Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: family

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag family
Photo AlbumHome is where the Heart is.. (7 photos)Jun 17, '08 5:10 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


Where do you live? Said the girl, said the girl
I live near the sea, in the very heart of the old town

Who do you love? Asked the girl, asked the girl
I love her who's stolen my heart, wake me up from the dead.

To the place where you shall keep on searching, keep on moving
Come here my love, that we should be together, shall be forever

Because they when brought to bow, that Homme is at his weakest
Because you then ought to know, that Home is where the Heart is..


(c) TLT, all rights reserved
dedicated to my princess, my precious,
the best thing that ever happened in my life

Photos courtesy of TLT, taken on Urban Kitchen, Pacific Place, Jun 02, 2008
Poem made whilst being frantically prepared for an immediate assignment to the field,
Tuesday, Jun 17, 2008 -- 16.21 wib


Photo AlbumKucing Nggak Jelas (5 photos)Apr 17, '08 12:14 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


Beneran, ini kucing nggak jelas yang belakangan menjadi salah satu anggota tetap keluarga kami. Makin ke sini rupanya makin kerasan dia, dan malah menjadikan rumah kami seolah menjadi miliknya sendiri. Ditandai dengan penjelajahan dan (kemudian) penjajahannya ke tiap sudut; terutama bilamana kami sedang berbaik hati mengizinkannya masuk ke dalam rumah. Dan itu cukup jarang.

Barusan bokap bikin pengakuan dosa; aslinya tuh kucing ditemukan lagi luntang-lantung di halte bis persis depan rumah kami. Bengong2 sendirian mengharap ditemani, hehe. Padahal tuh halte aja sekarang udah almarhum, gara2 digusur demi persiapan pembangunan jalan layang tol. Proyek yang pada akhirnya akan menggusur rumah kami juga, hiks.

Masih untung si belang (demikian bokap ngasih nama untuk ybs dengan gaya otoriter, hehe) tuh rada cakepan, dan senyumannya kaya'nya mayan manis. Eh, tapi emang kucing bisa senyum yah? Kalo anjing sih emang doyan nyengir, lha kucing? Udah syukur kalo mau datang tiap kali dipanggil. Yang ada malah suka sok cuek kaya nggak kenal dan nggak butuh. Huh! Gue tabok juga 'lo.. :p

Sayang bulu nya yang seputih salju bikin segala usaha manikur-pedikur yang kami lakukan untuknya seolah percuma. Kecuali, ya tentu saja, hanya membuat kucing jelek ini bertambah manja, ahaha.. Udah mana berisik banget ngeong2 kalo lagi dimandi'in. Padahal lagi, sebenernya gue lebih nge-fans sama kucing garong yang berbodi sterk dan bersuara bariton. Plus bisa disuruh ngejar2 tikus2 nakal. Atau mendingan punya anjing aja sekalian; biar senang ada yang menyambut saban kali sampe rumah dalam keadaan bete dan capek.

Tapi begitu mobil baru gue nyampe rumah; semua langsung pada ribut supaya tuh kucing dibuang aja. Sebabnya simple; dia hobi banget lulumpatan ke atap mobil. Maksudnya sebagai jalan pintas masuk rumah. Tapi kan takut jadi ngebaret, euyy.. Dan ya, beberapa percobaan pembuangan ternyata telah pernah dilakukan, walau hanya ke sekitar komplek. Dan kucing nggak jelas ini termyata punya konsep rumah yang jelas; alhasil dia selalu bisa kembali ke rumah kami.

Begitu rencana pembuangan menjadi lebih serius, gue malah ngebujuk orang2 rumah biar berlapang dada. Anggap aja sebagai resiko karena kami telah (telanjur) menyukai kehadiran dan kehangatan yang dibawanya. Dan, karena si Belang, tanpa dinyana, telah sanggup mengambil alih peran anjing2 kami sebelumnya; menyambut kami dengan senyum menyebalkan nya setiap saat kami sampai di rumah. Bilang aja mau nyamar jadi anjing, biar nggak dibuang; dasar kucing nggak jelas! Hawhahahwa..

Ohiya, tuh kucing sekarang jadi gendut! Makan 'mulu kagak mau pergi dari rumah. Yang tadinya badannya kurus kering kaya kurang makan, sekarang udah lumayan hampir segede kucing garong.

If only she could bark.. everything would be perfect!
*grin


Blog EntryDokter Bukan TuhanFeb 27, '08 11:25 PM
for everyone


Hei mas dan mbak, seperti yang tadi aku bilang di telepon, sepertinya si Prof Dr sialan itu udah melakukan malpraktek deh. Bukan jaminan lho, kalau udah jadi guru besar di FKUI sekalipun dia nggak akan mungkin melakukan malpraktek.

Dokter itu bukan Tuhan! Apalagi kalau cuma bisa berlindung dibalik nama baik sebagai seorang guru besar dari, arguably, kampus terbaik negeri ini. Lha, giliran didatangi lagi buat minta pertanggungjawaban, kok bisanya cuma cuci tangan nggak mau ngerawat yang bener sambil beralasan sibuk dengan pasien lain.

