Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: friends

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag friends
Start:     May 28, '08 7:00p
Location:     Senayan

Setelah lama menyelam dalam kehidupan pasif, dan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi dinamika massa akhir2 ini, kami, pendiri dan anggota aktif Dewan Jenderal Tuisda mempersembahkan dengan hormat acara berikut:

Simposium Kenaikan Harga/ Pencabutan Subsidi BBM

Hari/Tgl: Rabu, 28 Mei 2008
Waktu : 19.30 wib onwards
Lokasi : Senayan
Ketentuan: RSVP

Besar harapan kami agar kamerad sekalian dapat hadir dan memberikan sumbangsih ide maupun pemikiran, sebagai tindak lanjut dari serangkaian diskusi maupun debat secara online yang telah kita jalani bersama selama beberapa minggu belakangan ini.

Acara ini tertutup hanya bagi pendiri maupun anggota aktif, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk turut dihadiri pihak observer yang telah menerima undangan. Dengan catatan, kalau observer ybs sudah selesai ujian nya di Wijaya lhoo... *grin

Photo Albumsuatu malam di Surabaya (6 photos)May 12, '08 12:22 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


+ Kok J-Co?
- Kenapa enggak?

+ Ya nggak apa2. Aneh aja. Biasanya yang kesebut kan, Starbucks atau yang lain
- Karena tempatnya nyaman, dan nggak anti rokok kaya’ kalau di Starbucks.

+ Oks then. Where and when?
- Tonite, Galaxy Mall, at 19.00.

Selesai kelas sertifikasi, 2 (dua) jam menjelang janji ketemu pengarang tenar favorit gue sejak lama ini, hehe (review dapat dibaca di sini: Soulmate -- Belahan Jiwa) Kok ndilalah, bawaannya jadi rada males dan malah kepengen berenang ya? Biar nggak ketiduran, langsung deh gue berangkat. Mengutip lagu rakyat setempat, mlaku-mlaku dulu nang Tunjungan.*grin

Got something to be bought, demikian pesan ku ke HP Stef; meminta maaf atas kemungkinan keterlambatan. Ternyata dia sendiri masih dalam perjalanan. Ngecek arloji; aman – masih ada cukup waktu. Walau sejujurnya, gue sama sekali nggak kebayang di planet mana kah Galaxy berada, heuhee.. Dan bahwa ternyata Mall Tunjungan itu besoarrr sekali, melebar kemana2, DAN nggak ada peta panduan. Damn.

Tergopoh2 sesampainya di J-Co Galaxy, sofa2 yang masih tak bertuan membuat ku alihkan langkah kaki ke tempat favorit; TB Periplus, sepengkolan jarak dari janji bertemu. Tiba2, sesosok tubuh ramping melintas dengan cuek, dan sehentak ku panggil namanya. Dia pun menengok dengan terkejut, dan complaint, kenapa gue malah ke Periplus? Lho, lha elo sendiri? Gue sih pergi karena gue pikir dia bakal terlambat, pun J-Co tadi masih kosong. Ternyata dia berpikiran serupa, dan kami pun tertawa. Malah lanjut liat2 Periplus deh, kebetulan dia sedang mencari sebentuk buku untuk tugas kuliahnya .

Ohyawh, baru ku tahu ternyata dia masih belajar S1 ttg Sastra Inggris di Universitas Petra, Surabaya. Agak terhenyak juga, karena selama ini ku pikir dia tidak semuda itu, atau sedang menyelesaikan tingkat Master. Masih 21, mas! Ungkapnya dengan tenang. Oh, damn! How young! Hehe.. Obrolan pun berlanjut, lama dan dekat. Dengan rincian yang, ku pikir kurang sesuai untuk ditampilkan di sini.

Sayang kami berdua sedang kurang sehat, tetapi dia lebih lagi. Hingga ku putuskan untuk menggenapi pertemuan. Yang ternyata malah disambung dengan kunjungan memenuhi pesanan bokapnya. Juga ke tempat favorit kami berdua yang lain; TB Gramedia (teteup!:p) Di sini dia pun masih gagal mencari buku yang dibutuhkannya, tetapi gue malah sukses nemu terbitan baru tentang Patch Adams. Sayang sepertinya dia kurang tertarik pada dunia kedokteran. Padahal bokapnya dokter, lho. Ya sudah, jaga kesehatan ya, Stef. Ada bokap yang bisa ditanya2’in.

Till me wet again! Had a great nite with you!

walau berakibat gue kelaperan karena dia nggak mau diajak makan,
aaahhhhhh… :p


Surabaya, 6 Mei 2008
JWM 1519


Photo AlbumLike Dream Comes True (5 photos)Mar 29, '08 7:17 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Balik ke Jakarta habis menerabas hutan2 Sumatra dengan gaya off-road, bukannya sukses leyeh2 di kamar, ternyata malah musti langsung ribet ngurus mobil di Soepomo (Tebet) plus beberapa hal lain di Ambas. Sempat dipaksa buat mampir ke kantor, alhamdulillah nggak tergoda.:p

Dari Belaggio residences, nyempatin dulu santai di trotoar dekat XL; mampir makan nasi goreng abang2 sambil menikmati kerlip lampu Mega Kuningan. Buat yang belum tahu, maklum lah, saya ini memang agak2 lemah iman saban kali ngeliat gerobak nasi goreng kaya gitu, hihi.. Tapi kalo nasgor made in Mall malah kagak doyan tuh! Selain sayang juga udah ke tempat begituan kok malah makannya cuma nasgor; bisa2 “nggak balik modal”, atuh! *grin

Sambil makan, sibuk ngelayanin beberapa telepon dan nge-relpy sms. Ternyata malah ada ajakan mendadak buat ketemu dengan Cynthia. FYI, selama ini tuh dia ngambil PhD di Jerman; jadi kebayang dong, jangankan ketemu, bahkan sekedar ngarep aja gue kagak berani..hehe. Awalnya sih niatnya di Starbucks PS. Tempat yang belakangan diubah sendiri olehnya menjadi Bakerzin.

