Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: jakarta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jakarta
Photo AlbumAnother Visit to Jakarta Fair (13 photos)Jun 24, '08 9:52 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Rencana maen ke Jakarta Fair yang udah dipikirin jauh2 hari nyaris aja batal, gara2 mendadak gue mesti berangkat tugas ke lapangan. Dan itu artinya di tengah hutan. Hiks. Itupun sampe menjelang kepulangan (dan rencana itu) yang hari Sabtu lalu, gue masih buta sama sekali kapan bisa balik ke Jakarta. Tiket pun terpegang dua; jumat malam dan sabtu pagi. Just in case.

Berhubung mustinya gue juga kuliah sehari penuh saban Sabtu (dan Minggu), jadilah gue minta ke Bos biar diperbolehkan pulang Jumat malam. Kasian tuh, ada yang harap2 cemas nungguin saya di Jakarta! Heuhehe.

Dan saat akhirnya semua urusan udah berhasil diselesaikan, ke Jakarta pun ku kan kembali. Yippeeeyyy..!! Sayang kebagian nya pesawat yang sangat malam; dia nggak jadi njemput deh. Yawess, gpp kok.

Niat sabtu pagi berangkat dari jam 8 pagi gagal gara2 paginya ternyata gue rada2 tewas, hihi.. Ya iyalahh, udah berminggu2 kerjanya keluar kota dan begadang mulu. Belum lagi di kampus juga lagi banyak ujian, paper, dan kuliah tambahan yang bikin sabtu-minggu gue dengan suksesnya dihabiskan di kampus dari jam 08 pagi hingga lewat Maghrib (jam 6 sore). Duhhh.. Kapan lagi bisa menikmati sabtu pagi yang tenang di atas tempat tidur? Akibatnya saya kena omel nyonya dehh.. hihi

Tadinya sih, mau ke JKT Fair nya tuh bertiga; gue, my princess, dan bokap gue. Asyik kann? Hahaha.. Sungguh alternatif yang menarik daripada jalan2 ke mall. Jadi inget, saban kali ada yang mau ngenalin gue ke teman nya, gue pasti akan bertanya; "..dia suka nonton teater di TIM atau GKJ nggak?.. Kalo nggak, ya maaf2 aja, bosss..!!" Nah, kaya nya kriteria itu musti ditambah, "...dia mau diajakin nonton Jakarta Fair nggak?.." (duhhh, mustinya gue dapat komisi dari panitia jakarta fair nihh..) Lha, kalo si cantik yang satu ini, belum sempat gue ngajak, malah dia nya udah ngajak duluan! Bwhahaha..

Untuk cerita lebih lengkap, sangat disarankan untuk membaca review keren ini: A Visit to Jakarta Fair

Photo AlbumDo you know where you're going to? (2 photos)Jun 20, '08 8:42 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


Do you know where you're going to?
Do you like the things that life is showing you?
Where are you going to? Do you know?


(lines were taken from Mahogany, the OST)

On such a fine Wednesday afternoon, in the middle of busy weeks, my typical workdays; some indulgence could be easily retrieved from this place. It’s located within my reach; be it by riding my bike or driving my car. The warmth feeling ever felt behind the steering wheel.

Stealing the quiet time just before the rush hours begun –thanks to the 3-in-1 failed program- we usually managed to have the best spot we’d like, to swing our arms at the full speed, to let our eyes follows the nice flying curve created in the air, to land our eyes far, far away, to the great financial district across the yards. Simply beautiful.

Such precious moments often ended up with a simple ring on my mobile; delivering a soft spoken voice over there, asking me to pick my princess up at our convenience; Pacific Place or the lobby of the Bapindo towers. The city’s majestic landmarks that could be easily spotted from the place of tranquility mentioned above. And I drove her for a bit of meal, or directly to home.

Is there another way to ended up such a perfect afternoon?


Photos courtesy of TLT
SCBD, Jun 11, 2008

Related Link: Olahraga Oom-oom..

EventDRAGONFLY -- Thursday IndustrieMay 29, '08 7:20 AM
for everyone
Start:     May 29, '08 10:00p
Location:     dragonfly, Jakarta

Teringat acara serupa 2 bulan lalu; barangkali ada yg mau ikutan? Oil & Gas Industry Night 29/5/08 di Dragon Fly (see flyers attached). Z? A? B? Si? Sa? Ch? M? F? *grin Atau para pentolan kelas enemba ITB Tercela lainnya barangkali? M? J? Itung2 persiapan buat menghabiskan Jumat malam di Bandung ntar. Heuhehe..

Beberapa teman dari oil & gas comp lain yang kemarin nggak sengaja ketemu di acara IPA Convention di Senayan udah rame2 memaksa gue buat datang.. sejujurnya agak2 nggak enak nolak nya sih. Dan kebayang seru dan ramenya, karena acara ini, informally, bakal ter-attach ke IPA convention tsb. Belum termasuk teman2 kampus yang udah pada janjian mau eksis bareng, hahaa

DRAGONFLY -- Thursday Industrie
the ultimate treasure is between oil & gas
Grha BIP JL Gatot Subroto 23 Jakarta 12930
Thu, May 29, 2008 - 22 pm onward

Despite all that, I considered to pass the moment. Need to catch some sleep, esp to prepare myself to attend a meeting with BPMIGAS on Friday. Pfyuuhh...

Guess it's gonna be work hard, play harder, study hardest, no?
*grin


Note:

"Tercela" is the name of a secret brotherhood inside the ITB's EnEmba class of 2007. The membership is by invitation only, and voluntarily based. Yet to become one, you got to secure recommendations from some senior members.

Neither the brotherhood chairman nor the activist is me. Instead, I was the one who founded it. Ahahahha..


Photo AlbumB2W -- BBM Naik, Sepeda ajaaaa…. (12 photos)May 27, '08 2:31 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


Dan kami pun memutuskan untuk murtad, walau mungkin sementara, merambah ganasnya aspal Jakarta dikepung rerimbunan beton perobek angkasa; menggerakkan kaki memacu adrenalin menuju Silang Monas.

Ya memang, kali ini sepeda2 kami yang perkasa untuk menaklukkan medan berlumpur pun berbukit, terpaksa beradaptasi dengan deru dan debu Kuningan, Bunderan HI, Sudirman, Thamrin; untuk kemudian bergabung dengan ribuan penimat semilir angin pagi lainnya.

Betapa menakjubkannya! Betapa semarak suasana! Betapa riang warna-warni terpancar. Betapa semangat dentum loudspeakers terdengar. *terkesima*

Walau t’lah sering ku tahu akan nikmatnya “car free day” Sudirman di minggu pagi, tetapi mengalami sendiri sungguh membawa perspektif dan pengalaman yang berbeda. Rasa dihormati dan saling menghormati sesama pengguna jalan, senyum dan canda yang terlontar pada those passing strangers, atau semangat nan terpancar pada wajah2 yang bahagia, cerah ceria, memerah sehat.

