terbanglah's posts with tag: festival
|  | Rencana maen ke Jakarta Fair yang udah dipikirin jauh2 hari nyaris aja batal, gara2 mendadak gue mesti berangkat tugas ke lapangan. Dan itu artinya di tengah hutan. Hiks. Itupun sampe menjelang kepulangan (dan rencana itu) yang hari Sabtu lalu, gue masih buta sama sekali kapan bisa balik ke Jakarta. Tiket pun terpegang dua; jumat malam dan sabtu pagi. Just in case.
Berhubung mustinya gue juga kuliah sehari penuh saban Sabtu (dan Minggu), jadilah gue minta ke Bos biar diperbolehkan pulang Jumat malam. Kasian tuh, ada yang harap2 cemas nungguin saya di Jakarta! Heuhehe.
Dan saat akhirnya semua urusan udah berhasil diselesaikan, ke Jakarta pun ku kan kembali. Yippeeeyyy..!! Sayang kebagian nya pesawat yang sangat malam; dia nggak jadi njemput deh. Yawess, gpp kok.
Niat sabtu pagi berangkat dari jam 8 pagi gagal gara2 paginya ternyata gue rada2 tewas, hihi.. Ya iyalahh, udah berminggu2 kerjanya keluar kota dan begadang mulu. Belum lagi di kampus juga lagi banyak ujian, paper, dan kuliah tambahan yang bikin sabtu-minggu gue dengan suksesnya dihabiskan di kampus dari jam 08 pagi hingga lewat Maghrib (jam 6 sore). Duhhh.. Kapan lagi bisa menikmati sabtu pagi yang tenang di atas tempat tidur? Akibatnya saya kena omel nyonya dehh.. hihi
Tadinya sih, mau ke JKT Fair nya tuh bertiga; gue, my princess, dan bokap gue. Asyik kann? Hahaha.. Sungguh alternatif yang menarik daripada jalan2 ke mall. Jadi inget, saban kali ada yang mau ngenalin gue ke teman nya, gue pasti akan bertanya; "..dia suka nonton teater di TIM atau GKJ nggak?.. Kalo nggak, ya maaf2 aja, bosss..!!" Nah, kaya nya kriteria itu musti ditambah, "...dia mau diajakin nonton Jakarta Fair nggak?.." (duhhh, mustinya gue dapat komisi dari panitia jakarta fair nihh..) Lha, kalo si cantik yang satu ini, belum sempat gue ngajak, malah dia nya udah ngajak duluan! Bwhahaha..
Untuk cerita lebih lengkap, sangat disarankan untuk membaca review keren ini: A Visit to Jakarta Fair
|
| Start: | Jun 28, '08 09:00a | | End: | Jun 29, '08 | | Location: | Ancol, Pantai Carnival, Jakarta | ..The real urban culture scene has arrived..That's the line printed on their official website [ http://urbanfest08.com/main/] and thus a self proclaimed statement served as the welcoming notes. I never attended this festival, though as far as I know, they've been rolling for several consecutive years by now. But my princess asked me to accompany her to go there, and I thought, hey.. what the heck; perhaps it'd be quite an experience as well. Because you'll never know unless you try, no? Yahh, if somehow it turned out to be not that enjoying for me, well, at least I still can enjoy the presence of the beautiful one who'd gonna be standing beside me and holding my hands, there! *grin* Ticket price: IDR 12,000.- Route/Map : as posted on their website
| Start: | Jun 24, '08 | | End: | Jul 6, '08 | | Location: | Istora Senayan, Jakarta, princess |
Haaaa.. another Jakarta Book Fair is ready to be started. Pintar sekali penjadwalannya, pas kira2 orang2 baru pada gajian, ahahaha.. Sayang saya sudah memutuskan untuk ngerem abis2an belanja2 buku seperti ini, kecuali yang buat keperluan kampus, kerjaan, atau bener2 yakin bakal dibaca. Semalam di TGA Bookstore Senayan City niat itu udah sempat teruji; hampir aja ngebeli buku Golf berharga (cuku) mahal. Tapi di depan nya, saya sempat bertanya separuh ke diri sendiri separuh kepadanya; apakah buku ini nantinya akan terbaca? Our answer was merely the same; nope! (esp considering my hectic schedule). Caranya menekan napsu shopping buku sebenernya gampang; saya akan menghindari tempat2 semacam ini. Which is kinda difficult actually, because those are my most favorite places to be around on Planet Earth! *sigh* PS: Numpang datang masih boleh kali yaa.. itung2 sebagai alternatif nge-date, hahaha..
|  | Sebenarnya gue udah kepengen datang ke acara ini sejak beberapa hari lalu, tapi biasalah, rada susah mencocokkan jadwal. Saat akhirnya (dipaksakan) bisa sore tadi, pikiran pertama yang terlintas adalah skeptisme. Dan tentu, kesuksesan (sekaligus kekecewaan atas) Festival Bango terpatri kuat dalam kenangan, siap menjadi pisau bedah pembanding. Tapi apa yang terjadi?