Soal “kehebatan” guru besar, jangan lupa, waktu zaman Paman Gober dulu kan, guru besar itu (hanya dianugerahkan kepada) mereka yang loyal pada sang Paman. Jadi bukan karena keilmuan apalagi kompetensi (walau tentunya tidak semua seperti ini).
 

Malpraktek

Biar lebih jelas, barusan dapat beberapa artikel ini tentang malpraktek:

  1. Detik News, klik di sini
  2. Tempo Interaktif, klik di sini
  3. atau coba search aja di google

 

Stevens-Johnson syndrome

Si guru besar bilang kalau mas kena Stevens-Johnson syndrome yah? Aku baru dengar tuh, tapi barusan aku coba cari2, ini dapat beberapa artikel terkait:

  1. Dari Wikipedia
  2. atau kasus Hanif di Bandung

Aku belum sempat baca semua sih, lagi sibuk nyiapin bahan2 buat rapat besok pagi di luar kota, mbak. Tapi intinya, saat terjadi sesuatu yang nggak diharapkan, misal (yang di Detik News di atas) badan jadi biru2 kaya' yang dialami Mas; harusnya --minimal-- kita bisa complaint ke dokter ybs. Apalagi bila ternyata sedari awal tuh dokter nggak memperingatkan soal kemungkinan kulit bakal jadi biru2 gitu atau bahkan mengkonfirmasi kemungkinan "alergi obat".

 
Lebih jauh tentang malpraktek

(1) Konfirmasi alergi

Harusnya sih, sebelum ngasih obat apapun, dokternya musti nanya dulu, kita punya alergi obat apa nggak. Dan pastinya dia harus tanggung jawab dong, atas hasil pengobatan itu. Minimal ngasih tahu yang jelas kenapa jadi bereaksi seperti itu. Pasien itu bukan kambing, kita berhak tahu. Lha kita yang ngasih makan dokter kok.

(2) Antisipasi reaksi

Atau, dalam kasus Mas yang jadi ngebolos 3 (tiga) hari, dokter itu harus ngasih surat bed rest sebagai salah satu langkah pengobatan yang dibutuhkan. Kalau dia nggak ngasih surat bed rest itu (pas waktu ngasih obat dulu), artinya bahkan dia sendiri nggak paham bakal ada reaksi seperti yang dialamin Mas. Ini satu poin lagi yang krusial sebagai bukti terjadinya malpraktek.


Menurut ku sih dari dua poin ini udah cukup buat menuduh adanya kemungkinan malpraktek, mbak. Atau coba konfirmasi aja dulu ke YLKI. No telp nya nggak punya, tapi coba tanya ke "108"

Jangan lupa buat datang lagi ke dokternya, tapi bukan untuk berobat; cuma untuk menyampaikan 2 (dua) poin di atas itu sambil bilang bahwa sebagai pasien, kita akan minta 2nd opinion ke dokter lain (jangan lupa saat ketemu dengan dokter ke-2, kasih ybs semua copy resep dsb dari dokter pertama). Dan bilang juga ke dokter pertama ini bahwa kita udah nggak percaya lagi sama dia, dan bakal nulis soal masalah ini di Tempo, Kompas dan ke YLKI. Meanwhile, buruan ke dokter lain! Jangan ditunda!



Jakarta, Thu, Feb 28, 2008 - 9:53 AM
Pusing menjelang rapat dg BPMIGAS besok di luar
kota
Mau nengokin, tapi bingung ngatur waktunya ..


PS:
  1. "mas" = kakak ipar gue yang lagi sakit, sekujur tubuhnya melepuh dan penuh dengan benjolan kemerahan, seperti bisul, dengan berbagai ukuran. Sudah terjadi selama 3 (tiga) hari, setelah berobat ke seorang Prof Dok spesialis demi mengobati daya serap usus nya.
  2. Kunjungan ke-2 (setelah gejala di atas) telah dilakukan ke dokter tsb, yang hanya dilayani selama 3 (tiga) menit secara sambil lalu sembari menyebutkan soal Stevens-Johnson syndrome, dan bahwa tidak ada yang perlu dilakukan.
  3. Atas nama kerahasiaan pasien, foto2 sengaja tidak dimuat di sini, tetapi tersedia untuk analisis medis dengan permintaan.

ddd
dThumbnaild
ddd

..dan mereka memaksa ku mengibarkan bendera setengah tiang.. Untuk menghormati pahlawan yang telah seda, mereka bilang. Pahlawan? Pahlawan apa? Pahlawan yang dulu pernah dimaki2 bersama di jalanan umum, ugh, ralat; di depan todongan bedil prajurit yang makan dari pajak yang kami bayar? Yang membuat sekumpulan anak muda harapan bangsa serta merta melemparkan buku2 mereka dan menyingsingkan lengan jaket beraneka warna, pun lantas mengacungkan tinju ke langit dengan mata basah karena kemarahan dan duka cita? Dengan mata yang basah bukan karena takut, bukan karena taqlid (kepatuhan buta), bukan karena apolistis dan ahistoris seperti kebanyakan kita saat ini, tetapi karena kerinduan akan kebebasan? Akan sebuah Indonesia yang lebih baik?