Pada suatu hari Minggu pagi, 25 Mei 2008. Sungguh suatu cara lain yang tak terlupakan untuk menikmati ulang tahun kota. Bersama sahabat.

Ahh, andai Jakarta (bisa) selalu seperti ini, …


Blog EntryFirst DriveApr 10, '08 10:12 AM
for everyone

Di Patra Kuningan, mobil di depan gue (Altis) tahu2 ketimpe pohon yang tiba2 tumbang. Ugh. Coba gue lebih cepat beberapa menit, pastinya gue yang akan merana di bawah gencetan pohon itu. Itupun di belakangnya mobil gue berenang di genangan banjir 30 cm! Untung hari ini lagi nggak pake motor. Dijamin mogok di tengah jalan, dan nggak jadi kuliah deh.

Dan ya, seperti biasa kalo pulang saat bubaran jam kantor bebarengan dengan hujan; apalagi badai seperti tadi, macetnya itu lhooo.. Temen gue kemarin sampe ada yang sms, melontarkan pertanyaan utopis kenapa hujan mesti pas jam bubaran kantor. Entah ya, mbak. Bukan saya yang nyuruh lho.

Menyebalkan, karena orang Indonesia (yang katanya sopan dan ramah) pada sibuk mentransformasi dirinya menjadi serigala bagi manusia lain. Nggak peduli dengan kepentingan pengguna jalan lain, yang penting gue bisa lewat! Nggak peduli kalo gara2 dia (atau mereka) nggak mau ngalah demi jarak yang cuma beda 1 (satu) meter aja, udah ngebuat perempatan jadi stuck; macet total. Dengan prinsip, “..kalo gue nggak bisa lewat, maka orang lain juga ndak boleh lewat!”, sepertinya udah menjadi dogma standar.

Terpaksa gue putar arah, meninggalkan Altis ringsek itu, dan lantas memutari kompleks Birawa convention hall. Hanya demi menemukan bahwa di arah sebaliknya pun banjir telah menggenang tinggi. Apa boleh buat, terabas ajaahh.. Do I have another choices here?

Tapi sekarang udah nyampe kampus. Udah kenyang perutnya, udah menyesap kopi hangat, dan dosen udah mulai ngajar di depan kelas. Untung bukan pas jadwal midtest. Apparently I’ve mistakenly today for another date, heuhe. Tinggal lah teman2 kampus yang pada sibuk ngetawain, kenapa juga saban kali gue test drive mobil (so far baru 2x), mesti pas ada kejadian yang aneh2.

Udahlah hari ini hujan badai sampe tempat yang nggak banjir pun jadi banjir (Kompleks BI Pancoran dan Kompleks Patra Kuningan). Pas jadwal kuliah selasa kemarin pun gue ketiban sial gara2 kemacetan yang luar biasa parahnya. Di lingkar Mega Kuningan sendiri gue kejebak sampe 1 (satu) jam! Padahal biasanya Pancoran-Kampus setengah jam juga udah nyampe.

Udah gitu, pas berebut jalur di depan JW Marriot Cassablanca, mobil gue ditabrak motor yang maksa nyempil2. Kirain benturan ringan, tapi nyatanya mobil gue sampe goyang lho! Dan pas diliat, ternyata bemper depan kanan udah jadi korban; baret panjang. Hiks. Cukup ironis sekaligus absurd, mengingat gue  di hari lain adalah  pengendara motor (yang taat aturan, tentunya).

Padahal STNK aja gue belum punya, padahal nomer polisi yang terpasang pun masih abal2. Padahal kaca film dan water repellent 3M nya aja baru dipasang (dan belum dibayar, hihi). Dobel hiks.. Ohh, nasib naik mobil di Jakarta.


Jakarta, Thu, Apr 10, 2008
17.30 wib

 
PS:

  1. Photo courtesy of TLT. Tuesday midnite, just safely reached home after attending the class.
  2. Segala kesialan itu cuma berlaku di kawasan bisnis ternyata. Perjalanan pulang-pergi ke rumah, at least sampe batas Cawang Interchange, ternyata super duper menyenangkan. Dan jelas lebih cepat. Yaiyalah, secara naik tol ByPass mulu dan ngelawan arus.. :p
  3. Btw, dengan gilanya kemacetan hari ini, tanpa diduga gue nggak telat ngampus. Sampe2 temen2 pada terheran2 ngeliat wujud gue yang udah menampakan diri di kampus jauh sebelum kelas dimulai, wakakakaa.. Tumben banget kan?:p


ddd
dThumbnaild
ddd

Akhirnya, setelah sekian lama, bisa juga gue gabung lagi di acara PTD (Plesiran Tempo Doeloe) BatMus (Sahabat Museum); lokasi di seputaran Café Batavia, Jakarta, dengan tagline: Sahabat Museum - PTD Portret2 di Kota Tua.

Beberapa tahun terakhir, mesti ada aja benturan jadwal antara acara ini vs komitmen lain yang gue punya; either professionally or personally. Atau kalaupun bisa, seringkali jiwa procrastinator gue kambuh dengan akutnya (hehe). Atau budget gue yang nggak sanggup menyamai besaran yang ditawarkan oleh program.

Anyway, sejak pertama kali dulu ikutan acara ini, tahun 2001 ya, kalo ndak salah?, gue nggak pernah nyangka bahwa akan ada acara jalan-jalan wisata budaya dan sejarah seperti ini. Dan dikemas dengan baik dan gaul, pula. Dulu, gue sempat skeptis bahwa mereka yang peduli sejarah dan (warisan) budaya itu termasuk kaum Nerd yang langka dan udah masuk kategori pelestarian UNICEF, hehe. Ternyata BatMus dan PTD nya bukan hanya sanggup melawan konotasi tersebut, melainkan bahkan sanggup mengundang keingintahuan dan partisipasi yang sehat.

Tapi, namanya juga manusia yang nggak luput dari khilaf, pastinya juga terjadi pada PTD BatMus. Itu juga yang, sayangnya, terjadi pada PTD kali ini. Tapi terlepas dari segala hal yang bisa dikritisi, tetap, semangat, kepeloporan, dan idealisme seorang Ade Purnama alias Adep patut diacungin jempol. Kalau perlu, 2 (dua) jempol sekaligus deh, hehe..

