| |
terbanglah's posts with tag: history
 Sabtu pagi kemarin, seorang baik telah berpulang mendahului kita semua. Sophan Sophiaan, meninggal di atas motor Harley-Davidson kesayangannya, karena mengalami kecelakaan di Ngawi saat sedang mengemban tugas Negara; mengawal kirab dalam rangka peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Detil peristiwa itu tentu semua sudah tahu. Tapi mengapa kebesaran nama nya begitu menjulang, mungkin banyak yang belum paham. Dan karenanya bertanya2 untuk apa semua penghormatan dan kehebohan yang terjadi kemarin.
Terlahir 64 tahun lalu, menikah dengan sesama artis 70-an, Widyawati, dia adalah salah satu putra dedengkot PNI. Partai Nasional Indonesia, Manai Sophiaan (salah seorang tokoh pergerakan yang pernah dibuang Belanda ke Boven Digul, Papua). Keturunan keluarga nasionalis tulen, dengan pendidikan baik dan kesadaran berbangsa, yang mudah2an diturunkan kepada generasi selanjutnya.
Sophan mulai mengukir nama, merasuki kenangan pribadi saya, lebih dari “sekedar” bintang film, ketika dia turut memimpin demonstrasi besar pertama pada tahun2 terakhir perjalanan Soeharto. Demonstrasi yang kemudian berujung pada “Peristiwa 27 Juli 1996”, penyerbuan dan pengambilalihan berdarah atas markas besar PDI di Jl Surabaya, Menteng, Jakarta. Hari kelabu yang membuat semua orang yang berteriak, di Medan Merdeka bersama Sophan dan kawan, maupun di kampus2 Indonesia yang mulai beriak, tersungkur atau tiarap, menghilang atau menghindar. Hari saat tank2 menggelinding di jalanan kota, dan pasukan berderap mendekati kampus2 negeri.
Pada akhirnya Sophan memilih untuk keluar dari sistem; tahun 2002 dia mengundurkan diri dari DPR, tidak jadi “di-duta-besar-kan”, kemudian, secara fenomenal, pada 2005 lantas memunggungi PDI-Perjuangan, partai yang turut diperjuangkannya selama tahun2 represi Orde Baru. Saya yang tidak pernah tertarik pada platform PDI-P, tetapi masih menyisakan sedikit simpati untuk idealisme beberapa pentolannya seperti alm Sophan, pada saat itu hanya bisa bergumam, habislah sudah semua, harapan untuk PDI-P yang lebih baik.
Sophan, seperti alm Soe Hok Gie (inisiator pergerakan mahasiswa 1966) adalah seorang yang sangat lurus, membentur segalanya, dan kurang dapat berkompromi. Segala benturan itu rupanya berpengaruh pada kesehatannya belakangan, meninggalkan bekas yang tak dapat ditutupi. Yang mungkin turut berpengaruh pada kekurangpiawaian nya dalam menghadapi hambatan lubang jalanan; baik dalam politik, maupun yang telah membuatnya tersungkur di Ngawi, sabtu kemarin.
Dalam diam di hadapan jenazah, kupanjatkan doa setulus hati baginya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga Allah SwT menerima semua amal dan ibadah mu. Selamat jalan!
Photo courtesy of TLT Saturday, May 17, 2008, 17.24 wib
Related links: (1) Koran Tempo (2) Kompas

|  | ..dan mereka memaksa ku mengibarkan bendera setengah tiang.. Untuk menghormati pahlawan yang telah seda, mereka bilang. Pahlawan? Pahlawan apa? Pahlawan yang dulu pernah dimaki2 bersama di jalanan umum, ugh, ralat; di depan todongan bedil prajurit yang makan dari pajak yang kami bayar? Yang membuat sekumpulan anak muda harapan bangsa serta merta melemparkan buku2 mereka dan menyingsingkan lengan jaket beraneka warna, pun lantas mengacungkan tinju ke langit dengan mata basah karena kemarahan dan duka cita? Dengan mata yang basah bukan karena takut, bukan karena taqlid (kepatuhan buta), bukan karena apolistis dan ahistoris seperti kebanyakan kita saat ini, tetapi karena kerinduan akan kebebasan? Akan sebuah Indonesia yang lebih baik?
..dan mereka memaksa ku mengibarkan bendera setengah tiang.. Dengan perintah, walau lisan, disampaikan berjenjang, atau bahkan dimanfaatkan oleh Ketua RT yang korup dan gila kuasa. Dan ayah ku pun, mungkin orang pertama di dunia yang pada saat biasa sedapatnya akan menolak perintah itu, terpaksa tunduk dengan patuh. Dan menyampaikan dengan rendah hati bahwa kami tidak punya pilihan. Sesederhana kenyataan yang menghampiri, dan menampar aku dan adik ku dengan sakitnya kesadaran. Membuat kami terdiam dan menelan rasa jijik yang tertahan di tenggorokan nan kering. Aku akan bicara dengan Ketua RT sialan itu, akhirnya aku berkata. Siapa dia, memilih berinisiatif atas pengibaran sang saka, sementara berdiam diri atas penggusuran yang pasti terjadi?
..dan mereka memaksa ku mengibarkan bendera setengah tiang.. Demikian senyum sang surya, dan semilir angin fajar yang menghembus. Setelah semalaman yang bergelung dengan pikiran nan resah pun perasaan yang gundah. Biarlah, biar mereka tahu, aku kibarkan bendera setengah tiang hari ini. Dengan segudang keberatan, dan segenap sesal di dada, serta sejuta amuk berkecamuk di pikiran. Tapi biar mereka tahu, bendera yang sekarang berderai layu di pucuk tiang di depan rumah kami, di halaman negeri kami, bukan untuk dia yang dihujat dan dicinta, tapi semata demi rasa hormat pada sang ayah. Demi rasa cinta yang membuatku tak tahan menatap mata sedih nya yang tertunduk lesu, menyaksikan kemarahan ku dan adik ku. Melihat tanpa daya pada semangat yang muda, idealisme yang tak mati. Biar mereka tahu, sepucuk bendera dan sebentuk kebanggaan tak lekang atas rasa cinta pada nya.
