Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: discussion

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag discussion
Blog Entry….Je pense donc je Suis…Oct 21, '07 10:23 PM
for everyone

 

 

On living the life, we only have 2 (two) possibilities;

 

(1)   to accept it as the way it is, or on the contrary

(2)   to question it as ever.

 

Sure we can live in peace, and by God, perhaps happily ever after by quietly accepting it. No offense offered, no hostile hosted. No heart broken, no smile shattered.

 

A simple life, a better relationship. But who’s gonna achieve happiness, whilst his heart don’t wanna easily bow, when his mind can’t hardly agree?

 

Questioning life and everything hovering over it. That is the naked truth of a mere mortal existence, of a man. It is his way to look his man in the mirror. It is his right to think.

 

Being rhetorical is NOT a sin.

 

 

“….Je pense donc je suis…..”

- Descartes -

 

 

© terbanglah lebih tinggi

Jakarta, Sunday, Oct 21, 2007

18.56 wib

 


NOTE: 

1)   Danielle provided French translation; this encryption was originally sent as a sms for her, and she replied with that line. Thank you.

2)  This is what I thought when few persons wondered of why I keep asking those questions, and made their heart pounding, their mind dizzy, and their sleep disturbed. Why? Maybe it’s just me, the way I let my mind flying higher.

3)   This encryption was created instantly whilst I drove my car last night around Jakarta Kelapa Gading area.

4)   I got this as my extensive reply: I Prefer the 3rd... tanggapan utk TLT. Many thanks,


Blog EntryWanita yang Telanjang*Sep 14, '07 8:57 PM
for everyone

 

 

Kalimat-kalimat berikut menghampiri ku, dan bagaikan tamparan keras:

 

....deleted

Sering saya membaca informasi suatu perkosaan, dan tindakan assusila lainya, yang mungkin hasil dari banyaknya pakaian yang kurang bahan dan kesempitan tersebut. Wanita yang menggunakan pakain model tersebut dengan bangga memerkan bentuk tubuhnya, yang secara tidak sadar dalam bahasa tubuh mereka mungkin berkata "lihat lah saya, saya seksi, memiliki bentuk tubuh yang indah, pandangilah saya"

 

Secara kodrati, laki-laki sangat menyukai wanita, karena akan terdapat kontak dengan birahi laki-laki bila melihat wanita memerkan bentuk tubuh mereka, sehingga bila laki-laki tersebut tidak dapat menahan diri, dan para wanita yang menggunakan pakaian kurang bahan dan kesempitan memamerkan tubuhnya. Maka kita pun dapat memastikan bahwa tindakan assusila bisa saja terjadi 

....deleted

 

* Wanita yang Telanjang, Sep 13, 2007, 11:45AM, Erwin Arianto

 

 

Tulisan yang bagus, Pak Erwin. Sayang ada satu bagian yang sangat mengganggu; yaitu tuduhan Anda bahwa wanita diperkosa semata hanya karena dia berpakaian seronok.

 

Sungguh suatu pandangan yang sangat patriakis dan bersifat male-chauvinistis; menempatkan lelaki sebagai raja diraja, sementara wanita hanya sebentuk subordinat yang berhak dan pantas untuk diperlakukan bagaimanapun sekehendak hati,. Diatur agar dapat stay-fit di dalam keharmonisan dunia impian lelaki. Agar apapun yang wanita perbuat, pada akhirnya tidak akan pernah dapat menggoncangkan kekuasaan lelaki.

 

Jangan lupa, pemerkosaan, sebagaimana pernikahan; merupakan suatu bentuk aksi-reaksi. It takes two to tanggo, dont you think so? Nggak mungkin lah bakal ada korban bila nggak ada pelakunya, demikian pula sebaliknya. Apakah dengan tulisan ini Anda hendak menjustifikasi bahwa tindak pemerkosaan semata hanyalah akibat kesalahan wanita?

 

Pemerkosaan menghancurkan hidup wanita selamanya, dan sangat mungkin akan meninggalkan luka fisik serta kepastian akan cacat kejiwaan permanen. Tidak hanya bagi sang korban, tetapi juga pasti ada dampak ikutan bagi orang-orang terdekatnya; bisa suami, kekasih, kakak/adik, orang tua, sahabat, keluarga besar, dsb. Belum lagi resiko penularan penyakit seksual maupun kerusakan rahim; sang korban selamanya dicabut haknya untuk dapat melahirkan. Bilamanapun, entah dengan bantuan teknologi apa, dia sanggup melahirkan, keniscayaan mana yang dapat memastikan bagaimana hubungan psikologis antara dia dengan anaknya; yang notabene menjadi pengingat abadi baginya dan lingkungannya, akan hari saat kedurjanaan tersebut terjadi?

 

Sementara pandangan sosial yang berlaku umum dan karenanya bertendensi untuk dianggap sebagai kebenaran absolut dari kaum lelaki seperti yang telah Anda contohkan di atas justru hanya sanggup untuk membebankan hukuman pidana yang relatif ringan bagi pelakunya, atau bahkan mungkin lebih rendah daripada sanksi atas maling ayam, dan bahkan itupun dengan tak luput sembari menambahkan deraan sosial yang jauh lebih berat ke pundak sang korban, sebagai seorang jalang; dan stigmatisasi negatif pada anak hasil perkosaan -- anak haram.

