Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: made by others

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag made by others
ReviewReviewReviewReviewReviewBalada Ee' Menuju Peristirahatan TerakhirMay 28, '08 12:11 AM
for everyone
Category:Other

Sam (baca: Sem) masuk ke ruang utama dan menukas diskusi yang tengah terjadi antara Zack dan Tim, "Kita harus segera bertindak! Tak mungkin kita tunggu waktu lebih lama lagi". Tanpa menunggu komentar, Sam langsung menghapus coretan Five Forces Porter pada papan tulis bersejarah itu dan mulai menggambar skema layaknya mengerjakan ujian termodinamika.

Sebelumnya, Sam memang menemukan sesuatu yang mengejutkan di lantai dasar. Jika saja Sam tidak segera menutup hidung dan memalingkan muka, ia tentu sudah muntah. Bagaimana tidak, ketika membuka pintu toilet lantai dasar VT Tower didapatinya banyak Ee' tengah menggelepar tak sadarkan diri di lantai. Beberapa masih dalam bongkahan dan sisanya berupa serpihan layaknya korban mutilasi.

"Ada pemberontakan di lantai dasar. Para Ee' dipaksa keluar dari ekosistem semestinya, dugaan saya ada foreign object device (FOD) dalam sistem sebagai penyebab utama", ungkap Sam memulai wacana. Diduga FOD ini berupa benda yang bersifat higroskopis dan berdinding semi permiabel. Dia menyerap cairan yang menyebabkan tubuhnya membengkak hingga sebesar diameter pipa. Implikasi yang terjadi adalah tertutupnya saluran tempat para Ee' itu lewat. Dengan kata lain: menyumbat.

"Sebaiknya kita mendorong sumbatan karena FOD ini dengan batang yang elastis" usul Tim.

"Tidak bisa, toilet kita ini mengikuti prinsip Alexander Cummings yang memakai leher angsa (S Trap) sehingga bambu akan menemui kesulitan untuk melewati lekukan yang berdiameter cukup kecil" sanggah Zack.

"Karena itu kita kudu bisa mencari material dengan modulus young (E) tertentu, dan harus yang memiliki daya tahan beban serta tidak bereaksi terhadap fluida yang bercampur Ee'. Usulku adalah bambu" kataTim.

"Tidak bisa, kita butuh bambu dengan panjang lebih dari 15 meter, yaitu asumsi jarak dari lobang intake terdekat dengan main pipe kompleks ini yang berdiameter lebih besar yang berada didepan pintu masuk", ujar Sam menolak.

"Kita harus memakai fluida lain sebagai pendorong, misal udara bertekanan atau fluida cair bertekanan tinggi, kita bisa pakai kompresor untuk cuci mobil" kata Sam memberi solusi ala McGaiver.

"Akan ada masalah lain karena kita tidak punya reservoar dengan kapasitas cukup untuk meng-injeksi pipa" kalimat Zack meluncur begitu saja.

"Tenang, saya punya tong besar untuk penampungan, selang kompresor bisa menyedot dari tong tersebut" kata Sam yang bernama asli Samsul ini.

"Ok kalau begitu, sekarang tinggal dihitung berapa tekanan yang diperlukan. Kita harus mengasumsikan koefisien gesek antara FOD dengan pipa dengan benar walau kita tidak tau FOD jenis apa yang menjadi sumbatan itu" Tukas Tim.

"Hati hati dengan tekanan, jika melewati ambang batas kemampuan pipa, dia bisa pecah" ujar Zack.

"Betul, apalagi pipa kita tidak memakai pressure relief valve. Ohya, jangan lupa kalau kita bisa memakai rumus incompressible flow" lanjut Sam.

"Baik, mari kita semua mencari" ajak Zack bak pemimpin bijak. Dan serentak ketiga orang tersebut membuka www.google.com dengan keyword "sedot Ee'", "bermasalah dengan Ee'" dan segala bentuk variasi dari frasa Ee' beserta sinonimnya.

Sepuluh menit berlalu dan belum ada kemajuan pembicaraan.
Tiga puluh menit tiga belas detik berlalu pun belum ada
.....yang memecah keheningan.

Ketiga sahabat itu memang menyadari bahwa tidak selalu tersedia informasi dalam perpustakaan terbesar di dunia ini apalagi untuk teritori Indonesia. Jangankan mencari vendor payment gateway, pembayaran menggunakan credit card dari bank lokal untuk bisnis e-commerce, sekedar informasi dari hal yang paling dekat dengan kita seperti Ee' pun tidak ada dalam situs situs maya.

Akhirnya dengan menggunakan alat penemuan dari Alexander Graham Bell pun bergerilya mencari. Ada tiga vendor yang memberikan bisnis barang kotor di lingkungan sekitar. Ada satu vendor punya slogan "Bisnis kami terletak pada kesialan anda" tidak dipilih karena berharap konsumen sial. Ketiga sahabat itu tentu tidak mau sial walau sudah sial.

Bukan Zack kalau tidak menawar dan mengadu antar vendor. Satu vendor menawarkan harga lebih mahal dengan garansi Ee' dikembalikan beserta uang jika sedotannya gagal dalam rentang 1 minggu. Satu lagi jauh lebih murah walau tanpa garansi dan Ee' yang sudah diambil tidak dapat diminta kembali. Memang tidak diketahui apakah sistem sedot Ee' yang ditawarkan BM atau resmi. Akhirnya disepakati vendor kedualah yang mendapatkan pekerjaan.

Walau sudah diputuskan, Fira yang baru saja tiba mengusulkan solusi lain. Pendekatan yang digunakan lebih bersifat kimiawi dengan menggunakan soda api sebagai peluntur FOD. Zack tidak sepakat karena resiko kerusakan pipa bisa terjadi. Selama waktu menunggu, Tim sibuk memikirkan bagaimana caranya melakukan test performansi saluran Ee' layaknya POC untuk tiga – empat server SUN Microsystem berharga milyaran rupiah yang akan dibelinya minggu depan. Akhirnya Zack berinisiatif untuk membeli makanan dan broklak agar tiap individu digedung ini bisa berkontribusi untuk test. Karena alasan kepercayaan, Sam dan Tim tidak memakan jenis yang dimakan oleh Zack. Walau Tim sedikit mengernyit saat Zack dengan lahap memasukkan makanannya kedalam mulut. Ngomong ngomong, seperti apa yaa bentuk Ee' nya babi??.

Akhirnya vendor tersebut datang dan langsung melakukan pekerjaan penyedotan. Mereka tidak menerima saran yang diajukan oleh hasil diskusi ketiga sahabat tadi untuk mendorong FOD dengan tekanan tertentu. Mereka punya metoda sendiri dan tidak boleh dipublikasikan karena alasan rahasia perusahaan. Akhirnya menurut sang Project Manager (PM), sistem saluran Ee' telah berfungsi seperti sediakala. Sesuai kesepakatan, dia minta dibayar sejumlah uang.

Untungnya Zack patuh pada peraturan perusahaan. Serangkaian test pun dilakukan, namun tanpa skenario awal menggunakan bahan baku Ee' beneran. Tes didekati dengan fluida cair (berdensitas Ee' bernilai nol) dengan volume cukup besar kira kira mencapai 3 buah ember dengan diameter 50cm. Pendekatan ini diambil setelah modifikasi dengan analogi pengetesan pesawat pada wind tunnel walau Reynold number-nya berbeda seperti kata seorang Profesor Aerodinamika. Setelah digelontorkan air sebanyak 0,3 m kubik dari lantai 2 dan 3, ternyata berlompatanlah Ee' dari berbagai etnis keluar di toilet lantai dasar. Ee' yang tidak mengenal kasta ataupun strata sosial ala SES-nya BPS saling dorong keluar dari habitatnya dalam bentuk serpihan. Memang, ikatan antar komunitas Ee' tidak sekuat ikatan pada H2O.

Project manager pun garuk garuk kepala dan segera bersiap melakukan tindakan koreksi lanjutan. Metodenya jelas trial and error. Walau metoda ini kadang bisa membawa kelulusan tepat waktu saat kuliah sarjana tapi jelas resikonya adalah ketidak efisienan penyelesaian masalah. Ee' yang tadi disedot dari dalam toilet ke tanki di truk, sekarang didorong masuk kembali ke dalam toilet. Dugaannya FOD tidak bergeming dari tempatnya saat disedot. Waktu yang dibutuhkan untuk menyedot ternyata lebih singkat dibandingkan dengan saat mendorong masuk. Apabila diasumsikan bahwa debit fluida sama, maka volume yang masuk kembali lebih besar.

Zack terlihat tersenyum. Sebagai businessman, dia pasti berpikir bahwa ada profit tambahan dari transaksi yang terjadi walau ada perubahan bisnis proses. Awalnya Zack harus memberikan sejumlah uang dan Ee' kepada vendor tersebut tapi sekarang dia seolah olah telah membeli sejumlah Ee' dengan harga yang telah disepakati pada saat awal.

Bagaimanapun hukum Archimedes tetap berlaku. Volume Ee' yang dipindahkan masuk akan sama dengan jumlah Ee' yang dikeluarkan. Diturunkan melalui korelasi tidak langsung, jika waktu yang diperlukan untuk memasukkan kembali lebih lama maka terjadi sejumlah Ee' yang bermigrasi dari tenpat lain (yang telah ada di tanki truk) kedalam sistem VT Tower. Fira menambahkan bahwa kondisi ini tentu saja bagus di laporan kinerja perusahaan sebagai pendapatan lain lain untuk ditampilkan kepada investor.