Protes! Apa enaknya Bakerzin? Semua rasanya serba tanggung. Lagian kami berdua kan sesama fanatikus Starbucks, heuhehe.. Tapi berhubung dia nya maksa, ditambah sedikit bujukan, ya sudah lah. Mudah2an aja sekalian dibayarin (ngarep.com.:p).

Bodohnya; udah confirmed kaya gitu, bukannya langsung ke sana, gue malah teuteup ngelanjutin ke Ambas. Yang ternyata se-jublek penuhnyaaaa…. Lupa gue kalo kemarin tuh weekend pertama habis gajian. Maklum, orang utan yang baru masup kota! Udah gitu Mega Kuningan sampe Semanggi aseli macet dan brenti total. Alhasil, musti berjuang setengah mati buat mencapai PS. Dan si mbak menanti ku sampe nyaris 2 (dua) jam. Duhh..maapppp…!! Tapi tampang manyun nya malah keliatan lucu sih, kekeke.. Walau agak2 nggak yakin juga, jangan2 itu kamuflase doang; padahal sebenernya udah pengen ngegaplok! :-)

Teman2nya yang juga ada di sana ternyata, here and there, ada aja hubungan keterkaitan satu dengan lainnya – termasuk dengan gue. Emang bener Jakarta sempit. Cynthia sendiri tuh sepupu langsung nya temen kuliah gue pas di Bandung dulu. Trus salah satu temennya dulu pernah kerja di grup perusahaan yang sama dengan gue.

All and all, seru juga ngobrol2nya! Bener2 nggak nyesel, kehilangan waktu tidur gue :-) Plus sukses ngompor2-in teman Cynthia buat ngambil Master di ITB bareng gue, huehehe -- mustinya gue dapat komisi dari kampus nih yah.


Jumat, 29 Mar 2008
22.30 wib


PS:
Untuk gue yg skeptis, Cynthia merekomendasikan nyoba'in Iced Cafe Mocha nya Bakerzin. Not bad.


Blog EntryCinta dalam Sepotong RotiFeb 27, '08 2:49 AM
for everyone

Bagaimana setangkup roti yang,
Terulur oleh halusnya selentik tangan,
Dengan sentuhan senyum dan tatapan,

Menakar dalamnya persahabatan terperi,
Atau mengukir tulusnya perhatian bermakna,
Maupun segenggam asa dan segudang tanya?


© terbanglah lebih tinggi
Jakarta 12870 Pancoran
Rabu, 26 Jul 2006 – 07.41 AM

 
** judul dikutip secara bebas dari sebuah film monument
al karya Garin Nugroho
** sebuah insiden dg seorang sahabat, di waktu yang telah lalu (nearly 2 ys ago)

 

Blog EntryGood ReadsFeb 16, '08 10:57 PM
for everyone


I always boasted myself to be an avid reader, and I mean not just loving it like that, but really-really into it.

I always see books (and magz, and papers, and other readable materials; in this case) passionately and eagerly, longing to explore it further. Even once in a while I managed to have some time between hectic schedule to read whenever I could, e.g. on the bus, whilst waiting on something (or someone *wink!),  

But there were some times that you, admit ably, can hardly face it anymore, and all you can do is just sit there, looking at the bulge of the (un)read(able) materials -- helplessly. Especially after having had a hard day-long sitting in class, discussed the way through few syndicated groups, presenting the papers and argued over it, firing some tough questions and got some even tougher retaliations (hehe), and endless things like those.

The main difference is, usually we got the whole Sunday to be our me-time; though, and of course, shall be individually allocated to our best. But today we have an additional compulsory class. Correction: we are having 5 (five) additional classes in a row, to be exact; in financial management, corporate planning, several real world case studies, and the likes.

And when the lecture first introduced him earlier this morning (at 8 am sharp, that is!) and inquired whether we have done our homework and learned the required pre course readings, none of us had confidently responded it, but few hesitated answers. I mean, Imagine those wives, husbands, children (or Dad, in my case), spouse, friends, etc, that waited at home to no avail, well, mostly, to spend some quality weekend time with my dedicated classmate. Where were they, when we crunched those materials last nite? Neglected, of course.

No wonder there are little enjoyment smelled in the air rite now. *grin


On additional Financial Mgmt class,

Sampoerna Strategic Square, North
Tower, 23rd floor,
Jakarta
, Sunday, Feb 17, 2008

between 08.00-18.00 wib





Concerning the previous post of mine, posted here, I would like to thank you folks. For the supportive comments thrown and, err… for not that positive ones I found out whilst blog walked and browsed around this virtual neighborhood, and I say again, the “neighborhood”.

For that last part, you should know who you are, fellows. Only due to some circumstances or wise considerations, I am still not reaching that part ie to declare an open skirmish with you. Nevertheless, you gotta to believe me, that when it happened, I can simply assure you, that you’re gonna feel more than sorry for such cowardice acts for all this time. Gheezz.. 

