Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: daily life

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag daily life
Photo AlbumDo you know where you're going to? (2 photos)Jun 20, '08 8:42 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


Do you know where you're going to?
Do you like the things that life is showing you?
Where are you going to? Do you know?


(lines were taken from Mahogany, the OST)

On such a fine Wednesday afternoon, in the middle of busy weeks, my typical workdays; some indulgence could be easily retrieved from this place. It’s located within my reach; be it by riding my bike or driving my car. The warmth feeling ever felt behind the steering wheel.

Stealing the quiet time just before the rush hours begun –thanks to the 3-in-1 failed program- we usually managed to have the best spot we’d like, to swing our arms at the full speed, to let our eyes follows the nice flying curve created in the air, to land our eyes far, far away, to the great financial district across the yards. Simply beautiful.

Such precious moments often ended up with a simple ring on my mobile; delivering a soft spoken voice over there, asking me to pick my princess up at our convenience; Pacific Place or the lobby of the Bapindo towers. The city’s majestic landmarks that could be easily spotted from the place of tranquility mentioned above. And I drove her for a bit of meal, or directly to home.

Is there another way to ended up such a perfect afternoon?


Photos courtesy of TLT
SCBD, Jun 11, 2008

Related Link: Olahraga Oom-oom..

Blog Entryan ordinary girlApr 22, '08 6:14 AM
for everyone

Akhirnya, dalam pembicaraan yang semakin berlarut, beberapa teman menyadari, atau paling tidak mengakui, bahwa dia hanyalah 'an ordinary girl'. Alias cuma  manusia biasa. Dia juga manusia, kalo kata "Serious Band". Salah satu buktinya yaa, bahasa Indonesia nya yangg ancur itu. So what gitu lhoo.. Dont sweat the small stuff, my dear friends.

There's always two side of the story, and even a coin has two sides, too. Terkadang bingung aja kenapa kok, banyak sekali teman yang melihatnya hanya dari satu sisi; yaitu sisi yang mereka mau sahaja. Apa bisa dunia hanya ada malam doang? Atau semua penduduk dunia musti jago berbahasa Indonesia? Sepertinya nggak, ya.

Nggak kebayang kalo gue (atau kamu) yang nggak gape bahasa Inggris misalnya, ..atau bahasa Rusia, atau bahkan bahasa Swahili; trus datang ke sana, dan berusaha berbahasa setempat -- dengan terbata2 dan salah2 tentunya, eeuhh.. malah jadi bahan ketawaan di milis2, berbagai blog, dan pada media2 lain. Duh! :-)

Btw, Koran Tempo edisi Minggu 13 Apr 2008 memuat artikel "..sehari bersama..." yang sangat bagus sekaligus lucu; ada komik2nya gitu. Walaupun komik2 tsb menuliskan semua hal yang menjadi bahan tertawaan publik (misal soal kalimat2 saktinya; "hujyan", bechek", dan ojheg"); gue suka artikel itu karena terlihat jelas bahwa, paling tidak Tempo berusaha untuk fair, dan melihat sisi lain dari seorang anak kecil yang, kebetulan, bernama Cinta Laura.
 


Blog EntryNewcomer (dan Cost Recovery)Apr 11, '08 8:26 PM
for everyone


Karena teman2 sekelas pada rame ngegosipin soal siapa bakal calon Kepala BPMIGAS terbaru (yang info nya ternyata 100% akurat, hehe) plus isu2 lanjutan tentang pergeseran beberapa pos penting di negeri ini – termasuk Menteri ESDM, Gubernur BI, Dirjen Migas, Kepala DEN, dan Menko EKUIN; obrolan pun menyentuh soal cost recovery, yang diduga banyak orang menyebabkan terpentalnya pejabat lama. Yahh, tentunya di luar isu2 lain yang lebih politis sifatnya, dan tentunya nggak bisa gue share di sini ya? Hehe..


Karenanya mudah sekali ditarik kesimpulan lanjutan bahwa, dengan naiknya pejabat baru, maka skema cost recovery tsb akan makin diperketat. Apalagi dengan makin ributnya anggota Parlemen atas besarnya beban yang musti ditanggung Pemerintah (dan rakyat ini) terutama berbanding lurus dengan (malah) semakin menurun nya tingkat produksi oil & gas di negeri ini.

Cost Recovery itu sendiri (CMIIW) secara singkat dapat diartikan sebagai biaya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan oil & gas dalam mengembangkan suatu proyek hingga berhasil mencapai tahap produksi (baca: minyaknya ngalir, coy!), yang kemudian akan diganti Pemerintah. Skema cost recovery mencakup Capex alias belanja modal serta Opex yang mencakup biaya operasi; termasuk gaji pegawai oil & gas company, privilege yang diterima, anggaran comdev, dsb.

Pendapat yang banyak beredar lantas adalah justru pengetatan cost recovery dilihat sebagai upaya pemangkasan privilege yang diterima, atas nama asas keadilan. Wong Negara lagi susah kok, ini malah ada orang2 oil & gas company yang berleha-leha mewah2an; pake uang rakyat pulak!

Mungkin. But there's always two sides of the story.

Memang kalau dilihat secara simple, jadinya akan berkesan bahwa dengan privillege yang dimilikinya, betapa negara (dan rakyat) negara ini akan sangat dirugikan oleh ketentuan semacam itu.

But sure we have to see it on an apple to apple comparison, no?

Privilege tersebut 'kan diberikan dalam konteks dan beberapa pertimbangan tertentu, yang lantas menjadikannya bukan hanya pantas; tetapi juga bahkan legal -- tentunya sepanjang masih mengikuti koridor yang berlaku. Yeah, di sini lah peran  Government Audit nyata terlihat.

Kalau kita ngeliat secara sederhana, seolah yang diributkan hanyalah soal fasilitas natura (baca: "kenikmatan tambahan") yang diperuntukkan bagi pegawai2 oil & gas. Akan tetapi secara agregat, hal tersebut juga mencakup berbagai bentuk lain, yang sebenarnya dan pada akhirnya malahan menjadi pendukung dan bagian dan tak terpisahkan dari operasi oil & gas. Yaitu "community development". 

Sementara Comdev sendiri kalau dilihat secara gampang pasti akan menimbulkan pertanyaan; uangnya pemerintah juga kok, ngapain sih musti disalurkan melalui oil & gas company, untuk lantas mereka yang dapat nama? Hhehe..

Padahal kan nggak juga. Oil & gas company di sini cuma menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk menjamin going concern nya proyek yang, milik pemerintah juga. Beberapa contoh ekstrim misalnya terjadiya pemblokiran atas kompleks sebuah oil & gas company di bilangan Dumai, Riau. Atau cerita dari beberapa teman tentang penerobosan oleh anggota GAM pada proyek lain di bilangan Aceh; bahkan hingga berwujud penculikan salah satu direksi nya. Atau ancaman pemutusan pipa minyak yang dialami sebuah perusahaan lain di daerah Sumatra Selatan. Dan masih banyak lagi.