Setelah PM melaporkan sistem telah langsam, sistem kembali diuji dengan metoda yang sama dan asumsi kondisi lainnya ceteris paribus. Hasilnya sangat memuaskan, seolah olah koefisien friksi antara dinding pipa dengan fluida mendekati nol dan aliran bisa laminer. Tapi sekali lagi, tidak ada garansi yang diberikan.

Ketiga sahabat itu akhirnya bernafas lega, bukan karena bau yang semula ada melainkan bersyukur bahwa para Ee' itu bisa meneruskan perjalanan dengan tenang. Memang ada beberapa yang tercecer pada meja meja, pegangan tangga serta lantai meski dalam ukuran mikron sehingga dapat diabaikan. Selamat jalan Ee', semoga engkau dapat beristirahat dengan tenang disana.


Ahmad Ulya
~Habis ngeluarin Ee' – 04.05.08~


Tentang penulis:
alumni ITB dan the best marketing gradute MMUI
pendiri sekaligus anggota aktif Dewan Jenderal Tuisda

tulisan dimuat dengan izin, dan (ahem) sedikit pemaksaan, hehe


Glossary:
Ee' : Feses manusia
POC : Proof of concept
FOD : Foreign Object Device
BM : Black market
PM: Project manager
Higroskopis : Menyerap air
Semi permeable : membran yang dapat dilewati air hanya satu arah.
Langsam : lancar tanpa hambatan
Ceteris paribus : all things are being equal


Link7 Levels of PhotographersApr 29, '08 5:09 AM
for everyone
Link: http://www.kenrockwell.com/tech/7.htm


© 2005 KenRockwell.com

I just got the link from a friend. It is called as "7 Levels of Photographers". You may mention it as "the magnificent 7" by the famous movie, heuhehe. Again, it is another Ken Rockwell well-written thought.

The posting boasted a very interesting writing, even though the grading used was somewhat intriguing; if not confusing. Try to apply it to you and people around you with a camera attached to them.

For instance, I always give my concern the most about the memory left behind from virtually every single second living under the sun and the stars. Interested in capturing the moments rather than being dizzied by all the fuzz and buzz of all photography techniques and equipment and terminologies. Or couldn’t be care less in facing some dogmatic organizations, well-known websites (and blogs), the so called branded camera users who takes pride in the expense of their pricey sophisticated nice lenses and things.

Then, if we refer such behavior of me to the article posted, means that I could be categorized as a “snap-shooter” which is actually totally okay. But further, being associated to such medium level of "4", is totally exaggerating my skills, hehehe.. And to which I thought, is definitely inappropriate *grin

Of course, I still found Rockwell's article is very good, and that's why I'd like to share it here with you all, guys.

Now, what level of photographer are you?



Photo AlbumGirls, do We Really Wanna be Equal? (1 photo)Jan 23, '08 12:22 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Once I saw this sign, I hate it already!

Why do we have to make this sign? Is it really necessary? What is the real reason behind this? I claim and feel ashamed for those who shouted about the women power, emancipation, equality, and so on and so forth.... But yet, still use these facilities.

Is it because the ladies who wear the high heels or the stiletto shoes are too lazy to walk? Just cut your feet babe! You with your Cinderella's brain and the superficiality life around you!

Ah, Jakarta.....


Thought narrated by : http://daniellebelle.blogspot.com
Idea and picture by : http://terbanglahlbhtinggi.multiply.com

Location : Senayan Arcadia, Jakarta
Date : Thu, Jan 10, 2008, +/- 02.00 am


Blog EntryRoute 66 d/h Naik Kopaja 66Jan 10, '08 9:00 PM
for everyone
For: terbanglah lebih tinggi

Kencangkan tali helmmu: tanpa kutahu maknanya
Saat kau melaju ke barat, baru kupahami perjalanan ini
Melesat kencang hiraukan "bumpy road"
dan aku berusaha keras untuk tetap berada di belakangmu

Der win spuren: anginnya seperti dari Chicago ke LA
2000 mil rasanya hanya dari Blok M
-Manggarai
Aku tidak berhenti di
St. Louis, turunkan aku di Kuningan
Tidak ke
Missouri apalagi Oklahoma City!

Berkejaran dengan waktu, itukah makna hidupmu?
Manakah persimpangan yang kau pilih:
Amarillo-New
Mexico?
Arizona-Wynonna? Atau lewat
San Bernardino?

Ah, apalagi yang ditunggu:
Berikan tendanganmu untuk Kopaja 66 itu,
Dia hampir membuatku mati!
Stop kiri, Pak, sampai disini!


Black Cat Jazz Supper Club: 9 Jan'08, 9pm-1am

by Danielle, deus iudex meus est
http://daniellebelle.blogspot.com


Photo courtesy of TLT, Sat, Nov 24, 2007. At Paint the Town with Jazz, and my future office building, Senayan National Stadium, Jakarta


Further read:
A night on Black Cat, and route 66


Note:
  • "Route 66" was a popular and legendary standard jazz performance, sang by many well-known performers incl Nat King Cole, Chuck Berry, The Rolling Stones, Herman Brood, The Cramps, Depeche Mode, John Mayer, The Manhattan Transfer with Oscar Peterson, Asleep at the Wheel and Van Morrison. It was originally wrote in 1946
  • Whilst Danielle insisted that she was mentioned the famous song, I simply referred it to Kopaja Route 66 (Blok M - Manggarai, Jakarta) I often used to take to go to PricewaterhouseCoopers at Setiabudi, Jakarta, years ago *grin

Category:Other
Pernahkah anda mengalami rasa enggan yang teramat sangat saat hendak berangkat ke kantor karena anda sudah membayangkan akan mengalami 1 hari yang menyeramkan di kantor? Pernahkah anda merasa mual saat menunggu bos datang dan jantung anda serasa hendak copot saat ajudan bos datang ke kantor dan membawa tas kerja bos anda? Pernahkah anda merasa gembira luar biasa saat mengetahui bahwa bos anda harus menghadiri suatu meeting di luar dan tidak dapat datang ke kantor satu hari penuh?

Jika anda menjawab “ya” untuk semua pertanyaan di atas berarti anda sedang menjadi korban bullying yang dilakukan oleh bos anda.

Atau apakah anda merasa bahwa semua orang mendadak menundukkan kepala dan tidak berbicara dengan jujur saat bicara dengan anda? Pernahkah, disuatu saat, anda merasa bahwa bawahan anda sedang membicarakan keburukan anda di belakang? Atau apakah anda selalu memberikan instruksi dengan suara keras sehingga bawahan tidak mampu untuk memberikan pendapat berbeda?

Jika anda menjawab “ya” untuk semua pertanyaan tadi, mungkin anda sedang menjadi pelaku bullying di kantor.

Bullying yang saat ini sedang ramai dibicarakan karena perilaku beberapa siswa sekolah favorit, SMA 34, di Jakarta sebenarnya juga rawan terjadi di kantor. Di beberapa kantor yang mempunyai budaya yang kaku, praktek tekanan terhadap karyawan jamak terjadi.

Praktek menekan yang dilakukan oleh atasan biasanya akan diimbangi oleh budaya gossip di antara bawahan. Praktek gossip ini dilakukan untuk menetralisir suasana hati yang buruk saat menghadapi tekanan atasan. Untuk menambah runyam suasana, yang umum terjadi adalah adanya mata-mata yang disusupkan oleh atasan yang merasa bahwa dirinya sedang dibicarakan oleh anak buahnya.

Tiga budaya yang tidak produktif dan saling berkaitan ini (bullying – gossip – espionage) pada akhirnya akan menghancurkan kerjasama tim dan membuat suasana kantor menjadi tidak nyaman untuk bekerja. Produktivitas yang tercapai adalah produktivitas semu yang nampak di peningkatan dan pencapaian target , namun menghabiskan komponen lainnya yaitu tingginya turn over pegawai.

Seorang pegawai tidak akan bertahan lama di suasana seperti ini, dan hanya orang orang yang dekat pada atasan saja yang akan survive.

Jika atasan pelaku bullying adalah pemilik perusahaan, maka bawahan yang survive akan menjadi orang kepercayaan. Sedangkan jika atasan pelaku bullying hanyalah seorang pegawai yang dapat dimutasi, maka orang yang menjadi mata mata atasan biasanya akan tersingkir dari pergaulan saat terjadi mutasi atasan.

Apakah kantor anda mempunyai suasana yang tidak menguntungkan seperti ini? Jika ya, berarti anda telah terjebak dalam suasana kantor yang tidak menguntungkan. Ada baiknya anda segera menentukan akan berada di posisi mana untuk menjamin karir anda di perusahaan ini.

Atau anda memilih untuk melanjutkan karir di tempat lain?


oleh Loys Gunawan
Recruitment Service Section Head BINUS Career
http://finance.groups.yahoo.com/group/CareerConsultation/


Catatan:
Artikel dimuat sesuai aslinya (lihat link yang diberikan). Perbaikan dilakukan pada kata “produktifitas” (dengan huruf “f”) yang seharusnya ditulis sebagai “produktivitas” (dengan huruf “V”)



ReviewReviewReviewReviewReviewAuditor, Menikah dengan..Nov 6, '07 5:17 AM
for everyone
Category:Other

Ngomong2 lebih jauh soal kelas Akuntansi dan “bunga-bunga api” yang sedang beterbangan, berikut ada tehnical know-how tentang audit. Salam buat rekan2 auditor maupun yang beruntung sudah lulus alias udah jadi mantan auditor -- dari seseorang yang pernah mengalami neraka dunia bernama Kantor Akuntan Publik alias auditor! Hehehe.. (tulisan di bawah asli nya gue fwd ke teman2 EnEMBA class di Sampoerna-ITB yg lagi pada bete dan pusing belajar Akuntansi, hehe)


Auditor, Menikah dengan..
source: unknown


Saya menikahi wanita yang memiliki karir profesional: Akuntan Publik. Ya, dia adalah seorang auditor. Dan coba tebak apa yang dilakukannya ...

