Terbanglah Lebih Tinggi

terbanglah's posts with tag: medical things

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag medical things
Blog EntryFirst Thing FirstApr 1, '08 6:56 AM
for everyone

Agak lucu membaca artikel ini (lihat lampiran di bawah) yang berkesan membela sang menteri, secara menteri yang bersangkutan sendiri ternyata langsung …xxx.. dan malah menarik buku nya (edisi berbahasa inggris) dari peredaran (reff: koran2 edisi beberapa hari terakhir, udah baca kan?).

Apalagi pada artikel di bawah yang bersangkutan mengaku bahwa dia tidak menanggapi kegerahan tersebut. Jadi siapa yang gerah di sini; apakah WHO dan Pemerintah AS, atau malahan sang menteri sendiri? Lagipula, kalau memang buku tsb perlu direvisi dan dihilangkan dari peredaran, kenapa hanya yang berbahasa Inggris? (baca: yang relatif bisa langsung dikritisi oleh pihak-pihak yang berkepentingan di luar negeri, atau oleh mereka yang punya alternatif sumber berita/informasi).


Soal tuduhan menteri terhadap WHO dan Pemerintah AS itu sendiri sebenarnya adalah hak yang bersangkutan, sepanjang didukung dengan argumentasi maupun bukti-bukti ilmiah. Pertanyaannya sekarang, adakah (bukti-bukti) itu dituliskan dalam bukunya, tentunya dengan mengikuti kaidah-kaidah keilmuan yang sesuai, dan bukan main tuding?

Gue sendiri belum baca buku ini dan nggak tertarik pulak, terutama dengan melihat pada judulnya PLUS ngeliat ..xx.. Sang Menteri selama ini. Jadi gue nggak akan berkomentar soal pro atau kontra. Tapi alhamdulillah banget kalau ada yang berminat menyumbangkan 1 (satu) eksemplar! Hehe.

Pastinya gue akan mencoba untuk mencermati pemberitaan yang berimbang dan nggak berat sebelah.. Kita juga harus terlebih dahulu menyamakan persepsi, definisi, atau bahkan konotasi. Misalnya, apakah telah ada kesepahaman pun saling sepakat atas “kompensasi”, “konspirasi”, dan sebagainya.

Serta, yang terpenting, tidak akan terjebak hanya pada sentiment chauvinisme (baca: nasionalisme sempit) dan anti (lembaga2) asing yang ditenggarai coba ditiupkan melalui blow-up kasus ini sedemikian rupa. Atau bahkan sebagai pengalih perhatian dari hal-hal lain yang lebih realistis dan tentu lebih mendesak untuk ditindaklanjuti; sesuai job-desk Sang Menteri. Seperti misalnya kasus kontaminasi susu Formula oleh bakteri Enterobacter Sakazakii yang sedang ramai dan meresahkan itu.*grin


Juga, jangan sampai demi segala keributan yang nggak perlu ini ternyata malah menjadi kontra-produktif atas upaya untuk mengembangkan vaksin anti virus Flu Burung. Terutama mengingat telah ada 100 orang korban tewas di Indonesia akibat penyakit tersebut, yang mendudukan Indonesia pada peringkat tertinggi sebuah Negara dengan jumlah korban tewas (akibat Flu Burung).

First Thing First, shall we?


Feb 28, 2008

20.33 wib


PS:

  1. Frasa “First Thing First” dikutip secara bebas dari judul buku laris karya Covey.
  2. Menteri Kesehatan RI, dan penangan flu burung; foto diambil dari internet.
  3. Artikel di atas merupakan komentar/tanggapan pribadi terhadap lalu lintas diskusi di beberapa mailing list maupun email beberapa rekan. Untuk informasi lebih jauh, lihat link terlampir.


Menteri Kesehatan bikin gerah WHO dan Pemerintah Amerika Serikat.

Menteri berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk
Indonesia. Menteri menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.


"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Menteri kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2). Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Menteri dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.

Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.

….
Menteri enggan berkomentar tentang permintaan Presiden yang memintanya menarik buku dari peredaran.

"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.


Majalah The Economist London menempatkan Menteri sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
"Menteri Kesehatan
Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Economist.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Menteri. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Menteri merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

 

Blog EntryDokter Bukan TuhanFeb 27, '08 11:25 PM
for everyone


Hei mas dan mbak, seperti yang tadi aku bilang di telepon, sepertinya si Prof Dr sialan itu udah melakukan malpraktek deh. Bukan jaminan lho, kalau udah jadi guru besar di FKUI sekalipun dia nggak akan mungkin melakukan malpraktek.