Boleh dibilang comdev ini merupakan semacam collateral lah untuk itu. Jangan sampe misalnya, terjadi kecemburuan2 sosial melihat kemajuan yang merambah ke tengah hutan (emang susah punya proyek on shore, hiks) yang lantas menyedot kekayaan bumi setempat, untuk kemudian membawanya keluar. Pasti mereka akan berpikir akan perlunya semacam kompensasi. Terlepas dari fakta  pantas atau tidak pantas, berhak atau tidak berhak  (misal: menyandera truk2  oil & gas company agar mau memenuhi tuntutan mereka supaya bisa diterima bekerja; padahal kompetensi maupun kapabilitasnya aseli nggak sesuai. Duhh

Dan yah, biasanya juga mintanya nggak akan aneh2 kok. Kalaupun ada yang aneh, biasanya yang minta begitu tuh malah bos2 nya, alias para kepala daerah yang mendapat euforia baru bernama; otonomi daerah. Atau pernah tuh, ada pasangannya Presiden berkuasa saat itu, yang dengan entengnya, bahkan tanpa perintah tertulis, apalagi persetujuan Parlemen; memaksa oil & gas company untuk ikutan menanggung biaya pelaksanaan PON (Pekan Olahraga Nasional) setempat. Ya pantas ribut lah semua orang, gue juga ghedek banget ngeliatnya; pengen gue toyor deh! Hhehe..

Sama satu lagi yang bikin sebal; orang2 tertentu yang memanfaatkan proyek2 comdev demi kepentingan dan/atau keuntungan pribadi. Apa pant*t nya nggak berasa panas ya, atau perutnya terasa kembung; makan uang yang harusnya dialokasikan untuk rakyat? Atau bahkan untuk sumbangan bencana alam, seperti tsunami, misalnya? Oh, Indonesia.. *geleng2 kepala.

Itupun semua hal yang diributkan di atas baru mencakup masalah Opex, sementara jangan lupa; masih ada masalah Capex yang merupakan komponen yang cukup besar di dalam cost recovery. Capex di sini mencakup belanja barang yang akan digunakan dalam operasi oil & gas.

Sehingga kalaupun pemerintah dan Parlemen yang mengatasnamakan rakyat (ah, masa iya demi rakyat?*grin) mau memperketat skema cost recovery, sebaiknya mereka tidak melupakan momok yang lebih besar; yaitu soal perencanaan/ planning dan budgeting. Buruknya perencanaan sepertinya sudah menjadi wabah yang akut pada semua orang di negeri ini. Padahal kita semua tahu bahwa perencanaan yang baik akan menentukan tujuan yang pasti, menjamin pelaksanaan yang handal, dan terutama, penggunaan anggaran yang efisien. Atau barangkali ada yang tidak setuju?

  
Jakarta, Apr 12, 2008
Lagi belajar buat final test pagi ini
at 06.26 am


PS:
Photo courtesy TLT, Mar 25, 2008;
was taken blurred on purpose

 
Disclaimer:
Tulisan di atas semata merupakan pandangan pribadi penulis yang dibuat untuk kepentingan diskusi pada sebuah mailing list, dan tidak mencerminkan pandangan organisasi tempat penulis bekerja maupun bersekolah.



Blog EntryFirst DriveApr 10, '08 10:12 AM
for everyone

Di Patra Kuningan, mobil di depan gue (Altis) tahu2 ketimpe pohon yang tiba2 tumbang. Ugh. Coba gue lebih cepat beberapa menit, pastinya gue yang akan merana di bawah gencetan pohon itu. Itupun di belakangnya mobil gue berenang di genangan banjir 30 cm! Untung hari ini lagi nggak pake motor. Dijamin mogok di tengah jalan, dan nggak jadi kuliah deh.

Dan ya, seperti biasa kalo pulang saat bubaran jam kantor bebarengan dengan hujan; apalagi badai seperti tadi, macetnya itu lhooo.. Temen gue kemarin sampe ada yang sms, melontarkan pertanyaan utopis kenapa hujan mesti pas jam bubaran kantor. Entah ya, mbak. Bukan saya yang nyuruh lho.

Menyebalkan, karena orang Indonesia (yang katanya sopan dan ramah) pada sibuk mentransformasi dirinya menjadi serigala bagi manusia lain. Nggak peduli dengan kepentingan pengguna jalan lain, yang penting gue bisa lewat! Nggak peduli kalo gara2 dia (atau mereka) nggak mau ngalah demi jarak yang cuma beda 1 (satu) meter aja, udah ngebuat perempatan jadi stuck; macet total. Dengan prinsip, “..kalo gue nggak bisa lewat, maka orang lain juga ndak boleh lewat!”, sepertinya udah menjadi dogma standar.

Terpaksa gue putar arah, meninggalkan Altis ringsek itu, dan lantas memutari kompleks Birawa convention hall. Hanya demi menemukan bahwa di arah sebaliknya pun banjir telah menggenang tinggi. Apa boleh buat, terabas ajaahh.. Do I have another choices here?

Tapi sekarang udah nyampe kampus. Udah kenyang perutnya, udah menyesap kopi hangat, dan dosen udah mulai ngajar di depan kelas. Untung bukan pas jadwal midtest. Apparently I’ve mistakenly today for another date, heuhe. Tinggal lah teman2 kampus yang pada sibuk ngetawain, kenapa juga saban kali gue test drive mobil (so far baru 2x), mesti pas ada kejadian yang aneh2.

Udahlah hari ini hujan badai sampe tempat yang nggak banjir pun jadi banjir (Kompleks BI Pancoran dan Kompleks Patra Kuningan). Pas jadwal kuliah selasa kemarin pun gue ketiban sial gara2 kemacetan yang luar biasa parahnya. Di lingkar Mega Kuningan sendiri gue kejebak sampe 1 (satu) jam! Padahal biasanya Pancoran-Kampus setengah jam juga udah nyampe.

Udah gitu, pas berebut jalur di depan JW Marriot Cassablanca, mobil gue ditabrak motor yang maksa nyempil2. Kirain benturan ringan, tapi nyatanya mobil gue sampe goyang lho! Dan pas diliat, ternyata bemper depan kanan udah jadi korban; baret panjang. Hiks. Cukup ironis sekaligus absurd, mengingat gue  di hari lain adalah  pengendara motor (yang taat aturan, tentunya).

Padahal STNK aja gue belum punya, padahal nomer polisi yang terpasang pun masih abal2. Padahal kaca film dan water repellent 3M nya aja baru dipasang (dan belum dibayar, hihi). Dobel hiks.. Ohh, nasib naik mobil di Jakarta.