1. Dia menyuruhku untuk menggunakan metode LIFO saat mengambil makanan yang disimpan di kulkas. Aduh ...

2. Dia menganggapku tidak berbakat dalam bermain dengan angka. Aku sih no problem, makanya dia yang mengurus anggaran rumah tangga. Eh, tiap akhir bulan dia bikin invoice tagihan Profesional Fee sama aku. Waktu kubilang kalau aku ini suaminya, bukan kliennya, dia malah minta advance payment.

3. Aku heran kenapa pengeluaran terus meningkat steadily, sehingga suatu hari, aku mengintip kertas-kertas yang ada di ordner berlabel "Current File". Tak heran! Dia rupanya men charge mileage (jarak) dan overtime ke dalam anggaran rumah tangga. Dia juga menagihkan Out of Pocket Expense ke dalamnya. Dia gila, dan aku udah bilang itu ke dia. Eh, dia malah bilang, "Ya enggaklah sayang, aku kan auditor ..."

4. Setiap lembar kertas di rumah dicopy dan difilekan. Alasan dia, ada peraturan yang mengharuskan dia memaintain copy hasil kerjanya selama 10 tahun. Aku sungguh-sungguh khawatir ....

5. Dia bilang kalau dia cinta aku, dan aku bilang kalau aku cinta dia juga. Tapi tetap aja, dia tidak pernah percaya. Katanya, ada kemungkinan terjadi mis-statement. Dan dia memintaku membuat Representation Letter mengenai masalah ini ... Duhhh

6. Tahun lalu laporan keuangan rumah kami mendapatkan Opini Qualified karena aku gak menyimpan supporting document atas expensesku.

7. Awalnya aku heran, kenapa setiap akhir tahun selalu berdatangan surat-surat dari seluruh famili, kolega, termasuk warung di depan rumah. Ternyata, istriku mengirimkan Confirmation Letter kepada mereka semua. Waktu aku protes, dia bilang, konfirmasi dari pihak eksternal lebih realible. Cape deh ...

8. Waktu istriku masak, dia sering tidak mengikuti resep. Bila resep bilang, tambahkan setengah sendok garam, atau satu sendok teh gula, atau setengah gelas air, dia selalu tidak peduli. Dia bilang kalau itu tidak material bila dibandingkan dengan seluruh menu yang disiapkan, hingga bisa diabaikan.

9. Aku bilang, dia itu gila. Tapi anehnya, semua orang bilang kalau dia auditor. Di kamus, ternyata kata "auditor" bukan sinonim untuk "gila". Pasti kamusnya ketinggalan zaman.

10. Waktu kami menikah, dia memberikan Engagement Letter padaku. Awalnya aku bilang, "Oh, makasih ya sayang ..." Ternyata setiap tahun dia memberikan surat yang sama. Katanya, standarnya mengharuskan dia melakukan itu bila ada indikasi kalau aku keliru memahami tujuan dan scope dari Engagement. Dia juga bilang, aku tidak bisa pisah dari dia begitu saja. Dia punya hak untuk didengar sebelum aku menunjuk orang lain. Dan dia juga menegaskan bila aku menunjuk orang lain menggantikan dia, maka harus ada komunikasi antara dia dan penggantinya, agar dia bisa menyampaikan keberatan profesionalnya. Mati kita ...

11. Phew ... Kadang kala, aku berpikir, kalau dia membahayakan Going Concern nya pernikahan ini. Duh ... Kok aku jadi kebawa-bawa dia ...

12. Ku kira pernikahanku ini sudah cukup gila, tapi ternyata ada temanku yang juga kawin dengan akuntan, punya cerita yang lebih parah. Istrinya mengkapitalisasi biaya pernikahan sebagai Preliminary Expenses, dan mengamortisasinya setiap tahun. Biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum berumah tangga, juga dikapitalisasi sebagai biaya pra-pernikahan. Juga, waktu yang dihabiskannya selama pacaran sebelum menikah sedang dalam proses valuasi, untuk dimasukkan sebagai intangible assets.

Teman-teman, berpikirlah dua kali sebelum menikahi auditor. Kalau kau sudah berpikir dua kali dan tetap memutuskan untuk menikahinya, pikirkan dua kali lagi. Kau harus mempertimbangkan besarnya risk sebelum memulai engagement. Duh ... Aku ternyata sudah gila.

Aku, seorang auditee seumur hidup...


PS:
Photo courtesy of TLT, May 29, 2003, taken on PricewaterhouseCoopers' building lobby level; when I was hosting a visit from Tarumanagara University students.

Disclaimer:
The photo was posted for illustration purpose only, and not connected to nor portrayed this anecdot in whatsoever.




ReviewReviewReviewReviewReviewSurat Terbuka untuk Gubernur Foke, JakartaOct 25, '07 4:08 AM
for everyone
Category:Other

Can hardly write in more complete terms and better language. Do you share the same concern about our new Jakarta governor and, especially, his potential and upcoming effort to make our beloved Jakarta become a better place to be lived in? Please.
---------


Surat Terbuka untuk Gubernur Foke
Tulus Abadi - Sabtu, 20 Oktober 2007
selengkapnya, klik di sini


Eric Penalosa, mantan Wali Kota Bogota, Kolombia, dalam sebuah seminar di Jakarta, melontarkan kritik keras soal kondisi Kota Jakarta. Menurut dia, Jakarta tak ubahnya sebuah kota yang sakit. Kondisi itu bukan karena Jakarta sedang dilanda wabah demam berdarah atau flu burung, melainkan karena Jakarta terlalu banyak dipenuhi mal dan pusat belanja. Sebaliknya, di Jakarta sangat minim tempat yang bisa dijadikan publik untuk berkumpul secara bebas (public space).

Fakta ini sungguh paradoks, karena bagi mantan gubernur Sutiyoso, banyaknya mal dan pusat belanja justru diklaim sebagai sebuah prestasi yang membanggakan dalam membangun Jakarta sebagai kota supermodern. Target Sutiyoso, Jakarta harus memiliki 200 mal dan pusat belanja, sebagaimana di negeri jiran, Singapura.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan Sutiyoso yang berkiblat ke Singapura untuk urusan mal dan pusat belanja. Tapi seharusnya Sutiyoso tidak hanya mengadopsi sisi komersial dari negeri kecil itu. Sebab, selain marak mal dan pusat belanja, Singapura mengembangkan public space secara proporsional. Ini yang tidak diadopsi oleh Sutiyoso.

Relevan dengan situasi tersebut, Fauzi Bowo (Foke), yang baru saja dilantik menjadi orang nomor wahid di Jakarta, menetapkan menyembuhkan penyakit kronis Kota Jakarta sebagai agenda utama. Pasalnya, senapas dengan Eric Penalosa, yang sukses menjadikan Bogota sebagai kota manusiawi (human city) berkat kepemimpinan politik (political leadership) yang kuat, yaitu setelah mengantongi kemenangan 60 persen suara via pemilihan umum langsung. Dengan modal politik inilah Penalosa mendapat kepercayaan dan dukungan publik untuk membongkar ulang tata kotanya. Analog dengan Penalosa, kini modal politik itu juga dimiliki oleh Fauzi Bowo, setelah meraup suara 57,78 persen suara dalam pemilihan kepala daerah yang lalu. Artinya, sebagaimana Penalosa, Foke juga mengantongi kepercayaan publik yang cukup kuat untuk "mendaur ulang" pola manajemen tata Kota Jakarta. Foke tidak perlu gamang menganulir rencana kebijakan Sutiyoso yang tidak sejalan dengan aspirasi publik dan tata pengelolaan kota yang berkelanjutan.

Isu ini harus digelorakan karena, jika hanya mengacu pada janji Foke dalam masa kampanye yang lalu, sepertinya tidak akan ada gebrakan radikal ala Penalosa. Via iklan politik "Solusi Fauzi Bowo untuk Jakarta" (Kompas, Sabtu, 4 Agustus), Foke hanya berfokus pada tiga kasus utama.

Pertama, untuk mengatasi banjir, dia akan mempercepat penyelesaian Kanal Banjir Timur serta normalisasi Kanal Banjir Barat dan kali-kali yang melintasi Jakarta.

Kedua, untuk mengatasi kemacetan, dia akan mempercepat ketersediaan transportasi massal dengan kapasitas yang besar dan kualitas yang prima, antara lain busway dan subway yang mampu mengangkut 60 ribu penumpang per jam.

Dan ketiga, dalam hal pendidikan, dia akan menyiapkan program prioritas untuk penuntasan wajib belajar 12 tahun, peningkatan mutu lulusan sekolah dasar/sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan (standar internasional) serta meningkatkan kompetensi guru (standar Asia).

Jika hanya mendasarkan pada tiga program itu--sebagaimana yang tertuang dalam iklan politik, hakulyakin Foke tidak akan dikenang publik sebagai gubernur yang "menyejarah". Sekalipun busway, monorel, subway, serta percepatan pembangunan Kanal Banjir Barat/Timur sukses, warga Jakarta akan mencatat bahwa itu "karya" Sutiyoso.