Disclaimer:

Serendipity part Deux was not mean to promote anything (with bold line) nor anyone other than the amazing phenomenon of this hectic place called Jakarta with its busy people running around the clock. Otherwise, any disagreement arose nor sarcasm thoughts popped up could be directly addressed to me, and I would be more than happy to deal with. Thank you.

 
Jakarta, Jan 26, 2008
12.31 wib

 

Blog EntryOut of Sight, Out of MindDec 23, '07 5:15 AM
for everyone


Wow, I don't recall that I deleted you from my contact, and erased your comment from my profile..
As a matter of fact, I never intended to. Dunno what was going on, though. Well then, I added you once more, dear.. :-) Btw, how's life? Better, I suppose. Hope so, as always..

To a soul from my past whose I found out this very afternoon had deleted my name and my words from her profile for good, the message was sent.

Can hardly figure it out why.. After all, we both are grown-ups, rite? So let's cup the crap, clean up the wounds, and shaking each other hands and heal the hearts..

Life is all about choices - take your chances, and be committed to it.
For whatever it takes.

And I will be okay.**


working at home, and daydreaming
Sunday, Dec 23, 2007
- 17.03 wib


PS:
at first I marked this post as "private", my first time to do it. But seconds after that, I changed my mind - what the heck. I treated this journal as my photo album anyway; of old memories, of wondering passed by, of moments faded away.

PS.PS:
The line "I will be okay" was taken from the scene & the soundtrack of "My Best Friend's Wedding", a 1997 very touching movie played by Julia Roberts, Cameron Diaz, Dermot Mulroney, Rupert Everett. The soundtrack was performed by Amanda Marshall


Suggested Mood:
"If Only for the Moment, Girl"
performed by: Steve Perry



Blog EntryClass Revolt!Nov 27, '07 6:16 AM
for everyone


Gue dari dulu paling nggak suka ngeliat mahasiswa pintar yang belagu. Mereka selalu ngaku nggak bisa ngerjain soal lah, belum ngerti materi yang diajarkan lah, takut gagal lah tiap saat menjelang ujian, dsb. But you found out that they are the ones who come out from the class as the highest achievers. And
you left behind felt betrayed. Damn.

Untuk informasi, pintar tidak selalu berarti cerdas, tapi biasanya mudah dikenali dari:

  1. frekuensi kehadiran di kelas,
  2. jumlah tugas/ paperwork yang dikumpulkan,
  3. ketepatan waktu kehadiran maupun saat pengumpulan tugas,
  4. kuantitas jam belajar yang didedikasikan,
  5. ada tambahan? Please.

Sebenarnya semua kualitas di atas sebaiknya juga dimiliki oleh semua mahasiswa yang baik dan benar ber-semangat ’45 serta berjiwa Pancasila (mulai berlebihan, hehe); terutama karena apa lagi yang harus dan/atau bisa dilakukan agar tercapai tujuan belajar itu sendiri – penguasaan materi yang (kalau bisa) sempurna?

Tapi dalam dunia kerja seperti saat ini (asumsi: elo kuliah sambil kerja), apalagi dengan kombinasi mematikan berupa jadwal kerja yang padat dan selalu berubah, hingga seringkali berbenturan dengan hari-hari kelas (yang sayangnya -–ternyata-- bisa berubah juga, sigh..), juga dengan tingginya tekanan maupun beban pekerjaan itu sendiri; sepertinya ciri-ciri kepintaran tradisional seperti di atas tinggallah sebagai sebuah utopia.

Yang terlambat gue sadari adalah, ternyata banyak teman sekelas gue yang termasuk ke dalam golongan high-achievers, dan mereka bangga atas nya. Ya iyalah.. kalau elo bisa ngeliat data-data pribadi mereka, pasti elo akan terkesima dan ngerasa takut kaya gue, hehe.. Misalnya ada yang wartawan senior harian terkemuka, ada yang manajer di satu perusahaan minyak asing, ada yang Vice President salah satu konglomerasi Indonesia, ada yang Senior Geologist, malah ada yang udah jadi CEO di perusahaannya sendiri yang udah buka cabang di Singapura. WOW!

Be noted that I don’t mean to judge anybody here.

Tapi ya, sedikit banyak, merujuk pada definisi subyektif gue di atas, mayoritas dari mereka bisa digolongkan sebagai mahasiswa pintar. Ambisius dan/atau high achievers, itu pasti. Dengannya, otomatis mereka juga adalah para pekerja keras, dan tahu apa yang mereka mau.

“..bahkan seekor cacing pun akan menggeliat bila diinjak..”, demikian pemuda Sukarno konon pernah berkata dalam eksepsi nya yang terkenal, “Indonesia Menggugat”.

Maka tidaklah aneh bila seminggu terakhir ini, teman-teman tercinta itu (Disclaimer: tidak selalu berarti mereka yang gue sebutkan sebagai contoh di atas), melalui media email langsung kepada otoritas kampus dan/atau korps dosen, maupun melalui gerundelan sesuka hati pada mailing list kelas, teman-teman kaum pekerja kantoran berkerah putih yang terhormat yang berkiprah di industri minyak dan gas, pertambangan, jurnalisme, kelistrikan, IT, dan pemerintahan serta penentu kebijakan, tiba-tiba lantas bertransformasi menjadi kaum revolusioner yang keras dan bersemangat. Memperjuangkan hak mereka yang dirampas. Menjadi vokalis kelas. Para eselon 1. *smirk!