 

Bagaimana bila keadaan kita balik? Bagaimana bila hidup sang pemerkosa yang kita hancurkan? Bagaimana bila kita, dengan kekuatan perangkat hukum yang ada, justru membebankan siksa dunia yang lebih berat kepada si pelaku? Pidana seumur hidup, bila perlu hukuman mati. Atau mungkin perlu dikebiri? Supaya tertutup kemungkinan baginya untuk merusak hidup wanita lainnya. Pun hidup korban yang telah dihancurkannya itu tak akan (pernah) bisa pulih, dengan pengganti hukuman pidana yang seberat apapun juga. Satu-satunya hukum yang sesuai mungkin hanyalah hukum Qisas(?); mata balas mata.

 

Pada kasus Indonesia yang cenderung menyepelekan hukum formil bila tidak ada petugas berwenang yang melihat, bila tidak ada sanksi; tindakan keras sangat perlu dilakukan untuk menimbulkan efek jera sekaligus menciptakan efek penggentar bagai mereka yang mungkin ingin mencoba untuk melakukan.

 

Untuk meningkatkan harkat dan martabat wanita bukanlah semata terkait aksi pengalihan perhatian fatamorgana yang hanya tampak bagus pada permukaan, tetapi miskin pemahaman dan penghayatan mendalam. Bukan dengan memaksa wanita menutup aurat dari untaian helai rambut hingga ujung jari kaki. Pun lagi bukan dengan memaksa mereka tinggal di rumah, dan membatasi kontak mereka dengan dunia, atau dengan lelaki lain yang bukan muhrim** nya.

 

Melainkan dapat dilakukan dengan pendidikan untuk semua; pria dan wanita, hingga tak akan ada yang tidak saling tak menghargai. Saling mencoba dan berusaha untuk melihat dari sudut pandang masing-masing. Saling menghormati sesuai dengan hak dan tanggung jawab masing-masing sebagai subyek hukum, maupun sebagai Khalifatullah di muka bumi.

 

Dan bukan dengan menyalahkan wanita, tentunya. Insya 4JJI

 

 

Jakarta 12870 Pancoran

Thursday, Sep 14, 2007 – 16.55 wib

© terbanglah lebih tinggi

 

 

 

Keterangan:

** Bukan Muhrim:

istilah dalam agama Islam untuk menunjukkan penyangkalan teologis terhadap keadaan di mana pria dan wanita yang berhubungan sebagai ”muhrim” dilarang menikah satu sama lain. ”Bukan Muhrim” menyatakan status bahwa antar pria dan wanita tersebut diperkenankan untuk menikah.

 

 

Catatan:

§         Artikel ini, dengan editing ringan atas kesalahan ketik dan peningkatan penekanan makna, merupakan jawaban spontan yang saya kirimkan ke mailing list yang sama, segera setelah saya menerima tulisan provokatif dan bertujuan menghakimi dari saudara Erwin tersebut di atas.   

§         Tulisan asli Erwin sebenarnya lebih panjang, akan tetapi potongan 2 (dua) paragraph dalam cetak miring di atas dianggap dapat mewakili pandangan utama yang hendak disampaikan Erwin.

 

 

Photo Caption:

§         From Windows XP

 

 


Blog EntryPengunjung, Pengintip, dan PengundangJan 24, '07 8:01 AM
for everyone

oleh: terbanglah lebih tinggi

 

 

Beberapa hari yang lalu, ada satu artikel menarik dari Ihwan; yang mempertanyakan mengenai fenomena para pengintip di blog (klik dan baca artikel asli di sini). As far as I (and several other thoughtful friends) concern, it’s such an ever growing phenomenon, and it’s only getting worst!

 

Pengintip di sini menurut Ihwan adalah para pengunjung blog (blogwalkers) yang sejauh ini hanya menumpang membaca blog, tetapi ternyata tidak pernah meninggalkan komentar. Seperti hantu. Kegiatan ini sebenarnya dikenal dengan nama blogwalking.

 

Untuk itu, gue terjun ke dalam medan “pertukaran” komentar yang mewarnai artikel yang menggugah tersebut. Inilah kesimpulan yang bisa gue bagikan. Mohon maaf bila tidak persis sama dengan komentar yang tertera pada artikel asli dimaksud.

 

1. what's wrong with that phenomenon, anyway? Any visitors have the right to leave their comment(s) or not – as they wish

 

2. apakah kita menulis untuk memperoleh komentar, atau menulis untuk menulis -- melepaskan rana di angan maupun lena di hati?

 

3. apakah "para pengintip" bila mereka memang senista itu? Or are they not even worse than them who just got busy virtually inviting anyone available on the blog hemisphere, but they themselves seldomly read what their brand new friends got in mind and in their writings? What should we call people like that, eh? Mereka lah para pengundang.