Banjir dan kemacetan lalu lintas jelas merupakan "megakasus" yang harus mendapatkan prioritas tertinggi untuk segera dibereskan. Persoalannya, penyakit kronis Kota Jakarta bukan hanya itu: bukan hanya banjir dan macet an sich! Masih ada sederet penyakit kronis lain--yang secara sosio-kultural akan menjadi bom waktu yang tidak kalah mengerikan ketimbang "megabanjir" dan "megamacet". Sebagaimana Jakarta menyontek bus rapid transit ala Transmilenio Bogota, seharusnya Fauzi Bowo juga mengadopsi gerakan radikal ala Penalosa.

Apa sajakah gerakan radikal Penalosa dalam memanusiawikan Kota Bogota yang semula terkenal barbar? Salah satunya membangun tempat-tempat publik secara meluas. Di Bogota, taman-taman kota terbentang begitu luas. Dengan taman kota itu, warga kota dapat secara leluasa bercengkerama dengan keluarga dan kerabat, berolahraga, serta aktivitas lainnya. Karena itu, tidak ada jalan bagi Fauzi Bowo untuk menganulir "nafsu" Sutiyoso agar Jakarta memiliki 200 mal dan pusat belanja. Caranya?

Pertama, Fauzi Bowo harus berani me-replace dengan memperbanyak pembangunan tempat publik yang nir-komersialisme, seperti tempat bermain, taman kota, dan lapangan untuk berolahraga. Minimnya tempat-tempat publik di Jakarta mengakibatkan warga Jakarta tidak kreatif, bahkan destruktif. Tingginya angka kriminalitas di Jakarta bukan hanya dipicu oleh faktor ekonomi dan kemelaratan, melainkan lebih karena tata ruang kota yang tidak familiar bagi warga Jakarta. Terbukti, ketika Penalosa menata ulang kotanya, angka kriminalitas di Bogota turun secara dramatis, 60 persen!

Saat ini jumlah mal dan pusat belanja di Jakarta yang sudah oversupply bukan hanya berdampak terhadap persaingan yang tidak sehat antarmal, melainkan juga menjadi "mesin pembunuh" bagi eksistensi pasar tradisional dan usaha mikro lainnya. Lebih dari itu, maraknya mal dan pusat belanja juga memicu perilaku konsumtivisme warga Jakarta. Dalam konteks agama (Islam), menjadikan mal dan pusat belanja sebagai center of activity sejatinya merupakan perbuatan yang tidak dianjurkan, bahkan harus dihindari. Rasulullah SAW menegaskan bahwa pasar (baca: mal dan pusat belanja) merupakan pusat segala kemaksiatan, karena di pasarlah terjadi aksi tipu-menipu dan penindasan manusia atas manusia (exploitation de l'home par l'home).

Kedua, mengembalikan fungsi tempat-tempat publik yang sudah ada, tapi direduksi untuk kepentingan komersial dan kepentingan lain yang menyimpang. Contohnya, jalan raya dan trotoar. Kedua wahana untuk aktivitas publik ini kini berubah menjadi "pasar". Menjadikan jalan raya dan trotoar untuk kepentingan komersial, apa pun alasannya, merupakan pengambilalihan hak-hak publik secara nyata. Apalagi luas ruas jalan di Jakarta masih sangat minim, hanya berkisar 8 persen dari total luas wilayah. Bandingkan dengan Singapura, yang luas ruas jalannya mencapai 15 persen dari total luas wilayah.

Ketiga, mengembalikan area ruang terbuka hijau (RTH) yang kini telah disulap menjadi sarana komersial. RTH Jakarta yang kini tinggal 9,7 persen harus dinormalisasi menjadi minimal 27 persen dari total luas wilayah Jakarta. Luas area RTH yang memadai, selain akan menjadi sumber resapan air tanah, akan menjadi "tempat bermain" warga kota, tanpa harus dijejali dengan kepentingan komersial. Tempat-tempat komersial, yang secara telanjang melanggar prinsip-prinsip RTH, harus dihijaukan kembali.

Pada akhirnya, Fauzi Bowo tidak akan mampu menyembuhkan penyakit Kota Jakarta jika hanya berkutat pada persoalan banjir, kemacetan, dan pendidikan. Keberadaan tempat-tempat publik yang proporsional, dari dimensi apa pun--budaya, sosial, psikologi, bahkan agama--merupakan suatu keharusan. Rujuklah tesis cendekiawan muslim kawakan Ibnu Khaldun dalam bukunya, Mukaddimah, bahwa salah satu ciri kota beradab adalah adanya tempat yang luas untuk berkumpul warganya. Ayo, Bang Foke, jangan gadaikan Jakarta hanya untuk kepentingan materialisme. Lakukan terobosan radikal ala Penalosa untuk melakukan face off (operasi total wajah) Jakarta sebagai kota sakit menjadi kota manusiawi bagi warganya. Ayo, Bang Foke, Anda bisa!

Tulus Abadi,
Anggota Pengurus Harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)



Review++ Antara BABI, INDON & Ular. Mana di ludah dulu?Oct 22, '07 10:43 PM
for everyone
Category:Other
Folks,

Just found this one out on the internet; it's very funny (quote-unquote, if you'd like): http://www.topix.net/forum/world/malaysia/TFM2RTV8741L04SVU/p3

Wanna join, either for the vote and/or for commenting? Just click on the link given above. And good luck! *smirk

Link was accessed as of: Oct 23, 2007 - 09.21 am

Note:
(1) Gue sih kasian sama ular nya yg nggak salah apa2, hehheeh...
(2) Mengingatkan gue pada kasus pemukulan wasit tempo hari. Read what I thought here: Patriotisme Sampai Mati

Updated:
Oct 24, 2007 - 14.50 wib

Banyak banget orang yg marah gara2 gue fwd in artikel ini, tapi buat gue dan beberapa teman terdekat - kami justru menjadikan nya sbg bahan tertawaan. Sedikit kebahagiaan, di tengah kesibukan, hahha..

Salam buat si ular yg malang! :-))


------------------------------------------------
++ Antara BABI, INDON & Ular. Mana di ludah dulu?
created by: Sensasi | Saturday Oct 6

* Vote
* Results
* Posted in the Malaysia Forum
* Hot Polls | Recent Polls
* Create a Poll in Malaysia
* Bookmark and Share

Click on an option to vote :

* INDON
* INDONBABI
* BABI INDON
* Spesis Babionsis INDONESIANSIS
* Indonesia Babi Raya
* Ular yang tak salah apa-apa

259 votes so far

INDONBABI 75 28%
INDON 31 11%
BABI INDON 14 5%
Indonesia Babi Raya 14 5%
Spesis Babionsis INDONESIANSIS 13 5%
Ular yang tak salah apa-apa 112 43%

Current Total 259
442 comments



ReviewReviewReviewReviewReviewWhat’s wrong with that Chicken?Oct 2, '07 6:22 AM
for everyone
Category:Other


First, there came a respond from my ex lecture in SAP, who currently working and living aboard (huaa..I envy him!). Amusingly thrilled to read the Bahasa version previously posted here, he gave me another intriguing yet hilarious version about Accenture and Steve Jobs.


ACCENTURE:

Deregulation of the chicken's side of the road was threatening its dominant market position. The chicken was faced with significant challenges to create and develop the competencies required for the newly competitive market. Accenture, in a partnering relationship with the client, helped the chicken by rethinking its physical distribution strategy and implementation processes. Using the Poultry Integration Model (PIM), Accenture helped the chicken use its skills, methodologies, knowledge, capital and experiences to align the chicken's people, processes, and technology in support of its overall strategy within a Program Management framework.

Accenture convened a diverse cross-spectrum of road analysts and best chickens along with Accenture consultants with deep skills in the transportation industry to engage in a two-day itinerary of meetings in order to leverage their personal knowledge capital, both tacit and explicit, and to enable them to synergize with each other in order to achieve the implicit goals of delivering and successfully architecting and implementing an enterprise-wide value framework across the continuum of poultry cross-median processes. The meeting was held in a park-like setting, enabling and creating an impactful environment which was strategically based, industry-focused, and built upon a consistent, clear, and unified market message and aligned with the chicken's mission, vision, and core values. This was conducive towards the creation of a total business integration solution.

Accenture helped the chicken change to become more successful.


STEVE JOBS:

Because of the brand-new iChicken- a portable device that crosses roads, lays eggs, gives wakeup calls and provides dinner, automatically. This amazing device can simply plug in to the $4000 iCoop to produce additional iChickens and recharge existing iChickens, or plug it into the $9000 iChop to convert iChicken files into iFood. iFood-to-Regular Food converters sell for an additional $50/month fee, however the optional iFood-to-FoodXP converter is still in development. iChickens are only available from authorized iDealers, which can be found in nearly every US state. If your iChicken develops a disease or stops working, you must send it by FedEx Overnight to Littleton, Montana and our iTechnicians will send you a replacement within 3 months. The iChicken. Wow.


Then, these hilarious version was shared by Little Thinker This one is pretty cool! The characters were boldly defined and can speak for themselves. That's add more to the thrill and the laugh. Maybe because it was in English; a language that more romantically structured and interpreted than Bahasa? Hehhehe..

Oh, my fave line was by Voltaire, a personal credo, indeed.. *grin


GEORGE W. BUSH
I don't think I should have to answer that question.