Okay, we already paid quite a fortune for the class. As a matter of fact, the school is one of the most expensive programs available in town. Some said ie is the highest, indeed. Perhaps due to the quality offered and of course thanks to the establishments behind it; the Bandung Institute of Technology and the Sampoerna Foundation. Not to mention other not-that-clearly-be-seen institutions and bigger-than-life-personas 1) involved; either directly or indirectly. Moreover, to enable ourselves to be granted on one of the limited seat, we already challenged by the best, and by each other. The admission test itself was one of the toughest I have ever been, for sure 2).

Therefore, the bulk of the class considered it is not just legal, but also our righteous rights to ask for the best in returns. Otherwise, it would be simply insane. Perhaps also be irresponsible and humiliating for the school itself.

Emang, apa aja sih yang diminta? Banyak dan highly demanding. Namanya aja customer, hehe. Eksekutif pula! Tapi untuk kasus ini, lebih kepada tuntutan teman-teman sekelas yang setelah sekian lama mengikuti kelas “Financial and Management Accounting (currently is still on going)”, ternyata kami dihadapkan pada beberapa halangan, yaitu:

  1. We are wayyy.. behind schedule
  2. Banyak yang nggak ngerti alias totally nge-blank
  3. Upaya mayoritas untuk meminta kelas tambahan, sebagai solusi No.1-2.
  4. Hal-hal lain, misalnya tingkat konektivitas Wi-Fi (maaf ya, Belle, chatting tadi pagi putus-nyambung terus), makanan, Air Conditioner, dsb.

Juga ada masalah lain yang berhubungan dengan kelas sebelumnya, “Regulations on Energy Sector in Indonesia”. Kalo ini sih, soal waktu UAS kami yang akan datang. Well, due to some ethical reasons, I can’t tell you much but merely to say that there are, uh.., this dispute between my fellow classmate against the faculties. Intinya terjadi masalah yang sedikit banyak hampir sama, lah.

Sejujurnya, gue bukan tipe mahasiswa yang sangat peduli pada apakah gue akan dapat nilai akhir “A” atau “B” untuk suatu mata kuliah. Yang penting, apakah gue bisa mendapatkan nilai tambah dari apa yang gue pelajari (atau gue lakukan), dan lebih jauh, pandangan seperti ini pun selalu gue terapkan dalam kehidupan gue sehari-hari. Dari situ elo bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa gue bukan lah tergolong dalam para high-achievers tersebut.

Seperti yang gue jelaskan lebih rinci dalam artikel “Pendidikan yang Membebaskan” beberapa waktu yang lalu; sekolah atau kuliah yang seperti apa pun tidak akan pernah ada gunanya kecuali sekedar selembar ijazah. Karena gue percaya bahwa semua itu hanyalah sebuah alat, dan bukanlah tujuan itu sendiri. The most important thing that can be achieved from YOUR education is attitude. Change of things. An open minded.

Sayang sekali masyarakat kita masih teramat sangat menghargai hasil, yang dalam hal ini, salah satunya, dilambangkan dengan sehelai ijazah, daripada proses yang perlu dilakukan untuk pencapaiannya. Digabungkan dengan perilaku high-ahcievers tersebut, maka dengan mudah terjadi pergeseran dalam hal cara memandang mana kah yang cara dan manakah yang tujuan.

Tentunya ini bukan soal salah atau benar, akan tetapi perbedaan sudut pandang ini membuat, uh, ketidaknyamanan pada pihak lain yang bersuara minoritas dan bertendensi sebagai tidak-vokal. Dan yah, sorry to say and no offense, lama kelamaan kok berbagai keluhan seperti ini jadi terdengar manja, childish, selfish, dan terasa berlebihan ya? Padahal apa sih resiko kuliah itu?

Terhadap mereka ini, rekan-rekan yang tercinta, gue hanya dapat mencoba untuk bersikap sopan dan menahan diri. Akan tetapi lama kelamaan tervisualisasikan juga kencederungan keberpihakan gue, hehe..

Guys, we're all mature people with our very own liabilities; work, familiy, organization - you named it! So let everybody face it as their own responsibilities. Start the class at 18.30 sharp for Tuesdays and Thursdays, and 08.00 for Saturdays! Nggak perlu repot memundurkan jadwal hanya karena ada beberapa orang yang terlambat dengan berbagai alasan. Coret saja absensi yang bersangkutan tanpa kecuali. Gitu aja kok repot!

Jangan hanya karena ada beberapa yang terlambat lantas satu kelas harus ikut-ikutan terlambat. Jangan hanya karena ada beberapa yang nggak ngerti materi lantas satu kelas harus ikut kelas tambahan.

Namanya juga kuliah; kalo lo sampe telat, bolos, atau dapat nilai jelek, ya itu emang udah resiko nya. Kenapa harus panik? Kenapa harus takut? Pilihan telah diambil, dan kita harus bertanggungjawab atasnya; baik kepada diri sendiri, keluarga, kantor (bagi mereka yang memperoleh beasiswa), kampus, masyrakat (dalam bentuk partisipasi aktif) dan, tentu saja, kepada Tuhan.

Life is a matter of choices.
Take your chances,
and be committed to it.

Tapi yah, mo gimana lagi? Gue sih tetap masih pilih “slip gaji” daripada nilai. *grin! And the classmates laugh.
 

Sampoerna Strategic Square, Tower B, 9th Fl.,
Prapatan Sudirman-Cassablanca,
Jakarta
Saturday, Nov 03, 200709.58 am

Related Article:

 
Notes:

1)     Photo courtesy of TLT, Oct 06, 2007. Disclaimer: only served as an illustration.

