengkapi nilai kelulusan akhir, ternyata gue malah memilih untuk merangkai bunga. +: "..Cowok kok merangkai bunga. Kamu mau jadi apa?.." -: "..Biar gampang aja, Eyang. Soalnya alternatif lain musti bikin radio sampe nyala (baca: nggak bakat deh guee, hehe).." +: (nggak terima & beralih ngomelin almarhumah nyokap gue) Mungkin alm Eyang gue memang harus dimaafkan, karena dia mewakili zaman yang berbeda, dengan persepsi sosial yang berbeda pula. Demikian pula penjelasan alm nyokap gue saat itu kepada beliau. Persepsi yang, bahkan untuk saat ini, ternyata bahkan sudah sangat berbeda pula dengan saat percakapan di atas terjadi. Sekarang, lha wong cewek pake baju cowok (baca: kemeja + celana panjang) aja udah ada yang ngelarang kok. Malah banyak yang bilang jadi kelihatan lebih asyik dan cool karena terlihat beda dan independen, ehuehe.. Itu dia salah satu hal yang bikin gue sirik berat sama perempuan. Maksud gue, sejak kapan sih, ada larangan cowok berbaju perempuan? **halahhh...!:p Satu lagi, perempuan bisa bebas bergandengan tangan atau bicara berdua berjam-jam lamanya dengan para sahabat wanitanya, one-to-one. Sambil berpegangan tangan atau saling menghapus air mata (mulai berlebihan deh, hehe). Bayangkan bilamana persis sebaliknya yang terjadi; pada 2 lelaki.. alamaaakkk.. Apa dunia nggak bakal langsung menghakimi mereka sebagai penikmat sesama? Hihi.. Kalaupun hal ini dilakukan secara rahasia (baca: bukan di tempat umum), kaya nya tetap nggak banget dehh.. Berdasarkan pengamatan pribadi sih, ini karena cowok, sedari kecil sudah dipersepsikan untuk menjadi kuat dan nggak cengeng. Maybe you remember this line: “..jadi cowok kok cengeng, sih?..” Makanya, mereka terbiasa buat menampilkan kesan tough guy dan menjadi tempat berlindung bagi, ahem, wanita. Jangankan berintim ria sesama teman pria, lha wong gue makan berdua adik cowok gue aja di resto yang rada comfy dikit tuh udah dilihatin semua orang; baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi, bahkan termasuk pelayannya yang pada tersenyum-senyum penuh arti. Semua dengan tatapan aneh dan, sebagian bahkan, mencibir.. Kesannya gimana, gitu lho.. Catatan: Ada beberapa tempat nggak sopan seperti ini yang pada akhirnya membuat kami jadi nggak nyaman sendiri. Wouldn’t mention and judge their locations here, but the list is available upon request!:p Lebih lanjut, nah, itu dia kata kuncinya; "terkesan". Sebuah perspektif yang membawa kepada persepsi. Suatu persepsi yang dinyakini banyak pihak, hingga menjadi sebuah kebenaran mayoritas, dan lantas bertransformasi menjadi sebentuk kebenaran absolut. Dan segala mereka yang berbeda akan dicap sebagai: aneh, bukan kita, kaum mereka, .... layak dihujat, dan (bahkan) dibasmi. Mengerikan, bukan? Tapi teuteup, label cewek tomboy, di satu sisi mungkin, malah berpotensi untuk meningkatkan market share, dan dibicarakan dengan kondisi yang bisa jadi prihatin tapi cenderung memaklumi. Bandingkan misalnya dengan predikat cowok kemayu, atau pria melankolis. Yang ada cuma penghakiman sosial yang memojokkan, malah. Too bad..
|
|