..dan mereka memaksa ku mengibarkan bendera setengah tiang.. Dengan perintah, walau lisan, disampaikan berjenjang, atau bahkan dimanfaatkan oleh Ketua RT yang korup dan gila kuasa. Dan ayah ku pun, mungkin orang pertama di dunia yang pada saat biasa sedapatnya akan menolak perintah itu, terpaksa tunduk dengan patuh. Dan menyampaikan dengan rendah hati bahwa kami tidak punya pilihan. Sesederhana kenyataan yang menghampiri, dan menampar aku dan adik ku dengan sakitnya kesadaran. Membuat kami terdiam dan menelan rasa jijik yang tertahan di tenggorokan nan kering. Aku akan bicara dengan Ketua RT sialan itu, akhirnya aku berkata. Siapa dia, memilih berinisiatif atas pengibaran sang saka, sementara berdiam diri atas penggusuran yang pasti terjadi?

..dan mereka memaksa ku mengibarkan bendera setengah tiang.. Demikian senyum sang surya, dan semilir angin fajar yang menghembus. Setelah semalaman yang bergelung dengan pikiran nan resah pun perasaan yang gundah. Biarlah, biar mereka tahu, aku kibarkan bendera setengah tiang hari ini. Dengan segudang keberatan, dan segenap sesal di dada, serta sejuta amuk berkecamuk di pikiran. Tapi biar mereka tahu, bendera yang sekarang berderai layu di pucuk tiang di depan rumah kami, di halaman negeri kami, bukan untuk dia yang dihujat dan dicinta, tapi semata demi rasa hormat pada sang ayah. Demi rasa cinta yang membuatku tak tahan menatap mata sedih nya yang tertunduk lesu, menyaksikan kemarahan ku dan adik ku. Melihat tanpa daya pada semangat yang muda, idealisme yang tak mati. Biar mereka tahu, sepucuk bendera dan sebentuk kebanggaan tak lekang atas rasa cinta pada nya.

..dan mereka memaksa ku mengibarkan bendera setengah tiang.. Semoga Allah SwT mengampuni semua dosa mu, duhai yang telah berpulang, dan menerima semua amal ibadah mu, dan melaksanakan pengadilan hari akhir atas semua perbuatan mu. Dan aku menahan sesak untuk 7 hari ke depan. Tanpa daya. Dengan bangga. Inna lillahi wa inna illaihi rajiun.


Jakarta, 05.53 am,
Hari Ke-1 dari 7 Hari,
Januari 2008


Post Script :

Is Indonesia getting any better after he's gone? My friends, it definetely would be depended on which paradigm you are using rite now.

a. are you valuing the democracy process and the good governance we're heading into, or
b. dunno. Just go with the flows, whatever the majority would say and do, I'd follow no matter what, or
c. are you satisfying yourself with the sweet dreams of the past and hates the idea to wake up and face the harsh realities we have to deal with rite now -- thanks to the old man regime?

You tell me! *grin


ReviewReviewReviewReviewReviewthe “unusual” children bookNov 9, '07 6:16 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Parenting & Families
Author:unknown -- anyone? anyone? Please..


Lately I got oh so many emails either sent directly or through various mailing lists intended to share and, sadly most of them, to condemn the book. I replied to every one of them for sure, that could be read as follow:

My personal opinion:

I do not think that there is no wrong in telling (and teaching) the truth to every one - including infants. In addition, I believe that was the true intention of the book writers and/or publisher.

In fact, it is better for the children to find it out from trusted sources like the book for instance, than from another irresponsible ones i.e. their peers, that might be misleading. Moreover, most of the time, when sh*t happens; the kids do not know whom should be contacted. On the other hand, in many other cases, if they would know, they just simply do not have the courage, the time, the willingness to tell and, in turns, to get the help they needed the most.

It is due to the nature of our society here in Indonesia we tend to judge this kind of knowledge as "bad", "totally wrong", "sinful", and therefore against God's will. That the kids like those are the ones who should be blamed for instead those "nice uncles", or even the careless parents. Pity.

That is just my two cents. Hope that one day Indonesians will be more open and could simply differentiate what is right and what is wrong. Insya 4JJI

What do YOU think yourself? Tell me why.






Jakarta 12870 Pancoran,
Thursday, Nov 8, 2007 - 13.02 wib


PS:
1. Maaf baru reply, habis rapat dg Kantor Pusat dan Ditjen Pajak dari tadi pagi. To all of you guys who shared me this; nice fwd, anyway. Thank you.
2. Foto lengkap dapat dilihat di sini



Start:     Sep 29, '07 5:00p
Location:     the Café, Mulia Hotel, Jakarta

Acara buka puasa bareng keluarga besar gue yang sangat ditunggu2; 29 atau 30 Sep ntar (tergantung kapan kakak ipar gue balik dari Balikpapan), tapi kemungkinan besar musti tgl 30 sih.

Believe it or not, mbak gue sampe bela2in beli gaun spesial buat acara itu. Hadohh, mbaakk..segitunya.. Gimana kalo anggaran buat gaun itu lo kasih aja ke gue, itung2 buat nambah2in? *grin

Undangan sekitar 25 orang kaya'nya. Bangkrut dah gue! Huehehhe..

Tapi biarlah, udah lama juga nggak kumpul2 bareng; biasanya paling2 cuma acara individualis antara gue dan beberapa sepupu, atau kunjungan ke ruma siapa, gitu. Itung2 pemanasan sebelum Lebaran, haiyyaa..