AL GORE
I invented the chicken. I invented the road. Therefore, the chicken crossing the road represented the application of these two different functions of government in a new, reinvented way designed to bring greater services to the American people.

RALPH NADER
The chicken's habitat on the original side of the road had been polluted by unchecked industrialist greed. The chicken did not reach the unspoiled habitat on the other side of the road because it was crushed by the wheels of a gas-guzzling SUV.

PAT BUCHANAN
To steal a job from a decent, hard-working American.

RUSH LIMBAUGH
I don't know why the chicken crossed the road, but I'll bet it was getting a government grant to cross the road, and I'll bet someone out there is already forming a support group to help chickens with crossing- the-road syndrome. Can you believe this? How much more of this can real Americans take? Chickens crossing the road paid for by their tax dollars, and when I say tax dollars, I'm talking about your money, money the government took from you to build roads for chickens to cross.

MARTHA STEWART
No one called to warn me which way that chicken was going. I had a standing order at the farmer's market to sell my eggs when the price dropped to a certain level. No little bird gave me any insider information.

JERRY FALWELL
Because the chicken was gay! Isn't it obvious? Can't you people see the plain truth in front of your face? The chicken was going to the "other side." That's what they call it - the other side. Yes, my friends, that chicken is gay. And, if you eat that chicken, you will become gay, too. I say we boycott all chickens until we sort out this abomination that the liberal media whitewashes with seemingly harmless phrases like "the other side."

DR. SEUSS
Did the chicken cross the road?
Did he cross it with a toad?
Yes! The chicken crossed the road,
But why it crossed, I've not been told.

ERNEST HEMINGWAY
To die. In the rain. Alone.

MARTIN LUTHER KING, JR.
I envision a world where all chickens will be free to cross roads without having their motives called into question.

GRANDPA

In my day, we didn't ask why the chicken crossed the road. Someone told us that the chicken crossed the road, and that was good enough for us.

BARBARA WALTERS
Isn't that interesting? In a few moments we will be listening to the chicken tell, for the first time, the heart-warming story of how it has a serious case of molting and went on to accomplish its life-long dream of crossing the road.

JOHN LENNON
Imagine all the chickens crossing roads in peace.

ARISTOTLE
It is the nature of chickens to cross the road.

KARL MARX
It was a historical inevitability.

SADDAM HUSSEIN
This was an unprovoked act of rebellion, and we were quite justified in dropping 50 tons of nerve gas on it.

VOLTAIRE
I may not agree with what the chicken did, but I will defend to the death its right to do it.

RONALD REAGAN
What chicken?

CAPTAIN KIRK
To boldly go where no chicken has gone before.

FOX MULDER
You saw it cross the road with your own eyes! How many more chickens have to cross before you believe it?

SIGMUND FREUD
The fact that you are at all concerned that the chicken crossed the road reveals your underlying sexual insecurity.

BILL GATES
I have just released eChicken 2003, which will not only cross roads, but will lay eggs, file your important documents, and balance your checkbook, and Internet Explorer is an inextricable part of eChicken.

ALBERT EINSTEIN
Did the chicken really cross the road or did the road move beneath the chicken?

BILL CLINTON
I did not cross the road with THAT chicken. What do you mean by chicken? Could you define chicken please?

THE BIBLE
And God came down from the heavens, and He said unto the chicken,"Thou shalt cross the road." And the chicken crossed the road, and there was much rejoicing.

COLONEL SANDERS
I missed one?




Category:Other
This is an interesting and thought provoking article I unintentionally read on the Jakarta Post yesterday, whilst waiting for my lunch date and sipping my Iced Caramel Macchiato inside the cozy Starbucks Café at BNI City Tower, just outside its Lobby Level, Jakarta.

The interviewee was one of my lecturer back in my college years in Padjadjaran University (www.unpad.ac.id). Another important yet interesting fact is, she also performed as one of the team member that examined my final S1 project (skripsi).

The Jakarta Post is arguably one the most credible newspaper in Indonesia, side by side competing with Bisnis Indonesia. Only limited number of the most prominent and highly educated business communities and government officials here reads the paper, which is why we often found alternative news that another mass media dare not to publish. Especially in the turbulence days on the country's political turmoil back in 1998. This article below is another further example of such things.

Happy reading, folks!


Political Parties must Strive for Financial Transparency
http://www.thejakartapost.com/detailnational.asp?fileid=20070709.H04&irec=3


With the 2009 general election nearing, political parties have been told to improve their financial records by having a transparent accounting system to prevent fiascoes like the transfer of illicit funds from the Maritime Affairs and Fisheries Ministry during the 2004 poll. The Jakarta Post's Tifa Asrianti spoke recently to Ilya Avianti, from the Supreme Audit Agency on the issue.

Question: What would the ideal accounting standard for political parties be? Answer: First of all, we can't just say ideal, because the purpose of an accounting standard is to build good governance. That should be done by everyone in this country, including the legislative and executive bodies of the government. We should follow the principal of TARIF (transparency, accountability, responsibility, independence and fairness).

To reach that stage, we should report everything and we should be transparent. If the entity in question is a stable one like a company, we should establish an internal control system, which can become part of the organizational structure, procedures and accounting standards. This is important in order to organize and ensure assets.

Political parties have been using the PSAK 45 accounting system for non-profit organizations, because that's the most appropriate accounting system available. If the parties used the government's accounting standard, it would not fit. However, the PSAK 45 also is not an exact fit. The most basic difference is that PSAK 45 allows the acceptance of foreign donors' funds, while parties are forbidden to receive such funds.

We should observe the core nature of political parties. The parties are not-for-profit organizations. They are like non-profit organizations, but with more specifications, and unlike foundations and non-governmental organizations (NGOs). NGOs gather funds from communities and return the funds back to the communities to improve social welfare.

Parties, however, gather funds from communities and possibly receive funds from the state budget, but the funds are not for the welfare of the communities. The funds are gathered to win posts in the legislative and executive bodies. Therefore, parties should have their own accounting standards, as is the case in other countries.

Has the Indonesian Accountants Association created such a specific system for political parties?

Not yet, because we haven't received any request to do that. Our association can't create any system if there is no request from the parties to create such a system. Usually the request is posed to us by associations, such as mining company associations and banking associations. Such companies have their own characteristics, which require specific standards.

If there is a request, how long does it take to create a standard?

I don't know for sure. It depends on the scope of the standard and the capacity of the Standard Board. The Board has to create various standards, not just one. The time allocation for making one standard is tentative, some standards takes three months, others takes a year.

The standard making process involves identification, research, comparing the standards of other countries and the actual creation of a standard. After that, the newly created standard has to undergo a limited hearing, a medium limited hearing and a public hearing. Then, it has to enter the kitchen again for revision before we set it free.

There is an adjustment period to see whether the new standard is applicable or not. The length of the period depends on the intricacy of the standard and the readiness of the user. If the user is ready, the period will be shorter.

We are going to face a general election within two years. The standard making procedure should start from now. If the process begins from now, the standard will be ready for the 2009 general election. Actually, accounting standards are not complicated. The complicated thing is party transactions, because the flow of funds is difficult to monitor.

Will the new standard be able to control the flow of money?

The standard doesn't control that. What controls that is the accounting system and other internal controls. The standard is only used to record the transactions, but the parties should undergo audits. They can use public accountant offices to do that.

The Supreme Audit Agency can audit the parties as long as it involves the state budget. There is no regulation on that issue, but it is possible because the Agency is the highest audit agency in Indonesia.

How binding is the audit result?

If there is a misuse of funds, we should refer to the Political Party Law. It is beyond the accounting corridor, because it needs a political punishment.

I suggest that the parties separate the finances for each activity. The parties usually have activities, such as legislative elections, presidential elections, local administration elections and others. Those activities can take from three months to one year. They should make a financial report for each activity. For example, if the presidential election has two rounds, they should separate the funds for each round.

In every activity, the parties will receive funds from communities. Thus, as soon as the activity is over, they should make a report. In this way, the parties will have the balance sheet, the budget realization report, the cash flow report and notes on the financial report.

The PSAK 45 only requires documentation, and not a very detailed one. The PSAK 45 is only for a non-fluctuating activities.

What is the ideal control mechanism to create fairness, since the party that wins the election is usually the one with the strongest finances?

Parties should audit their finances. To create fairness, parties should publish their accounts in the media whenever they have activities. This way, people will know how to contribute to the parties.

Donations can take the form of money, material, such as T-shirts and pins; or be immaterial, like entertainment. For example, if a singer wants to support a candidate by her singing, the parties should record that, as estimate of the value of that performance.

What kind of internal controls should the parties have?

The parties should have internal and external control systems. The external controllers are usually needed only for the post audit and they can't monitor every day. So the parties should establish their internal auditors who are always ready to report.

The parties have branches in the regions. If there is an activity and for which a bank account is opened, it should be in the same bank as the central office uses. This is part of the internal control system. The parties should collaborate with the banks. All financial transactions should go through bank accounts to establish good documentation. People can still donate in cash, but it should be recorded.

If the system is good, the accountants can check the finance of a branch from the center. This means they would only have to go to branch offices where there is suspicious of misappropriation.

Indonesian people tend to hide their names when they donate. But this must not be allowed in party donation, because the donations for parties are not for religious causes. Everything should be clear to create fairness.

How much should a proper donation be?

I suggest that we should not set a limitation for maximum donations. People will still play tricks with that. People who want to donate a lot of money will split it under several names, that of a wife or children or neighbors.

If donations are not limited, other people can deduce what the purposes of the big donors are. I think all donors have intentions. The limit should be free, so donors can determine the proper amount to donate.