2) As informed by a close friend, ie her Dad, a prominent business man in Indonesia’s energy industry was standing close by the preparation stage of the program. He even got further by planed to send her younger daughter (also a friend of mine) to enroll for the upcoming class next year. Can hardly wait for that!

3)     Another one hell of a kind were the admission tests of:

  • The place where I am working for now
  • PricewaterhouseCoopers (I got in!)
  • KPMG (because I didn’t come from a certain race *wink2!:p)
  • Philip Morris aka Marlboro (they said that I wasn’t into Sales Area Mgmt)
  • Bank Indonesia, Pertamina, McKinsey… ugh, they didn’t even invite me, heuhehe..

Blog EntryMessage for a FriendNov 11, '07 3:06 AM
for everyone
 

Every now and then, every single breath we take
we shall learn something new; be it better or worse.
Whatever it is, whatever it was, whatever it would be,
that's our very own private silver lining(s), indeed.

And how precious it is, to complete our life..

* wish you enough, dear..


© terbanglah lebih tinggi
Jakarta, Home, Sunday,
Nov 11, 2007 - 15.00 wib


 

Blog EntryDifferent World, Different LifeOct 4, '07 8:51 AM
for everyone

 

 

-  Hi, darling. Glad that you can make it. Let’s sit over there, under the stars.

+ Hi mbak, apologize for being sooo damn late. Had a meeting and a dinner with Pertamina. That spot seems nice. Sure.

 

-  Come. Meet Mr A and Ms B from Design Magz*

+ Huh? (blank expression) Hi there, nice to meet you (smiling warmly)

 

+ (whispering to my date) Pardon me, what Design? Are they you’re office colleagues, from the interior design or architectural function or something?

-  (not listening) …and this is Mr C and Ms D from ABC Magz. You know dear, THE abc Magz from Bandung? (sounded excited and thrilled)

 

+ (started to feel uncomfortable) Hi, how are you (shaking hands and made friendly gestures)   

-  (continuously sparkling) And here’s another, Mr E and Mr F from the well known XYZ newspaper, and over there are our friends from Megapolitan TV. Uh, it’s Dian Sastro, there. Beautiful, isn’t she? It’s her boyfriend. Damn, he’s hot!

 

+ Gorgeous, indeed (uneasily waved and nodded) Ugh.. nice meeting you, folks!

-  (begun to notice) Don’t you know abc, dear, THE magz?

 

+ Huh? You mean, they are not your office mate..

-  Nooooo… They are our invited guests, the media people.

+ What magz? Never heard of..

-  Are you sure? They are hugely popular.

+ Positive.

 

We looked at each other, and suddenly an understanding came to us. We both laugh. Yeah, there’s nothing wrong. It’s just a different world, from another different life. As simple as that! *grin Let’s just enjoy the nite and warming up the chat, shall we?

 

X  (her boss, suddenly smiled to me) Sorry again, from what media are you?

+  ………………… (oopss..!!) **

 

 

© terbanglah lebih tinggi

Grand Mahakam, 6th fl, by the pool

A glittering nite of Jakarta skyscrapers

Wednesday, Oct 3, 2007 – 22.30 wib

 

 

PS:
*        to provide anonymity, no real names mentioned.

**      be noted; I’m not working for any media, hehe..

 

 


EventBreak the Fasting - Begor Suryo, JakartaOct 1, '07 5:12 AM
for everyone
Start:     Oct 1, '07 5:30p
Location:     Restoran Begor Suryo, Jl Suryo 16, Senopati, Jakarta Selatan
To : Milis Medco Energi
Cc : medcoenergi-moderators
Subject: Break the Fasting for ALL


Dear friends and colleagues,

Why limit our interaction merely virtually on the mailing list? Let's talk and see each other in reality! We could get to know each other, and perhaps share some new or probably common things together. Who knows what's gonna be happen next?

Therefore, you are cordially invited to participate in breaking our fasting (for those whose celebrate it), and to meet and greet with all of us. For this initial Off Air moment, and for practical reasons, we already set the place and the date, ie:

Location: Restoran Begor Suryo, Jl Suryo 16, Senopati, Jakarta Selatan
Date : Monday, Oct 1, 2007. Begun at 17.30 wib
Mode : Go-Ducth, pay by your own

Because you'll never know unless you try..


Regards,
TLT
Co-moderator,
Mailing List Medco Energi


PS:
RSVP needed by replying to this email
(japri/ direct reply - not to the milis)



ReviewReviewReviewReviewReviewIt’s Called a Break Up because It’s BrokenSep 16, '07 2:07 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Health, Mind & Body
Author:Greg Behrendt

This book was all an eye-opener, I gave it a full 5-stars right from its first pages without hesitating. It is highly recommended.

The title may suggested that it was intended for girls only, but if you let your mind open, and ready to use that scalpel to bravely cut deep down into your very heart, than you’ll realized that it actually could universally be applied; either to girls or even boys. The ones out there whose keep asking themselves of “why?”, and worn their friends out with their never-ending questions.

Over a year ago, my dearly friend, Cecille, lend me the book when somewhat she got really concerned of me complaining this and that about it. Of my wish and daydreaming sighs had I done something different, would it be that matter? She simply said NO, and virtually of course, slapped me on the face. And said,

You’ve done enough, you know that I know from the very beginning, and I did know that you knew, too. Moreover, bear in mind that you also know that this is the truth: she’s just not that into you. I told you that thousands of time, and you didn’t listening. If she felt that it is okay for her to do things like these, then she’s not that precious for you.

Yeah, when men fall in love, he cannot think of everything else *grin

I know that it is very hard for you to know that your ex had found someone new, especially when it happened that soon. And I know that it is very disturbing that you are not really understand why that happened. Or whether it was happened after you broke up or had been initially before. Well, mind that suspicious thing from your brain, dear friends. Because it would be no use anymore. Yet try to see it from another perspective. Trust me.. When I look back to my past, I am smiling.. :-) Why? B'coz I learn from the past..

It's good that you've already can look back & smile, girl. I envy you, dear. In my case, well, of course she could that easily moved on, and found somebody else, because she was the one who took the step. Ah, never mind. It doesn’t feel that matters anymore.

Behrendt also said that it wouldn't matter, because nothing would stop someone from being with the one’s another half s/he's really into, and if there's a problem, s/he would maturely discuss it in order to stay with her/him, instead of just using lame excuses to leave.

According to the book, it happened because she lost all the romance even long before the judgement day. Thus when the verdict fired (ta’elaaa…!:p), maybe she felt sorry for us, perhaps also a little bit guilty; but the biggest thought that would ever came up to her mind was: “..relieved..”

I have noticed this on her, even right away at the devastating moment. Do you still remember that when those mighty words had been spoken, I instantly asked her to do self-evaluation and made personal review of what had been through, of the relationship? For my better or worse? I shall honour her decision, though. But one cant help when a final last cry wondered through my dizzy mind:

Is it the perfect one or JUST the perfect timing?
…………..

What is there to say when all the love
has slipped away in half a minute.

There is always something we can blame,
but in the end it's just the same -

Suddenly, you find yourself alone.


[Basia - Half a Minute]


Originally composed at
Thursday, Aug 31, 2006 - 8:09 AM
© terbanglah lebih tinggi


Note:
* Parts of the article above was taken from a chat with my dearly friend, Cecille. The one who lend me the book, and dedicated her empathy. Appreciated her much.



Blog Entry300, akhirnyaa..Jul 29, '07 3:14 PM
for everyone

 

 

Akhirnya berhasil juga tercapai. Lebih baik, malah; gue bisa mencapai 290..hahaha.. Mantabb… Itupun dari pandangan sekilas tadi gue pikir gue masih bisa dapat “nilai” lebih baik lagi. Tapi untuk sementara, biarlah. Inipun sudah cukup bagus. Let’s see what’s next.

 

Nggak gampang, itu jelas. Tapi bukan berarti lantas nggak tega, dan lantas jadi mending dibiarin aja. Ntar malah menuh2in gudang dong.. oopps..!! :p

 

Ngomong2, angka yang gue sebut di atas sama sekali nggak ada kaitannya dengan review gue atas film “300 [an Utopian Fantastical Heroism]”, tapi lebih condong ke jurnal ini: “Friendster dan Gue”. Now, regarding the title of this journal, can you see what I see? *wink!:p

 

 

Jakarta, Monday

070730 – 02.12 am

© terbanglah lebih tinggi

 


Blog EntryPeran PerempuanJun 14, '07 4:11 AM
for everyone

renungan Hari Kartini utk seorang sahabat,

artikel asli dikirimkan dalam bentuk email

(artikel terkait: Untuk Apa Hari Kartini Diperingati)

© terbanglah lebih tinggi

 

 

Ris,

Aku kok masih kepikiran aja ya, komentar dirimu pagi tadi; tentang kau yang nggak mau ikut rapat penting di gedung WTC Sudirman dengan Y dan E. Tapi kau elakkan tugas mengerikan itu dengan cara memberikan alasan bahwa,

 

"...aku kan perempuan; nggak perlu karir (tinggi);

nanti juga pensiun, harus urus anak, dapur,bla.bla.."

 

Terus terang, aku nggak setuju banget dengan komentar mu yang seperti itu. Apalagi karena aku tahu bahwa sebenarnya kau nggak mau bergabung semata hanya karena "males"J Jadi, ya sudahlah, nggak perlu kau gunakan alasan yang bombastis seperti itu.

 

Tapi di samping itu, aku merasa bahwa alasan itu sebenarnya malah terbalik; alias kau menggunakan alasan "males" itu cuma sekedar untuk menjadi pembenaran dan penggampangan diri – demi nggak usah ikut. Dan terbebas dari tekanan penjelasan yang dikritisi semua. Yah, daripada ngomong yang bombastis seperti pagi tadi, dan telah sukses membuat semua yang mendengar jadi mengerutkan kening, kan? Dan omongan seperti itu rasanya kurang cocok bila diterapkan ke sembarang orang, kau tahu itu.

 

Why I didn't agree?

 

Mengapa? Dan merujuk pada argumentasi mu sebelumnya, karena aku percaya bahwa (seharusnya) perempuan punya hak atas kesempatan yang sama dengan yang diperoleh pria.  Whilst life, is merely a choice anyway.

 

Ris,

Ini hanyalah masalah pilihan. Dan kau tahu tentunya setiap pilihan tersebut punya resikonya masing-masing. Misal, seperti kau tadi bilang, harus bolak-balik repot menitipkan anak ke mertua tiap hari kerja, sementara sebelum berangkat tiap pagi masih harus mengurus anak+suami dulu, dan untuk itu kau terpaksa punya 2 (dua) mobil untuk satu digunakan kau dan suami sementara satunya lagi untuk antar-jemput anak (dan mertua) sehari-hari, etc..etc..

