Agak lucu membaca artikel ini (lihat lampiran di bawah) yang berkesan membela sang menteri, secara menteri yang bersangkutan sendiri ternyata langsung …xxx.. dan malah menarik buku nya (edisi berbahasa inggris) dari peredaran (reff: koran2 edisi beberapa hari terakhir, udah baca kan?).

Apalagi pada artikel di bawah yang bersangkutan mengaku bahwa dia tidak menanggapi kegerahan tersebut. Jadi siapa yang gerah di sini; apakah WHO dan Pemerintah AS, atau malahan sang menteri sendiri? Lagipula, kalau memang buku tsb perlu direvisi dan dihilangkan dari peredaran, kenapa hanya yang berbahasa Inggris? (baca: yang relatif bisa langsung dikritisi oleh pihak-pihak yang berkepentingan di luar negeri, atau oleh mereka yang punya alternatif sumber berita/informasi).
Soal tuduhan menteri terhadap WHO dan Pemerintah AS itu sendiri sebenarnya adalah hak yang bersangkutan, sepanjang didukung dengan argumentasi maupun bukti-bukti ilmiah. Pertanyaannya sekarang, adakah (bukti-bukti) itu dituliskan dalam bukunya, tentunya dengan mengikuti kaidah-kaidah keilmuan yang sesuai, dan bukan main tuding? Gue sendiri belum baca buku ini dan nggak tertarik pulak, terutama dengan melihat pada judulnya PLUS ngeliat ..xx.. Sang Menteri selama ini. Jadi gue nggak akan berkomentar soal pro atau kontra. Tapi alhamdulillah banget kalau ada yang berminat menyumbangkan 1 (satu) eksemplar! Hehe.
Pastinya gue akan mencoba untuk mencermati pemberitaan yang berimbang dan nggak berat sebelah.. Kita juga harus terlebih dahulu menyamakan persepsi, definisi, atau bahkan konotasi. Misalnya, apakah telah ada kesepahaman pun saling sepakat atas “kompensasi”, “konspirasi”, dan sebagainya.
Serta, yang terpenting, tidak akan terjebak hanya pada sentiment chauvinisme (baca: nasionalisme sempit) dan anti (lembaga2) asing yang ditenggarai coba ditiupkan melalui blow-up kasus ini sedemikian rupa. Atau bahkan sebagai pengalih perhatian dari hal-hal lain yang lebih realistis dan tentu lebih mendesak untuk ditindaklanjuti; sesuai job-desk Sang Menteri. Seperti misalnya kasus kontaminasi susu Formula oleh bakteri Enterobacter Sakazakii yang sedang ramai dan meresahkan itu.*grin
Juga, jangan sampai demi segala keributan yang nggak perlu ini ternyata malah menjadi kontra-produktif atas upaya untuk mengembangkan vaksin anti virus Flu Burung. Terutama mengingat telah ada 100 orang korban tewas di Indonesia akibat penyakit tersebut, yang mendudukan Indonesia pada peringkat tertinggi sebuah Negara dengan jumlah korban tewas (akibat Flu Burung).
First Thing First, shall we?
Feb 28, 2008
20.33 wib
PS:
- Frasa “First Thing First” dikutip secara bebas dari judul buku laris karya Covey.
- Menteri Kesehatan RI, dan penangan flu burung; foto diambil dari internet.
- Artikel di atas merupakan komentar/tanggapan pribadi terhadap lalu lintas diskusi di beberapa mailing list maupun email beberapa rekan. Untuk informasi lebih jauh, lihat link terlampir.
Menteri Kesehatan bikin gerah WHO dan Pemerintah Amerika Serikat.
Menteri berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Menteri menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
…
"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Menteri kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2). Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Menteri dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.
Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.
….
Menteri enggan berkomentar tentang permintaan Presiden yang memintanya menarik buku dari peredaran.
"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.
…
Majalah The Economist London menempatkan Menteri sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Economist.
Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Menteri. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?
Menteri merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.