ReviewReviewReviewReviewReviewLove Actually --- a review upon reviewMar 14, '07 9:41 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Got amazed when just recently I receive this email. Someone I don’t know at all share his honest and lengthy review upon my previous review (and on the movie itself); be reminded that it’s been quite some time since I posted this on my blog, and sending it to ones who care, along with some other friends and colleagues.

He admitted that he was triggered by the passionate way I wrote it. That’s why he wanted to share his own review on it; based on my previous review. Appreciate it much; a more than simple compliments, I can say. And thus I share it with you here. And believe me, love is all around!

Read my review here: Love Actually, is All Around

TLT,
Jakarta 12870 Pancoran
Tue, Mar 14, 2007 – 20.41 wib


----------------------------------
[lifestyle magz mailing list] Digest Number 2704
12. [tanggapan] Love Actually, Love is All Around
Posted by: "Eko Adriani" eko_adr@xxxxx
Date: Tue, Mar 13, 2007 - 11:40 pm


Jakarta, Friday, March 9, 2007.

Dear [fellow members] dan TLT,

It has been quite sometimes since the spirit of love, whether it was on Christmas or on Valentine's day, had passed – but I am sure that love will stay forever.

I share your passion to this movie, because I also love it. I always end up loving British movies. The one that I love the most is Sliding Door by Gwyneth Paltrow & John Hannah. Others also my favorites: Elizabeth I, Trainspotting, Four Weddings & A Funeral, to name a few or film about British people/ history, such as: The Hours (one of the story was depicting the life of Virginia Wolf), Henry V, Shakespeare in Love. And all those amazing British actress & actors really can capture my heart and mesmerize me – Sir Anthony Hopkins, Mr. Sean Connery, Mr. Kenneth Branagh, Mr. Jude Law and Mr. Hugh Grant ... they can break my heart anytime... Not to mention the amazing Mr. Bean... Oh, and the famous Mr. Simon Cowell... Oh, the female character I love the most is Bridget Jones, now and forever... Because she doesn't mind being all squashy and she turns the table of her hurtful situation and becomes the most celebrated singleton female who still wondering where the life should take her in her 30s. The British have the witty ways of laughing themselves – I admire that capability the most.

Although the Love Actually is a bit sarcastic and absurd {don't you love the way when Billy Mack, that's the aging rock star, when he sings his number one hit song, Love is All Around (some kind of contribute to Wet Wet Wet – another handsome and talented boy band from England) naked with some Santa's girls in mini?}, I still admire the message this film is carrying along. That love, well, actually love is all around.

I also love the way the film ending. Showing the situations at the airport, where almost all the stars telling their lives after all the hazardous and/or sometimes simple episodes of their & their loved ones lives. There, it shows everyday story of love that we can find around us, love between mother and child, among families and friends, young and old, women and gentlemen...

I also love the episode where Harry (played brilliantly by Alan Rickman – who also played so wickedly as Professor Snape in Harry Potter' series) being given a chance to work out his marriage with his wife, Karen after she found out he gave his secretary a necklace just because he could not help thinking about his flirting secretary.

It gives a new perception that every people has the right for a second chance..

And also how Juliet ends her husband's best friend deep crush on her, without hurting or humiliating him and without betraying her husband friendship with his best man. What an honorable act of love!

I can go on and on and on telling the story of this movie. But I think I better stop and encourage you all [fellow members], to also watch this movie and enjoy it. You don;t have to get the deeper meaning of the movie, just enjoy the good laughs. That's all that matter....

Please kindly watch out for Mr. Rowan Atkinson – watch how he can be so irritating while playing with perfection.... Ha, ha, ha.... I just adore him!

With love in this weekend, may love, well, love actually find you!

Always,
Eko A.

Thank you for Mr. TLT who inspire me to write this review. Keep on watching and dreaming, sir, because a good movie can really touch our heart – although sometimes in a strange way.



ReviewReviewReviewReviewPerang Melawan Rakyat?Jan 29, '07 8:44 PM
for everyone
Category:Other
Walau pada prinsipnya nggak menentang pemberlakuan kebijakan berlalulintas yang amat diskriminatif terhadap pengendara sepeda motor di Jakarta, gue setuju banget dengan artikel terlampir; 5 (lima) bintang untuk artikel yang cerdas dan argumentatif tersebut.

Benar, bahwa beragam kebijakan baru tersebut bertujuan demi meningkatkan unsur keamanan (dan kenyamanan) berkendara; baik bagi pengendara sepeda motor itu sendiri, para pengguna jalan lain yang menggunakan moda transportasi yang berbeda, maupun para pejalan kaki – yang sejak lama faktanya tidak pernah dihargai oleh para pengguna jalan lainnya.

Benar, bahwa pengendara (dan penumpang) sepeda motor adalah penyumbang angka kecelakaan terbesar di Republik ini. Menurut data Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2001-2005), dalam setahun tercatat ada rata2 36.000 kecelakaan fatal (baca: kematian) yang terjadi di jalan raya, dengan sekitar 75% nya disumbangkan oleh para pengendara dan/atau penumpang sepeda motor. Angka tersebut merupakan No.2 tertinggi di dunia setelah Nepal (!!!) Artinya rata2 setiap hari 100 nyawa melayang sia2 di jalan raya, dan kira2 75 nyawa di antara nya adalah pengendara/ penumpang sepeda motor. Angka fantastis yang jauh lebih besar daripada korban tenggelamnya kapal Senop*ati, apalagi jatuhnya penerbangan Ad*m Air, bukan? Catatan: baca artikel terkait pada Ad*m Air : Kontra Argumen atas Analisis Canny Watae dan Kenapa, Ya?

Benar bahwa sejak kebijakan ini diberlakukan, angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor telah menurun drastis. Walaupun kita masih harus mempertanyakan metode statistik yang dipilih dan dilakukan, tingkat sampling error, serta terutama keabsahan sumber data yang dipergunakan. Plus, siapa yang berwenang mengeluarkan data dan pernyataan semacam ini.

Di balik pembelaan fanatik Sang Romo atas nasib para pengendara sepeda motor, ada satu hal penting yang beliau lupakan. Perlu diingat, bahwa pejalan kaki adalah mereka yang hak-hak nya paling sering dilecehkan; entah itu oleh pengemudi mobil yang tidak mau memberi kesempatan mereka untuk menyeberang, pedagang kaki lima (street hawkers) yang menyerobot lebarnya pedestrian, dan terutama, oleh para pengendara sepeda motor yang bahkan tega dan tanpa malu telah menggunakan jembatan penyeberangan maupun trotoar sebagai sirkuit perlintasan, dan karenanya menggusur para pejalan kaki dari singgasana nya tanpa ampun.

Di samping itu, beberapa paragraf terakhir Sang Romo telah dengan tendensius dan provokatif menggambarkan hiperbolisasi carut marut nya transportasi massal di ibukota Republik, dan lantas menggiring kita pada kesimpulan yang masih harus dipertanyakan lagi kebenarannya (baca kalimat terakhir pada artikel).

Pada titik ini gue bertanya2 dalam hati, apa yang kau maksud, Romo?

Then I thought, gheez, 5 (five) stars granted for the article would be too much, thanks to that intriguing latest line! Yet thanks anyway for your sympathetic article for the bikers, though I deeply disappointed by the way you are neglecting the ordinary walking people.

TLT,
a biker, a walker, a car driver, a bus passenger, a cab passenger – by choice
Jakarta 12870 Pancoran
Monday, Jan 29, 2007 – 18.14 wib


--------------------------------
Perang Melawan Rakyat?
Franz Magnis-Suseno SJ
Artikel asli dapat dibaca di Kompas


Rupa-rupanya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mau menjadikan tahun 2007 menjadi tahun penertiban sepeda motor. Dan memang tak dapat disangkal: Kami para pengemudi kendaraan beroda dua (penulis termasuk di antara mereka) merupakan kelompok peserta lalu lintas yang kelihatan paling tak tertib.

Lampu merah, kaki lima, jalan satu arah, jarak yang aman, sopan santun perhatian biasa terhadap sesama pemakai jalan, belum lagi manuver-manuver berani ala Valentino Rossi (kadang-kadang satu keluarga lengkap): Tak ada yang tidak dicuekkan.

Maka peraturan baru wajib menyalakan lampu, memakai jalur kiri, penyediaan jalur khusus perlu disambut dengan baik. Meskipun akan lebih efektif apabila misalnya lampu lalu lintas dan marka jalan diawasi oleh polisi secara efektif (misalnya dibentuk dua atau tiga regu polisi yang secara acak dan bergilir setiap hari mengontrol dua tiga persimpangan jalan, misalnya Matraman-Pramuka). Penertiban seperti itu akan diterima dan akan efektif. Akan tetapi, lain halnya apabila jalan-jalan penting mau ditutup dengan alasan sepeda motor bikin macet dan "hendaknya mereka memakai angkutan umum saja".

Jelas sekali bahwa bukan sepeda motor yang menyebabkan kemacetan. Bukankah Jalan Sudirman—yang sudah bebas sepeda motor—dan bagian jalan tol hampir setiap hari macet? Sebaliknya, seandainya semua pemakai sedan diharuskan memakai sepeda motor, kemacetan pasti langsung akan berkurang drastis.

Namun melarang tiga juta lebih pemakai sepeda motor menggunakan poros-poros utama lalu lintas di DKI tak kurang merupakan pernyataan perang pimpinan DKI kepada masyarakatnya yang sederhana. Larangan itu mengena pada kepentingan vital jutaan warga.