Dengan semua paket acara yang dikemas secara cukup menarik, tak ada kata lain, selain bahwa acara ini teramat-sangat direkomendasikan untuk didatangi; baik sendirian (untuk memudahkan berburu makanan, hihi) bersama pasangan pun teman (buat seru2an ramay2), atau bersama anak, orang tua, oom, tante, kakek, nenek, a'a, teteh, atau siapapun; sebagai sebuah alternatif sehat sekaligus menyenangkan untuk mengisi waktu luang.
Bayangkan sahaja; sembari mlaku2 nang La Piazza, pengunjung dipersilahkan menjajah area ‘kampoeng’ pro bono, melihat2 stand makanan mana suka, untuk kemudian menukarkan rupiah Indonesia vs rupiah ‘kampoeng’, sembari dihibur oleh Delon, pagelaran busana, wayang potehi, seni musik Madura, dannn.. layar tancap! Belum lagi hiburan hati karena bisa memuaskan nostalgia atas barang remeh temeh yang telah terlupakan, tapi sebenarnya menyimpan kenangan manis. Jajanan TK, dolanan saat mudik Lebaran, bulir2 jagung dan palawija di atas sepeda onthel, delman dan lampu2 hias, serta panggung yang disulap menjadi rumah bergaya tempo dulu. Lengkaplah sudah wisata kuliner kali ini, dengan tambahan citra visual pun suguhan hati nan menawan. Bagi rekan yang berminat datang, acara ini berlangsung antara 15-25 Mei 2008; jadi, masih ada kesempatan. Jangan sampai tertinggal.
Di lain pihak, beginilah akibat asal (terlihat) jadul; makanan tradisional cita rasa khas Indonesia ditampilkan dalam kemasan berbau tempo dulu, lengkap dengan segala pernik2 nya yang mendukung (maupun yang jaka sembung bawa golok! Kekkeke..). Padahal ujung2nya tetap aja sama kaya food court pindah tempat.
Tentu harus diakui betapa brilliant inisiatif marketing semacam ini; demi mempertahankan loyalitas konsumen sekaligus meningkatkan daya serap pasar, dibuatlah venue sementara yang menampung para pedagang makanan unik yang khas Indonesia dan keampuhannya dalam menggoyang lidah (dan dompet) nggak perlu diragukan lagi. Walau memang ada beberapa stand yang tampaknya agak meleset dan membuat kening berkerut sambil nggerundel. Tapi paling tidak pihak panitia, dalam hal ini manajemen Mall Kelapa Gading dan La Piazza, masih cukup konsisten dan tahu diri untuk hanya menampung pedagang kelas menengah-bawah. Padahal yakin deh, pasti di luar sana banyak ikan hiu retail raksasa yang berseliweran menantikan mangsa; memaksa ikut dalam hajatan besar ini. Untuk itu, salut!
Nilai tambah lain adalah kejelian panitia melihat peluang; dalam hal ini untuk mengkombinasikan nya dengan festival makanan & fashion tahunan yang biasa diadakan Mall tsb, sekaligus sebagai kampanye pelengkap atas gempita sejagat peringatan seabad 'Hari Kebangkitan Nasional'. Bravo! *bertepuktangan.
Kalaupun ada cacat, adalah kurang nya jumlah maupun lokasi tempat sampah. Padahal sebagai sebuah hajatan besar, ditambah lagi dengan sikap kebanyakan kita yang kadung menganggap bumi, tanah, dan air digunakan untuk sebesar-besar tempat sampah rakyat, keberadaan tong2 sampah tsb mutlak perlu zonder ditawar lagi. Untunglah, sebagai alternatif yang cerdas, manajemen telah menyiagakan sekumpulan petugas pemungut sampah, yang bekerja sangat sigap dan berdedikasi. Membuat pengunjung merasa difasilitasi untuk terus membuang sampah sembarangan. Oops! :p
Anyway, lo nggak keren kalo nggak datang ke 'Kampoeng Tempo Doeloe'! (mengutip secara bebas cetakan kaos panitia 'Java Jazz 2008', hehe)
|
|  |
Kenapa Sabtu harus ngampus seharian dari jam 8 pagi sampe maghrib, sih? Kenapa jam terakhir malah dipake buat Mid-Test, euy? Dan terutama, kenapa dosen kali ini harus inspiratif dan terlalu sayang untuk dilewatkan? Serta kenapa2 lainnya, yang akhirnya membuat gue bener2 nggak tahan untuk duduk tenang saat ujian.
Mid-Test "Organization Behavior" berupa analisis jatuh-bangun nya CEO the Cocacola Company yang seharusnya berjatah 90 menit langsung gue terabas nggak nyampe sejam; bikin teman2 sekelas terperangah. Ya iyalah, secara gue inisiator "Klub Tercela" di angkatan kami, mbolosan, dan pagi nya pun terlambat ngampus 1.5 jam dengan tampang yang asli impor langsung dari tempat tidur. Heuhehe.
Sempat bingung mau nunggu di mana sampe waktu janjian yang masih sejam-an, plus sopir penjemput yang kagak bisa ditelepon; akhirnya mampir ke "Kompleks WTC" seberang Cassablanca buat ngopi2 sambil baca buku. Namanya juga nebeng. Terpaksa pasrah nunggu yang bakal nyopirin (yang ternyata ketiduran!) dan musti rela dijemput secara nyeleneh; diangkut dari halte bis depan "Le Meridien", diikuti berpuluh pasang mata yang ingin tahu. Padahal gue nyetop mobilnya nggak sambil mengayun2kan senter lho.. suer..!! Benar2 pembunuhan karakter tuhh! Tapi nggak apa2 deh; yang penting bisa duduk tenang naik mobil baru nya sang sopir. Tahu beres, pokoknya musti nyampe; secara gue gaptek daerah Selatan. Hahaha..
Lagi mau nonton acara tahunannya FEUI nih; Acoustic Across 2008, lokasinya di Upper Room. Ini tuh semacam acara lomba nge-band. Dengan peserta awal sebanyak (katanya) 75 band, pada malam final ini hanya akan ada 3 finalis yang tampil. Biar seru, diselingi dengan hiburan2 lain oleh band2 nge-top ibukota (haiyyaaa..) dan yang niscaya digandrungi kelas elit di dunia mahasiswa Indonesia; anak2 FEUI. Maksudnya "kelas elit"? Yah, paling nggak, elit buat gue dehh.. Secara gue sampe 2x nyoba ujian masuk sana, dan dua2nya gagal. Huaaa...huaaa.. *njambak2 rambut
"d’Cinnamons" emang selalu gue suka, "Maliq" juga (walau makin ke sini berasanya kok makin malu aja ngaku2 doyan Maliq, hehe); tapi yang utama adalah gue pengen tahu "Sore" -- yang setahu gue ngetop tapi sama sekali belum pernah gue dengar dan lihat wewujudan-nya seperti apa. Makanya giliran ketemu para fanatikus Sore, sempat rada minder juga; secara gue ngeblank abis sementara mereka bela2in datang dari jauh. Agak2 nggak nyambung liat militansi nya mereka; walaupun musik Sore nggak bisa dibilang 'easy listening', tapi yang jelas mereka bukan sebangsa 'Linkin Park'. Thus, what the heck are you doing, guys? Jaka Sembung bawa golok..hehe. Ohiya, salut terutama untuk pianis Sore, yang ternyata punya suara emas; sayang beliau pelit memperdengarkan suaranya.
Kembali ke kontes yang digelar; finalis yang menjadi pemenang (lupa nama band nya) emang punya penampilan yang oke. Salah satu lead vocal mereka bergaya dan punya corak suara mirip kaya Jamiroquai. Walau menjadi agak blunder saat Jamiroquai-wanna-be ini mengganti kupluk nya dengan bendera Brasil. Yo, reggae, youw!:p Apa perlu untuk acara semalam ganti baju sampe 3x? Satu2nya cacat mereka adalah ancurnya lagu pertama; diduga keras karena kelewat grogi liat massa yang membludak. Maunya motret2 mereka sih, sayang wajah2nya agak nggak, uh, photogenic, hihi..
Tahun ini sih, katanya yang datang sampe 2,000 orang, berbanding tahun lalu yang hanya 500-an penonton. Tentunya banyak yang lucu2 lahh.. Jangan2 emang jadi tujuan lain buat datang ke acara ini, heuhe. Sayangnya dandanan mayoritas mereka tampak serupa. Boleh dibilang nggak ada yang berani tampil secara independen dengan gaya masing2. Too bad. Selain itu, banyak juga yang datang dengan mini skirt plus stilletto. Aduhh.. kok malah nyusahin diri sendiri gitu yah.
Penampil terakhir adalah Maliq. Masih nggak ada matinya, euy! Selalu bisa tampil dengan warna baru, atau kadang mencuri perhatian dengan format yang berbeda. Misalnya OST film Claudia/Jasmine yang lembut, enak didengar, dan mudah disenandungkan itu. Atau ada lagu lain yang nggak gue kira produksi mereka. Dulu gue pernah pasang salah satu lagu mereka ("Heaven") buat jadi ring tone HP sekaligus nada tunggu NSP telkomsel. Tapi sekarang mah, rada2 malu juga; berhubung makin banyak yang maniak sama mereka. Kok kesannya jadi pasaran begitu. Belum lagi bosen liat gaya panggung mereka yang sebenarnya atraktif, tapi malah jadi terlalu edgy untuk diulang2 saban kali manggung. Itu lho, gerakan bungkuk2 separuh badan dengan gaya serempak.. Duhh..
Untuk jalannya acara, kerja panitia yang notabene adalah anak2 tingkat 1 dan 2 di FEUI tsb patut diacungi jempol. Walau keliatan banget banyak model panitia level setor muka yang seperti biasa nggak ikut kerja dan malah paling over-acting, dan keliatan jelas cuma ikutan biar bisa numpang nonton. Masa belum apa2 udah maen geledah aja dengan gaya nepok2 badan; padahal tehnik tepokannya aja salah total. Itupun tanpa minta izin udah maen pegang aja. Belum lagi urusan bongkar2 tas. Yang polis beneran aja langsung ngerti itu tas kamera, jadi ndak ngerasa perlu ngebongkar. Lha ini kok malah bener2 ngebuka semuanya.
Di lain pihak, ada keuntungan juga sih kami datang dengan wajah (sangat) senior dibandingkan mayoritas peserta (dan panitia). Jadi nggak ada yang berani ngusir saat dengan jumawa nya kami menduduki meja dan bangku panitia yang nggak terpakai; buat numpang makan, ahaha.. Padahal sebetulnya sih, kami siap dan rela2 aja kalau ada yang minta pergi. Masalahnya jangankan minta, bahkan panitianya aja nggak ada yang berani lewat di depan kami. Apa tampang gue segitu keliatannya pengen nabok mereka gitu ya? *grin Ah, enggak kok. Enggak salah! Hahaha..
Kejadian unik lain adalah saat kami memesan Hot Shot cheese burger buat dimakan sambil nunggu acara dimulai. Kami agak ragu dengan kecepatan pemesanan, jangan2 keburu mulai nih. Tapi ternyata beneran cepat, lho! Kekaguman yang segera menguap, begitu kami menyadari bahwa burger tsb sudah dibuat seabad lalu, dan bahkan panitia nggak ngerasa perlu buat memanaskannya dulu, melainkan langsung menyerahkannya kepada kami. Teganya!
Jadi jangan salahkan kami bila selepas acara kami lantas memutar mobil ke arah Djakarta theater, dan memamah beberapa potong Burger King yang besar tapi nggak begitu enak. Dijamin bukan lapar mata, tapi emang lapar beneran! Hehehe..
Ohyawh, ruangannya bagus sekali. Terlihat jelas dirancang khusus secara akustik dengan bahan2 terpilih dan khusus untuk ruangan sejenis. Katanya sih bisa buat acara kawinan; tapi kaya nya enggak banget deh.
Catatan tambahan lain: jumlah sponsor yang sangat membludak (senangnya kampus Jakarta, hiks) serta kualitas shooting kamera yang sangat jelek. Padahal pake kamera mahal yang (harusnya) udah bisa ngambil gambar HD. Udah posisi nge-syut nya yang ngeganggu banget buat motret2, pula.
|

Menyejukkan hati melihat festival berbau "green" seperti ini mendapat tempat yang sangat luas dalam pemberitaan, dan karenanya merangsang minat (calon) penonton untuk memacetkan jalur lintas Senayan pas Minggu sore kemarin. Membuat gue terpaksa berjalan cukup jauh dari tempat parkir di Masjid Al Bina menuju Gedung Serba Guna Senayan untuk menghadiri acara nya my dear Vonny.
Di lain pihak, beberapa hari yang lalu gue sempat baca komentar F, seorang seleb pria, di harian Kompas, bahwa preferensi seseorang untuk memutuskan festival apa yang akan dia tonton, atau lebih luas, kegiatan (publik) apa yang akan dia lakukan, sebenarnya sangat dipengaruhi oleh persepsi yang dimiliki ybs atas festival/kegiatan tsb. Secara singkat, hal tsb dapat dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu;
(1) mereka memang menyukai musik yang disajikan (misal: Java Jazz 2008) dan/atau tertarik dengan isu yang diusung (misal: Green Festival).
(2) mereka sekedar menyukai atmosfir festival2 semacam itu, atau mempertimbangkan value-over-price nya, atau sebagai alternatif menarik atas acara weekend yang monoton nonton-makan-nongkrong di mall, dan
(3) mereka yang merasa wajib utk datang ke festival sejenis karena, "..kalo nggak datang, lo nggak eksis..", karena Java Jaz atau Global Warming telah menjadi trend dan karenanya (sekedar) bagian dari gaya hidup; yang terasosiasi dengan pencitraan diri yang keren, bergengsi, intelek, dan menjadi syarat wajib agar diterima oleh "peers" alias kelompoknya
Terlepas dari selera maupun pilihan gaya hidup masing2, biasanya mereka dengan pilihan terakhir lah yang menjadi pendukung paling fanatik, untuk nggak dibilang militan; tapi yang secepat itu pula akan berlalu bersama tiupan angin yang berubah, atau hingga kelompoknya memilih icon gaya hidup lainnya untuk diperjuangkan sepenuh asa. Bahkan terkadang, hingga dengan cara2 yang cukup konyol.
Tentu kita masih harus melihat komitmen mereka di masa mendatang, dan memang hanya waktu lah yang bisa membuktikan. Atau dalam beberapa kasus ekstrim, perilaku sehari2, dimulai dari hal yang paling sederhana sekalipun sudah akan dapat berbicara dengan sendirinya. Dalam hal isu2 lingkungan, misalnya:
(1) mematikan lampu meeting room saat tak digunakan, (2) mencabut power cable dari stop kontak saat peralatan dimatikan (3) mandi jangan pake bathtub atau shower. Cukup gayung! (4) sedapat mungkin pake angkutan umum, (5) etc
Kembali ke si oom seleb di atas, biasanya gue rada ilfil ngeliatnya sih; karena tendensi nya utk melecehkan perempuan dlm talk show yang dipandunya. But this time, couldn’t be agree more with him. Yo, dude! *grin
Btw, believe it or not, kalimat "..kalo nggak datang, lo nggak eksis.." merupakan semboyan resmi Panitia Java Jazz 2008 (oh, No! Who do you think he are? *grin), yang mereka gunakan, paling tidak, pada saat penukaran tiket resmi di Hotel Sultan, beberapa hari sebelum acara berlangsung. Mungkin saja itu bukan semboyan resmi, what the heck, tapi bahwa kalimat tsb dicetak besar2 pada seragam resmi mereka, dan digunakan pada salah satu acara resmi pula. Jadi?
Cara2 konyol di atas digambarkan dengan sangat baik oleh seorang rekan; yang memergoki seorang remaja dengan full dandan gaya masa kini, berlagak pede dan gagah, walau dengan suara gemetar, menunjukkan kartu Pass Java Jazz 2008, sembari menutupi bagian foto kartu tsb. Tentu saja dia langsung disuruh pulang. Percuma deh, capek2 dandan...
On replying to a friend thru Sampoerna-ITB mailing list Mon, 2008 04 21 - 9:14 AM Jakarta 12870

| Start: | Mar 7, '08 | | End: | Mar 9, '08 | | Location: | Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta |
re : Your ticket order receipt from Java Jazz Festival 2008
From : ticketing@javajazzfestival.com Sent : Thursday, Dec 20, 2007 - 22:32 wib
That one of the most waited email for the last few days, haha.. It was automatically sent by the committee’s server after they managed to verify my credit card eligibility and, of course, credibility.
The good thing with this kind of online booking is, you shall never be bothered with all the mess of keeping your personal copy of payment. Moreover, with tonnages of paper works, proof readings and documents writing that keep popping up here and there throughout the maze, you bet I got a billion chances to lose it unintended. Or to forget where the last time was I saw it. Alternatively, that payment proofs could be at least dirty and, worse, unreadable.
Yeah, finally I made up my mind to see this kind of festival. It will be held on March 7,8, and 9, 2008, and as before, would be performed on the Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta.
Quite pricey, if you judge it from a certain perspective. Yet it also has a very good value for money, if somehow you could see it from a different angle. It all depends on your decision (and money, of course.. *grin). Nevertheless, I guess chances like these are hard to be missed. I still have to figure out though of why I finally bought the tickets, especially after that quite disappointing JakJazz 2007 or for being sleepless and almost missed my Final Test due to that hectic JiFFest 2007 schedule.
Well, thanks for those incidents, I don’t think that I’ll take a passport ticket for this one. Or at least, the decision shall wait until they published their detailed schedule. I can’t believe that they already started the tickets selling without it!. Damn. But after some considerations, I guess I may use the advantages of early birds ticket payment offered. For at least I could fulfill my promises.
Those promises: will take my dearly cousin Mariska to the show, as we discussed many times previously (she jumped out in joy and disbelieve at the moment she got this confirmation, hehe). My sister would also be invited to join us, to enable her to share the experience. But my brother and Dad already rejected the offer, so I still got a spare ticket.
Anyone? *smirk!
Tadi malam, sementara bokap dan adik gue sibuk nonton siaran langsung sepak bola, gue dan mbak gue berebut penguasaan atas channel di TV set lain. Gue sedang ingin mengejar ketertinggalan gue dalam dunia perfilman (baca: menikmati koleksi DVD gue, hehe), sementara si mbak kepengen banget liat hasil akhir pertempuran antar para idols tingkat Asia yang dinanti. Memang RCTI hebat; demikian banyak yang berkata, nggak cuma bisa menikmati keuntungan dari rating tinggi dan pendapatan iklan yang selalu No.1, tetapi ternyata juga bisa membela nama bangsa dan Negara dengan ajang seperti itu. Heee?? Membela nama bangsa dan Negara, katanya? Gue cuma bisa mengerutkan alis dan segera menyingkir dengan sebuah buku di genggaman. Hasil akhir pertarungan itu sudah digelar. Dan ya, hari ini hampir seluruh dunia memaki atas kemenangan negara tetangga pada Asian Idols semalam. Kalaupun tidak sampai memaki, minimal mereka mengeluhkan hasilnya. Hanya tahu bahwa “pokoknya”…titik, tanpa peduli apapun no matter what. Hanya ada beberapa yang menjadi pengecualian (and I salute you!) Kesimpulan yang menarik dari seorang rekan, bahwa mungkin dia menang karena penduduk negeri nya lebih peduli pada acara ini. Atau diduga keras bukan soal kepedulian, tetapi karena mereka lebih memiliki “disposable income” untuk mengirimkan sms lebih banyak, pikir gue dalam hati. Sedangkan siapa pun tahu; pemenang acara ini ditentulan oleh favoritisme pemirsa yang dibuktikan dengan jumlah sms yang diterima atas nama idols pilihannya. Waitaminute! Jadi lomba nyanyi ditentukan oleh sentimen pemirsa, dan bukan penilaian professional para juri? Jadi juri2 itu ngapain aja ngejogrok makan gaji buta di depan kamera sambil pringas-pringis begitu dan ngasih komentar2 yang (sebagian) nggak jelas? Ini bener2 ngingetin gue pada pemenang Idol2an pertama, si Delon siapa tuh; yang terpilih "cuma" gara2 kehidupannya pribadi nya sebelum ikutan lomba ini yang, uhm, kurang memadai. Dan justru dia jadi tambah ngetop, dan sekaligus salah satu hal utama yang bikin gue tambah ilfil pada acara2 sejenis adalah, karena kehidupannya itu malah lantas justru di-eksploitasi demi menggugah simpati pemirsa. Ini sama aja seperti salah satu peserta yang kebetulan tuna netra dalam acara serupa “Mama Mia" nya Indosiar; begitu kemungkinan kalah membesar, dia nangis2 bombay, dan malah di-shoot kamera. Hasilnya? Nggak jadi tereliminasi dunks! (Kenapa nggak pake istilah terminasi, sih, biar kaya’ Terminator? Hehe..) Lagian, masa sih lo nggak kasihan sama kandidat yang buta itu? Demikian beberapa pernah membela diri. Seolah pemirsa dipaksa menjadi bodoh untuk memilih sang pemenang Lomba Nyanyi semata karena faktor kasihan, atau, makin kesini, karena faktor primordialisme alias kesamaan daerah/suku/agama; dan bukan karena hal yang semestinya dinilai pada sebuah Lomba Nyanyi (correct me if I’m wrong): - suara yang bagus,
- performa panggung nan memukau, dan
- kemampuan teknis olah vokal yang mumpuni.
- syukur ditunjang penampilan menawan
Kategorisasi yang kejam? Mungkin. Tapi itu fakta. Dan yaa, semua juga bisa bersikap defensif atas komentar di atas dengan beralasan chauvinist: “..dan Indonesia memilih..” Tapi mbok ya kasihan sama para juara idol2an itu.. Dengan semangat percaya diri yang melimpah sebagai alumnus Idols yang (pikirnya) dipuja2 seantero negeri yang sakit, mereka akan segera menemui kenyataan pahit saat mulai melempar album dan/atau singles mereka. Penolakan pasar. Okelah, mungkin pada awalnya mereka akan didukung oleh groupies maupun penggemar fanatik mereka; yang bersedia memamah-biak tanpa pikir atas apapun yang mereka umpankan ke pasar. Di sini eksplotasi atas prinsip andalan mayoritas bangsa ini, prinsip pokoknya. Misal: “..pokoknya si A”, atau “..pokoknya suku B..” akan dengan sangat tepat mendapatkan pembuktian dan justifikasinya. Tapi cepat atau lambat mereka pun akan tahu di mana tempat mereka yang sebenarnya dalam industri musik yang kejam dan tanpa ampun. Dan kejatuhan dari ketinggian seperti itu, tentunya akan terasa jauh lebih sakit. Terutama karena para fanatikus tersebut akan segera melupakan mereka, untuk kemudian beralih pada bintang2 baru berikutnya; tanpa beban, tanpa rasa bersalah. Dan mereka pun tenggelam di dalam lembah kehancuran yang digali oleh penggemar mereka sendiri. Dan tanggung jawab itu pun terhenti hanya pada sekian sms yang pernah terkirim.
Dalam hal ini, mungkin justru Joi (idols pertama yang memilih mencopot gelar daripada terjebak di dalam ikatan kontrak) lah satu2nya yang dapat melihat ke depan dengan jernih. And for that courageous action, I salute her. Jakarta, Monday, Dec 17, 2007 - 15.30 wib © terbanglah lebih tinggi PS:Gue kok jadi lupa ya, kapan terakhir kali gue nonton TV.. heheh. Dont have that much time to be wasted on it. I almost hate that magical box anyway.. :p
 | Category: | Movies | | Genre: | Independent |
Persepolis (in Greeks) literally means “The City of Persians”. The film is the opening act of the Jakarta International Film Festival, or better known as JiFFest 9th (7-16 Dec, 2007). You can bet that this film must have something special to enable it to be crowned such an honor. Not to mention that it got aired in 2 (two) consecutive schedule; the 1st was being a closed performance exclusively dedicated for invited guests and journalists, whilst the 2nd was opened for public just a couple hours ago. Glad that I managed to have the ticket, since last time I heard, it was sold out a few days before the schedule. Phew!
Thanks to that, few friends that originally got interested to join in were shoo-ed away, hehe. Sorry, guys! However, that is just the way it goes with festivals like these; you have to make sure that you already booked the ticket(s), long before the schedule would be played. And partly, that is why I missed all the JiFFest before; because I can hardly afford to secure the tickets, especially since the selling venues were quite out of reach.
When I uploaded this review to the blog, I found it was kinda difficult to distinguish this one based on the classification offered. Because it could be an Animation, a (Dark) Comedy, a Docu-Drama, an Independent, a Kids & Family category, and above all, a satiric Auto-Biography of the original writer, Ms Marjane Satrapi. Or may we say, this film is all about it.
Persepolis is a 2007 animated film based on the graphic novel of the same name. It tells the story of a young girl (Marjane) in Iran before, during, and after the Iranian Revolution (ca 1978-1992). A 9-year-old Marjane dreamed of become the last Prophet of God and happily declared herself as a Communiss (an sich). It was not clear whether the whole family of her were also Communist activists. She often had dreams of she consulted God on things or even sometimes yelled at Him (and later on, a conference with Uncle Marx). She grew through the affectionate caring of her loved ones (dad, mom, and grandma), the romance shared by various young men she loved, the joy and the height of the school days and friends, the dictatorship of the faculty and the society, and the unexpected bitter life in Vienna along with her closest friends made there, the anarchist-wanna-be rich kids from school.
This is quite a phenomenon, people who talks more about those radical thinking are usually amongst the very first to jump out from the boat when everything goes wrong. People like those love to show to the world that they really care, whilst in fact they don’t goddamn know anything at all; even the most basic routines of it. They love to wear Guevara T-Shirt whilst they do not know any shit out of his inspiring traveling done throughout South America on his youth. They like to disregard the authority and tend to violate the rules only to show that they are courageous and got rebellion spirits. Remember Prince Harry of England who caught up wearing Nazi’s Swastika on a costume party? That should be the finest-real-life-high-profile example. This film told similar cases well with such admirable bluntness, especially in regards that this was an autobiography.
Young Marjane’s life was also further be colored by the frightened monarch that was about to fall, along with its Secret Services aimed to get to its own people, the agitated revolutionary movement powered by young idealists, again with its own Secret Services on the same purpose, and of course there was the Iran-Iraq war (Gulf War I, 1980-1988). A war that some says was aimed to level Iran down since it moved further toward Islamic fundamentalism and against the US whose believed and suggested by its government to be stand behind the overthrown Shah (the Iranian Empire before the revolution).
Be noted for not taking the film as a political one, albeit its propagandist nature (against the Islamic Republic of Iran, the power behind that 1979 revolution) tends to make me sick from time to time for being too harsh and one-sided. No wonder the Iranian government protested the film, at both Cannes and Jakarta. It was reported that the film got its clearance from Lembaga Sensor Film (Indonesia’s Sensor and Rating Agency) to be aired at JiFFest 2007 just hours before the 1st schedule.
Better to take it as a vigorous photo album of a young girl; confused and had lots of grudges about her very existence in the world. It honestly portrayed, to some level, the surrounding life of her. Thus, we could, arguably of course, study and learn what it was like to be in her shoes around that period of Iran, and what it felt to become a legal alien in Vienna. And how life was supposed to be, especially for people like her and her family; the educated politically aware and connected middle class. After all, she just wanted to live a normal life like another teenage female.
It should be red-marked though, that the film forgot, or failed to explain, what was “normal like another” supposed to be meant. It left us, at the end, wondered and strongly felt that the writer abused this film only to satisfy (and somehow to justify) her complaints of present day Iran, of her not-that-good Europe actual life compared to imagination, of her bitter yet interesting life, and above all, implicitly – on God Himself.
Seeing that Marjane is not just Christian, but also a Communist, her critics to the Islamic rules run on her Iran lost its appropriateness and legitimacy for sure.
Updated on Dec 10, 2007 – 12.03 wib
Another thing to be pointed out, one of the commentator on this review of mine (thanks, buddy) accused that Marjene exploit the sorrow and depression borne by the said 'Iranian Women' simply for entertainment cause.
I gotta admit that it was a very intriguing conclusion. And frankly speaking, it had crossed my mind, too. But then I tried to step back a few times, and see the whole thing from her point of views.
Or precisely, from the point of view of a smart and independent little girl, who’s raised inside educated, honored, and aristocratic surroundings. In short, she got the whole world laid over in front of her, waiting to be explored. And suddenly, yes in that instance, all those chances were robbed from her in such a way, that could be clearly seen still doesn’t have a sense for her, even until now.
And what left to be shared was the physically 20-something Marjene whose rose to the stardom thanks to her exploiting autobiography film (and graphical novel), who were trapped inside an ever rebellious soul of a mentally 9 years old Marjene. The one whose still keep looking around helplessly to find to ease her soul and to find out her answer.
Sorrowful indeed, or maybe pathetic, but of course from a different point of view..
Djakarta Theater, Thamrin Avenue, Jakarta Sunday, Dec 09, 2007 – 23.30 wib © terbanglah lebih tinggi
Related articles: (1) HE-the-astonishingly-uneducated (2) JiFFest 9th (7-16 Dec, 2007)

| Start: | Dec 7, '07 | | End: | Dec 16, '07 |
Hayooo...