Jakarta, Thu, Apr 10, 2008
17.30 wib

 
PS:

  1. Photo courtesy of TLT. Tuesday midnite, just safely reached home after attending the class.
  2. Segala kesialan itu cuma berlaku di kawasan bisnis ternyata. Perjalanan pulang-pergi ke rumah, at least sampe batas Cawang Interchange, ternyata super duper menyenangkan. Dan jelas lebih cepat. Yaiyalah, secara naik tol ByPass mulu dan ngelawan arus.. :p
  3. Btw, dengan gilanya kemacetan hari ini, tanpa diduga gue nggak telat ngampus. Sampe2 temen2 pada terheran2 ngeliat wujud gue yang udah menampakan diri di kampus jauh sebelum kelas dimulai, wakakakaa.. Tumben banget kan?:p


Blog EntryLelaki dan Pilihan BerkendaraApr 4, '08 7:51 AM
for everyone


Barusan baca posting ini, jadi tertarik berkontemplasi soal mode berkendara yang selama ini gue pilih, hehe.. Itung2 ngelepasin bete gara2 seharian terpenjara musti meeting bareng direksi nya JAPEX (persh minyak Jepang), dadakan pula! Dan terpaksa ngebatalin 2 (dua) janji meeting lain dengan BPKP dan Ditjen Pajak, plus gagalnya persiapan Data Room buat BPMIGAS. Itupun nyaris gagal Shalat Jumat. Hiks.

Jadi awalnya pas di kantor lama,  PricewaterhouseCoopers, di Kuningan, sama saat baru pindah ke kantor sekarang di Pancoran tuh, gue lebih sering naik mobil. Enak soalnya, pulang-pergi bisa langsung ngebut lewat tol, hampir sepanjang rute. Paling2 gondok berat pas keluar tol dan musti kejebak macet saban pagi di Pancoran. Udah gitu lama2 berasa ribet juga karena musti rebutan tuh mobil sama orang2 rumah. Habis gimana, mobil cuma semata wayang, tapi yang make ngantri. Padahal gue tipe pecinta kepraktisan. Maklum, Virgo thea!*grin


Lantas gue jadi sering naik bis. Karena, udahlah tahu beres aja. Trus ongkos nya juga murah, banyak hiburan "Live" pulak (baca: pengamen, penyair gagal, toserba berjalan, hehe) dan terutama enak banget bisa numpang tidur, gratis! Dalam sekali jalan rumah-kantor (yang terpaksa ganti bis 3x itu) gue biasanya tidur 1 jam (jadi pp = 2 jam). Pikiran segar, badan bugar, kerjaan lancar, duit terpancar!:p Kebetulan gue tipe orang yang bisa enjoy tidur di mana aja. Kalo enggak, ya sambil baca buku atau majalah. Atau paling minimal, menikmati "pemandangan" lah..hihi.. *wink2! :p

Karena berat soal waktu tempuh naik bis, PLUS nggak tahan harus bengang-bengon2 di pinggir jalan untuk nunggu2 bis lain (maklum, musti gonta-ganti bis 3x), lama2 akhirnya gue menyerah dan beralih naik taxi. Tentunya pas semakin menikmati gaji oil & gas yah, hehe. Kalau di kantor lama sih, terpaksa naik Taxi. Secara pulang nya Nyubuh ‘mulu! Tapi berlawanan denga n kebiasaan di atas bis, lucunya, di dalam taxi tuh, gue malahan ndak bisa tidur. Soalnya takut kalo gue sampe dibawa kabur sama sopirnya, apalagi kalo lantas diperkosa sekalian, hiii...!!p Gini-gini juga gue terjamin masih perjaka ting-ting, euy! Lagian berasa sayang aja kalo uang sampe habis buat naik taxi (ya iyalah), kagak ada bentuknya.

Kepikiran biar uang gue ada "bentuk"nya yang bisa dijual lagi kalo lagi kepepet alias BU, juga atas desakan dari si bule pacar gue (waktu itu – catat!) yang ngidam banget naik motor bareng gue; jadilah gue beli sepeda motor. Jenis nya spesifik pulak, Suzuki Thunder 250 GSX. Liat dong ukuran cc nya yang ghuede; udah berasa balap Grand Prix deh! Hahah.. Motor aseli built-up yang paling powerful yang beredar secara resmi di Indonesia. Ciri khas utama; body yang ghuede, dan knalpot ganda -- satu2nya yang seperti itu. Perhatian! Harap jangan tertipu dengan foto di samping yang menggambarkan motor dalam keadaan kinclong. Itu mah, duluuu...!! Haha..


Psstt.. yang maksa buat beli motor jenis ini tuh, si dia itu lhoo.. Udah bosen kemana2 pake sopir kali yaa. Kebetulan pas juga sama selera gue; mesin bandel, nggak neko-neko, dan yang pasti, nggak kacangan (alias bukan motor sejuta ummat!:p). Dari 5 juta lebih populasi sepeda motor di Jakarta, jenis ini paling2 cuma ada 500-an unit. Atau hanya 0.01% sahaja.

Klub GSX 250 bernama Jakarta Thunder Club. Tentu gue jadi salah satu anggota dong! Klub nya alim, makanya gue mau gabung. Kalo kumpul2 paling cuma untuk diskusi tehnik atau aksesoris atau jalan2 ke luar kota bareng. Pastinya bukan model gank2 motor yang kagak jelas itu. Ohya, motor gue juga ogah pake “rice cooker” di atas boncengan nya, hehe.. Aneh aja bentuknya, dan bikin susah parkir plus ngebonceng (entah kenapa, ini kaya nya  udah jadi kesepakatan tak tertulis di antara anggota JTC deh).

Secara waktu tempuh, rute rumah-kantor sebenernya sama aja lamanya antara pake motor VS naik taxi/mobil sih. Pukul rata sejam; kalo normal. Sebabnya karena kalo pake taxi/mobil gue bisa lewat tol ByPass, sedangkan kalo pake motor gue bisa salib kanan-kiri (tersenyum culas). Tentu defensive driving tetap jadi patokan. Dan harap dibedakan dengan drive safely ya?!

Udah gitu bensin motor tuh super duper irit pula, dan sekalian menyalurkan angan2 masa kecil yang terpengaruh romantisme Rano Karno & Yessy Gusman di film Gita Cinta dari SMA, wakakaka.. Tapi ternyata naik motor itu capeeee... Belum kalo ngitung resiko nya. Misalnya ngantuk pulang kuliah, trus meleng dikit, kan bisa langsung nyungsep. Lah kalo naik mobil, paling2 mobilnya yg penyok; bukan hidung gue (bisa tambah pesek dong!). Dan faktanya, gue udah berapa kali nyaris mati tabrakan gara2 naik motor (Hints: Lihat judul utama blog ini – “..some near death experiences..”). Tapi itu (nyaris) ditabrak lhoo, gue mah nyetirnya rapi jali  dan taat aturan walo nggak ada Polisi.