Bahkan kreativitas nya ini udah diakuin oleh Majalah Tempo dalam bentuk gelar (semacam) Person of the Year nya. Gue lupa persisnya kapan, tapi saat gue terima majalah itu di kotak pos, gue langsung ngucapin selamat ke Adep. You deserve it, man! Ohya, penghargaan itu belum termasuk beragam ulasan dan/atau liputan dari berbagai media lainnya; cetak, radio, TV, maupun online. Dan lihatlah pada jumlah peserta yang antusias dan haus akan pengalaman baru berbudaya! Begitu hebatnya pengaruh yang ditimbulkan, hingga para pengikut (= follower) dan peniru pun bermunculan dengan klaim masing-masing. Tapi tetap, BatMus No.1!

Bravo untuk Adep dan rekan-rekan sukarelawan BatMus. Sorakan untuk mereka yang mau mengorbankan beberapa weekend yang beharga untuk mempersiapkan PTD berikutnya. Satu hal yang pasti, Jakarta dan Kota Tua nya patut berterimakasih.

Note:
More details on Jakarta, read this intriguing article: Jakarta, Indonesia - A Sinking Giant originally posted on the Jakarta Post daily.



Concerning the previous post of mine, posted here, I would like to thank you folks. For the supportive comments thrown and, err… for not that positive ones I found out whilst blog walked and browsed around this virtual neighborhood, and I say again, the “neighborhood”.

For that last part, you should know who you are, fellows. Only due to some circumstances or wise considerations, I am still not reaching that part ie to declare an open skirmish with you. Nevertheless, you gotta to believe me, that when it happened, I can simply assure you, that you’re gonna feel more than sorry for such cowardice acts for all this time. Gheezz.. 

Disclaimer:

Serendipity part Deux was not mean to promote anything (with bold line) nor anyone other than the amazing phenomenon of this hectic place called Jakarta with its busy people running around the clock. Otherwise, any disagreement arose nor sarcasm thoughts popped up could be directly addressed to me, and I would be more than happy to deal with. Thank you.

 
Jakarta, Jan 26, 2008
12.31 wib

 

Blog EntrySerendipity – Part DeuxJan 24, '08 5:35 AM
for everyone


Bagaimana Jakarta yang keras dan dingin sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukanlah perintang jarak, tapi malah mendekatkannya? Beragam rangkaian kejadian yang seolah saling tak bertaut, pada awalnya adalah kata, dan lantas bersambung dalam leburan keterkejutan nan tak berujung.

Siang tadi jelang makan siang, sambil menanti audiensi dengan seorang VP, gue teringat akan sepotong obrolan dengan seorang sahabat, kita sebut saja dia sebagai Mr P, yang belum lama sangat bersemangat untuk mengenalkan seorang putri bernama, Ms X (entah siapa), yang menurutnya kedua orang tua nya bekerja di kantor gue. Informasi yang teramat sangat nggak jelas, dan untuk sementara bisa diabaikan J  

Lantas gue sempatkan ngobrol2 dengan sekretaris seorang VP lain; kita sebut saja Ms M, yang kebetulan menyambut salam yang terlontar. Berhenti untuk sekedar "say hi", dan obrolan pun berlanjut. Salah satu topik yang paling disukai ibu2 semacam ini adalah kenyataan bahwa gue sedang bersekolah lagi (juga fakta bahwa gue masih single, alias masih nggak laku, kekeke..)

Selain karena, untuk Ms M, salah seorang keponakannya, Mr P, ternyata adalah teman sekelas gue di Sampoerna ITB, sekaligus teman kelompok belajar, dan karenanya kami berhubungan cukup akrab. Obrolan pun bergeser, dan permintaan bantuan mengalir; tentang buku teks akuntansi perminyakan, mungkinkah gue punya? Putri nya, Ms MJ baru saja bergabung dengan sebuah perusahaan minyak saingan, dan ingin belajar.

Pertanyaan Ms M dan fakta mengenai kebutuhan Ms MJ membuat gue ingat pada seorang teman, perempuan, yang entah bagaimana punya sebentuk permintaan sederhana yang sama. Kita sebut dia sebagai Ms R. Pada titik ini gue mulai bertanya2, mungkinkah ketiga putri tersebut sejatinya adalah perempuan yang sama?

Pikiran pun melayang, merekonstruksi semua adegan yang ada dan informasi yang mungkin terlewat. Tapi satu kata kunci yang disampaikan Ms M membuat gue tersentak nyalang, dan satu informasi tambahan dari Mr P membuat sanubari bertanya. Dengan ragu campur malu, gue sodorkan HP gue kepada Ms M, dan bertanya, apakah beliau mengenal nama & no HP yang tercantum di dalam situ? And the truth revealed itself!

The funny thing is, (or shall we call it as weird?), those three girls were actually the same on person. The one whose my friend would like me to know about, the one whose I barely know recently, and the one mentioned by Ms M. A serendipity. What a small world after all, ahaha..

What a weird Jakarta! Langsung aja tadi gue titip salam sama calon mertua, oops.. sama Ms M maksudna, hehe.. Dan Ms M pun tiada hentinya tertawa bersama akan keabsurdan situasi ini hingga akhirnya gue diselamatkan oleh sang VP. Lepas dari kandang macan, masuk ke mulut buaya? Nggak deehh…  :p

It's funny how from the simple things, the life indeed is all found connected. It's one of the reason why I looove this city! *smiling.


Thu, January 24, 2008
Jakarta
@ 11:45 AM 


Previous related journal:
Serendipity - /,sæ.rən.’di.pə.ti/




EventSahabat Museum - PTD Portret2 di Kota TuaJan 24, '08 3:08 AM
for everyone
Start:     Jan 27, '08 07:30a
Location:     Escompto Bank, Sunda Kelapa, dan sekitarnya -- Jakarta

SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren:

PLESIRAN TEMPO DOELOE
PORTRET-PORTRET DI KOTA TUA

Koelilingin bilangan Djakarta Tempo Doeloe,
tjari tahoe locatie preciesnja Soenda Kalapa,
Djajakarta dan Batavia dengen berdjalan kaki

Sembari portret-portret pake toestel manual
atawa digitaal, jang penting hatsilnja jahoed
poenja, poela aken ada Pak Alwi Shahab
jang demen noelis perkara riwajat ini kota,
diaorang djoega djago bertjeloteh perihal
keadahaan sedari doeloe sampe sekarang.

Poen toean en njonja bole rasahken makan
onbijt (sarapan) dengen Nasi Oelam Misjaya
jang tersohor hingga ka pendjoeroe negeri.