 

4. apakah para pengundang tersebut mengirimkan undangan semata hanya agar mereka terlihat keren dengan jumlah contact yang setinggi gunung sedalam lautan – tanpa pernah berkomunikasi dengan masing2 contact yang mereka miliki tersebut? Dan lantas mereka berbangga hati karena nya?

 

Bagaimana kelanjutan atas fenomena tersebut, maupun bagaimana cara untuk menyikapinya? Apakah kau seorang pengunjung, pengintip, atau bahkan pengundang – tentunya ini bukan soal salah atau benar. Ini hanyalah masalah pilihan.

 

Dan sepanjang elo bertanggungjawab atas pilihan yang telah elo ambil, sepanjang elo menjaga komitmen atas pilihan tersebut, sepanjang elo bertindak konsisten sesuai dengan perkataan (atau dalam hal ini, tulisan) elo sendiri; maka tiada akan ada masalah.

 

Life is merely a choice. Take your chances, and be committed to it.

 

 

Jakarta 12870 Pancoran

Tuesday, Jan 24, 2007 – 20.02 wib

 


ReviewReviewReviewReviewmhn maaf lhr btnOct 28, '06 1:52 PM
for everyone
Category:Other
TLT’s Note:
-------------
Kawan, masih ingat dengan artikel gue ttg ucapan Lebaran melalui sms? Bila kau belum berkesempatan membacanya, silahkan klik di sini. Bilamana sudah, artikel berikut di bawah menawarkan spektrum yang sama daripada yang telah tersaji, dengan warna yang mungkin sedikit berbeda.

Oh ya, saat memuat posting ini, saya baru sadar bahwa ternyata penulis artikel di bawah adalah Koordinator Jaringan Islam Liberal (atau "JIL"). Oke, saya tahu bahwa banyak di antara kita yang “kurang sependapat” dengan sepak terjang JIL – tetapi mereka hanyalah bertindak sesuai dengan nama yang telah mereka perkenalkan; secara terang2an & ksatria. Hal ini berbeda dengan banyak lainnya, yang cenderung menyesatkan masyarakat awam dengan nama yang seolah mencerahkan, padahal ternyata tidak.

Dan kebetulan, kemarin ada seorang rekan yang mengkritisi posting saya sebelumnya di sini, sembari membawa2 nama JIL. Untuk itu, mudah2an Anda suka membaca posting kali ini – yang diambil dari Koran Tempo, edisi hari ini, Sabtu, 28 Oktober 2006.

Menarik dibaca, untuk memperluas khazanah ilmu dan wawasan kita bersama.

Jakarta 14130 Cilincing
Sabtu, 26 Okt 2006 – 15.01 wib


============
mhn maaf lhr btn*
* judul tidak disingkat, tampilan asli di edisi cetak
** sepertinya dibuat utk menekankan isi artikel di bawah: sms greetings

oleh: Hamid Basyaib
Direktur Program Freedom Institute, Koord Jaringan Islam Liberal
Sabtu, 28 Oktober 2006.. Artikel asli dapat dilihat di sini


Kapan terakhir kali Anda mengirim kartu Lebaran? Saya juga sudah lupa. Seperti beberapa tahun terakhir, saya saling ber-minal aidin dengan kerabat dan kawan lewat pesan pendek (SMS). Apakah ini bukti tambahan bahwa cara kita menghayati agama pun dipengaruhi oleh teknologi?

Mungkin. Dan tampaknya pengaruh itu baik belaka. Di zaman kejayaan kartu Lebaran, kita harus menulis ucapan satu per satu, membawanya ke kantor pos, tanpa tahu kapan kartu itu sampai di alamat. Lalu menunggu tanggapan beberapa hari. Produsen kartu memang menolong kita, sambil berjaga-jaga kartu mereka tak habis terjual tahun ini sehingga bisa dijual lagi tahun depan, dengan mengosongkan angka tahun di kartu mereka.

SMS merevolusi cara itu. Kita cukup merumuskan ucapan terbaik, lalu mengirimnya ke jumlah alamat tanpa batas, termasuk kepada relasi di luar negeri (pernahkah Anda mengirim kartu Lebaran ke luar negeri?). Real time. Sasaran langsung menerima, dan mungkin segera membalasnya. SMS pun mengubah kita dalam memberikan sentuhan personal pada ucapan minta maaf.

Rupanya selalu ada saja orang yang merumuskan ungkapan-ungkapan terbaik dan cocok untuk kita; mungkin juga itu "bantuan" dari perusahaan penyedia jasa telepon. Maka, seperti Anda, saya menerima ucapan-ucapan indah yang pernah saya terima dua-tiga kali sebelumnya. Terasa klise, memang. Tapi, sudahlah, yang penting kita hargai niat luhur sang pengirim untuk meminta maaf dan mengucap selamat Hari Raya pada kita.