Kalau lebih dari tiga juta orang—itu lebih dari setengah pemakai jalan—menggunakan motor, itu bukan karena mereka iseng-iseng, melainkan karena mereka membutuhkannya.

Arti sepeda motor
---------------------
Apakah Anda pernah mencoba memahami apa arti sepeda motor bagi pemiliknya? Sepeda motor merupakan salah satu barang paling berharga dan bermanfaat bagi pemilik dan keluarganya. Para pemilik sepeda motor rata-rata adalah bagian paling produktif di DKI, para pekerja keras dalam segala macam usaha dan kantoran. Sepeda motor bagi mereka membuka jendela sebuah kebebasan baru: Bebas dari keharusan berada selama 4 jam per hari dalam bus-bus dan angkot yang jorok dan tidak aman. Bebas dari biaya mencekik pemakaian angkutan umum. Bebas untuk cepat ke tempat yang perlu.

Lagi pula, sepeda motor bagi mereka hasil sebuah perjuangan. Mereka tidak mengiri kepada pemakai sedan yang ber-AC dan dikemudikan oleh sopir. Namun, mereka mengharapkan agar hasil perjuangan mereka yang begitu berarti, ya kebebasan baru pemilikan sepeda motor, mau diakui juga.

Sebuah pertanyaan: Dengan angkutan umum yang mana tiga juta pemakai sepeda motor mau diangkut ke tempat kerja pagi hari dan pulang ke rumah sore hari? Monorel yang menjanjikan kemajuan sampai sekarang baru sebuah impian mahal!

Dan busway—sebenarnya sebuah konsep bagus—sudah gagal karena dilaksanakan dengan sedemikian inkompeten sehingga mengangkut 200.000 orang per hari saja belum mampu. Benahi dong angkutan umum dulu, baru kendaraan pribadi—termasuk mobil—dikurangi!

DKI rupa-rupanya lupa bahwa orang yang tidak bisa memiliki mobil merupakan manusia juga, yang sama haknya untuk diperingan dan tidak dipersulit perjuangan survival setiap hari, yang sama warga DKI seperti mereka yang punya mobil.

Kapan pimpinan DKI akan keluar dari mental feodal yang menganggap masyarakat biasa bisa dikurbankan demi mereka yang berduit?

Akhirnya, saya meragukan bahwa tiga juta pemakai sepeda motor akan bersedia disingkirkan dari jalan utama di DKI. Kalau tiga juta warga itu unjuk rasa, akan jelas lain dari unjuk rasa rutin beberapa puluh ribu mahasiswa.

Apakah mereka akan menerima kalau kehidupan mereka yang sudah berat mau dibuat lebih berat lagi hanya supaya sedan-sedan tidak merasa terganggu? Kalau mereka marah, gampang mereka membuat Jakarta betul-betul macet. Kita semua kiranya ingin agar Jakarta tidak rusuh lagi.

---------------------------
Franz Magnis-Suseno SJ
rohaniwan dan guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara



Category:Other
Terlampir adalah sebuah analisis dari seorang sahabat (Empat Bintang untuk artikelnya..!!), yang berisikan bantahan dan pandangan pribadi nya atas opini yang dibuat oleh Canny Watae.

Artikel tersebut memberikan pandangan berbeda dengan apa yang telah diungkapkan Canny; yang ternyata telah tersebar luas, thanks to the internet world!, dan tanpa diduga telah bermetamorfosis dan dinyakini oleh sebagian besar dari kita yang sesama awam ini sebagai sebuah kebenaran belaka. Adalah bagus dan senyatanya produktif bila ada kontra argumen semacam ini yang dilontarkan, demi “menampar” audiens dan menyadarkan agar mereka dapat kembali pada kenyataan; bahwa semua berhak berkomentar, bahwa semua berhak menganalisis, dan terutama semua mungkin setengah benar atau bahkan setengah salah. Sedangkan kebenaran itu, adalah suatu proses.

Artikel asli Burung Hantu diambil dari sini. Silahkan langsung berkomentar kepada ybs, guna mendapatkan jawaban yang lebih teknis.

Untuk mendukung prinsip fairness dan bagi mereka yang belum berkesempatan membaca artikel Canny Watae, silahkan klik di sini.

TLT,
Jakarta 14130 Cilincing
Sunday, Jan 28, 2007 – 14.10 wib

Disclaimer:
Guna meningkatkan kemudahan dan kenyamanan membaca, telah dilakukan beberapa editing berupa reformatting; dengan tanpa mengurangi maupun menambah makna asli artikel terkait.



--------------
Ad*m Air : Kontra Argumen atas Analisis Canny Watae
(canny Watae: Ad*m Air tidak Meledak di Udara)
Posted by Burung Hantu on Jan 22, 2007 - 13:43 wib


Kasus raibnya pesawat Ad*m air, telah memunculkan banyak analis dadakan. Sangat disayangkan mengingat tidak semua data yang dipergunakan untuk analisis dibuka untuk umum. Akibat buruknya adalah terjadi kontroversi yang tidak berguna karena ketidak akuratan data.

Berhubung ada yang mengeluarkan analisis, dan dirasa perlu untuk diberikan kontra demi menghindari kesalah kaprahan yang semakin jauh, dibawah ini disampaikan kontra argumen dari analisis yang dilakukan Canny Watae berjudul Opini Ad*m Air tidak Meledak Di Udara. Kontra argumen tidak diarahkan mencari kebenaran namun lebih ditujukan untuk memberikan wawasan tentang kesalahan analisis yang dilakukan oleh Canny. Bahasan berikut ini di-summary-kan dari diskusi pada aerospace engineer mailing list. Thanks to YAE, HDW, SCP, BNO, LYA, RES dkk atas kontribusinya.

Beberapa koreksi yang harus dilakukan atas analisis Canny:

1. Hak dan wewenang analisis kecelakaan ada di KNKT.

Biarkanlah KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik. tentu dilengkapi oleh data data yang cukup akurat untuk menunjang kualitas analisis. Mereka bukan saja tim ahli dibidangnya masing masing namun juga bekerja berdasarkan prosedur dan juklak tertentu. Biarkan tim ini bekerja dengan baik.


2. Resultan vektor kecepatan tidak bisa dijumlah semena mena.

Data dari penulis:
crosswind 130km/jam
Kecepatan jelajah (max cruising speed)=700 km/jam

Kecepatan jelajah pesawat tidak bisa langsung dijumlah secara vektor terhadap kecepatan crosswind karena perbedaan referensi. Kecepatan jelajah mengikuti sumbu koordinat benda (body axis) sedangkan kecepatan crosswind mengikuti sumbu koordinat angin (wind axis) -- Gambar Sumbu Benda dan Sumbu Angin.

Bila mengikuti analisis Canny, jika benar terjadi crosswind dari arah jam 3 (ke arah jam 9), maka "angin" yg dirasakan pesawat adalah penjumlahan vektor aliran arah jam 9 dan aliran arah jam 6. Bila dikembalikan ke body axis, (referensi pesawat) ini serupa dengan resultan angin yang datang dari arah antara jam 12 dan jam 3.

Jika crosswind=130 km/jam dan kecepatan jelajah (ambil yang maksimal, 700 km/jam), kondisi ini akan mengakibatkan pesawat berada dalam sudut yaw sebesar arctan (130/700)=10 derajat.

Sudut yaw ini masih relatif normal. Karena pesawat didesain "directionally stable", pesawat akan cenderung yaw ke kanan (ke arah jam 3) untuk mengkompensasi simpangan 10 derajat tersebut (berbelok ke timur).

Dengan data diatas, maka kecepatan total yang dirasakan pesawat adalah 711 km/jam. ini pun tidak terlalu besar.

Sedikit cacatan:
Bahwa kecepatan ini hanya tercapai jika pilot menaikkan throttle setting. Karena jika pilot berhasil aligned dengan vektor kecepatan yang baru, gaya hambat juga akan bertambah. Sebagai ilustrasi, jika kita naek sepeda, lalu tertiup angin dari depan, maka untuk mempertahankan kecepatan, anda harus mengayuh lebih kuat.


3. Kecepatan jelajah maksimal dan batasan struktur.

Batasan struktur tidak ditentukan oleh kecepatan jelajah maksimal.

Kecepatan jelajah (790km/jam) lebih disebabkan oleh kemampuan mesin pesawat untuk menghasilkan trust (gaya dorong)-pada suatu ketinggian dan cruise setting tertentu- yang dapat mengatasi gaya hambat. dalam diagram V-n diagram, kecepatan jelajah maksimal selalu berada pada kondisi "loadfactor" n=1, yakni 1G. batas kekuatan struktur, bagian kanan dari V-n diagram adalah kecepatan pesawat dimana struktur bs mengalami deformasi plastis. ada beberapa kriteria, misalnya Vno (maksimal structural crusie speed) atau Vno (never excess speed) atau Vd (design dive speed). Vd adalah batas paling kanan dari V-n diagram -- Gambar V-n diagram

Sebelum data "black box" dibaca, kita tidak pernah tahu berapa kecepatan pesawat sesungguhnya sebelum kecelakaan. Jika digunakan rule of thumb Vd=1.2*Vc, maka Vd=948 km/jam, dan Vno= 0.9*Vd atau 853 km/j. Jika data ini adalah data kecepatan kritik untuk ketinggian saat B737 Ad*m Air mengalami cross wind 130 km/jam, maka sebenarnya resultan 711 km/jam masih dalam batas normal.