..dan mereka memaksa ku mengibarkan bendera setengah tiang.. Semoga Allah SwT mengampuni semua dosa mu, duhai yang telah berpulang, dan menerima semua amal ibadah mu, dan melaksanakan pengadilan hari akhir atas semua perbuatan mu. Dan aku menahan sesak untuk 7 hari ke depan. Tanpa daya. Dengan bangga. Inna lillahi wa inna illaihi rajiun.
Jakarta, 05.53 am, Hari Ke-1 dari 7 Hari, Januari 2008
Post Script :
Is Indonesia getting any better after he's gone? My friends, it definetely would be depended on which paradigm you are using rite now.
a. are you valuing the democracy process and the good governance we're heading into, or b. dunno. Just go with the flows, whatever the majority would say and do, I'd follow no matter what, or c. are you satisfying yourself with the sweet dreams of the past and hates the idea to wake up and face the harsh realities we have to deal with rite now -- thanks to the old man regime?
You tell me! *grin
|
|  | Akhirnya, setelah sekian lama, bisa juga gue gabung lagi di acara PTD (Plesiran Tempo Doeloe) BatMus (Sahabat Museum); lokasi di seputaran Café Batavia, Jakarta, dengan tagline: Sahabat Museum - PTD Portret2 di Kota Tua.
Beberapa tahun terakhir, mesti ada aja benturan jadwal antara acara ini vs komitmen lain yang gue punya; either professionally or personally. Atau kalaupun bisa, seringkali jiwa procrastinator gue kambuh dengan akutnya (hehe). Atau budget gue yang nggak sanggup menyamai besaran yang ditawarkan oleh program.
Anyway, sejak pertama kali dulu ikutan acara ini, tahun 2001 ya, kalo ndak salah?, gue nggak pernah nyangka bahwa akan ada acara jalan-jalan wisata budaya dan sejarah seperti ini. Dan dikemas dengan baik dan gaul, pula. Dulu, gue sempat skeptis bahwa mereka yang peduli sejarah dan (warisan) budaya itu termasuk kaum Nerd yang langka dan udah masuk kategori pelestarian UNICEF, hehe. Ternyata BatMus dan PTD nya bukan hanya sanggup melawan konotasi tersebut, melainkan bahkan sanggup mengundang keingintahuan dan partisipasi yang sehat.
Tapi, namanya juga manusia yang nggak luput dari khilaf, pastinya juga terjadi pada PTD BatMus. Itu juga yang, sayangnya, terjadi pada PTD kali ini. Tapi terlepas dari segala hal yang bisa dikritisi, tetap, semangat, kepeloporan, dan idealisme seorang Ade Purnama alias Adep patut diacungin jempol. Kalau perlu, 2 (dua) jempol sekaligus deh, hehe..
Bahkan kreativitas nya ini udah diakuin oleh Majalah Tempo dalam bentuk gelar (semacam) Person of the Year nya. Gue lupa persisnya kapan, tapi saat gue terima majalah itu di kotak pos, gue langsung ngucapin selamat ke Adep. You deserve it, man! Ohya, penghargaan itu belum termasuk beragam ulasan dan/atau liputan dari berbagai media lainnya; cetak, radio, TV, maupun online. Dan lihatlah pada jumlah peserta yang antusias dan haus akan pengalaman baru berbudaya! Begitu hebatnya pengaruh yang ditimbulkan, hingga para pengikut (= follower) dan peniru pun bermunculan dengan klaim masing-masing. Tapi tetap, BatMus No.1!
Bravo untuk Adep dan rekan-rekan sukarelawan BatMus. Sorakan untuk mereka yang mau mengorbankan beberapa weekend yang beharga untuk mempersiapkan PTD berikutnya. Satu hal yang pasti, Jakarta dan Kota Tua nya patut berterimakasih.
Note: More details on Jakarta, read this intriguing article: Jakarta, Indonesia - A Sinking Giant originally posted on the Jakarta Post daily.
|
| Start: | Jan 27, '08 07:30a | | Location: | Escompto Bank, Sunda Kelapa, dan sekitarnya -- Jakarta |
SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren:
PLESIRAN TEMPO DOELOE PORTRET-PORTRET DI KOTA TUA Koelilingin bilangan Djakarta Tempo Doeloe, tjari tahoe locatie preciesnja Soenda Kalapa, Djajakarta dan Batavia dengen berdjalan kaki Sembari portret-portret pake toestel manual atawa digitaal, jang penting hatsilnja jahoed poenja, poela aken ada Pak Alwi Shahab jang demen noelis perkara riwajat ini kota, diaorang djoega djago bertjeloteh perihal keadahaan sedari doeloe sampe sekarang. Poen toean en njonja bole rasahken makan onbijt (sarapan) dengen Nasi Oelam Misjaya jang tersohor hingga ka pendjoeroe negeri.
ESCOMPTO BANK - CHARTERED BANK - KALI BESAR - JEMBATAN KOTA INTAN - GARIS PANTAI SOENDA KALAPA tahun 1522 - DJAJAKARTA - PRINSENSTRAAT - DASAAD MUSIN CONCERN BUILDING - STADHUISPLEIN (Lapangan Balaikota), dsk (Jl.Bank - Jl.Kali Besar Barat - Jl.Nelayan Timur - Jl.Cengkeh - Taman Fatahillah - Jl.Pintu Besar Utara) Minggu, 27 Januari jam 07.30 pagi Rp.30.000/orang (tiga puluh ribu) kalo pada mau ngedaftar, hub: adep@cbn.net.id atau 0818 94 96 82 yuk mari, mari...