SMS juga adalah perbatasan antara bahasa tulisan dan lisan. Yang terakhir ini berwatak spontan, kadang setengah bercanda. Memang masih cukup banyak yang menggunakan ungkapan standar (taqabbalallahu minna wa minkum... bahkan disertai aksara Arab dan gambar kubah masjid). Tapi SMS membuat kita mendapat ungkapan-ungkapan yang jauh lebih kaya dalam bahasa Bugis, Betawi, Jawa, Sunda, Minang--semuanya tak kurang maknanya satu gram pun dibanding bahasa Arab. Kekocakan ungkapan mereka membuat kita memberikan dan meminta maaf sambil tersenyum, sesuai dengan semangat damai dan riang Lebaran. Adakah ini semacam "pribumisasi" Islam, melengkapi sejumlah pengindonesiaan dalam beberapa aspek Idul Fitri kita--kupat, mudik, beduk, pawai, bahkan petasan?

Mereka yang paling obsesif dalam mengamalkan Islam versi awal pun rupanya tak kunjung tahu bagaimanakah Idul Fitri dipraktekkan di masa Nabi. Para panutan kontemporer mereka tak pernah menceritakan momen Madinah itu. Dalam kelangkaan informasi, mereka "terpaksa" ikut arus pribumisasi. Dan tak ada yang salah dalam pemerkayaan ekspresi itu. Sayangnya, kita kurang beruntung karena dalam banyak aspek lain informasi itu rupanya terlalu lengkap, sehingga peluang kita untuk memperluas wilayah pribumisasi tak cukup besar. Tak banyak yang mau menginsafi bahwa semua itu sesungguhnya hasil akumulasi praktek selama ratusan tahun di tempat-tempat lain, yang tak selalu merujuk pengalaman Madinah yang masih amat sederhana.

Karena begitu mudahnya, dibanding mengirim kartu, saya mengobral permintaan maaf lahir-batin juga kepada rekan-rekan beragama lain lewat SMS. Mereka pun membalasnya--banyak juga yang berinisiatif memulai. Betapa universal pesan Idul Fitri. Saya meminta maaf kepada mereka karena sejak kecil saya diajari bahwa bersalah kepada nonmuslim tidak kurang dosanya dibanding bersalah kepada sesama muslim. Saya yakin mereka pun bersikap demikian--melukai muslim sama saja dosanya dibanding mencederai sesama orang Kristen, Hindu, Buddha.

Begitulah, SMS turut menyumbang pada proses kulturalisasi agama. Semangat dasar Idul Fitri--ikhtiar kembali ke kesejatian diri manusia, antara lain dengan saling memaafkan--dengan mudah diterima oleh orang-orang yang menganut sistem simbolik berbeda, sebagaimana buka bersama, yang juga diadakan oleh semakin banyak lembaga sekuler. Simbol-simbol agama, yang biasanya berfungsi ke dalam (mengikat penganut agama itu saja), telah meresap dan bertransformasi menjadi budaya yang dianut bersama--persis inilah tujuan dakwah, menjadikan agama sebagai rahmatan lil 'alamin. Inilah pula makna pluralisme, sebuah konsep yang bertolak dari perbedaan (dan tak ada yang perlu diubah dalam fakta dasar ini), tapi pasti berhasil mencapai titik-titik persamaan di bidang dan tingkat tertentu.

Tantangan bagi semua penganut agama adalah bagaimana memperkaya makna simbol-simbol khas agama masing-masing itu. Alih-alih berhenti pada simbolisme itu sendiri, mereka perlu menyelam ke dasar simbolisme tersebut untuk menemukan makna sejatinya. Karena diyakini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, sudah pasti di titik fundamental itu makna-makna tersebut bertemu.

"..Si Pitung jagoan silat/ Kumisnya melintang persis gagang telepon/ Diitung-itung dosa ane sudah sejagat/ Makenye minta maap nyang 'ni bukan lelucon.."

Don’t Sweat the Small Stuff ...on Ied al-Fithr!

oleh: terbanglah lebih tinggi

 

 

Pendahuluan:

Artikel berikut disarikan dari berbagai pengalaman, evaluasi, dan prinsip2 pribadi ku. Yang meliputi obrolan, diskusi, dan debat yang aku alami selama beberapa hari terakhir menjelang Lebaran; yang dilakukan dengan beberapa rekan, sahabat, keluarga, some strangers, etc. Be it face to face, by email, by phone, by sms, by ym, or through the blogging world.

 

Photo courtesy of TLT. Oct 13, 2006.

Grand Mahakam hotel, Mahakam Blok M, Jakarta 

 

 

Hi there! Just arrived at home neh – after having had our dinner outside, with my dad and my younger brother. Ohiya, adik ku itu udah 7 (tujuh) bulan terakhir ini kerja di Surabaya, dan jarang banget pulang ke Jakarta; tiket mahal, euy..hehe.. Dia baru aja datang Minggu subuh tadi, dan datang2 langsung minta ditraktir makan malam di Hanamasa (all you can eat Japanese restaurant). Dasar gembul! Makanya mumpung ada dia, bela2-in makan di luar deh, siapa tahu hari Minggu ini jadi puasa terakhir tahun ini.

 

Soal hari terakhir puasa adalah hari Minggu.. buat sebagian orang jawabannya adalah “ya”. Hal ini terutama berlaku bagi grup Muhammadiyah, dengan mayoritas pengikut yang tersebar di Jawa Tengah & sebagian Jawa Barat, Sumatera Barat (Padang), dsb. Tapi buat mayoritas lain yang mengikuti keputusan Pemerintah (plus grup NU-nya Gus Dur), besok Senin masih puasa. Dan baru akan merayakan lebaran hari Selasa. Lumayan, masih ada waktu sehari lagi buat nambah2 pahala maupun buat bersih2 rumah, hehe..

 

Secara sederhana perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan metode penentuan hari Lebaran yang digunakan. Muhammadiyah yang terpelajar dan progresif (tokoh penting: Amien Rais, ex Ketua Parlemen) cenderung untuk mempergunakan perhitungan matematis dan astronomi yang rumit untuk menentukan letak perbintangan, bulan, dan matahari. Yang nantinya akan memberikan jawaban definitif soal kapan Lebaran harus dirayakan.

 

Sementara NU atau Nadhalatul Ulama yang konservatif dan tradisional (tokoh penting: Gus Dur, ex Presiden RI) cenderung lebih mempercayakan pada pengamatan benda2 langit secara visual. Yang mendasarkan pada pergerakan bumi, bulan, dan matahari. Apakah bulan baru (baca: bulan sabit) telah dapat dilihat mata telanjang menggantung rendah di ufuk barat, saat matahari terbenam? Bila ya, Lebaran dipastikan telah tiba. Bila bulan baru tak dapat terlihat, pun bila hanya sekedar tertutup awan belaka, maka Lebaran belum tiba.

 

Penting diingat, ke-2 metode tsb adalah benar secara hukum Islam.

 

Lantas, bila keduanya benar, mengapa hasilnya bisa berbeda? Jelas aja hasilnya akan berbeda, karena metode perhitungan yang digunakan pun berbeda. Karenanya, jangan dibandingkan lah, karena (kalo bahasa Jawa nya) tidak "apple-to-apple comparison". Sampe kiamat juga ndak bakalan ketemu. Ibarat kata seperti membandingkan buah pepaya dengan buah mangga. Lantas apel nya kemana? Silahkan beli dulu ke pasar! Atau cari selundupan buah impor dari pelabuhan Tanjung Priok, ahaha..

 

Seperti biasa, keluarga ku lebih memilih untuk ikut pemerintah saja (walau secara metode & nalar, aku pribadi lebih tertarik dengan cara yang dipergunakan Muhammadiyah). Ini karena keluarga besar Ibu ku sejak turun temurun merupakan penggiat Nadhalatul Ulama alias NU, sementara keluarga besar ayah ku asli Surabaya yang telah terbiasa dengan segala budaya animisme NU. Selain itu (dan terutama), juga karena kami tidak cukup berpengetahuan akan hal menentukan hari Lebaran ini; jadi kami mempercayakannya pada mereka yang berpengetahuan, dan berwenang - dlm hal ini: Pemerintah.

 

Lagipula, di Jakarta mayoritas orang memang ikut Pemerintah. Walau aku pikir semata-mata ini hanya soal pilihan praktis belaka, berkaitan dengan pengaruhnya terhadap pelaksanaan shalat Ied. Karena mayoritas penduduk Jakarta berlebaran belakangan (baca: mengikuti Pemerintah), artinya kebanyakan shalat Ied baru akan dilaksanakan pada hari Selasa. Dengan kata lain, mereka2 yang ikut Lebaran hari Senin, dipastikan bakal sedikit kelimpungan buat mencari tempat akan mengadakan ngadain shalat Ied. Ribet ya?

 

Ohya, buat yang belum tahu, yang membedakan pelaksanaan shalat Ied ini dengan metode shalat/ sembahyang lainnya yang dilakukan kaum Muslim adalah karena adanya keharusan untuk melaksanakannya secara bersama2 (baca: berjama’ah); dan harus di masjid besar, atau di tengah2 lapangan besar. Di satu sisi hal ini menambah daya tarik dan gairah yang terpancar dari nya, tapi di sisi lain akan sangat menyulitkan mereka2 yang cenderung akan memilih saat pelaksanaan shalat Ied yang berbeda dari mayoritas kaum yang berada di sekeliling mereka. Bila sekeliling mereka memilih waktu Lebaran yang berbeda, bisa2 sisa sebagian lainnya lagi akan shalat Ied sendirian; yang tentu saja tidak mungkin. Ribet kan?

 

Jangankan teman2 yang beragama lain/ non-muslim; sering aku heran sendiri, masalah nggak penting begitu kok yaa dibuat ribet. Agama itu kan soal "faith" dan “believe”. Biarkan sajalah, apakah seseorang mau ikut Lebaran yang mana; Senin atau Selasa. Biar menjadi tanggung jawab masing2 di hadapan Tuhan nya.

 

Life is merely a choice; take your chances, and committed to it!

 

Yang penting Pemerintah jangan ikut bikin bingung orang kecil & mayoritas rakyat yang nggak paham soal2 beginian. Atau malah bikin keruh suasana..

 

Lagipula, bukankah konstitusi kita yang mulia menjamin kebebasan beragama penduduknya, dan kebebasan untuk menjalankannya sesuai dengan syariat dan kepercayaannya masing? Jangan hanya karena mengejar sebentuk harmonisasi yang ternyata dipaksakan, rakyat di bawah yang menjadi korbannya; gontok2an nggak jelas demi sesuatu yang nggak penting.

 

Berita di televisi Senin malam menyebutkan ada satu daerah di bilangan Jawa Tengah yang Pemerintah lokal nya melarang rakyat menggunakan lapangan alun2 sebagai pelaksanaan shalat Ied hari Senin (yang notabene berbeda dengan kehendak Pemerintah Pusat maupun Pemerintah lokal yang bersangkutan). Ini maksudnya apa? Sekalian saja bilang bahwa dilarang ber-Lebaran hari Senin. Ternyata massa tetap membandel, dan mereka pun memaksakan agar alun2 setempat digunakan. Pelaksanaan shalat Ied tersebut lantas dikawal sejumlah polisi, yang gue duga sebagai bentuk intimidasi atas mereka yang memilih berbeda dan menolak tunduk.

 

Berita selanjutnya malah lebih aneh lagi; di Sumatera Barat, mayoritas penduduknya merayakan Lebaran hari Senin – termasuk sang Gubernur. Pembangkangan terang2-an kepada Pemerintah Pusat? Atau hanya lah sebentuk ekspresi kebebasan untuk menjalankan syariat agama sesuai dengan kenyakinan yang dianut? Inipun satu bentuk intimidasi pada mereka yang berbeda. Dan jangan lupa, Sumatera Barat adalah satu2nya daerah di Indonesia yang mewajibkan semua (baca: SEMUA) siswa/pelajar putri untuk mengenakan jilbab; tanpa kecuali. Cukup sekian dengan yang katanya kebebasan menjalankan agama yang diatur dalam UUD 1945.  

 

Kalau memang memiliki political will; sebaiknya Pemerintah, ulama, maupun pihak yang berwenang lainnya membuat penjelasan soal kenapa bisa ada perbedaan seperti itu. Jelaskan perbedaan masing2 metode yang digunakan; baik secara teknis maupun secara sederhana. Apa keuntungan dan kelebihannya; lantas biarkan rakyat bebas memilih berdasarkan kenyakinan nya masing2. Sudah waktunya negara ini menganggap rakyatnya sebagai manusia2 cerdas yang mempunyai pilihan bebas, dan bukannya segerombolan robot yang harus diatur supaya seragam atas nama harmonisasi.

 

Perbedaan adalah rahmat, dan bukannya aib. Perbedaan, sepanjang tidak dipaksakan maupun dipertentangkan, seharusnya dapat memperkaya khazanah dan wawasan pribadi maupun kita bersama. Perbedaan, yang didialogkan dengan kepala dingin dan bernalar, seharusnyalah dapat membawa pada pengertian yang lebih dalam; baik itu pengertian atas diri/pilihan kita sendiri, maupun atas diri/pilihan orang lain.

 

Masih banyak hal2 lebih penting lainnya daripada sekedar meributkan beda hari Lebaran; misal apakah mereka2 yg sok2an ribut tentang penentuan hari Lebaran itu sudah membayar zakat? I STRONGLY doubt it. Jangankan zakat maal (pajak atas harta kekayaan), sekedar zakat fitrah (pajak atas Lebaran) aja masih banyak yang mangkir.

 

Nggak percaya? Gunakan logika sederhana saja. Saat ini ada hampir 200 juta penduduk muslim Indonesia, taruhlah 20% saja sanggup menyisihkan penghasilan bersihnya untuk membayar zakat maal (misalkan penghasilan kena zakatnya setelah dikurangi pajak negara & pengeluaran rutin ybs adalah sebesar IDR 1 juta/ bulan). Dikali 2.5% (dasar perhitungan zakat), dikalikan dengan penghasilan masing2 selama setahun. Sudah berapa besarnya dana yg terkumpul? 

 

Contoh:

Penduduk muslim                = 200,000,000 orang

20% mampu                      =   40,000,000 orang

à termasuk pegawai negeri sipil berjumlah 4 juta orang, anggota TNI & Polri yg berjumlah 0.5 juta orang, dan pegawai BUMN yg jumlahnya tdk diketahui, tapi pasti lebih banyak drpd jumlah pegawai negeri sipil + militer

Dasar perhitungan zakat      = 2.5% setahun dari penghasilan kena zakat

Penghasilan kena zakat        = IDR 1,000,000/ bulan/ orang

 

Potensi zakat SETAHUN      = IDR 1 juta x 40 juta org x 12 bulan x 2.5%

                                      = IDR 12 trilliun/ tahun..!!

 

Seharusnya, tiap tahun dapat terkumpul dana segar; cash, bebas hutang, dan bebas pajak sebesar +/- IDR 12 trilliun. Dikumpulkan dalam 1 (satu) masa pemerintahan selama 5 (lima) tahun, sudah dapat diperoleh IDR 60 trilliun; cukup untuk digunakan negara & bangsa untuk menebus BLBI Bank BCA yg macet sejumlah yg sama. Atau bisa juga untuk membayar utang2 kita kepada IMF, Bank Dunia, ADB, dsb. Atau disuntikkan kembali untuk membiayai beragam proyek infrastruktur yang strategis; seperti pembangunan kilang minyak untuk dapat memproduksi kebutuhan bensin+BBM sendiri, peningkatan jaringan jalan & transportasi darat, laut, serta udara, maupun untuk memperbaiki fasilitas pendidikan, kesehatan, kesejahteraan & fasilitas umum, dsb.

 

Dengan demikian, uang tersebut akan dapat menggerakan roda perekonomian bangsa (government spending), dan mempercepat akselerasi pertumbuhan ekonomi; dengan cara meningkatkan multiplier effect (1). Jelas jauh lebih baik daripada berbangga2 dengan headline besar2 di koran2 nasional, bahwa negara ini ternyata masih “dipercaya” untuk dapat memperoleh pinjaman baru. Mengutip secara bebas ungkapan yg sering digunakan di suatu acara TV,

 

“..bangsa yg aneh; bisa ngutang kok malah bangga..”

 

Untuk para koruptor, harap diingat bahwa pembayaran zakat bukanlah metode money laundering di hadapan bangsa, apalagi Tuhan. Jangan sangka bila Anda telah membayar zakat, maka Anda2 akan terbebas dari semua kesalahan Anda di dunia maupun di akhirat. Karena bila zakat bermaksud untuk memberikan hak sosial atas harta tsb kepada masyarakat, lantas bagaimana mungkin harta tsb diperoleh dengan cara merebut hak sosial masyarakat itu sendiri (baca: korupsi)?

 

Kembali ke soal perbedaan hari Lebaran tadi, gampangnya, agama itu kan soal "faith" dan juga “believe”. Then just do what you believe in, be responsible and let the rest be with God. Takut dosa karena ada aturan soal haram berpuasa di hari Lebaran? Yaaa.., itu kan tergantung elo percaya Lebaran tuh hari apa.. Kalo lo udah yakin Senin pasti Lebaran, kemudian hari Selasa lo masih juga puasa; jelas akan masuk hitungan dosa. Tapi kalo lo yakin Lebaran baru jatuh besoknya pas hari Selasa, then so what?

 

Kalaupun ternyata kenyakinan kita itu salah, ternyata Lebaran jatuh hari Senin, sedangkan hari Senin itu kita masih berpuasa dan lantas jadi berdosa, ya ampunn.. then just take the responsibility. Take the sin! Coz we’re a bunch of mature and responsible person, no? Karena walaupun mungkin kita berdosa karena pilihan itu, berapa besar sih dosanya, bila dibandingkan dengan korupsi mencuri uang negara? Atau memfitnah/ ngegosipin orang? Atau menyakiti hati tetangga & rekan? Atau merasa diri sendiri sebagai yang paling benar, dan lantas menafikan pendapat mereka yang berbeda? Atau bahkan mengancam dan mengintimidasi mereka2 yang berbeda itu?

 

Memang masyarakat kita terkenal sebagai sangat-sangat superfisial & artifisial; Cuma bisa ribut masalah simbol, ie jilbab, jenggot, cara berpakaian wanita atau jam berapa wanita tsb pulang ke rumah (referring to RUU APP(2)), sibuk merazia restoran yang tetap buka saat bulan puasa (tuduhannya tidak menghormati orang puasa), atau keikutsertaan seseorang saat shalat tarawih atau shalat malam hari/ pk 19, setelah jam berbuka puasa (semata demi pengakuan sosial bahwa ybs tergolong manusia “alim”); tapi semua lupa pada esensi apa ibadah itu sebenarnya.

 

Banyak orang lupa, bahwa yang namanya beragama dan beribadah itu bukanlah sekedar urusan vertikal antara hamba dengan Tuhan nya, melainkan juga antara sesama manusia. Antara kita dengan tetangga. Pegawai dengan Bos. Atasan dengan bawahan. Sesama kolega maupun rekan satu gank. Anak dengan orang tua. Kemenakan dengan Paman/Bibi. Dan seterusnya. Dan hubungan horisontal ini lah yang teramat-sangat-sering disepelekan, atau bahkan dilupakan oleh sesama kita.

 

Hanya karena mengejar Lebaran “yang sebenarnya”, kita lantas lupa akan hak orang lain untuk mempercayai kenyakinan nya sendiri atas Lebaran yang berbeda. Hanya karena mengejar ingin berbuka puasa TEPAT pada waktunya (+/- pk 18), kita lantas nggak peduli dengan hak para pemakai jalan lain; kita main serobot sana, seruduk sini, bodo amat – yg penting gue bisa buka puasa on time. Klakson yg kencang! Rem mendadak. Injak gas dalam2. Sumpahin pengendara lain yg kelewat santai, apalagi mereka yang gugup. Jalanan itu berlaku hukum rimba; siapa yg kuat & berani, dia yg menang.

 

Hanya karena ribut ingin dapat "Lailatul Qadr (= malam saat ibadah kita bernilai sama dg ibadah selama 1.000 bulan non-stop)", kita lantas hanya mengutamakan ibadah pada hari2 yang diduga bertetapan dengan saat jatuhnya Malam 1.000 Bulan tersebut. Hanya karena ingin meminimalisir godaan perut yang lapar, kita lantas merazia dan memaksa tutup semua restoran & cafe selama bulan puasa; tanpa memikirkan nasib para pegawai restoran & keluarganya yang tetap butuh uang untuk makan maupun untuk berpuasa.

 

Hanya agar memperoleh pahala berlipat ganda selama bulan puasa, kita lantas royal menggelar recehan bagi para pengemis dadakan yang secara khusus dan profesional "beralih tugas" menjadi pengemis selama bulan puasa. Tapi kita lupa bahwa zakat fitrah pun apalagi zakat maal kita akan lebih bernilai dan jelas dapat lebih berguna bagi pengentasan kemiskinan secara realistis dan permanen. Orang bilang; berikan kail, bukan ikan. Kail memang mahal, tapi hanya dapat terbayarkan dengan zakat, dan bukan recehan di lampu merah atau di masjid2 selepas shalat Jum'at.

 

Hanya demi mengejar ganjaran surga bagi diri kita sendiri, kita lantas rela menginjak2 orang lain; tanpa pernah sedetik pun peduli..

 

Homo homini lupus

manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

Menyedihkan.

 

Islam itu rahmatan lil'alamiin.. rakhmat bagi alam semesta. Mengapa hanya karena beda Lebaran saja orang bisa saling bermusuhan & tetangga bisa saling tak bertegur sapa? Masih banyak masalah lain yang senyatanya jauh lebih penting untuk diperhatikan; misal pemberantasan korupsi, pemerataan pendidikan & kesempatannya, pengentasan kemiskinan, atau bahkan soal pembuangan sampah jakarta atau kemacetan lalu lintas yang semakin parah. Ingin berpartisipasi lebih aktif? You can start by behaving yourself in driving your way in Jakarta traffic. Be responsible, obey the regulation, respect the police and road signs; because you want to. Not because you don’t wanna be fined by the Police.

 

Quoting that popular book by Carlson, just dont sweat the small stuff in practising your religion, ‘coz Islam is about blessing to the universe and beyond, not just for some specific religious clerks (baca: ulama atau kyai haji segala macam) or even to certain powerful organizations; claiming them to be the very best and purest, and the one & only God will give His bless upon.

 

They are, and the nation in majority later on forming such a hypocrit society, a symbolic-obsessed nation (to read my related article about it, click here). Pity, and shame on them.

 

Taqabalaallahu minna wa minkum.

Semoga 4JJI SwT menerima semua amal & ibadah kita.

 

Dan akhirnya, selamat hari Lebaran 1427 H/ 2006 bagi yang merayakan! Selamat menikmati liburan panjang atau bahkan ekstasi jalan2 ke luar negeri bagi semua. Selamat menikmati (dan menghabiskan) gaji ke-13 yang berwujud THR(3) (grin). Dan terutama, selamat melakukan pembersihan tahunan harta Anda dengan cara membayar zakat maal/ pajak atas harta! Keluarkanlah apa yang menjadi hak orang lain dan kaum fakir, yg mungkin sekali terselip di antara harta Anda.

 

Selamat menikmati 2 (dua) kali shalat Ied, 2 (dua) kali silaturahmi, 2 (dua) kali makan ketupat, dsb! Lebaran kali ini sangat menarik bukan? Inilah pertama kali nya keluarga ku mengalami Lebaran yang berbeda di antara anggota keluargany sendiri; apalagi di kalangan teman2 keluarga; lebih banyak lagi (smiling).

 

Dan apakah dengan merayakan Lebaran yang berbeda itu hubungan silaturahmi/ kenal-mengenal & kasih sayang lantas terputus? Tentu tidak. Seharusnya sih, tidak. Insya 4JJI.

 

 

Jakarta 14130 Cilincing

Selasa, 24 Oktober 2006 – 03.39 AM

 

 

Notes:

 

 (1) Multiplier Effects

In economics, a multiplier effect – or more completely, the spending/ income multiplier effect – occurs when a change in spending causes a disproportionate change in aggregate demand. It is particularly associated with Keynesian economics; some other schools of economic thought reject or downplay the importance of multiplier effects particularly in the long run.

 

The local multiplier effect specifically refers to the effect that spending has when it is circulated through a local economy. For example, when the building of a sports stadium is proposed, one of the suggested benefits is that it will raise income in the area by more than the amount spent on the project.

 

In schematic approach, here it is:

spending increase --> buss revenues increas -->

income & employment increasing --> consumer spending increas induced (also giving feedback to the buss revenues).