Updated 25-Sep-07
----------------------------
Ternyata acara berpindah nggak jadi di Le Grand Café nya Mahakam, tapi loncat agak jauh dikit ke Hotel Mulia.. hmmm.. malah upgrade tempat nih, dan..budget! Hehhe.. Oopss..! :p

Sebenernya sempat mempertimbangkan bbrp tempat menarik lainnya, macam Poke Sushi di Crowne Plaza (thanks to Cecille), Jitlada di Senayan City (usul nya Yenny tuh), Secret Recipe di Senayan City juga (ini idenya Vonny nih), atau di Spaggedies, Senayan City (masukan dari Rianty). Hmm..hmm.. Masing2 punya ide dan makanan favoritnya masing2, rupanya.. Senang juga dapat info2 menarik, walau jadi rada bingung juga, hehe..

Pertimbangan? Budget, lokasi, fasilitas, rasa & kualitas makanan, service, spasial ruang, unsur kenyamanan.. hmm apalagi yha?


 

 

From previous journal of a friend, I absorb her indirect respond to one of my old thoughts posted on this blog. Hers read like this, in Italics (hope I translated it right, dear):

 

.. There’s someone believed that fcuking before marriage is a sign that the man does not care about the woman. If we thought like this, then most of the “western” males are simply bast*rds and super a**holes who cannot respect women like those that they deserved. Ironically, on those western countries, doing abuse things, especially sexual abuse, is totally against the law. The abuser definitely would go to jail. There is probably such applicable law on the eastern countries; however, are they enforced properly? Well, who knows?

 

Well, that was a very good argumentation, dear; and totally agree with that. Only I did not refer and intend it to the whole world when I originally wrote that statement. Just a self proclaim and that is all; I will not do it because I respect the girl I am blessed to be romantically with. Alternatively, may we say this as a personal credo only.

 

However, psychologically supporting your argumentation above, human being tends to be seduced by everything's illegal or can hardly be accepted by the society as whole, or even by the applied law and regulations. Nevertheless, when they let it be free, soon it would lost its appeal.

 

Hard to be get, that would add the price of the returns. Or at least would maintain its diminishing rate of returns. Don’t you think so? (uh, I borrowed the line from an economic theory, hehe..)

 

Thus, whether we would like to have a virgin as our bride (or as our girl friends) or not, that will and shall depend on our personal wishes and needs, and sure, it would be one’s personal rights to do so. I am totally leaving that decision to everybody. Speaking of generalizations...

 

It is just that I think we (the male animals) should be fair and of course responsible in practicing that oath. If you want to have a virgin as your bride, than it would only be fair if you can protect your own virginity before marriage, and vice versa. On the other hand, if you want to have sex with your partner, than you should be responsible about the future of the two of you, and not neglecting her just like that. Esp. if they not careful enough and forgot to use protection. Frankly, that is what happened here - in Indonesia. Bear in mind that on the line above I said "to have sex", not "to make love" - I believe "to make love" could only be done after marriage.

 

Agreed, there are many ways to respect each other. If she could easily decide to have sex with another man instead, just because I refused her, than why should I defend that relationship anymore? By then, she simply cheated on me - never mind the reasons. Moreover, as long as I keep my loyalty, then it would only be fair if I expect her to do just the same; and of course vice versa. Fairness and loyalty...

 

I'd rather consider a relationship as a lifetime investment, and not feel to have it just because to have it, or just because others said so. I feel comfortable with my self and my world, and could define my own happiness; not as other people may see, nor no matter what they may say.

 

From legal perspective, please be reminded that there are several laws applied here (followed by diff marriage council, for instance; i.e. catatan sipil, pengadilan agama, and so on).

 

I am not really sure whether there are any applicable clause written on our KUHP or KUH Perdata stated that having sex before marriage is illegal (assuming that both parties agreed to do that and without forced acts). Nevertheless, I believe that, and no offense may I say, by ALL and any religious standard, such thing is, in fact, illegal. Hence, we are mature person in front of the law; so I do not want to judge anybody here. As I said, it was only a personal credo of mine. It could be yours, or it could be not; I do not have any problems with that. It is each person's own business... be it with their God or with themselves (or families, or friends, or society - mentioned the names, please).

 

In addition, be reminded, as I already said this repeatedly, and quoting my ex’s academicals research (a sociologist at Australian National Uni, Canberra, and now pursuing her PhD at Sorbonne, Paris) the worst punishment in Indonesia is not the one legally nor religiously examined, but it is social sanctions. Derived from social perceptions. And (almost) no one can hold themselves against that.

 

 

© terbanglah lebih tinggi

Sunday, September 09, 2007

Jakarta 14130 Cilincing

18.52 wib

 

 

PS:

§         Read previous related article:

o        Persepsi Sosial and

o        Never FCUK before Marriage

 

§         The article above was my respond to a friend’s journal: Bercinta

 

§         Photo taken from SMH, AU

 

 

 


ReviewReviewReviewReviewReviewTest PackAug 2, '07 5:34 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Ninit Yunita

Novel ini berkata; bahwa mungkin saja kita dapat jatuh cinta kepada seseorang hanya karena keadaan sesaat. Karena pada suatu saat tertentu dia itu baik, pintar, kaya, atau berbagai ragam karena2 yang lain. Kemudian, tantangan pun dilontarkan; pernahkah kau pikirkan, bagaimana bila dia dia mendadak menjadi jahat, tidak sepintar dahulu, atau bahkan jatuh miskin?