Apakah kasus hukum seseorang, siapapun dia dengan tanpa merujuk pada satu orang tertentu, perlu diteruskan? Terlepas dari kondisi sakit atau tidaknya, berjasa atau malah bersalah, terkemuka atau tercela; akhir-akhir ini banyak rekan, kolega, maupun media massa yang melontarkan pertanyaan abadi tersebut. Macam-macam alasannya. Yang belas kasihan lah. Yang mengingatkan soal jasa-jasa yang telah lalu lah. Yang sebagai ucapan terima kasih lah. Yang mengajukan usul soal “win-win solution” lah (ie. “win-win solution” berarti bila telah disetujui kedua belah pihak, kutipan bebas dari sebuah wawancara M*tr* TV, Jan 12, 2008, tengah hari). Yang menunjuk hidung orang lain lah, dan masih banyak lagi. Pun juga yang berpendapat persis sebaliknya. Di lain pihak, masalah hukum sebenarnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) hal, yaitu Pidana dan Perdata. Maafkan saya yang awam ini, tetapi sejauh yang saya tahu, Pidana, berbeda dengan Perdata, tidak perlu melalui dan/atau memenuhi unsur pelaporan. Sementara bicara soal pertanggungjawaban, Pidana hanya terbatas pada unsur pelaku nya sendiri. Misal: # maling ayam yang digebuki ya malingnya bukan anaknya, apalagi ayam nya :p # pemberontakan yang dihukum ya yang berontak bukan keponakannya, Sementara Perdata dapat diperluas hingga ke lingkungan (misal koruptor di Cina dihukum gantung lengkap dengan anak istrinya yang notabene ikut menikmati kekayaan tersebut). Lantas bagaimana? Yah, bila memang kita mengaku sebagai seorang Pancasilais dan pembela Konstitusi, mari masing-masing dari kita melepaskan tutup mata, tutup telinga, dan tutup mulut kita; kembali kepada hukum tertinggi negara ini, yaitu UUD 1945. Reff: "..UUD 1945, Pasal 27, (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. (2) ..." "fiat justitia et pereat mundus" sampai langit runtuh pun keadilan tetap harus ditegakkan * dari Fika Fawzia, thanks!
Jakarta, Sabtu, 12 Jan 2008 12.36 wib Baca juga:Kematian Paman Gober, oleh Seno Gumira Ajidarma
 | Category: | Movies | | Genre: | Independent |
Persepolis (in Greeks) literally means “The City of Persians”. The film is the opening act of the Jakarta International Film Festival, or better known as JiFFest 9th (7-16 Dec, 2007). You can bet that this film must have something special to enable it to be crowned such an honor. Not to mention that it got aired in 2 (two) consecutive schedule; the 1st was being a closed performance exclusively dedicated for invited guests and journalists, whilst the 2nd was opened for public just a couple hours ago. Glad that I managed to have the ticket, since last time I heard, it was sold out a few days before the schedule. Phew!
Thanks to that, few friends that originally got interested to join in were shoo-ed away, hehe. Sorry, guys! However, that is just the way it goes with festivals like these; you have to make sure that you already booked the ticket(s), long before the schedule would be played. And partly, that is why I missed all the JiFFest before; because I can hardly afford to secure the tickets, especially since the selling venues were quite out of reach.
When I uploaded this review to the blog, I found it was kinda difficult to distinguish this one based on the classification offered. Because it could be an Animation, a (Dark) Comedy, a Docu-Drama, an Independent, a Kids & Family category, and above all, a satiric Auto-Biography of the original writer, Ms Marjane Satrapi. Or may we say, this film is all about it.
Persepolis is a 2007 animated film based on the graphic novel of the same name. It tells the story of a young girl (Marjane) in Iran before, during, and after the Iranian Revolution (ca 1978-1992). A 9-year-old Marjane dreamed of become the last Prophet of God and happily declared herself as a Communiss (an sich). It was not clear whether the whole family of her were also Communist activists. She often had dreams of she consulted God on things or even sometimes yelled at Him (and later on, a conference with Uncle Marx). She grew through the affectionate caring of her loved ones (dad, mom, and grandma), the romance shared by various young men she loved, the joy and the height of the school days and friends, the dictatorship of the faculty and the society, and the unexpected bitter life in Vienna along with her closest friends made there, the anarchist-wanna-be rich kids from school.
This is quite a phenomenon, people who talks more about those radical thinking are usually amongst the very first to jump out from the boat when everything goes wrong. People like those love to show to the world that they really care, whilst in fact they don’t goddamn know anything at all; even the most basic routines of it. They love to wear Guevara T-Shirt whilst they do not know any shit out of his inspiring traveling done throughout South America on his youth. They like to disregard the authority and tend to violate the rules only to show that they are courageous and got rebellion spirits. Remember Prince Harry of England who caught up wearing Nazi’s Swastika on a costume party? That should be the finest-real-life-high-profile example. This film told similar cases well with such admirable bluntness, especially in regards that this was an autobiography.
Young Marjane’s life was also further be colored by the frightened monarch that was about to fall, along with its Secret Services aimed to get to its own people, the agitated revolutionary movement powered by young idealists, again with its own Secret Services on the same purpose, and of course there was the Iran-Iraq war (Gulf War I, 1980-1988). A war that some says was aimed to level Iran down since it moved further toward Islamic fundamentalism and against the US whose believed and suggested by its government to be stand behind the overthrown Shah (the Iranian Empire before the revolution).
Be noted for not taking the film as a political one, albeit its propagandist nature (against the Islamic Republic of Iran, the power behind that 1979 revolution) tends to make me sick from time to time for being too harsh and one-sided. No wonder the Iranian government protested the film, at both Cannes and Jakarta. It was reported that the film got its clearance from Lembaga Sensor Film (Indonesia’s Sensor and Rating Agency) to be aired at JiFFest 2007 just hours before the 1st schedule.
Better to take it as a vigorous photo album of a young girl; confused and had lots of grudges about her very existence in the world. It honestly portrayed, to some level, the surrounding life of her. Thus, we could, arguably of course, study and learn what it was like to be in her shoes around that period of Iran, and what it felt to become a legal alien in Vienna. And how life was supposed to be, especially for people like her and her family; the educated politically aware and connected middle class. After all, she just wanted to live a normal life like another teenage female.
It should be red-marked though, that the film forgot, or failed to explain, what was “normal like another” supposed to be meant. It left us, at the end, wondered and strongly felt that the writer abused this film only to satisfy (and somehow to justify) her complaints of present day Iran, of her not-that-good Europe actual life compared to imagination, of her bitter yet interesting life, and above all, implicitly – on God Himself.