ESCOMPTO BANK - CHARTERED BANK -
KALI BESAR - JEMBATAN KOTA INTAN -
GARIS PANTAI SOENDA KALAPA tahun
1522 - DJAJAKARTA - PRINSENSTRAAT -
DASAAD MUSIN CONCERN BUILDING -
STADHUISPLEIN (Lapangan Balaikota), dsk
(Jl.Bank - Jl.Kali Besar Barat - Jl.Nelayan Timur -
Jl.Cengkeh - Taman Fatahillah - Jl.Pintu Besar Utara)

Minggu, 27 Januari
jam 07.30 pagi
Rp.30.000/orang
(tiga puluh ribu)

kalo pada mau
ngedaftar, hub:
adep@cbn.net.id atau
0818 94 96 82
yuk mari, mari...



Photo AlbumGirls, do We Really Wanna be Equal? (1 photo)Jan 23, '08 12:22 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Once I saw this sign, I hate it already!

Why do we have to make this sign? Is it really necessary? What is the real reason behind this? I claim and feel ashamed for those who shouted about the women power, emancipation, equality, and so on and so forth.... But yet, still use these facilities.

Is it because the ladies who wear the high heels or the stiletto shoes are too lazy to walk? Just cut your feet babe! You with your Cinderella's brain and the superficiality life around you!

Ah, Jakarta.....


Thought narrated by : http://daniellebelle.blogspot.com
Idea and picture by : http://terbanglahlbhtinggi.multiply.com

Location : Senayan Arcadia, Jakarta
Date : Thu, Jan 10, 2008, +/- 02.00 am


Blog EntryTendang-tendangan, bukan Cubit-cubitan dong, ahhJan 22, '08 1:40 AM
for everyone

Ini bukan ngomongin latihan bela diri atau satu lagi upaya berjibaku melawan para pencopet di atas bis kota. Bukan pula kekerasan domestik yang biasanya mengiringi keributan2 nggak penting (haiyyaa..nggak dheng!:p). Bukan, bukan itu kok. Beneran!

Tapi emang tadi pagi gue sempat tendang2an (baca: saling berbalas tendangan) versus pengendara sepeda motor lain di bilangan Cawang, Jakarta Selatan.

Harap dicatat: prosesi tersebut dilakukan dengan gaya akrobatik; kami berdua masih duduk di atas sadel, dan motor masing2 juga masih melaju dengan cukup cepat. Dan ohya, ahem, gue duluan yang nendang sih (malu).

Bos dan teman-teman kantor sampe bengong nggak percaya pas gue cerita’in barusan. Mereka yakin, nggak mungkin banget seorang TLT yang baik hati, penyabar, dan welas asih (suer, ini nggak ngelebih2in kok, ini ASELI copy-paste testimonial mereka, cek aja Friendster gue, hihi) bisa-bisanya lepas kontrol di tengah kejamnya belantara ibukota. Bukannya justru TLT biasanya yang justru selalu menjadi penengah semua keributan; kantor maupun pribadi? à ini emang mulai agak berlebihan sih, gue akuin, hehe..

Langsung mereka gue challenge, “..apa laen kali perlu gue rekam pake handycam nih?..” Dan sialnya, mereka kompak ngejawab; perlu!. Sial! Emang susah kalo telanjur dicap jadi anak baek-baek! :p

Gara2nya sederhana aja, tuh Biker X (kalo di Pos Kota bagian mata nya dicoret pake spidol hitam..:p) berusaha menyalib gue dari sebelah kiri. Tiba2 mikrolet yang persis di depan dia ngerem mendadak, jadi dia kaget, dan lantas maen banting aja ke kanan. Which means langsung motong jalur gue. Padahal di sebelah kanan ada bis yang gede banget, jadi gue terpaksa tetap lurus sambil ngerem. Langsung nabrak dia dengan sukses deh.

Bukan soal tabrakan nya yang emang nggak seberapa, tapi bahaya nya itu lho yang bikin gue ngamuk. Kalo gue kaget, dan lantas banting kanan kan, alamat udah almarhum gue sekarang (eh, di surga ada Wi-Fi gratisan nggak ya?).

Begitu gue maki-maki si X, eh tuh orang malahan lebih galak lagi dan nyalah2in gue; pake bahasa kebun binatang pula. Ya udah deh, kejadian…

 
PS:
Peristiwa selanjutnya sengaja disensor demi menjaga khayalak pembaca yang lebih muda dari adegan kekerasan yang berlebihan. Harap maklum.

PS.PS:
Yang pasti bukan cubit-cubit an lah yaa.. *grin

 

Blog EntryIt’s Gonna be A Long December.. Dec 5, '07 4:32 AM
for everyone


Bangun saat Subuh di antara sepi nya pagi tadi, antara sadar dan tiada, berasa seperti mulai mencelupkan kaki pada pinggir pantai.. basah dan dingin. Hmmm.. Beaches will always be my indulgence.. *begun daydreaming and preparing to go back to my sleep.

But hey, wait a minute! Where am I? Ouch! Ternyata Jakarta banjir lagi! Hah! Beginilah rupanya kinerja Gubernur baru kita si Foke thea, hahaha.. Masih ada yang ingat sama Janji2 Kampanye nya, nggak? *grin

Lupakan tidur! Langsung deh kerja bakti pagi-pagi buta. Selamatkan apa yang bisa. Relakan apa yang udah keburu ngambang. Lagian gimana juga mau tidur? Lha wong kasur gue langsung digulung dan diselamatkan ke tempat yang lebih tinggi, hehhe..

Untungnya (biasa deh, orang Jawa selalu bisa melihat segi untung dari tiap musibah hehe) kali ini nggak ada buku2 dan koleksi DVD gue yang menjadi korban seperti saat Banjir Besar Feb 2007 kemarin.

Waktu itu gue kehilangan sekitar 100 exp buku, sebagian besar berbahasa Inggris yang berharga relative lebih mahal dan masih dalam kondisi teramat sangat baru (note: belum sempat dijamah, euh..dibaca!) dan sekitar 100 judul DVD koleksi gue yang kebanyakan sulit dicari; baik karena jenis nya atau minimal karena kualitasnya. Belum lagi nilai uang nya, sigh.  

Agak bingung aja gimana musti mencari jalan buat menuju kantor. Rumah di Priok, kantor Pancoran; naik motor pula. Udah pasti musti menerjang banjir di prapatan Cempaka Mas-Kelapa Gading dan prapatan Pramuka-Pemuda. Padahal kemarin aja (Selasa, 4 Des) saat rumah gue nggak terendam, kedua prapatan itu sudah kebanjiran hingga sedalam kira2 setengah ban mobil. Apalagi sekarang ya? Padahal lagi, motor gue termasuk yang tipe2 manja binti sensitive kalo kesentuh air.

Alamat siap2 kerja bakti ngedorong motor mogok yang beratnya nggak ketulungan itu nih, haha.. Ya sudahlah, itung2 sembari ngurusin badan..:p

 

PS:

1.      Banjir pagi ini mungkin nggak terlalu parah, tapi mengingat ini baru awal Desember, jadi agak kuatir juga nih. Apalagi dari pengalaman biasanya musim banjir itu baru bubar saat Februari telah berlalu. Belum lagi tambahan resiko fenomena pasang laut yang kemarin telah sempat menenggelamkan Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Ugh,..

2.      Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih, Kami akan sangat menghargai bilamana kepedulian dan kekuatiran yang Anda sampaikan atas musibah banjir yang Kami alami ini tidak dalam bentuk ucapan, bingkisan, maupun karangan bunga. Uhm, my personal account No will be available upon request, hihi..

3.      Judul terinspirasi dari jurnal seorang rekan (dengan isi yang berbeda, tentunya).


Blog EntryYour Greatest Enemy is …Nov 21, '07 10:56 PM
for everyone

"..You never really understand a person until you consider things from his point of view... Until you climb inside of his skin and walk around in it.." [To Kill a Mockingird, Harper Lee, 1960]


Gue yakin, semua juga sudah paham bahwa musuh kita yang terbesar bukanlah mereka yang ada di sekitar kita, melainkan justru diri kita sendiri. Ini udah sering diingatkan, hingga seolah telah menjadi bahasa sehari-hari yang meluncur begitu saja dari bibir kita; mungkin tanpa pernah benar-benar kita bisa pahami. Atau jangan-jangan malah sudah lupa?

Dalam Islam (mohon maaf kepada rekan lain), paling tidak adagium tersebut memperoleh wahana pembuktiannya saat kita diharuskan menunaikan ibadah Puasa Ramadhan; sebulan penuh. Lupakan perjuangan menahan haus dan lapar, yang ditenggarai masih menjadi tujuan utama mayoritas umat dalam berpuasa, tetapi cobalah berpuasa karena kau ingin melawan dan, tentunya, mengalahkan diri lo sendiri.

Bagaimana caranya? Nggak ngegosipin orang, nggak berprasangka, nggak (gampang) marah, nggak menyakiti hati orang lain, dsb. Menarik sekali bukan? Karena itu semua sejatinya merupakan fitrah manusia.

Tentu itu hanya beberapa di antaranya. Dan tenang aja, lo nggak perlu ribet hafalkan semua kok. Sebagai gantinya, secara sederhana, jalankan saja prinsip :

bahwa kau tidak akan melakukan hal apapun yang

kau tidak ingin orang lain lakukan terhadap diri elo.

Siapa sih yang pengen digosipin? Atau disakiti hatinya? Pasti nggak ada. Jadi, kenapa lo mau lakukan itu terhadap orang lain? As simple as that, dude.

Sayang seribu sayang, banyak di antara kita yang, sadar atau tidak sadar, terjebak pada bahasa-bahasa simbol; menjadikan agama sebagai sekedar suatu kewajiban yang berdiri terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Sekularisme.

Begitu datang Lebaran, begitu selesai pula kebaikan hati. Menguap begitu saja entah kemana. Kenapa bisa begitu? Ya itu tadi, karena soal bahasa simbol tadi. Sehingga seolah agama direduksi maknanya hingga hanya tinggal penghias seremonial belaka. Perginya Lebaran cenderung berbarengan dengan menguapnya sifat-sifat baik yang dicoba ditanamkan oleh jerih payah berpuasa sebulan lamanya.

Bila sudah begitu maka, ekstrimnya, buat apa berpuasa kecuali hanya lapar dan haus? Mengutip iklan, tanya kenapa.

 
Catatan:

Artikel ini merupakan renungan gue tadi pagi sesaat sebuah kecelakaan menimpa diri dalam perjalanan menuju kantor, di perempatan Cawang arah Semanggi; sebuah mobil Toyota Kijang Innova putih menabrak motor Thunder 250 gue dalam posisi serong dari kiri belakang, dan menjepitnya ke mobil boks yang ada di depan. Sebenarnya gue langsung mengalah dengan cara mengerem, sekaligus untuk menghidari kerusakan lebih parah.

Tapi entah kenapa, Innova sialan itu bukannya ngerem, malah tetap berusaha maju (sopir maupun penumpang nya berwajah marah dan melotot ke gue). Ya, memang dalam kecepatan lambat sih. Akibatnya bukan hanya ngerem, gue malah terpaksa berhenti dan memiringkan motor ke sebelah kanan, hanya agar Innova itu dapat memperbaiki posisinya – harapan gue agar dia mundur. Ternyata dia malah tetap maju, melindas ban depan gue dengan sukses, dan membuat gue berjuang menahan Thunder gue yang udah nyaris rebah ke sebelah kanan.

Pikiran pertama yang terlintas, hancur dah velg dan ban depan gue. Jangan2 lampu depan dan lampu sein juga rusak nih. Pikiran kedua, sotoy bener tuh Innova, gue baret juga lo pake stang gue. Atau gue hajar tuh kaca spion. Jadi sama-sama rugi kan?

But then I reminded myself to positively analyze the situation; hey, it’s just an accident! Who does want to get involved by intention? And I started to consider things from his point of view.

Maybe he just didn’t see me, maybe he wanted to avoid some obstacles on his left. Maybe he hurried himself for not getting late, or just want to save a parking lot on his office building. Maybe he just playing evil, but so what?

Satu-satu nya yang tergores dari peristiwa itu adalah “ego” gue. Tapi tentu saja itu nggak penting, toh harga diri gue masih utuh. And the most important is, my Thunder seems to be okay (that’s the plus to buy a CBU not a CKD, haha). Beside, those damn motorcycles behind me has already screamed to go through.

Ohiya, gue hafal no polisi mobil itu, tapi ya sudahlah.. Seperti gue bilang di atas, the only thing that hurt was just my ego, not myself nor my bike. So what?


Jakarta, Thursday
Nov 22, 2007
07.45 am
 

Baca Juga:

1.      Indonesia: a Symbollic-Obsessed-Nation

2.      the Jakarta Jive : the Fasting Festive

3.      Just Another Near Death Experience

4.      See No Evil : the Jakartans Behaviour


Keterangan:

CBU    : Completely Built Up (impor asli, coy!)
CKD    : apa ya singkatannya? Pokoke ini rakitan dalam negeri, biasanya lebih murah.


ReviewReviewReviewReviewReviewSurat Terbuka untuk Gubernur Foke, JakartaOct 25, '07 4:08 AM
for everyone
Category:Other

Can hardly write in more complete terms and better language. Do you share the same concern about our new Jakarta governor and, especially, his potential and upcoming effort to make our beloved Jakarta become a better place to be lived in? Please.
---------


Surat Terbuka untuk Gubernur Foke
Tulus Abadi - Sabtu, 20 Oktober 2007
selengkapnya, klik di sini


Eric Penalosa, mantan Wali Kota Bogota, Kolombia, dalam sebuah seminar di Jakarta, melontarkan kritik keras soal kondisi Kota Jakarta. Menurut dia, Jakarta tak ubahnya sebuah kota yang sakit. Kondisi itu bukan karena Jakarta sedang dilanda wabah demam berdarah atau flu burung, melainkan karena Jakarta terlalu banyak dipenuhi mal dan pusat belanja. Sebaliknya, di Jakarta sangat minim tempat yang bisa dijadikan publik untuk berkumpul secara bebas (public space).

Fakta ini sungguh paradoks, karena bagi mantan gubernur Sutiyoso, banyaknya mal dan pusat belanja justru diklaim sebagai sebuah prestasi yang membanggakan dalam membangun Jakarta sebagai kota supermodern. Target Sutiyoso, Jakarta harus memiliki 200 mal dan pusat belanja, sebagaimana di negeri jiran, Singapura.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan Sutiyoso yang berkiblat ke Singapura untuk urusan mal dan pusat belanja. Tapi seharusnya Sutiyoso tidak hanya mengadopsi sisi komersial dari negeri kecil itu. Sebab, selain marak mal dan pusat belanja, Singapura mengembangkan public space secara proporsional. Ini yang tidak diadopsi oleh Sutiyoso.

Relevan dengan situasi tersebut, Fauzi Bowo (Foke), yang baru saja dilantik menjadi orang nomor wahid di Jakarta, menetapkan menyembuhkan penyakit kronis Kota Jakarta sebagai agenda utama. Pasalnya, senapas dengan Eric Penalosa, yang sukses menjadikan Bogota sebagai kota manusiawi (human city) berkat kepemimpinan politik (political leadership) yang kuat, yaitu setelah mengantongi kemenangan 60 persen suara via pemilihan umum langsung. Dengan modal politik inilah Penalosa mendapat kepercayaan dan dukungan publik untuk membongkar ulang tata kotanya. Analog dengan Penalosa, kini modal politik itu juga dimiliki oleh Fauzi Bowo, setelah meraup suara 57,78 persen suara dalam pemilihan kepala daerah yang lalu. Artinya, sebagaimana Penalosa, Foke juga mengantongi kepercayaan publik yang cukup kuat untuk "mendaur ulang" pola manajemen tata Kota Jakarta. Foke tidak perlu gamang menganulir rencana kebijakan Sutiyoso yang tidak sejalan dengan aspirasi publik dan tata pengelolaan kota yang berkelanjutan.

Isu ini harus digelorakan karena, jika hanya mengacu pada janji Foke dalam masa kampanye yang lalu, sepertinya tidak akan ada gebrakan radikal ala Penalosa. Via iklan politik "Solusi Fauzi Bowo untuk Jakarta" (Kompas, Sabtu, 4 Agustus), Foke hanya berfokus pada tiga kasus utama.

Pertama, untuk mengatasi banjir, dia akan mempercepat penyelesaian Kanal Banjir Timur serta normalisasi Kanal Banjir Barat dan kali-kali yang melintasi Jakarta.

Kedua, untuk mengatasi kemacetan, dia akan mempercepat ketersediaan transportasi massal dengan kapasitas yang besar dan kualitas yang prima, antara lain busway dan subway yang mampu mengangkut 60 ribu penumpang per jam.

Dan ketiga, dalam hal pendidikan, dia akan menyiapkan program prioritas untuk penuntasan wajib belajar 12 tahun, peningkatan mutu lulusan sekolah dasar/sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan (standar internasional) serta meningkatkan kompetensi guru (standar Asia).

Jika hanya mendasarkan pada tiga program itu--sebagaimana yang tertuang dalam iklan politik, hakulyakin Foke tidak akan dikenang publik sebagai gubernur yang "menyejarah". Sekalipun busway, monorel, subway, serta percepatan pembangunan Kanal Banjir Barat/Timur sukses, warga Jakarta akan mencatat bahwa itu "karya" Sutiyoso.

Banjir dan kemacetan lalu lintas jelas merupakan "megakasus" yang harus mendapatkan prioritas tertinggi untuk segera dibereskan. Persoalannya, penyakit kronis Kota Jakarta bukan hanya itu: bukan hanya banjir dan macet an sich! Masih ada sederet penyakit kronis lain--yang secara sosio-kultural akan menjadi bom waktu yang tidak kalah mengerikan ketimbang "megabanjir" dan "megamacet". Sebagaimana Jakarta menyontek bus rapid transit ala Transmilenio Bogota, seharusnya Fauzi Bowo juga mengadopsi gerakan radikal ala Penalosa.

Apa sajakah gerakan radikal Penalosa dalam memanusiawikan Kota Bogota yang semula terkenal barbar? Salah satunya membangun tempat-tempat publik secara meluas. Di Bogota, taman-taman kota terbentang begitu luas. Dengan taman kota itu, warga kota dapat secara leluasa bercengkerama dengan keluarga dan kerabat, berolahraga, serta aktivitas lainnya. Karena itu, tidak ada jalan bagi Fauzi Bowo untuk menganulir "nafsu" Sutiyoso agar Jakarta memiliki 200 mal dan pusat belanja. Caranya?

Pertama, Fauzi Bowo harus berani me-replace dengan memperbanyak pembangunan tempat publik yang nir-komersialisme, seperti tempat bermain, taman kota, dan lapangan untuk berolahraga. Minimnya tempat-tempat publik di Jakarta mengakibatkan warga Jakarta tidak kreatif, bahkan destruktif. Tingginya angka kriminalitas di Jakarta bukan hanya dipicu oleh faktor ekonomi dan kemelaratan, melainkan lebih karena tata ruang kota yang tidak familiar bagi warga Jakarta. Terbukti, ketika Penalosa menata ulang kotanya, angka kriminalitas di Bogota turun secara dramatis, 60 persen!

Saat ini jumlah mal dan pusat belanja di Jakarta yang sudah oversupply bukan hanya berdampak terhadap persaingan yang tidak sehat antarmal, melainkan juga menjadi "mesin pembunuh" bagi eksistensi pasar tradisional dan usaha mikro lainnya. Lebih dari itu, maraknya mal dan pusat belanja juga memicu perilaku konsumtivisme warga Jakarta. Dalam konteks agama (Islam), menjadikan mal dan pusat belanja sebagai center of activity sejatinya merupakan perbuatan yang tidak dianjurkan, bahkan harus dihindari. Rasulullah SAW menegaskan bahwa pasar (baca: mal dan pusat belanja) merupakan pusat segala kemaksiatan, karena di pasarlah terjadi aksi tipu-menipu dan penindasan manusia atas manusia (exploitation de l'home par l'home).