Akankah kau masih akan mencintai mereka?

Dalam kasus buku ini, setelah menikah selama 7 (tujuh) tahun, dan kau (maupun pasanganmu) masih tak dapat jua memperoleh anak yang diidamkan, karena infertilitas salah satu pihak; masihkah pihak, yang ternyata fertil & secara klinis sanggup “memproduksi” anak, menjadi pihak yang mempunyai hak untuk memutuskan tali cinta dan kasih sayang yang terentang, antara dua anak manusia? Hanya karena faktor ingin mempunyai anak yang didamba?

Akankah fungsi pasangan akan tereduksi dengan sangat, hingga hanya sekedar menjadi pejantan, atau induk untuk menyusui – seperti peternakan sapi? Ya, anak memang sumber cinta orang tua nya; tapi haruskah cinta tersebut lantas mengalahkan cinta pasangan, yang telah bersama dalam menjalani susah dan suka?

Di sini lah komitmen diperlukan – dalam mencinta. Untuk mencinta. Jangan pernah mencintai seseorang hanya karena berbagai atribut keduniawian yang melekat pada diri mereka. Hanya karena siapa atau apa atau kenapa atau bagaimana mereka adanya. Semua itu semu adanya. Dan yakinlah pada saat kau kehilangan beragam atribut itu, maka demikianlah nasib cintamu adanya.

Mencinta-lah seseorang, KARENA kau memang menginginkannya.

Because you want to.
To love unconditionally..

Orang akan berkata bahwa ‘unconditional love’ hanya terdapat dalam hubungan platonis antara orang tua dengan anak, sesama saudara, atau antara sahabat sehati. Di luar itu, dan terutama bila diterapkan pada hubungan romantis pria-wanita, adalah tidak mungkin, dan akan terasa sangat-sangat berat.

Berat memang; tapi bukan berarti nggak bisa, kan? For at least you can try; and if you shall vanish along the way, be sure that you do it unconditionally..

Life is merely a choice; take your chances, and be committed to it.

…Never feel when you have to think,
Never think when you have to feel…



Jakarta, Friday,
Jun 16, 2006, - 21:15 wib


PS:
This is especially dedicated for someone.
You know who you are,




EventDitha's akad nikah & wedding receptionJul 12, '07 7:05 AM
for everyone
Start:     Jul 15, '07 4:00p
Location:     Aneka Tambang building, Jl TB Simatupang, Jakarta
Yeah, musti datang kalo nggak mau dibunuh, heuhehe

Akad nikah dan pesta nya adek gue DiTha, huehehhe.. Musti datang nih, itung2 buat ngedukung hasil kerjanya si jelek tersayang Mariska. Diduga keras si Mariska ini yg bakal ngambek abis kalo sampe gue nggak datang, duduw.. :p Jadi kangen nih sama si jelek itu, heuhehe..

Blog EntryPeran PerempuanJun 14, '07 4:11 AM
for everyone

renungan Hari Kartini utk seorang sahabat,

artikel asli dikirimkan dalam bentuk email

(artikel terkait: Untuk Apa Hari Kartini Diperingati)

© terbanglah lebih tinggi

 

 

Ris,

Aku kok masih kepikiran aja ya, komentar dirimu pagi tadi; tentang kau yang nggak mau ikut rapat penting di gedung WTC Sudirman dengan Y dan E. Tapi kau elakkan tugas mengerikan itu dengan cara memberikan alasan bahwa,

 

"...aku kan perempuan; nggak perlu karir (tinggi);

nanti juga pensiun, harus urus anak, dapur,bla.bla.."

 

Terus terang, aku nggak setuju banget dengan komentar mu yang seperti itu. Apalagi karena aku tahu bahwa sebenarnya kau nggak mau bergabung semata hanya karena "males"J Jadi, ya sudahlah, nggak perlu kau gunakan alasan yang bombastis seperti itu.

 

Tapi di samping itu, aku merasa bahwa alasan itu sebenarnya malah terbalik; alias kau menggunakan alasan "males" itu cuma sekedar untuk menjadi pembenaran dan penggampangan diri – demi nggak usah ikut. Dan terbebas dari tekanan penjelasan yang dikritisi semua. Yah, daripada ngomong yang bombastis seperti pagi tadi, dan telah sukses membuat semua yang mendengar jadi mengerutkan kening, kan? Dan omongan seperti itu rasanya kurang cocok bila diterapkan ke sembarang orang, kau tahu itu.

 

Why I didn't agree?

 

Mengapa? Dan merujuk pada argumentasi mu sebelumnya, karena aku percaya bahwa (seharusnya) perempuan punya hak atas kesempatan yang sama dengan yang diperoleh pria.  Whilst life, is merely a choice anyway.

 

Ris,

Ini hanyalah masalah pilihan. Dan kau tahu tentunya setiap pilihan tersebut punya resikonya masing-masing. Misal, seperti kau tadi bilang, harus bolak-balik repot menitipkan anak ke mertua tiap hari kerja, sementara sebelum berangkat tiap pagi masih harus mengurus anak+suami dulu, dan untuk itu kau terpaksa punya 2 (dua) mobil untuk satu digunakan kau dan suami sementara satunya lagi untuk antar-jemput anak (dan mertua) sehari-hari, etc..etc..