Seeing that Marjane is not just Christian, but also a Communist, her critics to the Islamic rules run on her Iran lost its appropriateness and legitimacy for sure.
Updated on Dec 10, 2007 – 12.03 wib
Another thing to be pointed out, one of the commentator on this review of mine (thanks, buddy) accused that Marjene exploit the sorrow and depression borne by the said 'Iranian Women' simply for entertainment cause.
I gotta admit that it was a very intriguing conclusion. And frankly speaking, it had crossed my mind, too. But then I tried to step back a few times, and see the whole thing from her point of views.
Or precisely, from the point of view of a smart and independent little girl, who’s raised inside educated, honored, and aristocratic surroundings. In short, she got the whole world laid over in front of her, waiting to be explored. And suddenly, yes in that instance, all those chances were robbed from her in such a way, that could be clearly seen still doesn’t have a sense for her, even until now.
And what left to be shared was the physically 20-something Marjene whose rose to the stardom thanks to her exploiting autobiography film (and graphical novel), who were trapped inside an ever rebellious soul of a mentally 9 years old Marjene. The one whose still keep looking around helplessly to find to ease her soul and to find out her answer.
Sorrowful indeed, or maybe pathetic, but of course from a different point of view..
Djakarta Theater, Thamrin Avenue, Jakarta Sunday, Dec 09, 2007 – 23.30 wib © terbanglah lebih tinggi
Related articles: (1) HE-the-astonishingly-uneducated (2) JiFFest 9th (7-16 Dec, 2007)

Lagi-lagi Peringatan Peristiwa 10 November menjelang. Dan tiap saat perayaan itu berlalu, mestilah yang ramai-ramai dikedepankan adalah soal heroisme dan kegagahan para pejuang (baca: pejuang bukan hanya pemuda, bukan hanya laki-laki!) saat perobekan bendera Belanda di Hotel Oranye, terbunuhnya Jenderal Mallaby, dan pertempuran besar2an yang terjadi kemudian sebagai dampak ikutan (collateral damage).
Kejadian maen sobek bendera Belanda itu selalu digambarkan secara berlebihan dalam berbagai pementasan. Sedemikian, hingga berupa romantisasi film2 zaman Orde Baru yang telah lalu. Di mana para laskar digambarkan segagah Rambo plus bergaya petentengan bersenjata berat dan lengkap. Padahal jangankan senjata api, lha wong seragam aja pada dapat ngembat dari tentara Jepang atau sisa PETA, kok!
Sedangkan satu2nya kejadian sejarah perobekan bendera yang terdokumentasi adalah fakta yang mendahului penghancuran kota Surabaya pada November 1945 dan kekalahan pasukan Republik di sana. Hey, I'm a native Surabaian myself, but the colossal glory triumphantly celebrated on every Nov 10 is truly exaggerating the true facts behind it. Seperti gue bilang, itu semua adalah romantisme orde baru; bagian dari program cuci otak mereka. Dan sayangnya, banyak di antara kita yang sukses menelan mentah2 bualan kosong itu. Bahwa yang berjasa menegakkan kemerdekaan Indonesia adalah TNI. Yang lain (baca: diplomat, perawat, anak sekolah, petani, etc) ke laut ajaaaaa... Sayangnya, juga termasuk gue -- tapi itu dulu! :p Pertama; walau memang masih kontroversi, akan halnya pembunuhan JFK; tetapi logika dan analisis yang berkembang adalah, Mallaby tewas karena konspirasi pasukan NICA demi memancing kemarahan pasukan Inggris (yang notabene mengemban misi netral dari Komando Gabungan Sekutu di Asia Tenggara. Atau kalaupun tidak demikian, dia tewas karena "friendly fire". Jadi sama sekali tidak ada sangkut paut Republik di sini. Kedua, lagipula, apa untungnya membunuh Mallaby, seorang Jenderal Sekutu yang pada saat kematiannya jelas2 sedang membawa misi damai (= gencatan senjata)? Coba pikir. FYI, saat itu dia sedang berkeliling mengunjungi pasukannya agar menaati perjanjian gencatan senjata. Jangan lupa saat itu jalur komunikasi, bahkan untuk tentara pemenang Perang Dunia pun, jauh lebih buruk daripada saat ini. Ketiga; pendudukan Normandy, walaupun dilakukan pasukan Sekutu, akan tetapi secara umum dianggap sebagai kemenangan US, bukan Inggris. Sebagian besar perlengkapan, senjata, bahkan seragam pasukan sekutu disumbangkan oleh, siapa lagi kalau bukan, US. Lagi2 kita termakan cuci otak buku2 sejarah versi orde baru -- kalimat ini memang bertebaran di buku2 itu. Keempat. Bahkan tanpa adanya sumbangan minyak bumi dari US, yang merupakan eksportir terbesar saat itu (sekitar 86% produksi dunia), pasukan Sekutu tak akan pernah bisa bergerak dari pantai2 Normandia. Lihat bagaimana pasukan raksasa Jerman yang menyerang tanah Rusia mati kutu nggak bisa bergerak gara2 kehabisan minyak! Kelima, dengan terbunuhnya ribuan pejuang belum termasuk rakyat tak berdosa, dan terusirnya TNI dari kota Surabaya (baca: Surabaya jatuh ke tangan musuh), apanya yang bisa disebut menang? Dari sudut pandang manapun, yang seperti itu namanya adalah "kekalahan total". *grin Tapi tentu saja, tak bisa dipungkiri bahwa walaupun Republik mengalami kekalahan telak secara militer dan geografis (16,000 tewas di pihak Republik versus 2,000 tentara Inggris), pertempuran tersebut selamanya akan terpatri dalam ingatan sebagai pembuka mata dunia bahwa Republik memang ada – dan bukan hanya sekedar segerombolan liar yang dipimpin Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka. Pun bagi pihak Inggris, tiada pilihan lain yang layak diambil kecuali bersikap netral. Bahkan pada akhirnya mereka memilih untuk mendukung perjuangan diplomasi Indonesia di mimbar PBB. Dan itulah kemenangan sejati yang musti dirayakan, termasuk atas peran serta seorang tokoh yang wajahnya sangat identik dengan pertempuran tersebut; Bung Tomo. Keanehan yang tersisa dan benar2 nggak masuk akal adalah, hingga saat ini Bung Tomo tidak memiliki gelar Pahlawan Nasional. Padahal nama peristiwa tersebut telah diabadikan sebagai nama salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, ITS alias Institut Teknologi Sepuluh November di Surabaya.