Siapa mau nonton JiFFest 9th (7-16 Dec, 2007)? Booklet program/sinopsis dan jadwal harian bisa diintip langsung ke website nya, www.jiffest.org
Anyway, akhirnya jadi juga rencana nonton JiFFest yang sudah tertunda selama bertahun2, hmmm..!! Kalau gue nge-browse file2 lama gue, ternyata gue udah nyimpen jadwal JiFFest tuh sejak 5 tahun yang lalu kali.. dan acara memabukkan diri ku dengan segudang film berkelas itu selalu gagal karena gue kesulitan menyesuaikan diri dengan metode pembelian tiket nya yang super duper aneh:
- harus membeli keanggotaan/ membership - harus beli jauh-jauh hari, dan TERUTAMA yang paling menyebalkan - harus beli di tempat2 tertentu yang cukup jauh dari lokasi gue berada
Bahkan sebenarnya pun tahun ini kesempatan itu nyaris terlewat lagi, kalau saja gue nggak pas kebetulan lagi ke citos. Pas lagi luntang-lantung nggak keruan di sana, ndilalah, kok gue nemu loket penjualan tiket JiFFest di depan lobby Citos 21 Cineplex. Lengkap dengan hardcopy booklet dan jadwal nya. Jadilah gue menghabiskan waktu sekitar 30 menit di depan mas2 dan mbak2 itu buat berburu film apa saja yang akan gue tonton pada JiFFest kali ini.
And my recommended movies (I already bought its tickets) are :
1. No Country for Old Man .................... 09 dec 2007 2. Persepolis ...................................... 09 dec 2007 3. A Guide to Recognizing Your Saints .....10 dec 2007 4. the Namesake ................................ 10 dec 2007 5. Atonement .................................... 11 dec 2007 6. A Mighty Heart ............................... 11 dec 2007 7. La Vie en Rose …............................. 12 dec 2007 8. 4 Months 3 Weeks 2 Days ................ 12 dec 2007 9. Yella ............................................ 13 dec 2007 10. Shake Hands with the Devils ........... 14 dec 2007 11. Possible Lives ............................... 14 dec 2007
Does any of them the same choice as yours? If yes, who knows, maybe we could meet and greet with each other there, friends! *smirk..
PS: I made a friend of mine cried when she learned my schedule arranged as above. Since by tomorrow morning she has to depart for a field work assignment to an oil rig off shore. Ha! Speaking about jealousy, dear…hihi..
| Start: | Nov 23, '07 | | End: | Nov 25, '07 | | Location: | Istora Senayan, Jakarta |
Akhirnya! Jadi juga gue nonton (baca: beli tiket) JakJazz 2007. Sempat ragu dan maju mundur lamaaa banget, sebelum akhirnya memutuskan buat beli, ahhaha.. Gara2 semalam mampir ke Aksara Kemang dlm rangka "program-eksplorasi-seantero-Kemang-dg-jalan-kaki" dg guide seorang teman yg tinggal di sekitar situ (hey, thanks yaa!). Seru banget buat orang kaya gue yg hingga setahun lalu BAHKAN masih nggak tahu Kemang itu di sebelah mana nya Jakarta sih. Dulu malah gue pikir udah deket2 Bintaro, hahaha.. Tapi teuteup, pas janjian ketemu di KemChicks, gue bertanya dg polosnya kepadanya, "KemChicks itu di mana sih? Knp nggak langsung ketemu di Kemang aja?" Bayangkan apa reaksi dia, hahaha.. Gue beli tiket Passport; alias tiket terusan buat nonton seluruh acara 3 hari termasuk 3x special show. Jatuhnya malah lebih murah, terutama karena gue masih kebagian yg harga "early bird 1st". Makanya kemarin dipaksain beli; walaupun akibatnya gue musti keliling2 dulu buat nyari ATM. Padahal gue buta total daerah Kemang, untung kagak nyasar, or worst; diculik tante2! :p Sayangnya teman gue itu, yg fanatikus Jazz dan udah berkali2 ngajakin gue gerilya ke berbagai Jazz Lounge atau bahkan pernah menawarkan tiket gratis " Cross Over Jazz" (which was regretly refused thanks to a meeting with the damn demanding gov officers, hehe) ternyata sampe detik terakhir masih ragu bakal ikut nonton atau nggak. Terutama karena terganjal dg aturan pembelian tiket yg musti pake duit CASH. *ketawa ngakak sambil menggoyang2kan jari telunjuk di depan dia, bwahahaha.. . Lagian tuh panitia JakJazz dodol juga. Halah, hari gini; siapa juga sih yg masih hobi bawa segepok duit kecuali (a) konglomerat, (b) permohonan kartu kreditnya belum disetujui, hehe.. Huah, ngantuk euyyy.. Seharian di Kemang dari kemarin siang, balik pas udah Subuh. Dan 10 menit lagi gue mesti nyetir ke Bandung. Tapi, Bandung, gitu lhoo.. The place where I grown up and found adulthood! *grin
| Start: | Mar 2, '07 4:00p | | End: | Mar 5, '07 01:15a | | Location: | Jakarta Hilton Convention Center | Java Jazz Festival Jakarta Hilton Convention Center and surrounding, National Stadium Senayan, Jakarta. a 3-days-&-nights event
Special Show interested-in: all, love them all! Yeahhh... Ticket bought: all 3-days-&-nights event, plus Jamie Cullum (Sunday, Mar 4)
Never thought that finally managed myself to taste the air there! *grin
| |