 

Okelah, secara sosial, masyarakat kita (Indonesia) memang masih sangat paternalistik. Masih untung bila mereka tidak terjebak dalam male-chauvinism. Masih untung bila tiada pria dalam keluargamu yang merasa diri Tuhan Semesta Alam. Masih untung bila kau masih memiliki sepasang telinga yang mendengar, segenggam belaian yang hangat menghibur, dan sejumput bola mata yang menatap mu penuh cinta – tanpa peduli apapun. Entah kerutan di wajah, entah usia nan membentang, maupun jarak dan waktu yang tercipta.

 

Dan masyarakat itu hanya bisa memandang dengan sinis atas berbagai wanita menakjubkan yang senyatanya ingin mengaktualisasikan diri nya. Hanya bisa menghakimi dengan sewenang-wenang atas mereka yang berkeinginan untuk mengamalkan tahun-tahun kuliah mereka yang berat dan mahal, ataupun mereka lainnya yang hanya sekedar mencari tambahan asap dapur dengan cara bekerja.

 

Ris, 

Apapun alasannya, aku sangat mengagumi para perempuan seperti itu; yang dengan sadar dan bertanggungjawab menjalani pilihan yang (relatif) lebih berat - demi keluarga yang dicintai, sekaligus demi dirinya sendiri. It's all about life balancing. And I know it's not that easy. I humbily bow myself to them.

 

Adalah hak kau (dan semua wanita hebat lainnya) untuk meraih, menciptakan, dan MEMPERJUANGKAN kesempatan yang sama dengan pria manapun di seluruh dunia. Pun di Indonesia. Apapun alasannya.

 

Ris, 

Tentunya kau masih ingat padanya, kita berlaksa kali berdiskusi tentangnya. Dia, seorang perempuan hebat, pengacara muda yang cerdas; yang dahulu sempat dekat dengan ku pernah berkata dalam salah satu diskusi kami :

 

“..bahwa perempuan - nggak perlu sekolah tinggi, (bisa) mendapatkan jodoh yang tepat, (could) be a good mother, blablabla.. Bahwa perempuan akan terus menghadapi berbagai masalah pun ekspektasi lingkungan yang sama – tanpa peduli di Negara mana, dan tahun berapa.."

 

Aku mengerti kerutan di keningmu. Ya, mungkin dia memandang dari sudut yang lebih ekstrim; bahwa lelaki adalah najis, atau bahkan musuh bersama (I know what made her spoke like that, and yet I dont fully agree with her), mungkin tidak semua perempuan akan setuju, atau bahkan mengalaminya. Tapi ya, sedikit banyak kesimpulan seperti itulah yang akan langsung terlintas dalam benak. Dan tentunya itu nggak bisa dipersalahkan. Terpulang hanyalah bagaimana disampaikan pun diamalkan.

 

Ris,

That really shows what a male-dominated world we're living in. Menyesakkan bahwa walaupun nyata beberapa dekade telah terlampaui, tapi tetap saja kemajuan isu persamaan jender berjalan dengan amat sangat lambat. Dan karenanya perempuan tidak akan pernah lepas dari stereotip yang itu-itu saja.

 

In the end, do allow myself to just keep on wondering; when woman would (or could?) finally be able to achieve their freedom to have what they want - to take their chances? Dan tidak (lagi) tersandera dengan alasan sederhana; suami, anak, maupun keluarga?

 

Karena, justru demi mereka lah; perempuan (terutama yang bersuami) seharusnya berjuang meraih impiannya! Bersama meraih cita-cita.

 

To be equal partner - in love, .. and life..

 

 

Jakarta 12870 Pancoran

060421 212900

 


Blog EntryNever Fcuk before Marriage Jun 10, '07 12:20 PM
for everyone

© terbanglah lebih tinggi

 

 

Never fcuk before marriage! That’s what I shouted out over a recent “discussion” with a wondering life. They may have their own disagreement against this, but I have my own eligible reasons too.

 

It's always the girls who got all the blame and punishment; be it from religious authorities, from the so called the morality society, from their own life, and so on.

 

If you really care about them, and if you're really a man; you know that you shouldn’t do it, and definitely wouldn’t - even if you got the chance, or if the girl(s) were –sorry to say– offering herself. Yes, I believe that chances wouldn’t be repeated, there’s only one happened on each occasions. But this kind of chance is the one you shouldn’t take. Never.

 

I believe that gentlemen do not ever take such advantages. It violates his honor.