Dokter itu bukan Tuhan! Apalagi kalau cuma bisa berlindung dibalik nama baik sebagai seorang guru besar dari, arguably, kampus terbaik negeri ini. Lha, giliran didatangi lagi buat minta pertanggungjawaban, kok bisanya cuma cuci tangan nggak mau ngerawat yang bener sambil beralasan sibuk dengan pasien lain.

Soal “kehebatan” guru besar, jangan lupa, waktu zaman Paman Gober dulu kan, guru besar itu (hanya dianugerahkan kepada) mereka yang loyal pada sang Paman. Jadi bukan karena keilmuan apalagi kompetensi (walau tentunya tidak semua seperti ini).
 

Malpraktek

Biar lebih jelas, barusan dapat beberapa artikel ini tentang malpraktek:

  1. Detik News, klik di sini
  2. Tempo Interaktif, klik di sini
  3. atau coba search aja di google

 

Stevens-Johnson syndrome

Si guru besar bilang kalau mas kena Stevens-Johnson syndrome yah? Aku baru dengar tuh, tapi barusan aku coba cari2, ini dapat beberapa artikel terkait:

  1. Dari Wikipedia
  2. atau kasus Hanif di Bandung

Aku belum sempat baca semua sih, lagi sibuk nyiapin bahan2 buat rapat besok pagi di luar kota, mbak. Tapi intinya, saat terjadi sesuatu yang nggak diharapkan, misal (yang di Detik News di atas) badan jadi biru2 kaya' yang dialami Mas; harusnya --minimal-- kita bisa complaint ke dokter ybs. Apalagi bila ternyata sedari awal tuh dokter nggak memperingatkan soal kemungkinan kulit bakal jadi biru2 gitu atau bahkan mengkonfirmasi kemungkinan "alergi obat".

 
Lebih jauh tentang malpraktek

(1) Konfirmasi alergi

Harusnya sih, sebelum ngasih obat apapun, dokternya musti nanya dulu, kita punya alergi obat apa nggak. Dan pastinya dia harus tanggung jawab dong, atas hasil pengobatan itu. Minimal ngasih tahu yang jelas kenapa jadi bereaksi seperti itu. Pasien itu bukan kambing, kita berhak tahu. Lha kita yang ngasih makan dokter kok.

(2) Antisipasi reaksi

Atau, dalam kasus Mas yang jadi ngebolos 3 (tiga) hari, dokter itu harus ngasih surat bed rest sebagai salah satu langkah pengobatan yang dibutuhkan. Kalau dia nggak ngasih surat bed rest itu (pas waktu ngasih obat dulu), artinya bahkan dia sendiri nggak paham bakal ada reaksi seperti yang dialamin Mas. Ini satu poin lagi yang krusial sebagai bukti terjadinya malpraktek.


Menurut ku sih dari dua poin ini udah cukup buat menuduh adanya kemungkinan malpraktek, mbak. Atau coba konfirmasi aja dulu ke YLKI. No telp nya nggak punya, tapi coba tanya ke "108"

Jangan lupa buat datang lagi ke dokternya, tapi bukan untuk berobat; cuma untuk menyampaikan 2 (dua) poin di atas itu sambil bilang bahwa sebagai pasien, kita akan minta 2nd opinion ke dokter lain (jangan lupa saat ketemu dengan dokter ke-2, kasih ybs semua copy resep dsb dari dokter pertama). Dan bilang juga ke dokter pertama ini bahwa kita udah nggak percaya lagi sama dia, dan bakal nulis soal masalah ini di Tempo, Kompas dan ke YLKI. Meanwhile, buruan ke dokter lain! Jangan ditunda!



Jakarta, Thu, Feb 28, 2008 - 9:53 AM
Pusing menjelang rapat dg BPMIGAS besok di luar
kota
Mau nengokin, tapi bingung ngatur waktunya ..


PS:
  1. "mas" = kakak ipar gue yang lagi sakit, sekujur tubuhnya melepuh dan penuh dengan benjolan kemerahan, seperti bisul, dengan berbagai ukuran. Sudah terjadi selama 3 (tiga) hari, setelah berobat ke seorang Prof Dok spesialis demi mengobati daya serap usus nya.
  2. Kunjungan ke-2 (setelah gejala di atas) telah dilakukan ke dokter tsb, yang hanya dilayani selama 3 (tiga) menit secara sambil lalu sembari menyebutkan soal Stevens-Johnson syndrome, dan bahwa tidak ada yang perlu dilakukan.
  3. Atas nama kerahasiaan pasien, foto2 sengaja tidak dimuat di sini, tetapi tersedia untuk analisis medis dengan permintaan.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help