Kedua, mengembalikan fungsi tempat-tempat publik yang sudah ada, tapi direduksi untuk kepentingan komersial dan kepentingan lain yang menyimpang. Contohnya, jalan raya dan trotoar. Kedua wahana untuk aktivitas publik ini kini berubah menjadi "pasar". Menjadikan jalan raya dan trotoar untuk kepentingan komersial, apa pun alasannya, merupakan pengambilalihan hak-hak publik secara nyata. Apalagi luas ruas jalan di Jakarta masih sangat minim, hanya berkisar 8 persen dari total luas wilayah. Bandingkan dengan Singapura, yang luas ruas jalannya mencapai 15 persen dari total luas wilayah.

Ketiga, mengembalikan area ruang terbuka hijau (RTH) yang kini telah disulap menjadi sarana komersial. RTH Jakarta yang kini tinggal 9,7 persen harus dinormalisasi menjadi minimal 27 persen dari total luas wilayah Jakarta. Luas area RTH yang memadai, selain akan menjadi sumber resapan air tanah, akan menjadi "tempat bermain" warga kota, tanpa harus dijejali dengan kepentingan komersial. Tempat-tempat komersial, yang secara telanjang melanggar prinsip-prinsip RTH, harus dihijaukan kembali.

Pada akhirnya, Fauzi Bowo tidak akan mampu menyembuhkan penyakit Kota Jakarta jika hanya berkutat pada persoalan banjir, kemacetan, dan pendidikan. Keberadaan tempat-tempat publik yang proporsional, dari dimensi apa pun--budaya, sosial, psikologi, bahkan agama--merupakan suatu keharusan. Rujuklah tesis cendekiawan muslim kawakan Ibnu Khaldun dalam bukunya, Mukaddimah, bahwa salah satu ciri kota beradab adalah adanya tempat yang luas untuk berkumpul warganya. Ayo, Bang Foke, jangan gadaikan Jakarta hanya untuk kepentingan materialisme. Lakukan terobosan radikal ala Penalosa untuk melakukan face off (operasi total wajah) Jakarta sebagai kota sakit menjadi kota manusiawi bagi warganya. Ayo, Bang Foke, Anda bisa!

Tulus Abadi,
Anggota Pengurus Harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)



 

 

Terkait artikel sebelumnya (Loosing Your Manhood, bisakah?) yang membahas hubungan antara kejantanan versus tarian balet, ternyata, thanks banget!, banyak mendapat tanggapan yang menarik. Untuk itu berikut gue lampirkan hasil diskursus lebih jauh, yang mestinya lebih berguna bilamana ditampilkan dalam bentuk jurnal tersendiri. Daripada misalnya, menyesatkan kita dalam belantara komentar yang centang perentang.

 

Sebagai langkah awal, untuk menyamakan persepsi; "manhood" di sini sebenarnya nggak melulu berarti secara fisik, tapi lebih ke arah psikis.

 

Maksud gue, kenyataannya banyak banget kan, mereka yang secara fisik sangat lelaki, tetapi ternyata berpenampilan "melambai"? Bahkan mereka yang seperti itu pun banyak juga yang menyesatkan; ternyata masih punya selera dan keinginan yang normal sebagai "cowok". Whatever it does mean*wink2!:p

 

Ngomong2 memang banyak orang yang salah paham menyamaratakan pria gemulai, atau bahkan gay, dengan ketidakmampuan menghasilkan keturunan. Atau tuduhan gay atas diri seseorang dengan sendirinya rontok hanya karena yang bersangkutan menikah (dan punya anak). Jadi dengan sendirinya remaja pria yang berangkat dewasa, sekali lagi berdasarkan pengalaman pribadi, akan sibuk melakukan berbagai kegiatan jantan hanya agar terlihat macho. Misalnya naik kendaraan umum tanpa bayar, ramai-ramai menumpang truk peti kemas yang sedang berjalan, coba-coba nodong anak sekolah lain atau adik kelas, minum sampe mabok, atau berbagi aneka pil narkotik.

 

Jadi inget dulu pas SMP gue pernah dikeroyok gara-gara dicekoki obat entah apa gitu. Untungnya sih tuh pil nggak sampe tertelan, terlempar dengan sukses, persis saat terakhir hampir tertelan. Padahal asli gue udah nggak bisa bergerak, semua anggota badan udah dipegang satu anak. Makanya habis itu gue digebukin semua orang, pil mahal katanya, hehe.. Salah satunya karena pengalaman menyebalkan masa SMP itulah, makanya sampe sekarang gue nggak tertarik minum alkohol, ngerokok, apalagi ngobat. Tiap kali ada yang nawarin, terutama kalo pas lagi acara free-flow gitu, mesti gue langsung inget kejadian itu; yang asli bikin ilfil.. :p Sorry to say yaa...

 

Kembali ke atas, karenanya nggak heran saat beberapa rekan yang belum beruntung dikaruniai anak dari perkawinan bertahun lamanya malah terkena pertanyaan sadis mengenai kadar kejantanan mereka. Jangankan itu, mereka yang sukses beranak-pinak seperti marmut tapi ternyata menghasilkan perempuan semua juga menghadapi “keputusan pengadilan” yang sama. Poor them..

 

Padahal, siapapun yang cukup punya otak tahu bahwa memiliki anak lebih dipengaruhi soal kesehatan orang tua; termasuk kualitas sel telur maupun sperma yang mereka miliki. Bukan oleh kecenderungan seksual mereka. Atau bahkan oleh kegiatan apa yang mereka miliki di waktu luang. Apakah menonton balet atau mendukung pertandingan Piala Asia Indonesia–Korsel. Ngomong-ngomong, gue emang nggak suka bola sih. Aneh aja ngeliat 1 bola diperebutkan rame-rame..huehehe.. *ngakak guling2an

 

Tapi memang ujung-ujungnya ini lebih mengarah ke soal tentang persepsi (baca artikel terkait di sini: Persepsi Sosial). Jadi inget dulu almarhumah Eyang (dalam bahasa Jawa Tengah berarti “nenek”) gue pernah marah-marah, gara-gara pas ujian praktek PKK (salah satu mata pelajaran) zaman SMP dulu buat ngelengkapi nilai kelulusan akhir, ternyata gue malah memilih untuk merangkai bunga.

 

+: "..Cowok kok merangkai bunga. Kamu mau jadi apa?.."

-: "..Biar gampang aja, Eyang. Soalnya alternatif lain musti bikin radio sampe nyala (baca: nggak bakat deh guee, hehe).."

+: (nggak terima & beralih ngomelin almarhumah nyokap gue)

 

Mungkin alm Eyang gue memang harus dimaafkan, karena dia mewakili zaman yang berbeda, dengan persepsi sosial yang berbeda pula. Demikian pula penjelasan alm nyokap gue saat itu kepada beliau. Persepsi yang, bahkan untuk saat ini, ternyata bahkan sudah sangat berbeda pula dengan saat percakapan di atas terjadi.