Kemana aja itu Pemda dan masyarakat Surabaya dan Jawa Timur? Apa perlu dibom sekali lagi biar sadar bahwa mereka lah yang harus berinisiatif mengusulkan nama beliau?
Jakarta, Thursday, Aug 16, 2007 – 18.33 wib © terbanglah lebih tinggi
Baca juga: a). Kamikaze: Banzaiii....!! b). Indonesia: a Symbolic-Obsessed-Nation c). Untuk Apa Hari Kartini Diperingati d). Patriotisme Sampai Mati (pemukulan wasit Indon di Malaysia) e). Dwi Warna, mengapa?
Foto dan Gambar: Diunduh dari internet pada 14 Nov 2007, 19.05 wib
1. Rongsokan Mobil Jenderal Mallaby 2. Peta atas jalannya Pertempuran Surabaya 3. Bung Tomo dan pose nya yang terkenal
Seorang teman bertanya, mengapa bendera kita berwarna merah-putih? Apakah kiranya orang kita pada saat itu nggak mau repot untuk mendesain Bendera Indonesia? Apakah mereka mau enaknya sendiri, tinggal merobek warna biru dari bendera Belanda yang ada? Gue jelas bukan ahli sejarah; tapi bendera kebangsaan itu bukannya sudah ditentukan pada Konggres Pemuda II thn 1928; bersama dengan lagu kebangsaan maupun bahasa nasional, ya? Selain itu, warisan pataka dwi warna dapat ditelusuri bahkan hingga ratusan tahun sebelumnya ke zaman kerajaan2 besar spt Majapahit etc. CMIIW. Jadi bukan gara-gara terlalu malas bikin lantas maen sobek bendera Belanda. Itu mah, romantisasi film-film zaman orde baru, kalee..heuehhe.. (di mana para laskar digambarkan segagah Rambo plus bersenjata berat & lengkap). Sedangkan satu2nya kejadian sejarah perobekan bendera yang terdokumentasi adalah fakta yang mendahului penghancuran kota Surabaya Nov 1945 & kekalahan pasukan Republik di sana. Hey, I'm a native Surabaian myself, but the colossal glory triumphantly celebrated on every Nov 10 is truly exaggerating the true facts behind it. Secara sosiologis, bendera juga merp hasil kesepakatan mayoritas yang membawa perasaan ikatan (= bounding) maupun fanatisme; yang dapat mewakili ciri atau sesuatu kekhasan lokal. Misalnya jaket seragam yang dikenakan bikers dari klub-klub sepeda motor, kalung name tag perusahaan, maupun badge seragam sekolah menengah. Tanpa adanya kesepakatan yang lantas diamini pun diketahui khayalak luas, takkan ada fanatisme yang merata.
Baca: mungkin saja laskar masing-masing daerah, kawedanan, atau bahkan kelurahan akan mendeklarasikan bendera mereka masing-masing. CMIIW, Dirgahayu Indonesia! Jakarta, Thursday, Aug 16, 2007 – 13.44 wib © terbanglah lebih tinggi * yang besok bakal ikutan upacara bendera 17 agt di kantor pusat, jam 6 pagi * there it goes my precious sleepy weekend morning, heuhehe..
Salah satu penyebab utama kekalahan Jepang saat Perang Dunia II (PD-II) adalah karena kehabisan bahan baker. Hal ini akibat pemotongan jalur supply minyaknya dari Singapore dan Indonesia (Tarakan, Kalimantan Timur) US, yang menyerang masuk dari kepulauan Palawan, Filipina. Oleh karena itu, armada pesawat tempur Jepang pun melakukan Kamikaze terhadap gugus tugas kapal perang US yang mendekati Jepang, karena tidak mungkin ada sisa bahan bakar untuk balik ke Jepang. Tentang Kamikaze, sbnrnya ada justifikasi yang lebih filosofis. Yaitu karena program cuci otak yang dilakukan sebagian pimpinan militer Jepang yang mendiskreditkan US sbg pihak yang kejam dan sadis; baik terhadap warga tanah jajahan (Jepang, bila sampai kalah perang), maupun terhadap tawanan perang (tentara Jepang, bila tertangkap). Karena itu, tiap serdadu Jepang dicekoki keyakinan bahwa lebih baik bertempur sampai mati daripada tertangkap. Juga bahwa mereka berjuang demi negara dan bangsa dari agresor US yang akan memperkosa tanah Jepang dan mengeksploitasinya habis-habisan. Apalagi mereka tidak punya sumber daya alam (baca: minyak) untuk bertahan hidup; kecuali dari belas kasihan US -- negara pengeskpor minyak terbesar saat itu (kurang lebih mencapai hingga 6/7 dari kebutuhan dunia). Dalam psikologis pihak yang bertahan, terutama tanpa harapan, seperti Jepang menjelang kemungkinan invasi darat besar-besaran US ke tanah Jepang; tidak ada pilihan lain kecuali berjuang sampai mati. Ini bisa dianalogikan dengan perlawanan terakhir yang diberikan binatang liar yang telah terluka & menghadapi ajal atau penangkapan (dlm kasus Jepang, mereka dicuciotak oleh bos-bosnya bila tertangkap mereka akan disiksa sampai mati oleh US). Atau saat elo dikeroyok 9 preman yang berusaha merampok elo di tengah malam pada suatu lokasi terpencil (heheh..malah curhat colongan gue!:p). Di saat elo tahu bahwa elo nggak akan bisa selamat dari situasi itu, tapi elo juga tak hendak pasrah; maka nggak ada hal lain yang bisa elo pikirkan kecuali melawan sampai mati -- tentunya dengan membawa sebanyak mungkin musuh elo bersama elo (baca: ikut mati). Dengan demikian, kerugian elo pun akan terjustifikasi dengan baik. Itulah mengapa akhirnya serdadu Jepang bertindak sadis terhadap serdadu US yang tertangkap, maupun melakukan hal-hal yang tak terpikirkan oleh otak sehat; misalnya, seperti serangan kamikaze. Jakarta, Thursedangay, 070726 – 11.36 am © terbanglah lebih tinggi PS: § Ini bukan tulisan tentang minyak, as requested*grin PS.PS: § Artikel ini (an sich) dikirimkan ke sebuah mailing list terbatas (baca: tidak terbuka untuk umum) untuk menanggapi komentar seorang rekan tentang fenomena kamikaze Jepang saat PD-II dan relevansinya dengan faktor krusial minyak bumi dalam mempengaruhi hasil peperangan.