Yang paling males, ribetnya naik motor kalo pas pulang kemaleman plus hujan deras. Whedeww..!! Kata temen2 kampus gue, tampang gue udah kaya RoboCop aja pas masuk kelas (baca: terlambat!:p) dengan segala macam gear yang melekat di badan plus nenteng2 helm silver metalik, heehhe.. Satu hal lagi; males juga naik motor kalo terpaksa pindah2 tempat. Kaya tadi malam tuh! Ngantor seharian, kuliah sampe hampir midnite, langsung nyambung ke acaranya oil & gas industry youngsters di Dragon Fly. Ehm, biar kata free flow, teuteup tanpa alkohol lah yaa.. :-)

Dan tadi malam (atau tadi Subuh? *grin) gue pulang ke rumah untuk menemukan mobil yang baru gue beli udah nongkrong dengan manis nya di dalam garasi. Yihaaa..!! Jadi juga deh maen sepeda hari Minggu ntar!:p Padahal tadinya udah deg2-an terancam batal, gara2 mobil gue udah keburu dijual. Lagian kalo kagak ada mobil, lantas ke sana nya ntar naik apa? Kalo nge-goes langsung dari rumah, bisa2 keburu tewas di jalan sebelum nyampe. Hahahawhaw..

Anyway, Thank God It’s Friday. And enjoy your weekend, everyone!
*in such a happy mood after a damn tiring week

 
PS:
Barusan bos telpon supaya gue batal maen sepeda hari Minggu, diganti nge-golf bareng orang2 Oil di Cibitung (apa Cibinong yah? Atau jangan2 Cihampelas? Duhh..). Ugh, males banget deh! Eh, tapi kaya nya lucu juga kalo sekalian buat hunting foto kali yaa? Syukur2 kalo bisa ketemu sama caddy yang lutu-lutu.. hihi..


Photo Caption:
All pictures courtesy of TLT. Orderly positioned are:

  1. 2003 Jun 21, a typical Kuningan afternoon, seen from PwC's rooftop
  2. 2006 Dec 12, My beloved Thunder GSX 250. Spot those double exhaust pipes!
  3. 2006 Mar 31, the Jakarta Thunder Club en route; Puncak, West Java



Photo AlbumHappy Faces (8 photos)Apr 1, '08 9:24 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


Who doesn’t love Pizza, especially the sophisticated one like what they offered at Izzi? Most of all, it won’t cost you a dime; since a friend treat you there to celebrate her birthday. All you can eat, she said! And off we went. Yihaaa..!! :-)

The best part of Izzi could be found on its refillable refreshing iced Blackcurrant (which I could take up to 5-7 glasses *grin), Izzi dough ball, served hot with mouth-watering butter, spicy and mild fried chicken wings, over sized pasta, and of course – the pizza itself.

That was exactly the moment we found shared happiness on our face. As captured here. Yet to prevent sudden hunger attack, we decided not to upload the most tempting part of the pictures, i.e. the ones on the meals. Hmm…yummy!

Wanna join us? *grin


Izzi Pizza Pancoran
Mar 24, 2008 -- 11.30 am


Blog EntrySebuah Identitas bernama KeffiyehFeb 29, '08 7:48 PM
for everyone


Belakangan, semakin banyak rekan dan pelintas yang mempermasalahkan soal makin maraknya pemakaian keffiyeh (maafkan kesalahan tulisan) dalam dunia mode.

Yang berkomentar negatif beranggapan bahwa keffiyeh, atau secarik kain rumbai2 yg bercorak kotak2 putih merah atau apapun dan dililitkan di leher sbg penahan dingin, seharusnya merupakan simbol perjuangan Palestina. Sebagian mencoba merunut sejarah pemakainya yang merupakan warisan tradisional bangsa Palestina.

Seharusnya? Pokoknya? Semestinya?

Bukannya, dalam tulisan terkait, diakui bhw "kain" itu hanyalah sekedar simbol tradisional? Kalau semisalnya sekarang kain itu berkembang menjadi simbol perjuangan Palestina (ah, mungkin lebih tepat bila disebutkan sbg simbol kapitalisme dan korupsi rezim Yasser Arafat yang oportunis & kolaboratoris, heuhehe), dan seterusnya menjadi simbol dunia mode dan selebritas; adakah sebuah maha otoritas di dunia ini (atau di  luar sana) yang berhak mengatur pemakaiannya maupun kode etik penguasaan atas simbol tsb?

Bukankah simbol merp sebuah produk budaya? Berkembangnya suatu budaya merp bukti perkembangan manusia sbg khalifatullah, makhluk Tuhan yang paling mulia di muka bumi. Ataukah budaya itu memang harus suatu eksklusivitas semata? Suatu ikon "pokoknya". Suatu yang "kami", dan bukan "mereka"?

Dan karena bukan "kami" lantas harus dilawan, dengan rezim "pokoknya"?


Jakarta,  Sat, March 1, 2008
- 06.55 am


Sting; singer, song writer, respected environmentalist
Photo was taken from the internet


Blog EntryDokter Bukan TuhanFeb 27, '08 11:25 PM
for everyone


Hei mas dan mbak, seperti yang tadi aku bilang di telepon, sepertinya si Prof Dr sialan itu udah melakukan malpraktek deh. Bukan jaminan lho, kalau udah jadi guru besar di FKUI sekalipun dia nggak akan mungkin melakukan malpraktek.

Dokter itu bukan Tuhan! Apalagi kalau cuma bisa berlindung dibalik nama baik sebagai seorang guru besar dari, arguably, kampus terbaik negeri ini. Lha, giliran didatangi lagi buat minta pertanggungjawaban, kok bisanya cuma cuci tangan nggak mau ngerawat yang bener sambil beralasan sibuk dengan pasien lain.

Soal “kehebatan” guru besar, jangan lupa, waktu zaman Paman Gober dulu kan, guru besar itu (hanya dianugerahkan kepada) mereka yang loyal pada sang Paman. Jadi bukan karena keilmuan apalagi kompetensi (walau tentunya tidak semua seperti ini).
 

Malpraktek

Biar lebih jelas, barusan dapat beberapa artikel ini tentang malpraktek:

  1. Detik News, klik di sini
  2. Tempo Interaktif, klik di sini
  3. atau coba search aja di google

 

Stevens-Johnson syndrome

Si guru besar bilang kalau mas kena Stevens-Johnson syndrome yah? Aku baru dengar tuh, tapi barusan aku coba cari2, ini dapat beberapa artikel terkait:

  1. Dari Wikipedia
  2. atau kasus Hanif di Bandung

Aku belum sempat baca semua sih, lagi sibuk nyiapin bahan2 buat rapat besok pagi di luar kota, mbak. Tapi intinya, saat terjadi sesuatu yang nggak diharapkan, misal (yang di Detik News di atas) badan jadi biru2 kaya' yang dialami Mas; harusnya --minimal-- kita bisa complaint ke dokter ybs. Apalagi bila ternyata sedari awal tuh dokter nggak memperingatkan soal kemungkinan kulit bakal jadi biru2 gitu atau bahkan mengkonfirmasi kemungkinan "alergi obat".

 
Lebih jauh tentang malpraktek

(1) Konfirmasi alergi

Harusnya sih, sebelum ngasih obat apapun, dokternya musti nanya dulu, kita punya alergi obat apa nggak. Dan pastinya dia harus tanggung jawab dong, atas hasil pengobatan itu. Minimal ngasih tahu yang jelas kenapa jadi bereaksi seperti itu. Pasien itu bukan kambing, kita berhak tahu. Lha kita yang ngasih makan dokter kok.