 

 

Jakarta 14130 Cilincing

Sunday, May 13, 200702.52 am

 

 

PS:

Yeah, got several chances myself. Guess what did I do? *grin

 


Blog EntryKecerdasanMar 5, '07 8:57 PM
for everyone

oleh terbanglah lebih tinggi,

 

 

Beberapa hari lalu, dlm sebuah obrolan santai di sela2 makan siang pada sebuah kafetaria yg hiruk-pikuk & penuh dg tangisan bayi serta percakapan di RSAB Harapan Kita, Jakarta; gue & 1-2 rekan terlibat percakapan ngalor-ngidul ttg berbagai hal. Topik yg pada awalnya menyangkut ttg budget kantor (dan gimana cara menghabiskannya! Hehe..becanda lho!), lambat laun bergeser pada opsi pelatihan - yg (menurut buku panduan resmi) merp HAK tiap pegawai; dg frekuensi pelaksanaan sebanyak2nya hingga 2x/tahun. Tentunya hal tsb dengan tidak memperdulikan besarnya biaya yg dikeluarkan maupun lokasi/lama pelatihan. Patokannya memang dibuat mudah & sederhana; POKOKnya 2x setahun. Titik.. Take it or leave it!

 

Salah satu topik pelatihan yg sempat dibahas dlm obrolan tadi adalah ttg “pelatihan kualitatif' (= istilah yg digunakan seorang teman, walaupun mnrt gue seperti nya agak kurang pas). Menurut gue; sebenarnya yg dimaksudkan oleh teman tsb adalah pelatihan yg bukan membahas ttg peningkatan 'kemampuan tehnikal', melainkan memfokuskan pada pengembangan 'kemampuan psikologis' (perhatikan perbedaan penggunaan adjektif; "peningkatan" vs "pengembangan").

 

Pelatihan dimaksud, sbg contoh; mulai dari gimana cara menghadapi org yg sulit (how to handle difficult people), hingga session John Robert Powers (aahh, is that serious?? Remembering the phrase 'well-groomed', back from our SMP years..:p). Termasuk di dalam nya adalah salah satu konsep yg belakangan bertambah populer; SQ atau Kecerdasan Spiritual.

 

Kecerdasan Spiritual merupakan pencapaian tahap lebih lanjut dari penilaian kecerdasan tradisional, yg semata mengandalkan pada kemampuan Bahasa & Matematika (dikenal dg nama IQ - you know what it is). IQ telah lama dituding sbg tidak adil & sangat tidak akurat, karena hanya 'memanusiakan' mereka2 yg cukup beruntung utk dilahirkan dg kecerdasan otak kiri - gifted; dan secara sengaja telah menciptakan tembok2 penghalang antara Kaum Super Cerdas yg dilahirkan dg IQ lebih dari 140, kemudian diikuti kelompok besar mediocre yg mungkin masih cukup beruntung, dan mereka yg harus puas menerima nasib utk menempati totem terbawah kehidupan dg IQ kurang dari 100.

 

SQ juga merupakan pengembangan lebih lanjut dari konsep EQ atau Kecerdasan Emosional (Goleman, 1995) yg menggemparkan; yg menjelaskan mengapa org2 ber-IQ tinggi ternyata gagal dalam hidup, apalagi bila dibandingkan dg org2 yg divonis sbg "hanya" ber-IQ biasa2 saja, yg ternyata bisa menjalani kehidupannya dg penuh martabat. Ini merupakan ciri2 utama karakter & disiplin diri, kesadaran diri, kendali, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati, dan kecakapan sosial. Orang2 yg memiliki hubungan dekat yg hangat, dan yg menjadi bintang di tempat kerja. Orang2 dg 'kemampuan sosial' yang tinggi; ditandai dg mudahnya mereka menjalin hubungan baru dg orang asing (dalam arti positif), untuk kemudian dapat langsung mengambil manfaat yg memang diharapkan dari hubungan baru tsb.

 

Disadari maupun tidak, EQ merupakan salah satu bahan tes yg paling mendasar bagi calon pegawai yg bergerak di bidang hubungan sosial; spt customer service, sales, konsultan, psikolog, auditor, dsb. Pengecualian mungkin hanya terdapat pada profesi kedokteran, yg merupakan swa-profesi (hingga tidak pernah diketahui bagaimana hasil tes EQ mereka - lagipula, siapa yg akan melakukan tes?), maupun karena para dokter terpaksa 'menumpulkan' emosi sekecil apapun yg mereka miliki, semata agar mereka dapat bekerja scr lebih efektif. Dokter tidak boleh merasa 'kasihan'! Kredo bahwa pasien tak lebih dari preparat alias obyek percobaan telah ditanamkan semenjak tahun pertama di fakultas kedokteran. Tapi tentunya itu adalah suatu pengecualian yg dapat dipahami.

 

Konsep lain ttg kecerdasan adalah AQ, atau Adversity Quetient (Stoltz, 1997); yaitu bagaimana kita dapat mengubah hambatan mjd peluang. AQ mengukur kemampuan kita dalam menghadapi kesulitan, yang dikembangkan dari berbagai pertanyaan sederhana;

 

  1. Mengapa beberapa orang, dg modal dan peluang yg sama dapat berhasil mengatasi kesulitan dan meraih prestasi yg setinggi2-nya, sementara banyak yg lain langsung menyerah begitu saja pada kesempatan pertama?
  2. Mengapa ada sebagian orang yg sepertinya menguasai teknik sedemikian, hingga mereka dapat menjadi lebih produktif, kreatif, dan terutama, kompetitif?