4. Elevator berfungsi sebagai pengendali longitudinal (pitching).

Mengenai elevator kanan yang ditemukan (bukan horizontal tail), analisisnya tidak tepat karena elevator berfungsi sebagai pengendali longitudinal (pitching). Selama yang dirasakan oleh pesawat adalah murni cross wind, tanpa ada vertical gust, gangguan yang dirasakan lebih dominan pada lateral dan directional, dan dalam hal ini kerja yang lebih besar justru dilakukan oleh rudder dan aileron, bukannya elevator. Elevator hanya dipakai untuk mempertahankan ketinggian, yang mungkin dalam hal ini tidak lebih krusial (pada 30.000 ft) dibandingkan mempertahankan arah dan roll pesawat.


5. Aileron berfungsi sebagai pengendali lateral (roll).

Aileron tidak bertanggung jawab untuk membangkitkan gaya angkat melainkan untuk kendali lateral (roll).

Aileron yang didefeksikan memang ada pengaruh terhadap gaya angkat, Itu sebabnya jika anda berniat meroll pesawat anda dengan menggunakan aileron, anda akan memperoleh ketinggian karena ada tambahan gaya angkat. Tapi aileron tidak didesain untuk menghasilkan gaya angkat.


6. Hantaman elevator ke body musykil terjadi.

Elevator dan rudder terletak di ekor pesawat (Baca:ada dibagian paling belakang pesawat).

Jika sampai terlepas dan terbawa angin dengan kondisi ekstrim dari belakang pun akan sangat sulit untuk menjangkau passenger cabin area. jarak antara leading edge horizontal stabilizer dengan bagian paling belakang ruang kabin paling tidak satu-dua mean aerodynamic chord (MAC) pesawat. -- Lihat gambar technical drawing B737.

Sehingga dapat dikatakan probability elevator menghantam body dan mengakibatkan lubang sangat kecil kemungkinannya (hampir 0%).


7. Bila memang terjadi presurized, benda yang tersedot adalah benda yang tidak terikat dengan kuat.
Apabila memang pesawat mengalami depresurrized akibat adanya pressure diferesial akibat adanya lubang pada ketinggian jelajah (30 ribu ft), yang paling mungkin tersedot keluar adalah benda benda yang tidak terikat dengan baik.

Untuk mengklaim bahwa jok, tv monitor tersebut keluar sangat berlebihan, mengingat bahwa benda tersebut "terikat" (atau disekrup) dengan baik. apalagi tatakan meja. malah mungkin seharusnya yang tersedot adalah penumpang karena hanya di"ikat" dengan seat belt.

Inkonsistensi juga terjadi dalam analisis Canny, dimana jika penumpang sudah menggunakan lifevest, sudah dipastikan seatbelt terpasang (pilot command) dan tatakan meja dalam keadaan dilipat dan terkunci (in compliance with standard operating procedures).

Kalaupun memang HTP lepas, ada bidang pembatas tekanan didaerah belakang yaitu aft pressure bulkhead. Sehingga jika lepas, maka bagian bolong yang dimaksud hanya bagian ekor dimana tidak terjadi kehilangan tekanan.

Dengan bentuknya yang menyerupai dome (setengah bola/spherical) dapat menahan perbedaan tekanan lebih merata. Didepan bulkhead ada galley yang berisi troly makanan. Jika kursi, tatakan meja ikut tersedot, harusnya troly ini sudah lebih dahulu tersedot. Selain itu desain belakang Boeing 737 dibatasi dua lavatory yang dapat menjadi penghalang hal tersebut terjadi.

Jika yang robek adalah bagian kabin, yang tersedot pertama kali adalah sidewall dan yang pasti hal ini mengakibatkan robek yang besar. Boeing 737 dikenal dengan masalah scribeline nya diarea window belt (sepanjang jendela penumpang dari depan kebelakang dikedua sisinya). Dengan demikian penumpang pasti tersedot keluar.


8. Pesawat sipil didesain hanya menerima minus 1 G

Pesawat sipil di-design hanya menerima -1G (lihat V-n diagram) menyebabkan sangat tidak mungkin jika dilakukan sustained -3G manuver di ketinggian 30ribu ft ke 8000 ft tanpa mengalami structural faiure. pilot sipil (apalagi penumpang) juga tidak dilatih bisa bertahan pada manuver negative 3G.

Dalam kondisi darurat, ELBA dapat diaktifkan secara manual dan akan terus memancarkan sinyal sampai supplai tenaga nya habis (baterainya soak). Artinya jika ELBA diaktifkan, sinyal ajkan terus menyala secara kontinyu dan apabila pesawat masuh terbang dengan ELBA aktif maka penerima akan melihat semacam jalur (track) lintasan ELBA. sedangkan dalam kasus ini tidak demikian.


9.Ketinggian 8000 ft (2400 m) adalah ketinggian yang masih terdeteksi dengan baik oleh radar darat.

Dalam teknik penetrasi udara untuk menghindarkan diri dari deteksi radar, pesawat hanya terbang seratusan feet dari permukaan bumi.


10. Paling Utama
Hal yang paling utama adalah berhentilah berspekulasi yang tidak perlu. Kita tunggu saja hasil analisis dari pihak pihak yang memiliki wewenang. TUNGGU SAJA.




ReviewReviewReviewSiddhartaJan 17, '07 5:07 AM
for everyone
Category:Other

Just tried the Book Quiz, that arguably, explain the true me. Pretty interesting, actually.
Got this link from here. Why dont you try it yourself, and see what you are?
Because you'll never know ..unless you try... *grin




You're Siddhartha!
by Hermann Hesse
You simply don't know what to believe, but you're willing to try anything once. Western values, Eastern values, hedonism and minimalism, you've spent some time in every camp. But you still don't have any idea what camp you belong in. This makes you an individualist of the highest order, but also really lonely. It's time to chill out under a tree. And realize that at least you believe in ferries.


Take the Book Quiz
at the Blue Pyramid.




Blog EntryWish You Enough..Jan 1, '07 6:08 AM
for everyone

 

Ever wondering why I keep on saying “wish you enough”, but not “wish you the best” as commonly said by the most of us? Nah, the following article is the answer.

It was an email originally sent by SZ, received on Tuesday, Dec 20, 2005 - 9:35 AM. By tomorrow morning, it would be precisely one year since I firstly received it. But the power of the article and the true meanings of it remains echoing in my heart and mind – until now, and perhaps for the rest of my life.

Original source remain unknowns. My gratitude (and admiration) for her who had share me this.

 
Jakarta 12870 Pancoran
Tuesday, Dec 19, 2006
02.10 AM

  

--------------------------

Recently I overheard a mother and daughter in their last moments together at the airport. They had announced the departure. Standing near the security gate, they hugged and the mother said, "I love you and I wish you enough ".

The daughter replied, "Mom, our life together has been more than enough. Your love is all I ever needed. I wish you enough, too, Mom".

They kissed and the daughter left. The mother walked over to the window where I was seated. Standing there I could see she wanted and needed to cry. I tried not to intrude on her privacy but she welcomed me in by asking,

"Did you ever say good-bye to someone knowing it would be forever?".

"Yes, I have," I replied.
"Forgive me for asking, but why is this a forever good-bye?".

"I am old and she lives so far away. I have challenges ahead and the reality is the next trip back will be for my funeral," she said.

"When you were saying good-bye, I heard you say, 'I wish you enough '. May I ask what that means?".

She began to smile. "That's a wish that has been handed down from other generations. My parents used to say it to everyone". She paused a moment and looked up as if trying to remember it in detail and she smiled even more. "When we said, 'I wish you enough', we were wanting the other person to have a life filled with just enough good things to sustain them".

Then turning toward me, she shared the following as if she were reciting it from memory.

I wish you enough sun to keep your attitude bright.
I wish you enough rain to appreciate the sun more.

I wish you enough happiness to keep your spirit alive.
I wish you enough pain so that the smallest joys in life appear much bigger.

I wish you enough gain to satisfy your wanting.
I wish you enough loss to appreciate all that you possess.

I wish you enough hellos to get you through the final good-bye.


She then began to cry and walked away.


They say;

it takes a minute to find a special person,

an hour to appreciate them,
a day to love them,

but then an entire life to forget them.

…….
To all my friends and loved ones,

I WISH YOU ENOUGH

 
Happy New Year.


ReviewReviewReviewReviewReviewYu TimahDec 25, '06 10:38 PM
for everyone
Category:Other
Dear friends & colleagues,

Selamat Idul Adha 1427 H,
Selamat Tahun Baru 2007,
Selamat Natal 2006

Happy Holidays!

regards,
TLT



-----
Belum Haji Sudah Mabrur
oleh: Ahmad Tohari
(penerima berbagai penghargaan sastra, pengarang "Ronggeng Dukuh Paruk", etc)
Artikel asli diambil dari sini


Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?''

''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.''
''Mau ambil berapa?'' tanya saya.

''Enam ratus ribu, Pak.''
''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''

''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.''

''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?

Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu.

Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

PS:
Sudahkah kita siapkan hewan Qurban di Idul Adha ini? Tidakkah kita bercermin dari Yu Timah? BerQURBANlah


Blog EntryMelajang: Gugatan atas Nasib PerempuanDec 21, '06 5:59 PM
for everyone

TLT’s note:

Sebuah artikel lama yg masih sangat-sangat relevan; setuju dg isinya.

Sharing to be discussed, or just to inspire us. Selamat Hari Ibu!

(22 Desember 2006).

----------

 

 

 

MELAJANG: