Don’t Sweat the Small Stuff ...on Ied al-Fithr!
oleh: terbanglah lebih tinggi
Pendahuluan:
Artikel berikut disarikan dari berbagai pengalaman, evaluasi, dan prinsip2 pribadi ku. Yang meliputi obrolan, diskusi, dan debat yang aku alami selama beberapa hari terakhir menjelang Lebaran; yang dilakukan dengan beberapa rekan, sahabat, keluarga, some strangers, etc. Be it face to face, by email, by phone, by sms, by ym, or through the blogging world.
Photo courtesy of TLT. Oct 13, 2006.
Grand Mahakam hotel, Mahakam Blok M, Jakarta
Hi there! Just arrived at home neh – after having had our dinner outside, with my dad and my younger brother. Ohiya, adik ku itu udah 7 (tujuh) bulan terakhir ini kerja di Surabaya, dan jarang banget pulang ke Jakarta; tiket mahal, euy..hehe.. Dia baru aja datang Minggu subuh tadi, dan datang2 langsung minta ditraktir makan malam di Hanamasa (all you can eat Japanese restaurant). Dasar gembul! Makanya mumpung ada dia, bela2-in makan di luar deh, siapa tahu hari Minggu ini jadi puasa terakhir tahun ini.
Soal hari terakhir puasa adalah hari Minggu.. buat sebagian orang jawabannya adalah “ya”. Hal ini terutama berlaku bagi grup Muhammadiyah, dengan mayoritas pengikut yang tersebar di Jawa Tengah & sebagian Jawa Barat, Sumatera Barat (Padang), dsb. Tapi buat mayoritas lain yang mengikuti keputusan Pemerintah (plus grup NU-nya Gus Dur), besok Senin masih puasa. Dan baru akan merayakan lebaran hari Selasa. Lumayan, masih ada waktu sehari lagi buat nambah2 pahala maupun buat bersih2 rumah, hehe..
Secara sederhana perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan metode penentuan hari Lebaran yang digunakan. Muhammadiyah yang terpelajar dan progresif (tokoh penting: Amien Rais, ex Ketua Parlemen) cenderung untuk mempergunakan perhitungan matematis dan astronomi yang rumit untuk menentukan letak perbintangan, bulan, dan matahari. Yang nantinya akan memberikan jawaban definitif soal kapan Lebaran harus dirayakan.
Sementara NU atau Nadhalatul Ulama yang konservatif dan tradisional (tokoh penting: Gus Dur, ex Presiden RI) cenderung lebih mempercayakan pada pengamatan benda2 langit secara visual. Yang mendasarkan pada pergerakan bumi, bulan, dan matahari. Apakah bulan baru (baca: bulan sabit) telah dapat dilihat mata telanjang menggantung rendah di ufuk barat, saat matahari terbenam? Bila ya, Lebaran dipastikan telah tiba. Bila bulan baru tak dapat terlihat, pun bila hanya sekedar tertutup awan belaka, maka Lebaran belum tiba.
Penting diingat, ke-2 metode tsb adalah benar secara hukum Islam.
Lantas, bila keduanya benar, mengapa hasilnya bisa berbeda? Jelas aja hasilnya akan berbeda, karena metode perhitungan yang digunakan pun berbeda. Karenanya, jangan dibandingkan lah, karena (kalo bahasa Jawa nya) tidak "apple-to-apple comparison". Sampe kiamat juga ndak bakalan ketemu. Ibarat kata seperti membandingkan buah pepaya dengan buah mangga. Lantas apel nya kemana? Silahkan beli dulu ke pasar! Atau cari selundupan buah impor dari pelabuhan Tanjung Priok, ahaha..
Seperti biasa, keluarga ku lebih memilih untuk ikut pemerintah saja (walau secara metode & nalar, aku pribadi lebih tertarik dengan cara yang dipergunakan Muhammadiyah). Ini karena keluarga besar Ibu ku sejak turun temurun merupakan penggiat Nadhalatul Ulama alias NU, sementara keluarga besar ayah ku asli Surabaya yang telah terbiasa dengan segala budaya animisme NU. Selain itu (dan terutama), juga karena kami tidak cukup berpengetahuan akan hal menentukan hari Lebaran ini; jadi kami mempercayakannya pada mereka yang berpengetahuan, dan berwenang - dlm hal ini: Pemerintah.
Lagipula, di Jakarta mayoritas orang memang ikut Pemerintah. Walau aku pikir semata-mata ini hanya soal pilihan praktis belaka, berkaitan dengan pengaruhnya terhadap pelaksanaan shalat Ied. Karena mayoritas penduduk Jakarta berlebaran belakangan (baca: mengikuti Pemerintah), artinya kebanyakan shalat Ied baru akan dilaksanakan pada hari Selasa. Dengan kata lain, mereka2 yang ikut Lebaran hari Senin, dipastikan bakal sedikit kelimpungan buat mencari tempat akan mengadakan ngadain shalat Ied. Ribet ya?
Ohya, buat yang belum tahu, yang membedakan pelaksanaan shalat Ied ini dengan metode shalat/ sembahyang lainnya yang dilakukan kaum Muslim adalah karena adanya keharusan untuk melaksanakannya secara bersama2 (baca: berjama’ah); dan harus di masjid besar, atau di tengah2 lapangan besar. Di satu sisi hal ini menambah daya tarik dan gairah yang terpancar dari nya, tapi di sisi lain akan sangat menyulitkan mereka2 yang cenderung akan memilih saat pelaksanaan shalat Ied yang berbeda dari mayoritas kaum yang berada di sekeliling mereka. Bila sekeliling mereka memilih waktu Lebaran yang berbeda, bisa2 sisa sebagian lainnya lagi akan shalat Ied sendirian; yang tentu saja tidak mungkin. Ribet kan?
Jangankan teman2 yang beragama lain/ non-muslim; sering aku heran sendiri, masalah nggak penting begitu kok yaa dibuat ribet. Agama itu kan soal "faith" dan “believe”. Biarkan sajalah, apakah seseorang mau ikut Lebaran yang mana; Senin atau Selasa. Biar menjadi tanggung jawab masing2 di hadapan Tuhan nya.
Life is merely a choice; take your chances, and committed to it!
Yang penting Pemerintah jangan ikut bikin bingung orang kecil & mayoritas rakyat yang nggak paham soal2 beginian. Atau malah bikin keruh suasana..
Lagipula, bukankah konstitusi kita yang mulia menjamin kebebasan beragama penduduknya, dan kebebasan untuk menjalankannya sesuai dengan syariat dan kepercayaannya masing? Jangan hanya karena mengejar sebentuk harmonisasi yang ternyata dipaksakan, rakyat di bawah yang menjadi korbannya; gontok2an nggak jelas demi sesuatu yang nggak penting.
Berita di televisi Senin malam menyebutkan ada satu daerah di bilangan Jawa Tengah yang Pemerintah lokal nya melarang rakyat menggunakan lapangan alun2 sebagai pelaksanaan shalat Ied hari Senin (yang notabene berbeda dengan kehendak Pemerintah Pusat maupun Pemerintah lokal yang bersangkutan). Ini maksudnya apa? Sekalian saja bilang bahwa dilarang ber-Lebaran hari Senin. Ternyata massa tetap membandel, dan mereka pun memaksakan agar alun2 setempat digunakan. Pelaksanaan shalat Ied tersebut lantas dikawal sejumlah polisi, yang gue duga sebagai bentuk intimidasi atas mereka yang memilih berbeda dan menolak tunduk.
Berita selanjutnya malah lebih aneh lagi; di Sumatera Barat, mayoritas penduduknya merayakan Lebaran hari Senin – termasuk sang Gubernur. Pembangkangan terang2-an kepada Pemerintah Pusat? Atau hanya lah sebentuk ekspresi kebebasan untuk menjalankan syariat agama sesuai dengan kenyakinan yang dianut? Inipun satu bentuk intimidasi pada mereka yang berbeda. Dan jangan lupa, Sumatera Barat adalah satu2nya daerah di Indonesia yang mewajibkan semua (baca: SEMUA) siswa/pelajar putri untuk mengenakan jilbab; tanpa kecuali. Cukup sekian dengan yang katanya kebebasan menjalankan agama yang diatur dalam UUD 1945.
Kalau memang memiliki political will; sebaiknya Pemerintah, ulama, maupun pihak yang berwenang lainnya membuat penjelasan soal kenapa bisa ada perbedaan seperti itu. Jelaskan perbedaan masing2 metode yang digunakan; baik secara teknis maupun secara sederhana. Apa keuntungan dan kelebihannya; lantas biarkan rakyat bebas memilih berdasarkan kenyakinan nya masing2. Sudah waktunya negara ini menganggap rakyatnya sebagai manusia2 cerdas yang mempunyai pilihan bebas, dan bukannya segerombolan robot yang harus diatur supaya seragam atas nama harmonisasi.
Perbedaan adalah rahmat, dan bukannya aib. Perbedaan, sepanjang tidak dipaksakan maupun dipertentangkan, seharusnya dapat memperkaya khazanah dan wawasan pribadi maupun kita bersama. Perbedaan, yang didialogkan dengan kepala dingin dan bernalar, seharusnyalah dapat membawa pada pengertian yang lebih dalam; baik itu pengertian atas diri/pilihan kita sendiri, maupun atas diri/pilihan orang lain.
Masih banyak hal2 lebih penting lainnya daripada sekedar meributkan beda hari Lebaran; misal apakah mereka2 yg sok2an ribut tentang penentuan hari Lebaran itu sudah membayar zakat? I STRONGLY doubt it. Jangankan zakat maal (pajak atas harta kekayaan), sekedar zakat fitrah (pajak atas Lebaran) aja masih banyak yang mangkir.
Nggak percaya? Gunakan logika sederhana saja. Saat ini ada hampir 200 juta penduduk muslim Indonesia, taruhlah 20% saja sanggup menyisihkan penghasilan bersihnya untuk membayar zakat maal (misalkan penghasilan kena zakatnya setelah dikurangi pajak negara & pengeluaran rutin ybs adalah sebesar IDR 1 juta/ bulan). Dikali 2.5% (dasar perhitungan zakat), dikalikan dengan penghasilan masing2 selama setahun. Sudah berapa besarnya dana yg terkumpul?
Contoh:
Penduduk muslim = 200,000,000 orang
20% mampu = 40,000,000 orang
à termasuk pegawai negeri sipil berjumlah 4 juta orang, anggota TNI & Polri yg berjumlah 0.5 juta orang, dan pegawai BUMN yg jumlahnya tdk diketahui, tapi pasti lebih banyak drpd jumlah pegawai negeri sipil + militer
Dasar perhitungan zakat = 2.5% setahun dari penghasilan kena zakat
Penghasilan kena zakat = IDR 1,000,000/ bulan/ orang
Potensi zakat SETAHUN = IDR 1 juta x 40 juta org x 12 bulan x 2.5%
= IDR 12 trilliun/ tahun..!!
Seharusnya, tiap tahun dapat terkumpul dana segar; cash, bebas hutang, dan bebas pajak sebesar +/- IDR 12 trilliun. Dikumpulkan dalam 1 (satu) masa pemerintahan selama 5 (lima) tahun, sudah dapat diperoleh IDR 60 trilliun; cukup untuk digunakan negara & bangsa untuk menebus BLBI Bank BCA yg macet sejumlah yg sama. Atau bisa juga untuk membayar utang2 kita kepada IMF, Bank Dunia, ADB, dsb. Atau disuntikkan kembali untuk membiayai beragam proyek infrastruktur yang strategis; seperti pembangunan kilang minyak untuk dapat memproduksi kebutuhan bensin+BBM sendiri, peningkatan jaringan jalan & transportasi darat, laut, serta udara, maupun untuk memperbaiki fasilitas pendidikan, kesehatan, kesejahteraan & fasilitas umum, dsb.
Dengan demikian, uang tersebut akan dapat menggerakan roda perekonomian bangsa (government spending), dan mempercepat akselerasi pertumbuhan ekonomi; dengan cara meningkatkan multiplier effect (1). Jelas jauh lebih baik daripada berbangga2 dengan headline besar2 di koran2 nasional, bahwa negara ini ternyata masih “dipercaya” untuk dapat memperoleh pinjaman baru. Mengutip secara bebas ungkapan yg sering digunakan di suatu acara TV,
“..bangsa yg aneh; bisa ngutang kok malah bangga..”
Untuk para koruptor, harap diingat bahwa pembayaran zakat bukanlah metode money laundering di hadapan bangsa, apalagi Tuhan. Jangan sangka bila Anda telah membayar zakat, maka Anda2 akan terbebas dari semua kesalahan Anda di dunia maupun di akhirat. Karena bila zakat bermaksud untuk memberikan hak sosial atas harta tsb kepada masyarakat, lantas bagaimana mungkin harta tsb diperoleh dengan cara merebut hak sosial masyarakat itu sendiri (baca: korupsi)?
Kembali ke soal perbedaan hari Lebaran tadi, gampangnya, agama itu kan soal "faith" dan juga “believe”. Then just do what you believe in, be responsible and let the rest be with God. Takut dosa karena ada aturan soal haram berpuasa di hari Lebaran? Yaaa.., itu kan tergantung elo percaya Lebaran tuh hari apa.. Kalo lo udah yakin Senin pasti Lebaran, kemudian hari Selasa lo masih juga puasa; jelas akan masuk hitungan dosa. Tapi kalo lo yakin Lebaran baru jatuh besoknya pas hari Selasa, then so what?
Kalaupun ternyata kenyakinan kita itu salah, ternyata Lebaran jatuh hari Senin, sedangkan hari Senin itu kita masih berpuasa dan lantas jadi berdosa, ya ampunn.. then just take the responsibility. Take the sin! Coz we’re a bunch of mature and responsible person, no? Karena walaupun mungkin kita berdosa karena pilihan itu, berapa besar sih dosanya, bila dibandingkan dengan korupsi mencuri uang negara? Atau memfitnah/ ngegosipin orang? Atau menyakiti hati tetangga & rekan? Atau merasa diri sendiri sebagai yang paling benar, dan lantas menafikan pendapat mereka yang berbeda? Atau bahkan mengancam dan mengintimidasi mereka2 yang berbeda itu?
Memang masyarakat kita terkenal sebagai sangat-sangat superfisial & artifisial; Cuma bisa ribut masalah simbol, ie jilbab, jenggot, cara berpakaian wanita atau jam berapa wanita tsb pulang ke rumah (referring to RUU APP(2)), sibuk merazia restoran yang tetap buka saat bulan puasa (tuduhannya tidak menghormati orang puasa), atau keikutsertaan seseorang saat shalat tarawih atau shalat malam hari/ pk 19, setelah jam berbuka puasa (semata demi pengakuan sosial bahwa ybs tergolong manusia “alim”); tapi semua lupa pada esensi apa ibadah itu sebenarnya.
Banyak orang lupa, bahwa yang namanya beragama dan beribadah itu bukanlah sekedar urusan vertikal antara hamba dengan Tuhan nya, melainkan juga antara sesama manusia. Antara kita dengan tetangga. Pegawai dengan Bos. Atasan dengan bawahan. Sesama kolega maupun rekan satu gank. Anak dengan orang tua. Kemenakan dengan Paman/Bibi. Dan seterusnya. Dan hubungan horisontal ini lah yang teramat-sangat-sering disepelekan, atau bahkan dilupakan oleh sesama kita.
Hanya karena mengejar Lebaran “yang sebenarnya”, kita lantas lupa akan hak orang lain untuk mempercayai kenyakinan nya sendiri atas Lebaran yang berbeda. Hanya karena mengejar ingin berbuka puasa TEPAT pada waktunya (+/- pk 18), kita lantas nggak peduli dengan hak para pemakai jalan lain; kita main serobot sana, seruduk sini, bodo amat – yg penting gue bisa buka puasa on time. Klakson yg kencang! Rem mendadak. Injak gas dalam2. Sumpahin pengendara lain yg kelewat santai, apalagi mereka yang gugup. Jalanan itu berlaku hukum rimba; siapa yg kuat & berani, dia yg menang.
Hanya karena ribut ingin dapat "Lailatul Qadr (= malam saat ibadah kita bernilai sama dg ibadah selama 1.000 bulan non-stop)", kita lantas hanya mengutamakan ibadah pada hari2 yang diduga bertetapan dengan saat jatuhnya Malam 1.000 Bulan tersebut. Hanya karena ingin meminimalisir godaan perut yang lapar, kita lantas merazia dan memaksa tutup semua restoran & cafe selama bulan puasa; tanpa memikirkan nasib para pegawai restoran & keluarganya yang tetap butuh uang untuk makan maupun untuk berpuasa.
Hanya agar memperoleh pahala berlipat ganda selama bulan puasa, kita lantas royal menggelar recehan bagi para pengemis dadakan yang secara khusus dan profesional "beralih tugas" menjadi pengemis selama bulan puasa. Tapi kita lupa bahwa zakat fitrah pun apalagi zakat maal kita akan lebih bernilai dan jelas dapat lebih berguna bagi pengentasan kemiskinan secara realistis dan permanen. Orang bilang; berikan kail, bukan ikan. Kail memang mahal, tapi hanya dapat terbayarkan dengan zakat, dan bukan recehan di lampu merah atau di masjid2 selepas shalat Jum'at.
Hanya demi mengejar ganjaran surga bagi diri kita sendiri, kita lantas rela menginjak2 orang lain; tanpa pernah sedetik pun peduli..
Homo homini lupus –
manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
Menyedihkan.
Islam itu rahmatan lil'alamiin.. rakhmat bagi alam semesta. Mengapa hanya karena beda Lebaran saja orang bisa saling bermusuhan & tetangga bisa saling tak bertegur sapa? Masih banyak masalah lain yang senyatanya jauh lebih penting untuk diperhatikan; misal pemberantasan korupsi, pemerataan pendidikan & kesempatannya, pengentasan kemiskinan, atau bahkan soal pembuangan sampah jakarta atau kemacetan lalu lintas yang semakin parah. Ingin berpartisipasi lebih aktif? You can start by behaving yourself in driving your way in Jakarta traffic. Be responsible, obey the regulation, respect the police and road signs; because you want to. Not because you don’t wanna be fined by the Police.
Quoting that popular book by Carlson, just dont sweat the small stuff in practising your religion, ‘coz Islam is about blessing to the universe and beyond, not just for some specific religious clerks (baca: ulama atau kyai haji segala macam) or even to certain powerful organizations; claiming them to be the very best and purest, and the one & only God will give His bless upon.
They are, and the nation in majority later on forming such a hypocrit society, a symbolic-obsessed nation (to read my related article about it, click here). Pity, and shame on them.
Taqabalaallahu minna wa minkum.
Semoga 4JJI SwT menerima semua amal & ibadah kita.
Dan akhirnya, selamat hari Lebaran 1427 H/ 2006 bagi yang merayakan! Selamat menikmati liburan panjang atau bahkan ekstasi jalan2 ke luar negeri bagi semua. Selamat menikmati (dan menghabiskan) gaji ke-13 yang berwujud THR(3) (grin). Dan terutama, selamat melakukan pembersihan tahunan harta Anda dengan cara membayar zakat maal/ pajak atas harta! Keluarkanlah apa yang menjadi hak orang lain dan kaum fakir, yg mungkin sekali terselip di antara harta Anda.
Selamat menikmati 2 (dua) kali shalat Ied, 2 (dua) kali silaturahmi, 2 (dua) kali makan ketupat, dsb! Lebaran kali ini sangat menarik bukan? Inilah pertama kali nya keluarga ku mengalami Lebaran yang berbeda di antara anggota keluargany sendiri; apalagi di kalangan teman2 keluarga; lebih banyak lagi (smiling).
Dan apakah dengan merayakan Lebaran yang berbeda itu hubungan silaturahmi/ kenal-mengenal & kasih sayang lantas terputus? Tentu tidak. Seharusnya sih, tidak. Insya 4JJI.
Jakarta 14130 Cilincing
Selasa, 24 Oktober 2006 – 03.39 AM
Notes:
(1) Multiplier Effects
In economics, a multiplier effect – or more completely, the spending/ income multiplier effect – occurs when a change in spending causes a disproportionate change in aggregate demand. It is particularly associated with Keynesian economics; some other schools of economic thought reject or downplay the importance of multiplier effects particularly in the long run.
The local multiplier effect specifically refers to the effect that spending has when it is circulated through a local economy. For example, when the building of a sports stadium is proposed, one of the suggested benefits is that it will raise income in the area by more than the amount spent on the project.
In schematic approach, here it is:
spending increase --> buss revenues increas -->
income & employment increasing --> consumer spending increas induced (also giving feedback to the buss revenues).