 

Dengan melihat hidup kita sebagai suatu analogi atas pendakian gunung, kita dapat memahami bahwa kepuasan (a.k.a, kesuksesan) dicapai melalui usaha yg tak kenal lelah utk terus mendaki, meski terkadang langkah demi langkah yg ditapakkan terasa lambat dan menyakitkan. Setiap kesulitan merupakan tantangan, setiap tantangan merupakan peluang, dan setiap peluang HARUS disambut. Perubahan merupakan bagian dari suatu perjalanan yg harus diterima dg baik.

 

Kembali kepada SQ, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yg memberikan kesadaran bhw hidup mempunyai dimensi yg lebih dalam ketimbang sekedar menghabiskan waktu untuk menimbun modal material atau kekayaan (Zohar & Marshall, 2004). Kecerdasan Spiritual juga adlh pusat dan dasar dari semua kecerdasan yang ada, yaitu fisik, mental, dan emosional, karena menjadi sumber petunjuk bagi ketiga kecerdasan tersebut (Covey, 2004). Kecerdasan spiritual mewakili dorongan kita untuk memperoleh makna dari kehidupan dan menghubungkan kita dengan Sesuatu yang Maha tanpa batas atau Maha tak terhingga. Ia juga dapat membantu kita untuk melihat prinsip-prinsip kebenaran yang juga merupakan bagian dari hati nurani kita.

 

Pada titik ini gue hanya bisa tertawa, mengingat detil percakapan pada sebuah kafetaria yg sama, saat seorang teman dg berapi2 memadamkan gairah belajar rekan lain;

 

"...SQ itu hanya ada dalam Islam - berhubungan dg Al-Qur'an; jadi gimana juga cara nya elo belajar, dan apa guna nya?.."

 

Teman lain, yg kebetulan seorang penganut Kristen yg taat tsb, pun terdiam. Percakapan selesai, time to go back to our work.. Adakah seseorang yg belajar sesuatu di sini?

 

Jakarta, Mon, Feb 06, 200608:51 wib

 

 

PS:

 

§         Zohar & Marshall, 2004;"..Tidak seperti halnya IQ (Kecerdasan Intelektual) - yg dimiliki komputer, dan EQ (Kecerdasan Emosi) - yg dimiliki mamalia tingkat tinggi, SQ (Kecerdasan Spiritual) secara unik hanya dimiliki manusia, dan menjadi dasar terpenting bagi macam kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual menghubungkan kebutuhan manusia untuk memperoleh makna dlm kehidupannya.."

 

§         Forum Diskusi Kepemimpinan – Harvard Business School, "Does Spritiuality Drive Success ?" (11-12 Apr 2002), yang merupakan forum pertemuan  pimpinan puncak perusahaan internasional dari berbagai bidang, membahas topik "..nilai-nilai spiritual yg membantu (seseorang) menjadi 'powerful leader(s)'. Pada akhir diskusi, disepakati bhw paham spiritualisme mampu menghasilkan lima hal, yaitu :

 

1.      Integritas & kejujuran

2.      Energi/ semangat

3.      Inspirasi/ ide & inisiatif

4.      Kebijaksanaan

5.      Keberanian mengambil keputusan.

 

 


Blog EntryDasar Gokil!Jan 19, '07 3:40 AM
for everyone

oleh: terbanglah lebih tinggi

 

 

Lagi nurunin “perseneling” otak dan sibuk berandai2 akan makan siang di mana hari ini sebelum shalat Jumat, tiba2 ada sms masuk ke HP gue. Oh, ternyata dari miss “D”, sepupu gue yang seumuran dengan gue, dan udah lama banget nggak ada kabar sejak dia merit setahun lalu. Pernikahan yang benar2 heboh dan pasti layak tayang dalam infotainment manapun, seandainya saja mereka berdua termasuk golongan selebritis!:p

 

10.53: Pa kabar lo? Mas TLT, lo shalat Jumat di Gedung Indomobil dong (lokasi nya daerah Cawang, sedangkan kantor gue di Pancoran – sekitar 5 km, perjalanan pulang-pergi +/- 1.5 jam; note by TLT), sekalian bawakan gue brokoli ‘n cheese nya Wendy’s. Oke?

10.54: Haha, dasar gokil! Nyuruh gue beli makanan dan sekalian nganter ke gedung lo. Lagi ngidam ya?:p

11.00: Jangan ketawa!!! Gue serius neh. Bisa kan? Bawakan 2, jangan lupa. Jam berapa lo datang?

11.03: Nggak bisa, gue ada meeting sebelum & sesudah Jumatan – sampe malam! Gokil banget lo ya (geleng2 kepala), hehe.. Btw, have you tried their delivery services yet?

 

-- unreplied, up until now –

Gee, even no thanks sms-ed for my refusal? How polite!

 

Dasar gokil, emangnya gue apa nya dia – sampe dia pikir dia bisa maen suruh2 kaya begitu? Emangnya dia pikir gue segitu nganggurnya apa? Dan kalaupun emang gue lagi santai, emangnya gue bakal bela2in ngebantuin dia, daripada ngerjain urusan gue sendiri?

 

Thanks to these damn*d series of meeting this and meeting that, I even managed to reject phone calls from my own Dad and sister – then why the heck do I have to obey  her command? I’d prefer to email someone else, to call someone else, to have lunch with someone else; than to act like her humble servant. For what?

 

Sadar nggak sih dia, sejak pernikahan “infotainment” nya set