 

Okelah, secara sosial, masyarakat kita (Indonesia) memang masih sangat paternalistik. Masih untung bila mereka tidak terjebak dalam male-chauvinism. Masih untung bila tiada pria dalam keluargamu yang merasa diri Tuhan Semesta Alam. Masih untung bila kau masih memiliki sepasang telinga yang mendengar, segenggam belaian yang hangat menghibur, dan sejumput bola mata yang menatap mu penuh cinta – tanpa peduli apapun. Entah kerutan di wajah, entah usia nan membentang, maupun jarak dan waktu yang tercipta.

 

Dan masyarakat itu hanya bisa memandang dengan sinis atas berbagai wanita menakjubkan yang senyatanya ingin mengaktualisasikan diri nya. Hanya bisa menghakimi dengan sewenang-wenang atas mereka yang berkeinginan untuk mengamalkan tahun-tahun kuliah mereka yang berat dan mahal, ataupun mereka lainnya yang hanya sekedar mencari tambahan asap dapur dengan cara bekerja.

 

Ris, 

Apapun alasannya, aku sangat mengagumi para perempuan seperti itu; yang dengan sadar dan bertanggungjawab menjalani pilihan yang (relatif) lebih berat - demi keluarga yang dicintai, sekaligus demi dirinya sendiri. It's all about life balancing. And I know it's not that easy. I humbily bow myself to them.

 

Adalah hak kau (dan semua wanita hebat lainnya) untuk meraih, menciptakan, dan MEMPERJUANGKAN kesempatan yang sama dengan pria manapun di seluruh dunia. Pun di Indonesia. Apapun alasannya.

 

Ris, 

Tentunya kau masih ingat padanya, kita berlaksa kali berdiskusi tentangnya. Dia, seorang perempuan hebat, pengacara muda yang cerdas; yang dahulu sempat dekat dengan ku pernah berkata dalam salah satu diskusi kami :

 

“..bahwa perempuan - nggak perlu sekolah tinggi, (bisa) mendapatkan jodoh yang tepat, (could) be a good mother, blablabla.. Bahwa perempuan akan terus menghadapi berbagai masalah pun ekspektasi lingkungan yang sama – tanpa peduli di Negara mana, dan tahun berapa.."

 

Aku mengerti kerutan di keningmu. Ya, mungkin dia memandang dari sudut yang lebih ekstrim; bahwa lelaki adalah najis, atau bahkan musuh bersama (I know what made her spoke like that, and yet I dont fully agree with her), mungkin tidak semua perempuan akan setuju, atau bahkan mengalaminya. Tapi ya, sedikit banyak kesimpulan seperti itulah yang akan langsung terlintas dalam benak. Dan tentunya itu nggak bisa dipersalahkan. Terpulang hanyalah bagaimana disampaikan pun diamalkan.

 

Ris,

That really shows what a male-dominated world we're living in. Menyesakkan bahwa walaupun nyata beberapa dekade telah terlampaui, tapi tetap saja kemajuan isu persamaan jender berjalan dengan amat sangat lambat. Dan karenanya perempuan tidak akan pernah lepas dari stereotip yang itu-itu saja.

 

In the end, do allow myself to just keep on wondering; when woman would (or could?) finally be able to achieve their freedom to have what they want - to take their chances? Dan tidak (lagi) tersandera dengan alasan sederhana; suami, anak, maupun keluarga?

 

Karena, justru demi mereka lah; perempuan (terutama yang bersuami) seharusnya berjuang meraih impiannya! Bersama meraih cita-cita.

 

To be equal partner - in love, .. and life..

 

 

Jakarta 12870 Pancoran

060421 212900

 


Blog EntryNice Week to be, …May 15, '07 8:54 AM
for everyone

 

Hi dear!

 

Hahaha, akhirnya pake email juga ya; berhubung ada yang lagi pengen banget curhat ke gue tuh, tapi terkendala hal2 teknis.. heueheh.. Maaf yaa.. Setelah semua akses diblok, biasanya sih gue tetap masih bisa ym-an; itu lho, nyambungin laptop gue ke no fren, pake PCMCIA card. Cuma kok ya ndilalah, pas semalam tuh pas plafon nya habis..hehe..

 

Duhh, pasti lo sekarang lagi sebel banget dong! Habis kaya nya rencana cuti nya udah mateng+seru banget tuh! Gue aja yang cuma kebagian baca udah ikutan seneng! Sama temen2 yang mana & mau spa bareng kemana nih? Ke Javana Spa di Sukabumi atau ke Rumah Cantik Citra di Senopati? Yang gue tahu hanya 2 tempat itu sih, nggak asyik ya? Hehhe.. Wahh, mau kemanapun, sepanjang judulnya spa - apalagi bareng teman2 lama; pasti dijamin seru dan senang tuh! Apalagi kalo habis itu pas udah seger, terus malah disambung jalan2 bareng. Elo gitu lhooo..heuhehe.

 

Pantesan tadi ada yang sok2an jaim kagak mau diajak makan siang bareng; rupanya lagi ada acara training. Jangan2 training nya di kantor baru mu yang di ujung dunia itu yah? Hhehee.. Sedannggakan gue aja ini barusan balik habis makan siang di Blok S! Makan ayam penyet duoonggg...!! Mau?

 

Eh iya tuh, pas semalam habis nutup telepon, sbnrnya gue agak2 nggak enak karena lupa titip salam buat pacar (*halah!:p) sama nyokap. Tapi mau telepon lagi atau samas kok kaya nya percuma dan malah jadi ndak lucu ya. Jadi, yawessss...