(2) Antisipasi reaksi

Atau, dalam kasus Mas yang jadi ngebolos 3 (tiga) hari, dokter itu harus ngasih surat bed rest sebagai salah satu langkah pengobatan yang dibutuhkan. Kalau dia nggak ngasih surat bed rest itu (pas waktu ngasih obat dulu), artinya bahkan dia sendiri nggak paham bakal ada reaksi seperti yang dialamin Mas. Ini satu poin lagi yang krusial sebagai bukti terjadinya malpraktek.


Menurut ku sih dari dua poin ini udah cukup buat menuduh adanya kemungkinan malpraktek, mbak. Atau coba konfirmasi aja dulu ke YLKI. No telp nya nggak punya, tapi coba tanya ke "108"

Jangan lupa buat datang lagi ke dokternya, tapi bukan untuk berobat; cuma untuk menyampaikan 2 (dua) poin di atas itu sambil bilang bahwa sebagai pasien, kita akan minta 2nd opinion ke dokter lain (jangan lupa saat ketemu dengan dokter ke-2, kasih ybs semua copy resep dsb dari dokter pertama). Dan bilang juga ke dokter pertama ini bahwa kita udah nggak percaya lagi sama dia, dan bakal nulis soal masalah ini di Tempo, Kompas dan ke YLKI. Meanwhile, buruan ke dokter lain! Jangan ditunda!



Jakarta, Thu, Feb 28, 2008 - 9:53 AM
Pusing menjelang rapat dg BPMIGAS besok di luar
kota
Mau nengokin, tapi bingung ngatur waktunya ..


PS:
  1. "mas" = kakak ipar gue yang lagi sakit, sekujur tubuhnya melepuh dan penuh dengan benjolan kemerahan, seperti bisul, dengan berbagai ukuran. Sudah terjadi selama 3 (tiga) hari, setelah berobat ke seorang Prof Dok spesialis demi mengobati daya serap usus nya.
  2. Kunjungan ke-2 (setelah gejala di atas) telah dilakukan ke dokter tsb, yang hanya dilayani selama 3 (tiga) menit secara sambil lalu sembari menyebutkan soal Stevens-Johnson syndrome, dan bahwa tidak ada yang perlu dilakukan.
  3. Atas nama kerahasiaan pasien, foto2 sengaja tidak dimuat di sini, tetapi tersedia untuk analisis medis dengan permintaan.

Blog EntrySomething’s WrongFeb 27, '08 2:37 AM
for everyone


There’s something’s wrong with this statements below, since after responded to it, I found out that it actually can be treated as a guidance, or at least a path closer to yours, truly.

(1) Something you had to give up but didn't want to:
# Blogging, hiks

(2) Something you disliked about the last person you were in love with?
# Hypocrisy

(3) Something that irritates you more than anything:
# Superficial people, and the way they think that they are the center of the world, i.e. the God himself, thus underestimating everybody outside their circles of friends.

(4) Something you wish people would understand about you
# That it is definitely okay to be different (background sound: "Believe It or Not", ost the Greatest American Hero, heuhehe).

(5) Something that's holding you back from achieving your dreams:
# Hectic schedules nowadays. Damn it.

(6) Something you fear more than anything:
# Not having much time nor adequate attention for my parent and siblings, loved ones, and those whose close enough to me

(7) Something you wish your parents had warned you about earlier:
# Absolutely nothing. They prepared me well for being me.

(8) Something you hate that people say:
# See No.4 above

(9) Something you like that everyone else thinks is weird:
# Lime squash. Dan segalanya yang berasa asam/kecut! Misal: rambutan, mangga, jeruk, jambu.. Dan terutama: Iced Lime Squash! *grin

(10) Something you think you could win an award for:
# Integrity & dedication
# sama nggak pernah sakit maag, dheng; walau sering nggak makan apapun sampe 2 hari. Pas masih di Bandung, karena ngirit alias bokek; pas masih di konsultan gara2 nggak sempat; pas skrg, suka males aja atau kelupaan..heuheuhe..  (kira2 ada hubungan nya nggak yah, antara doyan yg asem2 vs anti sakit maag? *maksa.com

(11) Something that keeps you going everyday:
# My life; the life itself, the thrills on it, the upside downs of it. All of it.

(12) Something amazing that happened last summer:
# Getting a chance to win a full post grad scholarship on Bandung Institute of Tech (ITB) *grin

(13) Something that you learned that stands out about last year:
# Taking Master course in Energy major, at Sampoerna ITB (in progress until 2009); lots of obstacles faced, be it during the enrolling process, along the class, friends, office, and the whole thing. Life it is getting harder for sure. But I enjoyed every part of it. Life is all about choices. Take your chances, and be committed to it.

(14) Something that makes you laughs every time it happens:
# Umm.. I don’t laugh that often, though.. :-)

(15) Something you do when you're trying to calm down:
# Nyampulin koleksi buku gue, huehehe.. Atau beberes dan bersih2 rumah/kamar.

(16) Something you love doing on cold rainy days:
# Watching it pouring down, tickling down things and wondering how it could be smelled that heavenly nice ...hmmm..

(17) Something amazing you wants to happen next year:
# Life

(18) Something you're addicted to/can't stop doing:
# Observing

(19) Something that really stands out about your latest crush?
# Well, .. let the bygone, bygone.

(20) Something that really turns you on?
# Smart eyes, nice smile, along with a fit and healthy figure (ugh, can I really write this, here?)

(21) Something you think about every night before you go to sleep:
# mmm.. not any, I guess. I sleep very well.

(22) Something that you don't think will ever change about you:
# the observant I am

(23) Something about you that you think will soon change:
# What about weights? Ha-ha.. You wish!

(24) Something that broke your heart as a child:
# Every time my parents "disagree" with each other. As far as I could remember, I took countless efforts to try to be an active mediator seeking for solutions (hey, I realized that it might be one key factor that shaped the way I am today! A natural born mediator, whoa..!)

(25) Something that's on your mind right now:
# Going home and take a nice long sleep. OMG. But I have promised to some to go to Taman Ismail Marzuki to see an art performance. Ugh, can I go home instead? :-(


Taken from FSBB,
worked on during my day-long Saturday class
Sat, Feb 23, 2008 - 17:02 wib


PS:
Something’s Wrong is performed by Bali Lounge. One nice song that keep playing on my head over and over again for the last few days. Dunno know why.




Concerning the previous post of mine, posted here, I would like to thank you folks. For the supportive comments thrown and, err… for not that positive ones I found out whilst blog walked and browsed around this virtual neighborhood, and I say again, the “neighborhood”.

For that last part, you should know who you are, fellows. Only due to some circumstances or wise considerations, I am still not reaching that part ie to declare an open skirmish with you. Nevertheless, you gotta to believe me, that when it happened, I can simply assure you, that you’re gonna feel more than sorry for such cowardice acts for all this time. Gheezz.. 

Disclaimer:

Serendipity part Deux was not mean to promote anything (with bold line) nor anyone other than the amazing phenomenon of this hectic place called Jakarta with its busy people running around the clock. Otherwise, any disagreement arose nor sarcasm thoughts popped up could be directly addressed to me, and I would be more than happy to deal with. Thank you.

 
Jakarta, Jan 26, 2008
12.31 wib

 

Blog EntrySerendipity – Part DeuxJan 24, '08 5:35 AM
for everyone


Bagaimana Jakarta yang keras dan dingin sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukanlah perintang jarak, tapi malah mendekatkannya? Beragam rangkaian kejadian yang seolah saling tak bertaut, pada awalnya adalah kata, dan lantas bersambung dalam leburan keterkejutan nan tak berujung.

Siang tadi jelang makan siang, sambil menanti audiensi dengan seorang VP, gue teringat akan sepotong obrolan dengan seorang sahabat, kita sebut saja dia sebagai Mr P, yang belum lama sangat bersemangat untuk mengenalkan seorang putri bernama, Ms X (entah siapa), yang menurutnya kedua orang tua nya bekerja di kantor gue. Informasi yang teramat sangat nggak jelas, dan untuk sementara bisa diabaikan J  

Lantas gue sempatkan ngobrol2 dengan sekretaris seorang VP lain; kita sebut saja Ms M, yang kebetulan menyambut salam yang terlontar. Berhenti untuk sekedar "say hi", dan obrolan pun berlanjut. Salah satu topik yang paling disukai ibu2 semacam ini adalah kenyataan bahwa gue sedang bersekolah lagi (juga fakta bahwa gue masih single, alias masih nggak laku, kekeke..)

Selain karena, untuk Ms M, salah seorang keponakannya, Mr P, ternyata adalah teman sekelas gue di Sampoerna ITB, sekaligus teman kelompok belajar, dan karenanya kami berhubungan cukup akrab. Obrolan pun bergeser, dan permintaan bantuan mengalir; tentang buku teks akuntansi perminyakan, mungkinkah gue punya? Putri nya, Ms MJ baru saja bergabung dengan sebuah perusahaan minyak saingan, dan ingin belajar.

Pertanyaan Ms M dan fakta mengenai kebutuhan Ms MJ membuat gue ingat pada seorang teman, perempuan, yang entah bagaimana punya sebentuk permintaan sederhana yang sama. Kita sebut dia sebagai Ms R. Pada titik ini gue mulai bertanya2, mungkinkah ketiga putri tersebut sejatinya adalah perempuan yang sama?

Pikiran pun melayang, merekonstruksi semua adegan yang ada dan informasi yang mungkin terlewat. Tapi satu kata kunci yang disampaikan Ms M membuat gue tersentak nyalang, dan satu informasi tambahan dari Mr P membuat sanubari bertanya. Dengan ragu campur malu, gue sodorkan HP gue kepada Ms M, dan bertanya, apakah beliau mengenal nama & no HP yang tercantum di dalam situ? And the truth revealed itself!

The funny thing is, (or shall we call it as weird?), those three girls were actually the same on person. The one whose my friend would like me to know about, the one whose I barely know recently, and the one mentioned by Ms M. A serendipity. What a small world after all, ahaha..

What a weird Jakarta! Langsung aja tadi gue titip salam sama calon mertua, oops.. sama Ms M maksudna, hehe.. Dan Ms M pun tiada hentinya tertawa bersama akan keabsurdan situasi ini hingga akhirnya gue diselamatkan oleh sang VP. Lepas dari kandang macan, masuk ke mulut buaya? Nggak deehh…  :p

It's funny how from the simple things, the life indeed is all found connected. It's one of the reason why I looove this city! *smiling.


Thu, January 24, 2008
Jakarta
@ 11:45 AM 


Previous related journal:
Serendipity - /,sæ.rən.’di.pə.ti/




Blog EntryTendang-tendangan, bukan Cubit-cubitan dong, ahhJan 22, '08 1:40 AM
for everyone

Ini bukan ngomongin latihan bela diri atau satu lagi upaya berjibaku melawan para pencopet di atas bis kota. Bukan pula kekerasan domestik yang biasanya mengiringi keributan2 nggak penting (haiyyaa..nggak dheng!:p). Bukan, bukan itu kok. Beneran!

Tapi emang tadi pagi gue sempat tendang2an (baca: saling berbalas tendangan) versus pengendara sepeda motor lain di bilangan Cawang, Jakarta Selatan.

Harap dicatat: prosesi tersebut dilakukan dengan gaya akrobatik; kami berdua masih duduk di atas sadel, dan motor masing2 juga masih melaju dengan cukup cepat. Dan ohya, ahem, gue duluan yang nendang sih (malu).

Bos dan teman-teman kantor sampe bengong nggak percaya pas gue cerita’in barusan. Mereka yakin, nggak mungkin banget seorang TLT yang baik hati, penyabar, dan welas asih (suer, ini nggak ngelebih2in kok, ini ASELI copy-paste testimonial mereka, cek aja Friendster gue, hihi) bisa-bisanya lepas kontrol di tengah kejamnya belantara ibukota. Bukannya justru TLT biasanya yang justru selalu menjadi penengah semua keributan; kantor maupun pribadi? à ini emang mulai agak berlebihan sih, gue akuin, hehe..

Langsung mereka gue challenge, “..apa laen kali perlu gue rekam pake handycam nih?..” Dan sialnya, mereka kompak ngejawab; perlu!. Sial! Emang susah kalo telanjur dicap jadi anak baek-baek! :p

Gara2nya sederhana aja, tuh Biker X (kalo di Pos Kota bagian mata nya dicoret pake spidol hitam..:p) berusaha menyalib gue dari sebelah kiri. Tiba2 mikrolet yang persis di depan dia ngerem mendadak, jadi dia kaget, dan lantas maen banting aja ke kanan. Which means langsung motong jalur gue. Padahal di sebelah kanan ada bis yang gede banget, jadi gue terpaksa tetap lurus sambil ngerem. Langsung nabrak dia dengan sukses deh.

Bukan soal tabrakan nya yang emang nggak seberapa, tapi bahaya nya itu lho yang bikin gue ngamuk. Kalo gue kaget, dan lantas banting kanan kan, alamat udah almarhum gue sekarang (eh, di surga ada Wi-Fi gratisan nggak ya?).

Begitu gue maki-maki si X, eh tuh orang malahan lebih galak lagi dan nyalah2in gue; pake bahasa kebun binatang pula. Ya udah deh, kejadian…

 
PS:
Peristiwa selanjutnya sengaja disensor demi menjaga khayalak pembaca yang lebih muda dari adegan kekerasan yang berlebihan. Harap maklum.

PS.PS:
Yang pasti bukan cubit-cubit an lah yaa.. *grin

 

Blog EntryMasa sih “sampe segitu” nya? Dec 6, '07 8:10 AM
for everyone

 

Gara2 ada mbak Z, seorang teman baik dan partner diskusi yang menantang, yang complaint karena nama nya gue pake sebagai referensi pada tulisan Melajang - Gugatan atas Nasib Perempuan dan minta supaya nama dia dihapus; gue jadi meng-googling nama blog gue sendiri, dan malah terbengong2 gara menemukan satu review seperti ini:

“..Trus barusan terpaku pada satu blog, orangnya anonimus, dia cuman pake nick 'Terbanglah Lebih Tinggi' di multiply. Tulisannya bagus2, seger, cerdas dan kental dengan sisi humanis dinamikanya perilaku manusia. *penasaran juga sih ama person behind the scene, sayang linknya gak bisa ditelusuri karena multiply gw gak aktif* ...”

Hahahha, thanks for the compliment, mbak Rena! Really appreciate it. *grin

Terlepas dari itu, terkadang gue sampe terkaget-kaget sendiri dan sejujurnya sampe sekarang masih suka bingung bilamana ada seseorang di luar sana yang mereview blog gue, dan/atau mengupload link menuju ke sini atau bahkan sampe meng-upload seluruh isi dalam suatu artikel gue. Phew!

I take it as a compliment, really (of course IF the links are properly revealed for sure). Cuma berasa gamang aja, masa sih tulisan gue “sampe segitu” nya?

Lha wong gue ngeblog ini terutama cuma untuk dokumentasi pikiran yang ramai berseliweran di kepala aja kok. Selain demi katarsis maupun katalisator, seperti yang terakhir gue ceritakan ke Py, dan pernah juga kepada SZ, Chika, serta segudang rekan lainnya yang bertanya2.

Pastinya buat gue ngblog bukan untuk eksis, hahaha..(dulu pernah ada seorang teman perempuan cerdas yang terang2an mengaku sebaliknya ke gue) Kalau ternyata gara-gara sampe nambah teman itu resiko, tapi jelas bukan tujuan. Amit-amit jangan sampe nambah musuh. Tapi bilamana ada, berpantang mundur tentunya :p

Seperti pernah Mer bilang di artikel Ajakan Mengukir Sejarah bagi Alumni Muda ITB (mbak, masukin jadi testi gue di FS nape?:p) bahwa gue tuh emang anaknya kritis dan kadang krisis.. (siyal! Muji apa nyela, nih?) Jadi postingan gue kadang, yah, well.. ummm, kadang (atau jangan-jangan sering? Hihi..) suka terjatuh ke lembah mellow yellow pillow gitu juga sih. Hehehe.. Dan pastinya, mengungkapkan sisi lain yang menunjukkan bahwa seorang gue pun ternyata juga manusia hahaha.. Mohon maaf penontonnn.. jangan pada kecewa yaaa… *smirk!

Kembali ke Rena Latifa, tulisan nya sendiri juga banyak yang bagus.. Sayang seribu sayang entah kenapa gue nggak bisa upload beberapa komentar gue ke blog dia. Pun email beliau nggak tercantum. And for that, my apologize.. Jadi gue buat tulisan ini sebagai sebuah apresiasi. Terima kasih.  

 

Jakarta, 6 Desember 2007 – 20.06 wib
Menunggu hujan yang menderai
kota,
mendoa agar banjir cepat berlalu
© terbanglah lebih tinggi

 

PS:
Rena Latifa, Nov 2007, posting asli dapat diklik di sini



Blog EntryIt’s Gonna be A Long December.. Dec 5, '07 4:32 AM
for everyone


Bangun saat Subuh di antara sepi nya pagi tadi, antara sadar dan tiada, berasa seperti mulai mencelupkan kaki pada pinggir pantai.. basah dan dingin. Hmmm.. Beaches will always be my indulgence.. *begun daydreaming and preparing to go back to my sleep.

But hey, wait a minute! Where am I? Ouch! Ternyata Jakarta banjir lagi! Hah! Beginilah rupanya kinerja Gubernur baru kita si Foke thea, hahaha.. Masih ada yang ingat sama Janji2 Kampanye nya, nggak? *grin

Lupakan tidur! Langsung deh kerja bakti pagi-pagi buta. Selamatkan apa yang bisa. Relakan apa yang udah keburu ngambang. Lagian gimana juga mau tidur? Lha wong kasur gue langsung digulung dan diselamatkan ke tempat yang lebih tinggi, hehhe..

Untungnya (biasa deh, orang Jawa selalu bisa melihat segi untung dari tiap musibah hehe) kali ini nggak ada buku2 dan koleksi DVD gue yang menjadi korban seperti saat Banjir Besar Feb 2007 kemarin.

Waktu itu gue kehilangan sekitar 100 exp buku, sebagian besar berbahasa Inggris yang berharga relative lebih mahal dan masih dalam kondisi teramat sangat baru (note: belum sempat dijamah, euh..dibaca!) dan sekitar 100 judul DVD koleksi gue yang kebanyakan sulit dicari; baik karena jenis nya atau minimal karena kualitasnya. Belum lagi nilai uang nya, sigh.  

Agak bingung aja gimana musti mencari jalan buat menuju kantor. Rumah di Priok, kantor Pancoran; naik motor pula. Udah pasti musti menerjang banjir di prapatan Cempaka Mas-Kelapa Gading dan prapatan Pramuka-Pemuda. Padahal kemarin aja (Selasa, 4 Des) saat rumah gue nggak terendam, kedua prapatan itu sudah kebanjiran hingga sedalam kira2 setengah ban mobil. Apalagi sekarang ya? Padahal lagi, motor gue termasuk yang tipe2 manja binti sensitive kalo kesentuh air.

Alamat siap2 kerja bakti ngedorong motor mogok yang beratnya nggak ketulungan itu nih, haha.. Ya sudahlah, itung2 sembari ngurusin badan..:p

 

PS:

1.      Banjir pagi ini mungkin nggak terlalu parah, tapi mengingat ini baru awal Desember, jadi agak kuatir juga nih. Apalagi dari pengalaman biasanya musim banjir itu baru bubar saat Februari telah berlalu. Belum lagi tambahan resiko fenomena pasang laut yang kemarin telah sempat menenggelamkan Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Ugh,..

2.      Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih, Kami akan sangat menghargai bilamana kepedulian dan kekuatiran yang Anda sampaikan atas musibah banjir yang Kami alami ini tidak dalam bentuk ucapan, bingkisan, maupun karangan bunga. Uhm, my personal account No will be available upon request, hihi..

3.      Judul terinspirasi dari jurnal seorang rekan (dengan isi yang berbeda, tentunya).


Blog EntryYour Greatest Enemy is …Nov 21, '07 10:56 PM
for everyone

"..You never really understand a person until you consider things from his point of view... Until you climb inside of his skin and walk around in it.." [To Kill a Mockingird, Harper Lee, 1960]


Gue yakin, semua juga sudah paham bahwa musuh kita yang terbesar bukanlah mereka yang ada di sekitar kita, melainkan justru diri kita sendiri. Ini udah sering diingatkan, hingga seolah telah menjadi bahasa sehari-hari yang meluncur begitu saja dari bibir kita; mungkin tanpa pernah benar-benar kita bisa pahami. Atau jangan-jangan malah sudah lupa?

Dalam Islam (mohon maaf kepada rekan lain), paling tidak adagium tersebut memperoleh wahana pembuktiannya saat kita diharuskan menunaikan ibadah Puasa Ramadhan; sebulan penuh. Lupakan perjuangan menahan haus dan lapar, yang ditenggarai masih menjadi tujuan utama mayoritas umat dalam berpuasa, tetapi cobalah berpuasa karena kau ingin melawan dan, tentunya, mengalahkan diri lo sendiri.

Bagaimana caranya? Nggak ngegosipin orang, nggak berprasangka, nggak (gampang) marah, nggak menyakiti hati orang lain, dsb. Menarik sekali bukan? Karena itu semua sejatinya merupakan fitrah manusia.

Tentu itu hanya beberapa di antaranya. Dan tenang aja, lo nggak perlu ribet hafalkan semua kok. Sebagai gantinya, secara sederhana, jalankan saja prinsip :

bahwa kau tidak akan melakukan hal apapun yang

kau tidak ingin orang lain lakukan terhadap diri elo.

Siapa sih yang pengen digosipin? Atau disakiti hatinya? Pasti nggak ada. Jadi, kenapa lo mau lakukan itu terhadap orang lain? As simple as that, dude.

Sayang seribu sayang, banyak di antara kita yang, sadar atau tidak sadar, terjebak pada bahasa-bahasa simbol; menjadikan agama sebagai sekedar suatu kewajiban yang berdiri terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Sekularisme.

Begitu datang Lebaran, begitu selesai pula kebaikan hati. Menguap begitu saja entah kemana. Kenapa bisa begitu? Ya itu tadi, karena soal bahasa simbol tadi. Sehingga seolah agama direduksi maknanya hingga hanya tinggal penghias seremonial belaka. Perginya Lebaran cenderung berbarengan dengan menguapnya sifat-sifat baik yang dicoba ditanamkan oleh jerih payah berpuasa sebulan lamanya.

Bila sudah begitu maka, ekstrimnya, buat apa berpuasa kecuali hanya lapar dan haus? Mengutip iklan, tanya kenapa.

 
Catatan:

Artikel ini merupakan renungan gue tadi pagi sesaat sebuah kecelakaan menimpa diri dalam perjalanan menuju kantor, di perempatan Cawang arah Semanggi; sebuah mobil Toyota Kijang Innova putih menabrak motor Thunder 250 gue dalam posisi serong dari kiri belakang, dan menjepitnya ke mobil boks yang ada di depan. Sebenarnya gue langsung mengalah dengan cara mengerem, sekaligus untuk menghidari kerusakan lebih parah.

Tapi entah kenapa, Innova sialan itu bukannya ngerem, malah tetap berusaha maju (sopir maupun penumpang nya berwajah marah dan melotot ke gue). Ya, memang dalam kecepatan lambat sih. Akibatnya bukan hanya ngerem, gue malah terpaksa berhenti dan memiringkan motor ke sebelah kanan, hanya agar Innova itu dapat memperbaiki posisinya – harapan gue agar dia mundur. Ternyata dia malah tetap maju, melindas ban depan gue dengan sukses, dan membuat gue berjuang menahan Thunder gue yang udah nyaris rebah ke sebelah kanan.

Pikiran pertama yang terlintas, hancur dah velg dan ban depan gue. Jangan2 lampu depan dan lampu sein juga rusak nih. Pikiran kedua, sotoy bener tuh Innova, gue baret juga lo pake stang gue. Atau gue hajar tuh kaca spion. Jadi sama-sama rugi kan?

But then I reminded myself to positively analyze the situation; hey, it’s just an accident! Who does want to get involved by intention? And I started to consider things from his point of view.

Maybe he just didn’t see me, maybe he wanted to avoid some obstacles on his left. Maybe he hurried himself for not getting late, or just want to save a parking lot on his office building. Maybe he just playing evil, but so what?

Satu-satu nya yang tergores dari peristiwa itu adalah “ego” gue. Tapi tentu saja itu nggak penting, toh harga diri gue masih utuh. And the most important is, my Thunder seems to be okay (that’s the plus to buy a CBU not a CKD, haha). Beside, those damn motorcycles behind me has already screamed to go through.

Ohiya, gue hafal no polisi mobil itu, tapi ya sudahlah.. Seperti gue bilang di atas, the only thing that hurt was just my ego, not myself nor my bike. So what?


Jakarta, Thursday
Nov 22, 2007
07.45 am
 

Baca Juga:

1.      Indonesia: a Symbollic-Obsessed-Nation

2.      the Jakarta Jive : the Fasting Festive

3.      Just Another Near Death Experience

4.      See No Evil : the Jakartans Behaviour


Keterangan:

CBU    : Completely Built Up (impor asli, coy!)
CKD    : apa ya singkatannya? Pokoke ini rakitan dalam negeri, biasanya lebih murah.


Blog Entry..duhai para pemimpi!Nov 20, '07 10:10 PM
for everyone

Orang berkata,
"..jangan bangunkan budak yang tertidur, mungkin dia bermimpi tentang kebebasan.."

Ku jawab,
"..mari kita bangunkan budak yang tertidur, dan ajaklah ia bicara tentang kebebasan
.."

-- Kahlil Gibran


Hari ini banyak banget teman yang curhat soal mimpi. Telepon, email, blog, empat mata.. Tentang mimpi-mimpi indah mereka semalam, tentang ketakutan akan hidup mereka.. Ahhh, what a mid week day crisis, hehehe..

Gue sih masih capek habis ujian akhir tadi malam**, dan pusing mikirin ujian akhir besok*** -- jadi kagak sempat ngimpi. Hiks,.. Belum termasuk emergency exit pagi ini, hutang kerjaan semalam, beberapa email yang masih harus dibalas, dan, yaa… tiba-tiba teringat pada Paspor Jak Jazz*** yang sudah bisa diambil di Aksara Kemang siang ini! Suddenly life wont feel that bad anymore, eh?

Salam untuk mu, duhai para pemimpi!


Wed, Nov 21, 2007
09.43 am

 

PS:

**      Regulations on Energy Sector
***    Financial and Management Accounting
****  Paspor JakJazz adalah tiket terusan untuk 3 hari acara + 3x special show. Acara

tersebut akan berlangsung pada hari Jumat-Sabtu, 23-25 Nov 2007



Blog EntryDifferent World, Different LifeOct 4, '07 8:51 AM
for everyone

 

 

-  Hi, darling. Glad that you can make it. Let’s sit over there, under the stars.

+ Hi mbak, apologize for being sooo damn late. Had a meeting and a dinner with Pertamina. That spot seems nice. Sure.

 

-  Come. Meet Mr A and Ms B from Design Magz*

+ Huh? (blank expression) Hi there, nice to meet you (smiling warmly)

 

+ (whispering to my date) Pardon me, what Design? Are they you’re office colleagues, from the interior design or architectural function or something?

-