 

Sekarang, lha wong cewek pake baju cowok (baca: kemeja + celana panjang) aja udah  ada yang ngelarang kok. Malah banyak yang bilang jadi kelihatan lebih asyik dan cool karena terlihat beda dan independen, ehuehe.. Itu dia salah satu hal yang bikin gue sirik berat sama perempuan. Maksud gue, sejak kapan sih, ada larangan cowok berbaju perempuan? **halahhh...!:p

 

Satu lagi, perempuan bisa bebas bergandengan tangan atau bicara berdua berjam-jam lamanya dengan para sahabat wanitanya, one-to-one. Sambil berpegangan tangan atau saling menghapus air mata (mulai berlebihan deh, hehe). Bayangkan bilamana persis sebaliknya yang terjadi; pada 2 lelaki.. alamaaakkk.. Apa dunia nggak bakal langsung menghakimi mereka sebagai penikmat sesama? Hihi..

 

Kalaupun hal ini dilakukan secara rahasia (baca: bukan di tempat umum), kaya nya tetap nggak banget dehh.. Berdasarkan pengamatan pribadi sih, ini karena cowok, sedari kecil sudah dipersepsikan untuk menjadi kuat dan nggak cengeng. Maybe you remember this line: ..jadi cowok kok cengeng, sih?..” Makanya, mereka terbiasa buat menampilkan kesan tough guy dan menjadi tempat berlindung bagi, ahem, wanita.

 

Jangankan berintim ria sesama teman pria, lha wong gue makan berdua adik cowok gue aja di resto yang rada comfy dikit tuh udah dilihatin semua orang; baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi, bahkan termasuk pelayannya yang pada tersenyum-senyum penuh arti. Semua dengan tatapan aneh dan, sebagian bahkan, mencibir.. Kesannya gimana, gitu lho..

 

Catatan:

Ada beberapa tempat nggak sopan seperti ini yang pada akhirnya membuat kami jadi nggak nyaman sendiri. Wouldn’t mention and judge their locations here, but the list is available upon request!:p

 

Lebih lanjut, nah, itu dia kata kuncinya; "terkesan". Sebuah perspektif yang membawa kepada persepsi. Suatu persepsi yang dinyakini banyak pihak, hingga menjadi sebuah kebenaran mayoritas, dan lantas bertransformasi menjadi sebentuk kebenaran absolut. Dan segala mereka yang berbeda akan dicap sebagai: aneh, bukan kita, kaum mereka, .... layak dihujat, dan (bahkan) dibasmi. Mengerikan, bukan?

 

Tapi teuteup, label cewek tomboy, di satu sisi mungkin, malah berpotensi untuk meningkatkan market share, dan dibicarakan dengan kondisi yang bisa jadi prihatin tapi cenderung memaklumi. Bandingkan misalnya dengan predikat cowok kemayu, atau pria melankolis. Yang ada cuma penghakiman sosial yang memojokkan, malah. Too bad..

 

 

Jakarta, Sunday,

070722 – 23.11 wib

© terbanglah lebih tinggi

 

 

PS:

Artikel terkait dapat dibaca pada link berikut:

§         Persepsi Sosial

§         Panduan Menikmati Teater

 

 


Blog EntryPeran PerempuanJun 14, '07 4:11 AM
for everyone

renungan Hari Kartini utk seorang sahabat,

artikel asli dikirimkan dalam bentuk email

(artikel terkait: Untuk Apa Hari Kartini Diperingati)

© terbanglah lebih tinggi

 

 

Ris,

Aku kok masih kepikiran aja ya, komentar dirimu pagi tadi; tentang kau yang nggak mau ikut rapat penting di gedung WTC Sudirman dengan Y dan E. Tapi kau elakkan tugas mengerikan itu dengan cara memberikan alasan bahwa,

 

"...aku kan perempuan; nggak perlu karir (tinggi);

nanti juga pensiun, harus urus anak, dapur,bla.bla.."

 

Terus terang, aku nggak setuju banget dengan komentar mu yang seperti itu. Apalagi karena aku tahu bahwa sebenarnya kau nggak mau bergabung semata hanya karena "males"J Jadi, ya sudahlah, nggak perlu kau gunakan alasan yang bombastis seperti itu.

 

Tapi di samping itu, aku merasa bahwa alasan itu sebenarnya malah terbalik; alias kau menggunakan alasan "males" itu cuma sekedar untuk menjadi pembenaran dan penggampangan diri – demi nggak usah ikut. Dan terbebas dari tekanan penjelasan yang dikritisi semua. Yah, daripada ngomong yang bombastis seperti pagi tadi, dan telah sukses membuat semua yang mendengar jadi mengerutkan kening, kan? Dan omongan seperti itu rasanya kurang cocok bila diterapkan ke sembarang orang, kau tahu itu.

 

Why I didn't agree?

 

Mengapa? Dan merujuk pada argumentasi mu sebelumnya, karena aku percaya bahwa (seharusnya) perempuan punya hak atas kesempatan yang sama dengan yang diperoleh pria.  Whilst life, is merely a choice anyway.

 

Ris,

Ini hanyalah masalah pilihan. Dan kau tahu tentunya setiap pilihan tersebut punya resikonya masing-masing. Misal, seperti kau tadi bilang, harus bolak-balik repot menitipkan anak ke mertua tiap hari kerja, sementara sebelum berangkat tiap pagi masih harus mengurus anak+suami dulu, dan untuk itu kau terpaksa punya 2 (dua) mobil untuk satu digunakan kau dan suami sementara satunya lagi untuk antar-jemput anak (dan mertua) sehari-hari, etc..etc..

 

Okelah, secara sosial, masyarakat kita (Indonesia) memang masih sangat paternalistik. Masih untung bila mereka tidak terjebak dalam male-chauvinism. Masih untung bila tiada pria dalam keluargamu yang merasa diri Tuhan Semesta Alam. Masih untung bila kau masih memiliki sepasang telinga yang mendengar, segenggam belaian yang hangat menghibur, dan sejumput bola mata yang menatap mu penuh cinta – tanpa peduli apapun. Entah kerutan di wajah, entah usia nan membentang, maupun jarak dan waktu yang tercipta.

 

Dan masyarakat itu hanya bisa memandang dengan sinis atas berbagai wanita menakjubkan yang senyatanya ingin mengaktualisasikan diri nya. Hanya bisa menghakimi dengan sewenang-wenang atas mereka yang berkeinginan untuk mengamalkan tahun-tahun kuliah mereka yang berat dan mahal