 

BBB.. ummm.. sebenarnya mau ketemuan lagi sih, rabu besok; pas acara 5th anniversary nya starbucks di Indonesia. Acaranya by invitation only tuh; jadi mayan, itung2 gratisan, huehuhee... Sori ya, ndak ngajak dirimuuuu.. Habis nggak enak, bisa2 ntar gue ngambil jatah “yang lain”! *grin

 

Btw, ada kandidat lain sih, sebenarnya. Gue baru aja kenalan seminggu yang lalu. Tapi yaa gitu deh.. agak2 ragu juga. Ngobrolnya sih enak, tapi kok kaya’nya ”beda dunia”, ya. Dugem banget tuh. Teruss.. belum lagi ada si CLBK yang entah kenapa walau sebenarnya jarang banget ketemu gue, tapi kok tiba2 hobi banget ngasih sinyal2 seperti zaman dulu lagi. Dan kontak mata. Dan senyuman. Dan bahasa tubuh. FYI dulu gue males ngelanjutin karena sekantor, dan karena status gue dengan ABCD masih ngambang2 nggak jelas. Lo tahu gue kan? Satu ya satu aja. Selain gue juga ragu karena CLBK ini banyak banget peminat + saingannya, dan gue kuatir dia tuh cuma tipe2 yang senang dikelilingi cowok demi punya banyak pengagum (gemini gitu lhoo). Apalagi sohib gue CS, yang temenan ’mayan deket sama si CLBK ini; udah teramat sangat melarang gue buat bertindak lebih jauh. Kata CS, dia takut kalo nanti gue ditolak mentah2 (sementara menurut bokap+mbak gue; itu karena CS sbnrnya naksir gue & cemburu.. huhehahahe... you wish!)

 

The question is, as also believed by you dear, can we share some heart to another, whilst still trying hard to give it to someone else? You know the answer is "NO, never". We both believe in it anyway. You also would say that I'm such a man with honor, and thus wouldn’t ever do that.

 

Would I? Or, should I? As I said, life is only a matter of choice. Too idealist? Guess not. Just being me. And quoting Five for Fighting,

 

Even heroes have the right to bleed,

Even heroes have the right to darieam,

(and) It’s not easy to be me..

 

Classic, eh? Yeah, rite..

 

 

[TLT, Monday, May 14, 2007 - 13:51 wib]

-------------

 

 

Pagi bro,

 

Gue tuh tadinya rencana mo cuti hari jumat besok, kebetulan kan di copi judulnya cuti masal. Tapi kantor tetap buka bagi mereka2 yang nggak bisa cuti. Trus Jumat itu gue udah janjian sama temen2 lama gue, mau spa bareng. Pas bos gue juga long weekend ini mo ke Bali, jadi gue cutinya juga enak lah kalo dia nggak ada. Eehhh pagi ini kabar buruk, bos gue lagi stress berat, kaya’nya dia bilang gagal ke bali (gagal cuti), karena banyak kerjaan. Otomatis gue jadi agak ragu mo cuti jumat itu; karena kalo dia ngantor, trus stress banyak kerjaan, sementara gue nekat cuti; nggak enak banget kan? :-(

 

Senin-selasa ini gue juga lagi sibuk ngurusin training, tadi pagi aja gue berangkat dari rumah jam 5.45, dan jam 6.25 udah sampe kantor langsung ke tempat training…

 

Sori kemarin nggak sempet nanya lo kenapa kok tumben telpon gue; ada yang mau di-share, mungkin? Gue sih udah beberapa kali sounding ke cowok gue soal elo, dan seperti apa kira2 pertemanan kita. Juga soal CS yang temen deket lo dan yang ternyata juga dia kenal, what a smaall world indeed, hehehe…

 

Kapan yah, kita bisa ketemuan lagi, hehehe… Gue jadi feeling guilty ni, susah banget nyari waktu ngopi2 lagi sama lo :-)  You know I miss you. I miss the time spent with you.

 

Trus trus soal BBB gimana bro, ada update lagi nggak? Jugan terlalu idealis lah, paling nggak asal udah memenuhi basic criteria gitu, yang lain disesuaikan sambil jalan… Hahaha gue tau lo pasti sebel banget deh diginiin :p

 

Ok, sekarang begini deh; kalo udah nge-klik sama BBB sampe 50%; yahh mending konsen aja dulu ke BBB. Tapi kalo nggak, ya boleh juga lo jajaki kandidat yang lainnya itu. Selama tentunya tidak berlawanan dengan hati nurani lo, hehehe...  Btw si CLBK ini blm pernah gue denger kayaknya yah:p  Nggak apa2 kok, lo nggak ngajak gue lagi buat nemenin elo ke acara2 starbucks, asal lo jadi punya kesempatan untuk jalan sama BBB, huhuhu... :-)

 

 

[VP, Monday, May 14, 2007 - 10:37 AM]

-------------

 


Eventa Quiet Time with a Dear FriendJan 19, '07 3:13 AM
for everyone
Start:     Jan 19, '07 6:00p
Location:     Senayan City, Starbucks coffee

A phone call received, and she said "yes" - we can meet tonite.
Senayan City, where it should be; at Starbucks Coffee or Coffee Bean?
But better not to watch the movie, some other time would do us well.

No prob!
after lots of revised date due to our hectic days & nights,
just be able to finally see you again after all the time,
would be just great, my dear friend! Miss you so much.

Especially realizing that you'd come in spite of your sickness
Wooww, felt soo appreciated. Can hardly wait for that! *grin