oleh: terbanglah lebih tinggi Seperti kebiasaan yang sudah2; hari ini beragam lembaga pun manusia sekali lagi merayakan “Peringatan Hari Kartini” secara tradisional, konservatif, and.. quite shallow. Sad but true. Bahkan M*tro TV yang terkenal dengan tradisi pemberitaan yang mencerdaskan pun ternyata turut melarutkan diri dalam budaya salah kaprah ini. Masih ingat dengan tradisi di berbagai sekolah kita di negeri ini? Mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMA.. pada bbrp kasus, bahkan hingga tingkat kuliah!. Bahwa “Peringatan Hari Kartini” – dan karenanya juga berarti sekaligus makna perjuangan Kartini; direndahkan maknanya sedemikian secara sistematis, hingga hanya identik dengan berbagai hal berikut: § Lomba Berbusana Nasional, atau minimal, adanya kewajiban massal untuk mengenakan busana nasional pada hari tersebut (21 April). Apa itu busana nasional? Baca: busana tradisional JAWA – alias kebaya; yang ketat melekat tubuh maupun kerap transparan pada berbagai bagian tertentu, dan karenanya leluasa menonjolkan lekuk-liku tubuh wanita matang. Lagipula memangnya Indonesia hanya Jawa saja? Well, I’m half Javanese myself, but I am ASHAMED of this New-Order-Regime Javacentric culture. § Lomba Memasak Alias (**cynical warning**) Lomba Keterampilan Dapur. Masih ingat pepatah lama tentang wanita idaman? Bahwa wanita idaman (kalau nggak salah bunyinya) adalah wanita yang bisa membanggakan pasangannya dalam 3 (tiga) hal; di dapur, di pesta, dan di ranjang? Di dapur tentunya untuk urusan memasak serta domestik lainnya; di pesta guna dipamerkan sebagai barang “klangenan” (= hobi, kegemaran); di ranjang tiada lain kecuali berarti sebagai partner seks yang memuaskan pasangan. Memasak, merujuk pada pepatah lama tersebut, mesti dilestarikan maupun dibina guna membentuk wanita idaman. § Lomba Kebersihan ..again, it’s all only about the domestic partnership of woman.. Bahwa memang itulah peran yang dipersiapkan lingkungan sosial bagi mereka; agar para wanita tersebut dapat dikatakan sebagai perempuan yang layak dan bermartabat. Ini, tentunya, masih mendukung pepatah tentang ciri wanita idaman seperti tersebut di atas. Yang barusan disebutkan di atas adalah berbagai perlombaan yang bersifat massal. Ada juga lomba-lomba yang (mungkin) agak intelek dan/atau berbudaya sedikit; misal lomba baca puisi2/surat2 Kartini, lomba paduan suara lagu2 wajib/daerah, etc. Atau lomba ”tebak-tebakan” apa judul buku kumpulan korespondensi nya yang terkenal. Atau usia berapa dia lahir, menikah, wafat. Atau di mana lahirnya. Etc..etc..etc... Hanya sayang, tetap nggak jelas hasil apa yang kita inginkan dari berbagai keramaian baca puisi dsb itu. Lagipula, apa hubungannya antara baca puisi/ nyanyi2 versus peran serta wanita? Pun upaya untuk meningkatkannya. Nihil. Apa iya memang itu tujuan perjuangan Kartini? Apa iya Kartini hanya layak untuk dijadikan sebagai icon pengingat bagi kaum wanita; sebagai TAMPARAN untuk “menyadarkan”, tentang "peran wanita yang sebenarnya (dengan nada sarkastis)" yang diharapkan suami, keluarga besar, masyarakat, serta bangsa dan negara ini??? Tentang sikap munafik masyarakat kita, yang beramai-ramai menyatakan diri sebagai pendukung perjuangan Kartini dan peran serta wanita yang lebih luas dalam masyarakat; tetapi juga yang secara ABSURD merasa perlu untuk mendirikan sebentuk Kementerian Urusan Peranan Wanita? Atau minimal, keberadaan Sayap/ Bagian Khusus Wanita pada berbagai organisasi massa berbasis sosial/kemasyarakatan/politik/agama? Apakah itu semua hanya tinggal sebagai sebuah trend massa yang berbasis pada waktu dan sejumput popularitas sesaat belaka? Kalau benar demikian, maka sungguh kasihan nasib wanita, dan tentunya nasib bangsa ini; yang memandang (dan merasa bangga dengan retorika kosong) “emansipasi (wanita)” sebagai hanyalah sekedar acara rutinitas seremonial bersanggul dan berkebaya semata. Di sela kesibukan dan ketegangan mempersiapkan rapat penting di Sudirman pagi tadi, dengan getir gue mengingat ucapan salah satu rekan senior (she’s a woman!) – an sich; “…dulu itu kita biasa ngerayain Hari Kartini secara meriah; ibu2 pada pake sanggul & kebaya, ada lomba2 masak & busana nasional, ada seminar ttg kewanitaan, dan libur setengah hari (tetap ngantor, hanya tdk bekerja) untuk terlibat aktif dlm acara2 itu.. Kalian yang muda2 (talked to my female young colleagues) HARUS mempertahankan acara itu. (karena) Udah kebiasaan, kan?..” Dengan kata lain, demikianlah bentuk penghargaan kita terhadap Kartini, dan karenanya terhadap wanita pada umumnya. Pun ternyata oleh sebagian kaum wanita itu sendiri. Dengan cara memberikan domestic privillege.. Yang secara tidak langsung dan halus; telah membatasi, mencontohkan, serta mengharapkan bagaimana sebaiknya seorang wanita baik-baik musti bersikap, bertindak, dan mengaktualisasikan dirinya – senyatanyalah terbatas hanya pada peran domestik belaka. Dan dengan menafikan peranan lebih besar yang (sesungguhnya) dapat mereka berikan. Dapat disumbangkan bagi kepentingan yang lebih luas dan tidak hanya sesaat maupun demi suatu kebanggaan semu semata. Pity. Jakarta 12870 Pancoran Friday, Apr 21, 2006 - 22.19 wib After a hectic & tiring day; as usual Photo: Kartini (the far left with her right face shown) and sisters From her famous book, “Door Duisternis ot Licht” – Habis Gelap, Terbitlah Terang”
 | 3.5 Abad | Mar 23, '07 4:31 AM for everyone |
oleh: terbanglah lebih tinggi Teman, terminologi penjajahan Belanda selama 3.5 abad di Indonesia itu suatu kesalahan, atau bahkan upaya pemutarbalikan sejarah secara sengaja oleh founding father kita (you know who). Tujuannya untuk membakar semangat nasionalisme perjuangan revolusi, biar semua orang sadar bahwa kita sudah capek dijajah bangsa asing (mungkin lebih enak dijajah bangsa sendiri ya? Hihi..), dan mungkin..mungkin lhooo, biar lebih gampang disebut dalam pidato kaleee, hehhe.. Right or wrong is my country, katanya. Atau seharusnya right is right, and wrong is wrong? Mana yang benar? Mana yang menurut mu benar? Mengapa? Sederhana saja: Kesalahan ke-1: Perhitungan 3.5 abad diperoleh dari 1945 (tahun merdeka mnrt sejarah resmi Indonesia) dikurangi 1596 (tahun kedatangan Belanda pertama kali). Akan tetapi, tahun 1596 bukanlah tahun dimulainya penjajahan Belanda, melainkan tahun kedatangan perusahaan dagang SWASTA yang bernama VOC alias Vereenigde Oostindische Compagnie (The Dutch East India Company). Cornelijs de Houtman, masih ingat? Hhehe.. Kesalahan ke-2: Sebagaimana SEMUA perusahaan dagang lainnya, mereka nggak langsung merebut pasar (baca: menjajah) tapi bikin survey dulu, penjajagan, tes pasar, etc. Logika sederhana lah; mana ada perusahaan, sehebat apapun, apalagi pemain baru, yang bisa langsung merebut pasar yang sudah mapan? Note: saat itu pasar Indonesia sudah ramai oleh beragam pedagang asing lainnya: spanyol, portugis, india, china, campa (kamboja), vietnam, malaysia, inggris, perancis.. You named it. VOC pada saat itu benar2 cuma anak bawang, dari negara kecil pula. Kesalahan ke-3: Walaupun pada akhirnya VOC bertindak sewenang2 thd konsumen-produsen nya (baca: bangsa & tanah Indonesia), tetapi mereka melakukannya dalam konteks perdagangan monopoli, dan bukan penjajahan. Ini kan cuma masalah mekanisme pasar, supply & demand. Lihat saja Arab Saudi; negara penghasil minyak sekaligus pemilik proven reserve terbesar di dunia itu, yang bisa dengan mudah membanjiri pasar dengan minyaknya hingga jutaan BOPD, dan lantas mendorong efek domino perekonomian dunia hingga kemana-mana (catatan: total produksi minyak Indonesia saat ini +/- 1.000.000 BOPD). Atau membuat US panik saat Irak mencaplok Kuwait dan mengancam perbatasannya maupun kelancaran jalur minyak di teluk Persia & selat Hormutz (Perang Teluk II, 1990). Ya sudah, sekalian aja mencaplok balik Irak (Perang Teluk III, 2003), malah lumayan kan bisa dapat minyak tambahan, hehehe.. Ini sama saja seperti trik yang dilakukan perusahaan berlian paling terkemuka di dunia (DeB****); yang berhasil melakukan edukasi pasar sehingga tercipta bayangan semu (!!!) bhw berlian merp perhiasan yang paling bernilai karena kelangkaannya - padahal sbnrnya sama sekali tidak langka (lha wong ada di seluruh dunia). Hanya karena mereka punya jalur monopoli saja, makanya mereka bisa menaikkan harga berlian hingga berlipat2 dari harganya yang pantas. Bayangkan bila ada perusahaan yang bisa menguasai pasar dunia untuk garam, apa harganya nggak bakalan jadi lebih mahal drpd emas berlian tuh? Hhehee.. Kesalahan ke-4: VOC bisa bertahan di Indonesia kurang lebih selama 100 thn, untuk kemudian menyatakan diri bangkrut; gara-gara kelimpungan ngebiaya'in aksi-aksi penertiban pemberontakan di mana-mana. Akibatnya, saham-saham nya diambil alih (bahasa kerennya: dinasionalisasi) oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Akibat lebih jauh, Belanda sbg negara secara resmi masuk ke Indonesia, dan melanjuntukan apa yang telah dirintis VOC sebelumnya. Bedanya kali ini segala perdebatan ttg nasib zamrud khatulistiwa ini tidak lagi diputuskan pada RUPS nya VOC, melainkan melalui mekanisme parlemen kerajaan. Dan melalui moncong senapan serdadu rezim oranye. Kesalahan ke-5: Terhitung mulai detik pertama Belanda menginjakkan kaki di pelabuhan Kerajaan Banten thn 1596, tidak serta merta semua kerajaan bebas dan berdaulat di nusantara langsung bertekuk lutut di bawah kakinya, tapi satu persatu. Batu demi batu. Nyawa demi nyawa. Bahkan perlawanan terakhir yang akhirnya berhasil ditaklukkan Belanda dengan susah payah baru resmi diselesaikan pada tahun 1904 (kerajaan Aceh). Sehingga dengan fakta ini, seharusnya lah, tahun perhitungan penjajahan Belanda dimulai sejak 1904, dan bukannya 1596. Kesalahan ke-6: Nama Indonesia baru mulai muncul pada awal abad ke-20, dan baru digunakan secara resmi saat konggres pemuda II, 1928. Bahkan yang namanya NKRI pun baru berdiri & diakui dunia internasional thn 1945. Jadi sebelum tahun 1945, secara legal-yuridis Belanda TIDAK (pernah) menjajah Indonesia; melainkan beragam kerajaan, besar maupun kecil, di seantero nusantara. Kesalahan ke-7: Belanda sendiri secara resmi mengakui penjajahan mereka di Indonesia baru berakhir thn 1949, alias 4 tahun lebih lama daripada waktu yang diakui Indonesia. Jadi harusnya bukan 3.5 abad alias 350 thn dong, tapi 350+4 = 354 tahun. Walaupun pada akhirnya Belanda setuju untuk mengikuti versi Indonesia (baca: merdeka pada tahun 1945), tetapi hal tsb tidak terjadi hingga tahun 2005 lalu. Aduhh, ribet amat sih; emang ngefek? Malah nambah kerjaan musti ngerubah buku-buku sejarah, hehe.. Kesalahan ke-8: Bahkan Papua pun, yang juga dijajah Belanda, baru resmi bergabung dengan Indonesia pd thn 1962 (CMIIW). Dengan fakta ini & asumsi yang berlaku pada adagium terminologi 3.5 abad itu, maka seharusnya lamanya penjajahan Belanda di Indonesia adalah 350+(1962-1945) = 367 tahun... Ohya, jangan lupa ada Timor-Timur yang dijajah Indonesia sejak 1975..hmmm.. Sayang sekali fakta ttg Timor-Timur ini dihilangkan dari buku2 sejarah kita; boro-boro kita bisa menjelaskan apa saja yang telah kita lakukan di sana, hehee.. Atau nggak usah jauh2 deh; apa saja yang telah kita lakukan pada para korban Trisakti & Semanggi I+II yang lalu.. *grin "..sejarah adalah milik para pemenang.." CMIIW, Jakarta 12870 Pancoran Thursday, Mar 22, 2007 – 18.54 wib PS: § BOPD = Barrels Oil Per Day § RUPS = Rapat Umum Pemegang Saham; mekanisme pengambilan keputusan tertinggi di dalam perusahaan swasta. Semacam parlemen di dalam negara. § Diskusi dalam sebuah mailing list yang transkripnya terlampir di bawah, menjadi pemicu pemikiran gue mengenai artikel ini. -------- From: Z Sent: Thursday, March 22, 2007 10:44 AM Pak y, trima kasih banget. Saya file dan coba dua tiga empat kali saya renungi. Saya rasa banyak segi benarnya. Mari kita perbaiki kekurangan kita supaya menjadi lebih baik. Bapak x, bapak juga sangat bener, saya setuju. Mari kita demo akhlaq AS yang suka nyerbu, ngebom,nindas dan arogan. Dan jangan kita tiru. Sambil sedikit-sedikit kita mulai perbaiki perangai bangsa, mulai dari diri sendiri : jujur, amanah, tiada dusta antara bangsa apalagi antara sesama xxxxx (terutama dalam hal perhitungan remunerasi, hehehehe .....). Insya Alloh semua jadi sejahtera! From: TLT Sent: Thursday, March 22, 2007 11:01 AM Yah, kan nggak semua org US itu jahat, Pak? (seperti juga nggak semua orang Indonesia itu baik) C'est la vie! FROM: Z DATE: Thu, 22 Mar 2007 13:21:18 +0700 Betul juga Pak TLT. Yang bagus2 dari US juga tak kurang2nya : orang yang cakep2 banyak, mis : Oprah, Barbra Streissand (pd th 70-an, hehehe), Marilyn Monroe dll., kemajuan iptek dan "peradaban"nya, cara fikir positifnya, kesejahteraannya, disiplinnya, universitasnya, kebun kormanya di California (kenapa gak kita tiru di NTT sana ya?) dsb. Pokoknya banyak yang bagus. kalau orang sih biasanya sma : dimana2 banyak orang jahat, tapi lebih banyak lagi yang pikirannya waras. hehehehe............... From: TLT Sent: Thursday, March 22, 2007 2:34 PM Hehhehe, kok contohnya sampe Marilyn Monroe segala, Pak? Kalau saya sih lebih tertarik Jacqueline Kennedy, atau Audrey Hepburn, hehe.. Yah, mudah2an kita semua masih tergolong yang pikirannya waras, insya 4JJI.. From: X Sent: Thursday, March 22, 2007 3:35 PM Simply.. Ga ada habisnya kalo ngomongin kejelekan dan kelbihan suatu suku ato bangsa.. Pesen dr ane sih.. jgn gampang 100% percaya meleg mel;eg ato berkecil hati apabila bangsa lain sedikit miring dengann bangsa kita.. Kita bisa realistis..cukup dengann realistis dan instrospeksi, jgn kasih ksmpatan lebih lanjut, apalagi sampe “menganggukan kepala” ttg nada2 miring bangsa laen ttg kita. Ane sndiri g terlalu bangga saat declare sbg WNI waktu di US dengann sgala info yang ada di kpala Indonesia, tapi ane g pernah kasih ksmpatan bangsa laen untuk tanya, sarcasm ato sinistic ttg Indonesia. As if.. Toh bangsa blanda sndiri g akan kasih komen apapun kalo ditanya apa yang smpat mereka lakukan 3.5 abad di indonesia? Orang belanda yang di belanda sendiri dan yang immigrant di US, mereka g bisa komen apa2 kalo ditanya ttg 3.5 abad yang mereka pernah “luangkan” di Indonesia. Peace all bro
|
|